The Princess In The War Chapter 7 - ChusNiAnTi

The Princess In The War Chapter 7


Versi Alsi Chapter 20 - 22
By Viona Fitri

Malam itu badai turun sangat dahsyat dan besar. Tirai-tirai kelambu kamar Jodha tampak berliuk-liukan di terpa angin besar. Di kursi meja riasnya, dua orang pelayang sedang meriasnya dengan mengoleskan beberapa lapis bedan yang tampak menyatu dengan warna kulitnya. Jodha terduduk dengan manis, sambil menatap refleksi bayangannya di cermin rias. Ia tampak tenang sekali malam ini. Perasaannya menjadi tak karuan entah mengapa. Sudah berulang kali Jodha menarik nafas dan membuangnya perlahan, namun tak juga ketenangan itu menghampiri hatinya yang gundal gulana. Reva dan Moti hanya bertukar pandang menatap sendu ke arah Jodha. Mereka mengerti apa yang di rasakan Jodha saat ini. Menikah hanya demi urusan politik dua kerajaan tanpa di landasi rasa cinta dalam rumah tangga. Suaminya mempunyai banyak istri dan selir, yang selalu siap kapanpun suaminya akan bermalam dengan mereka. Tapi, kenapa ia tidak bisa menjadi seperti para istri yang lainnya? Dosa apa yang membuat rumah tangganya hancur seperti itu? Berjanji untuk menikah hanya sekali dalam hidupnya, adalah sumpah yang membuatnya harus merasakan karma di balik ucapannya sendiri. Bukan menikah, jika hanya merasa dalam neraka yang membakar jiwanya.

“Jodha...” kata Moti membuyarkan lamunan Jodha. Reva menatap pilu ke arah Jodha, yang seperti kehilangan raganya. Jodha menangguk dan bangkit . Ia menatap bayangannya di cermin rias besar di hadapannya. “Terimakasih telah membantuku merias. Aku pergi dulu...” Jodha tersenyum tipis pada kedua pelayannya dan kemudian berjalan keluar menuju pintu kamar.

* * * * *

Hanya satu langkah lagi menuju kamar Jalal. Langkahnya terasa semakin berat menentukan langkah yang akan segera di ambilnya. Pakaian Mughal itu, tampak begitu bersinar melekat pada tubuh indahnya. Kakinya bergemetar hebat untuk melangkah satu langkah lagi memasuki kamar Jalal. Dua orang pelayan datang menghampiri Jodha dan menuntun Jodha untuk segera memasuki kamar Jalal.

“Selamat datang ratu Jodha di kamarku.” sambut Jalal begitu melihat Jodha yang telah berada di kamarnya di dampingi oleh dua pelayannya. Kedua pelayan itu memberi salam pada Jalal dan bergegas pergi meninggalkan mereka.

“Terimakasih. Sekarang aku harus harus melakukan apa?” tanya Jodha yang masih berada jauh di ambang pintu. Jalal menghampiri Jodha dan membawanya untuk duduk di tepi ranjang. Benar-benar luar biasa. Jodha tampak begitu cantik dan sangat memikat di matanya. Entah apa yang membuat Jodha tampak berbeda dari ratunya yang lain. Dengan jarak dekat seperti itu, Jalal bisa melihat dengan jelas setiap inci wajah bersinar Jodha dalam balutan pakaian Mughal dan polesan make up yang melekat sempurna di wajah cantiknya.

“Aku ingin bercerita sesuatu padamu. Kau ingin mendengarnya?” tanya Jalal yang hanya di balas anggukan oleh Jodha.

Jalal menarik nafasnya sejenak sambil tatapannya tak pernah lepas dari wajah bidadari di sampingnya itu. “Aku sangat beruntung bisa menikah denganmu. Kau sangat cantik dan menarik bagi setiap pria yang melihat dirimu. Ratu Jodha... Aku ingin bercerita tentang keberuntungan seorang raja. Aku pernah mendengar cerita ini dari ibu. Dahulu kala... Seorang raja yang besar mempunyai seorang istri cantik seperti dirimu. Raja itu selalu menang dalam setiap kali pertempuran, karena doa istrinya. Ratu Jodha....” Jalal memegang wajah Jodha untuk menatapnya. “Aku juga merasa beruntung memiliki mu. Kau benar-benar sangat cantik sekali. Aku bahkan sulit untuk bisa melukiskan wajahnya di atas selembar kanvas.” rayu Jalal yang kian mendekatkan wajahnya pada Jodha.

“Aku kagum dengan rayuanmu. Bahkan setiap wanita yang kau rayu, pasti langsung bertekuk lutut padamu. Dan setelah itu.... Kau akan mencampakkan wanita yang telah berhasil kau dapatkan itu.” kata Jodha tenang. Kemudian Jodha melepaskan tangan Jalal yang memegang pipinya. Jodha sudah mengetahui bahwa saat ini, Jalal tengah mencapai puncak emosinya. Ego Jalal pasti terluka mendengar kata-kata pedas yang ia lontarkan tadi.

“Luar biasa ratu Jodha. Kau benar-benar sangat pintar sekali. Baru beberapa hari kau tinggal disini, kau sudah mengerti semua sikapku.” balas Jalal tenang tanpa emosi. Lalu tiba-tiba Jalal melanjutkan perkataannya dengan berteriak keras. “Hebat. Dengan begitu kau sudah menghina suamimu sendiri, hah? Tak bisakah kau menjaga kata-kamu yang pedas seperti itu.”

Jodha tertegun dan nampak takut oleh amarah Jalal yang membuat tubuhnya merasa bergetar. Ia meremas ujung dupattanya dan menatap Jalal dgn tatapan sayunya. “A... Aku tdk bermaksud mem... Membuatmu marah seperti ini.” ucap Jodha terbata. Suaranya gemetaran. Jalal berdiri menarik tangan Jodha dan mendorong ke arah kursi kayu di kamarnya. Malangnya, Jodha memebentur tepian kursi dan menyebabkan keningnya mengalir cairan merah segar dan membuat bekas memerah di sekitar lukanya. Jodha meringis kesakitan memegang keningnya.

“Sakit... Dia benar-benar kejam dan tdk berperasaan.” bathin Jodha. Jalal masih dgn emosinya yang memuncak menarik lengan Jodha dgn kasar. Jodha menarik dupattanya dan menutupi sebagian wajahnya dgn takut. “Kau berani sekali berkata seperti itu padaku ratu Jodha. Aku adalah seorang raja dan suamimu. Apa kau telah melupakan hal itu?” tanya Jalal menggema.

Jodha memalingkan wajahnya sedari tadi dari Jalal. Ia tdk ingin merasa lemah di mata Jalal, meskipun ia memang sudah tdk berdaya dan terluka. “Kenapa kau tdk menatap ku ratu Jodha? Aku sedang berbicara padamu?” jalal semakin dilanda oleh gemuruh emosi yang telah berhasil menjiwainya. Ia memegang wajah Jodha dan memalingkan ke arahnya. Rembesan darah segar dan air mata mengalir membasahi dupattanya. Jodha terisak namun berusaha menghalau tangisnya yang telah meledak.

“Inilah akibat dari lidah silet mu itu ratu Jodha. Kau sudah membuatku marah.” kata Jalal sambil mencekram kuat rahang Jodha. “Tidak apa Jalal. Aku tdk pernah menyesal mengatakan hal itu padamu. Kau memang harus tau kebenaran dirimu seperti apa. Kalau saat ini kau ingin melampiaskan segala amarahmu padaku, maka... Lakukan saja!”

“Sudah terluka, masih saja menyombong. Aku bisa membuatmu merasakan hal yang lebih kejam dari pd ini.”

“Aku tdk perduli. Lakukan saja saat ini!”

“Baik. Aku akan segera melakukan itu padamu...” Teriak Jalal tepat di telinga Jodha.

“Jalal...” seseorang masuk ke kamar Jalal tanpa izin. Cepat-cepat Jalal melepaskan tangannya yang mencekram rahang Jodha. “Kau apakan dia? Kenapa dia bisa terluka seperti itu?” tanya Ruqayah heran. Ia terus saja menatap ke arah kening Jodha yang mengalir darah segar. “Tidak. Sudah kau tdk perlu tau apa yang terjadi. Katakan padaku, untuk apa kau datang kemari?” Jalal mengajak Ruqayah duduk di tepi ranjang, sementara Jodha masih membeku di tempatnya berdiri tadi.

“Aku ingin tidur bersamamu Jalal. Bisakah aku tidur di kamarmu?” rengek Ruqayah manja. Jalal tersenyum dan menjawab dengan senang. “Kenapa tidak? Kau boleh kapan saja datang ke kamarku. Kita akan menghabiskan malam kita bersama.”

“Tapi bagaimana dengan ammijaan? Kalau dia tau pasti aku akan di marahinya nanti.”

“Tidak mungkin ammijan tau sayang. Kecuali dasi itu mengatakannya pada ammijan.” kata Jalal dengan nada tebal sambil menatap Jodha.

NYES...
Rasanya kata-kata dasi itu menambahkan luka baru di hati Jodha. Sudah bertumpuk ribuan luka yang belum sembuh dalam hatinya, kini luka itu bertambah lagi dan lagi. Kalaupun Jalal memang hanya menganggapnya seorang dasi, tapi tak bisakah ia tidak menceritakan hal itu pada orang lain, dan cukup menjadi rahasia untuk mereka berdua?

Ruqayah tampak tersenyum menang menatap Jodha. Tidak ada reaksi apapun dari Jodha. Ia tampak berusaha menyembunyikan wajahnya dari dupattanya yang transparan. Air matanya terlihat sangat jelas, meskipun hanya cahaya temaram dari lilin yang menerangi ruangan itu.

“Aku tidak akan mengatakannya pada ammijan. Kalian tidurlah, aku tidak akan menggangu.” sahut Jodha pelan.

Ruqayah dan Jalal segera naik ke atas ranjang dan tertidur dengan saling memeluk. Jodha terduduk di sisi kursi sambil menutup mulutnya yang terisak hebat. Jalal masih terjaga dalam tidurnya. Ia melirik sejenak ke arah Jodha yang terduduk di sisi kursi.

“Kenapa hidupku menjadi hancur seperti ini? Aku harus menikah dengan orang sepertinya. Ya dewa... Berikan petunjukmu, agar aku bisa percaya bahwa jalan yang ku pilih ini benar.” Jodha memegang dadanya yang terasa sangat sesak. Kegelapan yang terhalangi oleh kabut tebal, tengah menyelimuti rumah tangga mereka. Ia mengusap darah yang sejak tadi sudah merembes keluar dupattanya.

“Apakah aku terlalu kasar padanya? Dia menangis karna ku. Dia terluka karna ku. Aku tidak pernah sekasar ini pada seorang wanita sebelumnya. Dia seperti menguasai setengah jiwaku.” Gumam Jalal dalam hati.

Jodha berdiri beringsut menuju jendela kamar Jalal yang terbuka. Dia termenung menatap bulan dan bintang yang tidak hadir saat badai seperti ini. Siluet wajahnya tampak indah hanya di temani cahaya temaram lilin di ruangan itu. Jodha melihat cincin pernikahan mereka, yang melekat di jari manisnya.

“Ini bukanlah ikatan suci untuk membangun rumah tangga yang indah seperti impianku. Cincin ini sebagai bukti, neraka yang selalu melingkariku. Kekejaman selalu menyiksaku. Dan karena cincin ini juga... Kebahagiaanku telah hilang entah kemana lagi. Untuk apa aku hidup lebih lama seperti ini? Aku akan meminta Jalal menceraikanku...” ujar Jodha lemah. Tapi suaranya yang lemah itu mampu terdengar sampai di telinga Jalal.

Jalal bangun dgn sangat berhati-hati dan menurunkan tangan Ruqayah dari dada atletisnya. Ia beranjak menghampiri Jodha dan memeluknya dari belakang. Anehnya Jodha hanya diam tanpa ada perlawanan sama sekali.

“Maafkan aku. Bukan maksudku ingin melukaimu. Tolong jangan katakan tentang perceraian itu.” bisik Jalal dgn lembut.

“Mudah untuk mengucapkan maaf Jalal. Tapi kau tdk tau sulitnya memaafkan. Maaf aku msh tetap berada di kamar ini. Aku hanya tdk ingin, ada pelayan yang melapor bahwa aku tdk jd bermlm di kamarmu. Ammijana, pasti akan kecewa padaku.” kata Jodha lemah.

Jalal semakin mempererat pelukannya pd Jodha. Diluar badai masih sangat dahsyat, tubuh Jodha serasa menggigil tk karuan lg. “Aku akan segera tidur.” Jodha melepas pelukan Jalal yang melingkar di pingganggnya. “Kau sudah memaafkanku?” tanya Jalal penuh harap. Jodha hanya menatapnya sesaat, kemudian beringsut menuju kursi panjang di sana. Ia membaringkan tubuhnya perlahan. Udara dingin itu sangat memabukkan sekali. Seluruh bulu kuduknya berdiri tegak karna menggil. Sesaat kemudian, ruangan hening tanpa ada yang bersuara lagi. Jodha sudah tertidur di kursi panjang itu. Sementara Jalal masih aring-aringan kesana kemari mencuri pandang pada Jodha, yang tampak pucat sekali. Bagaimana ia bisa tidur dengan tenang memakai selimut tebal, sementara Jodha hanya merapatkan tubuhnya dengan balutan dupattanya.

Jalal menghampiri Jodha dan berjongkok di hadapannya. Di tangannya, ada sebuah selimut tebal yang baru saja di ambilnya dari dalam lemari. Bibir Jodha tampak bergetar hebat menahan daya tahan tubuhnya yang mulai menurun. Secepatnya, Jalal menyelimuti Jodha dengan selimut yang di bawanya tadi. “Aku tidak tau mengapa aku bersikap begitu kasar padamu. Terkadang, aku merasa lelah harus bersikap layaknya seorang raja. Aku adalah seorang suami yang harus berlaku adil pada semua istriku. Ratu Jodha... Kau tidak mengerti kenapa aku bisa sekasar itu padamu. Sekarang... Kau tidurlah yang nyenyak. Bermimpilah yang indah di dunia mimpimu. Jangan pernah bicarakan tentang soal perceraian lagi. Aku tidak akan pernah menceraikanmu.” ucap Jalal lirih, kemudian mencium kening Jodha dan menyentuh luka benturan kursi tadi. Luka itu masih memerah dan darahnya pun sudah tampak kering. Jalal keluar dan memerintahkan pelayan untuk segera membawakan salep luka. Mereka mengangguk dan melaksanakan tugas dengan patuh.

* * * * *

Jalal mengobati luka Jodha hati-hati. Sesekaki terdengar suara rintihan kecil dari bibir mungil Jodha yang terkatup rapat dalam tidurnya. “Aku menyesal melakukan ini. Kau sangat kesakitan hanya karna aku. Kenapa kau tidak melawan ku sama sekali? Biasanya kau selalu menentangku dan berbalik melawanku.” Jalal tersenyum pada sosok gadis yang terbaring di kursi panjang itu. Ia mengecup bibir Jodha yang bergetar itu cepat. Ruqayah tanpa sengaja terbangun dan melihat hal itu. Ia meruntuk dalam hati. “Kau sudah membohongiku Jalal. Kau bilang tidak mencintainya, tapi kenapa kau menciumnya, hah? Sekarang aku tau, ratu Jodha pasti sudah mulai masuk ke dalam daftar wanita di hatimu. Kau bahkan tidak pernah seperduli itu, saat aku sakit. Ratu Jodha.... Jangan salahkan aku jika suatu saat akan membuat mu hidup dengan sengsara dalam istana ini. Kau lihatlah pembalasanku yang akan datang....” Ruqayah kembali memejamkan matanya untuk kembali ke dlm dunia mimpinya.

Jalal bangkit dan naik ke atas ranjang sambil kembali mendekap Ruqayah dlm dadanya. Rasa itu tiba-tiba hilang begitu saja. Kenapa ia lebih nyaman memeluk Jodha dari pd Ruqayah? Kemana rasa kebahagiaannya dulu, begitu memeluk Ruqayah dlm dekapannya? Jalal berusaha berpikiran positif dan kembali melanjutkan tidurnya.

* * * * *

Pagi itu, Jodha sudah terbangun dari tidur panjangnya. Ia membuka mata dan mencoba membiasakan pandangannya yang tampak mulai jelas dari sebelumnya. Ruqayah dan Jalal masih terlelap di atas ranjang mereka dgn damai.

Ketika hendak bangkit, Jodha merasa sangat pusing akibat benturan semlm. Selimut yang membalutnya, tampak mulai menggeser turun sampai ke kakinya, yang telah menjuntai ke lantai. Ia memang dahinya, dan mendapati salep luka di keningnya.

“Siapa yang telah memberikanku selimut dan juga salep ini? Apakah Moti dan Reva semlm datang dan mengobatiku? Ataukah.... Jalal?” Jodha buru-buru sadar dari ucapannya yang mulai asal. “Ah tdk mungkin pria kejam itu yang mengobatiku. Dia tdk punya hati, bahkan tdk bsa mengobati siapapun orang yang telah di sakitinya. Dia adlh orang yang hanya tau memberi luka, tapi tdk bsa mengobatinya.” bathin Jodha.

Jalal terbangun, ketika kilauan cahaya mentari pagi itu jatuh tepat di matanya. Ia mulai mengerjapkan matanya. Ruangan itu masih hening tanpa ada seorangpun yang bersuara. Tampak Ruqayah masih tidur dgn lelap, dgn tangannya bergelayut manja di leher Jalal.

Jodha menghampiri Jalal untuk segera mohon undur diri dari sana. “Jalal... Aku akan segera kembali ke kamarku.” pamit Jodha sambil melangkah meninggalkan Jalal yang hanya mengangguk membalas ucapannya.

Terasa ada sesuatu yang mulai menjalar di sekujur tubuhnya. Ingin sekali rasanya membuat tembok tebal untuk menutup hatinya bagi Jalal. Tapi, entah knpa tembok itu seperti selalu roboh ketika hendak selesai membentuknya.
~~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~~

The Princess In The War Chapter 7

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.