The Princess In The War Chapter 2 - ChusNiAnTi

The Princess In The War Chapter 2



Versi Alsi Chapter 3 - 5
By Viona Fitri

Dari kejauhan, Jodha melihat sosok seorang pria dari pihak musuh yang postur tubuh nya tinggi tegap. Dia sedang menatap Jodha dengan senyuman sinis. “Pria itu pasti pemimpin pasukan Mughal. Aku akan segera menancapkan pedang ku pada bagian perutnya. Dia yang telah memimpin pasukan ini, jadi aku akan benar-benar menghabisi nya. Ayah pasti akan sangat bangga pada ku jika aku bisa membunuh pria itu.” Gumam Jodha dalam hati.

“Gadis itu mulai mendekat pada Syarifuddin. Dia pasti akan menyerang Syarifuddin karna telah memimpin pasukan itu. Demi tuhan, aku tidak akan pernah rela, kalau Syarifuddin menyentuh kulitnya dengan pedang tajam itu.” Bathin Jalal.

Jodha berlari bagaikan topan yang dahsyat. Ia tidak perlu lagi dengan pasukan musuh yang ingin menyerangnya. Lengan nya tergores pedang secara tiba-tiba ketika prajurit musuh yang mencoba melindungi Syarifuddin menyerang Jodha. “Kalian telah melukai lengan ku, kita lihat bagaimana cara ku membalas luka ini.” ucap Jodha yang memegangi luka di lengan nya.

“Berani sekali prajurit itu melukai gadis cantik sepertinya. Demi tuhan, aku pasti akan menghukumnya.” ucap Jalal pada dirinya sendiri. Jalal memanggil salah satu prajuritnya dan memintanya untuk memerintahkan prajurit yang menyerang gadis itu agar segera menghadapnya di tenda tempat mereka berkemah dalam pertempurang ini. Dan juga memerintahkan pada Syarifuddin agar tidak menyerang seorang gadis dalam pertempuran.

Prajurit itu segera hengkang dan melaksanakan perintah Jalal. Saat itu Jodha sudah berada di hadapan Syarifuddin dengan lengannya yang masih mengalir darah segar. Tanpa berkata apapun, Jodha langsung mengayunkan pedangnya dan mengenai lengan Syarifuddin yang membuatnya segera tersadar dari dunia imajinasinya.

“Kau pasti pemimpin pasukan Mughalkan? Ternyata hanya seperti itu saja kemampuan mu, bahkan kau lebih lemah dari yang ku bayangkan. Sekarang karna aku telah melukai lenganmu, maka lawanlah aku dengan semua keahlian berperang mu.” Tantang Jodha yang kembali menyerang Syarifuddin. Kali ini, Syarifuddin tidak lagi berada dalam dunia khayalannya, pedang juga mulai ia gerakkan kesegala arah untuk melawan Jodha. Ia hanya berusaha menghindar dari pedang yang di sabetkan oleh Jodha. Tidak bisa di pungkiri, bahwa Syarifuddin harus lebih ekstra berhati-hati dengan gadis itu. Dia bukanlah wanita biasa. Tapi seorang Wonder women yang mempunyai kemampuan luar biasa.

Seorang prajurit dari pihaknya, datang menghampiri Syarifuddin dan berbisik pelan di telinganya. Jodha sejenak menghentikan gerakan-gerakan lincahnya, karna menunggu Syarifuddin yang tengah berbicara sesuatu dengan prajuritnya. Karna dalam hukum perang bangsa Rajput, tidak mengizinkan seseorang menyerang lawan, saat lawan tidak melakukan penyerangan padanya.

“Tuan... Yang mulia, memerintahkan mu untuk tidak melukai seorang wanita dalam pertempuran.” bisiknya dengan sangat pelan.

“Yang mulia? Apa dia berada disini? Kenapa aku tidak melihatnya?” Tanya Syarifuddin yang mulai mengintari medan perang dengan saksama.

“Yang mulia sudah kembali ke tenda.” jawab prajurit itu singkat. Prajurit itu memberi hormat, lalu membawa prajurit yang tadinya melukai lengan Jodha, menjauh dari medan pertempuran. Prajurit itu akan dibawa menghadap raja mereka.

“Ada ada? Kau ingin meminta bantuan dari para prajuritmu itu, hah? Sekarang bila perlu, panggil semua prajuritmu untuk datang berbondong & menyerang ku. Aku sama sekali tdk akan takut jika kau melakukan itu. Sekarang, ayo... Tunggu apalagi, panggil saja semua prajurit mu.” sentak Jodha dgn tatapan marahnya.

“Kau adalah gadis yg manis tuan Putri. Mundurlah dari medan pertempuran ini, kalau kau masih ingin menyelamatkan nyawa mu dari kejamnya pedang ku. Karna aku tdk yakin, akan bisa menghentikan pedang ku, saat aku benar-benar sudah sangat berada di ambang kemarahanku.” kata Syarifuddin dgn seringai iblisnya.

“Tidak. Aku tdk akan pernah mundur dari medan tempur. Jangan kau kira aku tdk bisa membunuhmu, karna aku hanya seorang wanita. Kalau aku mau, bahkan raja Mughal sekalipun akan dapat akan bunuh dengan tangan ku sendiri. Aku tdk menyombong, tapi berdasarkan pd faktanya, bahkan aku bisa mengalahkan prajuritmu yang banyak itu menyerang ku.” Jodha kembali menyerang Syarifuddin.

'BUGHK...'
Syarifuddin tersungkur ke tanah begitu Jodha menendang selangkangannya. Ujung pedang Jodha sudah berada di leher Syarifuddin. Sontak semua tentara Mughal membelalakkan mata mereka tdk percaya. Mereka berusaha menyerang Jodha untuk menyelamatkan Syarifuddin. Seorang prajurit dari arah belakang Jodha, hendak mengayunkan pedangnya pada Jodha tapi tiba-tiba seseorang berjubah hitam dan wajah nya tertutup, segera menyerang prajurit itu. Jodha terkejut, begitu mengetahui tentara musuh akan menyerangnya. Kesempatan ini tdk di sia-siakan Syarifuddin untuk segera bangkit & mengangkat senjata kembali.

Jodha menatap sekelilingnya. Orang yang mengenakan jubah hitam serta penutup wajah, sudah hilang dari pandangannya. Tidak mungkin itu pangeran dari Amer. Karena Sujamal dan Maansing masih terlihat berperang melawan pasukan musuh. Lalu siapa orang tadi?

Syarifuddin yang melihat Jodha lengah, segera menarik lengan Jodha dan menghunuskan pedang tajamnya di leher Jodha. Itu terjadi sangat mendadak sekali, sehingga Jodha tidak bisa melawan Syarifuddin. Maansing dan Sujamal mendengar rontaan Jodha meminta seseorang untuk melepaskannya. Mereka berlari ke arah Jodha yang tengah menjadi tawanan Syarifuddin.

“Lepaskan adik ku, Syarifuddin! Aku akan membunuhmu, kalau sampai ujung pedang mu melukai sedikit saja kulit Jodha.” Bentak Sujamal marah.

“Dia hanya seorang wanita, kalau kau membunuhnya itu sama dengan pengecut. Lepaskan adik ku, dan jangan mengganggunya lagi.” Maansing menimpali.

“Apa yang Bhaisa lakukan? Aku lebih baik mati, dari pada mendapat belas kasihan dari orang sepertinya. Lebih baik, bhaisa segera menghabiskan semua tentara musuh yang tersisa. Bawalah kemenangan untuk Amer.” sahut Jodha yang sedikit terbata. Bagaimana tidak, pedang itu sudah sangat dekat sekali dengan nya. Jika ia menarik nafas sedikit saja, mungkin ujung pedang yang tajam itu sudah menggores kulit lehernya.

“Kau lihat ini Maansing, Sujamal. Adik kalian sangat pemberani sekali ternyata. Kalian tau, selama berperang melawan musuh aku sama sekali tidak pernah terluka. Tapi, kalian lihat lengan kiri ku yang berdarah ini. Adik mu, bukanlah seseorang yang bisa di anggap remeh begitu saja. Kalau aku tidak segera menghabisinya, maka aku yang akan akan dihabisinya. Dia sudah datang ke medan perang, itu berarti dia juga bagian dari perang ini. Beruntung, ada seseorang yang berjubah menyelamatkannya. Kalau tidak, mungkin sekarang adik kalian yang sangat cantik ini, sudah tewas mengenaskan tanpa kepala nya.” ucap Syarifuddin bangga.

“Syarifuddin....” teriak seseorang dari arah belakang. Syarifuddin menoleh dan sontak terbelalak melihat Jalal sudah berada di belakangnya. Pedangnya yang sudah sangat dekat dengan Jodha, di jatuhkannya begitu saja. Ia benar-benar mati kutu, menatap bola mata Jalal yang murka padanya.

“Apa yang kau lakukan pada seorang gadis sepertinya, hah? Bukankah aku sudah memberikan perintah pada mu untuk tidak menyakiti seorang wanita dalam perang. Kau jangan membuat bangsa Mughal menanggung malu akibat perbuatanmu ini. Sekarang, kau lepaskan dia, dan biarkan dia kembali ke Istananya.” Katanya lagi.

“Tidak. Bunuh saja aku, dari pada mendapat belas kasih dari orang Mughal seperti kalian.” tantang Jodha sembari mengambil pedangnya yang tergeletak tadi.

“Aku tidak perduli dengan apapun yang kau katakan tuan putri. Yang jelas, dari pihak kami tidak akan ada yang akan melawan mu. Kau boleh menyerang mereka jika kau mau. Tapi mereka tidak akan membalas serangan dari mu. Itu adalah hal yang lebih buruk dari kekalahan. Dan jika kau mau, sekarang aku memberikan nyawaku pada mu. Kau ingin membunuhku? Tidak masalah. Tapi ingatlah apa yang akan terjadi, setelah kau sudah membunuh raja kerajaan Mughal nanti.” Jalal tersenyum penuh kemenangan. Sementara Jodha tampak mencerna kata-kata itu.

“Apakah seorang raja dari kerajaan Mughal seorang pengancam seperti mu? Apakah rakyat kalian tidak malu mempunyai seorang raja seperti mu. Apapun kata mu, aku akan tetap menyerangmu. Ayahku sudah pasti akan merasa tenang di nirwana sana jika aku bisa menebus rasa sakitnya.” Jodha hendak melangkah maju mendekat pada Jalal, tapi Maansing menghentikannya.

“Jodha jangan lakukan itu. Kau tidak boleh membunuhnya. Kau tau, apa yang akan terjadi pada Amer setelah kematiannya? Aku bahkan tidak yakin jika Amer akan tetap ada seperti saat ini. Redakan emosi mu dulu. Jangan berbuat gegabah seperti itu.” Jelas Maansing dengan bijak.

Ini adalah salah satu siasat Jalal untuk menangkap para pangeran Amer. Setelah terjadi adu argumen berlawan seperti tadi, Jalal tersenyum puas dan dengan mendadak berteriak. “Tangkap mereka semua...” .

Para prajurit Mughal yang memang sudah di persiapkan sejak awal untuk penangkapan itu, segera berlari dari persembunyiaan nya dan menangkap Sujamal dan Maansing. Sementara Jodha dengan sengaja tidak ditangkap oleh mereka.

“Licik! Benar-benar cara yang kotor dengan melakukan penangkapan seperti ini pada kami. Kau menangkap adik ku, dan bertujuan membuat kami menyelamatkannya, dan setelah itu kau datang dan menangkap kami secara spontan seperti ini.” umpat Sujamal geram.

Jodha berusaha membantu para pangeran Amer lepas dari prajurit yang menangkap mereka. Akan tetapi, usahanya gagal total. Sujamal & Maansing sudah di bawa dgn di seret kuda oleh mereka. Itu benar-benar cara yg sadis dlm pertempuran.

Tak terasa Jodha mulai terisak melihat kedua Bhaisanya terus berusaha melepaskan diri dari kuda yg menyeret mereka.

Jodha dengan geram menghampiri Jalal dan mendorong bahunya berulang kali. “Kau manusia kejam tidak berperasaan. Bagaimana jika kau yang ada dalam keadaan Bhaisa ku? Lepaskan mereka, suruh prajurit yang menunggangi kuda itu berhenti. Apa salah Bhaisa ku, hah? Hanya demi kekuasaan, kau melakukan hal ini pada kami. Cepat... Lepaskan mereka...” Jodha semakin terisak dan terduduk di tanah dengan tangisnya yang membuat hati Jalal merasa tersayat mendengar tangisan itu.

“Kau benar-benar orang yang sangat kejam dan keji. Aku membenci bangsa Mughal dan diri mu...”

Jalal hanya berpaling tidak menatap Jodha. Entah kenapa, hati nya terasa sakit mendengarnya terisak seperti itu. Ia tidak bisa melihat gadis di hadapannya terluka. Oleh karena itu, tadi Jalal menyamar sebagai seseorang berjubah hitam dan menyerang pasukannya sendiri karena tidak ingin ujung pedang yang tajam melukai kulitnya.

Jodha berlari mengejar kedua Bhaisa nya yang di seret oleh kuda. Tangannya diikat dan ditarik oleh prajurit yang menunggangi kuda itu. “Sujamal Bhaisa, pegang tanganku... Aku akan menolong Bhaisa. Cepatlah bhaisa... Ulurkan tanganmu...” pinta Jodha yang mengulurkan tangannya pada Sujamal yang sudah terlihat sangat lemah kondisinya.

Sujamal hanya diam tak bergeming. Kulitnya sudah terluka karna gesekan dengan tanah, di tambah lagi tangannya yang di ikat sudah memar sekali. Sementara Maansing sudah tidak sadarkan diri. Kuda itu tetap saja menyeret mereka dengan sadis. “Maansing Bhaisa, tolong dengarkan aku! Peganglah tanganku Bhaisa aku akan menyelamatkan mu. Aku mohon sadarlah...” Jodha berlarian pontang panting mengejar kuda yang membawa kedua Bhaisanya dengan cepat. Jalal jadi merasa iba melihat Jodha yang terus saja terisak sambil mencoba menggapai tangan kakak-kakaknya. Akhirnya Jodha berhasil menggapai tangan Maansing. Tapi sialnya, Jodha malah juga ikut terselet oleh kuda itu. Usahanya gagal dan malah membuatnya semakin kesusahan.

Mereka semua yang di seret oleh kuda sudah tidak sadarkan diri lagi. Jalal menyuruh para prajurit menghentikan kuda mereka. Kondisi mereka semua sudah sangat parah. Jodha juga mengalami luka yang cukup parah pada bagian lengan dan kakinya. Sementara kedua kakaknya sudah jauh lebih parah dari pada Jodha.

* * * * *

Ketika itu Jodha terbangun dari pinsannya dan mendapati dirinya sudah berada dalam ruangan dan seorang pria yang sedang mengoleskan salep di bagian yang luka padanya. “Jalal...” Bathin Jodha yang merasa ragu dengan penglihatannya. Jalal adalah raja yang kejam dan tidak kenal ampun, tapi saat ini dia terlihat seperti pasir pantai yang sangat lembut sekali.

“Dimana aku? Kenapa aku ada disini bersama mu? Apa yang sedang kau lakukan?” Jodha menarik tangannya dari Jalal yang sedang menempelkan salep luka padanya. “Kau tidak perlu repot-repot melakukan ini pada ku. Bukankah kau menginginkan aku mati, hah? Jadi kalau begitu tidak usah mengobati luka ku ini.” sambung Jodha.

Jalal mengambil tangan Jodha lagi dan hendak menempelkan salep luka yang baru tertempel di sebagian lukanya saja. Terjadilah saling tarik menarik antara Jalal dan Jodha. Jalal ingin mengobati Jodha, sementara Jodha tidak ingin di obati oleh orang kejam yang telah menyebabkan luka itu.

“Aku akan mengobati mu. Kau lebih baik diam dan jangan membantah. Atau aku akan benar-benar tidak akan memperdulikan mu.” ucap Jalal dengan nada yang meninggi. Tapi Jodha tidak pernah takut dengan gertakan pria seperti itu.

“Oh ya, kau tidak ingin memperdulikan ku lagi? Ku rasa itu lebih baik dari ini. Kalau begitu sekarang kau pergi saja dari sini dan jangan pernah datang menemui ku lagi. Pergilah!” Jodha menunjuk ke arah pintu keluar pada Jalal.

“Tidak. Kau harus aku obati dulu.” Jalal bersikeras dan kembali mengambil tangan Jodha dan mengoleskan salep pada lukanya. Jodha hanya tertegun melihat wajah marah itu yang melembut begitu mengobati nya. Ucapannya hanya bualan belaka, matanya terlihat risau begitu melihat darah yang masih sempat mengalir dari lengannya.

“Aku seorang pendekar. Aku tidak membutuhkan obat itu. Kau buanglah, atau setidaknya berikan pada prajurit mu yg sama kejamnya dgn diri mu.” ujar Jodha ringan dgn wajah datar tanpa ekspresi.

“Tidak ada seorang pendekar sombong seperti mu. Dan lagi, tdk ada seorang pendekar yang tdk membutuhkan obat. Karna setiap pendekar pasti akan merasakan luka karna perjuangannya.” sahut Jalal yg masih mengoleskan salep di tangan Jodha.

Tiba-tiba Jodha teringat oleh ayahnya yg meninggal di medan tempur. Pikirannya kembali melayang jauh, disaat detik-detik kematian sang ayah. “Apa obat yang kau berikan ini bisa mengobati hati ku yg terluka karena kehilangan seorang ayah?” tanya Jodha lirih. Jalal mengalihkan pandangannya menatap Jodha. Air matanya masih ia tahankan dgn kuat agar tdk mengalir. Pelupuk matanya terlihat dgn jelas, disana tersimpan jutaan air mata yg menggenang.
~~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~~

The Princess In The War Chapter 2

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.