The Princess In The War Chapter 5 - ChusNiAnTi

The Princess In The War Chapter 5


Versi Alsi Chapter 13 - 14
By Viona Fitri

“Aku harus menerima pernikahan ini Moti. Kau tau kenapa aku menerimanya?” tanya Jodha datar. Moti menggeleng. “Kalau aku tidak menerima pernikahan ini, maka Bhaisaku tidak akan di bebaskan. Mereka akan diikat terus menerus, tanpa memperhatikan menderitanya Bhaisaku. Rakyat Amer juga akan hancur dan berantakan, jika aku tidak menerima pernikahan ini.” Jelas Jodha. Moti dan Reva yang saat itu merias Jodha, tampak sedih mendengar penjelasan Jodha. Mereka ingin membantu meringankan beban Jodha, tapi mereka hanyalah seorang pelayan yang lemah dan tidak berdaya.

“Tuan putri, anda sekarang sudah selesai dirias. Mari, kita akan segera ke halaman pesta.” Reva mempersihkan. Jodha mulai bangkit dan menutup wajahnya dengan Dupatta (penutup kepala atau dada pada wanita India). Moti dan Reva mengiringi di sisi Jodha. Langkah Jodha tampak lemah tanpa daya. Serasa beban berat sudah berada dalam tanggungannya. Semakin dekat dengan halaman pesta pernikahannya, semakin jantungnya berdebar tidak karuan lagi. Semua rasa takut, khawatir, dan panik bercampur menjadi satu. Dadanya terasa sesak untuk melangkah lebih dekat pada Jalal.

Melihat ke datangan Jodha, Jalal mengulurkan tangannya dan menggandeng tangan Jodha. Jalal tersenyum penuh kemenangan, pada sosok gadis di depannya. Hanya senyuman getir yang Jodha keluarkan saat itu.

Pandit Ji mulai melakukan ritual-rituan pernikahan dalam Hindu. Melakukan sumpah tujuh pheras serta mengelilingi api suci. Janji yang telah di ucapkan Jodha untuk selalu mengabdi dan setia pada Jalal, bagai kabut gelap dalam kehidupannya. Tenggorokannya terasa tercekat mengucapkan janji itu. Setelah semua ritual di lakukan, Jalal membuka penutup kepala Jodha dan mencium keningnya lama. Air mata menetes dari mata Indahnya. Jalal seperti tersihir oleh mantra kecantikan Jodha, yang membuatkan terasa tersesat jauh dalam pandangannya.

Entah air mata apa yang telah mengalir dari sudut mata Jodha. Melihat upacara pernikahan telah selesai dilaksanakan, Maansing dan Sujamal menghampiri mereka dan memberikan ucapan selamat pada mereka berdua. “Jalal, sekarang jagalah adikku dengan baik. Kau sudah menjadi suaminya. Apapun yang ada pada kalian adalah milik bersama. Sekarang, Amer adalah milikmu juga. Jangan pernah membuat adikku menangis lagi.” ucap Sujamal lembut.

“Bhaisa kau tidak perlu khawatir pada Jodha. Aku pasti akan menjaganya dengan baik. Kami saling mencintai satu sama lain. Kebahagiaan Jodha adalah kebahagiaanku juga.”

“Jodha... Kau sudah menjadi seorang istri sekarang. Kau harus belajar mematuhi setiap perintah suamimu apapun itu. Bhaisa selalu berdoa agar dewa memberkatimu dengan banyak anak dalam pernikahan kalian.” tambah Maansing.

Jodha meleluk kedua Bhaisanya dan menangis sesegukan untuk yang terakhir kalinya dengan mereka. “Hiks... Hiks... Aku akan segera pergi bersama suamiku. Aku pasti akan sangat merindukan Bhaisa. Jika aku merindukan Amer, apa aku boleh kembali untuk bertemu Bhaisa?” tanya Jodha penuh harap. Maansing dan Sujamal hanya tersenyum mendengar pertanyaan Jodha. “Kenapa tidak? Kau juga adalah keluarga Amer. Jodha... Kau boleh kapan saja kembali ke Amer, saat kau merindukan kami. Aku telah memerintahkan Moti & Reva untuk tetap melayanimu di Agra. Kau tdk akan merasa kesepian disana. Mereka akan selalu ada bersama mu.” kata Sujamal seraya merenggangkan pelukan mereka.

“Kalau begitu, kami akan segera kembali ke Agra. Ibuku & para ratuku, pasti sudah tidak sabar untuk melihat wajah cantik ratu baruku. Permisi.” Jalal menggandeng tangan Jodha & membawanya masuk ke dlm tandu. Sujamal & Maansing tersenyum & melambaikan tangan mereka pd Jodha.

* * * * *

Senja mulai tiba dlm perjalanan mereka. Tampak mentari yg mulai tenggelam secara perlahan memasuki tempat peraduan mereka. Jalal beserta rombongan menghentikan perjalan mereka & membangun tenda untuk sementara.

Setelah tenda telah berdiri, Jalal memasuki kamarnya. Tapi tiba-tiba kini teringat olehnya, kalau saat ini ia tidak seorang diri. Dimana Jodha? Kenapa dari tadi ia tidak keluar dari dlm tandu?

Hujan datang secara tiba-tiba & mengguyur tenda mereka. Jalal berbalik pada tandu yg sudah turun sejak tadi. “Ternyata dia tertidur di dalam tandu. Dia pasti sangat kelelahan sekali. Aku akan membawanya ke kamar.” Jalal membopong tubuh Jodha memasuki kamar. Jodha terlihat menggeliat setelah tubuhnya telah terbaring di kasur milik Jalal. “Kalau dia tidur disini maka aku akan tidur dimana?” tanya Jalal seraya mulai memikirkan jalan keluarnya.

Tiba-tiba Jodha terbangun, ketika di rasakannya, ada tangan kekar yg mulai memeluk dirinya. Udara memang sangat dingin saat itu, karna di luar hujan sangat deras sekali. “Dia pasti akan sangat kedinginan sekali.” Bathin Jalal. Kedua tangan kekarnya telah melingkar di pinggang Jodha yg tertidur membelakanginya. Jodha tau itu, tapi ia tetap ingin berada dlm dekapan Jalal seperti itu.

* * * * *

Keesokan paginya, tampak mentari masih malu-mulu untuk menampakkan dirinya. Burung-burung yang berkicau seakan menambah keramaian di pagi buta seperti ini di temani dengan tetesan-tetesan embun yang sejuk di pagi itu. Tak di sangka, malam telah berlalu begitu cepat. Jalal dan Jodha masih tertidur nyenyak di kamar mereka. Sepasang tangan kekar Jalal masih melingkar di pinggang Jodha, sementara tubuh Jodha tertidur menghadap Jalal. Sintar mentari pagi nampaknya enggan bersahabat dengan suasana romantis mereka itu. Jalal terbangun dan mengerjapkan matanya berulang kali untuk mengumpulkan memori ingatannya yang sudah tercecer akibat hujan deras semalam. Jalal melihat dihadapannya, tampak Jodha masih tertidur sangat lelap sekali. Ia memegang kuat kurta Jalal. Bahkan dalam tidur sekalipun, Jodha tidak melepaskan genggamannya pada kurta Jalal.

“Kenapa dia belum bangun juga? Dia pasti sangat kelelahan karna perjalan panjang semalam. Kalau saja aku bangkit, maka ia akan terbangun. Lalu...” Jalal mencoba berpikir sejenak dan mendapatkan suatu ide yang menurutnya cemerlang. Perlahan kepala Jalal mulai mendekat ke arah bibir Jodha dan memiringkan kepalanya sedikit. Sebelum menyentuh bibir mungil itu, Jodha terbangun dan mendorong dada Jalal.

“Hah, apa yang ingin kau lakukan padaku? Kau ingin mencuri kesempatan untuk dapat menyentuhku kan?” tanya Jodha kesal.

“Kenapa memangnya? Lagi pula sekarang ini kau adalah istriku. Jadi, kenapa aku tidak boleh mencium istriku?” Jalal balik bertanya. Jodha semakin kesal dan bangkit dari tidurnya. “Aku tau kita sudah menikah. Tapi pernikahan ini hanya untuk urusan politik antara dua kerajaan. Kau menikahiku karna menginginkan Amer. Dan sekarang kau sudah dapatkan itu. Tapi aku hanya meminta satu permintaan saja padamu....” Jodha berbalik dan menatap Jalal penuh harap. “Tolong... Jangan meminta hakmu sebagai seorang suami, jika aku tidak menginginkannya. Maksudku... Kau jangan menyentuhku sebelum mendapat persetujuaan dari ku.”

Jalal bangkit dan menghampiri Jodha. Matanya terlihat sayu dengan harapan padanya. Ia hanya sebatang kara tinggal di Agra. Mata itu... Membuat Jalal tidak kuasa untuk berkata apapun selain setuju. Jalal mengangguk dan berkata. “Aku tidak akan pernah menyentuhmu jika tidak mendapatkan izin darimu. Tapi aku tidak bisa berjanji akan hal itu. Kalaupun suatu saat aku menyentuhmu, aku tdk akan pernah berdosa karnanya. Dan kau perlu tau satu hal Jodha. Di harem, aku mempunyai ratusan ratu lebih yg siap bermalam denganku. Sebaiknya, kau tidak usah bermimpi kalau aku akan terpikat olehmu.” Jalalpun keluar dari kamarnya & mulai bergegas untuk melanjutkan perjalanan panjang mereka.

* * * * *

Di dalam tandunya, tampak Jodha yg melihat keluar pandu tanpa bayangan. Entah apa yg sedang ia lihat & perhatikan. Matanya tampak kosong & tenang. Pikirannya melayang jauh mengingat kedua Bhaisanya. Ia merindukan mereka berdua, yg selalu ada untuknya. Menghibur di setiap kesedihan menghampirinya. Memberikan semangat hidup yang luar biasa untuknya. Tapi saat ini mereka sudah lenyap dari kehidupannya. Hanya ada satu harapan besar yg bisa merubah takdir hidupnya. Yaitu Jalal bisa mencintainya. Dan begitupun sebaliknya.

Diam-diam Jalal mencuri pandang pd Jodha yg berada di atas tandu. Gadis itu memang tampak sempurna segalanya. Tapi kepalanya tak pernah tertandingi dgn kerasnya batu sekalipun. Matanya memandang jauh ke arah langit yg tiada berujung. Memperhatikan burung-burung yg terbang dari sarangnya, & berkicau di atas dahan pohon kering. Menyanyikan sebuah lantunan melody indah yg membuat hatinya terasa sedikit lebih nyaman dari sebelumnya.

“Aku tdk tau apa yg menyebabkannya berubah setenang itu. Ia hanya terdiam sepanjang perjalanan. Patung dewa Krishna yg selalu di dekapnya, seakan membawa ketentraman hati baginya.” Bathin Jalal heran. Matanya terus tertuju pd sosok gadis yg berada di atas tandu itu.

“Ketika matahari mulai muncul. Semua mahkluk bersorak kegirangan menyambutnya. Ketika mlm mulai tiba, maka bintang & bulan yg akan menggantikan cahayanya. Tapi bagaimana dgn kehidupanku selanjutnya? Mlm akan tetap terlihat gelap menurut pandanganku. Bintang & bulan tdk ada lg di sampingku. Sekarang, aku hanya ibarat mentari pagi yg harus sendirian setiap hari. Mengeluarkan cahayanya sendiri tanpa ada teman di sekelilingnya.” Bathin Jodha juga. Matanya tak lepas dari langit biru di atas sana. Mereka seolah ikut bergerak mengikuti tandu Jodha berjalan.

* * * * *

Setelah menempuh waktu 2 hari dua mlm. Sampailah mereka di Istana Agra. Para rakyak Mughal sudah tdk sabar lg menanti ratu baru mereka. Tepian jalan menuju gerbang Istana di penuhi oleh masyarakat yg hendak melihat bagaimana rupa ratu baru mereka. Berita tentang menikahnya raja Mughal dgn tuan putri dari Amer, memang sudah sangat familiar di kalangan penduduk sejak 1 hari setelah pernikahan mereka.
~~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~~

The Princess In The War Chapter 5

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.