Heart’s Beat Part 4 – By Tyas - ChusNiAnTi

Heart’s Beat Part 4 – By Tyas



By Tyas Herawati Wardani

Jodha mendarat dengan selamat di depan kamar asramanya. Setelah tingkah mereka sendiri yang cukup konyol, sekarang mereka berdua justru sama-sama canggung. Jalal jadi irit bicara, dia hanya mengucapkan salam perpisahan pada Jodha, meninggalkan Jodha yang masih tersenyum, dan mata Jodha mengikuti langkah Jalal pergi dari tempat itu.
Tiba-tiba saja ada Amar di belakangnya yang berbicara dengan sedikit ketus...
Amar –“Apa yang akan tunanganmu katakan jika dia tahu kau menempelkan tubuhmu pada pria lain?!”
Jodha –“Keadaan yang memaksa karena aku mengalami sedikit kesialan... Tapi aku dan Jalal hanya teman...”
Amar –“Kalau dia temanmu apa dia sudah cerita kalau dia adalah seorang pembunuh?!”
Jodha –“APA!”
Amar –“Itu rahasia umum. Dia membunuh ayahnya sendiri saat usianya 19 tahun.”
Jodha terkejut dengan fakta baru itu. Di satu sisi dia tidak percaya Jalal sanggup melakukannya, tapi di sisi lain dia juga tidak percaya Amar akan berbohong padanya....
Amar –“Dia juga punya reputasi yang buruk. Dia sering digosipkan bermalam bersama wanita-wanita yang sedang dekat dengannya. Dan seperti kutukan, setiap wanita yang pernah dekat dengannya sering terlibat skandal yang memalukan. Aku tidak mau kau mengalami semua itu. Jauhi dia selagi kau bisa..”
Setelah puas menjelek-jelekkan Jalal pada Jodha, Amar pergi begitu saja. Meninggalkan Jodha dengan ribuan pertanyaan dan keraguan. Kalau memang faktanya seperti itu, seharusnya Jodha segera menjauh dari Jalal. Seharusnya Jodha tidak berhubungan dengan seorang kriminal. Tapi membayangkan Jalal seorang kriminal, Kenapa gambaran itu tidak cocok dengan Jalal yang dia kenal. Meski mereka baru dua kali bertemu, ditambah lagi mereka belum sempat mengobrol hal yang lebih pribadi, tapi Jodha merasa memiliki keyakinan bahwa Jalal adalah orang yang memiliki prinsip yang baik dan tidak akan sanggup membunuh orang.
Sebelumnya, Jodha tidak pernah ragu untuk menjauh dari setiap pria, karena yang diyakininya hati dan pikirannya masih milik Dev. Tapi kenapa sekarang rasanya berbeda. Kenapa terasa berat sekali untuk mengacuhkan Jalal. Kenapa dengan Jalal perasaannya mengalir begitu saja, seperti perasaan pulang ke rumah yang selalu dirindukan. Jodha merasa kalau dia sudah menunggu munculnya perasaan ini sejak lama. Setelah lama berpikir, akhirnya Jodha menyerah, dia tidak bisa menemukan jawaban apapun.
Esok harinya, Jodha memilih kembali tenggelam pada pekerjaannya dengan harapan pikirannya akan menjauh dari semua kerumitan tadi malam. Tapi keinginannya untuk hanya memusatkan pikiran pada pekerjaannya sepertinya belum bisa terwujud. Selalu ada hal lain yang menarik hatinya. Kali ini adalah terlibat dalam sebuah kegiatan sosial.  Tawaran itu datang dalam bentuk selebaran yang tergeletak begitu saja di meja kerjanya. Isi selebaran itu adalah tentang ajakan bagi staf Rumah Sakit maupun tenaga medis untuk terlibat sebagai sukarelawan yang akan menghibur anak-anak panti asuhan. Kegiatannya dilakukan setiap hari Minggu. Dan Jodha ingin bergabung di dalamnya.
Hari Minggu, semua sukarelawan berkumpul di aula Rumah Sakit, rencananya dari sana mereka akan berangkat bersama-sama ke panti asuhan yang dituju. Sukarelawan yang teribat ternyata cukup banyak hingga diputuskan mereka akan terbagi empat kelompok yang akan pergi ke empat panti yang berbeda. Tak disangka, diantara para sukarelawan, Jodha melihat Amar. Sepertinya dia datang di saat-saat terakhir karena Jodha belum melihatnya saat baru berkumpul tadi.
Pembagian kelompok selesai dilakukan, dan bukan hal yang mengejutkan lagi bagi Jodha jika ternyata dia satu tim dengan Amar. Kelompok mereka terdiri dari enam orang dan akan mengunjungi Blessing Kids Orphanage. Disepakati mereka akan melakukan sebuah pesta kejutan dan aneka permainan disana. Berbekal macam-macam mainan anak, belasan bungkus hadiah dan makanan kecil, mereka berangkat. Tidak lupa mereka membawa dua set kostum boneka badut untuk penyemarak acara.
Sesampainya di panti asuhan itu, tanpa membuang waktu, mereka berenam menyiapkan semua perlengkapan pesta sederhana. Jodha menawarkan diri sebagai orang yang memakai kostum badut. Dan Amar juga. Jodha memilih kostum penguin dan Amar memakai kostum panda. Keduanya pun menutup seluruh tubuh mereka dari kepala sampai kaki dengan kostum itu. Tidak bisa lagi mengenali yang mana Jodha atau Amar.
Pestanya cukup menyenangkan meski sederhana. Bagi anak-anak di panti, bentuk hiburan sekecil apapun adalah berkah bagi mereka. Semuanya larut dalam keceriaan pesta ditambah dengan kehadiran penguin dan panda diantara mereka.
Hampir empat jam Jodha berada di balik kostumnya. Tubuhnya sudah terasa mendidih dan keringat sudah membasahi seluruh bajunya. Tapi Jodha tidak mengeluh, dia masih ingin terus menghibur anak-anak panti. Di tengah-tengah acara, salah satu anak berteriak menunjuk ke luar jendela, ke sebuah mobil yang baru masuk ke halaman gedung panti. Teriakannya mengundang perhatian anak-anak yang lain. Seperti dikomando, mereka serempak mendekati jendela dan berteriak-teriak senang memanggil nama “Paman Jalal” berulang-ulang. Jodha dan teman-temannya bingung akan perubahan tingkah anak-anak itu.
Kemudian Ibu asuh panti masuk bersama seorang pria. Jodha menoleh ke arah pintu dan melihatnya. Jodha melihat Jalal.....Begitu Jalal memasuki ruangan, dia langsung dikerubuti oleh semua anak yang berebut untuk bersalaman dan memeluk Jalal.
Jalal tidak menyadari kehadiran Jodha di ruangan itu karena tubuh dan wajahnya tertutup kostum penguin. Dengan senyum yang terkembang di wajahnya, Jalal dengan sabar meladeni anak-anak itu, menjawab pertanyaan, memeluk mereka satu persatu bahkan bergantian menggendong mereka. Jodha tidak percaya orang itu adalah Jalal yang dikenalnya, yang memiliki wajah dingin dan datar, sedatar tembok. Bisakah orang bersikap seperti itu dan menjadi pembunuh?
 Ibu panti memberi aba-aba pada semua anak asuhnya untuk tenang. Dia akan membagikan lolipop satu per satu pada semua anak, hadiah yang dibawa oleh Jalal.... Di sudut ruangan, Jodha hanya diam memperhatikan. Pikirannya membeku. Dia merasa seperti mengalami deja vu. Dia pernah melakukan ini...bersama Dev. Sama seperti Jalal, Dev gemar sekali membawakan lolipop untuk anak-anak panti... Kenapa kebetulan sekali? Kenapa Jalal bisa melakukan hal yang sama seperti yang Dev lakukan?....
Jodha masih diam mematung, sama sekali tidak mendengar ada seorang anak yang bersemangat memanggil-manggilnya. Hingga panggilan yang ketiga, dia baru tersadar dari lamunannya. Jodha melongok ke bawah karena pandangannya tertutup kostumnya. Di bawahnya ada seorang anak kecil menyodorkan lolipop untuknya. Anak itu mengatakan kalau lolipop ini dari pamannya yang tercinta. Dengan tangan gemetar, Jodha menerimanya. Dipandanginya lolipop itu seakan benda itu adalah benda paling langka di dunia.
Dadanya rasanya mau meledak karena tangis yang berusaha ditahannya, tapi Jodha gagal. Dia pun berlari keluar dari ruangan itu, tidak ingin tangisnya didengar siapapun.....
Amar yang bingung dengan tingkah Jodha yang tiba-tiba berubah, berlari mengikutinya keluar. Berlari dengan kostum yang berat itu butuh usaha ekstra keras. Sebenarnya Jodha ingin berlari lebih jauh agar dia bisa lepas dari sakit dan sedihnya mengingat kenangannya bersama Dev. Tapi apa daya, tubuhnya tidak punya tenaga lagi. Dia pun terduduk lemas menyandarkan punggungnya di salah satu sudut gedung panti asuhan. Dibukanya penutup kepalanya dan segera menghirup udara dalam-dalam untuk menjernihkan pikirannya.
Sambil menutup kedua matanya, Jodha berusaha menyimpan kembali kenangannya bersama Dev. Kenangan-kenangan itu harusnya tidak keluar di saat seperti ini. Perlahan..pikirannya mulai tenang...tapi tidak dengan detak jantungnya....Detaknya bertambah cepat hingga rasanya rongga dadanya semakin sesak...
Dan dibalik matanya yang tertutup, bukan lagi bayangan Dev yang muncul, tapi Jalal.....
Seketikan Jodha membuka matanya, seakan ketakutan akan apa yang dilihatnya barusan...
Amar yang sudah berhasil menyusulnya, duduk di sampingnya...
Amar –“Ada apa?...Apa kau hanya ingin sembunyi dari Jalal?”
Jodha –“ Tidak, aku hanya merasa sesak di dalam. Aku butuh udara segar...”
Amar –“Apa kau sakit?....Pasti kostum ini terlalu berat untukmu..”
Jodha –“Tidak, aku juga pernah memakai kostum seperti ini di Canada. Aku hanya....”
Amar –“Kau haus ya? Kuambilkan minum....”
Amar bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam lagi untuk mencarikan minum bagi Jodha.
Belum lama Amar pergi, mendadak Jodha merasa ada orang yang berdiri di sampingnya, awalnya dia kira orang itu Amar yang sudah kembali dari dalam....Tapi ternyata bukan...
Jodha –“Jalal...!”
Jalal –“Aku sudah mengira si penguin itu kau.....Ini minumlah, kau pasti haus...”
Jalal menyodorkan sebotol air minum dan langsung diterima Jodha. Dalam sekali tenggak, isi botolnya sudah tersisa kurang dari setengahnya.
Jodha –“Terima kasih..... Darimana kau tahu itu aku?”
Jalal –“Aku melihat beberapa perawat yang pernah kutemui saat mengantar Ibuku ke Rumah Sakit. Dan saat melihat ada penguin sedang menempel di sudut ruangan, aku langsung terpikir itu dirimu. Aku juga tidak tahu darimana datangnya pikiran itu....”
Jodha –“Lalu kau mengikutiku kesini?”
Jalal –“Ya...Kenapa kau lari?”
Jodha tidak menjawab, bersamaan dengan itu pula, Amar datang membawakan air minum yang tadi dijanjikannya. Meski terkejut melihat Jalal juga disana, tapi Amar tidak mengacuhkannya. Tetap disodorkannya botol air yang dibawanya meski dia melihat Jodha sudah memegang sebuah botol. Tampak jelas raut permusuhan di wajah Amar.
Amar –“Ini minumlah....kau sudah lebih baik?”
Jodha –“Sudah, terima kasih....Amar, ini Jalal..”
Amar –“Aku sudah pernah melihatnya di majalah. Semua orang juga sudah tahu siapa dia!”
Jawaban Amar sangat ketus, bahkan uluran tangan Jalal untuk berkenalan juga tidak digubrisnya. Namun Jalal tidak berkomentar apa-apa, dia cukup mengenali tanda-tanda rivalitas pada sikap yang ditunjukkan oleh Amar.
Jalal –“Jodha, ada pesan dari Ibuku untukmu, dia ingin mengundangmu makan malam...”
Jodha –“Eh..iya..”
Amar –“Sebaiknya kau menjaga sikapmu pada Jodha. Apa kau tidak tahu Jodha sudah memiliki tunangan? Jangan sampai Jodha juga ikut terseret ke dalam skandalmu!”
Jalal terkejut atau tidak, dia tidak menunjukkannya, hanya sedikit mengangkat alisnya. Jodha memperhatikan tidak ada perubahan ekspresi yang muncul di wajahnya,  Jalal tetap datar.
Jalal –“Aku masuk dulu.”
Jalal melangkah pergi meninggalkan Jodha dan Amar berdua.
Amar –“Jangan terima undangannya!”
Jodha –“Aku juga ingin begitu, tapi undangan ini dari Ibunya, sangat tidak sopan jika aku menolaknya..”
Amar –“Semakin lama kau terlibat dengan orang itu, kau bisa mendatangkan masalah untuk dirimu sendiri. Aku mengkhawatirkanmu...”
Jodha –“Terima kasih. Akan kupertimbangkan saranmu...”
Jodha tidak bisa meyakinkan Amar kalau dia tidak punya perasaan apa-apa pada Jalal, karena dia bahkan tidak bisa meyakinkan dirinya sendiri. Jodha sudah terlibat dalam masalah besar, masalah yang melibatkan perasaannya...
Kegiatan sosial itupun berakhir. Pada saat Jodha dan timnya mengemasi perlengkapan mereka, Jodha tidak melihat Jalal dimanapun, padahal mobilnya masih terparkir di halaman. Tapi tidak mungkin bagi Jodha untuk mencari Jalal, alasan apa yang akan dia katakan, hanya sekedar berpamitan? Rasanya terlalu dibuat-buat...
Hingga beberapa hari, Jodha masih bingung apakah dia akan menerima undangan Nyonya Dhanjani atau tidak. Jika dia menerimanya, itu berarti dia memang belum bisa melepaskan pikirannya dari Jalal karena makan malam itu juga pasti melibatkan Jalal. Jika dia menolaknya maka Nyonya Dhanjani akan tersinggung. Kenapa Jodha sulit melepaskan bayangan Jalal? Apakah dia penasaran akan masa lalu Jalal setelah apa yang dikatakan Amar bahwa Jalal adalah seorang pembunuh? Masalahnya, jauh di dalam lubuk hatinya, Jodha percaya Jalal adalah orang baik dan bertanggung jawab. Jika sampai ada berita seperti itu, pasti ada sebabnya. Sebagai orang baru di Delhi, Jodha tidak bisa mengorek informasi dari siapapun, dia tidak mengenal siapapun disini, karena itulah satu-satunya cara mendapatkan kebenaran adalah dengan bertanya langsung pada yang bersangkutan.
Suatu sore, Nyonya Dhanjani mendatangi Jodha di ruangannya..
Nyonya Dhanjani –“Kau belum memutuskan kapan akan makan malam denganku, karena itu aku menjemputmu. Malam ini kita makan bersama di rumahku!”
Jodha –“Nyonya D, ini terlalu mendadak...Aku belum bersiap-siap.”
Nyonya Dhanjani –“Tidak masalah, kau tidak perlu tampil resmi, karena kita hanya makan malam di rumahku, bertiga saja..”
Jodha –“Baiklah, sebentar lagi pekerjaanku selesai..”
Nyonya Dhanjani –“Aku tunggu di mobil.”
Nyonya Dhanjani benar-benar menunggu di mobilnya. Beberapa menit kemudian, Jodha turun menyusulnya. Mobil yang mereka naiki langsung bergerak menyusuri jalan-jalan kota menuju kediaman Nyonya Dhanjani dan Jalal. Jodha berpikir seandainya Jodha harus pergi sendiri ke rumah Jalal, bisa-bisa dia tersesat di tengah-tengah kota Delhi ini. Karena jalan yang harus mereka lewati banyak sekali persimpangannya.
Hanya butuh waktu empat puluh lima menit untuk sampai di rumah Nyonya Dhanjani. Rumah yang cukup mewah dengan gerbang besar di bagian depan. Rumahnya berlantai dua, dengan teras yang cukup lebar. Ada taman kecil hanya sekedar untuk mempercantik lanskap bangunan itu sendiri. Nyonya Dhanjani menuntun Jodha masuk. Di dalam rumah, Jalal sudah menunggu mereka. Pakaian yang dikenakannya cukup santai, kemeja polo dan celana jeans. Jalal hanya mengangguk pada Jodha sebagai pengganti ucapan salam.
Interior rumahnya cukup minimalis, tidak terlalu banyak pajangan dan lukisan. Pantas saja Nyonya Dhanjani merasa kesepian, pikir Jodha, rumah sebesar ini hanya ditempati mereka berdua. Jodha mengikuti langkah Nyonya Dhanjani ke dapur. Disana dia membantu wanita itu mempersiapkan hidangannya...
Jodha –“Kenapa anda tidak meninggalkan pesan saja? Daripada harus menjemputku.”
Nyonya Dhanjani –“Aku lebih baik menjemputmu langsung, kau tidak akan punya kesempatan menolakku...”
Jodha –“Apakah keinginan anda terbiasa dituruti?”
Nyonya Dhanjani –“Tidak juga, malah dulu aku biasa menuruti keinginan orang lain. Hanya saja sekarang aku terlanjur menyukaimu, jadi aku tidak ingin kau menjauh dariku dan putraku..”
Jodha –“Anda tidak sedang ingin menjodohkan aku dan Jalal, kan?”
Nyonya Dhanjani –“Tentu saja tidak, mana aku berani. Jalal mengatakan kau sudah bertunangan. Meski tidak begitupun, aku tidak akan bisa memaksakan pilihanku pada Jalal. Aku hanya melihat kehadiranmu di dekat Jalal membuatnya sedikit lebih santai, karena itu aku hanya berharap tetaplah menjadi temannya. Jalal tidak punya banyak teman, dia punya musuh lebih banyak...”
Nyonya Dhanjani mengatakan itu semua dengan nada yang cukup datar, atau mungkin dia menutupi semua perasaannya. Jodha dan Nyonya Dhanjani mulai menyiapkan meja makan. Pada saat Jodha membawa sebuah mangkok berisi masakan kari...Uppss... tidak sengaja dia bertabrakan dengan Jalal. Beberapa tetes kuah kari membasahi baju Jalal.
Jodha –“Astaga, maafkan aku..”
Jalal –“Tidak apa, aku akan mengganti bajuku.”
Yang dimaksud Jalal dengan mengganti baju adalah melepas bajunya di depan Jodha dan Nyonya Dhanjani di ruang makan, barulah Jalal pergi ke kamarnya untuk mengambil baju yang baru.
Saat Jalal membuka baju di depannya, Jodha terkesiap melihatnya. Kali ini bukan pemandangan tubuh Jalal yang kekar yang membuatnya tak bisa bicara,... tapi bekas luka jahitan yang membentang di dadanya.... Jodha tidak berkedip,... jantungnya berdegup sangat kencang... bahkan telinganya sampai mendengung mengetahui fakta yang baru saja ditemukannya..... Berarti Jalal pernah dioperasi di bagian dada...Apakah jantungnya?....Apakah dia pemilik baru jantung Dev?.....Apakah itu sebabnya jantung Jodha sering berdetak cepat bila kebetulan ada Jalal di dekatnya?.....

********************


Heart’s Beat Part 4 – By Tyas

6 comments:

  1. lanjut mba tyas, aku suka ceritax....jgn lama2 ya

    ReplyDelete
  2. Mb Tyas 😊. Bersambung tepat saat saya teriak dan jantung saya juga ikut berdebar... 😊. Lanjut mb. Semangat😊

    ReplyDelete
  3. Mana kelanjutan nya bikin penasaran..

    ReplyDelete
  4. Penasaran mbak cerita yg bgs, lnjt ya ....

    ReplyDelete
  5. Lanjutannya mana mba??jangan lama2 ya...ku suka banget ceritanya..deg..deg..deg...deg....

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.