Heart’s Beat Part 3 – By Tyas - ChusNiAnTi

Heart’s Beat Part 3 – By Tyas


Ternyata pria yang seperti gunung ini adalah putra Nyonya Dhanjani...

Jodha –“Aku hanya menemani Ibu anda...”

Nyonya Dhanjani –“Jalal, jangan marah-marah dulu, Nak. Jodha hanya menemani Ibu disini karena Ibu kesepian.”

Jodha bangkit dari duduknya di dekat jendela, mengabaikan dan melewati pria itu begitu saja, berjalan menghampiri Nyonya Dhanjani.

Jodha –“Bagaimana keadaan anda pagi ini? Merasa lebih baik?”

Nyonya Dhanjani –“Aku merasa sehat... Boleh aku keluar dari Rumah Sakit sekarang juga?”

Jodha –“Maaf Nyonya D, belum bisa.. anda harus menunggu Dokter memeriksa kondisi anda untuk memutuskan apakah anda dinyatakan sehat atau belum?”

Nyonya Dhanjani –“Tapi kau kan juga Dokter?! Apa kau tidak bisa memeriksaku sekarang?”

Jodha –“Maaf, aku tidak bisa. Aku bukan Dokter yang berwenang untuk itu. Tunggu saja sebentar lagi... Kalau boleh tahu anda dirawat karena sakit apa?”

Jalal –“Kemarin Ibuku sesak napas. Apa Ibuku bermasalah dengan jantungnya?”

Jodha tidak memperhatikan ternyata pria yang bernama Jalal ini sudah berdiri di dekatnya, di samping ranjang Nyonya Dhanjani.

Jodha –“Aku tidak bisa langsung menjawabnya tanpa melihat hasil tes lanjutan pada Ibu anda. Tapi secara teori, ada kemungkinan seperti itu. Tidak perlu khawatir, dengan penanganan yang tepat, Ibu anda akan baik-baik saja.”

Nyonya Dhanjani –“Tapi aku bisa pulang kan hari ini?”

Jodha –“Jika sesak napasnya bersifat ringan, pengobatannya bisa dilakukan dengan obat-obatan saja dan anda bisa pulang hari ini. Tapi semua tergantung kebijaksanaan Dokter yang merawat anda.....  Nyonya D, aku harus pergi dulu, aku harus menyelesaikan tugasku..”

Nyonya Dhanjani –“Apa kita bisa bertemu lagi?”

Jodha –“Tentu saja bisa. Silakan datang menemui saya disini. Seluruh waktuku terikat di Rumah Sakit ini, aku tidak akan kemana-mana. “

Jodha melangkah ke arah pintu... tiba-tiba detak jantungnya berdegup cepat lagi seperti saat itu..

Deg deg deg...deg deg deg...deg deg deg...deg deg deg...

Jodha menghentikan langkahnya sebelum sempat membuka pintu, dia memegangi dadanya seakan untuk memastikan detaknya....  Kemudian perlahan dia menoleh pada satu-satunya pria di ruangan itu –‘Apakah dia? Apa dia ada hubungannya dengan detak jantungku?’—Jodha hanya bisa bertanya dalam hatinya...

Jalal –“Ada apa? Apa ada yang ketinggalan?”

Rupanya pria itu memperhatikan kalau Jodha terlihat kebingungan...

Jodha –“Tidak.. tidak ada..”

Selain detak jantungnya, langkah Jodha juga terasa berat, seakan ada yang menahannya untuk tidak pergi dari kamar ini. Tapi apa? Atau kenapa?

Akhirnya Jodha berhasil membuka pintu dan keluar dari kamar itu. Dia menutup pintu di belakangnya, sebelum akhirnya dia menarik napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya...

Jodha berjalan ke arah ruangan residen, saat membuka pintunya bersamaan pula dengan Amar yang membuka pintunya dari arah dalam...

Amar –“Jodha, aku ingin bicara sebentar...”

Jodha –“Ya?”

Amar –“Benar kau sudah bertunangan?”

Jodha –“Iya.”

Amar –“Jangan salah paham...Araya itu temanku.”

Jodha –“Dia juga sangat mencintaimu...”

Jodha tidak ingin memberi Amar harapan, dengan menegaskan bahwa dia bertunangan, sama artinya Jodha menolak kedekatan apapun yang mungkin terjadi antara dirinya dan Amar. Apalagi ada Araya.

Cara itu cukup efektif, karena sejak hari itu, sikap Amar memang mulai menjauh. Biasanya dia selalu mencari alasan untuk bisa berdekatan dengan Jodha. Tapi sekarang sebaliknya, bahkan kadang dia memalingkan wajahnya saat berpapasan atau berbicara dengan Jodha.
Hari-hari Jodha tetap dilaluinya seperti biasanya, meski dia merasa ada yang hilang dari hari sebelumnya. Godaan dan gurauan dari Amar...

“Jodha...”

Ada yang memanggilnya saat dia sedang berkonsentrasi mengisi laporan pasien di meja administrasi. Jodha mengangkat wajahnya mencari tahu siapa yang memanggilnya...

Jodha –“Nyonya D...”

Nyonya Dhanjani –“Jodha, apa kau sibuk?”

Jodha –“Jadwalku selesai 1 jam lagi... Kenapa?”

Nyonya Dhanjani –“Kau mau menemaniku jalan-jalan?”

Jodha –“Tapi aku tidak tahu apa-apa tentang kota ini. Aku belum lama disini...”

Nyonya Dhanjani –“Kau ikut saja... kau mau kan?”

Jodha –“Boleh, tapi apa anda sudah benar-benar sehat untuk jalan-jalan?”

Nyonya Dhanjani –“Karena itulah aku mengajakmu, kalau ada apa-apa denganku, kan ada kau yang Dokter...”

Jodha hanya tersenyum menanggapi kata-kata Nyonya Dhanjani. Setelah harus menunggu satu jam, akhirnya Jodha dan Nyonya Dhanjani keluar dari Rumah Sakit. Tidak terpikir untuk berganti pakaian, Jodha keluar dengan masih mengenakan setelan kemeja putih dan rok selututnya, pakaian yang setiap hari dipakainya bekerja. Rambutnya digelung sederhana di dekat tengkuknya demi kerapian.

Mereka berjalan menuju mobil yang terparkir di luar yang akan membawa mereka ke salah satu pusat perbelanjaan di Delhi. Sesampainya di tempat yang dituju, dari dalam mobil Jodha melihat ada putra Nyonya Dhanjani sudah berdiri menunggu di pintu masuknya. Sama seperti dirinya, masih mengenakan setelan kemeja dan celana kerjanya, tanpa jas.

Jodha –“Anda sudah ditemani putra anda, kenapa masih mengajak saya?”

Nyonya Dhanjani –“Karena lebih menyenangkan ngobrol denganmu daripada dengan putraku sendiri.”

Mereka berdua turun di dekat pintu masuk dan putra Nyonya Dhanjani menyambutnya.

Jodha merasakannya lagi, detak jantung yang sama...

Deg deg deg....deg deg deg.... deg deg deg.... deg deg deg....

Jodha menoleh kesana-kemari, mencari keberadaan seseorang yang bahkan tidak dia ketahui nama ataupun wajahnya. Hanya mencoba mencari  petunjuk apapun penyebab detak jantungnya menjadi lebih cepat. Lagi-lagi Jalal memperhatikan kebingungan di wajahnya...

Jalal –“Apa kau mencari seseorang?”

Jodha –“Aku tidak kenal siapapun di kota ini.”

Jalal –“Tapi kau seperti kebingungan..”

Jodha –“Tidak apa... jangan dipikirkan..”

Jodha terdiam sejenak, mencoba mengatur nafasnya lagi dan menenangkan debarnya...

Jodha –“Tuan...”

Jalal –“Jalal saja...”

Jodha –“Jalal, benar tidak apa-apa Ibu anda berjalan-jalan di tempat seperti ini?”

Jalal –“Sebenarnya aku sudah melarangnya, tapi Ibuku memaksa.”

Jodha –“Kalau begitu kita tidak boleh membiarkannya terlalu lelah...”

Nyonya Dhanjani –“Kalian tidak perlu khawatir...”

Percuma saja, meski Jodha dan Jalal merasa keberatan, tapi Nyonya Dhanjani tetap berkeras meneruskan rencananya. Dengan sedikit terpaksa, mereka berdua mengikuti kemanapun dia pergi. Keluar masuk toko satu kemudian toko yang lain. Hingga akhirnya kelelahan di wajah wanita itu tidak dapat disembunyikannya lagi.

Untuk kali ini, Jodha angkat bicara sebagai Dokter. Dengan tegas dia meminta Nyonya Dhanjani untuk pulang, dan ternyata dia menurut. Sesampainya di mobil, ada satu masalah muncul. Salah satu kantong belanjaan Nyonya Dhanjani tertinggal di salah satu toko. Terpaksa Jodha dan Jalal kembali lagi ke dalam.

Saat memasuki lobi gedung, tiba-tiba mereka mendengar teriakan....

“Copet....copet....copet....”

Seorang wanita berteriak dari tengah kerumunan. Jodha mencoba melihat lebih jelas diantara banyaknya orang disana, saat sudut matanya menangkap seorang pria berlari kencang menerobos kerumunan. Di tangannya dia membawa sebuah tas wanita.

Jodha –“Itu copetnya!”

Sambil menunjuk ke arah pencopetnya, tanpa menunggu siapapun Jodha langsung lari mengejarnnya. Gerakannya sedikit terhambat karena dia memakai sepatu high heels dan rok. Dilepaskannya sepatunya dan dilemparkannya salah satunya ke arah pencopet dengan maksud bisa menjatuhkannya, tapi ternyata lemparannya meleset. Dilemparkannya sepatunya yang lain dan.. Hap... tepat mengenai kepala pencopet.

Terkena lemparan ujung heel sepatunya membuat lari pencopet itu sedikit limbung. Jodha tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dipercepat larinya. Dari sampingnya ternyata Jalal sudah berhasil menyusulnya dan mendahuluinya.

Jodha –“Ayo Jalal!...Kejar!"

Jalal berlari mendahului Jodha karena larinya lebih kencang dan juga dia lebih leluasa bergerak daripada Jodha yang mengenakan rok selutut. Jodha terus berlari di belakangnya. Jalal hampir berhasil mendekati pencopet itu dan...HAP...BRUKKK....Jalal berhasil menjatuhkannya dengan melemparkan tubuhnya sendiri pada tubuh pencopet itu. Bobot tubuhnya mampu membuat pencopet itu tersungkur dan tidak berkutik. Jalal mencengkeram kedua lengan pria itu ke belakang tubuhnya.

Jodha yang berhasil menyusul keduanya segera merampas kembali tas yang sempat dibawa lari pencopetnya.

Jodha –“Jalal, sudah...! Lepaskan dia..!”

Jalal –“APA!”

Jalal yang terkejut dengan perkataan Jodha, tidak sadar telah mengendurkan cengkeramannya pada pencopet, dan itu kesempatannya untuk lari.

Jalal –“Kau membiarkannya lepas! Lalu untuk apa kita mengejarnya tadi?!”

Jodha –“Untuk mendapatkan kembali tas ini.”

Jalal –“Apa gunanya kalau penjahatnya tidak tertangkap?!”

Jodha –“Pemilik tas ini tidak akan peduli pencopetnya tertangkap atau tidak. Yang diinginkannya hanyalah tasnya dan isinya bisa dia dapatkan kembali. Dia lebih membutuhkan apa yang ada dalam tas ini, mungkin uang, surat-surat atau barang berharga lainnya...”

Jalal –“Dan kita tidak akan melaporkannya?”

Jodha –“Tidak, kalau kau melaporkannya maka kau akan membuat pemilik tas ini dalam masalah juga. Jika lapor polisi maka polisi akan menyita tas ini sebagai barang bukti. Bayangkan saja, wanita itu akan berbelanja tapi tasnya dibawa polisi berarti dia tidak akan bisa belanja, iya kan?”

Jalal –“Baik, aku mengalah... Darimana kau punya pemikiran seperti itu?”

Jodha –“Dari seseorang yang....”

Jodha tidak meneruskan kata-katanya. Entah kenapa Jodha tidak ingin mengatakan yang sebenarnya tentang arti Dev bagi Jodha.

Jodha –“Ayo kita kembali ke dalam, kita juga masih harus mengembalikan tas ini pada pemiliknya.”

Tanpa beralas kaki, Jodha berbalik hendak meninggalkan tempat itu, saat tiba-tiba Jalal menarik tubuhnya kembali mundur ke belakang. Jodha terkejut bahkan tidak terpikir untuk melawan. Sekarang posisi punggungnya menempel pada tubuh depan Jalal...

Jodha –“A..ada apa?...Lepaskan!”

Jalal –“Jangan salah paham, aku hanya melindungimu dari rasa malu... Rokmu robek di bagian belakang.”

Jalal membisikkan kalimat yang terakhir di dekat telinga Jodha. Hembusan napasnya yang keluar saat Jalal berbisik membuat Jodha merinding. Dia membutuhkan waktu cukup lama sampai bisa memahami sepenuhnya kata-kata yang ingin disampaikan Jalal.

Jodha –“Benarkah?!”

Jodha tidak percaya, karena itu dia melongokkan kepalanya ke belakang sampai akhirnya bisa melihat bahwa roknya robek cukup lebar tepat di bagian pantatnya. Jodha benar-benar merasa malu, apalagi Jalal yang pertama kali mengetahuinya. Rasanya dia ingin ditelan bumi saat ini juga untuk menyembunyikan rasa malunya.

Jodha –“Astaga! Pasti robek saat aku berlari tadi... Bagaimana ini, aku tidak punya apa-apa untuk menutupinya?!”

Dalam posisi hampir menempel seperti itu, Jalal masih punya cukup ruang untuk melepaskan kemejanya membuat Jodha sedikit panik karena dipikirnya Jalal akan berbuat macam-macam padanya, sementara Jodha sendiri tidak bisa bergerak kemana-mana gara-gara roknya. Ternyata Jalal melingkarkan kemejanya ke pinggang Jodha dan mengikatkannya di bagian depan. Ini dilakukannya untuk menutupi rok yang robek.

Lidah Jodha menjadi kelu tak mampu bicara, ternyata Jalal hanya berniat baik padanya.

Jodha –“Eh..terima kasih...aku..”

Setelah merasa aman karena roknya sudah tertutup, dengan buru-buru seperti mau melompat, Jodha langsung menjauhkan dirinya dari tubuh Jalal. Keputusan yang salah. Sekarang Jodha berhadapan langsung dengan pemandangan tubuh Jalal yang kekar. Agak sedikit terlalu lama Jodha terpaku memandangi tubuh pria di depannya ini. Jodha terpesona. Tubuh Jalal sangat jantan, bersih dari lemak, memperlihatkan kalau pria ini cukup disiplin berolahraga. Pantas saja Jodha merasa seperti menabrak dinding yang keras saat pertama kali mereka tidak sengaja bertabrakan dulu.

Jodha –“Tapi kau sekarang tidak memakai baju..”

Jodha sedikit merasa bersalah, tapi dia juga tidak mungkin mengembalikan kemeja itu karena dia sangat membutuhkannya..

Jalal –“Tidak apa, aku masih pakai kaos dalam...”

Mereka mulai melangkah kembali ke tempat awal mereka sebelum kejar-kejaran dengan pencopet tadi. Langkah Jodha sedikit terpincang tapi dia terus saja berjalan. Jalal yang berjalan di sampingnya menyadar hal itu.

Jalal –“Kemana sepatumu?”

Jodha –“Aku sedang mencarinya, tadi aku melemparkannya ke arah pencopet itu, tapi aku tidak terlalu memperhatikan kemana arah jatuhnya..”

Sambil berjalan, mereka juga mencari sepasang sepatu Jodha. Saat melihat ke bawah, Jalal memperhatikan kaki Jodha sedikit berdarah...

Jalal –“Kakimu berdarah..”

Jodha –“Aku tahu, aku akan mengobatinya kalau sudah sampai asrama nanti...”

Bahkan saat mereka sampai di tempat awal, sepatu Jodha tidak juga bisa ditemukan. Jodha merelakannya, sepatunya benar-benar hilang. Setelah mereka mengembalikan tas itu pada pemiliknya yang sedang menunggu di dekat meja informasi, merekapun segera pergi menuju mobil yang sudah menunggu mereka. Nyonya Dhanjani sudah berada dalam mobil itu. Dia langsung keluar saat melihat Jalal dan Jodha datang.

Nyonya Dhanjani –“Astaga, Jodha?! Apa yang terjadi? Kenapa kalian berantakan seperti ini?!”

Jalal –“Kami tadi mengejar pencopet.”

Jodha hanya diam saja, biarlah Jalal yang bercerita pada Ibunya. Nyonya Dhanjani hanya geleng-geleng kepala mendengarkan penuturan Jalal tentang kejadian yang baru saja mereka alami. Jalal juga menceritakan kalau Jodha harus kehilangan sepatunya dan terpaksa pulang tanpa alas kaki. Karena itu Jalal menawarkan diri mengantar Jodha dengan mobilnya sementara Nyonya Dhanjani pulang sendiri dengan mobil yang dinaikinya saat berangkat tadi.

Tanpa banyak pertimbangan, Nyonya Dhanjani menyetujui usul itu. Jodha hanya menurut saja, karena bagi dia, pilihannya masih lebih baik daripada harus pulang naik taksi sendirian dengan baju robek dan tanpa alas kaki. Akhirnya Jodha masuk ke dalam mobil Jalal.

Jodha –“Jalal, sebenarnya kemarin aku sempat berbicara sedikit dengan Ibumu. Dia bercerita kalau dia mendesakmu segera menikah. Sepertinya aku mulai paham apa yang diinginkannya sebenarnya...”

Jalal –“Apa..?”

Jodha –“Seorang anak.. perempuan atau laki-laki. Maksudnya dia merindukan hubungan antara seorang Ibu dan anaknya. Mungkin dia rindu saat-saat berdekatan denganmu. Mungkin diantara kesibukanmu, dia merasa diabaikan, karena itulah dia ingin kau mencari calon istri yang nantinya akan menemaninya setiap hari. Kau lihat sendiri tadi, Ibumu terlihat lebih segar daripada sebelumnya. Jadi, cobalah kembalikan kehangatan dalam keluargamu yang sempat hilang...”

Jalal –“Kau mungkin benar... Aku tidak pernah mengira kalau Ibuku sangat kesepian. Kupikir aku sibuk untuk memenuhi semua kebutuhan kami jadi kami tidak hidup menderita lagi. Tapi ternyata....”

Jodha –“Seringkali harta bukan pengukur kebahagiaan seseorang...”

Jalal –“Terima kasih...”

Jalal tersenyum pada Jodha. Benar dugaan Jodha, senyumnya bisa memperhalus raut wajahnya yang terlihat keras. Dan senyum itu juga bisa membuat hati Jodha merasa hangat. Lalu...

Deg deg deg....deg deg deg...deg deg deg....deg deg deg....

Detak jantung yang sama..... dan sekarang satu-satunya orang yang ada di dekat Jodha adalah Jalal. Mungkinkah Jalal?

Jodha –“Jalal, apa kau penerima donor jantung?”

Jalal –“Kau bicara apa?”

Jodha –“Lupakan saja...”

Jodha tidak bisa mengendalikan dirinya, pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulutnya. Untung saja tepat saat itu, mobil Jalal berhenti di dekat asrama para residen, tempat Jodha tinggal. Jodha segera membuka pintu mobil seakan ingin segera melarikan diri dari Jalal gara-gara pembicaraan terakhir mereka. Juga ingin melarikan diri dari debar jantungnya sendiri.

Jodha berjalan cepat menuju ke gedung asrama, tanpa menoleh ataupun mengucapkan salam perpisahan pada Jalal. Dia lupa kalau kakinya tidak beralas. Baru beberapa langkah saja dia sudah terpincang-pincang sambil mengaduh kesakitan.

Jodha –“Aww...aaww...aawww...”

Ternyata jalan antara mobil dan gedung asramanya penuh dengan kerikil tajam. Tidak akan terasa seandainya dia memakai alas kaki, tapi berbeda saat ini. Dia mendengar suara langkah Jalal di belakangnya, mengikutinya. Jodha mencoba untuk melangkah lagi, tapi telapak kakinya semakin terasa panas dan perih karena bersentuhan dengan kerikil yang tajam. Jodha tersentak saat Jalal memegangi kedua sikunya dari arah belakang.

Jalal –“Hentikan! Jangan siksa kakimu...!”

Jodha –“Tidak apa-apa... kau pulang saja!”

Jalal tetap menahan Jodha agar tidak bergerak maju. Jodha mencoba melepaskan dirinya, tapi pegangan Jalal lebih kuat.

Jalal –“Aku akan menggendongmu.”

Jodha –“Jangan! Tidak baik untuk reputasiku kalau dilihat pasien. Apalagi kalau melihat baju yang kita pakai ini. Orang-orang bisa salah paham.”

Jodha mengingatkan Jalal kalau pakaian mereka agak sedikit tidak sesuai dengan nilai kepantasan. Jodha berpikir orang akan menuduh yang bukan-bukan jika melihat penampilan mereka. Yang wanita memakai kemeja pria di pinggangnya, sedangkan yang pria hanya memakai kaos dalam.

Jalal –“Kalau begitu kau naik punggungku!”

Jodha –“Tidak mungkin! Aku pakai rok...”

Jalal diam beberapa saat, sepertinya sedang memikirkan solusi lain.

Jalal –“Kalau begitu naikkan kakimu ke atas kakiku..”

Jodha –“Apa yang akan kau lakukan?”

Tanpa banyak bicara, Jalal menempatkan dirinya di belakang Jodha. Diselipkannya kaki kanannya ke bawah kaki kanan Jodha, begitu juga kaki kirinya. Lalu Jalal mulai berjalan. Pada langkah awal, Jodha sedikit limbung ke depan, lalu Jalal memegang kedua lengan Jodha agar posisi mereka lebih stabil. Setelah merasa posisinya cukup pas, Jalal mulai melangkah lagi.

Jodha –“Ini konyol... Apa kau tidak merasa berat?”

Jalal –“Cukup berat.. Kau berhutang banyak padaku...”

Jodha –“Baik, kau boleh menagihnya kapanpun...”

Entah siapa yang memulai, tapi keduanya sama-sama tertawa atas tingkah konyol mereka sendiri. Seperti anak kecil yang menikmati permainan mereka bersama-sama. Mereka berdua tidak memperhatikan ada seseorang yang mengawasi mereka di balik kaca gedung Rumah sakit....

********************


Heart’s Beat Part 3 – By Tyas

2 comments:

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.