Heart’s Beat Part 1 – By Tyas - ChusNiAnTi

Heart’s Beat Part 1 – By Tyas


By: Tyas Herawati Wardani


Deg deg....deg deg....deg deg....deg deg...........

“Dev....jantung ini biasa berdetak untukmu...jantung ini selalu memanggilmu.... detak jantungku selalu seirama dengan detak jantungmu...... Tapi kau sekarang sudah tidak ada... kenapa jantungku masih berdetak?..... Apa detaknya akan memanggilmu kembali?....”

Jodha berdiri di depan makam Dev Rae Ghavand. Kekasihnya yang sudah meninggal delapan tahun lalu. Sambil memegang dadanya, dia merasakan irama detak jantungnya.

Dia meresapi kesunyian tempat ini. Disini dia seakan bisa merasakan kembali kehadiran kekasihnya. Disini dia bisa menceritakan semua keluh kesah hidupnya. Disini dia bisa merasakan ketenangan luar biasa, jauh dari semua hiruk pikuk dan masalah yang tumpang tindih dalam otaknya. Sejenak dia bisa melarikan diri dari semuanya.....

Kegiatan ini selalu dilakukannya setiap peringatan hari kelahiran dan kematian Dev. Tidak terasa sudah delapan tahun berlalu... Delapan tahun yang dilaluinya dalam kesendirian. Tidak pernah bisa dan tidak ingin meninggalkan semua kenangannya bersama Dev. Ditutupnya hati dan pikirannya untuk orang lain yang ingin menggantikan tempat Dev dalam hidupnya.

“Dev...tepat hari ini delapan tahun lalu...detak jantung kita mulai saling memanggil.... Apa kau masih ingat bagaimana semuanya berawal?”

Februari 2006......
Sebuah bis sekolah menurunkan seluruh penumpangnya di depan gerbang sekolah. Murid-murid berhamburan keluar dari dalamnya. Termasuk seorang gadis cantik yang akan memulai hari pertamanya sebagai siswa baru di Rideau Public Senior High Schol. Dia masuk pada tingkat terakhir karena dia baru saja pindah ke kota ini bersama keluarganya.

Maura Jodha Varamjeed adalah nama lengkapnya. Jodha memilik darah campuran Canada dan India. Ayahnya adalah seorang staf atase perdagangan India yang baru diangkat jabatannya dan ditugaskan ke Ottawa, sedangkan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Darah India-nya mengalir dari Ayahnya, begitupun nama Jodha adalah nama pemberian dari keluarga Indianya yang sebagian besar tinggal di Andhra Pradesh.

Jodha turun dari bis, matanya mengamati semua gerak-gerik siswa di sekolah itu yang nantinya akan menjadi temannya. Dia merasa yakin dia akan mengalami petualangan yang menyenangkan di tempat baru ini, seyakin langkah-langkahnya memasuki gerbang sekolahnya.

Hari-hari pertama di sekolahnya dilaluinya dengan normal. Kehadirannya langsung menarik perhatian banyak temannya. Kecantikannya yang eksotis dan kecerdasannya membuatnya menjadi gadis populer dalam sekejap. Tercatat dia diterima sebagai anggota tim pemandu sorak dan tim renang di sekolahnya. Kemampuan akademiknya juga cukup menonjol. Dan yang paling membuat kagum adalah kemampuannya dalam bela diri taekwondo. Hanya ada segelintir siswa perempuan yang memasukkan taekwondo sebagai olahraga pilihannya.

Hari-hari tenangnya mulai terusik, saat dia mulai mengenal Dev Rae Ghavand. Diantara teman-temannya Dev dikenal sebagai anak pemberontak. Penampilannya yang urakan sering mendatangkan masalah untuk dirinya sendiri. Meski begitu, dia cukup populer diantara teman-teman wanitanya. Mungkin gayanya yang tidak sesuai aturan sekolah itu justru menjadi daya tariknya.

Awal mula mereka bertemu adalah saat Dev membuat seorang gadis yang kebetulan adalah temannya menangis. Jodha merasa tidak terima atas perlakuan Dev pada temannya, hingga dengan emosi dia melabrak Dev di depan siswa yang lain. Dev yang terpancing justru membalas kemarahan Jodha dengan hampir menciumnya. Tapi sebelum dia sempat melakukannya, Jodha sudah menjatuhkan tubuh Dev ke lantai dengan salah satu teknik taekwondo yang dipelajarinya. Semua yang menyaksikannya terkesiap. Setelah itu, Jodha pergi meninggalkannya.

Beberapa hari kemudian, Dev mendatangi kelasnya. Jodha pikir dia datang untuk membuat keributan, ternyata dia berniat minta maaf pada Jodha dan ingin berkenalan dengannya. Dengan acuh, Jodha tidak menanggapi permintaannya. Jodha pikir, jika Dev diacuhkan maka dia tidak akan lagi mengganggu Jodha dan temannya. Justru sebaliknya, aksi Dev semakin gencar untuk menarik perhatian Jodha.

Suatu ketika, Dev mendatangi Jodha saat berlatih bersama tim pemandu soraknya. Tanpa diduga dia mendatangi Jodha di tengah latihan dan memasangkan sebuah tiara mainan ke atas kepala Jodha sambil mengatakan kalau Jodha adalah ratu di hatinya yang berhasil menaklukkan seluruh keangkuhannya. Jodha tidak menanggapinya.

Lain waktu Dev menghadang langkah Jodha saat akan masuk ke dalam kelasnya. Di depan kaki Jodha, Dev membentangkan sebuah handuk dan meletakkan sepasang sepatu kets di atasnya. Dia meminta agar Jodha mau memakainya karena Dev tahu sepatu Jodha basah karena kehujanan saat berlari hendak masuk ke gedung sekolah. Semua temannya menyorakinya membuat Jodha sangat malu. Dilewatinya Dev tanpa berkata apa-apa.

Pernah juga Dev bergabung dengannya saat mengikuti olahraga taekwondo. Dev memaksa menjadi tandem Jodha saat berlatih. Awalnya Jodha menolak, tapi saat Dev menantangnya, Jodha tidak tinggal diam. Mereka berdua menjadi sparring partner dalam latihan bertarung. Menjalani enam babak pertarungan, skor mereka seri. Mereka masih ingin melanjutkannya tapi pelatih melarangnya, karena keduanya sudah kelihatan kehabisan tenaga. Saat itulah Jodha mulai memperhitungkan Dev.

Semua itu adalah saat-saat perjuangan Dev menarik perhatian Jodha, belum termasuk tindakan-tindakannya yang berusaha duduk semeja dengan Jodha di kantin, mengiriminya macam-macam hadiah ke lokernya, mengunjungi kelasnya ataupun membuntutinya ke perpustakaan. Mulanya Jodha merasa terganggu, tapi saat Dev tidak menampakkan dirinya satu hari saja, Jodha merasa ada yang hilang dalam hidupnya.

Sebenarnya Dev adalah pria yang baik dan menyenangkan. Dia juga setia kawan. Tapi penampilan dan tata bahasanya yang urakan menjadikan dia dicap sebagai preman di sekolah. Catatan kenakalannya yang sangat banyak membuatnya berulang kali diskors dari sekolah. Jodha juga menganggap Dev seperti itu, karena itulah Jodha tidak pernah menganggap serius semua perhatian Dev padanya. Jodha menganggap Dev bukanlah seseorang yang bisa serius menjalani hidupnya.

Kegigihan Dev rupanya tidak sia-sia. Jodha mulai luluh hatinya ketika dia secara tidak sengaja melihat Dev menghajar segerombolan orang yang sedang memalak salah satu teman sekolahnya. Satu lawan lima orang. Meski tidak seimbang, Dev berhasil mengusir mereka meski dia sendiri babak belur. Jodha menawarkan diri mengantar Dev ke Rumah Sakit untuk mendapatkan perawatan, tapi Dev menolaknya dengan alasan dia tidak ingin orang tuanya tahu dia teribat dalam sebuah perkelahian. Mau tidak mau setelah melihat luka dan memar di wajah dan tubuhnya, akhirnya Jodha lah yang mengobatinya.

Sejak hari itu, sikap Jodha pada Dev mulai melunak. Jodha mulai bersedia duduk semeja dengannya, mengajak mengobrol dan mulai bisa mengucapkan terima kasih dengan tulus atas semua hadiah yang diberikan Dev. Puncaknya adalah saat Dev mengungkapkan perasaannya pada Jodha. Saat itu ada acara panggung seni di sekolahnya. Kelas Dev mempersembahkan sebuah pertunjukan operet mini dan Dev tampil sebagai salah satu pemainnya. Jodha duduk manis sebagai penonton. Saat pertunjukan usai, tiba-tiba Dev meloncat dari atas panggung, mengejutkan semua orang sambil membawa sebuah bunga dan lolipop berbentuk hati, dan menghampiri tempat Jodha duduk. Jodha berdiri dari tempat duduknya karena tidak menyangka atas tindakan Dev. Di hadapan semua orang, Dev berlutut dengan satu kaki dan mempersembahkan bunga dan lolipop di tangannya kepada Jodha.  Dev mengatakan bahwa dia sangat mencintai Jodha karena Jodha adalah gadis pertama yang bisa mengimbangi kekuatannya. Dan Jodha mengatakan ya saat Dev memintanya menjadi pacarnya dan calon istrinya di masa depan. Semua orang disana bersorak melihat adegan itu.

Siapa yang menyangka, dibalik sikap Dev yang urakan ternyata dia adalah pemuda dengan rasa kemanusiaan yang tinggi. Bahkan Jodha pun tidak akan mengetahuinya seandainya dia bukan pacar Dev. Pertama kali mengetahuinya saat Dev mengajak Jodha mengunjungi sebuah panti asuhan. Disana Dev disambut sebagai seorang kakak yang sangat disayang oleh semua anak penghuni panti. Ternyata Dev adalah salah satu donatur tetap dan sukarelawan disana. Kemudian Dev mengajak Jodha ke sebuah panti jompo, sambutan disana juga sama, mereka semua sangat menyayangi Dev seperti keluarga mereka sendiri. Jodha terharu melihatnya.

Suatu ketika Jodha pernah mempertanyakan alasan Dev sangat menyukai kehidupan di panti, dan Dev menjawab karena dia bisa merasakan kehangatan kehidupan keluarga di kedua tempat itu. Dev sangat kesepian di rumahnya sendiri karena dia anak tunggal dan kedua orang tuanya sama-sama sibuk meski dia yakin orang tuanya sangat menyayanginya. Sedangkan dana yang dia sumbangkan berasal dari hasil kerja sampingannya di sebuah bengkel.

Jodha merasa sangat bersyukur dia bisa mengenal seorang Dev Rae Ghavand dalam hidupnya. Seorang Dev yang awalnya dia remehkan berubah menjadi inspirasi dalam hidup Jodha. Dan Jodha berjanji akan selalu mendampingi Dev dalam setiap langkahnya karena Jodha sangat percaya Dev akan memberikan kebahagiaan dalam hidupnya.

Agustus 2006..
Hari pertunangan Dev dan Jodha. Setelah kelulusan keduanya dari Senior High School, Dev merancang pesta pertunangan. Kedua keluarga besar mereka merayakan hari itu dengan penuh kemeriahan. Dev telah berhasil meyakinkan keluarganya dan terutama keluarga Jodha bahwa dia sangat serius menjalani hubungannya dengan Jodha. Hari itu adalah hari paling membahagiakan dalam hidupnya. Seminggu setelah pesta pertunangannya, semua kebahagiaan berbalik menjadi hari duka.

Hari Sabtu di bulan Agustus itu menjadi hari kiamat bagi Jodha. Karena pada hari itu adalah hari saat Jodha menerima berita terburuk dalam hidupnya. Kepergian Dev ke India dua hari sebelumnya pada awalnya karena ingin mengunjungi neneknya dan keluarga besarnya serta untuk memohon restu atas pertunangannya dengan Jodha. Namun ternyata itu adalah kepergiannya untuk selamanya. Pada hari Sabtu kelabu di bulan Agustus itu, bagai tersengat listrik bertegangan ribuan kilovolt, berita yang Jodha terima adalah berita kematian Dev. Dia meninggal dalam sebuah kecelakaan.

Dunia Jodha serasa gelap gulita, jangankan setitik cahaya, sinar matahari pun tidak bisa menembus kegelapannya. Jodha marah pada takdir yang telah memisahkannya dengan Dev-nya yang tercinta. Jodha marah kepada Tuhan karena tidak memberinya kesempatan mengucapkan salam perpisahan kepada Dev. Jodha marah pada Dev karena telah melanggar janjinya untuk selalu menjaga Jodha selamanya. Tidak ada airmata hanya kehampaan dan kekosongan.

Saat hari pemakaman Dev, Jodha tidak menangis. Wajahnya kosong seakan tidak ada kehidupan disana. Dia membeku, tidak merespon siapapun. Tubuh dan hatinya mati rasa. Kehidupannya direnggut secara tiba-tiba, tapi dia heran kenapa dia maih bernapas. Dev pernah berkata bahwa detak jantung mereka telah menjadi satu. Yang satu berdetak untuk yang lain.

Baik orang tuanya sendiri maupun orang tua Dev, tidak ada yang berhasil mengajaknya bicara. Jodha semakin tenggelam dalam jurang kegelapan. Ada sedikit harapan yang akhirnya bisa mengembalikan kesadarannya, yaitu saat dibacakannya surat wasiat terakhir dari Dev. Dalam surat itu disebutkan bahwa Dev sangat mencintai Jodha dan dia ingin selalu bersama Jodha. Bila keadaan tidak memungkinkan dan terjadi sesuatu yang buruk pada dirinya, maka dia memohon kepada siapapun yang sedang berusaha menyelamatkan nyawanya untuk menyelamatkan organ jantungnya. Dev akan mendonorkan jantungnya pada siapapun yang membutuhkannya.

Surat wasiat itu mengejutkan semua orang. Tidak satupun anggota keluarga yang mengetahui niat Dev untuk mendonorkan jantungnya. Jodha seperti memperoleh harapannya kembali. Jantung Dev ada di suatu tempat. Di dalam tubuh seseorang yang tidak dikenalnya. Tapi jantung itu masih berdetak. Berarti Dev juga hidup di suatu tempat. Detak jantung itu menunggu Jodha untuk membangunkannya kembali.

Saat ini....
“Dev, aku pernah kehilangan harapan...aku pernah menyerah untuk menemukanmu.... tapi sepertinya Tuhan tidak mau aku menyerah, karena itu Dia mengirimkan berita baik untukku... Aku mendapatkan informasi kalau penerima jantungmu adalah seseorang yang tinggal di Delhi, kota kelahiranmu. Aku tidak peduli dia laki-laki atau perempuan, yang penting aku bisa menemukannya dan mendengarkan kembali detakmu... Dev, tetaplah bersamaku.. Aku akan ke Delhi... Aku akan mencarimu...”

Jodha meletakkan setangkai mawar merah dan sebuah lolipop di depan makam Dev. Dia menyentuh batu nisannya sebentar, untuk mengucapkan salam perpisahan. Jodha enggan untuk pergi, tapi jadwal keberangkatan pesawatnya tidak bisa ditunda lagi. Perjalanan ini adalah yang pertama kalinya untuk Jodha.

Setelah kematian Dev, meski sambil merangkak, Jodha akhirnya berhasil bangkit dari kegelapan. Dia melanjutkan studinya kuliah di ilmu kedokteran. Ketertarikannya pada detak jantung membuatnya ingin mendalami spesialisasi kardiovaskuler thoracic. Jodha berhasil menyelesaikan studi teorinya dalam waktu enam tahun dan dilanjutkan dengan prraktik profesinya selama dua tahun. Dia berniat meneruskan jenjang pendidikannya hingga menjadi dokter spesialis bedah jantung. Bertepatan dengan itu, informasi bahwa penerima donor jantung Dev adalah seorang pasien di Delhi Medical International membawanya melamar sebagai residen di Rumah Sakit itu.

Jodha merasa inilah jalan yang akan membawanya bertemu dengan pemilik baru jantung Dev. Terhalang oleh kode etik kedokteran bahwa keluarga pendonor tidak boleh mengetahui informasi tentang penerima donor membuat Jodha kesulitan melacaknya. Kasusnya akan berbeda jika si penerima donor mengajukan permintaan untuk bertemu dengan keluarga pendonornya. Jodha tidak mungkin menggantungkan harapan bahwa si penerima donor akan mencari keluarga Dev. Karena itulah secara diam-diam Jodha mencari informasi sendiri dengan bantuan beberapa seniornya di sekolah kedoteran.

Meski informasinya terbatas, tapi Jodha tetap bersyukur. Setidaknya Jodha masih punya harapan. Kebetulan sekali Delhi Medical International menyetujui permohonannya menjadi residen disana. Sambil belajar, dia juga akan terus mencari informasi.

Pesawatnya mendarat pada malam hari di New Delhi. Dengan taksi, Jodha langsung menuju ke Delhi Medical. Dia tidak perlu menginap di hotel, pihak Rumah Sakit sudah menyiapkan asrama untuknya selama dia menjalani pendidikannya disini.

Sesampainya di Rumah Sakit, Jodha langsung menuju bagian administrasi untuk menanyakan letak asramanya. Dengan mengikuti petunjuk yang diberikan, Jodha dengan mudah menemukan asramanya. Gedung asramanya terletak disamping gedung utama Rumah Sakit. Ada lebih dari dua puluh kamar di gedung itu dan sepertinya sudah hampir penuh terisi. Jodha masuk ke salah satu kamar dan membukanya dengan kunci yang dibawanya.

Kamarnya cukup sederhana, hanya berisi sebuah tempat tidur single bed, satu set meja tulis dan kursinya, lemari wardrobe dan sebuah rak buku. Jodha bisa tinggal di sini dengan nyaman. Dia bukanlah gadis manja yang suka menuntut kemewahan. Dev pernah mengajarkan padanya bahwa dalam kesederhanaan, hal kecil bisa menjadi kunci kebahagiaan. Yang perlu dilakukan Jodha sekarang adalah istirahat, karena besok, hari-hari sibuknya akan langsung dimulai.

Keesokan paginya tepat pukul 9, diadakan ceremonial sederhana menyambut dokter-dokter muda yang akan menjalani pendidikan sebagai residen di Rumah Sakit ini. Sekilas Jodha menghitung semuanya ada lima belas orang. Dari semuanya, ada satu orang yang menonjol dan langsung menarik perhatiannya. Seorang pria sebayanya. Residen di bidang yang sama dengannya. Penampilannya cukup mendominasi di antara semuanya. Tubuh proporsional, kulit putih, wajah tampan di atas rata-rata, dan dengan senyuman yang mampu meluluhkan hati banyak gadis. Jodha merasa pria itu sudah memperhatikannya sejak dia datang tadi. Beberapa kali Jodha memergokinya sedang menatap dirinya.

Usai ceremonial, pria itu langsung menghampiri Jodha...

“Selamat pagi...kau di bidang yang sama denganku, kan?”

“Sepertinya begitu.”

“Kuharap kita bisa bekerja sama. Namaku Amar Ramshaad, panggil saja Amar...”

Dia mengulurkan tangannya dan mau tidak mau Jodha menyambutnya..

“Namaku Maura Jodha Varamjeed...panggil saja aku Jodha..”

“Jodha...aku akan sering memanggil namamu..”

Amar tersenyum dan senyumnya itu menular pada Jodha. Tanpa Jodha sadari, dia pun ikut tersenyum –‘Semoga hari-hari yang akan kujalani di kota ini akan selalu menyenangkan—‘ harapan Jodha dalam hati.

***************


Heart’s Beat Part 1 – By Tyas

3 comments:

  1. Asyik baru lagi ya mbak tyas seru Jodha dokkter pasti penerima jantungnya dev jalal ya

    ReplyDelete
  2. Next....kapaN keteMu Jalal Nee...

    ReplyDelete
  3. asyik...ceritanya bakal seru nih...acara ketemuan dengan Jalal, Jodha ...he pake berantem dulu kan mba??...he he he

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.