The Princess In The War Chapter 11 - ChusNiAnTi

The Princess In The War Chapter 11


Versi Asli Chapter 34 - 36
By Viona Fitri

“Jodha, sebenarnya ada yg ingin ku katakan padamu.” kata Jalal dgn tenang. “Kau mau mendengarnya?”

Jodha mengangguk. “Tapi, aku tidak ingin kau menyela perkataan ku, ketika aku belum menyelesaikan kalimatku.” kata Jalal lagi.

Jodha kembali mengangguk. “Lusa, kerajaan Mughal akan menyerang kerajaan paman mu, Pratap Sing.” Jalal menghentikan kalimatnya. Ia menatap wajah Jodha yg nampak terkejut karena ucapan nya. “Aku ingin kau mendukung ku. Aku menyerang kerajaan Pratap karena alasan yg kuat. Ia menghina kesultanan Mughal karena telah menikah dgn mu hanya karena menginginkan kekuasaan saja. Dia juga mengajak kerajaan Rajputana lain nya untuk ikut serta menyerang kerajaan Mughal. Aku tau dia sangat membenci ku. Padahal, aku sebenarnya tidak ingin melawan keluarga ku sendiri.” lanjut Jalal.

Jodha mengangkat wajahnya menatap Jalal. Wajah itu hanya memandang sedih ke arahnya. “Aku harus meladeni peperangan yg akan segera terjadi ini. Aku tau kau akan marah padaku. Tapi jika aku tidak menerima penawaran ini, maka kehormatan dan martabat kesultanan Mughal akan jatuh.”

Jodha bangun dari tempat pembaringan nya, ia menarik selimut menutupi tubuh polosnya. “Aku akan selalu mendukungmu. Kau adalah suamiku. Musuh yg akan menyerang mu adalah paman ku. Aku merasa dilema. Paman ku sangat menyayangi ku bagaikan anak sendiri. Tapi segera suamiku akan menghadapi nya di medan pertempuran. Aku hanya bisa berdoa agar kau tidak membunuh pamanku.” pinta Jodha memohon pada suaminya.

Jalal juga ikut bangkit dan memeluk Jodha dari belakang. Ia mengecup pundak polos itu, meninggalkan bekas kissmark besar di kedua pundaknya. “Aku tidak akan membunuhnya. Aku berjanji padamu. Percayalah padaku.” ucap Jalal dalam nada penuh keyakinan. Ia mengaitkan jari kelingking nya dengan jari kelingking Jodha. “Ini adalah janji seorang suami untuk istrinya. Kau telah menganggap paman mu sebagai ayahmu sendiri. Tentu aku tidak mungkin membunuh ayahku.” lanjut Jalal dengan tersenyum.

Jodha berpaling menatap Jalal. Mata sayu itu seperti menginginkan nya lagi. Tapi ia telah lelah. Jodha menggeleng dengan cepat. “Tidak.” kata Jodha, sebelum Jalal mengatakan apa pun padanya. Jalal tersenyum. Ternyata istrinya telah mengetahui dengan baik keinginan nya.

“Apa nya yang tidak ratu Jodha?” tanya Jalal dengan senyum gelinya. “Emh... Maksudku... Ya tidak. Aku tidak boleh berpikir buruk tentang suamiku. Ia pasti tidak akan membunuh pamanku. Aku, hanya memikirkan itu saja.” ucap Jodha dengan sedikit gugup.

“Aku akan segera ke Deewan E-Khaas.” Jalal bangkit dengan membawa pakaian nya. Tanpa segan, ia memakai pakaian itu di hadapan Jodha. Segera Jodha memalingkan wajahnya ke arah lain.

“Kenapa kau memakai nya disini. Kau bisa pergi ke kamar jika ingin berganti pakaian.” ucap Jodha dengan wajah merah merona nya. Jalal hanya tersenyum melihat rona merah itu.

“Tidak perlu malu seperti itu ratu Jodha. Aku telah memakai semua nya. Sekarang mendekatlah!” ucap Jalal sembari menarik tangan Jodha yang masih memegangi lilitan selimut untuk menutupi tubuh polosnya.

Selimut itu terlepas dari tubuh sintal yang molek itu. “Indah sekali.” puji Jalal dengan senyuman menggodanya. Jodha segera menutup tubuhnya kembali dengan tangan nya yang lain. “Kau tidak bisakah tidak berpikiran kotor seperti itu?” rajuk Jodha kesal.

Jalal kembali menarik tangan nya. Tarikkan itu membuat tubuh Jodha mendekat ke arah nya. Selimut yang hanya mentupi sebagian tubuhnya saja. Jalal mencekal kedua tangan Jodha, hampir saja selimut itu jatuh melorot memperlihatkan segala auratnya.

Jalal dengan cepat menarik selimut itu dan melilitkan nya kembali pada tubuh polos istrinya. “Lihatkan, aku tidak akan menyentuh mu kalau kau tidak menyetujui nya. Aku menghargai mu.” ucap Jalal dengan kegiatan nya, masih membalut tubuh polos Jodha dengan selimut itu.

“Terimakasih telah menghargai ku. Aku sangat tersanjung.” ucap Jodha.

Di akhir lilitan itu, Jalal menyelipkan ujung selimutnya di lilitan tubuh Jodha. “Suami yang baik, akan selalu menjaga kehormatan istri nya. Tapi, karna aku telah berbuat banyak untuk mu, setidaknya berilah hadiah padaku.” ujar Jalal. Bibirnya telah mengkerucut di depan Jodha.

“Ternyata kau tidak melakukan nya dengan ikhlas. Kenapa tidak bilang saja kalau kau ingin mendapat hadiah dari ku? Aku bisa melakukan nya sendiri.” sungut Jodha dengan wajah berpaling ke arah jendela kamar mereka.

“Hanya sebuah kecupan ringan saja kau tidak mau memberikan nya. Ya sudah, aku tidak akan bisa memegang janjiku.”

“Ya baiklah. Tutuplah dulu matamu.”

Jalal cepat-cepat menutup kedua kelopak matanya. Perlahan Jodha mulai mendekatkan bibirnya pada bibir Jalal.

Cup...
Kecupan singkat yang terasa manis itu sangat berkesan sekali bagi Jalal. “Sudah.” Jodha langsung mengambil pakaian nya dan berlalu dari sana.

Jalal tersenyum senang. Ia pun segera pergi menuju Deewan E-Khaas.

“Hahaha... Ini berita bagus. Aku akan memulai rencana awalku dari sini. Ratu Jodha, aku akan segera membalaskan dendamku. Kau akan melihat bagaimana cara pikirku.” sorak Ruqayah dalam bathin. Kebulan asap dari Hookah yg di hirupnya, ia keluarkan melalui mulutnya perlahan.

“Prajurit, kemarilah!” teriak Ruqayah dgn suara melengkingnya. Tak lama kemudian, seorang prajurit datang menghadap Ruqayah. Ia memberi hormat seperti biasanya.

“Adab begum sahiba.”

“Pranaam. Aku dengar, raja akan segera pergi berperang melawan kerajaan Pratap Sing. Dia adalah paman kandung ratu Jodha, bukan?”

“Benar Yang mulia ratu.”

“Hem, ini kabar bagus. Kemarilah, aku punya pekerjaan untukmu.”

Prajurit itu mendekat ke arah Ruqayah. Sementara Ruqayah membisikkan sesuatu di telinga prajurit itu. Setelahnya ratu Ruqayah memberikan dua kantong uang keping emas pada prajurit itu.

“Ingat. Aku tidak ingin misi ini gagal. Kalau kau sampai gagal, kau akan tau apa akibatnya. Dan... Kau juga harus segera meninggalkan Agra setelah menyelesaikan misimu.” ucap Ruqayah dgn nada mengintimidasi.

Prajurit itu hanya menanggukkan mengerti kepalanya. Ini adalah rencana besar yg benar-benar luar biasa. Akan terjadi kekacaun di kerajaan karna fitnah yg akan di tebarkan pada seluruh pelosok istana Mughal. Dengan kedua kantung uang itu, membuat sedikit keberanian prajurit itu bertambah. Tapi, apa yg akan terjadi padanya jika Yang Mulia raja Jalal akan mengetahui kerja samanya ini? Pasti kehidupan nya akan menjadi hari-hari yg menegangkan baginya. Ia akan menjadi buronan kerajaan. Tapi, bukankah setelah menyelesaikan misinya ia akan segera pergi meninggalkan Agra? Tidak akan ada yg tau tentang persembunyiannya. Ini akan menjadi Sebuah keuntungan besar baginya.

“Baik Yang mulia ratu. Akan saya lakukan segera.”

“Bagus. Ini, ambilah. Jalankan tugasmu dgn baik. Jangan sekali kali membuatku kecewa dgn mu.” ucap Ruqayah sambil memberikan sebuah gulungan surat pada prajurit itu.

“Baik Yang mulia ratu. Pranaam.” Prajurit itu pun meninggalkan ruangan Rukayah dgn membawa sebuah gulungan surat, yg ia sendiri pun tidak tau apa isinya.

* * * * *

Jalal sedang berjalan menuju Deewan E-Khaas, tiba-tiba seorang prajurit suruhan Ruqayah tadi sengaja menabrak Jalal hingga surat yg ada di tangan nya pun terlempar jatuh.

“Maaf Yang mulia, aku tidak sengaja menabrak anda. Saat ini aku sedang terburu buru untuk membawa surat ini.” ucap Prajurit itu sembari di ambilnya kembali gulungan surat yg sempat terjatuh tadi.

Jalal memandang gulungan surat yg tampak rapi itu. Penasaran sekali akan surat itu. Apa isinya? Siapa pengirimnya? Dan untuk siapa surat itu di kirim? Kenapa prajurit itu tampak tergesa gesa sekali hendak mengantar surat yg di bawanya sampai pada tujuan? Pertanyaan-pertanyaan itu silih berganti mengganggu konsentrasinya. Sementara dari atas jendela kamarnya, Ruqayah tersenyum penuh kemenangan pada dirinya.

“Bagus. Rencanaku berhasil.” bathin Ruqayah.

Jalal merebut surat itu dari prajurit yg membawanya. “Pergilah. Surat ini aman bersamaku.” ucap Jalal dengan tenang.

Prajurit itu mengangguk, kemudian berlalu dari sana. “Surat apa ini?” gumam Jalal. Ia merasa curiga dengan gulungan surat di tangan nya. Jalal membuka surat itu, dan perlahan membacanya.

Salam Paman Pratap,
Aku Jodha. Aku tau tak lama lagi Jalal akan menyerang kerajaan Paman. Setelah membaca surat dari ku ini, datang lah menemuiku di tempat biasanya, aku ingin menyampaikan sesuatu tentang pertempuran itu.

Jangan khawatir, aku selalu berada bersama mu, Paman. Setelah tinggal beberapa hari disini, aku telah banyak mengetahui jalan rahasia untuk dapat memasuki istana. Aku melakukan ini demi tanah Rajput. Aku benci penjajah rakus seperti Jalal. Kalau paman ingin membunuhnya, aku pasti akan sangat senang sekali.

Jodha Bai.

* * * * *

Jalal langsung membuang surat itu ke dalam tempat sampah. Rahangnya mengeras, sementara gigi bergemelutuk menahan amarahnya. Perlahan tanpa di sadari, seseorang telah memperhatikan gelagat anehnya sambil tersenyum menyeringai pada dirinya.

“Aku tidak percaya Jodha akan melakukan ini padaku. Apa yang membuatnya menghianatiku? Berani sekali dia ingin membocorkan rahasia besar kerajaan suaminya sendiri, pada musuh yang akan segera menyerang.” umpat Jalal.

Sementara di kamarnya, Ruqayah juga telah mempersiapkan surat yang lain nya untuk Jodha. Ia melakukan hal yang seperti prajurit tadi. Ruqayah memberikan dua kantung uang emas pada prajurit dan menyuruhnya pergi sejauh mungkin dari Agra setelah memberikan surat itu pada Jodha. Prajurit itu mengangguk, ia pun segera melaksanakan perintahnya.

Tangan terampil yang telah bertahun tahun membantu Jodha merias rambutnya, tampak semakin memberikan sentuhan magic nya pada rambut hitam nan lurus itu. Tengah asik ia berhias, seorang prajurit datang sambil membawakan sebuah bingkisan besar berbentuk kotak.

Permintaan Pertemanan
Lihat Semua
Permintaan Pertemanan
Sukma Wati
15 teman yang sama
Hendri Anax Mts
3 teman yang sama
Rofingah Adjah
29 teman yang sama
Bersponsor
Buat Iklan
Bersponsor
تريد السفر إلى أستراليا؟
customs.gov.au
هل تريد السفر إلى أستراليا؟ لا سبيل إلى ذلك!
Bahasa Indonesia · Privasi · Ketentuan · Kuki · Iklan · Pilihan Iklan
·
Lainnya
Facebook © 2015

Kabar Berita
Chusnianti
Diterbitkan oleh Fitri Soniq · 9 jam ·

The Princess In The War 36

By: Viona Fitri

“Adab, begum sahiba. Aku membawa bingkisan ini dari seseorang utusan Rajput. Aku tdk tahu siapa yg mengirimnya untuk anda. Dia hanya menitipkan ini untukmu.” Prajurit itu menyerah bingkisan yg di bawanya pd Jodha. Setelah itu, secara diam-diam ia meletakkan surat itu di atas meja rias Jodha. “Saya permisi Yang Mulia Ratu.” prajurit itu pun berlalu dari sana. Ia pergi mengendap endap dari pintu belakang istana. Setelah mendapatkan uang & misinya selesai, maka tdk akan aman baginya jika ia tetap tinggal lebih lama lg di Agra.

Jodha menyuruh Moti keluar setelah selesai meriasnya. Perlahan di bukanya bingkisan yg tertutupi kain berwarna biru tua itu. Beberapa perhiasan indah bertahtakan permata yg berkilatan di padu dgn cahaya oranye sore, membuat kalung itu tampak lebih berkilau & mengagumkan. Permata kecil yg gemilau itu membuat Jodha merasa tak pernah jemu untuk menatap nya. Siapakah gerangan yg mengirim perhiasan seindah itu padanya?

Jodha melihat ada sebuah surat yg terselip di balik kain penutup tadi.

* * * * *

Jodha, aku Surya. Kau masih ingat bukan dgn sepupu mu ini? Kado ini adlh kado untuk pernikahan mu. Aku berharap kau berbahagia dgn suami mu. Walau jujur, aku masih belum bisa melupakan dirimu. Tapi aku sangat berharap kau akan selalu berbahagia & di karuniai banyak anak.

Aku ingin bertemu dgn mu di perbatasan Rajput & Mughal. Datanglah kesana. Aku ingin menemui mu sekali itu saja. Aku tdk tau, apa kita akan bisa bertemu lagi atau tdk setelah pertempuran itu. Datanglah, aku sangat berharap bisa melihat mu sekali saja, sebelum dentingan pedang beradu di medan perang.

Suryaban

* * * * *

Jodha berpikir sejenak. Surya adlh sepupu nya. Apa tdk sebaiknya ia menemui Surya? Selama ini Surya sudah sangat baik padanya. Tapi, bagaimana dgn Jalal? Dia pasti akan sangat marah begitu kabar ini sampai ke telinga nya. Tapi, sebuah hubungan keluarga tdk bisa di abaikan begitu saja. Surya pasti akan sangat terluka jika Jodha tak datang untuk menemuinya.

Dalam peperangan, yg kuat pasti akan menang. Tak pernah ada yg tahu kehendak tuhan. Surya tdk tahu, apakah setelah peperangan itu ia akan tetap hidup atau tdk. Lalu, apakah Jodha harus menolak permintaan seseorang yg akan segera meninggalkan segalanya demi tanah airnya? Pikiran & hatinya terus saja berolok tak menentu menyampaikan argumen berbeda masing-masing nya.

“Aku harus menemui Surya. Dia adalah teman sekaligus sepupuku. Aku tidak boleh egois dgn tidak datang menemuinya. Ia pasti telah menungguku. Tapi, Yang Mulia pasti akan sangat marah jika aku mengatakan nya. Lalu, aku harus bagaimana?” tanya Jodha pada dirinya sendiri. Ia berusaha berpikir dengan keras. Secara tak sengaja, ekor matanya menampak pada sebuah surat lagi di atas meja riasnya.

“Ini, surat siapa? Aku tidak tahu. Tapi, sepertinya prajurit tapi lupa membawanya.” ucap Jodha.

Karena di hantui dengan rasa penasaran, Jodha membuka gulungan surat itu.

* * * * *

Aku memerintahkan mu untuk membunuh Pratap Sing dari pertempuran. Aku tidak ingin keluarga Pratap ada satupun yang bisa lolos dari medan pertempuran itu. Bunuh mereka semua untuk ku. Dengan begitu, Mughal akan mencapai kejayaan nya kembali.

Kau tidak perlu khawatir tentang upah jerih payahmu. Kalau kau berhasil, maka aku akan memberikan berapa pun uang yang kau minta. Aku bukan nya tidak bisa membunuh Pratap. Tapi aku telah terikat janji oleh seorang ratuku untuk tidak membunuhnya. Aku tidak bisa mengingkari janjiku itu. Tapi aku yakin, kau bisa melakukan nya untuk ku.

* * * * *

Surat itu telepas dari genggaman tangan Jodha. Ternyata Jalal telah melakukan sebuah konspirasi untuk membunuh paman nya. Itu sulit di percaya. Tapi surat itu telah menjadi buktinya. Apa sebenarnya yang di inginkan oleh Jalal? Dia hanya berkata bohong untuk mengelabuinya. Entah kebohongan apalagi yang akan di rencanakan nya.

Mata Jodha telah berkaca kaca dengan air mata. Ia harus segera bertemu Surya. Mereka harus lebih berhati hati saat berhadapan dgn Jalal. Karena ternyata Jalal telah menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh mereka. Paman Pratap adalah ayah Surya. Mereka juga keluarga Jodha. Tak akan di biarkan olehnya siapa pun juga melukai keluarganya. Jodha harus menyusun sebuah rencana, demi menyelamatkan Paman nya dari pembunuh bayaran itu.

Tak perlu waktu lama untuk memikirkan apa yg akan di lakukan selanjutnya. Jodha mengambil mantelnya, & berjalan menuju istal kuda. Dari jendela kamarnya, Rukayah heran mengapa Jodha berjalan ke arah istal kuda. Surat nya hanya berisi tentang rencana Jalal yg telah menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh Pratap Sing, lalu kenapa seperti tergesa gesa Jodha berjalan menuju istal? Dari atas sana, Rukayah dapat melihat Jodha menunggangi kuda & mengendalikan nya menuju pintu gerbang belakang istana. Tanpa di sadari, sepasang mata tajam pun, memperhatikan kepergiaan Jodha dari lantai atas selasar istana.

~~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~~

The Princess In The War Chapter 11

1 comments:

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.