Just Love Part 12 - ChusNiAnTi

Just Love Part 12




Jalal –“Apa yang kalian lakukan di Talkatora Gardens?”
Ada sedikit nada curiga dalam pertanyaannya....atau cemburu?
Jodha –“Teman-teman kami mengadakan acara di sana.”
Bhaksi –“Jodha....”
Jodha –“Iya..?”
Tanpa berkata apa-apa lagi Bhaksi sudah melabrakkan tubuhnya pada Jodha dan memeluknya. Tangisnya pecah. Semua kemarahan dan kebenciannya ikut luruh dalam airmata yang ditumpahkannya di pundak Jodha. Jalal dan Jodha terdiam cukup lama, mereka tidak ingin merusak momen ini, mereka mengerti jika Bhaksi butuh pelepasan ini. Jodha balas memeluk Bhaksi, dia menepuk-nepuk punggungnya untuk menenangkannya. Sedangkan Jalal hanya memperhatikan adegan mengharukan di depannya ini, sesekali dia tersenyum atau menundukkan kepalanya. Dalam hatinya dia bersyukur Bhaksi mendapatkan kebenarannya sebelum semuanya terlambat. Tapi bagi dirinya sekarang, alasan yang mendasari pernikahannya dengan Jodha juga tidak bisa berlaku lagi. Kebenciannya pada Jodha juga ikut lenyap bersamaan dengan terungkapnya kebenaran ini.
Terima kasih pada Jodha, karena memiliki sikap tenang yang luar biasa dalam menghadapi sikap permusuhannya dan Bhaksi. Jalal tidak berani memikirkan jika Jodha menyesali pernikahan ini dan menuntut perceraian. Tidak, Jalal tidak akan membiarkan itu terjadi, tidak untuk saat ini. Dia masih punya kendali, dia yang akan memutuskan kapan semuanya akan berakhir. Tapi untuk saat ini, yang diinginkannya hanya menikmati saat-saat kebersamaannya bersama Bhaksi...maksudnya juga Jodha. Meski hanya sebatas teman, tapi bahkan memiliki teman seperti Jodha rasanya bena-benar..... lengkap.
Jodha –“Sudah..sudah...Bhaksi, sudahlah..semuanya baik-baik saja.”
Jodha mengendurkan pelukan Bhaksi, dia mengusap airmata di pipi Bhaksi sambil menepuk-nepuk pundaknya, berharap apa yang dilakukannya bisa membantu memberikan kekuatan pada Bhaksi.
Bhaksi –“Jodha, maafkan aku..ampunilah aku...”
Jodha –“Tidak apa-apa, aku tidak menyimpan dendam sedikitpun padamu.”
Bhaksi –“Sungguh?”
Jodha –“Benar, tadi sudah kukatakan. Aku justru merasa bersalah. Namun meski berkali-kali aku mengatakan seandainya, tetap tidak akan mengembalikan satu tahun yang kau habiskan dalam kesedihan. Aku hanya bisa berterima kasih karena kau mau mendengarkan dan membuka hatimu kembali untuk Kak Shahab. Aku yakin Kak Shahab pria yang baik, dan dia membutuhkan wanita sepertimu untuk membawa keceriaan dalam hidupnya.”
Bhaksi –“Lalu bagaimana denganmu? Aku tidak akan pura-pura tidak tahu kalau kakakku menikahimu bukan karena cinta. Kak Jalal membencimu karena aku.”
Jodha –“Tanyakanlah pada kakakmu, apakah dia masih membenciku?”
Jalal –“Kami sekarang berteman, anggaplah seperti itu. Banyak hal yang terjadi hanya dalam beberapa minggu ini. Dan yang membuatku tidak ingin membencinya lagi adalah karena dia sudah pernah menyelamatkan hidupku..”
Bhaksi –“Benarkah?! Ceritakan padaku, Kak...Ayo cerita sekarang!”
Jodha –“Besok saja ceritanya, ya. Kurasa kau belum istirahat sama sekali sejak tadi siang. Sekarang sudah malam, istirahatlah..”
Bhaksi –“Jodha, malam ini kau tidur denganku, ya?! Mulai sekarang aku akan menebus semua kebencianku dengan menjadi adik ipar yang terbaik untukmu. Kak Jalal, sekarang aku adalah penjaganya Jodha, kalau kau macam-macam aku tidak akan segan-segan menghajarmu, meski kau kakakku.”
Jalal –“Jodha tidak butuh perlindunganmu, justru kau yang harus belajar pada Jodha bagaimana cara melindungi dirimu sendiri, benar kan Jodha?!”
Tanya Jalal pada Jodha sambil mengedipkan satu matanya, menggodanya. Jodha tertawa kecil memperhatikan  kakak beradik itu saling mengolok, mengingatkannya pada kakak laki-lakinya sendiri. Meski hubungannya dengan kakaknya tidak selepas hubungan Jalal dan Bhaksi, tapi tetap saja banyak momen yang dirindukannya akan kehadiran seorang kakak.
Keinginan Bhaksi terpenuhi, malam ini dia tidur sekamar dengan Jodha, tidurnya di kamar Bhaksi karena tempat tidur Jodha terlalu sempit untuk dua orang. Baju tidurnya pun harus meminjam milik Jodha, karena semua barang bawaannya masih tersimpan di hotel yang batal diinapinya. Sebenarnya Bhaksi ingin bertukar banyak cerita dengan Jodha, tapi kantuk langsung menghinggapinya begitu kepalanya rebah di bantal. Tenaganya terkuras bersama dengan luapan emosi yang dirasakannya sejak siang. Bhaksi pun langsung tertidur pulas.
Jodha yang ada di sisi lain tempat tidur, justru sulit sekali untuk memejamkan mata. Menyerah karena tidak bisa segera terlelap, dia pun duduk sambil memeluk lututnya. Dirabanya bibir yang tadi dicium Jalal, rasanya masih hangat, seperti ada yang masih tertinggal di bibirnya –‘Jodha, sadarlah! Jangan terlalu berharap! Jangan besar kepala!! Tadi itu pasti hanya nafsu sesaat. Pria seperti Jalal tidak akan bisa serius dengan perasaannya...Kembalilah ke dunia nyata sebelum kau kecewa. Jalal juga akan kecewa. Seharusnya kau sudah kebal dengan trik rayuan apapun. Memang itu kecupan pertamamu, tapi jangan terlena!!’—Sekali lagi Jodha menjilat bibirnya. Dia berharap besok dia bisa bersikap biasa saja di depan Jalal. Jangan sampai Jalal tahu kalau dia terpengaruh hanya karena sebuah kecupan ringan. Semoga Jalal juga bersikap seperti itu, agar hubungan mereka tidak canggung.
Keesokan paginya, Jodha sudah selesai menyiapkan sarapan saat Bhaksi dan Jalal menyusulnya ke meja makan.
Bhaksi –“Jodha , kenapa kau tidak membangunkan aku?”
Jodha –“Aku tidak tega, kau tidur sangat pulas.”
Bhaksi –“Kak Jalal, antarkan aku mengambil barang-barangku di hotel.... Kak Shahab nanti menungguku di Talkatora Gardens.”
Jalal –“Apa yang kalian lakukan di sana sebenarnya?”
Jodha –“Kalau kau ingin tahu, datanglah ke sana. Jam 10.”
Jalal –“Sungguh? Kau mengundangku?”
Kegembiraan tidak bisa ditutupi dari nada bicara Jalal saat Jodha mengijinkannya datang. Seperti anak kecil yang diundang ke pesta ulang tahun temannya.
Bhaksi –“Jodha, kau juga bisa masak? Woaaah...beruntungnya kakakku. Tapi sayang dia belum sadar akan nasib baiknya..”
Komentar Bhaksi blak-blakan saat Jodha menghidangkan sepiring menu sarapan, Lamb over rice, ke depan Bhaksi dan Jalal. Diolok seperti itu, Jalal tidak bisa menjawab. 
Jodha –“Setelah sarapan, aku pergi dulu. Kalian kutunggu disana , ya?!”
Jalal dan Bhaksi mengiyakan. Setelah membersihkan dapur, Jodha berangkat ke tempat kerjanya. Baru setelah itu dia bergabung dengan teman-temannya di Talkatora Gardens.
Beberapa menit menjelang pukul 10, Talkatora Gardens sudah ramai dengan pengunjung. Baik lokal maupun turis. Keindahan tempat itu memang tidak bisa diacuhkan dan sudah terkenal di antara para pelancong. Bunga-bunga dan rimbunnya pohon-pohon yang menaungi jalan setapak yang mengelilingi taman, membuat suasananya terasa sejuk meski saat itu matahari bersinar agak terik.  Awalnya tempat itu adalah tempat penyimpanan persediaan air dan kolam pemandian. Sekarang Talkatora Gardens menjadi taman untuk umum.
Sesuai rencana, Jalal datang bersama Bhaksi. Berkat petunjuk Shahab melalui telepon pada Bhaksi, setelah menyusuri jalanan setapak, akhirnya mereka menemukan tempat yang dituju. Sudah banyak orang yang berkumpul di sana, membuat Jalal makin penasaran acara apa yang akan berlangsung di tempat seperti ini. Jalal menoleh ke kanan kiri mencari keberadaan Jodha, tapi gagal karena terhalang banyaknya pengunjung. Kemudian terdengar yel-yel beberapa orang memanggil nama Jodha. Awalnya pelan, tapi kemudian merambat ke pengunjung lain hingga yel-yelnya bisa serempak terdengar. Jalal heran dalam hatinya –‘Apa mereka semua kenal Jodha? Bagaimana bisa? ‘—
Bhaksi –“Kak, mereka semua memanggil Jodha, kau dengar?  Lalu dimana Jodha? ...Kak Shahab dimana ya?”
Seakan mendengar panggilan Bhaksi, Shahab muncul dari kerumunan orang-orang di depan mereka.
Shahab –“Kalian sudah lama? Ayo ke depan, Jodha sudah disana..”
Jalal dan Bhaksi mengikuti langkah Shahab menyeruak kerumunan orang yang sepertinya arah pandangan mereka tertuju ke suatu tempat tertentu. Setelah berhasil melewati kerumunan, Jalal dan Bhaksi tiba di depan sebuah panggung mini. Dan di atas panggung ada...Jodha. Dia dan beberapa temannya sedang mempersiapkan sebuah pertunjukan musik , karena terlihat ada beberapa gitar, biola dan microphone disana. Jalal melihat Jodha menempatkan sebuah gitar di pangkuannya dan duduk dengan microphone di depannya, mulai bicara...
Jodha –“Selamat siang untuk semuanya. Selamat datang di acara penggalangan bantuan Hands for Nepal. Kami membantu mengumpulkan bantuan untuk korban  bencana gempa bumi di Nepal. Semua bantuan dalam bentuk apapun yang terkumpul akan kami salurkan kepada Save Our Children Foundation. Semoga bantuan kita dapat membantu proses pemulihan saudara-saudara kita di Nepal. Siapapun di antara kalian yang berniat menyumbang, segeralah lakukan.. lakukan hari ini.. tidak akan berbeda meski kalian menyumbangnya besok atau lusa. Terima kasih dan semoga kalian menikmati persembahan kami.”
Lalu Jodha menyanyi sambil memetik gitarnya. Dia juga diiringi oleh satu lagi pemain gitar. Suaranya jernih, membuat Jalal terpesona. Satu lagi bakat Jodha yang baru diketahuinya. Semua penonton mengikuti iramanya.
Shadows fill an empty heart
As love is fading
From all the things that we are
But are not saying
Can we see beyond the stars
And make it to the dawn

Change the colors of the sky
And open up to
The ways you made me feel alive,
The ways I loved you
For all the things that never died,
To make it through the night,
Love will find you

What about now?
What about today?
What if you’re making me all that I was meant to be?
What if our love never went away?
What if it’s lost behind words we could never find?
Baby, before it’s too late,
What about now?
................
( Chris Daughtry –“What about now”)

Dari atas panggung, Jodha melihat kehadiran Jalal dan Bhaksi, dia tersenyum pada keduanya. Dari tempatnya berdiri, Jalal bisa melihat kehadiran teman-teman Jodha. Ada Rarisa dan suaminya, Amrita bahkan ada Nyonya Martha dan suaminya. Semua penonton bertepuk tangan setelah Jodha selesai menyanyi termasuk Jalal. Jodha menyandarkan gitarnya dan mengucapkan terima kasih pada seluruh penonton.
Jodha –“Terima kasih atas apresiasi kalian, tapi akan lebih indah jika kalian juga memberikan bantuan bagi Nepal. Dan nikmatilah pertunjukan kami berikutnya..”
Jodha turun dari panggung dan tempatnya digantikan penampil lain. Jalal menghampirinya. Sebelum Jodha sampai di depan Jalal, dia sudah dikerumuni oleh banyak orang, dan sebagian besar adalah pria. Beberapa dari mereka mempersembahkan karangan bunga yang indah untuk Jodha. Karena banyaknya yang memberinya bunga, sampai-sampai tangannya tidak cukup menampung semuanya.Jodha meladeni mereka semua yang saling berebut perhatian darinya. Ada yang sekedar mengucapkan terima kasih, ingin menyumbang, ada yang meminta foto bersama, memujinya atau bahkan hanya ingin bersalaman dengannya. Tapi Jodha tidak keberatan, demi suksesnya penggalangan dana ini , Jodha dengan senang hati memanfaatkan pengaruhnya. Sungguh aneh, kadang juga sulit dipercaya, kehadirannya dalam sebuah kegiatan amal bisa mempengaruhi banyak orang untuk memberikan sumbangan. Ada temannya yang mengatakan, dengan melihat kecantikan Jodha banyak orang yang terhipnotis dan dengan sukarela.
Banyaknya orang yang mengerubungi Jodha, bahkan Jalal harus sedikit menyingkir agar tidak tersikut. Meski geram melihatnya, Jalal hanya bisa diam. Ingin rasanya dia berteriak Hei, aku suaminya!! Aku akan menghajar kalian semua karena memberi bunga pada istriku!!...’Tapi apa aku punya hak untuk itu?’ tanya Jalal dalam hati. Kemudian hatinya berdebat lagi –‘Kenapa aku bisa semarah ini gara-gara seorang wanita? Kenapa aku merasa kesal gara-gara banyak pria yang menyukainya?...Apa aku mulai cemburu? Sejak kapan aku benar-benar menganggapnya istriku? Sejak kapan aku punya perasaan padanya?’—Keruwetan pikirannya buyar saat Bhaksi berbisik di telinganya.
Bhaksi –“ Kakak, tidakkah seharusnya kau membawa bunga juga untuk Jodha?”
Jalal –“Haruskah?”
Bhaksi –“Tidak usah kalau kau tidak ingin!”
Sindir Bhaksi pada Kakaknya yang sama sekali tidak peka. Tapi diam-diam Jalal mulai mempertimbangkannya.
Setelah kerumunan itu bubar, barulah Jodha bisa menemui Bhaksi dan Jalal.
Bhaksi –Suaramu indah sekali. Pantas saja semua pria terbuai. Termasuk kakakku..”
Jodha –“Bhaksi....”
Jalal –“Kalian tunggu sebentar disini. Aku segera kembali!”
Bhaksi dan Jodha saling mengedikkan bahu melihat sikap Jalal yang misterius.
Beberapa saat kemudian Jalal kembali dengan seikat bunga mawar merah di tangannya. Tanpa ragu diberikannya bunga itu kepada Jodha, karena kebetulan Jodha sedang sendirian. Bhaksi ada di sudut lain sedang bermesraan bersama Shahab.
Jalal –“Ini untukmu..”
Jodha –“Untukku? Sungguh? Kau pergi hanya untuk membeli bunga ini?”
Jalal –“Menurutmu?”
Jodha –“Terima kasih.”
Jalal –“Hanya begitu saja?”
Jodha –“Kau ingin aku mengatakan apa?”
Jalal –“Tidak ada.”
Nyonya Martha datang menghampiri Jodha, dia memberikan seikat white lily untuknya. Jodha terlihat senang sekali, bahkan dia berkali-kali mencium bunga di tangannya. Sikapnya berbeda dengan pada saat Jalal yang memberikan bunga.
Jalal –“Kenapa waktu aku yang memberimu bunga, kau tidak terlihat sesenang ini?!”
Jodha –“Karena aku lebih suka white lily..”
Jalal –“Kenapa tidak bilang?! Kan aku bisa membelikanmu bunga itu..?!”
Jodha –“Kau juga tidak bertanya..”
Jalal –“Kalau begitu sekarang kau ceritakan semua yang paling kau sukai. Musik favoritmu, makanan, film, tempat yang paling kau suka, apapun itu...”
Jodha –“Kenapa?”
Jalal –“Tentu saja karena...karena...kenapa ya?”
Dua kali sudah Jodha membuat Jalal tak berkutik dengan pertanyaannya. Sekarang Jalal salah tingkah. Untunglah ada Bhaksi dan Shahab datang dan mengajaknya makan siang. Tanpa berpikir panjang lagi, Jalal langsung menyetujuinya.
 Tempat yang mereka pilih adalah salah satu restoran di dekat Gardens. Jalal memilih duduk di depan Jodha. Entah dia mau mengakui atau tidak pada dirinya sendiri, Jalal memilih posisi seperti itu agar dia bisa memandangi wajah gadis di depannya sampai puas.
Jodha –“Bhaksi, apa yang akan kau lakukan setelah ini? Kak Shahab bilang dia akan segera kembali bekerja. Apa kau akan ikut dengannya?
Bhaksi –“Aku memutuskan akan menyelesaikan studiku dulu. Setelah aku lulus, kami akan bertunangan dan menikah. Jika setelah kami menikah, tugas Kak Shahab di desa belum selesai, aku akan ikut dengannya. Aku bisa menjadi wanita dewasa yang mengabdi pada suamiku. Kuharap kalian berdua merestui keputusanku.”
Jalal –“Bhaksi, kau tahu aku selalu menuruti semua keinginanmu. Jika menurutmu itulah yang terbaik, aku mendukungmu. Shahab telah membuktikan sebagai seorang gentleman dengan menolak semua kemapanan yang kusediakan. Seorang pria akan bangga disebut sebagai pria jika dia mampu berdiri dengan usahanya sendiri.”
Shahab –“Terima kasih Jalal.. Juga terima kasih Jodha, kau yang memungkinkan semuanya ini terjadi.... Rasanya seakan-akan takdir kita bertiga berputar di sekelilingmu...apa kau tidak menyadarinya?”
Jodha –“Tidak, aku tidak memikirkannya sampai seperti itu.”
Di tengah-tengah perbincangan mereka, datang tiga orang pria memberi salam pada Jodha. Jalal memandang tajam pada ketiganya, meski hanya dalam hati dia marah karena mereka tersenyum –senyum pada Jodha –‘Sialan, siapa lagi mereka? Aku suami Jodha, wanita yang kalian sapa itu! Seharusnya kalian meminta ijin dulu dariku sebelum menyapa istriku!! Hanya karena janjiku pada Jodha,aku tidak menghajar kalian karena menggoda istriku’—Jodha dan Shahab berdiri, rupanya yang datang adalah teman-teman mereka berdua. Setelah berbasa-basi singkat, ketiga orang itupun pamit pergi. Jalal langsung menyambar kesempatan untuk menuntut penjelasan dari Jodha...
Jalal –“Siapa mereka? Tidak punya sopan santun sama sekali..!”
Jodha –“Mereka teman-teman kami, sesama dokter sukarelawan seperti Kak Shahab, hanya saja mereka akan berangkat ke Nepal sebagai tenaga medis bantuan untuk korban bencana. Maaf kalau sikap mereka tidak berkenan bagimu..”
Jalal –“Kenapa kau yang minta maaf? Mereka yang salah, seharusnya sikap mereka lebih sopan saat bicara dengan seorang wanita yang sudah menikah, apalagi suaminya ada di depannya..”
Bhaksi –“Ehm..ehm...”
Bhaksi berdeham dengan maksud menggoda Jalal. Bhaksi sudah merasakan tanda-tandanya kalau kakak laki-lakinya ini mulai punya perasaan yang lebih dalam pada Jodha. Meski mereka bersikeras kalau hubungan mereka hanya pada tahap pertemanan, tapi sikap dan pandangan mata tidak bisa berbohong. Dia justru sangat berharap kakaknya bisa mencintai dan menyayangi Jodha, karena ada sebuah keyakinan yang entah muncul darimana bahwa hanya Jodha lah yang mampu menundukkan dan menenangkan hati kakaknya. Bhaksi juga ingin Kakak Jalal-nya merasakan cinta, kebahagiaan dan perasaan berbunga-bunga seperti yang dirasakannya saat ini.
Bhaksi –“Kakak, kau membuat Jodha malu dengan rasa cemburumu itu...”
Jalal –“Aku tidak....Bhaksi, jangan bicara lagi..!”
Bhaksi langsung terdiam dan mengigit bibirnya menahan senyum. Akhirnya Jalal menyadari semua perkataannya. Dia melirik ke arah Jodha yang tertunduk tapi ada senyuman kecil di wajahnya. Dalam hati, Jalal memaki kebodohannya sendiri –‘Sial..sial..sial..!! Lagi-lagi aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri. Benarkah sikapku seperti pria yang cemburu? Aku belum pernah tahu rasa cemburu itu seperti apa... Hanya saja, rasanya aku ingin menghajar semua orang yang berani melirik atau bahkan tersenyum pada istriku...Tapi kalau sampai aku melanggar kesepakatan yang kubuat dengan Jodha berarti jatuh harga diriku..! Ini tidak boleh terjadi lagi..’—
Jalal –“Jodha, jangan dengarkan kata-kata Bhaksi...”
Jodha –“Aku tahu Bhaksi hanya bercanda..”
Perbincangan terus berlanjut sambil menikmati makan siang mereka, diselingi dengan candaan-candaan dari Bhaksi yang bisa membuat Jalal tertawa lepas. Dari situlah Jodha melihat sisi lain kepribadian Jalal yang selama ini luput dari perhatiannya. Di saat Jalal bisa santai dan tertawa lepas seperti itu, Jodha membayangkan pasti sangat menyenangkan hidup bersamanya. Sejak awal pernikahan, hanya sikap permusuhan yang ada di antara mereka hingga mengabaikan semua pandangan objektif. Dilihat dari sudut manapun, Jalal bukan orang paling tampan di India, tapi aura yang muncul dari dalam dirinya seakan bisa memberikan rasa aman bagi orang-orang di sekitarnya yang disayanginya. Jodha membayangkan seandainya dia ada dalam pelukan tubuh kokohnya, pasti rasanya sangat terlindungi.
Entah sejak kapan Jodha berani membayangkan hal-hal romantis itu, mungkin sejak kecupan malam itu, atau sebelumnya, tiba-tiba kahayalan seperti itu muncul seperti kilasan sebuah slide film dalam otaknya –‘Seandainya aku punya kesempatan berada dalam pelukannya, aku ingin selamanya berada disana. Tapi masa laluku akan selalu menjadi jurang yang sangat dalam. Jika tidak hati-hati, kami berdua akan jatuh ke dalamnya.’—
“Jodha..”
Jodha terkujut dan menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
Jodha –“Tuan Gerrard, kebetulan sekali...”
Jalal langsung cemberut dan kegeraman juga dirasakan dalam hatinya –‘Siapa lagi ini?...Berapa banyak lagi pria yang mendekati Jodha?!...Berapa banyak lagi yang harus kusingkirkan demi mendapat perhatian dari istriku sendiri?!...’—

*******************


Just Love Part 12

9 comments:

  1. Lanjut mba.. seneng deh liat jalal cemburu gitu..:
    jgn lama2 post lg y mba..
    makasih

    ReplyDelete
  2. Yihaaaaaaa,, senang buangt bayangin Mr. JALAL cemburu.

    ReplyDelete
  3. Tambah lg donk mb,,,ingin tahu mn Jala tambah cemburu....

    ReplyDelete
  4. Hehehehe cie bang jalal cemburu... Maklum bang banyak yg suka yaa gitu.. Kalo di biarin ntar hilang...

    ReplyDelete
  5. Yaaa.... harus berapa hari lagi kita menunggu non tyas untuk part 13 nya?.
    Maunya besok donk. Hehehe
    Aq penasaran bangeet ma masa lalu Jodha, kira2 apa ya?

    ReplyDelete
  6. Wau, ternyata, rasa itu ada hanya terll gengsi, ya silahkan pelihara spy kesambet org baru rasa. Lanjut ya....

    ReplyDelete
  7. Jiaaaaaa si abang lagi cemburu tingkat dewa ya? Lanjut min makin seru nih
    Sebenarnya ada apa dengan masa lalu neng jodha?

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.