The Princess In The War Chapter 8 - ChusNiAnTi

The Princess In The War Chapter 8


Versi Asli Chapter 23 - 25
By Viona Fitri

Pagi itu setelah Jodha melakukan poojanya, tampak ia terduduk di kursi meja rias sambil termenung jauh entah kemana. Membayangkan tentang malam itu. Malam dimana Jodha harus melihat sendiri dengan mata kepalanya bahwa suaminya tidur bersama istri selain dirinya. Air matanya nyaris mengalir lagi membasahi pipi. Hatinya bagai hancur berkeping karna kejadian yang telah merenggut segala kesenangan dari hidupnya. “Hiks... Hiks... Sebegitu kuatkah aku melihat suamiku tidur bersama istri lainnya selain diriku? Aku tidak pernah mengharapkan pernikahan seperti ini. Menikah dengan seorang raja yang mempunyai banyak istri. Seorang raja mungkin bebas melakukan apapun yang dia inginkan. Tapi seorang suami yang beristri banyakpun harus membagi waktunya untuk istrinya yang lain lagi. Hiks... Hiks... Hiks...” sesal Jodha dalam isakan nya. Tanpa di sadari, Jalal sedari tadi sudah berada di ambang pintu dan mendengar semua perkataan Jodha. Wanita itu terluka luar dalam karnanya. Menikah dengan seorang raja adalah suatu impian, tapi mempunyai suami yang berpangkat sebagai raja dan mempunyai banyak istri, bukanlah keinginannya.

Jalal menyeka air mata Jodha yang mengalir di pipinya. Jodha mendongak dan tambah terisak memandangi Jalal yang terlihat simpati padanya. Pria itu hanya menaruh simpati untuknya, bukan cinta ataupun perasaan untuk menyayangi yang sebenarnya.

“Kenapa kau selalu saja menangis ratu Jodha? Tak bisakah kau tidak menangis untuk sehari saja?” tanya Jalal yang menyeka air mata di pipi Jodha.

“Jalal, tak bisakah kau menceraikan ku? Aku ingin hidup bebas tanpa bayangan ketakutan setiap hari. Seorang dasi, tidak akan berarti apapun kan, bagi tuannya?” tanya Jodha akhirnya. “Kalau kau tidak berusaha untuk mencintaiku, lalu untuk apa aku tinggal di istana ini lebih lama lagi?”

Seorang dasi datang ke kamar Jodha dengan menyampaikan sebuah pesan. “ Salam yang mulia ratu Jodha, ratu Ruqayah memintaku untuk menyuruh mu segera menemui ratu Ruqayah di kamarnya. Pranaam.” Pelayan itu kemudian berlalu setelah menyampaikan pesannya.

Jodha berpikir sejenak apa yang akan di lakukan ratu Ruqayah padanya. Sepertinya Jodha tidak melakukan kesalahan apapun padanya. “Aku pergi dulu Jalal. Pranaam” Jodha berlalu menuju kamar ratu Ruqayah, sementara Jalal juga tampak berpikir keras apa yang akan di lakukan ratu Ruqayah pada Jodha.

Di kamar ratu Ruqayah tampak tiduran sambil menyandar di kepala tempat tidur. Ia tersenyum begitu Jodha telah memasuki kamarnya. “Salam ratu Ruqayah. Ada apa kau memanggilku untuk datang menemuimu?” tanya Jodha perlahan.

“Kau taukan ratu Jodha apa posisimu di Istana ini. Jalal hanya menganggapmu sebagai seorang dasi. Bahkan, kau sendiri mendengarnya semalam. Lihatlah keningmu yang terluka itu ratu Jodha, kau tau? Jalal benar-benar hanya menganggapmu seorang dasi saja. Dia bahkan sudah mengatakan padaku beberapa kali. Dan aku tak bisa melupakan hal itu.” kata Ruqayah dgn angkuh.

Jodha terdiam. “Iya aku tau itu dan mendengarnya sendiri. Lalu apa yang kau inginkan, sehingga kau memanggilku untuk datang kemari?”

“Karna kau seorang dasi, jadi kau juga harus bekerja seperti seorang dasi di Istana ini. Sekarang, pijatlah kakiku. Sudah lama aku tdk menyuruh dasi untuk memijatku. Kau mengerti!” bentak Ruqayah kasar.

“Tapi, aku...”

Ruqayah menginterupsi perkataan Jodha yang belum sempat selesai itu. “Tidak ada tapi ratu Jodha. Sekarang, lakukan saja perintahku.” kata Ruqayah kembali membentak.

Jodha hanya mengangguk, lalu perlahan duduk di sebelah Ruqayah dan memijatnya pelan. Air matanya sudah menggenang di pelupuk matanya. Ia bukan seorang dasi, ia juga seorang ratu di istana itu. Lalu kenapa ada perbedaan antara dirinya dan ratu Ruqayah?

Prajurit yang berjaga di pintu masuk kamar Ruqayah memberi pengumuman masuknya raja. “Hosyiar... Shahensa hai E- Hind taa srif la rahi hai.”

Jalal memasuki ruangan dgn segala wibawanya. Ruqayah tersenyum senang. “Yang mulia, kau untuk apa datang kemari?” tanya Ruqayah.

“Kau sedang di pijat oleh ratu Jodha? Kenapa tdk dasi yang lain saja?” selidik Jalal heran. Ruqayah lagi-lagi hanya tersenyum dan menjawab santai. “Kau yang telah berkata bahwa ratu Jodha jugalah seorang dasi. Lalu, kenapa aku tdk meminta bantuannya saja untuk memijat kakiku?”

Ruqayah berdiri dan menarik Jalal untuk rebahan sepertinya. “Ratu Jodha, aku merasa sedikit segar sekarang. Karna raja penguasa India ada disini, pijatlah kakinya juga. Dia sudah lama tdk pernah di pijat seperti ini.” perintah Ruqayah tegas.

Jalal sebenarnya ingin menolak itu, tapi Ruqayah menginterupsi perkataannya dan menyuruh Jodha untuk segera memijatnya. Jodha mengangguk dan perlahan mulai berjalan ke sisi tempat tidur yang lain dan mulai memijat kaki Jalal. Sejak tadi matanya memang sudah nanar dgn air mata, saat ini air mata sudah mengalir tanpa bendungan terjatuh di kaki Jalal. Jodha cepat-cepat membersihkan nya lagi.

 “Maaf aku tidak sengaja.” kata Jodha sambil menyeka air matanya. “Ruqayah, aku harus bicara dulu dengannya.” izin Jalal sambil menarik lengan Jodha dan membawanya keluar. “Ada apa? Apa aku melakukan kesalahan lagi, hah? Aku lelah hidup di cekam seperti ini. Aku juga seorang ratu, tapi kenapa aku di anggap sebagai dasi. Tak bisakah kau bersikap adil juga padaku?” celetuk Jodha, begitu sampai di kamarnya.

“Ratu Jodha, aku tidak memintamu untuk melakukan apapun layaknya dasi.” bantah Jalal.

“Ratu Ruqayah sangat menganggap serius ucapanmu itu Jalal. Aku benar-benar seperti seorang dasi disini. Lebih baik aku yang akan mengajukan perceraian padamu, dari pada menunggu keputusanmu.” Jodha hendak melangkah menuju dewan e-khaas, namun Jalal segera menghentikannya. “Kau tidak boleh melakukan itu ratu Jodha.” cegah Jalal.

Jalal menarik lengan Jodha dan menyentakkannya. Sehingga tubuh Jodha tertarik ke belakang dan memeluk Jalal. Ia berusaha meronta, tapi Jalal malah semakin erat memeluknya. “Lepaskan aku Jalal. Kau jahat sekali. Aku tidak ingin hidup bersama mu lagi. Aku ingin pergi saja. Setidaknya, setelah kepergiaanku kau masih bisa menguasai Amer.” kata Jodha lemah.

“Menangislah ratu Jodha. Aku ingin menjadi penenang dalam tangismu. Tapi kenapa kau tidak menangis? Tadi saat di kamar ratu Ruqayah kau menangis. Apa kau sudah mulai mencintaiku dan cemburu pada ratu Ruqayah, hem?”

“Aku sudah tidak ingin menangis lagi karna dirimu. Kau pasti sudah bosan mendengar tangisanku. Sekarang, aku tidak akan menangis lagi karena dirimu.” Jodha mendorong dada Jalal.

Ia berjalan menuju lemari pakaiannya dan mengambil beberapa pasang pakaian untuk di bawanya pergi dari sana. “Aku akan segera pergi dari hidupmu. Kau pasti akan bahagia karna aku sebentar lagi akan meninggalkan istanamu. Tidak akan ada lagi istri mu yang cengeng seperti ku.” Jodha merapikan pakaian satu persatu sambil di susun di sebuah kain besar untuk membungkus pakaiannya. “Kau tidak boleh pergi dari sini ratu Jodha. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi.” kata Jalal merampas bungkusan kain itu dari Jodha.

“Ambil saja pakaian itu Jalal. Aku akan tetap bisa pergi dari sini.” Jodha berlari keluar kamarnya dengan ligat. Ia tidak lagi memperhatikan beberapa pasang mata yang terus saja menatap heran ke arahnya. Jalal segera mengejar Jodha yang telah keluar dari gerbang istana. “Ke arah mana dia berlari tadi?” tanya Jalal yang terlihat sibuk memikirkan arah yang di pilih Jodha untuk melarikan diri darinya.

Beberapa prajurit datang padanya dan menawarkan diri untuk ikut serta mencari ratu Jodha. Jalal menolak dan menyuruh mereka semua kembali ke istana. Sementara Syarifuddin mendapat peluang baru untuk segera mendapatkan Jodha menjadi miliknya sepenuhnya.

Syarifuddin mencari Jodha dgn arah yang berlawanan dgn Jalal. Di tengah hutan lebat itu, Jodha sedang bersembunyi di balik rimbunan ilalang yang di tumbuhi oleh pohon besar pula. Mendengar derap langkah kuda yang semakin dekat dengannya, Jodha semakin gusar dan nafasnya naik turun tidak beraturan.

“Hah, aku mendapatkannya. Ternyata dia sedang bersembunyi di balik ilalang itu. Ya baiklah sayang, aku akan segera menjemputmu.” bathin Syarifuddin. Di hadapannya, tampak rimbunan ilalang yang di sertai pohon besar yang berdiri kokoh melindungi persembunyian Jodha.

Kudanya ia tambatkan di sebuah pohon yang agak jauh dari tempat persembunyian Jodha. Langkahnya seperti mengendap layaknya maling yang sedang mengawasi keadaan sekeliling. “Untung saja kuda itu tidak mendekat. Sekarang aku aman.” desah Jodha lega.

HAP...
Tiba-tiba saja seseorang membekap mulutnya dari belakang sambil menghirup aroma wanginya dari balik dupatta. Jodha berusaha berteriak, namun tidak membuahkan hasil pula. Dalam keadaan seperti itu ia sulit untuk bersuara. “Ratu Jodha.... Akhirnya aku menemukanmu juga. Kau akan segera menjadi milikku sayang. Hahaha...” tawa Syarifuddin penuh kemenangan. Tubuh Jodha ia tarik dengan kasar, sehingga pergelangan tangannya penuh dgn bekas luka yang membiru.

Di ikatnya tubuh Jodha di sebuah pohon besar dan mulai melakukan aksinya. Kali ini mulut Jodha tidak di bekap dan mempermudahnya untuk berteriak meminta bantuan. “Tolong... Jalal... Jalal tolong aku.” teriak Jodha menggelegar. Syarifuddin hanya tersenyum saja menatap wajah Jodha yang memerah menahan segala umpatannya pada Syarifuddin.

Samar terdengar suara teriakkan seorang wanita meminta pertolongan dan menyebut namanya. Suara itu berasal dari hutan yang berlawanan arah dengannya. Jalal segera memutar kudanya dengan cepat dan mulai mendekat ke sumber suara. Tidak jauh dari tempat kudanya menapak, tampak seekor kuda yang di tambatka di sebuah pohon besar yang di tinggalkan pemiliknya. Jalal semakin mengepak tali kuda lebih cepat lagi.

Syarifuddin yang baru saja ingin melepaskannya tali pakaian Jodha merasa terkejut karna kehadiran Jalal yang secara tiba-tiba.

Jalal seperti mendapat kekuatan baru dan langsung berlari menghajar habis Syarifuddin sampai babak belur. Syarifuddin tersungkur ke tanah dan tak mampu lagi untuk bangkit. Jalal segera melepas ikatan tali yang mengikat tubuh Jodha. “Ingat Syarifuddin, sekarang kau bukan lg seorang komandan. Kalau sampai kau berani datang ke istana, maka bersiaplah mendapatkan hukuman mati dari ku.” teriak Jalal marah.

Jodha segera menghambur memeluk Jalal dan menangis di dadanya. “Apa yang dia lakukan padamu ratu Jodha? Apa dia...” tanya Jalal yang merasa tercekat untuk mengatakan pertanyaan selanjutnya. “Apa dia... Dia sudah menyentuhmu?”

Jodha semakin terisak dan mempererat pelukannya. “Dia belum sempat melakukan itu Jalal. Tapi aku sangat takut sekali.” jawab Jodha getir.

“Kau tdk perlu takut lg. Sekarang aku ada bersamamu. Berjanjilah tdk akan meninggalkanku lg!”

“Hiks... Hiks... Hiks... Aku berjanji padamu.” balas Jodha pelan.

“Sebaiknya kita kembali ke istana ratu Jodha. Ayo naiklah ke atas kuda bersamaku.” ajak Jalal. Jodha mengangguk  dan menaiki kudu terlebih dahulu di susul Jalal setelahnya.

Sebelah kanan tangan Jalal mengepak tali kuda, sementara tangan kirinya memeluk pinggan Jodha erat, seakan tak menginginkan Jodha pergi darinya lg. Setelah menyadari getaran aneh yang mulai merambat ke dlm hatinya, barulah saat ini cinta itu tumbuh bersamanya. Jodha. Gadis itu sama kerasnya dgn Jalal. Jodha yang membuatnya tersadar akan kekejamannya selama ini. Jalal mengangkat tangan Jodha dan menyentuhkannya pd wajah Jalal. Ada gelenyar aneh yang mulai merasuki keduanya. Wajah Jodha seketika menjadi merah  bagai kepiting rebus, sementaram matanya terpejam merasakan sensasi baru yang menyeruak masuk ke dlm tubuhnya.

“Aku ingin belajar mencintaimu. Apa kau mau juga belajar untuk mencintaiku? Kita akan sama-sama belajar untuk saling mencintai. Kau mau?” tanya Jalal dgn mata berbinar. Jodha mengangguk. “Aku juga mau. Tapi apa kau bisa mencintai seseorang. Jika kau tdk mempunyai hati? Kau sering berlaku kejam padaku. Aku...” Kata-kata Jodha langsung berhenti begitu Jalal mengecup bibirnya yang tampak menggigil karna rasa takutnya. Jodhapun membalas ciuman itu dgn segenap hatinya. Sampai keduanya merasa kehabisan oksigen untuk di hirup, mereka barulah melepaskan ciuman mereka masing-masing. Jodha tersipu berat menyadari kini dirinya sudah mulai mau membalas ciuman Jalal padanya. Dia tersenyum sambil mengecup pipi Jalal hangat.

“Kau sudah berani menggodaku sekarang ya ratu Jodha. Aku senang, kau mulai bisa menerimaku. Aku juga akan berusaha menerimamu.” kata Jalal dgn seringai jahil.

Jodha tersipu. “Aku akan belajar mencintaimu.” bisik Jodha pelan di telinga Jalal.

“Aku juga.” sahut Jalal mesra.

Sesampainya di halaman istana, tampak ibunya dan beberapa para ratu sudah menanti mereka dgn tdk sabar disana. Jalal membantu Jodha turun dari kuda dan menghampiri ibunya. “Salam ibu. Aku telah membawa pulang anak perempuanmu yang nakal ini. Dia membuatku susah saja.” kata Jalal menggoda Jodha. Hamida tampak masih terlihat emosi pada Jalal yang tdk bisa menjaga Jodha dgn baik. Wanita paruh baya itu menarik Jodha dalam dekapannya dan menangis penuh haru karna kepulangannya. “Untunglah kau kembali nak. Ibu sangat khawatir sekali padamu. Kenapa kau pergi dari istana? Apakah Jalal menyakitimu sayang?”

“Tidak ibu, Jalal adalah suami yang baik. Kami hanya mempunyai sedikit masalah saja. Tapi masalah itu telah kami selesaikan. Tolong ibu tidak usah khawatir padaku.” pinta Jodha.

Hamida mengangguk dan melepas pelukan mereka. “Jalal, ibu tidak mau lagi kejadian seperti ini terulang untuk kedua kalinya. Jaga istrimu baik-baik. Kau mempunyai banyak istri yang harus kau jaga. Sekarang antarlah Jodha ke kamarnya.” tegas Hamida. Jalal mengangguk dan menggandeng Jodha menuju kamarnya.

* * * * *

Jodha duduk di tepi ranjang, sementara Jalal berjongkok di hadapan Jodha sambil menggenggam tangannya. “Aku berjanji kejadian seperti ini tidak akan terulang kembali ratu Jodha. Kau harus percaya pada suamimu ini.” kata Jalal seraya mencium jari jemari Jodha satu persatu. Rasanya baru kali ini Jalal sangat bersikap lembut padanya. Jodha mengangguk. “Aku hanya akan menikah sekali seumur hidupku. Dan kaulah orangnya yang akan menjadi masa depanku. Tadir telah memilihmu untuk menjadi pendamping hidupku.”

Jalal tersenyum dan beranjak duduk di samping Jodha. Ia menyeka buliran keringat yang mengucur  deras di dekat anak rambatnya. “Aku akan berusaha menjagamu.” Jalal mengecup kening Jodha dan memeluknya erat. Seakan semuanya yang terjadi sebelum itu tidak akan terpengaruh lagi olehnya. Mereka akan membuka lembaran baru rumah tangga mereka dengan cinta mereka yang perlahan mulai tumbuh diantara keduanya.

Ruqayah hendak masuk  ke kamar Jodha untuk menyuruhnya kembali memijat kakinya. Tapi ketika tirai masuk menuju kamar Jodha terbuka, Ruqayah langsung pergi dgn kesal.

~~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~~

The Princess In The War Chapter 8

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.