Just Love Part 15 - ChusNiAnTi

Just Love Part 15



Hari masih siang, tapi Jalal sudah sangat merindukan Jodha, padahal tadi pagi mereka sarapan bersama. Namun rasanya Jalal tidak bisa menunggu sampai malam untuk bertemu istrinya lagi. Akhirnya, dia memutuskan untuk menemui Jodha siang ini juga.
Setibanya di depan pintu cafe, Jalal heran karena di pintu cafe terpasang tanda TUTUP. Ini tidak seperti biasanya, Jalal belum pernah melihat cafe ini tutup saat makan siang. Diambilnya ponsel dari saku kemejanya untuk menghubungi Jodha. Nomornya tersambung tapi tidak dijawab. Dicobanya lagi menelpon Jodha, tapi hasilnya sama saja. Kecewa, Jalal berjalan kembali ke mobilnya. Saat membuka pintu mobil, tidak sengaja Jalal melihat motor Jodha masih terparkir di pintu samping cafe. Berarti Jodha masih disini. –‘Apa terjadi sesuatu dengannya? Kenapa dia tidak menjawab telepon dariku?’— Untuk menjawab rasa penasarannya, Jalal menutup kembali pintu mobilnya dan berjalan ke arah pintu samping cafe. Dia masuk langsung menuju ke dapur.
Sebelum membuka pintu dapur, Jalal  mendengar suara-suara yang sangat ramai dari dalam dapur. Dan saat membukanya, Jalal melihat banyak orang berkumpul di dalamnya. Semuanya karyawan cafe, terlihat dari seragam mereka. Tidak ada yang menyadari kehadirannya karena mereka sedang bersenang-senang seperti merayakan sesuatu. Bahkan sesekali mereka bersorak.
Jalal makin penasaran, apalagi dia belum melihat keberadaan Jodha. Jalal mengedarkan pandangan di sela-sela kerumunan itu. Lalu telinganya menangkap suara khas Jodha, dan Jalal menoleh ke arah suara itu berasal. Disanalah dia melihat Jodha. Di tengah-tengah ruangan, di samping seorang pria yang.... cukup tampan. Seandainya Jalal mau mengakuinya, pria itu sangat tampan. Tubuhnya tinggi dan proporsional bak atlet. Kulitnya putih. Dan Jodha sepertinya kenal dekat dengan pria itu, karena wajahnya tersenyum sangat manis setiap kali berbicara dengan pria di sampingnya. Membuat Jalal cemburu.—‘Dia bahkan belum pernah tersenyum semanis itu untukku..!’—
Jalal memanggil Jodha, membuat semua orang yang ada disana menoleh ke arahnya, seakan mereka tiba-tiba menyadari kehadiran Jalal. Jodha memang terkejut tapi tidak takut, membuktikan kalau dia tidak berusaha menutup-nutupi yang dilakukannya.
Jodha –“Tuan Jalal... Kau disini... Kenapa kau tidak memberitahu kalau akan datang?”
Jalal –“Aku ingin memberimu kejutan.”
Jodha merasa malu, terlebih karena semua karyawannya sedang memperhatikannya.
“Jodha, apa dia suamimu?” pria di samping Jodha bertanya.
Jodha –“Benar, Tuan Jalal, kemarilah... Kenalkan ini Kak Nitesh.. Kak Nitesh ini suamiku Tuan Jalaluddin Akbar..”
Jodha menggamit lengan Jalal untuk mendekat pada pria yang diperkenalkannya sebagai Kak Nitesh. –‘Jadi ini yang namanya Nitesh, pria yang paling dekat dengan istriku dan sudah dianggapnya kakak’— pikir Jalal.
Jalal –“Senang bertemu dengan anda.”
Jodha –“Kami berkumpul disini untuk merayakan kedatangan Kak Nitesh. Sejak Kak Nitesh jadi staf PBB, dia jarang pulang. Jadi demi menyambutnya, kami  bahkan menutup cafe untuk hari ini saja.”
Jalal –“Begitu rupanya. Aku melihat pintu depan tertutup tapi motormu masih ada.”
Jodha –“Apa kau butuh sesuatu, sampai-sampai harus datang kesini?”
Jalal –“Aku hanya ingin bertemu istriku.”
Jalal mengatakan kata-kata manis itu lagi, tapi matanya berkata lain. Ada sinar kebencian disana. Dia tidak suka kedatangan Nitesh dalam kehidupan dia dan Jodha. Dan Jodha merasakan itu. Perlahan Jodha menggenggam sebelah tangan Jalal, seakan untuk menenangkannya.
Nitesh –“Selamat atas pernikahan kalian, maaf aku baru bisa menyampaikannya. Kau pria yang sangat beruntung bisa memperistri Jodha. Dia sudah seperti adikku, jadi kau harus menyayanginya.”
Jalal hanya tersenyum menanggapi ucapan selamat dari Nitesh.
Jalal –“Kalau kau tidak keberatan, aku akan mengajak Jodha makan siang.”
Nitesh –“Silakan.”
Jodha menurut saja saat Jalal menarik tangannya, mengajaknya keluar. Di dalam mobil, suasananya sangat kaku. Tidak ada yang berani memecah keheningan di antara mereka. Jalal masih terpengaruh kehadiran Nitesh tadi.
Jodha –“Tuan Jalal, apa kau marah?”
Jalal –“Tidak.”
Jodha –“Apa kau mencurigai hubunganku dengan Kak Nitesh?”
Jalal –“Tidak.”
Jodha –“Apa anggapanmu tentangku kembali lagi seperti saat-saat awal pernikahan kita? Bahwa menurutmu aku merayu setiap pria yang menyukaiku?”
Jalal –“Tidak, aku percaya padamu..”
Jodha –“Lalu kenapa kau marah..?”
Jalal –“Aku tidak suka kau tersenyum manis pada orang lain selain aku....”
Jodha tersenyum mendengar jawaban Jalal yang kekanak-kanakan itu. Tapi jawaban itu sukses merubah suasana di antara mereka kembali ceria.
Jodha –“Ayo kita pulang saja, akan kumasakkan makan siang untukmu..”
Setelah siang itu, nama Kak Nitesh tidak pernah lagi disinggung dalam semua percakapan Jalal dan Jodha. Hingga pada suatu malam nama Kak Nitesh muncul lagi diantara mereka. Malam itu, Jalal mendatangi Jodha di kamarnya. Setelah mengetuk pintu, Jalal masuk ke dalam tanpa sungkan. Jodha yang sebelumnya sedang fokus memperhatikan layar monitor notebook-nya, seketika mengangkat wajahnya saat melihat Jalal masuk..
Jalal –“Jodha, besok kau akan menemaniku ke acara charity Woman and Child Care..”
Jodha –“Baiklah”
Jalal –“Apa kau tahu?! Nitesh yang mengajukan proposal ke kantorku agar perusahanku turut jadi sponsor..”
Jodha –“Aku tahu Kak Nitesh yang mengadakan acara amal itu. Tapi aku sengaja tidak memberitahumu, karena aku pikir kau tidak akan mau menerima undangannya..”
Jalal –“Apa kau takut aku akan membuat masalah disana?”
Jodha –“Bukan, aku hanya tidak mau kau cemburu tanpa alasan jika kita bertemu Kak Nitesh disana.”
Jalal –“Apa Nitesh sangat penting artinya untukmu?”
Jodha –“Kau ingat saat aku bilang pernah ingin bunuh diri? Kak Nitesh lah yang menyelamatkanku. Dia yang mengubah hidupku, mengajariku cara bisa berguna untuk orang lain. Dia yang mengenalkanku pada Sisterhod Shelter. Jadi Ya, Kak Nitesh sangat penting artinya untukku.”
Jalal –“Berarti aku tidak bisa menyainginya.”
Jodha –“Tuan Jalal, selamanya aku berhutang budi padanya, tapi dia hanyalah seorang kakak untukku...”
Jalal sepenuhnya yakin Jodha tidak akan melakukan sesuatu yang akan mempermalukannya. Jalal hanya sedih karena dia merasa kalah dari Nitesh di dalam hati Jodha. Nitesh dan Jodha sudah saling mengenal jauh sebelum Jodha menikah dengannya. Mereka pasti memiliki banyak kenangan, sedangkan dia dan Jodha baru saja merajut kenangan mereka sendiri.
Esok malamnya di jam yang sama, Jodha sudah siap pergi ke acara charity bersama Jalal. Mengenakan gaun malam selutut berbahan satin silk warna biru tua dengan potongan model Yunani. Dilengkapi dengan selendang tipis untuk menutupi lengannya yang terbuka dan high heels cantik berwarna senada dengan gaunnya. Penampilan Jodha sukses membuat Jalal tak berkedip. Melihat Jodha secantik itu hampir merubah keputusan Jalal untuk pergi. Bagaimana dia bisa menahan diri jika nanti banyak pria disana yang memandangi Jodha, ditambah lagi ada Nitesh. Tapi tidak mungkin dia membatalkannya hanya untuk alasan sepele seperti itu. Memalukan.
Dugaan Jalal tepat, begitu memasuki hall pesta, beberapa pria langsung menjatuhkan pandangannya ke arah Jodha. Entah Jodha menyadarinya atau tidak, tapi dia tetap berjalan santai memasuki ruangan. Jalal menghentikan langkah Jodha. Digenggamnya tangan Jodha dan diselipkannya di lekukan lengannya. Tujuannya agar semua orang tahu, Jodha adalah miliknya.
Baru beberapa langkah, Nitesh sudah menyambut mereka berdua.
Nitesh –“Selamat datang untuk kalian berdua. Terima kasih sudah datang, Tuan Jalal.”
Jalal –“Terima kasih. Sepertinya anda cukup sukses menyelenggarakan acara ini.”
Nitesh—“Kehormatan untukku.”
Sebagai tuan rumah yang baik, Nitesh mengenalkan Jalal pada tamu-tamu yang lain. Jalal yang awalnya tidak yakin bisa menikmati acara amal ini, lambat laun mulai bisa berbaur dengan tamu-tamu lainnya. Tapi selama acara berlangsung, Jalal tidak pernah melepaskan genggaman tangannya pada Jodha. Bahkan beberapa kali genggamannya terasa semakin erat, terutama saat dia merasa ada yang meperhatikan Jodha secara berlebihan. Hingga saat Jodha mengatakan akan pergi ke kamar kecil, meski enggan Jalal terpaksa melepaskan genggamannya.
Sudah lebih dari sepuluh menit Jodha di kamar kecil dan belum kembali. Jalal berkali-kali menoleh ke arah Jodha pergi tadi, tapi tidak terlihat Jodha berjalan keluar dari sana. Tiba-tiba Nitesh datang menghampirinya dengan wajah khawatir...
Nitesh –“Apa Jodha bersamamu?”
Jalal –“Ya, tapi dia di kamar kecil..tapi sudah sepuluh menit yang lalu..kenapa?”
Nitesh –“Semoga dugaanku salah, tapi aku melihat seseorang yang tidak boleh Jodha temui selamanya. Aku kuatir mereka....”
Jalal –“Kenapa? Apa Jodha dalam bahaya?”
Nitesh –“Aku tidak bisa mengatakannya...sebaiknya kau cari Jodha dan bawalah dia pulang!! Segera!!”
Kata-kata Nitesh penuh penekanan, membuat Jalal semakin khawatir. Meski tidak tahu apa maksudnya, dia percaya dan menuruti permintaan saingannya ini. Buru-buru Jalal mencari Jodha ke kamar kecil yang tadi dimasukinya. Dipanggilnya Jodha dari luar pintu, tidak ada jawaban. Setelah beberapa kali memanggil tetap tidak ada jawaban, Jalal langsung menerobos ke dalam kamar kecil wanita itu. Beberapa wanita di dalamnya memandang heran pada Jalal, tapi tidak diperhatikannya. Jalal terus saja mencari Jodha. Tidak ada.
Jalal keluar dan mencari Jodha ke arah lain. Setelah mondar-mandir beberapa lama, Jalal berpapasan lagi dengan Nitesh. Rupanya Nitesh juga mencari Jodha. Semakin panik karena belum menemukannya, Jalal berlari keluar dari hall pesta menuju ke halaman parkir. Nitesh mengikuti di belakangnya. Mereka berkeliling menyusuri tempat itu, memeriksa di antara mobil-mobil yang terparkir disana. Sayup-sayup Jalal mendengar suara orang bicara, diikutinya sumber suara itu yang kemudian menuntunnya ke sebuah pojok gelap dari area itu.
Perasaan Jalal langsung lega melihat Jodha ada disana. Rupanya dia tidak sendiri, ada seorang pria di depannya. Tapi ada sesuatu yang tidak beres. Jodha menangis, air matanya tampak berkilau dipantulkan cahaya lampu yang menyorotnya. Jalal belum pernah melihat Jodha menangis seperti itu. Saat akan mendekati Jodha, dari arah belakangnya Nitesh berlari mendahuluinya. Nitesh berlari ke arah Jodha dan memeluknya...Jalal terhenyak tak bisa bergerak melihat sikap Nitesh pada Jodha. Bukan salahnya jika dia sampai berpikir kalau Nitesh dan Jodha lebih dari kakak adik, karena jika dilihat dari tempatnya berdiri, dia melihat Nitesh dan Jodha berpelukan mesra, mengabaikan dirinya, suami Jodha...
Lalu Jalal mendengar pria di depan Jodha, berbicara dengan suara memelas pada Jodha...
“..Jodha, aku mohon...ampunilah aku...aku tidak bermaksud menyakitimu...aku mohon, maafkanlah aku...bebaskanlah aku dari karma ini...”
Jodha –“Kau bukan hanya menyakitiku, kau menghancurkan seluruh hidupku, seluruh impianku dan semua kebahagiaanku... Pantaskah aku memaafkanmu??!!”
Nitesh –“Tenanglah Jodha...Kau tidak seharusnya menemui orang ini..Kau hanya akan membuka luka lamamu lagi...”
Jodha –“Aku membencimu! Aku mengutukmu! Aku mengutukmu tidak akan bisa bahagia dalam hidupmu! Kau dengar?!”
Jalal tidak bisa memahami isi pembicaraan mereka. Siapa pria itu? Kenapa Jodha sangat membencinya?
“...Jangan, kau boleh membenciku...tapi kumohon jangan mengutukku...Aku punya keluarga, aku ingin membuat mereka bahagia..”
Jodha –“Seharusnya kau memikirkannya sebelum memperkosaku!!”
Jalal –“JODHA..!”
Seketika Jodha menoleh mendengar ada yang memanggilnya. Badannya terlihat limbung. Setelah membisikkan nama Jalal, tubuh Jodha langsung lemas dan roboh ke lantai. Untung Nitesh cukup sigap menahan tubunya. Jalal juga langsung berlari menghampirinya. Dia mengambil alih tubuh Jodha dari Nitesh...Dengan panik, Jalal menepuk-nepuk pipi Jodha sambil memanggil namanya, berharap Jodha segera sadar.
Jalal –“Jodha ...Jodha...bukalah matamu..”
Nitesh –“Kau bawa Jodha pergi dari sini!.”
Jalal membopong tubuh Jodha pergi dari tempat itu. Dilewatinya begitu saja pria yang tadi bicara dengan Jodha. Dia harus mengutamakan keselamatan Jodha terlebih dulu. Nanti, setelah dia punya kesempatan, Jalal akan mencari informasi tentang pria itu dan akan membuat perhitungan dengannya karena telah membuat Jodha menderita.
Dibaringkannya Jodha di tempat duduk belakang mobilnya. Nitesh menyusulnya dan ikut dalam mobil Jalal. Nitesh mengatakan dia tahu cara merawat Jodha jadi Jalal tidak perlu memanggil dokter lain lagi.
Sesampainya di apartemen, Jalal membaringkan Jodha di kamarnya. Baru saja tubuh Jodha menyentuh tempat tidurnya, dia tersadar dari pingsannya. Posisi Jalal yang sedikit membungkuk di atas Jodha justru membuat gadis itu terkejut dan sedikit ketakutan, bahkan Jodha sampai menarik tubuhnya ke ujung jauh tempat tidur.
Jalal –“Jodha, tenanglah..ini aku suamimu...aku Jalal..”
Mata Jodha masih membelalak ketakutan, seperti baru tersadar dari mimpi buruk, dan meski sudah membuka matanya, dia masih belum bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan. Nafasnya masih memburu seperti dikejar-kejar sesuatu yang membuatnya mengigil ketakutan. Tangannya disilangkan di depan dadanya...dan dia semakin meringkuk di pojok. Nitesh yang juga berada di dalam kamar Jodha,mencoba membujuk Jodha....
Nitesh –“Jodha, sssshhhh...tidak apa-apa..semua sudah berakhir...kami berdua sama-sama menyayangimu....Jangan takut...”
Jodha –“Tuan Jalal.....”
Jalal –“Jodha, tidak apa-apa, kemarilah....”
Pelan-pelan Jodha mengendurkan ketakutannya saat matanya sudah mulai fokus. Akhirnya dia sadar, ternyata dua orang yang berada di depannya ini adalah Kak Nitesh dan Jalal, suaminya. Pastinya dia aman bersama mereka. Lalu Jodha bergerak mendekati Jalal. Tangan Jalal diulurkan dan Jodha menyambutnya. Jodha membutuhkan kekuatan yang bisa dirasakannya dari genggaman tangan ini. Kemudian  Jodha duduk di samping Jalal di sisi tempat tidur.
Nitesh –“Jodha, apa kau masih pusing?”
Jodha –“Sedikit...dadaku juga masih sesak...”
Nitesh –“Apa kau masih menyimpan resep obatmu yang lama?”
Jodha –“Masih, ada di dalam laci...”
Jalal –“Obat apa itu?”
Jodha –“Obat penenang dosis rendah..”
Nitesh membuka laci sesuai yang ditunjukkan Jodha dan mengambil obat yang terletak di dalamnya. Nitesh mengangsurkan obatnya pada Jodha beserta segelas air minum.
Nitesh –“Kau sudah merasa lebih baik?”
Jodha –“Iya, terima kasih Kak Nitesh...”
Nitesh –“Istirahatlah...Aku tunggu di luar..”
Nitesh sengaja meninggalkan Jodha berdua dengan Jalal. Memberi mereka waktu yang mereka butuhkan.
Jalal –“Berbaringlah..dan cobalah untuk beristirahat..”
Jodha mengangguk menuruti permintaan Jalal, selain itu tubuhnya juga masih lemas..
Jodha –“Kau tidak menuntut penjelasan dariku..?”
Jalal –“Lain kali saja...Tidurlah...”
Jalal menepuk-nepuk lembut tangan Jodha agar Jodha cepat tertidur. Setelah dia tertidur, Jalal merapikan selimut yang membungkus tubuhnya dan berjalan keluar dari kamar...
Di ruang tamu, rupanya Nitesh masih duduk menunggu disana. Jalal menghampirinya dan duduk di sofa yang berseberangan dengannya...
Jalal –“Jadi..apa yang sebenarnya terjadi tadi?”
Nitesh –“Jodha lebih berhak menceritakannya padamu...”
Jalal –“Siapa pria yang tadi bicara dengan Jodha?”
Nitesh –“Yang bisa kukatakan..dia adalah salah satu penyebab mimpi buruk Jodha..”
Jalal –“Benarkah dia memperkosa istriku? Berarti pantas kalau aku ingin menghancurkan hidupnya juga?!”
Nitesh –“Tidak perlu mengotori tanganmu. Hidupnya juga sudah hancur..Yang harus kau lakukan hanyalah menjaga Jodha. Dan pastikan kebahagiaannya! Aku akan selalu mengawasimu...”
Jalal –“Apa sejak dulu kau sudah tahu semua cerita ini?”
Nitesh –“Aku tahu.”
Sejenak keduanya terdiam. Pandangan mereka saling menusuk. Bahasa tubuh mereka seperti sedang saling mengukur kekuatan lawan bak dua singa yang berhadapan dan bersiap menyerang.
Jalal –“Bagaimana kau bisa tahu! Jodha bahkan tidak mau menceritakannya padaku..Apa itu artinya kalian saling mencintai?”
Nitesh –“Kami saling menyayangi dan saling mendukung.”
Jalal menggertakkan rahangnya menahan marah. Kemarahan yang dia rasakan karena pria di depannya ini tahu lebih banyak tentang Jodha daripada dirinya.
Nitesh –“Aku pulang dulu. Kabari jika ada sesuatu.”
Nitesh berdiri dan mulai melangkah ke arah pintu...
Jalal –“Tunggu!!...APA kau mencintai Jodha?”
Nitesh –“Jodha memang berbagi masa lalunya denganku. Tapi debar jantungnya bukan untukku...”
Jalal –“Apa maksudmu?”
Nitesh –Kau tahu benar maksudku...!”

*****************


Just Love Part 15

11 comments:

  1. Anda benar2 bkin sya pnasarn tk dewa sdr chus,,,sdr tyas,,,btw busway lanjoooot

    ReplyDelete
  2. Next Mba..
    Besok ya.. Please..please..please..

    ReplyDelete
  3. Next Mba..
    Besok ya.. Please..please..please..

    ReplyDelete
  4. Next mba..
    besok ya...please..please..please

    ReplyDelete
  5. Kasian Jodha di perkosa sama sapa mbakk tyas tapi semoga jalal tetap terima apa adanya

    ReplyDelete
  6. Sukses ni motongnya chusni. . . hobi bkin qt2 pnasrn. , , lnjuuutttt

    ReplyDelete
  7. Debarr jaNtuNg jodha haNya uNtukMu Jalal....Next di tuNggu yaa...

    ReplyDelete
  8. Wah..Wah..Wah..bener2 bikin penasaran abiz..d tgg banget next nya mbak...

    ReplyDelete
  9. Benerkan orang dari masa lalunya jodha,,,
    Tega amat tu orang
    Belum pernah di hajar singa a?
    Next mbak tyas.... Sukriya mimin semua

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.