Just Love Part 9 - ChusNiAnTi

Just Love Part 9




Jalal datang kembali ke cafe setelah pergi selama 10 menit saja. Di dapur dia celingukan mencari Jodha. Untunglah ada Amrita.
Amrita –“Tuan Jalal, anda masih disini?”
Jalal –“Iya, dimana Jodha?”
Amrita –“Dia masih ke kamar kecil. Apa kau mau menunggu?”
Jalal –“Akan kutunggu.”
Amrita –“Kalau begitu tunggulah di dalam sini..”
Amrita mengajak Jalal ke sebuah ruangan kecil yang berfungsi sebagai ruang kerja. Di dalam ruangan itu terdapat sebuah sofa, lemari besi, satu set meja kursi kerja. Mejanya terlihat cukup rapi meski di atasnya bertumpuk kertas dan struk-struk barang. Jalal memilih duduk di sofa, sedangkan Amrita menarik salah satu kursi di dekat meja kerja dan menempatkannya di dekat sofa.
Amrita – “Tuan Jalal, maaf aku tadi tidak mengenalimu. Aku juga belum punya kesempatan untuk mengucapkan selamat atas pernikahanmu dengan Jodha..”
Jalal –“Terima kasih. Apa kau sudah lama berteman dengan Jodha?”
Amrita –“Sejak Jodha jadi mahasiswa baru di Jerman. Kebetulan kami satu asrama.”
Jalal –“Apa Jodha tidak mengundangmu ke pernikahan kami?”
Amrita –“Jodha memberitahuku tentang pernikahannya. Tapi dia justru memintaku untuk tidak datang. Dan aku menghormati permintaannya.”
Hening beberapa saat, yang terdengar hanya suara-suara bising dari dapur. Mereka sama-sama kehabisan topik obrolan.  Jalal mengetuk-ngetukkan kakinya ke lantai, dan Amrita memilin-milin ujung blusnya, seperti hendak menanyakan sesuatu tapi takut mengutarakannya.
Amrita –“Emmmmh, Tuan Jalal, Jodha cerita tadi ada insiden kecil di luar..”
Jalal –“Iya, kenapa?”
Amrita –“Mungkin Jodha belum menceritakannya padamu, tapi sebagai temannya, aku sangat mengkhawatirkannya. Kejadian seperti tadi, bukan pertama kalinya dialami Jodha, aku juga ragu itu akan jadi yang terakhir. Sebelumnya dia pernah juga dijambak, diteriaki bahkan diancam disakiti. Orang-orang selalu salah paham akan kebaikan Jodha. Karena itulah, aku meminta bantuanmu, meski aku selalu percaya Jodha bisa melindungi dirinya sendiri, tapi tolong jagalah Jodha. Jangan biarkan hal buruk terjadi padanya.”
Jalal mengerutkan keningnya mendengar cerita itu.
Jalal –“Apa kau pernah melaporkannya pada polisi?”
Amrita –“Aku ingin, tapi Jodha melarangku. Dia justru merasa iba pada orang-orang yang ingin menyakitinya. Karena itulah dia menyimpan semua masalah untuk dirinya sendiri. Menurutnya, seandainya dilaporkan malah akan membuat masalahnya semakin besar.”
Jalal –“Apa Jodha dulu tidak punya pacar yang bisa melindunginya?...Maksudku aku belum pernah bertanya padanya tentang mantan-mantan kekasihnya..”
Jalal sengaja memancing pertanyaan ini, untuk membandingkannya dengan cerita Rarisa kemarin.
Amrita –“Jodha tidak punya mantan kekasih. Dia tidak pernah pacaran, tapi kalau pria yang naksir dia, banyak sekali....Maaf, kuharap ceritaku ini tidak mempengaruhi hubunganmu dengan Jodha..?!”
Jalal –“Tidak akan. Aku hanya ingin lebih mengenal istriku dari teman-temannya.”
Jalal memberikan alasan yang masuk akal dan Amrita percaya. Namun hati dan pikirannya tidak sejalan. Pikirannya mengatakan dia ingin mengenal Jodha semata agar dia bisa mengukur kelebihan dan kekurangan layaknya partner bisnisnya. Sedangkan hatinya berkata lain, Jalal ingin lebih mengenal Jodha secara pribadi, karena semakin hari banyak hal baru yang diketahuinya tentang Jodha , semakin tampak istimewa Jodha di matanya.
Amrita –“Yang aku tahu, pria yang paling dekat dengan Jodha adalah Kak Nitesh, tapi Jodha sudah menganggapnya sebagai kakak.”
Jalal –“Kalau dengan Shahabuddin?”
Amrita –“Dokter Shahabuddin..?”
Jalal mengangguk. Inilah informasi yang ditunggu Jalal. Tapi sebelum Amrita sempat menjawabnya, pintu ruangan itu terbuka. Jodha masuk sambil menempelkan sekantung makanan beku di pipinya. Dia belum menyadari kehadiran Jalal di ruangan itu. Baru saat Jalal berdiri, Jodha melihatnya...
Jodha –“Tuan Jalal, Kau sudah datang..?”
Jalal –“Iya, bagaimana sakitnya?”
Jodha –“Sudah mendingan..”
Jalal –“Pakailah ini. Krim ini untuk meredakan memar dan bengkak. Aku biasa memakainya...”
Jalal mengangsurkan sebuah krim pada Jodha dan langsung menerimanya sambil mengucapkan terima kasih dengan suara pelan. Amrita cukup tahu diri, karena tidak ingin mengganggu mereka berdua, tanpa bersuara dia meninggalkan ruangan itu.
Jalal –“Sini kuoleskan..”
Jodha –“Aku bisa memakainya sendiri.”
Sebelum Jodha selesai bicara, Jalal sudah mengambil lagi krim di tangan Jodha. Selembut mungkin Jalal mengoleskan krim di pipi Jodha yang memerah dengan gerakan melingkar. Dari jarak sedekat itu, Jalal bisa menghirup aroma citrus segar yang menguar dari tubuh Jodha. Meski sudah hampir seharian Jodha berkutat di dapur, tapi keharumannya masih melekat. Tanpa banyak protes, Jodha membiarkan Jalal mengobatinya. Jalal pun semakin leluasa memperhatikan sudut-sudut wajahnya. Matanya yang bulat dengan bola mata gelap, seakan seseorang bisa tenggelam karena kedalaman mata itu. Bulu matanya lentik dan panjang. Hidungnya yang mungil dan berujung lancip terlihat anggun di wajahnya. Bibirnya adalah bentuk bibir yang paling sempurna menurutnya. Pantas saja banyak pria yang terhipnotis kecantikannya. Sebenarnya Jalal sudah bisa melihat kecantikannya sejak awal bertemu, tapi karena persepsinya yang salah telah membutakan semuanya.
Jodha bukannya tidak bereaksi apa-apa atas sentuhan itu. Jantungnya berdetak sangat kencang. Rongga dadanya terasa penuh. Untunglah tubuhnya tidak bergetar. Ini pertama kalinya dia mengijinkan seorang pria berada sangat dekat seperti ini. Kenapa Jalal? Mungkin karena Jalal adalah suaminya. Bahkan Jodha harus bersusah payah menelan ludah yang terasa menggumpal di tenggorokannya. Cepat-cepat Jodha memutus sentuhan itu.
Jodha –“Sudah?”
Jalal –“Sudah, dengan krim ini memarmu tidak akan membekas. Sekarang aku antar kau pulang.”
Jodha –“Aku bisa pulang sendiri. Motorku...”
Jalal –“Motormu tidak akan kemana-mana meski kau meninggalkannya disini. Demi keamananmu, kau pulang denganku. Besok aku akan mengantarmu berangkat...”
Jodha –“Kau peduli pada keamananku?”
Jalal tidak menjawab, hanya memandang Jodha. Tapi dari tatapannya seakan dia mengatakan –‘Apa kau masih perlu bertanya? Apa kita akan berdebat?’— Akhirnya Jodha menurut tanpa protes lagi.
Di dalam mobil, keduanya diam, tidak ada yang berniat memecahkan keheningan. Beberapa kali Jalal melirik ke arah Jodha, tapi gadis yang diliriknya hanya menatap lurus ke depan.
Jodha –“Terima kasih.”
Jalal –“Ha..? Untuk apa?”
Jodha –“Untuk krimnya.”
Jalal –“Ooo, bukan masalah.”
Jodha –“Kau tadi pergi hanya untuk membeli krim ini?”
Jalal –“Menurutmu?”
Jodha –“Kau bilang kau sering memakai krim ini, apa kau sering berkelahi?”
Jalal –“Pria harus sering bertarung untuk menunjukkan kekuatannya.”
Jodha –“Kekuatan tidak selalu ditunjukkan dengan adu fisik. Apa orang tuamu tidak khawatir kalau kau sering berkelahi?”
Jalal –“Mereka tidak ada yang peduli. Mereka sibuk sendiri-sendiri. Ibuku hanya sibuk meratapi penderitaannya karena pengkhianatan ayahku, sedangkan ayahku juga sibuk memanjakan wanita-wanita simpanannya.”
Jodha –“Kau pasti kesepian.”
Jalal –“Aku tidak sempat berpikir kalau aku kesepian. Karena aku juga sibuk bekerja untuk bertahan hidup. Ayahku mewariskan perusahaan yang bangkrut. Aku harus berjuang sendirian untuk membangunnya lagi. Hanya adikku satu-satunya alasan aku bertahan.”
Jodha tertegun, dia tidak pernah tahu masa lalu Jalal. Tapi sadarkah Jalal kalau dia sudah membeberkan bagian hidup yang sangat pribadi pada Jodha? Sepertinya tidak, dan Jodha cukup tahu diri untuk tidak berkomentar apa-apa. Perasaan Jodha sedikit melembut –‘Tuan Jalal telah menjalani hidup yang sangat keras. Mungkin itulah kenapa dia memandang kehidupan dengan penuh kepahitan. Dia sulit mempercayai orang lain. Pengalaman hidupnya menjadikan dia orang yang tangguh tapi juga keras.—‘
Jalal terdiam, dia baru sadar kalau dia sudah menceritakan masa lalu dalam hidupnya. Hal yang belum pernah dilakukannya pada siapapun. Entah kenapa kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Apa itu semua karena pengaruh gadis di sampingnya? Apa yang sudah dilakukan Jodha hingga dia merasa senyaman itu bercerita? –‘Ini memalukan.’—teriaknya dalam hati.
Jodha cukup mengerti jika Jalal kembali menutup diri, terlihat dari sikap diamnya yang tiba-tiba. Untuk membuat suasana kembali normal, Jodha mencoba mengalihkan obrolan.
Jodha –“Aku penasaran, bagaimana kau tahu aku ada di cafe?”
Jalal –“Oh itu...ehm...itu karena...kebetulan aku melihatmu masuk kesana saat aku berangkat tadi pagi.”
Jodha –“Bukankah jalan ke kantormu ada di arah berlawanan?”
Jalal –“A..itu...karena...aku harus mampir dulu ke suatu tempat.”
Jodha –“Lalu kenapa kau datang dengan marah-marah?? Amrita yang cerita. Rasanya tadi pagi aku tidak melakukan sesuatu yang salah.”
Jalal –“Emm...itu...karena..”
Jodha –“Tuan Jalal, apa yang membuatmu marah?”
Jalal –“Itu...ah, kita sudah sampai..”
Dalam hati Jalal bersyukur -- ‘Fiuhhh..untunglah aku bisa mengelak. Apa yang akan kujawab? Benar-benar memalukan kalau dia tahu aku marah untuk alasan yang tidak jelas...’
Jalal menurunkan Jodha di lobi apartemen, sedangkan dia melanjutkan perjalanan ke kantornya.Di kantor, Jalal tidak bisa konsentrasi. Berulang-ulang pikirannya memutar kembali apa yang terjadi tadi siang. Pikirannya mulai terbuka, dia bisa memandang Jodha sebagai gadis yang berbeda dari anggapannya semula. Secara tidak langsung, Jodha telah mengajarinya memandang suatu masalah dari sudut yang berbeda, bahwa apa yang terlihat belum tentu yang paling benar. Satu penyesalannya, dia gagal mengorek informasi tentang hubungan Jodha dan Shahabuddin. Adakah kemungkinan apa yang terjadi pada Bhaksi dan Shahabuddin sama dengan yang terjadi pada Tuan Virindra dan Devika? Mungkinkah Bhaksi terlalu cepat menarik kesimpulan tentang hubungan Jodha dan Shahabuddin?
Jalal bangun pagi keesokan harinya dengan perasaan yang lebih riang. Saat pertama kali dia membuka mata, hal yang pertama diingatnya adalah mengantar Jodha ke tempat kerjanya. Bergegas dia masuk kamar mandi. Biasanya Jodha berangkat pukul 8, karena itulah dia harus siap tepat waktu. Saat dia menuju meja makan, dia belum melihat Jodha, hanya ada Bibi Mehta.
Jalal –“Bibi, Jodha belum bangun?”
Bibi Mehta –“Sudah, Tuan. Tapi dia belum kembali dari jogging.”
Jalal –“Oh..tolong buatkan sarapan untukku yang seperti kemarin.”
Bibi Mehta –“Maaf Tuan, saya tidak bisa. Sarapan kemarin yang memasak Nyonya Jodha.”
Jalal –“APA?...Lalu yang sebelumnya?”
Bibi Mehta –“Setiap pagi yang memasak adalah Nyonya Jodha.”
Jalal –“Astaga..”
Terdengar pintu depan dibuka. Jodha masuk dan mengangguk memberi salam pada Bibi Meeta dan Jalal, lalu masuk ke kamarnya. Jalal menunggu di meja makan dengan secangkir kopi di hadapannya. Kira-kira 15 menit kemudian, Jodha keluar dan menuju dapur.
Bibi Meeta –“Jodha, Tuan Jalal ingin menu sarapan seperti kemarin.”
Jodha –“Sungguh?... Tunggu sebentar..”
Jalal tidak berani menatap Jodha, dia benar-benar tidak punya muka. Dia sudah menikmati masakan Jodha padahal saat itu dia masih bersikap dingin padanya. Dia menikmatinya tapi dia memusuhi orangnya, seperti pria yang tidak punya sikap saja. Tapi matanya mulai memperhatikan Jodha yang memasak dengan cekatan. Pandangannya lama kelamaan tak beralih. Dia suka sekali pemandangan pagi hari ini.
Bibi Meeta –“Tuan Jalal, selamat ulang tahun.... Apakah nanti malam anda merayakannya di luar atau di sini?”
Jodha yang sedang sibuk memasak, mengangkat wajahnya mendengar ucapan Bibi Meeta, keheranannya hanya disuarakan dalam hatinya –‘Tuan Jalal ulang tahun hari ini? Aku sama sekali tidak tahu, tapi aku sendiri juga tidak pernah bertanya.’—
Jalal –“Aku tidak tahu. Aku belum merencanakan apa-apa.”
Masakan telah terhidang di atas piring di depan Jalal. Jalal sangat menikmatinya. Sambil makan, sesekali dia melirik ke arah Jodha. Ingin sekali dia mengucapkan terima kasih atau sekedar memuji kelezatan masakannya, tapi gengsinya mengalahkan semuanya. Sampai mereka selesai makan pun, mereka tetap saling diam.
Di dalam mobil, belum ada yang bicara, tapi Jalal berkali-kali menoleh ke samping seakan dia ingin mengatakan sesuatu tapi masih menahannya. Melihat wajah Jodha yang datar membuatnya mengurungkan niatnya berulang kali, sepertinya Jodha sedang memikirkan sesuatu yang cukup penting.
Jalal –“Bagaimana sakitnya?”
Jodha –“Sudah tidak terasa.”
Jalal –“Masakanmu enak. Aku tidak tahu kalau selama ini kau yang memasak, aku pikir itu masakan Bibi Meeta. Terima kasih untuk masakannya.”
Jodha –“Mmmm..”
Jalal –“Kau belajar memasak dari siapa? Ibumu?”
Jodha –“Bukan.”
Jalal –“Jadi, apalagi yang kau bisa? Kau bisa menangkap ular, punya kemampuan bela diri, kau juga pintar memasak..Apalagi yang belum aku tahu?”
Jodha –“Tidak ada.”
Jalal –“Kau sedang memikirkan apa? Apa kau takut pria kemarin datang lagi mengganggumu?”
Jodha –“Tidak.”
Jalal –“Apa perlu kusewakan bodyguard untuk menjagamu?”
Jodha –“Terlalu berlebihan.”
Jalal –“Atau sebaiknya kita lapor polisi? Meminta perintah menjaga jarak untuk pria itu?”
Jodha –“Tidak..., Tuan Jalal, kau ini bisa cerewet juga ya?”
Jalal –“A...”
Skakmat. Belum pernah sekalipun dalam hidupnya ada orang yang menganggapnya cerewet. Apalagi seorang wanita. Hanya saja wanita ini bukan wanita yang sedang merayunya. Wanita ini sudah menjadi istrinya, tapi hubungan mereka baru saja membaik. Tapi dia sudah menyebutnya cerewet. Apa Jalal tersinggung? Tidak, tapi dia bergumam dalam hatinya –‘Sial, dia benar!. Tadi memang aku yang banyak bicara. Jadi begini rasanya kalau ada orang yang mengataimu cerewet. Sebelumnya aku yang biasa mengatakannya pada wanita-wanita yang merayuku, sekarang Tuhan membalasku.’— Jalal mengira Jodha marah, tapi sayup-sayup dia mendengar suara terkikik yang tertahan dari sebelahnya. Rupanya Jodha sekuat tenaga menahan tawanya, tapi tidak bisa. Tawanya terlepas dan menular pada Jalal. Mereka tertawa bersama.
Jodha –“Maafkan aku, Tuan Jalal, aku tadi kelepasan.”
Jalal –“Tidak apa, aku memang terlalu banyak bicara.”
Jodha –“Senang mendengar kau bisa bicara banyak hal dan mendengarmu tertawa. Kau teman mengobrol yang menyenangkan. Dan terima kasih karena mengkhawatirkanku. Tapi aku bisa menjaga diriku sendiri.”
Jodha tersenyum dan dibalas oleh Jalal.
Jodha –“Tuan Jalal, sudah sampai, terima kasih sudah mengantarku.”
Jalal –“Jodha...ah, tidak apa-apa. Berhati-hatilah.”
Jodha turun dari mobil, menganggukkan kepala pada Jalal dan masuk ke dalam cafe.Meski Jodha sudah tidak terlihat, tapi Jalal masih belum beranjak dari sana, masih duduk diam di dalam mobilnya. –‘Cepat sekali sudah sampai , sebenarnya aku masih ingin mengobrol ...Aah, kenapa aku jadi seperti ini?!..Lalu alasan apalagi yang bisa kupakai hanya untuk bisa ngobrol lagi dengannya...Ah, aku tahu, makan siang...aku akan kembali kesini saat makan siang..’—Dengan senyum puas di wajahnya, Jalal menyalakan mobilnya dan pergi menuju kantornya.
Tepat saat makan siang, Jalal masuk ke dalam Sisterhood cafe, tapi ternyata Jodha tidak ada. Amrita yang menemuinya memberitahu kalau Jodha keluar sejak satu jam sebelum Jalal datang. Raut kekecewaan tampak di wajahnya, tapi dia tidak berkomentar apa-apa. Dia langsung pergi dan kembali ke kantor.
Malam harinya, Jalal pulang larut. Ruangan dalam apartemennya sudah gelap, Bibi Meeta dan Jodha pasti sudah tidur. Sebenarnya hari ini teman-temannya mengajaknya untuk berpesta merayakan ulang tahunnya, tapi dia menolaknya. Alasannya sederhana tapi dia tidak mengatakan yang sejujurnya pada teman-temannya. Sebenarnya dia ingin merayakan ulang tahunnya bersama seseorang, tapi dia terlalu gengsi dan harga dirinya terlalu tinggi untuk sekedar mengundangnya sekalipun. Hasilnya dia berakhir di malam yang sepi, tanpa ada pesta seperti tahun-tahun sebelumnya.
Saat akan membuka pintu kamarnya, kaki Jalal tersandung sebuah kotak yang tergeletak di lantai tepat di depan pintu kamarnya. Diambilnya kotak itu dan dibawanya masuk ke dalam kamar. Kotaknya berwarna biru, tapi Jalal tidak menemukan petunjuk siapa pengirimnya. Penasaran, Jalal membuka penutupnya dan isinya membuatnya tersenyum.
Sepatu. Isinya adalah sepatu pria berwarna coklat gelap dan modelnya sangat sesuai dengan seleranya. Bahkan saat dia mencobanya, ukurannya pas.–‘Siapa pengirimnya?..... Bagaimana dia tahu ukuran kakiku?... Kenapa hadiahnya sepatu?...’—

*******************


Just Love Part 9

6 comments:

  1. Huaaaaahhhhhhh...
    Next please..please..please..
    Suka *skakmat

    ReplyDelete
  2. LaNjuuutttt....Wah MakiN baik Nee hbuNgaN jalal daN jodha... pastii Jodha dech yaNg Ngasii hadiah tooo.....

    ReplyDelete
  3. Yee, akhirnya Jalal tau juga kalau selama ini sarapan yang disiapkan sama bibi meta itu Jodha yang masak. Suka bangeet ma cerita ini.... Lanjut mbak Tyas

    ReplyDelete
  4. Wah sudah mulai merasakan cinta ya bang?
    Selalu ditunggu kelanjutannya chusni

    ReplyDelete
  5. ; Jalal sdh mulai msbuk cints lnjt mbak

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.