Heart’s Beat Part 6 – By Tyas Herawati Wardani - ChusNiAnTi

Heart’s Beat Part 6 – By Tyas Herawati Wardani


Jodha menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur di dalam kamar asramanya. Pikirannya penat. Dia merasa tidak mampu berpikir lagi. Tubuhnya pun ikut lemas. Diangkatnya kaki dari lantai kamar dan dia meringkuk. Ingin dia menangis, tapi menangis untuk siapa? Menangis untuk apa? Apakah dia sedih karena ternyata bukan Jalal penerima jantung Dev? Sedangkan dia mulai punya perasaan khusus pada Jalal? Atau apakah dia sedih karena belum berhasil menemukan pemilik jantung Dev padahal selama ini dia seakan sudah merasakan tanda-tanda sedang berada dekat dengan jantung Dev?
Tiba-tiba ponselnya berdering, mengejutkannya, membawa pikirannya kembali ke bumi, pada kenyataan. Jodha mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Dilihatnya di layar tertera nama Raam Rae Ghavand, ayah Dev. Ditekannya tombol penerima...
Pembicaraannya tidak sampai lima menit. Tapi apa yang dibicarakan oleh ayah Dev membuat Jodha terguncang sekali lagi. Ayah Dev memberitahu bahwa dia menerima surat permintaan untuk bertemu dari pasien penerima jantung Dev. Surat itu dikirimkan oleh perwakilan Bank Organ Departemen Kesehatan India sebagai perwakilan karena departemen itu yang berwenang menyimpan semua dokumen sehubungan dengan donor organ yang sangat dirahasiakan. Kesepakatannya pertemuan itu akan dilakukan di Delhi, dan kebetulan Jodha ada di Delhi, jadi ayah dan Ibu Dev akan mengikutsertakan Jodha dalam pertemuan itu. Orang tua Dev akan naik penerbangan besok pagi dan diperkirakan tiba di Delhi pada pagi hari berikutnya. Jodha berjanji akan menemui mereka di hotel setelah mereka tiba karena untuk menjemput di bandara, kemungkinan dia tidak bisa, karena bertepatan dengan jadwal jaganya pada pagi hari.
Pembicaraan selesai dan telepon pun ditutup.
Jodha masih diam. Dia masih tidak mempercayai apa yang baru saja didengarnya. Belum satu jam berlalu saat dia tahu Jalal bukanlah pemilik jantung Dev, sekarang malah orang yang sedang dicarinya justru muncul dan ingin bertemu. Jodha merasa takdir sedang mempermainkannya.
Jodha mengingat kembali saat dia pertama kali menginjakkan kakinya di Delhi. Saat jantungnya berdetak cepat di kota ini, Jodha berpikir akan segera menemukannya, dan keyakinannya membawanya pada Jalal. Lalu Jodha mulai membuka hatinya untuk Jalal setelah sekian lama terkunci hanya untuk Dev, tapi terpaksa sekarang dia harus menutupnya lagi. Karena teryata semuanya salah. Perasaannya yang salah, ditujukan bukan pada orang yang seharusnya. Besok, dia akan bertemu orang yang benar. Orang yang benar-benar menerima donor jantung dari Dev. Sekarang pertanyaan yang muncul dalam pikirannya adalah apakah jantungnya akan berdetak cepat juga saat bertemu orang itu seperti saat dia di dekat Jalal? Masihkah jantungnya bisa mengenali jantung Dev saat seluruh pikirannya dipenuhi oleh sosok Jalal? Apakah dia sudah mengkhianati janjinya pada Dev karena memikirkan Jalal, orang yang tidak memiliki penghubung apa-apa dengan Dev?
Terlalu banyak pertanyaan dalam pikirannya dan tidak ada satupun jawaban. Jodha berdiri dan berjalan menghampiri jendela. Dia melihat ke arah luar. Berharap menemukan jawaban yang tersembunyi di kegelapan malam. Tidak ada, terlalu gelap sama seperti kegelapan dalam pikirannya. Lalu dia meraba dadanya, meresapi detaknya, berharap detak jantungnya bisa memberikan satu saja jawaban yang dibutuhkannya. Lalu Jodha memejamkan matanya. Dia sangat merindukan Dev...berharap dengan membayangkannya bisa memberinya ketenangan. Tapi...tapi kenapa wajah Jalal yang muncul di pelupuk matanya yang terpejam?!
Jodha merebahkan tubuhnya kembali ke tempat tidur, dia ragu akan bisa terlelap malam ini, tapi dia butuh tidur. Saat dia akhirnya tertidur, itupun tidak bisa lama, karena alarmnya berbunyi menandakan saatnya bangun untuk bekerja lagi. Dengan kedisiplinan yang sudah terlatih, Jodha segera merapikan diri. Dan dia siap memulai rutinitasnya pagi ini. Dikesampingkannya semua pikiran yang seperti benang kusut di otaknya, berharap kesibukannya bisa mengalihkan semua perhatiannya.
Setelah mendapatkan briefing singkat dari dokter pengawasnya, Jodha memulai rutinitasnya. Kebetulan yang menyenangkan, pagi ini Jodha akan observasi pasien bersama Amar. Bersama Amar, Jodha berharap bisa membuat harinya menjadi ceria, hanya untuk hari ini saja. Gurauan-gurauan khas Amar terbukti ampuh memunculkan lagi senyum di wajahnya.
Amar –“Kau sudah siap?”
Jodha –“Iya, siap...pasien pertama kita adalah pasien favoritku, Deepa.”
Jodha membuka pintu kamar Deepa, di dalam tampak gadis itu berbaring lemah dengan bermacam selang dan alat penopang kehidupan yang dihubungkan pada tubuhnya.
Jodha –“Selamat pagi, Deepa. Bagaimana perasaanmu sekarang? Kemana Ibumu?”
Deepa –“Dia pulang untuk mengambil baju gantiku, Kak..”
Amar sibuk mencatat laporan medis Deepa, sedangkan Jodha tetap mengajak gadis kecil itu mengobrol...
Deepa –“Kak Jodha, apa kau pernah kehilangan orang yang paling kau sayangi untuk selamanya?”
DEG. Jodha terkejut atas pertanyaan yang tiba-tiba itu. Apa maksud Deepa bertanya seperti itu?
Jodha –“Pernah.”
Deepa –“Bagaimana perasaanmu saat dia meninggal?”
Jodha –“Sedih. Rasanya tidak ingin hidup lagi. Lebih baik aku yang mati daripada merasakan kehilangan yang amat sangat seperti itu.”
Gadis sekecil ini punya pertanyaan yang bahkan orang dewasa juga bingung menjawabnya.
Deepa –“Bagaimana caramu mengenangnya sekarang?”
Jodha –“Memandangi fotonya, mengingat kegiatan-kegiatan yang kami lakukan bersama dan menjalankan hal-hal baik yang pernah diajarkannya. Kenapa kau menanyakan itu?”
Deepa –“Aku memikirkan orang tuaku seandainya aku harus pergi selamanya.”
Jodha –“Deepa..kau tidak boleh berkata seperti itu. Deepa yang kukenal adalah gadis yang kuat, yang tidak akan pernah menyerah demi banyak orang yang menyayanginya.”
Deepa –“Aku memang belum menyerah, Kak. Tapi aku hanya berjaga-jaga jika Tuhan tiba-tiba memanggilku.”
Kelopak mata Jodha mulai terasa panas tanda air matanya ingin keluar, tapi dia tidak akan menangis di depan pasiennya.
Deepa –“Kakak, boleh aku minta tolong?”
Amar –“Katakan saja. Super Amar akan berusaha melakukan apa saja untukmu.”
Amar berbicara sambil menepuk dadanya dan menggerakkan tangan seperti tokoh Superman saat akan terbang, membuat Deepa terkikik geli.
Deepa –“Aku ingin dipotret dengan dandanan seperti seorang putri. Aku ingin terlihat secantik Kak Jodha. Semoga saat orang tuaku melihat foto itu ketika aku sudah tidak ada, mereka tidak akan terlalu sedih.”
Amar dan Jodha saling berpandangan. Sama-sama memikirkan permintaan yang aneh dari seorang anak kecil di hadapan mereka. Tapi keduanya juga tidak sanggup menolak permintaan itu karena sudah terlanjur berjanji.
Amar –“Baiklah. Kau tunggulah disini. Kami akan meneruskan pekerjaan kami sebentar, setelah itu kami akan menyiapkan semua yang dibutuhkan untuk sesi photoshoot ini. Ok?”
Deepa –“OK.”
Deepa mengacungkan jempolnya sambil tersenyum. Senyuman di matanya terus mengikuti Jodha dan Amar yang berjalan keluar dari kamarnya. Sesampainya di luar, Jodha berbalik memandang Amar...
Jodha –“Aku bisa merias Deepa dan mencarikan baju ala putri, tapi untuk fotografernya...”
Amar –“Aku yang akan mengusahakannya.”
Jodha –“Kita harus segera menyelesaikan sisa pekerjaan kita. Tapi kurasa paling cepat kita bisa melakukannya saat istirahat makan siang nanti. Kita akan membicarakannya lagi kalau pekerjaan kita sudah beres.”
Jodha mulai berjalan hendak memeriksa pasien berikutnya..
Amar –“Jodha, tunggu....!”
Jodha berbalik mendengar panggilan Amar.
Jodha –“Ya?”
Amar –“Tadi kau bilang soal kehilangan orang yang paling kau sayangi.. Siapa orang itu? Maaf kalau aku ingin tahu, tapi wajahmu menunjukkan kesedihan yang lebih dalam dari yang kau ucapkan.”
Jodha diam, dia hanya menunduk sambil memainkan cincin tunangannya di jari manis kirinya. Memutar-mutarnya seolah ikut berpikir. Dan gerakan itu tidak luput dari pengamatan Amar.
Amar –“Jangan-jangan orang itu adalah tunanganmu...!”
Jodha mengangguk pelan...
Amar –“Astaga! Jodha, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak tahu....Bahkan selama ini aku sering mengungkit-ungkit tunanganmu. Aku merasa buruk sekali.....Tolong, maafkan aku...”
Jodha –“Tidak apa, semua sudah terjadi delapan tahun yang lalu...”
Amar –“Tapi kesedihannya masih terlihat jelas di wajahmu.”
Jodha –“Seharusnya tidak ada yang melihatnya.”
Amar –“Apakah....dia meninggal karena kecelakaan?”
Jodha –“Iya...dia meninggal di kota ini, di Rumah Sakit ini..”
Amar –“Apakah itu kebetulan atau kau memang sengaja datang ke Rumah Sakit ini karena sudah tahu hal itu?”
Jodha –“Aku hanya mengikuti panggilan hatiku. Aku merasa harus datang kesini. Aku merasa ada yang harus kutemukan disini meski aku sendiri tidak tahu itu apa....Sudahlah..jangan membicarakan aku lagi, kita harus cepat-cepat sebelum makan siang.”
Jodha berlalu meninggalkan Amar yang masih terdiam di tempatnya berdiri.
Saat istirahat makan siang, Amar berhasil mendatangkan seorang fotografer. Ruang perawatan Deepa disulap menjadi sebuah studio mini tepat di sudut ruangan. Sambil menunggu studionya siap, Jodha membantu merapikan Deepa agar tampil secantik yang diinginkannya. Jodha berhasil meminjam sebuah kostum ala putri berwarna merah muda pastel yang sekarang dikenakan Deepa. Semoga pemotretannya berjalan lancar, doanya dalam hati. Untunglah pihak Rumah Sakit mengijinkan, tapi semuanya hanya boleh dilakukan selama 1 jam.
Meski masih dengan selang oksigen yang terpasang di hidungnya, Deepa terlihat sangat natural bergaya di depan kamera. Gadis kecil itu benar-benar berusaha memberikan senyuman terbaiknya bagi orang tuanya. Tidak terlihat sedikitpun rasa sakit di wajahnya. Keinginannya untuk memberikan kenangan bahagia pada orang tuanya bisa membuatnya lupa pada sakitnya. Ayah dan Ibunya yang belakangan datang, juga tidak keberatan akan semua itu. Mereka ikut bahagia saat melihat putri kecilnya bahagia.
Jadwal jaga Jodha berakhir pada malam hari. Meski hari itu melelahkan, tapi Jodha cukup bahagia apalagi melihat kebahagiaan Deepa tadi siang. Jodha berharap bisa melakukan yang lebih dari itu bagi Deepa agar senyuman itu tidak akan pernah hilang dari wajah cantik gadis kecil itu.
Jodha bersiap masuk ke kamar asramanya, saat dia melihat Amar berlari tergopoh-gopoh ke arahnya.
Jodha –“Ada apa?”
Amar –“Deepa...kondisinya kritis..”
Tanpa menunggu penjelasan lagi, Jodha langsung melesat berlari kembali ke arah gedung Rumah sakit. Dia langsung menuju ke Emergency Unit. Tepat saat dia sampai di sana, dia melihat dokter spesialis kardio menyampaikan berita duka pada orang tua Deepa. Seketika tangis pecah dari keduanya... Baru tadi siang mereka bertiga bahagia bersama, malam ini mereka harus kehilangan putri terkasih mereka.... Jodha tidak merasakan air matanya juga ikut mengalir mendengar kematian Deepa... Seseorang memegang pundaknya, saat menoleh Jodha melihat Amar yang tampak sama sedihnya dengan dirinya.... Tidak tahan lagi, Jodha berjalan pergi meninggalkan tempat itu..
Amar –“Jodha...kau mau kemana?”
Jodha –“Aku ingin sendiri.”
Amar –“Jangan menanggung kesedihan ini sendirian....Bersandarlah padaku.”
Jodha –“Tidak untuk saat ini. Biarkan aku sendiri dulu...”
Amar –“Aku akan mengantarmu.”
Jodha –“Tidak perlu... Araya sudah menunggumu..”
Amar tidak bicara lagi, dia memang tadi sedang bersama Araya saat mengetahui kondisi Deepa yang tiba-tiba memburuk. Di sudut lorong, terlihat Araya berdiri memandang ke arah Amar dan Jodha. Wajahnya tampak kaku, sepertinya dia mulai merasa cemburu pada kedekatan Amar dan Jodha.
Jodha berjalan menjauh, dan saat berpapasan dengan Araya, dia tersenyum tapi tidak dibalas oleh Araya. Untuk malam ini, Jodha tidak peduli. Dia tidak akan ambil pusing. Cukup sudah dia merasakan emosi yang naik turun sejak malam kemarin. Dia tidak mau berpikir lagi, dia hanya ingin sendiri dulu. Jodha terus melangkah, hingga tanpa sadar dia sudah sampai di luar gedung Rumah Sakit. Di depannya adalah ruang terbuka hijau yang sengaja dibangun Rumah sakit sebagai tempat refreshing bagi pasien.
Jodha duduk di salah satu bangku di taman itu. Matanya menerawang jauh... Air matanya terus mengalir... Yang dia rasakan bukan hanya kesedihan karena kematian Deepa, tapi juga kesedihan dan kehampaan saat Dev meninggalkannya.... Di tempat yang sama, dia kehilangan dua orang yang berbeda... Kematian merenggut dua orang yang disayanginya dengan sangat cepat....
Tiba-tiba ada tangan yang merengkuhnya.... Tubuhnya langsung didekap pada dadanya yang lebar dan hangat... Pelukannya terasa sangat kuat dan Jodha ingin bersandar disana selamanya... Tanpa melihatpun, Jodha sudah tahu siapa pria yang memeluknya... Ironis, malam sebelumnya Jodha ingin menjauh dari pria ini, tapi malam ini Jodha sangat membutuhkan kekuatannya....
Jodha –“Untuk apa kau datang kesini?”
Jalal –“Aku sendiri juga tidak tahu. Aku sedang dalam perjalanan pulang, tapi tiba-tiba ada keinginan kuat untuk menemuimu. Seperti ada seseorang yang membisiki telingaku, mengatakan kalau kau sedang sedih dan sangat membutuhkanku...”
Jodha –“Kau hanya membuat alasan...”
Jalal –“Jangankan kau yang tidak percaya, aku sendiri juga tidak percaya..”
Jodha menjauh dari pelukan Jalal dan mengusap air matanya. Dia merasa kusut sekali...
Jalal –“Apa yang membuatmu sedih?”
Jodha –“Pasienku meninggal. Aku tahu.. seharusnya sebagai dokter aku tidak boleh terikat secara emosional pada pasien. Tapi pasien ini sangat istimewa untukku. Dia gadis kecil yang menderita gagal jantung.”
Jalal –“Itu semua sudah takdir. Meski kau seorang dokter, kau tidak boleh menyalahkan dirimu sendiri atas kematiannya. Pastinya kau sudah berusaha semampumu...”
Jodha –“Bagaimana kau bisa tahu kalau seperti itu yang kurasakan?”
Jalal –“Karena aku mengenalmu..”
Pandangan Jodha kembali lurus ke depan...
Jalal –“Bisakah sesekali kau melihat dari sudut pandang lain, mungkin kematian lebih baik bagi gadis kecil itu.”
Jodha –“Apa maksudmu?”
Jalal –“Setelah meninggal dia tidak akan merasakan kesakitan lagi, seperti yang dialaminya saat dia masih hidup. Apa kau tidak sedih saat melihat dia sakit?”
Jodha –“Mana ada yang seperti itu?”
Jalal –“Aku juga mensyukuri kematian ayahku... Meski aku harus dicap sebagai pembunuhnya, tapi aku tidak sedih atas kematiannya, karena ketiadaannya memberi kedamaian bagiku dan Ibuku..”
Jodha terdiam, merenungkan kata-kata Jalal barusan.
Kedekatan mereka berdua rupanya menarik perhatian seseorang yang bersembunyi di balik sebuah pilar dari jarak yang cukup dekat. Orang itu mengeluarkan sebuah kamera dan mulai memotret diam-diam. Jalal dan Jodha tidak menyadari sama sekali ada yang mengabadikan momen mereka tanpa ijin...
Kata-kata Jalal cukup menenangkan hati dan pikirannya semalam, hingga Jodha bisa beristirahat meski hanya sebentar. Cukup untuk menyegarkan pikirannya sebelum dia beraktifitas pagi ini. Dia ingat untuk menghubungi orang tua Dev, karena menurut perkiraannya, seharusnya pesawat yang mereka tumpangi mendarat semalam di Delhi. Benar dugaannya, ayah Dev menjelaskan di telepon kalau mereka sudah check-in di Four Seasons Hotel. Permohonan maaf Jodha sampaikan karena belum bisa menemui mereka, pagi ini Jodha masih harus bekerja. Jodha berjanji seusai bekerja nanti sore, dia akan langsung menemui mereka di hotel dan akan berangkat sama-sama ke pertemuan itu.
Ada seseorang yang mengetuk pintunya dengan sangat keras...Seperti ada keadaan darurat...
Jodha mengakhiri pembicaraan dan menutup teleponnya. Dia mendengar Amar memanggil-manggil namanya dari balik pintu... Bergegas Jodha membuka pintunya...
Jodha –“Ada apa?”
Amar –“Baca ini!”
Amar menyodorkan sebuah koran dan Jodha membaca berita yang ditunjukkan Amar padanya. Di salah satu kolom tertera sebuah judul ‘Skandal terbaru Si Raja Iklan dengan seorang Dokter’ dan dibawahnya terpampang gambar Jalal dan Jodha yang sedang berpelukan semalam di taman.... Jodha menutupi mulutnya yang ternganga lebar karena sangat shock, tidak pernah membayangkan hal seperti ini akan dialaminya, menjadi bahan berita di koran.
Jodha –“Astaga! Apa-apaan ini?”
********************


Heart’s Beat Part 6 – By Tyas Herawati Wardani

4 comments:

  1. Mengharukan mbak sekaligus bkn penasan siapa ya Jalal sbntx

    ReplyDelete
  2. Mb TYas Herawati Wardani 😊. Karya yang sangat menyentuh hati saya. Sepanjang episode jantung saya juga ikut berdetak. Dapet banget feel nya mbak. Lanjut ya mbak.... Makasii banyak😊😊

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.