Heart’s Beat Part 5 – By Tyas Herawati Wardani - ChusNiAnTi

Heart’s Beat Part 5 – By Tyas Herawati Wardani


Heart’s Beat Part 5
By Tyas Herawati Wardani

“Jodha.....Jodha.....Jodha....”
Jodha sama sekali tidak mendengar namanya berulang kali dipanggil. Nyonya Dhanjani bingung melihat Jodha seperti mematung di tengah ruangan. Seakan-akan dia baru saja melihat hantu. Wajah Jodha juga terlihat pucat. Nyonya Dhanjani menghampiri Jodha dan mengguncang bahunya..
Nyonya Dhanjani –“Jodha!...Ada apa? Kenapa kau seperti kerasukan begini? Apa yang membuatmu terkejut sampai tidak mendengarku? ....Jangan membuatku takut..”
Jodha baru tersadar, Nyonya Dhanjani mengguncang-gunang tubuhnya dengan sedikit panik..
Jodha –“Ehh..tidak..aku tidak apa-apa...Hanya baru teringat sesuatu yang penting...”
Untuk menyembunyikan rasa terkejutnya, Jodha meneruskan kegiatannya yang sempat terhenti. Dia kembali membantu Nyonya Dhanjani menyiapkan makanan di atas meja. Sikapnya diatur sedemikian rupa seakan kejadian tadi tidak pernah terjadi. Mungkin Jodha bisa menyembunyikannya, tapi rasa penasaran itu menggerogotinya dari dalam.
Jalal turun dari kamarnya di atas dan sudah berganti pakaian. Dia berjalan menuju meja makan karena Ibunya dan Jodha sudah menunggunya. Jalal sama sekali tidak menyadari perubahan sikap Jodha gara-gara adegan buka bajunya tadi. Mereka bertiga pun duduk mengelilingi dan mulai menikmati makan malamnya.
Nyonya Dhanjani –“Jodha, apa kau menyukainya?”
Jodha –“Iya, masakan anda lezat...”
Nyonya Dhanjani –“Sepertinya kau agak pendiam,apa kau sakit?”
Jodha –“Tidak, aku baik-baik saja..Mungkin aku agak lelah setelah seharian bekerja..”
Nyonya Dhanjani –“Maaf kalau aku harus menculikmu tadi...”
Usaha Nyonya Dhanjani untuk mencairkan ketegangan yang dirasakan Jodha rupanya berhasil, karena Jodha tersenyum sambil menahan kikikan geli di wajahnya.
Jalal –“Kenapa kau memilih spesialisasi kardiovaskuler?”
Jalal yang semula diam saja, sekarang mulai berani ikut mengobrol.
Jodha –“Karena aku suka sekali mendengar suara detak jantung...Apa kau pernah mendengar detak jantungmu sendiri? Menurutku suaranya sangat indah, apalagi jika kita merasakannya dalam kesunyian. Bagiku, jantung adalah pusat kehidupan... Jantung yang berdetak artinya selalu ada harapan kehidupan..”
Jalal –“Dulu aku hampir kehilangan jantungku, tapi mungkin Tuhan masih sedikit kasihan padaku. Saat aku yakin aku pasti akan mati, entah bagaimana keajaiban itu terjadi. Aku mendapatkan kesempatan hidup kedua, jantungku masih berdetak dalam tubuhku sampai sekarang.”
Jodha sudah sangat ingin menanyakannya. Pertanyaan itupun sudah ada di ujung lidahnya, tapi dia tidak berani mengutarakannya. Dia takut menghadapi kenyataan. Dia takut kenyataan akan membuatnya semakin terpuruk. Banyak kata ‘seandainya’ berputar-putar di kepalanya. Bagaimana seandainya Jalal memang pemilik baru jantung Dev? Apa yang akan dikatakan Jodha padanya?... Tapi bagaimana seandainya Jalal bukanlah orang yang selama ini dicarinya... Bagaimana seandainya Jalal bukanlah penerima donor jantung? Itu artinya Jodha masih harus mencari lagi.... Lalu kenapa jantungnya sering berdetak cepat saat ada Jalal di dekatnya?.. Apakah Jodha salah mengenali perasaannya sendiri?... Apakah Jodha berharap terlalu banyak pada kebetulan-kebetulan yang sering terjadi?
“Jodha....jodha....jodha....”
Lagi-lagi Jodha tidak mendengar panggilan Nyonya Dhanjani di telinganya. Pikirannya terlalu jauh mengembara. Pikirannya terlalu penuh untuk bisa memikirkan yang lain lagi....
Jodha –“Maaf Nyonya D, aku tidak mendengarmu lagi...”
Nyonya Dhanjani –“Menginaplah disini kalau kau memang sangat lelah... di asramamu tidak ada yang akan merawatmu. Atau mungkin kami bisa memanggil orang tuamu? Mereka juga akan khawatir jika tahu kondisimu...”
Jodha –“Tidak perlu, orang tuaku ada di Canada. Terlalu jauh bagi mereka jika harus bolak-balik Canada-India. Aku sudah dewasa, ditambah lagi aku tinggal di lingkungan Rumah Sakit. Dengan mudah Aku bisa mendapatka perawatan...Tapi terima kasih sudah mencemaskanku.”
Nyonya Dhanjani –“Kau begitu jauh datang ke India...apa ada alasan khusus kau memilih kota ini?”
Jodha –“Ada... Aku juga sedang mencari seseorang.”
Nyonya Dhanjani –“Kau sudah menemukannya?”
Jodha –“Belum...”
Amar –“Aku bisa membantumu mencarinya...kalau kau mau..”
Jodha –“Tidak perlu... aku tidak ingin merepotkan siapapun.”
Nyonya Dhanjani –“Jodha..kami sudah merepotkanmu... Berilah kami kesempatan agar kau mau merepoti kami... Kami senang jika bisa membantumu..”
Jodha –“Terima kasih.... Ehm, sebaiknya aku langsung pulang saja... Aku akan istirahat di asrama.”
Nyonya Dhanjani mengalah, dia membiarkan Jodha pulang meski sebenarnya dia masih ingin mengobrol banyak dengan gadis itu. Bagi Nyonya Dhanjani, Jodha adalah gadis yang berbeda dari semua gadis muda yang pernah dikenalnya di lingkungan pergaulan Jalal. Hanya tiga kali pertemuan termasuk malam ini, Nyonya Dhanjani sudah bisa menilai jika Jodha bukanlah gadis yang manja, terlalu banyak menuntut ataupun terlalu banyak bertanya. Jodha cantik, bahkan sangat cantik dengan perpaduan darah barat dan timurnya, bukannya ditunjukkan, Jodha malah berusaha menyembunyikan pesonanya itu.
Sebagai Ibu yang normal, Nyonya Dhanjani pasti juga punya harapan putranya bisa mendapatkan gadis sebaik Jodha, tapi dia tidak akan berharap terlalu banyak. Bahkan mungkin dia tidak tega kalau Jodha harus disandingkannya dengan Jalal, putranya. Dia tahu bagaimana sifat putranya itu. Dia sangat dingin, apatis dan sangat pasif bila menyangkut hubungan dengan wanita. Wanita-wanita yang selama ini dikencaninya hanya tertarik pada jabatan dan kekayaannya, dan ironisnya Jalal menyadari semua itu. Entah kenapa pilihan Jalal tetap saja jatuh pada wanita-wanita seperti itu. Itulah kenapa Nyonya Dhanjani enggan jika Jalal menyukai Jodha, menurutnya Jalal tidak akan bisa memperlakukan Jodha dengan sepantasnya, dan itu pasti akan menyakiti Jodha. Cukup jika Jodha mau berteman dengan Jalal saja. Dan syukurlah, sampai saat ini hubungan keduanya tidak lebih dari seorang teman.
Nyonya Dhanjani melambaikan tangannya mengantar kepergian Jodha dari teras rumahnya. Jalal sendiri yang mengantar Jodha pulang. Dalam hatinya, sebenarnya Jalal juga mengkhawatirkan Jodha, tapi dia tidak tahu bagaimana cara mengatakannya. Selama perjalanan, dia hanya terus bolak-balik menoleh ke samping tempat duduknya untuk memastikan Jodha baik-baik saja. Gadis yang diperhatikannya hanya diam membisu, wajahnya melihat terus ke arah luar jendela, membuat Jalal bertanya-tanya apa yang sedang mengganggu pikirannya hingga dia sangat terusik selama makan malam tadi.
Jalal –“Apa yang kau pikirkan? Apa kau merindukan tunanganmu?”
Jodha –“Iya...”
Jalal merasa sedikit cemburu, tapi apa mau dikata, tunangan Jodha yang lebih dulu mendapatkan hatinya.
Jodha –“Jalal..sejak kapan kau sering mengunjungi Blessing Kids?”
Jalal –“Sudah lama. Dulu aku pernah ditampung dan tinggal di panti itu. Aku dan Ibuku, kami tidak punya tempat tinggal dan uang. Disana kami tinggal selama 2 tahun, kami diberi makan, tempat untuk tidur dan perlindungan.”
Jodha –“Kau berumur berapa saat itu?”
Jalal –“Sembilan tahun... Jadi kami berhutang budi pada panti asuhan itu, dan sekarang aku ingin membalasnya.”
Jodha –“Apa juga kebiasaanmu membawa lolipop kalau mengunjungi mereka?”
Jalal –“Iya, kenapa?”
Jodha –“Tunanganku juga begitu, dia senang membawakan lolipop untuk anak-anak panti asuhan.”
Jalal –“Oh... itukah kenapa kau lari menghindariku saat kita bertemu di Blessing Kids? Kau jadi merindukan tunanganmu gara-gara melihatku dan lolipop yang kubawa?”
Jodha –“Iya.”
Jodha menjawabnya dengan berat hati, baginya masih terasa cukup menyakitkan jika mengenang kembali saat-saat kebersamaannya dengan Dev. Beberapa saat mereka terdiam, bingung harus membicarakan topik apa lagi..
Jalal –“Temanmu Amar sepertinya tidak suka jika kau dekat denganku... Apa dia punya perasaan padamu?”
Jodha –“Sepertinya begitu... Tapi aku tidak berani memikirkannya..”
Tiba-tiba terdengar bunyi seperti letusan yang sangat keras bersamaan dengan guncangan yang mereka rasakan dari dalam mobil. Keduanya terlonjak karena terkejut tapi langsung bisa mengontrol diri mereka masing-masing.
Jodha –“Sepertinya ban mobilmu meletus..”
Jalal –“Kupikir juga begitu.”
Jalal menepikan mobilnya perlahan-lahan, kebetulan lalu lintas jalan yang mereka lalui tidak terlalu ramai, sehingga tidak mengganggu kendaraan yang ada di belakang mereka. Jalal turun dari mobilnya dan memeriksa keempat ban mobilnya. Jodha juga ikut turun.
Jalal –“Ban belakang sebalah kanan yang meletus tadi..”
Jodha –“Apa kau membawa cadangannya?”
Jalal –“Ada. Tunggu sebentar ya...”
Sambil menunggu Jalal mengutak-atik ban mobilnya, Jodha mulai mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat mereka berhenti. Daerah itu cukup sepi, dengan beberapa rumah berbaris di pinggir jalan. Tapi karena daerah ini bukan di dekat pusat keramaian, jadi tidak terlihat aktifitas apapun dari penghuni ruma-rumah itu meski waktu belum menunjukkan tengah malam. Jalan rayanya cukup lebar, tapi kendaraan yang melewatinya tidak terlalu banyak. Meski agak lengang, tapi untunglah lampu jalannya cukup terang. Sehingga siapapun yang lewat jalan ini tetap merasa aman.
Jodha menoleh ke kanan dan ke kiri. Saat menoleh ke sebelah kiri itulah, ada sebuah kerlip-kerlip cahaya kecil yang menarik perhatian Jodha. Tanpa sadar, kakinya bergerak melangkah mengikuti arah cahaya kerlip itu bergerak. Dari pinggir jalan raya, Jodha berbelok masuk ke sebuah gang yang diapit dua buah rumah di samping kanan dan kirinya. Kakinya terus berjalan mengikuti arah matanya memandang.
Di balik bangunan rumah itu, ternyata ada sepetak tanah kosong tak terawat, terlihat dari tingginya rumput liar yang tumbuh disana. Petak tanah itu sebenarnya cukup luas, sebanding dengan ukuran luas sebuah lapangan futsal. Tidak ada satupun lampu yang menerangi tanah itu. Hanya berkas-berkas cahaya dari celah-celah bangunan beberapa rumah yang mengelilingi keempat sisinya. Selain itu penerangannya juga berasal dari cahaya bintan dan bulan di langit. Benar-benar tempat yang sunyi yang sudah tidak akan ditemui di tengah kota.
Kerlip cahaya kecil yang Jodha ikuti tadi, bergerak-gerak mengitari sebuah pohon yang cukup besar yang tumbuh di sisi selatan tanah itu. Tidak hanya satu, tapi belasan cahaya kecil disana. Rupanya yang Jodha lihat tadi adalah kunang-kunang. Jodha tetap berdiri di tempatnya, memperhatikan gerak-gerik kunang-kunang itu, sambil meresapi ketenangan dan kesyahduan tempat yang tidak sengaja ditemukannya ini.
“Kau melihat apa?”
Jodha sampai tidak menyadari kehadiran Jalal di sebelahnya.
Jodha –“Kunang-kunang...”
Tanpa menoleh, Jodha menjawab pertanyaan Jalal. Matanya seakan terhipnotis oleh kerlap-kerlip cahaya kunang-kunang itu.
Jodha –“Di rumah masa kecilku di Andhra Pradesh, aku dulu sering melihat kunang-kunang. Mungkin sudah dua puluh tahun berlalu sejak aku terakhir melihatnya. Sejak ayahku bertugas di kantor atase perdagangan, kami sering berpindah-pindah rumah tapi kami selalu tinggal di tengah kota, jadi aku tidak pernah lagi melihat kunang-kunang. Di kota sudah terlalu terang dengan cahaya lampu. Aku masih ingat, setiap kali aku melihat kunang-kunang bersama ayahku, dia selalu menyanyikan lagu Moon River untukku.. apa kau tahu lagu itu?”
Jalal –“Aku tahu..”
Jodha mulai menyenandungkan liriknya dengan suara pelan...
Moon river, wider than a mile
I’m crossing you in style some day.
Oh, dream maker, you heart breaker,
Wherever you’re going I’m going your way.
Tak disangka, Jalal juga ikut-ikutan bersenandung bait berikutnya dengan suaranya yang rendah....
Two drifters off to see the world.
There’s such a lot of world to see.
We’re after the same rainbow’s end
Waiting ‘round the bend,
My huckleberry friend,
Moon river and me.
Jodha tersenyum menoleh pada Jalal, sama-sama menikmati lagu yang hanya mereka sendiri saja yang tahu dalamnya kenangan masing-masing yang menyertai lagu itu.
Jalal –“Kau beruntung punya seorang ayah yang sangat mencintaimu..”
Jodha –“Apa kau tidak?!”
Jalal –“Tidak.... Sejak kecil yang mencintaiku hanya ibuku. Dulu hidup kami sangat sulit. Setiap kali kami merasa terpuruk dan tidak memiliki jalan keluar, ibuku akan menghiburku dan menyanyikan lagu itu untukku. Berharap lagu itu memberi impian kehidupan yang lebih baik bagi masa depan kami.”
Jodha –“Dan semuanya terwujud bukan?”
Jalal –“Benar...Jodha, kenapa kau masih mau berhubungan denganku dan Ibuku?”
Jodha – “Memangnya kenapa? Apa kau tidak suka?”
Jalal –“Bukan begitu. Aku yakin teman-temanmu pasti sudah cerita padamu, soal reputasiku atau skandal-skandalku..”
Jodha –“Ya, Amar yang pernah cerita padaku soal dirimu..Apakah itu benar?”
Jalal – “Kalau kau percaya maka kau akan menganggapnya benar, begitu kan yang biasa terjadi?!”
Jodha –“Benar, tapi anehnya aku tidak mempercayai semua itu. Aku pernah sekali salah menilai kepribadian seseorang. Saat itu yang kulihat hanya yang ditampakkan di luarnya. Dan aku seratus persen salah. Dari pengalaman itu, aku belajar untuk tidak menilai seseorang secara sepihak saja.”
Jalal –“Apakah dia tunanganmu?”
Jodha menarik napas panjang sekali sebelum menjawab pertanyaan itu..
Jodha –“Iya.”
Jalal –“Dia pria yang sangat beruntung bisa mendapatkan hati dan perhatianmu. Andai saja aku yang lebih dulu bertemu denganmu sebelum dia...”
Jodha tahu maksud perkataan itu, tapi dia tidak ingin berkata apa-apa. Dia juga belum ingin menceritakan tentang Dev pada Jalal. Belum saatnya.
Mereka masih berdiri berdampingan cukup dekat. Sama-sama memandang di kejauhan. Pada kunang-kunang yang tak henti terbang mengelilingi sebuah pohon. Entah bagaimana mulanya, mungkin juga karena suasana yang mendukung, tangan mereka tidak sengaja saling bersentuhan ringan. Lalu tak disangka, Jalal meneruskan ketidaksengajaan itu menjadi sebuah genggaman hangat. Digenggamnya tangan Jodha. Ketika Jodha tidak memprotes tindakan itu, Jalal semakin mempererat genggamannya meski posisinya tetap seperti semula, di samping tubuhnya.
Jalal –“Meski kita baru saling mengenal, tapi anehnya aku seperti sudah lama mengenalmu. Tidak perlu banyak bicara, namun seakan aku sudah mengerti apa yang kau mau. Terima kasih sudah menjadi temanku...”
Jodha mulai merasakannya. Efek dari genggaman tangan Jalal. Kehangatannya mulai merambat dari ujung jari tangan ke seluruh tubuhnya. Hingga mencapai dadanya. Perlahana jantungnya mulai berdetak sedikit cepat. Detakan cepat yang mulai terbiasa dirasakan Jodha akhir-akhir ini. Benar dugaannya, jantungnya selalu berdetak cepat setiap ada Jalal di dekatnya. Seperti memberi sinyal kehadirannya pada Jodha. Di tempat itu hanya ada mereka berdua, jadi tanda-tanda itu tidak mungkin salah lagi.
Beranikah Jodha menanyakannya sekarang? Agar dia tidak penasaran lagi?
Jodha –“Jalal...boleh aku bertanya?”
Jalal –“Apa?”
Jodha –“Tanda parut di dadamu itu bekas jahitan operasi, kan? Kapan itu terjadi?”
Jalal –“Kalau tidak salah bulan Agustus 2006... Tapi yang aku ingat pasti saat itu hari Sabtu minggu kedua, karena pada pagi harinya aku berjanji pada Ibuku akan mengajaknya menonton film di bioskop. Janji yang tidak bisa kutepati gara-gara insiden itu.”
Jodha –“Apa yang terjadi?”
Jalal –“Aku berkelahi dengan ayahku untuk melindungi Ibuku. Dia menancapkan pisau ke dadaku. Kata Ibuku, pisau itu menancap cukup dalam sampai hampir mengenai jantungku. Ibuku yang tahu soal itu karena aku koma selama 2 bulan. Saat sadar, sudah ada bekas jahitan itu disana.”
Jodha tidak mungkin salah dengar. Waktu kejadiannya sama dengan saat Dev meninggal, tapi....tapi bukan Jalal....
Jodha –“Jadi... kau tidak sampai menerima jantung orang lain...?”
Jalal –“Rasanya tidak...jantungku sepertinya baik-baik saja saat itu...”
Jodha –“Tidak mungkin!.... Tidak mungkin!”
Jodha menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat, seakan cara itu bisa merubah alur ceritanya. Tapi tidak bisa. Faktanya Jalal bukanlah penerima jantung Dev. Lalu kenapa jantungnya berdetak cepat untuk Jalal? Kenapa semuanya salah?
Jalal –“Jodha..ada apa?”
Jodha –“Ayo kita pulang.”
Jodha berjalan mendahului Jalal menuju mobil. Dia langsung masuk dan tetap diam. Jalal yang tidak mengetahui apa yang dipikirkan Jodha, juga hanya bisa diam. Yang bisa dilakukannya saat ini hanyalah mengantar Jodha pulang. Mungkin besok setelah suasana hati Jodha membaik, dia bisa menanyakannya soal ini.
************


Heart’s Beat Part 5 – By Tyas Herawati Wardani

4 comments:

  1. Next mba..
    Nice story. Smoga ibunya jalal dapat menceritakan semuanya saat jalal koma.

    ReplyDelete
  2. Ya crt yg membuat penasaran dan ingin tunggu trs, lnjt ya mbak jgn pakai lama ya ya ya. Mksh

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.