The Princess In The War Chapter 4 - ChusNiAnTi

The Princess In The War Chapter 4


Versi Alsi Chapter 9 -12
By Viona Fitri

'BUGHK....'
Dari atas pohon besar diatasnya, terjatuh seorang gadis cantik yang langsung ditangkap oleh Jalal. Mata gadis itu tertutup rapat karena ketakutan. Bibirnya bergerak tapi tidak bersuara. “Hey monyet hutan, kau sedang apa memanjat di pohon besar itu? Itu bukanlah makananmu kan?” bisik Jalal di telinga Jodha. Mata Jodha langsung terbuka lebar dan menjauh dari Jalal. Jodha turun dari kuda yang ditunggangi Jalal dan memunguti buah-buahannya yang sudah diambilnya tadi satu persatu.

“Ternyata pendekar seperti mu, tidak bisa memanjat pohon dengan baik.” Goda Jalal yang mulai membantu Jodha memunguti buah-buahannya.

“Karna aku bukan monyet. Jadi aku tidak bisa memanjat dengan baik seperti mereka. Lagi pula, dahan-dahan pohon itu licin sekali, kalau tidak aku tidak akan tergelincir seperti tadi.” ucap Jodha membela diri.

“Apa tidak ada harimau yang lewat dari sini?”

“Tidak ada. Kalaupun ada, aku pasti akan bertarung melawannya.”

“Kau tidak takut dengan harimau?”

“Takut? Untuk apa aku takut pada harimau. Pada singa saja aku tidak takut.” ujar Jodha sambil menatap Jalal dengan geram.

“Owh begitu. Kalau begitu kau memang benar-benar pendekar sejati. Kapan kau ingin bertarung melawanku?”

“Setelah ilmuku sudah semakin besar, maka aku pasti akan membunuhmu. Kau tidak perlu khawatir dengan nyawa mu.”

'AUGHK... HARRK... HARk'
Terdengar seperti suara harimau yang mulai mendekat ke arah mereka. Mata Jodha membulat besar dan nafasnya menjadi tidak beraturan. Jodha bersembunyi di belakang punggung Jalal sambil memegang jubahnya kuat-kuat. Jalal hanya tersenyum sembali berkata. “Katanya kau tidak takut dengan Harimau. Kenapa bersembunyi? Keluarlah dan hadapi harimau itu.”

“Aku yakin Harimau yang akan datang kepada kita adalah harimau yang besar. Aku hanya benari dengan harimau yang kecil saja.” sahut Jodha dengan gemetaran.

Jalal merasakan pegangan Jodha di jubahnya semakin kuat. Tiba-tiba seekor harimau besar berlari dengan lincah menghampiri mereka. Jalal juga menjadi panik karena kedatangan harimau itu sangat cepat sekali. Untungnya Jalal membawa sebuah pistol senapan untuk memburunya. “Jodha... Kau tunggu disini dulu. Aku akan mengambil pistol senapan berburuku di kantung kuda.” Jalal bangkit dan beranjak mengambil pistolnya.

Harimau itu sudah semakin dekat dengan Jodha. Jarak mereka hanya berkisar 3 meter lagi. Jalal mengambil pistol senapannya dan menembakkan kearah Harimau besar yang sebentar lagi akan segera menyerang Jodha. “Aaaa...” teriak Jodha histeris sambil menutupi wajahnya.

DOOR....
Bunyi pistol senapan yang ditembakkan membuat Jodha semakin histeris dan menangis. Harimau itu tersungkur ke tanah. Jalal segera menghampiri Jodha dan mengusap punggungnya lembut. “Ya Khuda... Ternyata kau penakut sekali. Bagaimana bisa menjadi seorang pendekar yang gagah, kalau dengan harimau saja kau takut?”

“Sudah. Kau selalu saja menghina ku. Sekarang aku mau pulang saja.” Jodha mengambil buah-buahannya kemudian berlari secepat kilat menuju tempat Bhaisanya.

* * * * *

“Bhaisa... Lihatlah, aku membawa buah-buahan segar untuk kita.” Jodha mengambilkan satu buah apel segar dan mengulurkannya pada Bhaisanya. Mereka menggiti apel itu, sementara Jodha yang memegang apelnya.

“Kau habis menangis Jodha?” tanya Sujamal. Mata Jodha memang masih terlihat sembab dan air matanya masih menggenang di pelupuk matanya.

“Tadi ada seekor harimau besar yang akan menyerangku. Tapi, Jalal menyelamatkanku. Dia sebenarnya adalah lelaki yg baik. Tapi, entahlah kenapa sampai sekarang dia tidak membebaskan Bhaisa dari sini.” Jelas Jodha.

“Aku kira dia sudah terlalu terobsesi untuk menjadi raja penguasa India satu-satunya. Atau seseorang yg dekat dengannya telah meracuni pikirannya.” Kata Maansing ikut bicara.

“Sudahlah kak, kita tdk perlu lagi membicarakan tentangnya. Aku akan berusaha membuatnya membebaskan kalian dari sini. Tangan kalian sudah sangat luka parah, aku harus segera melakukan sesuatu agar bisa membebaskan kalian dari sini.” Jodha meletakkan buah-buahannya & bergegas pergi ke kamar Jalal.

Pisau. Itu yg terpikir di otaknya untuk membebaskan Bhaisanya dari tali keras itu. “Jalal pasti tdk akan tau kalau aku masuk kedalam kamarnya. Tapi, dimana letak pisau dikamar ini. Yang ada hanya pedang saja. Aku kira Jalal tdk mempunyai pisau, karna dia hanya tau membunuh seseorang dengan pedangnya saja.” Bathin Jodha yg terus mencari dimana pisau di ruangan itu.

Tiba-tiba terdengar derap kaki seseorang yg mulai mendekat memasuki kamar itu. Jodha mengambil salah satu pedang di sana & bersembunyi di balik meja besar. Tapi, langkah kaki itu tiba-tiba saja berhenti dan sepertinya malah melangkah menjauhi kamar. Jodha mengusap dadanya lega.

Di pohon besar tempat Bhaisanya diikat. Jodha berusaha memutus tali itu tapi tidak berhasil juga. “Bhaisa, kenapa tali ini susah sekali untuk di potong?” tanya Jodha heran.

Jodha membuang pedangnya karna kesal. Pedang itu seperti tidak berguna sama sekali untuknya. “Kau ingin memotongnya Jodha?” tanya seseorang dari arah belakang. Jodha berbalik dan menjawab dengan singkat. “Iya.”

Jalal melihat pedang yang Jodha campakkan tadi. “Kau... Berani-berani nya mengambil pedang kesayanganku.” runtuk Jalal mengambil sembari pedangnya kembali. “Kenapa memangnya?” tanya Jodha balik.

“Kau memang membuatku marah saja. Untungnya kau wanita, kalau tidak aku pasti sudah akan menghabisimu.”

“Justru itu, kenapa kau tidak menghabisiku saja, hem?”

“Dasar wanita keras kepala.” kata Jalal yang langsung berlalu dari sana. Jodha hanya tersenyum menang menatap kepergiannya.

“Apa yang sudah kau lakukan padanya Jodha?” tanya Sujamal heran.

“Aku tidak melakukan apa-apa. Tadi aku memang mengambil pedang itu dari kamarnya. Tapi aku tidak tau kalau pedang itu adalah pedang kesayangannya.”

“Kenapa dia tidak pernah bersikap kasar padamu? Apakah dia telah jatuh cinta padamu Jodha?” tanya Maansing bingung.

“Tidak mungkin dia jatuh cinta padaku Bhaisa. Dia itu hanya simpati padaku saja. Karna aku hanya seorang wanita. Ngomong-ngomong bagaimana caranya membebaskan kalian dari sini? Kita harus segera pergi dan meminta perlindungan paman Pratap Sing. Bhaisa pasti sudah sangat lelah diikat terus menerus seperti ini, aku akan berkata pada Jalal, kalau dia harus membebaskan Bhaisa.” Jodha berjalan melangkah ke kamar Jalal.

Dikamarnya, terdengar suara Jalal tengah berbicara dengan seseorang yang berada didalam sana. Jodha bersembunyi di balik tenda kamar Jalal dan menempelkan telinganya ke tenda untuk mendengar apa yang sedang mereka bicarakan didalam.

“Hahaha... Sekarang pasti kita akan segera mendapatkan Amer Syarifuddin. Aku telah membuat nyawa Jodha terselamatkan berulang kali. Bahkan dia juga sudah mengatakan padaku, bahwa aku adalah orang yang lembut. Aku yakin dia pasti akan menerima lamaranku karena kebaikanku.” kata Jalal terbahak.

Syarifuddin tersenyum dan menanggapi perkataan Jalal barusan. “Anda hebat yang mulia. Saya yakin, tuan putri dari Amer itu akan menerima lamaran anda, dan kemudian menikah dengan anda. Jadi katakan pada saya, apa yang akan anda lakukan jika Putri itu menjadi ratu anda?”

“Kenapa kau masih bertanya lagi Syarifuddin? Aku pasti akan menjadikannya dasi di istana ku. Dia akan ku jadikan pelayan setia ratu Ruqayah.”

Syarifuddin tercengang dan bertanya lagi. “Gadis secantik dewi itu akan anda jadikan seorang dasi Yang Mulia? Apakah anda tidak akan rugi tidak bisa menikmati kemolekan tubuhnya?”

Jalal terkekeh dan berbalik menatap tajam ke arah Syarifuddin. “Kenapa memangnya kalau aku ingin menjadikannya seorang dasi? Apa kau keberatan dengan keputusanku? Atau jangan-jangan kau telah jatuh hati pada tuan Putri Amer itu?”

Syarifuddin tercekat, dan menjawabnya sembari menunduk takut. “Tidak Yang Mulia. Aku tidak merasa keberatan dengan keputusanmu. Itu memang sudah seharusnya yang dia lakukan menjadi seorang dasi, melayani semua penghuni Harem.”

“Bagus kalau kau mengerti itu. Dia memang benar-benar bodoh sekali Syarifuddin. Apakah aku benar-benar ingin melukai tanganku sendiri demi menyelamatkannya? Tidak mungkin. Itu tidak mungkin terjadi.”

* * * * *

Di balik tenda Jalal, air mata Jodha mulai menetes deras. Benar dugaannya, bahwa Jalal hanya berpura-pura perhatian dan peduli terhadapnya. Semua itu hanya dilakukannya, semata-mata untuk mendapatkan Amer menjadi daerah kekuasaan Mughal. Jodha memang harus bisa menerima kenyataan yang ada. Dia harus menikah dengan Jalal demi keselamatan Bhaisanya dan rakyat Amer. Mereka harus tetap bertahan hidup walaupun harus merenggut segala kebahagiaannya.

Jodha tanpa izin langsung memasuki kamar Jalal dengan kepala tertunduk. Syarifuddin segera pergi dari sana meninggalkan mereka mereka berdua. “Ada apa?” tanya Jalal lembut. Jodha semakin marah dengan nada suara Jalal yang dibuat selembut mungkin padanya. Tangan Jodha menggempal membentuk sebuah bogeman yg ingin segera ia lampiaskan pada pria iblis dihadapannya. Tapi, Jodha menahan segala amarahnya begitu bayangan Bhaisanya kembali berkelebat dlm memori ingatannya.

“Aku ingin kau membebaskan Bhaisa ku. Aku akan memenuhi semua permintaan mu. Kalau kau ingin membunuhku, itu lebih baik dari pd aku harus mati secara perlahan di Istanamu.” Ungkap Jodha ketus. Kepalanya masih tertunduk dengan linangan kristal bening yg masih terus saja mengalir tdk ingin berhenti.

“Kau menangis lagi, hah? Kenapa semua wanita selalu cengeng sekali. Aku kira setelah kau membunuh prajuritku dgn sangat kejam waktu itu, kau benar-benar seorang pendekar yg tdk kenal ampun. Tapi, semua anggapanku itu salah semua.” Ujar Jalal yg dibarengi dgn senyum tipis di bibir indahnya.

“Sudah jangan basa basi lagi. Sekarang katakan apa mau mu? Tapi setelah itu bebaskan Bhaisa ku?” ucap Jodha dgn pedas.


“Jodha... Kau benar-benar ingin tau apa yang aku minta padamu?” tanya Jalal dengan seringai iblisnya. Matanya menatap tajam ke dalam manik mata Jodha. Sejenak, ritme nafas Jodha menjadi tidak beraturan dengan tatapan tajam Jalal yang sangat dekat dengannya. “Katakan saja Jalal! Tapi setelah itu... Ingatlah janjimu untuk membebaskan Bhaisaku. Aku benar-benar tidak tau terbuat dari apa hatimu itu. Benar-benar kejam dan iblis sekali.” jawab Jodha ketus.

Jalal menarik kepala Jodha dan mencium bibirnya singkat. PLAK... Sebuah tamparan telah mendarat telak di pipi Jalal. “Kau gila atau bagaimana? Kau kira aku wanita murahan yang bisa kau sentuh kapan saja. Menjijikkan sekali peringai mu itu.” bentak Jodha keras. Jalal memegang pipinya yang mulai panas karena tamparan Jodha tadi. Rahangnya seketika mengeras dan giginya bergemeletuk. “Dasar gadis tidak tau diri. Sudahku selamatkan berulang kali nyawamu tapi kau melakukan ini pada malaikatmu? Baiklah dengarkan aku baik-baik. Aku akan menikahimu dan menjadikan ratu di istanaku. Tapi kau harus ingat, kalau kau hanya akan menjadi dasi bagi ratu ku dan juga semua penghuni harem. Setelah itu, Amer akan menjadi daerah kekuasaan Mughal. Kau mau menerima pernikahan ini atau tidak, aku tidak akan peduli. Yang jelas aku akan menikahimu. Dan sekarang juga, agar kau puas. Maka aku akan membebaskan Bhaisamu. Ingat Jodha... Tamparan ini adalah tamparan pertama kalinya dalam sejarah hidupku. Sebelumnya, tidak ada yang pernah berani menamparkan dengan kasar sepertimu. Lihat bagaimana caraku membalas perbuatanmu.” Kata Jalal dengan keras. Bahkan mungkin Bhaisanya juga mendengar sentakan Jalal tadi. Jalal keluar sambil menyuruh pada Algojonya membebaskan Sujamal dan Maansing.

* * * * *

Jodha tersenyum lega dan memeluk keduanya. Setelah kematian ayah mereka, sekarang mereka hanya hidup bertiga. Tidak ada yang akan bisa mendengar setiap keluh kesah yang mereka alami. Dulu, Bharmal yang selalu mendengar setiap curahan hati anak-anaknya. Tapi sekarang, semua penderitaan itu harus di pendam seorang diri dalam hidupnya.

“Bhaisa... Aku senang kalian bisa bebas.” ucap Jodha penuh haru. Air matanya juga ikut menetes mengiringi ucapannya itu. Tapi kali ini, air mata itu bukanlah air mata bahagia, melainkan air mata kesedihan. Bagaimana tidak? Setelah Bhaisanya terbebas, maka berarti Jodha harus menikah dengan Jalal.

Ketika sebuah pernikahan hanya di landasi dengan suatu keinginan tertentu saja, makam bagaimana rumah tangga mereka akan berjalan layaknya rumah tangga sungguhan. Semuanya mungkin memang telah takdir dari dewa untuk dirinya. Tapi Jodha masih belum percaya jika semuanya berjalan secepat ini. Kenyataan takdir akan merenggut semua kebahagiaannya. Menjadi dasi dalam istana suaminya sendiri, itu bukanlah hal yang mudah. Setiap seseorang memang belum tentu menginginkan jabat yang berpredikat tinggi, tapi mereka hanya ingin di hargai menjadi seorang manusia.

“Kau kelihatannya bahagia sekali Jodha karena kami telah bebas. Coba katakan pada kami, apa yang kau katakan pada Jalal sehingga dia mau membebaskan kami.” tanya Maansing sembari merenggangkan pelukannya.

“Lihatlah Maansing, Jodha sampai menangis karena terlalu bahagia hari ini. Kami selalu berharap, kau akan tetap bahagia selamanya Jodha.” Timpal Sujamal.

Jalal menghampiri mereka dan berpura-pura tersenyum hangat pada mereka. Ia memeluk Sujamal dan Maansing bergantian. Sujamal dan Maansing, hanya berpikir sendiri dalam bathin mereka. Entah apa yang sedang terjadi pada raja Mughal yang kejam itu.

“Aku senang sekarang kalian sudah bebas. Dan aku juga mempunyai kabar bagus untuk kalian.” ujar Jalal menatap ke arah Jodha. Sementara Jodha tertunduk merenungi nasib yang sebentar lagi akan menimpa dirinya.

“Berita apa itu Jalal. Kelihatannya kau sangat gembira sekali ingin segera memberitahukan berita itu.” tanya Sujamal ingin tau.

“Raja Mughal, Jalalludin Muhammad Akbar akan segera menikahi putri Amer, Jodha Bai.” Jalal berkata dengan keras sambil tersenyum bangga pada dirinya sendiri. Maansing dan Sujamal terheran dan saling pandang mencari kebenaran dari kata-kata Jalal tadi.

“Jodha telah mengakui perasaannya padaku. Dan aku pun juga mempunyai perasaan yg sama dgnnya. Jadi untuk menjalin hubungan kekerabatan kita lebih akrab lagi, maka aku memutuskan untuk menikahi Jodha secara resmi. Dia akan menjadi ratu di kerajaan Mughal.”

“Bhaisa... Aku mohon maaf tidak mengatakan hal ini sebelumnya pd Bhaisa. Aku benar-benar mencintai Jalal. Dia telah berulang kali menyelamatkan nyawaku. Aku ingin membangun rumah tangga bersamanya.” Jodha angkat bicara. Jalal tersenyum senang & mencium pipi Jodha sekilas untuk membuktikan bahwa mereka saling mencinta & akan hidup bahagia. Seandainya tdk ada kedua Bhaisanya, mungkin saja Jodha sudah mendaratkan beberapa kali bogeman dahsyatnya pada Jalal. Jodha tersenyum hambar padanya.

Entah bagaimana cara Jodha mengekspresikan kesedihannya. Hanya memendamnya jauh di lubuk hati yang paling dalam. Menyembunyikan segala rasa sakit dan penderitaan yang kian mendekat padanya. Kehidupan bukan lagi hal yang indah baginya. Mimpi mungkin adalah hal yang akan menjadikan dirinya sebagai seorang Wonder Women yang harus selalu siap menghadapi uji coba dalam kehidupannya. Saatnya telah datang, untuk mengatakan pada dunia bahwa dia adalah wanita tangguh dan tahan banting. Tak peduli seberapa berat beban yang akan menimpanya, dengan tetap mengingat sang dewa maka ia akan selalu berada dalam lindungannya. Bukan air mata yang harus menetes, melainkan sebuah senyum manisnya yang harus melengkung dibibir indahnya. Buktikan bahwa dia adalah seorang pendekar yang hebat, kuat, gagah, tangguh dan tegar. Cinta mungkin tidak memihak padanya, tapi dewa yang selalu memberikan cintanya pada Jodha.

“Jodha... Kau jangan berbohong pada kami. Katakan saja apa yang ingin kau katakan. Kalau kau tidak mencintainya, maka katakan saja. Kami akan selalu melindungimu. Kau harus bahagia Jodha.” Jelas Sujamal sambil memegang pundak Jodha. Maansing juga memberikan wejangan pada Jodha. “Ketahuilah Jodha.... ketika kau sudah menikah dan mempunyai suami. Maka kau harus tinggal bersamanya selamanya. Kau tidak bisa kembali ke Amer lagi apapun yang terjadi pada pernikahanmu. Sebuah rumah tangga harus dilandasi dengan cinta. Bukan dengan keinginan tertentu ataupun paksaan dari pihak tertentu. Karna setelah kau menikah, kau harus bisa menjadi istri yang selalu patuh pada suamimu. Kau di wajibkan untuk selalu menaati semua perintahnya.”

Jodha tersenyum dan menjawab dengan begitu antusias. “Tentu saja Bhaisa. Setelah aku menikah dengan Jalal nanti... Maka aku tidak akan pernah kembali ke Amer lagi. Aku juga akan meninggal disana.”

“Apa maksudmu Jodha?” sergah Maansing.

“Bhaisa... Jika aku sudah menikah dengan Jalal, maka aku harus tinggal di Agra bersamanya. Melayani suamiku, dan semua penghuni istana. Aku juga akan meninggal di sana. Karena setelah seorang wanita bersuami, maka ia akan menetap dimanapun suaminya itu tinggal.” Terang Jodha.

“Tidak usah khawatir dengan Jodha. Aku akan menjaganya dengan baik. Dia akan menjadi ratu Mughal. Aku sangat mencintainya, tidak mungkin aku membuatnya menderita.” kata Jalal santai.

Maansing dan Sujamal tersenyum. Mereka masih tidak habis pikir dengan keputusan Jodha untuk segera menikah secepat ini. Biasanya Jodha selalu menolak para pangeran yang datang untuk melamarnya, meski para pangeran itu terbilang tampan dan berkekuasaan tinggi. Mungkin angin yang berhembus membuat Jodha merubah pikirannya untuk segera menikah.

“Kalau begitu kapan kau akan melangsungkan pernikahanmu?” tanya Sujamal dengan sumringah sejuta semangat baru menghampirinya, begitu mendengar adiknya akan segera menikah.

“Segera. Kami akan segera melangsungkan pernikahan di Amer dua hari lagi. Aku sudah tidak sabar untuk segera membawa Jodha ke Agra.” jawab Jalal cepat.

“Aku... Aku akan menikah dengannya dua hari lagi Bhaisa. Aku mohon doa dan restu darimu. Doakan semoga pernikahanku akan membawa kebahagiaan bagi kita.” Jodha menyentuh kaki Sujamal dan Maansing bergantian. Mereka tersenyum dan meletakkan tangan mereka di atas kepala Jodha.

“Doa kami selalu menyertaimu Jodha. Semoga dewa memberkati pernikahanmu. Kami akan bahagia jika kau bahagia. Kami sangat menyayangimu.” Ujar Sujamal. Maansing mengangguk. Jodha tersenyum dan memeluk mereka kembali. Ini adalah pelukan terakhir mereka. Kebersamaan mereka akan segera berakhir setelah ini. Jodha harus menempuh jalan hidupnya sendiri. Meniti hidup yang sebenarnya melalui ikatan suci pernikahan.

* * * * *

Hari pernikahan yang telah di tetapkanpun tiba. Jodha tampak sedang dirias oleh pelayannya dengan polesan-polesan make up yang terlihat menyatu dengan warna kulit Jodha yang putih. Ia hanya memperhatikan bayangannya melalui refleksinya di cermin. Wajahnya tampak datar tanpa ekspresi. Matanya tampak kosong tanpa bayangan. Tidak seperti layaknya seorang pengantin pada pernikahan pada umumnya. Mereka yang menikah dilandasi dengan perasaan cinta, maka akan terlihat begitu ceria dan bersinar. Bahkan cahaya matahari pun akan kalah tanding dengan pancaran sinar kebahagiaan yang mewarnai pipi mereka. Tak ada kesenduan dalam hidup mereka.

Tapi Jodha terlihat sebaliknya. Ia hanya terdiam seribu kata. Tak sedikitpun keluar kata-kata dari bibir indahnya. Hatinya terasa memboncah terasa tergoncang hebat bagai gempa besar yang tengah melanda.

“Tuan putri kau terlihat cantik sekali. Tetapi kau begitu terlihat sangat tenang saat ini. Maaf... Apakah anda tdk menyetujui pernikahan ini? Seluruh bangsa Rajput juga sangat menentang pernikahan ini, termasuk Raja Pratap Sing. Ia tidak hadir dlm pernikahan anda. Padahal anda adalah keponakannya.” jelas si pelayan dengan sopan.

~~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~~

The Princess In The War Chapter 4

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.