Heart's Beat Part 2 – By Tyas - ChusNiAnTi

Heart's Beat Part 2 – By Tyas


By Tyas Herawati Wardani

Cukup sekali pandang, kepribadian Amar langsung terbaca. Dia adalah orang yang bisa membawa keceriaan bagi banyak orang, periang dan mudah bergaul dengan semua orang. Bahkan setelah beberapa hari, kehadiran Amar di bagian bedah jantung justru semakin menonjol. Dia menjadi idola baru di antara para perawat dan juga pasien. Ada yang aneh atau mungkin itu hanya perasaan Jodha saja, tapi sering kali Amar memperlakukan Jodha lebih istimewa daripada lainnya.

Setiap kali Jodha memandang Amar, memang terasa seperti ada sebuah ikatan yang sudah lama terbentuk antara mereka, padahal mereka baru saja berkenalan. Tapi Jodha merasa sudah mengenal Amar jauh sebelum mereka bertemu di Rumah Sakit. Kepribadian dan perhatian yang Amar tunjukkan padanya terasa sangat familier bagi Jodha. Dan yang lebih aneh lagi, setiap kali berdekatan dengannya, Jodha merasa seperti terlindungi, seakan Jodha sepenuhnya percaya pada Amar.

Pagi ini, Jodha memeriksa ulang jadwal jaga malamnya untuk seminggu ke depan. Seingatnya, dia berjaga bersama seorang residen wanita, tapi saat dia memeriksa ulang ternyata dia berjaga bersama Amar.—‘Ini aneh, aku yakin jadwalku bukan bersama Amar.’—Jodha sampai mengkerutkan alisnya karena berpikir keras...

Amar –”Tidak usah terlalu dipikirkan, jadwalnya benar, kita akan berjaga bersama... Bukan.. aku yang  akan menjagamu.”

Amar tiba-tiba muncul di depan Jodha, membuatnya tersentak kaget.

Jodha –”Tapi bagaimana bisa?”

Amar –”Aku selalu punya cara...”

Jodha hanya geleng-geleng kepala melihat sikap Amar yang penuh teka-teki.

Jodha –”Apa kau tidak bosan selalu berjaga denganku?”

Amar –”Tidak, justru aku ingin selalu bersamamu...”

Jodha tidak bisa menebak apakah sikap Amar padanya itu disengaja atau tidak, tapi dia selalu mengambil jadwal shift jaga yang sama dengannya. Selain shift jaga yang selalu bersama, kadang Amar tiba-tiba sudah berdiri di depannya saat dia sedang konsentrasi mempelajari riwayat kesehatan seorang pasien. Atau dia membuntuti Jodha ke kantin saat sarapan dan makan siang, sering juga Amar tanpa diminta menyodorkan segelas teh atau jus untuknya.

Jodha tidak berani menyimpulkan bahwa Amar menyukainya dan sedang berusaha mendekatinya. Apalagi Amar juga tidak pernah melakukan atau berbicara sesuatu yang lebih dari perhatian seorang teman. Jodha mengira sikap Amar padanya sama seperti sikap yang ditunjukkannya pada gadis lain. Keyakinan bahwa Amar tidak sedang menarik perhatiannya diperkuat saat Jodha bertemu dengan seorang gadis cantik, secara kebetulan.

Saat keluar dari ruangan dokter jaga, Jodha melihat seorang gadis duduk di depan bangku yang merapat ke dinding ruangan itu. Sepertinya dia sedang menunggu seseorang. Jodha merasa kasihan apalagi saat itu sudah cukup malam, karena itulah dia menghampirinya...

Jodha –”Maaf.. anda keluarga pasien?”

“Tidak.. aku sedang menunggu Kak Amar..”

Jodha –”Oh, maksudnya Dr.Amar? Kau keluarganya?”

Gadis itu menggeleng dan tersenyum.

“Bukan, aku calon tunangan Kak Amar... namaku Araya.”

Jodha –”Namaku Jodha... Sudah lama kau menunggu disini?”

Araya –”Mulai satu jam yang lalu. Tapi tidak masalah, selama apapun, aku akan menunggu Kak Amar..”

Jodha –”Kau sangat menyukai Amar ya?”

Araya –”Kak Amar adalah hidupku, dia adalah detak jantungku..”

Deg... Hati Jodha tersentak. Dia juga dulu menganggap Dev adalah detak jantungnya. Dan kemudian kehidupannya direnggut oleh takdir. Jodha masih ingat dengan jelas bagaimana hancurnya dirinya. Dan jika seandainya Araya tahu bahwa Amar mungkin sedang mendekatinya... hati Araya pasti akan hancur. Jodha tidak ingin Araya juga bernasib sama sepertinya. Dia harus menjauh dari Amar...

Araya –”Aku takut Kak Amar akan tergoda oleh perawat atau dokter yang cantik disini karena dia orang yang sangat baik. Karena itulah aku akan sering datang mengunjunginya. Kalau kau... apa hubunganmu dengan Kak Amar?”  

Jodha –”Aku hanya temannya, kami sama-sama residen baru disini.”

Araya –”Sungguh? Kau tidak bohong? Kau tidak punya perasaan apa-apa pada Kak Amar?”

Jodha diam, berpikir bagaimana caranya menjelaskan hubungannya dengan Amar. Tidak mungkin dia jujur apa adanya tentang hubungannya dengan Amar. Sambil berpikir, tanpa sadar Jodha memutar-mutar cincin pertunangannya dengan Dev yang masih dipakainya dan tidak pernah lepas dari jarinya. Dan Araya memperhatikan itu..

Araya –”Apa itu cincin pertunangan? Jadi kau sudah bertunangan?”

Jodha mengangguk. Biarlah Araya cukup mengetahui kalau Jodha pernah bertunangan, tidak lebih dari itu...

Araya –”Ah syukurlah, kalau begitu aku tenang. Kau pasti tidak akan macam-macam dengan Kak Amar.”

Tiba-tiba orang yang sedang mereka bicarakan datang dari arah belakang Jodha, membuatnya melompat keget.

Amar –”Jodha!...... Araya?”

Dari nada suaranya, sepertinya Amar tidak mengetahui kehadiran Araya disana. Mungkin karena pandangannya terhalang Jodha. Sementara Araya langsung tersenyum senang melihat Amar.

Araya –”Kak Amar, aku sudah menunggumu dari tadi. Untung Kak Jodha menemaniku. Kau tahu, aku senang kau punya teman seperti Kak Jodha. Dia sangat baik. Apalagi dia sudah bertunangan, jadi aku bisa tenang melepasmu bekerja disini...”

Araya bicara sangat panjang dan dia luput memperhatikan perubahan ekspresi di wajah Amar saat medengar kata tunangan..

Amar –”Kau sudah bertunangan, Jodha?! “

Jodha kesulitan mengartikan arti perubahan rona wajah Amar. Kecewa? Terkejut? Tidak percaya? Sedih? Mungkin itu semua digabung menjadi satu. Dan Jodha tidak berani memandang wajah Amar lebih lama lagi.

Jodha –”Iya.... Ehm, kalian kutinggal dulu ya?”

Jodha pergi meninggalkan Araya dan Amar berdua. Mulai besok, dia harus menjaga jarak dari Amar. Itu janji Jodha dalam hati. Dia tidak ingin membuat masalah di kota ini, yang bisa mengganggu pendidikannya dan juga dia punya misi yang lebih penting.

Jam 6 pagi keesokan harinya, Jodha sudah berkeliling mengobservasi pasien yang menjadi bagian tugasnya. Setelah mengunjungi tiga pasien sebelumnya, Jodha sampai pada pasien keempat. Seorang gadis kecil berumur tujuh tahun dengan sakit jantung lemah bawaan sejak lahir. Berulang kali dia keluar masuk Rumah sakit karena kondisinya yang sering tiba-tiba memburuk. Namanya Deepa. Jodha langsung jatuh cinta pada gadis cilik ini begitu mereka berkenalan.

Jika melihat keceriaannya, orang tidak akan percaya kalau gadis kecil ini menderita penyakit yang cukup berat. Itulah yang membuat Jodha salut padanya. Jodha sebagai orang dewasa tidak bisa membayangkan rasa sakit setiap kali tubuhnya dipasangi selang infus. Tapi gadis ini sangat tegar, rasa sakit yang dirasakannya seakan tidak akan mengurangi keceriaan dalam hidupnya.

Jodha sedang mengobrol dengan Deepa, saat tiba-tiba dadanya terasa sakit, seperti ada beban sangat berat yang menghimpitnya, reflek dia memegangi dadanya..

“Dokter, kau tidak apa-apa? Apa kau sakit?”

“Aku tidak apa-apa, Deepa.. Sebentar ya...”

Jodha keluar meninggalkan kamar Deepa karena tidak ingin membuat gadis kecil itu lebih khawatir. Saat sudah berada di koridor Jodha melihat ke kanan dan ke kiri seperti mencari seseorang. Setelah rasa sakitnya mereda, Jodha merasakan jantungnya berdetak lebih kencang seperti yang dulu pernah dirasakannya saat Dev masih hidup...

Deg deg deg...deg deg deg...deg deg deg....deg deg deg....

Irama yang sama –‘Apa Dev ada disini? Apa jantung Dev ada disini? Sepertinya aku merasakan kehadirannya..—‘ Jodha mulai berlari-lari kecil tak tentu arah, dia memeriksa beberapa tempat berharap menemukan petunjuk apapun, sebelum detak jantungnya kembali normal. Detak inilah yang dia yakini akan membawanya pada pemilik jantung Dev.... Jantung Dev sedang memanggil dirinya....

Tiba-tiba terdengar interkom Rumah Sakit memanggil semua residen bagian bedah untuk berkumpul di lantai satu. Ada sebuah kecelakaan yang menyebabkan lebih dari 10 orang menjadi korban dan Rumah sakit ini adalah salah satu rujukannya. Bagian UGD lantai 1 kewalahan menanganinya, karena itu pihak Rumah Sakit membutuhkan keterlibatan semua dokter dari semua bagian.

Jodha menyerah setelah tidak berhasil menemukan yang dicarinya. Tugas sudah memanggilnya. Sepenting apapun keinginannya, Jodha tidak bisa mengabaikan kewajibannya. Akhirnya Jodha berlari menyusuri koridor lantai 5 untuk menuju tangga darurat ke lantai 1. Saat berbelok ke arah kiri, tiba-tiba.... Brukkk..... tubuh Jodha menabrak seseorang atau sesuatu sampai membuat tubuhnya terpental kembali ke belakang dan tersungkur di dinding tepat di belakangnya....

“Awwww.... astaga, apa aku menabrak gunung ya..?”

Ada sebuah tangan terulur ke depan wajahnya....

“Kau tidak apa-apa?”

“Tidak apa-apa...”

Jodha menyambut uluran tangan itu dan berusaha berdiri. Ternyata dia bertabrakan dengan seorang pria. Karena terhalang dinding, Jodha tidak bisa melihat kalau di depannya ada pria ini yang sedang berjalan dari arah berlawanan dengan dirinya. Meski tertutup jas, tapi Jodha bisa merasakan ada tubuh yang sangat kokoh di baliknya. Pantas saja dia merasa seperti menabrak sesuatu yang sangat keras.

Setelah kembali berdiri, Jodha mengalihkan pandangannya ke wajah pria itu. Diamatinya sejenak. Ekspresi wajahnya tidak jauh berbeda dengan tubuhnya, sama-sama keras. Tidak terlihat garis-garis tawa di sekitar mata atau mulutnya, sepertinya pria ini sudah lama sekali tidak tersenyum. Mulutnya tertutup rapat. Alisnya mengkerut seperti sedikit kesal karena harus mengalami insiden kecil ini. Jika saja Jodha adalah anak kecil, dia pasti akan ketakutan memandang wajah di depannya ini. Untunglah dia sudah dewasa dan dia sudah pernah melihat wajah yang sama menakutkannya dengan wajah di depannya ini. Tapi andai saja pria ini mau sedikit tersenyum, Jodha yakin wajahnya akan sedikit terlihat lebih lembut.

“Kau seorang dokter..?”

“I...iya...”

Jodha salah tingkah karena ketahuan sedang menatap wajahnya. Membuat pria di depannya semakin kesal. Mungkin karena dia merasa waktunya terbuang percuma gara-gara kejadian kecil ini.

“Kalau kau seorang dokter, kenapa kau lari-lari di dalam Rumah Sakit?!. Bukankah kalian melarang pengunjung untuk membuat kegaduhan, kau sendiri malah yang membuat keributan...”

Jodha mengira pria ini akan minta maaf padanya, tapi sebaliknya dia malah berkata yang bukan-bukan. Bukankah dia tidak tahu alasan Jodha harus berlari-lari di koridor. Sebelum Jodha membalas kata-kata pedasnya, dia mendengar seseorang memanggil namanya dari arah belakangnya.

“Jodha!...Jodha!...kau masih disini?”

“Iya...”

“Ayo cepat ke lantai satu. Mereka butuh bantuan dari semuanya...”

Sambil berlari kecil, Amar meraih tangan Jodha dan menariknya untuk mengikutinya. Karena ditarik, Jodha terpaksa mengimbangi langkah Amar. Tapi sebelum jauh, Jodha masih sempat menoleh ke belakangnya dan hanya mendapati koridor yang kosong. Dia sudah tidak melihat pria itu disana.

Untunglah Amar datang menyela di antara mereka, karena kalau tidak Jodha khawatir dia akan berdebat dengan pria ini. Dan itu sangat tidak baik jika dilihat oleh pasien lainnya. Dan saat melihat lagi ke arah depan.... Jodha baru sadar, detak jantungnya sudah kembali normal....meski dia sambil berlari.

Hiruk-pikuk suara-suara orang kesakitan dan paramedis yang sibuk mengobati dan melakukan tindakan medis pada pasien korban kecelakaan membuat Jodha lupa atas insiden kecil yang dialaminya tadi. Selama hampir sepanjang siang dan malam Jodha dan seluruh tim medis Rumah Sakit sibuk merawat para korban.

Setelah menyelesaikan tugas jaganya, barulah Jodha merasakan tubuhnya sangat lelah. Dia hampir tidak mampu berjalan lagi. Karena itulah dia berniat akan tidur di ruangan residen untuk sementara waktu.

Hari menjelang pagi, mataharipun belum terbit, koridor-koridor lantai 5 Rumah Sakit masih sangat lengang, belum ada aktivitas yang cukup berarti. Langkahnya hampir sampai di ruangan residen, saat telinganya lamat-lamat menangkap suara seperti seseorang yang sedang terisak. Jodha menoleh ke kanan kiri mencoba mendengar lebih jelas. Suara itu menuntunnya ke sebuah kamar inap pasien VVIP di arah depannya.

Perlahan dia sedikit melongokkan kepalanya ke dalam kamar itu, hanya untuk memastikan bahwa isakan itu berasal dari sana. Benar dugaannya, di dalam kamar itu ada seorang wanita paruh baya sedang berbaring di atas ranjang pasien, tapi bukannya beristirahat, wanita itu malah terisak pelan. Jodha teringat untuk mengetuk pintu meski dirinya sudah berada di dalam. Kontan saja suara ketukan di pintu mengejutkan wanita itu, cepat-cepat dia menghapus air mata di wajahnya. Mungkin dia mengira yang masuk adalah seseorang yang dikenalnya.

Jodha –”Maaf, seharusnya ini waktunya pasien beristirahat. Kenapa anda masih terjaga?”

“Aku tidak bisa tidur.”

Jodha –”Apa anda punya keluhan?”

“Keluhanku tidak ada hubungannya dengan sakitku.”

Jodha mengintip name tag yang terpasang di atas ranjangnya. Nyonya Dhanjani.

Jodha –”Nyonya Dhanjani...itukan nama anda? Jika anda kurang istirahat, maka akan berpengaruh juga pada kesehatan anda. Jadi, berbaik hatilah menceritakannya padaku, mungkin dengan begitu perasaan anda bisa sedikit lega dan anda bisa beristirahat.”

Nyonya Dhanjani –”Terima kasih, Dokter... Tapi aku tidak ingin merepotkanmu dengan urusan keluargaku.”

Jodha –”Nyonya, panggil saja aku Jodha, tidak perlu memanggilku Dokter... Anggaplah telingaku ini tempat sampah, jadi apapun yang akan kau ceritakan tidak akan aku ungkit lagi apalagi kuceritakan pada orang lain...”

Nyonya Dhajani berpikir sebentar sebelum kemudian dia menyetujui permintaan Jodha...

Nyonya Dhanjani –”Kau sangat baik Jodha... kau yakin sanggup mendengarnya?”

Jodha –”Mulutku tidak akan ikut mendengar apa yang didengar telingaku..”

Nyonya Dhanjani –”Baiklah.... Begini... Aku sedih memikirkan putraku... Dia itu sangat tampan, tapi sikapnya sangat dingin pada wanita. Bagaimana dia akan bisa menikah kalau dia tidak bisa merubah sikapnya? Lama aku memintanya untuk mencari calon istri dan dia selalu menolak permintaanku....  Kemudian dia mengenalkanku pada wanita yang katanya kekasihnya... tapi ternyata wanita itu bukan wanita yang baik. Ada wartawan yang melihatnya berjalan mesra dengan pria lain dan kemudian jadi berita. Putraku cukup terkenal, jadi apapun yang berhubungan dengannya bisa jadi berita. Putraku pasti sangat sedih karena berita itu, tapi dia tidak pernah menunjukkannya padaku. Karena itulah aku merasa bersalah padanya. Aku sedih karena gara-gara permintaanku, dia harus merasakan sakit hati...”

Jodha –”Rasa sayang antara anda dan putra anda pasti sangat besar, hingga kalian berdua saling merasa bersalah jika yang lainnya sedih. Anda merasa bersalah karena putra anda bersedih, dan putra anda merasa bersalah karena belum bisa memenuhi permintaan anda....  Jadi, bagaimana kalau anda dan putra anda saling bicara dari hati ke hati.... agar semuanya jelas dan kalian tidak merasa bersalah lagi... “

Nyonya Dhanjani –”Menurutmu begitu?”

Jodha –”Ada baiknya jika anda melakukannya. Tapi nanti saja, setelah agak siang. Putramu berpikir anda sedang beristirahat sekarang, dia pasti lebih sedih kalau tahu ternyata anda masih terjaga... Anda harus beristirahat sekarang...”

Nyonya Dhanjani –”Baiklah... terima kasih ya... kau benar, rasanya lega.... Tapi tunggu...!”

Jodha sudah akan beranjak dari kamar itu saat Nyonya Dhanjani menahannya...

Nyonya Dhanjani –”Jangan pergi... temani aku disini... aku kesepian... Dan tolong panggil saja aku Ibu, ya...?”

Jodha –”Tapi aku sudah punya Ibu, anda kupanggil Nyonya D saja, bagaimana?... istirahatlah.... aku akan duduk disana..”

Jodha menunjuk ke arah kursi berlengan yang terletak di bawah jendela. Dia merebahkan tubuhnya di kursi itu. Begitu memejamkan matanya, Jodha langsung tertidur. Dia tidak ingat apa-apa lagi.

Tiba-tiba ada seseorang yang mengguncang-guncang pundaknya. –‘Ya Tuhan, aku baru saja ingin tidur. Siapa lagi yang membangunkanku ini...?’— kata Jodha dalam hati masih dengan mata tertutup. Karena orang itu tidak berhenti mengguncangnya, terpaksa Jodha membuka matanya dan melihatnya..... Pria yang seperti gunung itu... Tubuhnya sedikit membungkuk di atasnya, karena Jodha masih dalam posisi duduk, membuat wajah mereka sangat dekat satu sama lain. Jodha mengerjap-ngerjapkan matanya agar bisa segera fokus..

Jodha –”Ya...kenapa anda bisa ada disini?”

“Seharusnya aku yang tanya, kenapa anda tidur di kamar pasien? Apakah terjadi sesuatu dengan Ibuku?”

Jodha –”Ibu..?

Jodha yang masih belum sepenuhnya sadar, semakin bingung atas pertanyaan pria di depannya ini...

“Iya...yang ada disana itu Ibuku...”

Pria itu menunjuk pada wanita yang sedang tidur di ranjang pasien. Ternyata pria inilah putranya....

******************


Heart's Beat Part 2 – By Tyas

2 comments:

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.