The Princess In The War Chapter 3 - ChusNiAnTi

The Princess In The War Chapter 3


Versi Alsi Chapter 6 - 8
By Viona Fitri

“Salep ini tidak bisa mengobati hati mu yang terluka. Kau bisa mengobati lukamu sendiri, jika kau bisa melupakan kejadian di medan tempur itu.” kata Jalal memberi solusi. Jodha terdiam sejenak. “Bisakah kau mengembalikan ayahku? Apakah nyawa itu tidak penting bagimu? Kau bebas membunuh siapa saja yang kau mau, hanya demi keserakahanmu untuk menguasai India.” tanya Jodha.

Air matanya menetes lagi karena itu. Ayahnya adalah pahlawan bagi kehidupannya yang penuh dengan liku. Banyak rintangan yang menghadangnya dengan ketakutan. Tapi, ayah berdiri tegak di belakangnya untuk membantunya bangkit ketika ia terjatuh. Mengajarkan cara bagaimana menjadi seorang wanita yang tangguh dalam menjalani hidup. Mengusap air mata yang membuatnya merasakan rintangan dalam hidup yang sebenarnya. Mendidiknya dengan penuh kasih sayang yang luar biasa dalam setiap langkahnya.

“Sudah. Aku tidak ingin kau mengobati ku lagi. Sekarang katakan pada ku, dimana kalian menyembunyikan Bhaisa ku?” Jodha mengambil tangannya dari genggaman Jalal dan bangkit dengan jalannya yang tersendak.

“Kau mau pergi kemana?” tanya Jalal yang berusaha menghentikan langkah Jodha.

“Aku akan mencari Bhaisa ku.” jawab Jodha singkat. Ia terlihat sangat lemah sekali dalam kondisi pasca perang itu. Jodha melihat salep yang masih berada di pegangan tangan Jalal. “Salep itu pasti akan berguna untuk mengobati luka Bhaisa.” Bathin Jodha. Direbutnya salep yang ada di tangan Jalal kemudian keluar dengan langkahnya yang masih tertatih.

Kepala Jodha terasa sempoyongan tidak karuan. Serasa dunianya berputar dan diatasnya banyak bintang bertaburan. Pandangannya yang semula awas, menjadi buram dan lama kelamaan berubah menjadi gelap. Hampir saja tubuh Jodha ambruk, tapi dengan sigap Jalal menangkap tubuh ringkih itu kedalam dekapannya. Jalal membaringkan tubuh Jodha di atas tempat tidur kecil tempatnya tadi mengobati luka Jodha.

“Dia benar-benar gadis yang keras kepala. Aku kira hanya ratu Ruqayah saja yang sangat begitu keras kepala. Tapi, gadis ini malah melebihinya.” kata Jalal sambil mengusap pucuk kepala Jodha.

“Untung saja dia tidak sadarkan diri lagi. Kalau tidak, dia pasti sudah sangat membuatku repot sekali.” katanya lagi.

* * * * *

Satu jam kemudian, Jodha sudah tersadar dari pinsannya dan mencoba mengumpulkan file memorinya yang sudah awur-awuran tidak berturut lagi. Jodha mendengar suara seseorang yang sangat di kenalnya sedang merintih. “Itu seperti suara Bhaisa. Aku akan segera mengobati mereka dengan salep tadi.” Jodha beranjak dengan membawa salep ditangannya. Terkejut. Itu yang pertama kali dirasakannya ketika membuka pintu ruangan dimana ia diobati. Saat ini di depannya terpampang dengan jelas kedua Bhaisanya yang sedang di cabuk dengan tangan di ikat di sebuah pohon besar. Jodha menjatuhkan salepnya dan segera berlari menghampiri kedua Bhaisanya. Jalal yang hanya sebagai komando, merasa simpati pada Jodha yang memeluk kedua Bhaisanya dengan sangat erat. Jodha yang menjadi tameng mereka, dan merasakan cambukan keras dari algojo yang bertugas mencambuk Sujamal dan Maasing.

“Bhaisa... Bertahanlah, aku akan mencari cara agar kita bisa lepas dari sini. Percayalah dengan dewa, yang selalu ada melindungi kita... Aw” Jodha berkata sambil menahan setiap cambukan yang di arahkan pada setiap Bhaisanya.

“Hentikan!” teriak Jalal pada para algojo nya yang berwajah sangar. Jalal menghampiri Jodha yang sudah bertubi tubi merasakan cambukan kejam para algojo itu. Lengan dan tangannya telah berbekas luka cambukan yang merah dan membiru. Bagian punggungnya juga mungkin telah banya bekas cambukan, tapi karena tertutup Gongghatnya, Jalal tidak tau apa luka di punggungnya lebih parah atau tidak dari pada luka di tangan dan lengannya.

“Jodha... Kau baik-baik sajakan? Kenapa melakukan hal ini untuk menyelamatkan kami. Biarkan saja mereka mencambuk kami sampai kami mati.” kata Maansing lemah.

Jalal menarik tangan Jodha yang mendekap kedua Bhaisanya. Lukanya yang belum sembuh, berdarah lagi karnanya. “Bodoh. Dasar wanita bodoh. Kenapa kau mau menjadi tameng mereka, hah? Kau sudah bosan dengan hidupmu?” Bentak Jalal keras.

“Kau bunuh saja aku. Kenapa kau hanya menyiksa kedua Bhaisa ku? Kenapa aku tidak mendapatkan siksaan seperti mereka juga, hah? Sekarang ambil saja pedangmu yang selalu jadi saksi atas kekejaman mu pada semua orang. Bunuh saja aku, jika kau masih ingin menyiksa Bhaisa ku.” ucap Jodha dengan nada yang lemah. Bahkan sudah tidak bertenaga lagi dirinya, untuk sekedar melakukan perlawanan pada Jalal. Jodha melangkah sangat dekat dengan Jalal, lalu mengambil pedang Jalal dari sarungnya.

“Ini pedang mu. Sekarang tunggu apalagi, bunuh saja aku seperti yang ka mau. Terserah pada mu, ingin seperti apa kau menginginkan kematianku.” Jodha menyerahkan pedang itu pada Jalal. Sekilas Jalal melihat pedang dari tangan Jodha dan mengambilnya.

“Kau ingin agar aku membunuhmu? Itu tidak akan pernah terjadi.” ujar Jalal yang mulai naik darah dengan perlakuan Jodha padanya. “Kalau kau tidak ingin membunuhku, maka bebaskan Bhaisaku. Kau mencambuknya dengan sangat kejam. Kenapa hanya mereka saja yang menerima hukumannya? Aku juga ingin mendapatkan hukuman yang sama seperti mereka.” kata Jodha dengan tatapan sengitnya.

“Karna kau wanita. Meskipun aku kejam, tapi aku tidak pernah membunuh seorang wanita.”

“Benarkah? Aku tidak percaya kau tidak membunuh wanita.” Jodha mengambil pedang Jalal lagi dan ingin menancapkannya di perutnya. Sujamal dan Maansing terkejut dan berteriak histeris untuk menghentikan Jodha. “Tidak...” teriak Sujamal dan Maansing berbarengan.

Jodha hendak menancapkan pedang itu ke perutnya, tapi Jalal menahannya dengan tangannya. Darah segar mengalir begitu saja dari telapak tangan Jalal. Jodha menjatuhkan pedangnya dan mulai menangis karenanya. “Bodoh. Dasar lelaki bodoh. Kenapa menahan pedangku dan justru melukai tanganmu? Kenapa kau harus menyelamatkanku dan membuat dirimu sendiri terluka?” Jodha mengambil tangan Jalal yang tergores pedangnya. Luka itu sangat tajam dan dalam.

“Aneh. Ini aneh sekali. Kenapa Jalal menghentikan Jodha ketika pedangnya sebentar lagi akan menembus perut Jodha?” Bathin Sujamal yang terheran betul dengan itu.

“Jodha ingin bunuh diri, tapi Jalal menahan pedangnya hingga telapak tangannya terluka. Aku tidak mengerti apa yang terjadi pada raja Mughal itu.” Gumam Maansing bertanya-tanya pada dirinya sendiri.

Jalal menarik tangan Jodha dan membawanya ke ruangan yang semula. Kali ini Jodha tidak berontak dan hanya mengikuti saja. “Kau benar-benar membuatku marah. Luka mu itu belum sembuh benar, kenapa memaksakan untuk melindungi mereka, hah? Dimana salep tadi, aku akan mengobati lukamu?” Ucap Jalal dengan sedikit emosi.

“Salepnya terjatuh tadi. Aku terkejut melihat Bhaisa ku yang dicambuki seperti itu.” kata Jodha takut-takut.

“Hah, kalau begitu kau tunggulah disini dulu, aku akan membuatkan pasta salep lagi untukmu.” Jalal akan segera beranjak, tapi Jodha mencekal tangannya. “Kau sebenarnya adalah pria yang lembut. Aku tau hati mu pasti terluka ketika melihat seseorang terluka. Tapi kenapa ego membuatmu mengabaikan hati mu?” tanya Jodha dengan lembut.

“Kau tau itu. Kalau begitu pasti kau juga tau jawaban dari pertanyaan mu. Aku ingin membuat salep untuk mu, tolong kau jangan membantah dan tetaplah berada disini.” Jalal kemudian keluar meninggalkan Jodha yang masih terdiam di tempatnya.

* * * * *

Jodha terduduk dilantai ruang itu sambil meringkuk. Semua sekarang sudah musnah lenyap di telan bumi. Ibunya sudah meninggal sejak dulu. Ayah yang menjadi kebanggaannya telah meninggal di medan tempur. Tinggal ada Sujamal Bhaisa dan Maansing Bhaisa yang lolos dalam pertempuran itu. Keadaan mereka sangat tak berdaya sekali dan membutuhkan segera pengobatan. Pria itu jahat sekali, mungkin itu juga siasat dari raja Mughal untuk mendapatkan Amer. Dia berpura-pura baik pada Jodha dan merawat lukanya. Tapi, siapa yang tau hati kejamnya masih bersemayam di hatinya. Cara apapun pasti akan dia lakukan demi memperluas daerah kekuasaannya.

Jalal datang dengan membawa mangkuk kecil yang berisi salep. Jodha masih meringkuk dan terdengar isakannya. Jalal datang mendekat dan berjongkok di hadapannya. “Kau menangis lagi? Katanya kau adalah seorang pendekar, lalu kenapa kau menangis terisak seperti itu. Apa ada pendekar cengeng seperti mu?” tanya Jalal sambil meletakkan obatnya di samping.

Jodha mendongak dan menatap Jalal dengan marah. Wajah pria itu, pasti akan selalu mengingatkan nya dengan kematian sang ayah. “Kalau kau hanya berpura-pura baik dan perduli kepada ku, lebih baik kau tidak usah mengobati luka ku lagi. Sekarang aku ingin pergi dari sini dan membawa kedua Bhaisa ku. Terserah padamu, kau akan membunuhku atau tidak.” kata Jodha sambil menghapus air matanya. Ia berdiri tegak, meskipun berjuta sakit menderanya. Untuk apa mendapatkan perawatan kalau ia tau, ia akan berakhir dengan merenggang nyawanya juga. Lebih baik mati tanpa pengobatan dari pada mendapatkan pengobatan tapi tidak berguna apa-apa baginya. Jalal tidak mungkin mau dengan mudah membebaskan mereka begitu saja tanpa keuntungan yang memihak padanya.

“Kau ini mengapa suka sekali mencari masalah dengan ku, hah? Sekarang terserah padamu kau mati juga aku tdk akan perduli.” Jalal membuang salep itu & meninggalkan Jodha lagi.

“Aku juga tdk butuh simpati dari mu.” kata Jodha membalas. Tiba-tiba saja memori ingatannya kembali memutar saat dimana Jodha ingin bunuh diri dgn menancapkan pedangnya ke bagian perutnya. Telapak tangan Jalal terluka karna pedang itu. Meskipun ia membencinya, tetapi ia masih punya moral juga. Ia harus mengobati luka Jalal meski dgn terpaksa. Seseorag yg membuat orang lain terluka, maka ia juga yg harus menyembuhkannya.

Jodha berlari mengejar Jalal yang berjalan dengan langkah cepatnya menahan kesal. “Jalal... Tunggu dulu.” teriak Jodha yang berlari dengan membawa salep nya di buang oleh Jalal tadi.

Jalal memasuki ruangan besar, mungkin saja itu kamarnya selama ia berada di tenda. Jodha juga ikut masuk dan mencekal lengannya. “Aku tau kau marah padaku, aku juga marah padamu. Tapi, aku juga masih mempunyai moral dan etika. Kau sudah menyelamatkan nyawa ku, jadi aku harus mengobati luka ditelapak tanganmu. Aku tidak perduli, kau akan marah atau tidak.” Jodha mengambil tangan Jalal yang terluka, dan mula mengoleskan salep ditelapak tangannya dengan berhati-hati.

“Ternyata kau tau juga membalas budi orang lain. Ku kira, kau hanya tau memarahi dan menyalahkan orang saja.” ledek Jalal yang diiringi dengan senyum tulusnya. Senyuman itu tidak lagi menyeringai seperti dendam terpendam ataupun iblis yang membuatnya akan menjadi manusia kejam. Senyumnya terlihat begitu tulus tanpa rekayasa. Matanya juga berkata, lelaki itu adalah lelaki yang lembut serta penyanyang. Namun keinginan dan egonya, membuat ia melupakan kelembutan hati nuraninya yang selalu beradu argumen menentang kehendak satu sama lain.

“Kau kira aku tidak tau diri? Itu adalah pemikiran yang sangat salah sekali. Sekarang kau sudah ku obati, tugasku sudah selesai. Aku pergi dulu.” Jodha beranjak sambil membawa salepnya kembali.

Jalal hanya memperhatikan Jodha yang semakin lama, semakin menghilang di balik pintu. “Bhaisa pasti akan sangat membutuhkan salep ini. Aku juga harus mengobati luka mereka.” Jodha berlari ke arah Bhaisanya yang masih terikat di sebuah pohon besar yang rindang.

“Bhaisa... Aku membawakan salep untuk kalian. Sekarang, aku akan mengobati luka kalian.” Jodha tersenyum sambil mulai mengolesi salep itu pada luka mereka satu persatu. “Jodha... Kami baik-baik saja. Apakah kau sudah makan?” tanya Maansing. “Makan? Aku... Aku belum makan Bhaisa. Tapi jangan khawatir, aku masih akan bertahan. Ayah telah mengajarkan ku bagaimana caranya menjadi seorang wanita yang tangguh. Bhaisa... Nanti aku akan pergi ke hutan untuk mencari buah-buahan segar untuk makanan kita.” Kata Jodha lembut.

“Tidak Jodha... Kau tidak boleh pergi ke hutan seorang diri. Di hutan banyak sekali binatang buas yang akan melukai mu. Lebih baik, kita tidak usah makan dari pada membiarkanmu pergi ke hutan seorang diri.” cegah Sujamal.

“Bhaisa kau tau bagaimana sifat adik mu inikan? Jadi Bhaisa pasti tau apa yang akan aku lakukan. Sekarang, luka kalian sudah aku obati, aku akan pergi ke hutan dulu.” Jodha bangkit dan meninggalkan salep itu di samping pohon besar yang mengikat Bhaisanya.

“Jodha tidak... Jangan pergi ke hutan seorang diri. Kau bisa saja mendapat masalah jika ada binatang buas disana. Kami tidak bisa membantu Jodha...” teriak Maansing bersikeras menghentikan langkah Jodha yang semakin menjauh dari pandangan mereka.

“Tidak Bhaisa, aku akan tetap pergi ke hutan. Jangan khawatir tentang keselamatanku. Akukan seorang pendekar, tidak ada yang akan bisa melukaiku.” sahut Jodha dengan berteriak sangat keras agar Maansing dapat mendengarnya.

Lagi-lagi Maansing dan Sujamal hanya geleng kepala tidak mampu menghentikan keputusan Jodha yang bersih keras ini mencari buah-buahan di hutan. Kepalanya benar-benar seperti batu.

Jalal datang dan melihat Sujamal dan Maansing yang berusaha melepaskan ikatan tali yang mengikat mereka dengan sangat kuat. Jalal hanya tersenyum remeh pada mereka berdua. “Teruslah berusaha melepaskan ikatan tali itu semampu kalian. Tidak akan pernah berhasil usaha kalian itu. Kalian atan menambahkan luka pada pergelangat tangan kalian, jika kalian tetap berusah melepaskan tali itu.” ujar Jalal dengan senyum bangganya. Tali itu bukanlah tali biasa yang di beli di pasaran, tapi ia membeli tali itu khusus dari negeri luar untuk mengikat tawanan agar tidak bisa membebaskan diri mereka dari tali keras itu.

“Jalal lepaskan kami. Kami harus segera mencari Jodha yang pergi ke hutan seorang diri. Kalau di hutan sampai ada binatang buas, pasti Jodha akan jadi santapan lezat mereka.” pinta Sujamal yang mengiba. Sementara Maansing juga ikut menimpali ucapan Sujamal barusan. “Jalal, kami hanya tinggal bertiga setelah kematian ayah. Kami tidak ingin kehilangan satu saudara kami, aku mohon bebaskan kami dari sini.”

“Jodha pergi ke hutan? Katakan, ke arah mana dia pergi!” tanya Jalal dengan tenang. Namun lain hal dgn hatinya yang mulai risau dengan tindakan Jodha ini. Kenapa lagi-lagi, wanita itu membuatnya selalu merasa khawatir dan cemas karena ulah konyolnya.

“Dia berlari ke arah utara hutan ini.” jawab Sujamal singkat. Jalal mengangguk lalu pergi menunggangi kudanya menuju hutan bagian utara. Di dalam hutan itu sangat rimbun sekali dgn pepohonan. Jarak antar pohon ke pohon begitu dekat, sehingga sulit untuk menemukan keberadaan Jodha. Tapi tiba-tiba...
~~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~~

The Princess In The War Chapter 3

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.