One Shot - Five To Six - ChusNiAnTi

One Shot - Five To Six


Title : Five To Six
Type : One Shot
Setting : Modern
Name of Author: Tyas Herawati Wardani


Jumat, 19 September 2014, Jam 5.10 sore, Halte bis
Aku pulang awal hari ini, karena ada acara penyambutan CEO baru di kantor. Acaranya khusus untuk penyelia dan manager, bukan untuk staf umum seperti aku. Jadilah aku disini, menunggu bis yang baru akan lewat 1 jam lagi. Menunggu dalam hujan.... benar-benar weekend ideal.
“Hujan panas... berarti ada singa yang sedang kawin..”
“Bukan, hujan panas artinya ada beruang yang melahirkan.”
Aku langsung menoleh, kupikir seseorang yang kukenal, ternyata bukan. Aku tidak merasa mengenal pria ini... mungkin dia pria hidung belang... Kubuang saja mukaku, tidak perlu meladeni orang iseng,.. huh... apa dia pikir aku mudah digoda.... Dia tidak bicara lagi, kupikir dia sudah pergi ternyata belum. Aku menoleh sedikit, cukup untuk bisa mengamati penampilannya. Setelan jas dan kemeja yang kancing atasnya sudah dibuka, tanpa dasi, menandakan dia sudah menjalani harinya dengan sangat melelahkan. Dia tidak terlalu tampan, tapi jantan. Rambutnya acak-acakan tapi sesuai dengan kontur wajahnya yang agak keras. Wajah khas keturunan India, sama sepertiku. Perpaduan yang berbahaya untuk gadis-gadis sepertiku yang belum punya pacar.
Mendadak ada sebuah mobil menepi dan berhenti tepat di depannya. Kemudian dia naik. Huff... lega, aku aman... Kupikir dia sama-sama menunggu bis, ternyata menunggu dijemput.

Senin, 22 September 2014, Jam 5.30 sore, Halte bis
Aaah... hujan lagi. Selama 2 tahun aku bekerja di Birmingham, cuaca disini lebih sering hujan. Aku merindukan India yang panas dan.... keluargaku. Sore ini yang menunggu bis lebih banyak, aku bahkan harus berdiri.
“Nona, jam tanganmu jatuh..”
Ada yang mencolek pundakku.Aku langsung menoleh ke belakang. Dia si pria hari Jumat, aku masih ingat wajahnya. Jarinya menunjuk ke bawah kakiku. Aku yakin tampangku seperti orang bodoh saat itu. Saat dia menunjuk kedua kalinya baru aku melihat ke bawah. Jam tanganku. Karena mengenakan rok yang cukup ketat, aku berhati-hati saat berjongkok untuk mengambilnya. Lalu.... Splaaasssshh...
Ada mobil lewat dekat tempatku, mengenai genangan, dan airnya menyembur membasahi bajuku  bagian belakang...  Aarrggghhhh... sial...
“Kau tidak apa-apa?”
Tidak apa-apa tapi bajuku basah...”
Dia melepas jasnya, kupikir dia mau melakukan apa, ternyata jas itu disampirkannya menutupi punggungku.
“Eit, tunggu dulu.... tidak perlu...”
“Pakai saja, kau bisa sakit karena bajumu basah..”
Dia melangkah akan pergi dengan mobil yang kemarin menjemputnya. Aku berteriak memanggilnya...
“Hei, bagaimana aku mengembalikannya?”
“Besok, kita ketemu lagi..”
Hanya begitu saja. Dia langsung pergi bersama mobilnya.

Selasa, 23 September 2014, Jam 5.45 sore, Halte bis
Aku membawa jas milik pria itu, kulipat rapi di dalam kantong besar. Karena dia bilang akan bertemu lagi hari ini, jadi aku akan mengembalikannya. Ah itu dia datang...
“Ini jasmu... terima kasih.”
“Kau tidak perlu mengembalikannya.. Apa bisnya masih lama?”
“Tidak, 15 menit lagi...”
“Aku belum tahu namamu..”
“Aku juga tidak tahu namamu..”
“Namaku Max.”
“Namaku Jodha.”
Genggaman tangannya hangat sekali.
“Jodha ya... berarti kita sama-sama orang India. Kau sudah lama disini? Aku baru seminggu bekerja di kota ini.”
“Aku sudah 2 tahun bekerja disini.... Ah, itu bisnya sudah datang.. Aku pergi dulu..”
“Tunggu, aku ikut..”
Bukannya dia dijemput mobil?... Ah, apa peduliku!
“Maaf Tuan, anda belum membayar ongkosnya...”
“Tapi aku tidak bawa uang receh, hanya ada credit card..”
“Tidak bayar berarti tidak naik..”
Ternyata si Max ini tidak bawa uang. Terpaksa aku yang membayar ongkosnya, anggaplah aku membayar hutang budiku setelah dia meminjamkan jasnya. Memang benar apa kata orang, jangan menilai seseorang dari penampilan luarnya. Gaya Max boleh rapi, tapi uang untuk ongkos bis saja, dia tidak punya...

Rabu, 24 September 2014, Jam 5.55 sore, Halte bis
“Copet.... copet... copet...!”
Seorang wanita berteriak sambil menunjuk ke arah pencopetnya lari membawa tasnya. Seandainya aku punya sifat masa bodoh, tapi sayangnya aku tidak punya.... Langsung saja aku lari mengejar pencopet itu.... Secepat apapun aku lari, ternyata Max bisa menyalipku... Dia berlari jauh di depanku hingga bisa memukul jatuh pencopetnya.... Syukurlah.... Aku sendiri sudah kehabisan napas...
Ya Tuhan, bisnya! Aku langsung berbalik ke halte dan naik bis yang sudah kutunggu dari tadi. Dari jendela bis, aku mengacungkan dua ibu jariku pada Max di luar yang sudah menyelamatkan tas wanita itu dari si pencopet.

Kamis, 25 September 2014, jam 5.50 sore, Halte bis
Sepuluh menit lagi bisnya tiba. Ada Max di sebelahku.. Kenapa ya aku merasa dia memperhatikanku terus? Apa aku terlalu besar kepala? Dia memang tidak bicara, tapi beberapa kali aku memergokinya sedang menatapku... Seandainya dia punya niat buruk, dia tidak akan berani melakukannya disini, terlalu banyak orang.... Jadi aku tenang-tenang saja...
Saat mataku kembali melihat ke arah depan, aku melihat di seberang jalan ada seorang nenek  yang kesulitan menyeberang.... Bagaimana ini? Bisnya akan datang lima menit lagi.... Ah, aku akan bermimpi buruk kalau tidak menolongnya...
Aku menyeberang ke arah nenek itu. Pelan-pelan kutuntun dia menyeberangi jalan...
Bisnya sudah mendekat! ..... Kuharap bisnya mau menungguku.... Tidak... tidak... bisnya sudah akan berjalan pergi.... Begitu aku berhasil menyeberangkan nenek itu, aku bergegas mengejar bisnya... Masih sempat....
“Ayo cepat naik!”
Max yang sudah di dalam bis, mengulurkan tangannya ke arahku yang masih berlari. Begitu aku berhasil meraih tangannya, dia langsung menarikku masuk... Untung saja aku memakai celana hari ini.... Syukurlah aku masih sempat naik bis, jadi aku tidak harus naik taksi untuk pulang..
“Max.. kenapa kau ikut naik bis? Bukannya tiap hari ada yang menjemputmu?”
“Aku ingin naik bis hari ini... Lagipula aku sudah terlanjur naik karena membantumu tadi.”
Kami duduk bersebelahan, tapi kami tidak banyak bicara. Aku juga tidak tahu rumahnya di daerah mana, karena saat aku turun, dia belum turun...

Jumat, 26 September 2014, jam 5.05 sore, Halte bis
Semua pasti menikmati weekend, kecuali aku. Teman-temanku juga mengolok-olokku karena aku tidak pernah ikut bersenang-senang bersama mereka. Menurutku, rasanya tidak pantas aku bersenang-senang disini sementara keluargaku di India selalu mencemaskan aku karena berada jauh dari mereka.
Kulihat Max berjalan ke arahku...
“Max..... mobil yang menjemputmu belum datang?”
“Belum... kau sudah lama disini?”
“Tidak, aku baru sampai..”
“Jodha... ini kan weekend, apa kau juga langsung pulang?”
“Iya... aku tidak pernah kemana-mana meski weekend panjang sekalipun. Daripada berlibur disini, aku lebih memilih pulang ke keluargaku di India.”
“Apa kau tidak keluar dengan pacarmu?”
“Aku belum punya pacar..”
Dia tersenyum... Apa dia tersenyum karena jawabanku atau hal yang lain? Memangnya dia punya perasaan padaku? Jodha, sadarlah, waktunya kembali ke dunia nyata. Tidak ada pria yang menyukai gadis sepertimu. Yang lebih suka mengurung diri di dalam kamar daripada keluar bersenang-senang....
Selama kurang dari 1 jam, entah kami mengobrol apa saja, aku bahkan sudah lupa. Aku begitu terpesona dengan dirinya. Dilihat dari jauh saja, dia sudah cukup menawan, apalagi dari jarak sedekat ini. Yang kumaksud dekat adalah kami duduk bersebelahan di halte, dan celah antara kami hanya selebar setengah meter.
Tubuhnya masih harum, membuatku tidak percaya diri berada di dekatnya. Siapapun gadis yang jadi pacarnya pasti sangat beruntung. Seandainya saja aku punya pacar sejantan ini. Dia akan kulipat dan kumasukkan ke dalam dompetku, agar tidak ada gadis lain yang meliriknya.
Namun ada beberapa hal yang masih kuingat dari obrolan kami, yaitu ternyata dia bekerja di kantor yang sama denganku, tapi berbeda divisi. Pantas saja aku tidak pernah berpapasan dengannya. Aku juga tahu kalau dia anak tunggal. Dia mengaku belum punya pacar, tapi kurasa tidak mungkin juga aku punya kesempatan jadi pacarnya. Pria-pria seperti dia pasti mencari gadis cantik bertubuh seksi dan punya pergaulan high class.

Senin, 29 September 2014, jam 5.41 sore, Halte bis
Saat aku dan Max sedang mengobrol, tidak sengaja aku melihat salah satu jarinya berdarah. Untunglah aku selalu membawa band aid. Kututup lukanya dengan band aid dariku. Ada hal aneh yang terjadi... saat aku memegang tangannya untuk mengobati lukanya, kenapa rasanya ada yang menggelitiki perut dan ujung kakiku ya?

Rabu, 1 Oktober 2014, jam 5.24 sore, Halte bis
Semakin sering aku bersama Max, kenapa perasaanku jadi berantakan seperti ini ya?... Kadang saat mata kami berpandangan, jantungku berdegup sangat kencang..... Lalu di saat lain, tangan kami tidak sengaja bersentuhan, aku langsung salah tingkah.... Atau ada kalanya, dia tersenyum sangat manis padaku, pasti aku langsung gugup.... Apa aku menderita penyakit yang tidak kuketahui?

Rabu, 29 Oktober 2014, jam 6.01 sore, di dalam bis
Aku sudah duduk manis di dalam bis. Dan aku masih sedikit kecewa karena Max tidak ada tadi. Selama ini aku sudah terbiasa ditemani olehnya selama menunggu di halte, dan hari ini dia tidak datang. Apa dia sakit? Atau dia sangat sibuk? Atau dia pulang dari arah lain? Stop, memangnya aku punya hak mengkhawatirkannya?!
Gubrak... Oouucchhh.. Bisnya mengerem mendadak, mungkin ada penumpang yang ingin naik. Tapi dahiku sudah jadi korban karena membentur tempat duduk di depanku.
“Jodha...!”
Ada yang memanggilku, tapi siapa?
“Max..?”
Ternyata gara-gara Max, bisnya sampai berhenti mendadak. Mau apa dia? Kenapa memanggilku di tengah-tengah semua penumpang bis ini?
“Jodha, aku ingin jadi pacarmu... Boleh kan?!”
Aku tidak bisa segera menjawabnya karena kesadaranku belum pulih. Apa ini mimpi? Atau gurauan? Atau aku terlalu banyak membaca novel, jadi sampai terbawa ke dunia nyata? Aku bingung.....
“Jodha, aku menyukaimu. Boleh kan aku menjadi pacarmu?”
Bahkan Max sampai mengatakannya dua kali karena aku tidak memberikan reaksi apa-apa.
“Boleh..”
Akhirnya aku bisa menjawabnya.... Lalu masalahnya sekarang, sikapku harus bagaimana pada Max? Apa aku harus tersenyum malu-malu? Atau tersenyum lebar? Atau tersenyum kecil saja?.... Seandainya saja dianggap sopan, aku ingin berlari padanya dan memeluknya. Tapi aku malu, karena semua mata memandangku saat ini... Dan saat aku menjawabnya, mereka serempak bersorak.

Jumat, 31 Oktober 2014, jam 5.24 sore, Halte bis
Aku duduk di sebelah Max di halte. Tiba-tiba Max memegang perutnya dan meringis kesakitan.
“Kenapa?”
“Perutku sakit..”
“Kau makan apa tadi siang?”
“Itulah masalahnya, aku tidak makan siang...”
“Kenapa kau tidak makan? Apa kau tidak membawa uang lagi? Seharusnya kau menelponku, aku akan membagi makan siangku denganmu..”
Ya Tuhan, aku sudah seperti istrinya saja padahal aku baru jadi pacarnya, mengomelinya gara-gara telat makan. Aku membayangkan seandainya aku jadi istrinya, aku akan membuatkan bekal untuknya tiap hari. Jadi kukeluarkan kotak bekalku, di dalamnya masih ada setengah porsi makan siang yang tidak sempat kuhabiskan. Kusuruh Max menghabiskannya, dan dia bilang masakanku enak.
Waah senangnya dia memujiku. Kalau dia sudah cocok dengan masakanku, berarti hubungan kami memang serasi.

Selasa, 4 November 2014, jam 1.30 siang, Kantor
Penyeliaku memanggilku datang ke ruangannya. Kubawa semua laporan yang dia minta. Aku yakin aku sudah mengerjakan semuanya dengan benar, tapi kenapa wajahnya datar sekali?
“Bawa semua laporan ini ke ruangan CEO..”
“Ruangan CEO lantai berapa , Tuan Smith?”
“Lantai 7.. Kau ditunggu sekarang!”
Bodoh Jodha, berapa lama kau bekerja disini, ruangan CEO saja kau tidak tahu. Mana bisa aku tahu, aku tidak pernah berhubungan langsung dengan CEO. Baiklah, rapikan bajumu, perbaiki dandananmu, dan jangan lupa pasang senyum terbaikmu. Ingat! Dia yang menggajimu..
Baru kali ini aku masuk ke lantai 7. Disini benar-benar tenang, tidak ada hiruk pikuk seperti di lantai 1 tempatku bekerja. Disini tidak ada sekat-sekat antar meja staf, tidak ada lalu lalang orang, dan aromanya segar seperti di hutan pinus. Pantas saja, lantai 7 adalah lantai khusus petinggi perusahaan.
Tidak sulit mencari ruangan CEO, karena resepsionisnya langsung memanduku saat aku mengatakan siapa namaku dan laporanku sudah ditunggu CEO di ruangannya. Melewati pintu kaca, aku diterima sekretarisnya yang langsung mempersilakanku masuk ke dalam. Coba tebak, siapa yang kulihat di dalam ruangan itu.
“Max, sedang apa kau disini? Apa CEO juga memanggilmu?”
“Tidak...”
“Berarti kita sama-sama menunggunya.... padahal tadi sekretarisnya bilang dia sudah di dalam..”
“Benar, aku sudah menunggumu. Akulah Jalaluddin...”
“Jalaluddin? Rasanya aku pernah mendengar nama itu...”
“Aku CEO perusahaan ini..”
“APA!!!”
Rahangku rasanya mau lepas, karena menganga begitu lebarnya. Apa dia bercanda?
“Nama asliku Jalaluddin Akbar..”
Ya Tuhan, permainan apa ini?! Kenapa dia selama ini mengaku bernama Max? Max yang tidak mampu membayar ongkos bis, yang kelaparan karena belum makan siang, yang berhujan-hujanan di halte. Ternyata dia kaya raya... Dia bahkan bisa punya bis sendiri kalau dia mau...
“Berarti Selamat Siang Tuan Jalaluddin Akbar. Maaf aku bersikap tidak sopan padamu.”
“Jangan bersikap resmi seperti itu. Panggil saja aku Jalal. Aku dan Max orang yang sama. Kau tidak perlu merubah sikapmu padaku. Aku suka sekali dengan Jodha yang apa adanya.”
“Tapi kita tidak bisa seperti itu Tuan Jalal. Kau dan Max jauh berbeda. Kau CEO, sedangkan Max adalah temanku menunggu bis.”
“Max itu juga aku... Untuk itulah aku mengundangmu kesini. Aku ingin kau mengenal siapa diriku yang sebenarnya. Aku tidak ingin berbohong lagi..”
“Berbohong ya... jadi apa keuntunganmu membohongiku?”
“Sebenarnya aku ingin mencari seorang gadis yang mau menerimaku apa adanya. Jika aku mengenalkan diriku sebagai Jalal, aku tidak tahu gadis itu menyukai diriku atau hartaku. Karena itu, aku pura-pura bernama Max dan akhirnya aku bisa tahu kalau kau gadis yang aku inginkan..”
“Jadi kau sedang mengujiku? Mengaudisiku? Dan memutuskan bahwa aku adalah gadis yang kau inginkan... Untuk apa kau menginginkanku?”
“Untuk menjadi istriku.”
“Seandainya yang lolos ujianmu adalah gadis lain, maka gadis itu yang akan menjadi istrimu?”
“Apa maksud pertanyaanmu?”
Dasar dunia sudah gila, yang gila bukan dunia, tapi Tuan Jalal ini yang sudah gila. Kemana perginya cinta pada pandangan pertama, cinta buta, ataupun cinta lokasi. Sekarang mencari istri pilihan pun harus lolos ujian.
“Tuan Jalal yang terhormat, aku tersanjung menjadi gadis pilihanmu. Tapi aku tidak suka jadi Cinderella. Aku gadis biasa dan kau pangeran tampan yang kaya. Hubungan seperti itu tidak pernah ada. Aku tidak mau menjadi istrimu. Kau audisi saja gadis yang lain. Biarkan aku mengundurkan diri..”
“Jodha, bukan begitu. Awalnya aku memang ingin tahu bagaimana kepribadianmu. Tapi perasaanku tulus... aku mencintaimu... Bersamamu aku bisa menjadi diriku sendiri, aku tidak pernah berpura-pura saat bersamamu. Aku juga bisa merasakan kalau kau juga menyukaiku dan kumohon jangan menyangkalnya. Aku minta maaf karena aku mengawalinya dengan salah, tapi apa yang kita berdua rasakan bisa berlanjut dengan baik. Aku akan mencintaimu selama hidupku, aku janji.”
“Tapi ini tidak adil. Kau tahu semua tentang diriku. Tapi aku tidak tahu apa-apa tentangmu. Tidakkah aku juga pantas mengujimu?”
“Kau boleh bertanya apa saja, aku akan menjawab semuanya. Tapi tetaplah bersamaku.”
“Tidak. Aku menolakmu. Kau juga boleh memecatku.... Permisi.”
Itu adalah pertemuan terakhirku dengan Max. Ah salah, mulai sekarang aku harus terbiasa memanggilnya Jalal. Sejak hari itu aku tidak pernah berpapasan dengannya padahal kantor kami sama. Dia juga tidak mungkin menunggu bis lagi, dia pasti punya sopir dan mobil pribadi. Tapi anehnya, dia tidak memecatku karena kupikir dia akan marah dan mendepakku keluar dari perusahaannya.

Jumat, 7 November 2014, jam 5.45, Halte bis
Aku hampir ketinggalan bis, gara-gara Tuan Smith terlalu lama memeriksa laporanku. Untung bisnya belum datang. Aku menunggu sendirian lagi. Aku merindukan Max, maksudku  Jalal, menemaniku menunggu bis. Mulutku tidak akan mengakuinya, tapi hatiku ingin memanggilnya. Kutundukkan saja kepalaku untuk menahan air mataku yang ingin keluar... aku sangat.. sangat... merindukannya..
“Apa kau memanggilku?”
Aku terkejut, serasa tak percaya Jalal ada di sebelahku... Untung aku bisa menahan diri, kalau tidak aku akan menjerit melompat kegirangan. Tenang Jodha.... ingat! Pasang ekspresi jual mahalmu...
“Tidak, untuk apa aku memanggilmu?!”
Apa dia punya indera keenam?
“Kalau begitu, kita mulai lagi dari awal. Kenalkan namaku Jalal... harta dan pekerjaanku tidak penting... Jodha, sekarang aku siap menerima ujian darimu....”

*****E N D*******


One Shot - Five To Six

8 comments:

  1. Wow...bener2 short y...tp berkesan banget...thx y mbak Tyas d tunggu karya selanjutnya...

    ReplyDelete
  2. Mbak Tyas...tuk just love nya pa g ada epilog nya gitu?...coz gantung gitu..emang pa gini gaya nulis nya yg bikin penasaran n kepo abiz...hehehe

    ReplyDelete
  3. Wow...bener2 short y...tp berkesan banget...thx y mbak Tyas d tunggu karya selanjutnya...

    ReplyDelete
  4. Waduh lgs jatuh cinta pasti byk konflik nih mbak tyas

    ReplyDelete
  5. Waduh lgs jatuh cinta pasti byk konflik nih mbak tyas

    ReplyDelete
  6. jangan lihat orang dari hartanya saja
    yang penting karakternya

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.