Just Love Part 14 - ChusNiAnTi

Just Love Part 14



Dokter sudah memeriksa kondisi Jodha dan memberikan resep. Sekarang Jodha sudah beristirahat. Dokter mendiagnosa Jodha terserang hypothermia ringan, dengan istirahat yang cukup akan bisa langsung memulihkan kondisinya. Bhaksi menawarkan diri menjaga Jodha, karena seharusnya Jalal berangkat kerja. Tapi Jalal bersikeras, dia sendiri yang akan menjaga Jodha. Bhaksi sangat mengerti kekhawatiran Jalal, dia pun menuruti permintaan Jalal tanpa bantahan.
Jalal duduk di kursi yang ditempatkannya di samping tempat tidur Jodha. Dipandanginya wajah Jodha yang tertidur. Napasnya sudah kembali normal. Digenggamnya satu tangan Jodha seakan ingin menyalurkan kehangatan pada tubuh Jodha yang dingin. Untunglah Jodha masih tertidur, jadi dia bisa bebas menggenggam tangannya seperti itu, bisa merasakan kelembutan kulitnya, juga bisa mencium tangannya. Kalau Jodha bangun, dia pasti tidak akan suka. Tapi Jalal tahu batasan dirinya. Dia tidak akan memanfaatkan kesempatan ini untuk melakukan hal yang lebih dari itu. Dia menghormati Jodha. Dan karena dia sudah mengungkapkan cintanya, maka dia tidak akan melakukan satu perbuatan yang akan menyakiti istrinya ini. Karena dia sangat berharga.
Jalal menyibak sejumput rambut di dahi Jodha, dia tidak bisa membayangkan gadis sebaik dan secantik Jodha pernah mengalami masalah hingga ingin bunuh diri. –‘Masalah seberat apapun yang kau hadapi, jangan pernah ingin bunuh diri. Kalau kau mati, kita tidak akan bertemu seperti sekarang. Kau sudah mengenalkan rasa cinta padaku, berarti kau yang bertanggungjawab menjaganya.’— Dengan ketelatenan, Jalal mengganti kompres hangat di dahi Jodha. Dia akan disini sampai Jodha bangun.
Sambil menjaga Jodha, Jalal punya kesempatan memperhatikan isi kamar Jodha. Banyak sentuhan feminin pada kamar ini dengan warna pastel bertebaran disana-sini. Tirai, penutup tempat tidur, taplak, bahkan pembungkus laptopnya juga berwarna pastel. Kamarnya rapi dan bersih, mencerminkan penghuninya. Ada satu foto berfigura di atas meja, foto Jodha dan keluarganya. Jalal tidak pernah mengira kamar ini bisa disulap menjadi secantik ini. Akan tetapi ada penyesalan di hati Jalal. Dia menyesal menempatkan Jodha di kamar sekecil ini. Jalal mengakui sikapnya memang kejam pada Jodha saat hari-hari pertama mereka menikah, bahkan Jalal sampai hati menempatkan Jodha di kamar yang sempit ini. Harusnya Jodha menempati kamar yang lebih besar seperti milik Bhaksi atau bahkan Jalal bisa berbagi tempat tidur dengannya. Tapi itu tidak mungkin, hubungan mereka belum sejauh itu. Namun Jalal berharap hari saat Jodha bersedia berbagi tempat tidur dengannya akan segera tiba. Besok, setelah Bhaksi kembali ke Inggris untuk menyelesaikan studinya, dia akan memindahkan Jodha ke kamar Bhaksi. Untuk Bhaksi, Jalal akan memikirkannya lagi nanti.
Hari menjelang sore saat Jodha mulai membuka matanya. Orang pertama yang dilihatnya adalah Jalal. Jodha mengerjap-ngerjapkan matanya mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi semalam dan kenapa Jalal bisa ada di kamarnya. Sejauh yang bisa diingatnya, dia pulang dalam keadaan basah kuyup lalu mandi air hangat, setelah itu dia langsung berbaring. Apa lagi yang terjadi setelahnya, tidak bisa dia ingat.
Jodha –“Tuan Jalal, sedang apa kau disini?”
Jalal –“Aku sedang merawatmu. Apa kau sudah merasa lebih baik?”
Jodha –“Memangnya aku kenapa?”
Jalal –“Kau terserang hypothermia karena semalam kau basah kuyup.”
Jodha –“Sekarang jam berapa?”
Jalal –“Jam 4 sore. Kau tunggu sebentar ya, aku akan mengambilkan makanan untukmu...”
Saat Jalal kembali, dia membawa semangkuk sup krim hangat untuk Jodha.
Jalal –“Kau bisa makan sendiri atau harus kusuapi?”
Jodha –“Aku bisa makan sendiri.... Apa kau menjagaku seharian ini?”
Jalal –“Iya, aku....”
Jodha –“Terima kasih. Maaf kalau aku membuatmu khawatir..”
Jalal –“Jangan membuatku khawatir lagi, ya... Berjanjilah kau tidak akan membahayakan dirimu lagi.”
Jodha –“Akan kuusahakan...Bhaksi kemana?”
Jalal –“Dia keluar bersama Shahabuddin, besok dia akan kembali ke Inggris..”
Jodha –“Benarkah?! Aku pasti akan merindukannya...”
Jalal –“Jadi mulai besok kau akan menempati kamar Bhaksi..”
Jodha –“Maaf, aku tidak mau. Aku lebih suka kamar ini...”
Jalal –“Tidak boleh. Pilihanmu pindah ke kamar Bhaksi atau ke kamarku!”
Jodha  tidak menjawab. Belum-belum Jalal sudah memerintahkan hal-hal yang aneh.
Jodha –“Tuan Jalal, apa kemarin aku tidak salah dengar saat kau mengatakan mencintaiku?”
Jalal –“Aku memang mengatakannya. Kalau kau tidak percaya aku akan mengatakannya lagi. Aku mencintaimu, Jodha..”
Jodha –“Bagaimana dengan perjanjiannya?!”
Jalal –“Persetan dengan perjanjian!!. Di hadapanmu sekarang, aku menarik semua kata-kataku. Aku minta maaf karena tidak bisa memegang janjiku, tapi aku tidak menyesal...Aku batalkan semua kesepakatan tapi aku tetap akan mempertahankan pernikahan kita. Aku juga menyesal dan minta maaf atas semua perlakuan burukku padamu, tapi mulai sekarang aku akan bersikap baik. Aku tidak tahu bagaimana cara mencintai yang benar, kalau kau mau mengajariku....”
Jodha –“Tuan Jalal, aku tidak bisa...”
Jalal –“Aku tahu, aku tidak akan memaksamu. Aku akan menunggu. Tapi kuberitahu satu hal, mulai sekarang kau harus terbiasa menerima perhatianku. Mungkin nanti, setelah kau terbiasa, kau bisa mencoba untuk...
Jodha –“Aku tidak menjanjikan apa-apa...”
Jalal –“Tidak apa-apa...Sekarang makanlah, lalu minum obatmu!”
Selama Jodha makan, Jalal tetap setia menemaninya. Bahkan Jalal ingin terus menemaninya hingga malam. Jodha keberatan, karena dia tahu Jalal juga pasti lelah setelah seharian merawatnya. Setelah didesak, dengan terpaksa Jalal menuruti permintaan Jodha untuk beristirahat. Dasar Jalal, bahkan sebelum pergi, dia masih memberikan serentetan peringatan untuk Jodha. Bahwa Jodha tidak boleh turun dari tempat tidur kecuali ke kamar kecil, pintu kamar tetap terbuka agar Jodha bisa berteriak memanggil Jalal atau Bibi Meeta jika butuh sesuatu, dan yang terakhir Jodha harus beristirahat. Jodha mengiyakan semua perintah Jalal, semata agar Jalal segera pergi dari kamarnya.
Keesokan harinya, Bhaksi berpamitan pada Jodha. Seandainya Jalal mengijinkan, Jodha ingin ikut mengantar Bhaksi ke bandara, tapi bahkan sebelum Jodha mengutarakan keinginannya, Bhaksi dan Jalal kompak melarangnya lebih dulu. Akhirnya Jodha menunggu di rumah karena Jalal juga melarangnya pergi kemanapun. Saat Jalal kembali, dia mulai memindahkan barang-barang Jodha ke kamar Bhaksi, dibantu Bibi Meeta. Jodha hanya bisa diam melihatnya.
Setelah dua hari penuh tanpa beraktifitas, pada hari ketiga Jodha bertekad akan melakukan semua rutinitasnya lagi. Jalal menemaninya jogging pagi, lalu sarapan pagi berdua. Usai sarapan, Jalal mengantar Jodha berangkat ke tempat kerjanya.
Pada siang harinya, Jalal menelepon Jodha..
Jodha –“Iya Tuan Jalal.”
Jalal –“(suara di telepon) Aku pesan cupcake 20 buah.”
Jodha –“Baik, kapan kau akan mengambilnya?”
Jalal –“Aku tidak akan mengambilnya. Aku mau kau mengantarnya ke kantorku.”
Jodha –“Harga kuenya tidak termasuk ongkos antar.”
Jalal –“Akan kubayar lebih!. Satu jam lagi sopir akan menjemputmu.”
Jodha –“Aku belum bilang iya..”
Jalal –“Kita makan siang bersama.”
Jodha –“Tuan Jalal!”
Tut..tut..tut..teleponnya sudah ditutup. Jodha menggerutu pada ponsel di tangannya –“Dasar tidak sopan!..Tapi caranya lucu untuk mengajak makan siang...” Jodha terkikik sendiri mengingat percakapan mereka tadi.
Tepat satu jam kemudian, sopir yang dikirim Jalal sudah menunggu di depan cafe. Jodha juga sudah siap, jadi dia langsung berangkat. Dengan menenteng sebuah kotak besar berisi kue pesanan Jalal, Jodha berjalan masuk ke kantor Jalal. Saat tiba di depan ruangan Jalal, Jodha memberitahu asistennya bahwa dia sudah ditunggu Jalal. Asisten Jalal sepertinya agak ragu membiarkan Jodha masuk ke ruangan Jalal, tapi Jodha luput memperhatikan gelagat itu. Benar saja, saat dia membuka pintu.....
DEG... ada pemandangan yang cukup menyakitkan hatinya. Jodha berharap tidak pernah membuka pintu ini. Jodha berharap tidak pernah melihat adegan di depannya ini. Jodha berharap bisa menghilang saat itu juga. Jodha berharap tidak pernah punya perasaan apapun pada Jalal agar apa yang dilihatnya tidak berpengaruh apapun padanya. Tapi sudah terlambat..... Jodha sudah melihatnya. Jodha melihat Jalal berpelukan dengan seorang wanita cantik di dalam ruangannya. Di dalam ruangan tertutup, apapun bisa mereka lakukan tanpa ada yang melihat. Tapi kebetulan yang sungguh klise, kenapa harus Jodha yang melihat itu semua??
Jodha mematung di ambang pintu. Sebelah tangannya masih menempel di pegangan pintu. Untunglah tangan satunya masih bisa memegang kotak kuenya dan tidak sampai terjatuh. Tanpa sadar Jodha menahan nafasnya. Matanya tak berkedip. Mulutnya hanya mengeluarkan suara “Ah...”
Tapi Jalal sudah melihat Jodha. Dia sudah melihat pandangan terkejut dari Jodha. Tapi dibalik itu, dia bisa melihat kesedihan Jodha. Ini salahnya, seharusnya Jalal tidak membiarkan gadis ini memeluknya. Jalal berusaha melepaskan pelukan gadis itu, tapi apa yang sudah terjadi tidak akan bisa dihapus dari ingatan Jodha, istrinya.
Jodha –“Maaf, sepertinya waktuku yang salah..”
Akhirnya Jodha bisa bersuara. Setelah mengatakan itu, Jodha menutup kembali pintunya. Meletakan kotak kue di meja asisten Jalal. Dan pergi dari tempat itu.
Jalal –“Tunggu Jodha ....!”
Terlambat, Jodha sudah menutup pintu. Jalal bergegas mengejar Jodha. Dia mencarinya ke lantai dasar. Jalal bertanya pada penjaga pintu apakah istrinya sudah berjalan keluar, tapi jawabannya sama sekali tidak membantu. Jalal terus berlari ke tempat parkir, tapi dilihatnya mobil yang menjemput Jodha tadi masih terparkir di halaman kantornya. Berputar-putar Jalal melihat ke segala arah, berharap melihat sekelebatan saja keberadaan Jodha. Tapi tidak ada. Jodha tidak terlihat dimanapun. Frustasi, Jalal mengacak-acak rambutnya sendiri. –‘Tidak mungkin Jodha bisa menghilang secepat itu!..... Apa mungkin dia masih ada di dalam?’—
Jalal masuk ke dalam gedung kantornya lagi. Dia bertanya pada pegawai-pegawai yang berpapasan dengannya, tapi tidak ada yang melihat Jodha. Tiba-tiba teringat, Jalal mencoba menghubungi ponsel Jodha. Tidak tersambung. Putus asa, Jalal kembali ke ruangannya di lantai tiga. Saat akan membuka pintu ruangannya, ujung matanya menangkap sesuatu. Pintu darurat menuju atap gedung sedikit terbuka. Dan seperti ada seseorang yang membisikinya, mengatakan Jodha ada di balik pintu itu..  
Jalal berbalik dan berjalan dengan yakin ke arah pintu darurat itu. Meski gedung ini miliknya, tapi Jalal hampir tidak pernah berjalan melewati pintu ini. Di balik pintu itu ada tangga darurat menuju atap gedung. Jalal menyusurinya hingga tiba disana. –‘Akhirnya kutemukan...’—
Meski hanya melihat punggungnya, Jalal yakin kalau itu Jodha. Dia sedang duduk di atas dudukan beton. Perlahan tanpa menimbulkan suara, Jalal mendekati Jodha. Entah bagaimana, Jodha bisa merasakan kehadiran Jalal karena dia langsung menoleh saat Jalal baru berjalan ke arahnya.
Jalal –“Jodha, kumohon jangan lari lagi... Aku akan menjelaskan semuanya.”
Jodha –“Aku tidak bisa lari kemana-mana... Kau juga tidak perlu menjelaskan apa-apa.. Itu urusanmu, aku tidak akan ikut campur...”
Jalal –“Dengarkan saja! Gadis itu masa laluku. Ya, dia datang untuk merayuku, tapi aku menolaknya. Kukatakan padanya aku sudah menikah dan aku mencintai istriku. Sepertinya dia tidak terima dengan penolakanku. Tiba-tiba saja dia memelukku, dan sungguh..aku berusaha melepaskannya saat kau datang..”
Jodha –“Aku tidak peduli apa yang kalian lakukan!”
Jalal –“Sungguh kau tidak peduli?!... Sedikitpun tidak peduli?!”
Jodha membuang muka. Dia menoleh ke arah lain agar Jalal tidak melihat airmatanya yang hampir keluar.
Jalal –“Apa kau menangis?”
Jodha –“Aku ingin menangis...tapi aku tidak diperbolehkan menangis..”
Jalal –“Siapa yang melarangmu menangis..?!”
Jodha –“Janji pada diriku sendiri....Juga kesepakatan kita..”
Jalal –“Bukankah sudah kukatakan padamu, aku batalkan semua kesepakatan awal kita....Aku batalkan semuanya! Tapi tidak pernikahan kita..”
Jodha –“Tolong jangan mempersulitku lagi....”
Jalal –“Kau terlalu keras pada dirimu sendiri! Tidak bisakah kau jujur kalau kau punya perasaan padaku?!”
Jodha –“Tuan Jalal, aku melakukan semuanya ini untuk melindungi perasaanmu!... Aku peduli padamu karena kita berteman. Aku tidak ingin kau sakit hati karena diriku, karena itu akan membuat hatiku lebih sakit..”
Jalal –“Apa karena masa lalumu?!”
Jodha tidak menjawab....
Jalal –“Jodha, apapun masa lalumu itu, aku berjanji tidak akan meninggalkanmu..Kau tidak perlu melindungi perasaanku. Saat ini aku hanya butuh kejujuranmu...Apa kau cemburu?”
Lama Jodha tidak menjawab. Dia berdiri tapi memunggungi Jalal...
Jodha –“Aku marah!...Aku tidak suka kau memeluk gadis tadi ataupun gadis-gadis lain yang aku tidak tahu...!”
Jalal langsung membalik tubuh Jodha dan memeluknya. Akhirnya jawaban yang sudah ditunggu Jalal. Jawaban Jodha yang memastikan perasaannya juga sama dengan perasaan Jalal. Meski Jodha tidak secara langsung mengatakan cemburu, tapi jawaban itu sudah mewakili semuanya.
Jalal –“Kau boleh menangis kalau kau marah...kau boleh sakit hati padaku, itu artinya kau punya perasaan untukku...”
Dibenamkannya kepala Jodha ke pundaknya. Dengan gerakan lembut, Jalal membelai rambut Jodha. Memberikan rasa tenang padanya. Selama beberapa lama, mereka tetap dalam posisi itu. Menikmati setiap detiknya.
Jodha –“Tuan Jalal, aku tidak menangis...Kau bisa melepaskan aku.”
Jalal –“Kau boleh menangis sepuasnya, tidak ada yang melarangmu lagi.”
Jodha –“Aku tidak menangis...Kau hanya cari-cari alasan untuk memelukku..”
Jalal melepaskan pelukannya mendengar gurauan Jodha...
Jalal –“Aahh..kau tahu rupanya...Tidak bisakah kau menangis agar aku bisa memelukmu lagi?”
Jodha –“Tidak mau!”
Jalal –“Dengar Jodha. Sebelumnya aku tidak suka menunjukkan perasaanku, apalagi mengatakan cinta. Meski aku berganti-ganti pasangan, tapi tidak ada yang berhasil membuatku mengatakan cinta. Hanya denganmu, aku jadi suka sekali mengatakan aku mencintaimu...Kumohon kau bersabar menghadapiku, aku pasti akan sering melakukan kesalahan karena semua perasaan ini baru untukku, mungkin gadis dari masa laluku akan muncul lagi, bertahanlah...Karena kau kekuatanku..”
Jodha terharu mendengarnya. Tanpa disadarinya, satu tetes air mata jatuh bergulir di pipinya. Dan Jalal melihatnya...
Jalal –“Kau menangis..berarti aku boleh memelukmu...”
Jalal menggoda Jodha lagi...
Jodha –“Tidak! Aku mau pulang!”
Jalal –“Kita belum makan siang..”
Jodha –“Makanlah sendiri!!. Gadis tadi pasti menunggumu!”
Jalal –“Tidak, aku sudah mengusirnya...Ayo kita makan siang..”
Jalal menggandeng tangan Jodha dan menariknya masuk ke dalam gedung lagi. Acara makan siang yang berawal dengan buruk, namun kemudian berakhir dengan baik....
Jodha dan Jalal melewati satu tahap lagi dalam hubungan mereka. Dengan mulai terbuka pada perasaan masing-masing, membuat segalanya terasa lebih indah. Terdengar klise, tapi itulah yang terjadi pada mereka berdua. Mereka tidak tergesa-gesa untuk menapaki setiap tahapnya. Mereka hanya berusaha menikmati setiap saatnya. Karena setiap saat, jika dilalui berdua, akan terasa lebih bermakna.
Pada salah satu malam, Jalal yang baru selesai membersihkan diri, menghampiri kamar Jodha. Di ambang pintu kamarnya, Jalal memperhatikan Jodha sedang mengobrol dengan seseorang via skype, sepertinya seorang pria.—‘Apa kakaknya?!, Sepertinya bukan!.’— tanya Jalal dalam hatinya, mencoba menebak siapa lawan bicara Jodha. Karena  Jodha terlihat sangat ceria dan terhibur oleh lawan bicaranya. Membuat Jalal cemburu karena ada pria lain yang lebih dekat dengan Jodha lebih dari dirinya...
Jalal –“Kau bicara dengan siapa?”
Jodha –“Dengan Kak Nitesh. Dia akan datang ke India..Aku akan mengenalkanmu padanya..”
Jalal merasa pernah mendengar nama itu. Amrita pernah menyebut nama Nitesh. Dia bilang pria itu adalah yang paling dekat dengan Jodha dan sudah dianggap kakaknya.
Jalal –“Aku tidak sabar bertemu dengannya..”

*******


Just Love Part 14

5 comments:

  1. AKuu Jugaa gaa sabar NuNggu kelaNjutaNNya...hiiii

    ReplyDelete
  2. Kita juga ga sabar puengn tahu siapa dia. Lanjuuuuuuut

    ReplyDelete
  3. Waduh kirain jodha kabur lg ayo. Nenggg Chusnianti cepet posting lg hehe

    ReplyDelete
  4. Kaya'nya semua juga dah ngga sabar mba tyas....nanda chus...lanjouuuttt

    ReplyDelete
  5. Yeeeeee akhirnya saling mencintai dan cemburuan juga
    Saya suka saya suka
    Next next next mbak tyas..... Gak sabar nihhhhh
    Sukron chusni dan mimin yang lain

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.