Just Love Part 16 - ChusNiAnTi

Just Love Part 16



Di dalam cerita Just Love, saya memasukkan sedikit fakta sosial yang terjadi khususnya di India. Secara pribadi, saya sangat terpengaruh dengan kasus pemerkosaan massal yang terjadi di dalam bus di India hingga korbannya meninggal. Saya tidak punya tujuan khusus menyelipkan fakta-fakta sosial ini, hanya saja saya ingin menunjukkannya. Terlalu idealis kalau dikatakan ingin membuka mata dunia. Karya saya ini hanya karya amatiran. Hanya saja semua itu membuat kita bersyukur bahwa kita tidak mengalaminya, bahwa kita hidup di lingkungan yang aman, dan kita punya teman-teman yang baik. Itu saja.
* * * * *
Nitesh –“Jodha memang berbagi masa lalunya denganku. Tapi debar jantungnya bukan untukku...”
Jalal –“Apa maksudmu?”
Nitesh –“Kau tahu benar maksudku...!”
Setelah mengatakan itu, Nitesh keluar dari apartemen Jalal. Seperti meninggalkan teka-teki, Jalal berpikir keras apa arti kata-kata Nitesh tadi. Namun mungkin memang itulah jawaban terbaik yang bisa diberikan Nitesh jika Jalal bertanya tentang hubungannya dengan Jodha. Jalal bisa memikirkannya lagi nanti, sekarang dia ingin melihat Jodha.
Jalal masuk kembali ke dalam kamar Jodha, lalu duduk di samping Jodha yang tertidur. Lama dipandanginya wajah Jodha. Wajah itu biasanya terlihat anggun, angkuh dan selalu tampak tegar. Jauh berbeda dengan yang terlihat tadi, wajah itu memperlihatkan ketakutan yang dalam. –‘Andai saja kau mempercayaiku, mau menceritakan semuanya padaku. Aku pasti akan berusaha menghapus semua ketakutan dalam hidupmu.’— Begitulah yang ingin dikatakan Jalal pada Jodha saat dia sudah bangun nanti.
Waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi, Jodha baru saja membuka matanya. Tidurnya sangat nyenyak, efek dari obat yang diminumnya  semalam. Sekarang dia sudah tidak merasa lemas lagi. Jodha ingat semalam Jalal menemaninya sampai dia tertidur. –‘Sudah saatnya aku membuka semua rahasiaku padanya.’— pikir Jodha. Siap ataupun tidak, dia harus menghadapi Jalal..
Pintu kamarnya sengaja dibiarkan terbuka sejak semalam, Jodha segera beranjak menuju dapur karena tiba-tiba dia merasa lapar sekali. Dia tidak mendengar suara apapun dari dapur. Setengah jalan menuju dapur, langkahnya terhenti tiba-tiba..... Ada Jalal sedang duduk di meja makan, dan sekarang pria itu sedang memandangnya. Jodha menundukkan wajahnya, seperti seorang tertuduh yang menunggu vonisnya.... Ya, Jodha sedang menanti reaksi Jalal sehubungan semua yang terjadi semalam. Seandainya Jodha bisa mengartikan tatapan itu....
Jalal –“Apa kau lapar?”
Jodha –“Iya...”
Jalal –“Ada sandwich kalau kau mau...”
Jodha –“Terima kasih...”
Jalal –“Kalau sudah selesai makan, kutunggu di ruang depan. “
Jalal meninggalkan Jodha sendirian di meja makan untuk menikmati sandwichnya. Jodha tidak bisa merasakan apakah sandwichnya enak atau tidak, yang penting perutnya terisi. Setelah menghabiskannya, Jodha menyusul Jalal ke ruang depan.
Jalal duduk di ujung sofa panjang, dan Jodha menempatkan tubuhnya di ujung satunya. Jodha duduk dengan kedua kaki terlipat di depan dadanya. Mempersiapkan dirinya....
Jodha –“Kenapa kau sudah bangun?”
Jalal –“Aku tidak bisa tidur.”
Jodha –“Apa kau sudah siap..?”
Jalal –“Hmm..”
Jodha menelan ludah dengan susah-payah, mencoba membersihkan tenggorokannya, memastikan dia mampu bicara di depan Jalal...
Jodha –“Saat itu usiaku 17 tahun, aku masih di tahun keduaku di Second Stage. Sekolahku mengadakan acara seni untuk charity dan aku salah satu penampilnya. Malam itu, adalah latihan terakhir sebelum tampil. Aku berlatih sampai malam. Biasanya ayah atau kakakku yang menjemputku, tapi malam itu keduanya belum datang. Aku menelpon rumah dan ternyata mobil ayahku mogok dalam perjalanan ke sekolahku.... Ayah menyuruhku untuk menunggu, dia akan meminjam mobil.... Tapi aku tidak menunggu ayahku. Kuputuskan naik bis pulang...”
Jodha menarik napas panjang ...
Jodha –“Dari halte bis, aku masih harus berjalan kurang dari 1 mil untuk sampai rumahku. Jalanannya kelihatan menakutkan karena memang sudah sangat malam... Aku berjalan melewati beberapa rumah... Lalu deretan rumah berganti lahan kosong dengan rumput tinggi... Aku mempercepat langkahku... Tiba-tiba ada suara seseorang dari arah belakangku... Aku takut. Aku tidak berani menoleh. Aku lari... Tapi aku masih bisa dengar mereka tertawa...”
Jodha mulai gemetar. Napasnya pendek-pendek. Dan Jalal melihat perubahan pada raut wajah Jodha. Kembali wajah itu menampakkan ketakutan, seakan yang dia ceritakan terulang kembali di depan matanya. Jalal mulai bisa meraba kemana cerita ini akan berakhir. Jalal tidak tahan melihatnya....  Diraihnya satu tangan Jodha, digenggamnya erat untuk menenangkannya....
Jodha –“Tiba-tiba tubuhku tersungkur ke tanah... Ada yang memegang kakiku, ada yang memegang tanganku... dan satunya ada di atasku... Aku berteriak, tapi bahkan aku sendiri tidak bisa mendengar suaraku... Aku... aku... tubuhku rasanya mati rasa... aku ingin mati saat itu juga... Pria itu merobek celanaku... dan rasanya sakit sekali....”
Tubuh Jodha bergetar hebat. Ditutupnya wajahnya dengan kedua tangannya. Jodha menangis dengan keras. Tanpa meminta ijin pada Jodha, Jalal memeluknya. Jalal membenamkan tubuh Jodha dalam dekapannya, membiarkannya menangis sampai air matanya kering. Jalal membiarkan Jodha menumpahkan semua rasa sakit, ketakutan dan mimpi buruknya....
Jalal –“Ssssshh... sssshhhh....”
Diusapnya punggung Jodha naik turun, sedikit demi sedikit bisa menenangkannya. Entah sejak kapan, tangan Jodha sudah melingkari punggung Jalal. Lengan itu melingkarinya dengan cukup kuat, seakan berpegangan pada pelampung hidupnya....
Tangisan sudah berkurang menjadi isakan... kemudian isakan sudah tidak terdengar lagi, tersisa napas yang masih sesenggukan di dada Jalal... Airmatanya sudah membasahi baju Jalal, tapi Jalal tetap memeluknya.... hingga Jodha mulai mengendurkan pelukannya dan mengangkat wajahnya yang basah dari dekapan Jalal...
Jodha –“Untunglah Kak Nitesh datang menyelamatkanku... Aku tidak tahu dia datang darimana, tiba-tiba saja dia sudah menghajar ketiga orang itu...”
Jalal –“Itu awal mula kalian bertemu?”
Jodha –“Benar..”
Jalal –“Itulah kenapa kau bilang dia penyelamat hidupmu...”
Jodha –“Selama 3 bulan aku terpuruk, mengunci diri dalam kamar... dan hampir berhenti sekolah... Saat paling rendah dalam hidupku, saat itulah aku berusaha bunuh diri..........
Jalal –“Apa yang membuatmu bangkit lagi?”
Jodha –“Orang tuaku dan Kak Nitesh tidak menyerah mengeluarkanku dari kegelapan... Kak Nitesh berkali-kali meyakinkanku bahwa kehidupanku sangat berharga dan aku bisa lebih berguna bagi orang lain.... Dia mengenalkanku pada Sisterhood Shelter... Dari sanalah aku sadar nasibku masih jauh lebih baik daripada korban-korban yang lain. Mereka ada yang dibuang dari keluarganya, dari masyarakat, dari kampungnya..... Sedangkan aku.. keluargaku tidak pernah memperlakukanku dengan jijik, mereka terus menyayangiku dan mendukungku...... Itulah kenapa aku ingin wanita lain yang bernasib sama sepertiku bisa mendapatkan kasih sayang dan dukungan. Aku ingin mereka juga mendapat kesempatan yang sama untuk maju. Kami korban bukan penjahat, kami tidak layak dipermalukan apalagi diperlakukan seperti penyakit masyarakat....”
Jalal –“Aku tahu kau gadis hebat... kau mampu bertahan..”
Jodha –“Aku menjalani terapi selama satu tahun...Lima bulan pertama terapi aku sudah cukup berani masuk sekolah, tapi orang tuaku memindahkan sekolahku untuk menghindarkanku dari pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan selama aku tidak sekolah.Tidak ada yang tahu kejadian itu kecuali keluargaku dan Kak Nitesh. Orang tuaku sengaja menutupi semuanya dan tidak melaporkannya ke polisi semata demi ketenanganku....”
Jalal –“Sampai sekarang apa kau masih sering mengingat kejadian itu?”
Jodha –“Awalnya tiap malam aku selalu memimpikannya.... Lama-kelamaan semakin berkurang... Tapi sampai sekarang kadang aku masih mimpi buruk... Ada trauma yang masih kubawa sampai saat ini.... aku takut keluar malam... aku juga masih tidak bisa kalau harus memakai shalwar...”
Jalal –“Apa saat itu kau..”
Jodha –“Ya, malam itu adalah malam terakhir aku memakai shalwar.... Tidak masalah kalau aku melihat orang lain memakainya, tapi tidak untuk kupakai sendiri....”
Jalal –“Apa kau juga takut pada semua laki-laki?”
Jodha –“Tidak, aku tidak takut, buktinya aku tidak takut pada Kak Nitesh... Hanya saja setiap ada pria yang mulai menyukaiku dan mendekatiku, aku pilih menghindar....”
Jalal –“Tapi kau tidak takut padaku, kau juga mau menikah denganku.... Aku juga pernah menciummu.... Jangan-jangan kau tidak menganggapku sebagai pria?”
Jodha –“Benar, aku juga tidak menyangka semua itu. Kau kasus yang istimewa sejak awal... Pernikahan kita terjadi berdasarkan kepentingan yang saling menguntungkan, bukan?! Jadi denganmu itu....... berbeda... aku tidak bisa menggambarkannya....”
Jalal –“Apa kau bisa mengenali orang-orang yang melecehkanmu?”
Jodha –“Bisa, tapi aku tidak berniat mencari mereka apalagi melaporkannya. Aku tahu alasan orang tuaku hanya untuk melindungiku dari serangan-serangan opini masyarakat dan media. Apa kau tahu? Wanita korban pelecehan di negara ini sedikit yang mendapat keadilan. Justru dipermalukan mulai dari saat membuat laporan di kantor polisi, saat tahap penyelidikan maupun saat di pengadilan. Tidak ada yang melindungi hak kami sebagai saksi. Kronologi pelecehan yang kami terima, justru diumbar dimana-mana..”
Jalal –“Jadi mereka tidak pernah dihukum?”
Jodha –“Tidak, tapi aku yakin mereka akan mendapat hukuman dari Tuhan..”
Jalal –“Lalu semalam kau tidak sengaja bertemu dengan salah satunya?”
Jodha terdiam sejenak. Mengingat kembali yang terjadi semalam. Awal mula dia bertemu salah satu orang jahat yang melecahkannya...
Jodha –“Saat aku keluar dari kamar kecil, pria itu lewat di depanku... Aku mengikutinya hingga ke tempat parkir.... Aku mencegatnya dan menuntut jawaban yang tak pernah terjawab sejak kejadian itu..”
Jalal –“Pertanyaan apa?”
Jodha –“Kenapa mereka melakukannya padaku?... Apa salahku pada mereka?...Apa mungkin mereka punya dendam padaku?”
Jalal –“Apa dia menjawab?”
Jodha –“Dia tidak bisa menjawabnya... Tapi bahkan mereka juga tidak pernah mengenalku...! Berarti benar kata Kak Nitesh, aku hanyalah gadis yang tidak beruntung malam itu... aku lewat di tempat yang salah, pada waktu yang salah dan bertemu dengan orang yang salah...”
Jalal –“Sejujurnya, semalam aku ingin membunuh pria itu... Kupikir, beraninya dia membuatmu menangis, membuat istriku histeris....T api aku tidak melakukannya... Aku ingat, kalau aku membunuhnya, aku akan masuk penjara. Kalau aku masuk penjara, siapa yang akan menjagamu..?”
Jodha tersenyum mendengar pengakuan manis Jalal... Tapi senyumnya kembali memudar karena dia belum dijatuhi vonis oleh Jalal..
Jodha –“Jadi, bagaimana keputusanmu?
Jalal –“Keputusanku?”
Jodha –“Apa kau akan menceraikanku?”
Jalal –“Kenapa aku harus menceraikanmu?”
Jodha –“Karena sekarang kau sudah tahu masa laluku. Aku tidak memiliki kehormatan sebagai seorang gadis..”
Jalal –“Aku juga sering berganti-ganti pasangan sebelumnya, apa kau juga bermasalah dengan itu..?”
Jodha –“Seorang gadis yang sudah tidak suci saat pernikahannya adalah aib bagi kedua keluarga. Sedangkan seorang pria dia diijinkan berganti-ganti pasangan meski belum menikah.. Itu stigma masyarakat secara umum..”
Jalal –“Jodha, aku tidak mempermasalahkan pelecehan yang pernah kau terima. Aku menyesal saat itu kita belum bertemu jadi aku tidak bisa melindungimu. Tapi tidakkah kau sadar, pengalaman burukmu itu telah membuatmu menjadi gadis yang sangat kuat? Yang berani menghadapi apapun..Yang punya kepedulian yang sangat tinggi pada orang lain.”
Jodha –“Jadi...?”
Jalal –“Aku ingin bertanya dulu satu hal. Apa jantungmu berdebar untukku..?”
Jodha –“Apa?! Siapa yang memberitahumu...?!”
Jalal –“Jadi benar..?”
Jodha gelagapan, pertanyaannya justru adalah jawabannya ... karena memang benar, jantungnya selalu berdebar setiap ada di dekat Jalal...
Jodha –“Apa hubungannya dengan semua ini?”
Jalal mendekatkan wajahnya pada wajah Jodha, dan berbisik di telinganya..
Jalal –“Kalau jantungmu berdebar untukku... berarti kau mencintaiku...”
Jodha tersipu dan menundukkan wajahnya...
Jalal –“Kalau istriku mencintaiku, mana mungkin aku lepaskan..”
Jalal meraih kembali satu tangan Jodha, diciumnya telapak tangan itu, lalu ditempelkannya di dadanya...
Jalal –“Kau dengar? Jantungku juga berdebar untukmu...”
Mereka sama-sama tersenyum.... Jalal menggeser duduknya hingga menempel di sebelah Jodha... sebelah tangannya dilingkarkan di belakang pundak Jodha... dan kepala mereka saling berdekatan... Mereka tidak butuh kata-kata lagi. Justru terlalu banyak bicara akan merusak momen ini. Mereka ingin menikmati kemesraan kecil ini lebih lama.... dan lama... dalam keheningan.
Perasaan berbunga-bunga adalah perasaan yang paling menyenangkan yang dirasakan oleh orang yang sedang kasmaran. Bahagia saat melihatnya tersenyum, mencuri-curi pandang, dan rasa ingin selalu bersama. Seperti itulah yang dirasakan Jodha dan Jalal.
Siang hari itu, Jalal mengajak Jodha jalan-jalan ke sebuah pusat perbelanjaan. Kegiatan yang tidak pernah dilakukan Jalal sebelumnya, tapi untuk Jodha apapun bisa dilakukannya. Ditariknya Jodha masuk ke sebuah toko alas kaki. Jalal meminta Jodha memilih salah satunya.
Jodha –“Untuk apa? Aku tidak butuh.. ”
Jalal –“Pilih saja atau aku yang memilihkannya untukmu.. Seperti ini, cocok untukmu.”
Jalal memilih sebuah high heels berwarna merah dengan aksen bunga di ujungnya. Jalal mendudukkan Jodha dan memasangkan high heels itu di kakinya.
Jalal –“Kau suka?...Ini hadiahku untuk ulang tahunmu.”
Jodha –“Tapi ini bukan hari ulang tahunku...”
Jalal –“Aku merayakan ulang tahunmu yang tahun lalu... Tahun lalu, kita belum bertemu, jadi aku akan merayakannya hari ini. Dan aku juga akan merayakan setiap tahun dari usiamu..”
Jodha –“Kenapa?”
Jalal –“Karena setiap tahun hidupmu adalah hidupku...”
Setetes air mata Jodha jatuh tanpa bisa ditahannya. Jodha terharu pada besarnya cinta Jalal untuknya.
Keluar dari toko sepatu, mereka melanjutkan acara jalan-jalannya. Berjalan berdampingan, tersenyum tanpa bicara, hanya saling melirik dan mencuri pandang. Tiba-tiba Jalal berhenti membuat Jodha juga menghentikan langkahnya.
Jodha –“Ada apa?”
Jalal –“Mana tanganmu?”
Jodha –“Untuk apa?”
Jalal –“Kau lupa menggenggam tanganku..”
Jalal menggenggam satu tangan Jodha dan melanjutkan langkahnya. Jodha hanya tersipu melihat tingkah jalan. Sekali lagi Jalal menghentikan langkahnya.
Jalal –“Masih kurang dekat..”
Jalal melingkarkan lengannya ke balik punggung Jodha dan menarik tubuh Jodha menempel padanya. Jodha terkejut tapi dia diam saja.
Jodha –“Ini kurang dekat..”
Jodha balas menggoda Jalal dengan melingkarkan lengannya ke pinggang Jalal, membuat senyum Jalal semakin lebar. Kemudian mereka meneruskan perjalanannya lagi.
Lagi-lagi Jalal berhenti...
Jodha –“Apa lagi?”
Jalal –“Sebentar..”
Jalal melepas jasnya dan menutupkannya ke kepala Jodha, hingga wajah Jodha tersembunyi di balik jasnya.
Jodha –“Tuan Jalal, apa yang kau lakukan? Aku tidak bisa melihat jalan..”
Jalal –“Tidak apa, aku akan menuntunmu. Aku hanya tidak rela kalau pria-pria disini memandangi istriku... Wajahmu itu hanya aku yang boleh memelototinya..”
Jodha –“Kau ini kekanakan sekali...”
Jalal tidak membalasnya, dia langsung menuntun Jodha yang wajahnya tertutup masuk ke dalam mobilnya. Kadang hal-hal yang terkesan kekanakan bisa mempermanis hubungan.
Kedua pasangan itu sedang berbaring berhadapan di tempat tidur Jodha. Mereka masih mengenakan baju yang mereka pakai tadi siang saat berjalan-jalan. Bahkan mereka tetap memakai alas kaki di atas tempat tidur. Tapi bukan alas kaki sembarangan. Jalal memakai sepatu hadiah dari Jodha, begitu juga Jodha memakai high heels hadiah dari Jalal tadi siang. Mereka menggerak-gerakkan kaki dan saling menyentuhkannya. Diselingi tawa kecil dari mulut mereka..
Jalal –“Jodha... malam ini kau tidur di kamarku ya?”
Jodha –“Tuan Jalal... aku masih butuh waktu..”
Jalal –“Kapan kau akan berhenti memanggilku Tuan? Kau bisa memanggil Jalal saja..”
Jodha –“Aku tidak bisa....”
Jalal –“Cobalah..”
Jodha –“Tidak mau..”
Jalal –“Kau tahu Jodha, kau gadis paling cantik yang pernah kukenal.. Saat pertama aku melihatmu, aku terpesona.. Tapi saat itu kau tidak menyadari kehadiranku.”
Jodha –“Benarkah? Tapi kau bukan pria paling tampan yang pernah menyukaiku...”
Jalal –“Tapi kau sudah jadi istriku, pria lain tak akan bisa memilikimu.... Bagaimana? Aku hanya ingin tidur bersamamu, saat bangun aku bisa langsung melihatmu, saat akan tidur, wajahmu yang terakhir kulihat.... Aku tidak akan menyentuhmu sampai kau ijinkan... Ya?”
Jodha –“Baiklah...”
Akhirnya Jodha luluh pada permohonan Jalal. Besarnya pengertian Jalal pada dirinya membuat hatinya tenang. Dia percaya sepenuhnya pada Jalal, karena itulah dia akan mulai memberanikan diri menjadi istri Jalal seutuhnya.. Malam ini adalah langkah pertamanya.......
Jodha membuka matanya saat wajahnya merasakan hangatnya matahari pagi. Matanya langsung bertatapan dengan mata Jalal. Senyuman Jalal menggambarkan kebahagiaannya bisa bangun di sebelah Jodha. Sembunyi-sembunyi Jodha melirik ke bawah tubuhnya, baju tidurnya masih lengkap. Begitupun Jalal masih mengenakan piyama tidurnya...
Jalal –“Tidurmu nyenyak?”
Jodha –“Ya...”
Jalal –“Apa kau masih takut?”
Jodha –“Sedikit...”
Jalal –“Nanti malam kita ulangi lagi ya...”
Jodha –“Ya... dan kau kuijinkan naik ke tahap kedua...”

**** THE END *****

Terima kasih banyak sudah mengapresiasi karya saya. Maaf jika ada yang tersinggung, sungguh semua itu tidak disengaja.


Just Love Part 16

11 comments:

  1. Makasiiih Mba atas cerita indahnya. Ditunggu yg lain lagi yaaaah.

    ReplyDelete
  2. Beneran ni mbak tyas dah end? Lanjut satu chapter lagi dong setidaknya kebahagiaan mereka setelah saling menerima satu sama lain dan rumah tangga mereka sampai punya baby

    ReplyDelete
  3. Mbak tyas gagal paham meletakkan kaki di dpn Dada maksudnya apa ya,yg di maksud tangan kali ya,epilog ya mbak Hhehhe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu, Bunda Fifi... Kakinya dilipat/ditekuk ke atas, jadi kan lututnya ada didepan dada....

      Delete
  4. ffnya berakhir maniz dan sangat mengesankan...tks mba

    ReplyDelete
  5. Iy mbak bikin 1 part lg sbg epilog nya...abiz ending nya nanggung banget...thx...

    ReplyDelete
  6. Iy mbak bikin 1 part lg sbg epilog nya...abiz ending nya nanggung banget...thx...

    ReplyDelete
  7. Dahsyat deh... Lanjut ya mbak..bener-bener nanggung

    ReplyDelete
  8. Dahsyat deh... Lanjut ya mbak..bener-bener nanggung

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.