The Princess In The War Chapter 12 - ChusNiAnTi

The Princess In The War Chapter 12


Versi Asli Chapter 37 - 39
By Viona Fitri

Jalal menatap Jodha dgn tajam. Wajahnya mengeras. Surat itu benar. Hanya kalimat itu saja yg terus menghantuinya. Saat ini Jodha pasti akan bertemu dgn Pratap Sing, ia akan membocorkan jalan-jalan rahasia menuju istana. Bagaimana bisa wanita polos sepertinya, mampu mengkhianati suaminya sendiri? Apa yg ada di dalam pikiran Jodha? Jalal menggerutu sendiri. Ia bergegas menuju istal kuda & mengikuti Jodha tanpa sepengetahuan darinya.

Jalal tau benar bahwa Jodha pasti akan bertemu dgn Pratap di perbatasan Rajput dan Mughal. Terkaannya ternyata benar. Jodha memang berada di wilayah perbatasan itu. Dan disana sudah ada seorang pria yg juga menunggangi kudanya dgn gagah. Jalal tidak bisa menatap wajah pria itu karena tertutup oleh mantel tebal yg membalut tubuh & bagian kepalanya.

“Aku senang kau bisa datang menemuiku, Jodha. Bagaimana keadaan mu?” tanya Surya setelah melihat kedatangan Jodha.

“Aku baik-baik saja Surya. Tapi aku tidak bisa berlama lama disini. Sekarang katakan padaku, ada hal apa yg ingin kau bicarakan padaku?” tanya Jodha. Ia mengedarkan pandangan nya kesekeliling. Untungnya Jalal telah bersembunyi dgn kudanya cukup jauh dari sana. Sehingga Jodha tak akan dapat melihatnya.

“Aku hanya ingin mengucapkan salam perpisahan padamu. Aku tidak tau apakah aku akan masih tetap hidup atau tidak ketika akan bertempur dgn suami mu nanti. Aku telah mendengar banyak hal tentang kehebatan & kegagahan suami mu dalam peperangan. Doakanlah aku agar bisa kembali dgn selamat.”

Jodha mengangguk. “Doa ku akan selalu menyertaimu. Surya, kau harus lebih berhati hati dalam menghadapi Jalal. Jaga paman Pratap sebaik mungkin. Aku telah menganggapnya sebagai ayahku. Aku tau, paman kecewa padaku ketika mendengar berita pernikahanku. Tolong sampaikan maafku padanya.”

“Kau tak perlu khawatir, Jodha. Aku pasti akan menjaga ayahku. Sekarang dia sudah bisa mengerti mengapa kau menikah dgn Jalal. Itu karna kau sangat menyayangi Amer. Kau tidak ingin melihat rakyatmu di tindas terus menerus. Ayahku tau kau anti kekerasan. Dia sangat bangga menjadi pamanmu. Kau sudah sangat berkorban besar demi rakyatmu.” puji Surya. Senyuman nya melebar, membentuk sebuah lengkungan indah di bibirnya.

“Surya, maaf. Aku sudah harus pergi. Aku takut ada yg melihat kita disini.”

“Baiklah. Aku juga akan segera kembali. Jaga dirimu baik-baik Jodha.”

“Tentu.” ucap Jodha singkat. Usai pertemuan singkat itu, Surya & Jodha memutar kuda mereka masing-masing. Keduanya saling mengepak tali kuda yg mereka tunggangi & segera melesat dari sana.

Di persembunyiaannya, Jalal merasa sial karena tak satupun pembicaraan mereka yg dapat di dengarnya. Tapi yg ia ketahui hanya satu. Jodha pasti masih menyimpan dendam padanya. Sebab bila tidak ada lagi dendam di hatinya, tak mungkin ia akan menemui Pratap & membongkar rahasia kerajaan suami sendiri. Setelah kuda Jodha telah lenyap dari pandangan nya, Jalal melajukan kudanya dgn cepat.

Hatinya terbakar oleh api yg menyulutkan sikap kejamnya. Degupan di hatinya dalam sekam. Ia memandang kesekeliling. Ingin sekali berteriak melampiaskan amarahnya. Tapi sebagai seorang raja ia di larang melakukan hal konyol seperti itu. Jodha pasti di hukum. Dan akan di hukum. Itu nazarnya.

Jodha melepas mantelnya & menuju kamarnya kembali. Penjaga istal kuda itu hanya mengangguk ketika Jodha menyerahkan kuda yang di tungganginya padanya. Tak lama setelah itu, Jalal juga memasuki istal kuda. Jodha pasti sudah masuk ke dalam kamarnya. Jalal tak hentinya berpikir dengan keras, hukuman apa yang pantas di terima Jodha.

Sesaat kemudian Dewan E Khaas telah di penuhi oleh para mentri dan juga ratu. Semua penghuni istana di wajibkan hadir dalam sidang itu. Jodha pun telah hadir disana. Ia duduk berdampingan dengan Salima dan Hamida. Jodha terkejut melihat tatapan tajam Jalal yang tak pernah lepas darinya. Wajahnya juga mengeras seperti pertama Jodha melihatnya dulu. Ketika dalam peperangan besar yang telah menewaskan ayahnya.

“Aku mengundang kalian semua untuk hadir dalam sidang ini karena ada sebuah pengumumann penting yang harus kalian dengarkan. Ternyata selama ini di istana kita ada seorang pengkhianat.” mata Jalal terlihat menyala. Ia menatap tajam dan ketus ke arah Jodha. Semua nya merasa tegang atas pengumuman itu. Berharap bukan nama mereka yg ada di sebutkan oleh raja.

“Dan lebih parahnya lagi, dia adalah seseorang yg mempunyai kedudukan disini. Ia mengkhianati ku & juga bangsa Mughal. Aku kira dia telah memaafkan ku & akan memulai semuanya dari awal.” Jalal menghentikan ucapan nya. Ia kembali menatap Jodha dgn tatapan mematikan nya. “Aku tak pernah menyangka dia setega ini padaku. Aku telah berusaha menghormatinya. Tapi, tadi aku melihatnya pergi keluar istana. Aku menguntitnya. Dan aku benar-benar terkejut.” ucap Jalal. Ia mengalihkan pandangan nya ke arah lain. Tampak wajah tegang semua orang di Dewan E Khaas.

“Yang Mulia berarti mengikuti ku saat aku menemui Surya tadi. Aku tau, dia pasti akan sangat marah dan menghukum ku.” lirih bathin Jodha. Ia tidak mampu bertatap mata lagi dengan Jalal. Matanya sudah mendung dengan air mata. Tapi air mata itu masih terus di tahan nya. Jalal kembali melanjutkan kata-katanya. “Ratu Jodha, kau sudah mengkhianati suamimu ini. Kenapa kau melakukan itu?” tanya Jalal dengan lirih. Semua tatapan mata menatap ke arah Jodha yang tertunduk. Hamida dan Salima menggeleng tidak percaya.

“Yang Mulia maafkan aku. Tapi aku rasa ratu Jodha tidak akan pernah melakukan hal seperti itu. Dia sangat menghormati mu. Tidak mungkin ia mengkhianati mu.” ucap Salima memberikan belaan nya pada Jodha.

“Tapi aku melihatnya menunggangi kudanya menuju hutan. Ia berhenti di daerah perbatasan antara Rajput dan Amer. Seorang lelaki menemuinya disana. Aku memang tidak dapat melihat wajahnya. Tapi aku yakin, dia adalah Pratap Sing, paman ratu Jodha. Dia pasti telah memberikan bocoran mengenai jalan rahasia menuju istana.” jelas Jalal panjang lebar.

“Aku juga tadi melihat ratu Jodha berjalan tergesa gesa menuju istal. Aku sudah curiga padanya. Dia pasti akan keluar dari istana. Tapi aku tidak tau ia akan pergi kemana.” sahut Rukayah memprovokasi.

“Jalal, kau jangan salah paham dalam mengambil kesimpulan. Seandainya ratu Jodha menemui paman nya. Itu adalah hal yang wajar. Mungkin dia merindukan paman nya. Tapi ratu Jodha tidak mungkin mengkhianatimu, nak. Bicarakanlah masalah kalian secara baik-baik. Jangan membuat malu seperti ini.” timpal Hamida.

Melihat Jodha yang tak angkat bicara, Hamida membujuk Jodha untuk mengatakan pembelaan nya terhadap dirinya. Tapi Jodha tetap tak bisa mengungkapkan yang sebenarnya. Jalal tidak akan mempercayai ucapan nya. “Lihatlah ibu, ratu Jodha hanya diam saja. Dia memang bersalah. Aku tidak menyangka wanita polos yang ku kenal, ternyata hanyalah sebuah topeng belaka untuk membuatku tertarik padanya.” ucap Jalal dingin.

Hatinya juga hancur mengatakan perihal itu. Jodha hanya tertunduk. Tapi air matanya telah banjir sejak tadi. Berulang kali ia mengangkat tangan nya untuk menyeka air matanya. Dan itu tidak akan lama, karna matanya kembali mendung dan berair lagi. “Yang Mulia, aku memang menemui seseorang tadi. Tapi dia bukanlah paman Pratap. Dia adalah Surya...” belum sempat Jodha menyelesaikan kata-katanya Jalal telah menyambungnya dengan sengit. “Jadi kau bertemu dengan laki-laki lain tanpa izin dari suami mu. Kau benar-benar memalukan. Aku masih bisa mengerti ketika kau pergi menemui Paman mu. Tapi sekarang semuanya sudah jelas. Aku tidak akan ragu lagi dalam mengambil keputusan.” sulut Jalal.

Jodha kembali angkat bicara. “Hiks... Hiks... Yang Mulia, Surya itu adalah...” ucapan Jodha kembali terpotong. Jalal membentaknya dengan keras. Semua mata terkejut mendengar suaranya yang sangat menggema. “Cukup ratu Jodha. Ternyata kau telah selingkuh di belakangku. Untungnya aku melihatmu dengan mata kepalaku sendiri. Dan mulai dari sekarang, aku akan menghukum mu.” bentak Jalal lantang.

Jodha mengangkat wajahnya menatap wajah padam Jalal. Ketegarannya telah habis. Perjuangannya sia-sia belaka. Dalam keadaan emosi seperti itu, Jalal tidak akan mau mendengarkan alasan apapun lagi.

“Hukuman mu adalah kau akan di kurung di dalam kamarmu sampai aku bisa memaafkan mu. Dan kau juga akan menjadi pelayan untuk seluruh anggota istana. Aku tidak ingin kau keluar dari kamarmu tanpa persetujuan dariku.” lirih Jalal. Setetes air matanya pun ikut meluncur bersamaan ucapan nya.

Jodha terperangah. Jalal telah berubah menjadi kejam lagi. Bertubi air mata menghujam pipinya. Rasanya pedih sekali. Hukuman itu sangat berat baginya. Ia akan di kurung dan menjadi pelayan istana. Itu membuat dirinya merasa rendah sekali.

“Prajurit, bawa ratu Jodha ke kamarnya. Kurung dia, & jangan biarkan dia pergi.” teriak Jalal. Dua orang prajurit hendak membawa Jodha, namun dengan isyarat tangan nya Jodha menghentikan kedua prajurit itu.

Jodha keluar dari balik tirai. Ia menatap sendu ke arah Jalal. “Yang Mulia, aku bisa berjalan sendiri ke kamarku. Aku telah berusaha menjelaskan yang sebenarnya padamu, tapi kau tak pernah mau mendengarnya. Hiks... Hiks... Hanya kau yang aku punya di tempat ini. Aku berjanji tidak akan pernah mengkhianati mu. Lalu kenapa kau tidak pernah percaya padaku?”

“Kau yang telah mengajarkan kelembutan padaku, ratu Jodha. Tapi sekarang kau mengajarkan tentang pengkhianatan padaku. Aku akan berlaku kejam kembali karna mu. Dasar wanita murahan, kau menemui pria lain selain suami mu.”

“Cukup Yang Mulia. Kau telah menghina ku begitu banyak. Aku bukan wanita seperti yang kau katakan. Pranaam...” lirih Jodha sembari meninggalkan ruangan panas itu. Ia menangis, melalui orang-orang yg menatap penuh kebencian padanya. Hanya Hamida & Salima masih tetap mempercayai kepolosan Jodha.

“Tunggu ratu Jodha.” teriak Jalal menghentikan langkah Jodha. Jalal beranjak ingin menghampiri istrinya. Tapi Jodha segera menghindar dan berlalu dari sana. “Tidak ada yang perlu di tunggu lagi Yang Mulia. Seorang raja yang terhormat seperti mu, tidak pantas berada begitu dekat dengan seorang dasi, dan wanita yang kau anggap murahan.” Jodha berlari meninggalkan ruangan dengan terisak. Ia mempercepat langkahnya menuju kamar. Sementara Jalal masih terpaku menatap kesedihan istrinya.

* * * * *

“Apa salahku dewa? Apa yg telah aku lakukan sehingga begitu banyak penghinaan yang ku terima? Aku lelah. Biarkanlah aku ikut dengan ayahku saja. Ayah pasti sedang berada di Nirwana tempat mu. Bawalah aku kesana. Aku tidak bisa hidup seperti ini terus menerus.” isak Jodha di depan patung dewa Krishna nya.

Moti dan Reva datang menghampiri Jodha. Mereka terduduk di samping Jodha, dan menepuk punggungnya. “Jodha, kuatkan dirimu. Aku yakin, ini hanya cobaan untuk mu saja. Rumah tangga kalian akan baik-baik saja.” ucap Moti menenangkan.

Reva memberikan sebuah seragam pelayan pada Jodha. Ia terisak, mengingat perintah Rukayah yang menyuruhnya memberikan seragam dasi itu pada Jodha. Reva sesegukan dan memohon pengampunan padanya. “Ratu Jodha, maafkan aku. Ratu Rukayah menyuruhku memberikan baju dasi ini padamu. Kau boleh menghukum aku jika kau mau.”

Jodha terhenyak menatap pakaian dasi yang di bawa Reva. Ia mengambilnya dengan tersenyum. “Tidak apa-apa Reva. Sekarang, aku bukanlah seorang ratu lagi. Aku sekarang adalah seorang pelayan seperti kalian. Aku akan lekas mengganti pakaianku, dan mengerjakan tugas baruku.” Jodha bangkit dan menyuruh Reva dan Moti untuk keluar sebentar dari kamarnya. Mereka berdua mengerti.

Saat ini Jodha telah memakai seragam pelayan berwarna biru. Wajahmya masih tampak sembab, tapi ia tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan nya. Biarlah semuanya berlalu sesuai takdir yang di tetapkan oleh para dewa. Dengan wajah riangnya, Jodha keluar dari kamarnya menemui Reva dan Moti yang menunggunya di depan pintu masuk kamarnya. Banyak pelayan yang berlalu lalang di depan nya. Mereka saling berbisik membicarakan ratu Jodha.

Reva dan Moti hanya menggelengkan kepala mereka, mendengar beredarnya gosip tentang ratu Jodha yang di anggap sebagai pengkhianat kerajaan. Ketika mereka melewati kamar raja, tampak Jalal menatap ke arah Jodha yang berjalan menuju dapur istana. Jodha seolah bersikap biasa saja tanpa masalah. Jalal terluka menatap pakaian dasi yang melekat pada tubuh istrinya.

Seharusnya ia tidak perlu menyesal dengan hukuman yang ia berikan nya. Tapi itu hanya ada pada ego nya saja. Kenyataan nya, hatinya sangat miris melihat Jodha seperti itu. Dua kali mereka telah bercinta. Jalal belum pernah merasakan kepuasan seperti itu sebelumnya, selain dengan Jodha. Ia telah merasa kehilangan hidupnya. Kehilangan hatinya yang sempat di sadari kehadiran nya.

“Aku akan membantu kalian memasak.” ucap Jodha dengan riang. Jodha mengambil beberapa sayuran dan memotongnya sesuai selera. Ia mengaduk bumbu yang berada di atas kuali besar. Sambil mengaduk, Jodha teringat akan ucapan Jalal yang mengatakan nya wanita murahan. Kata-kata itu bagai sembilu yang menyakitinya. Ucapan yang sangat pedas, yang telah menyadarkan hatinya. Selamanya Jalal tidak akan pernah berubah. Ia akan tetap kejam dan tidak mau mendengar apa kata orang. Jodha menggelengkan kepalanya, berusaha melupakan setiap luka yang tercipta.

Seorang pelayan menghampirinya. Pelayan itu sangat bersikap sopan pada Jodha. Ia masih menganggap Jodha sebagai ratunya. “Salam Yang Mulia ratu. Yang Mulia raja memerintahkan anda untuk membawakan makan siang ke kamarnya.” ucap pelayan itu dengan sopan.

Jodha tersenyum. “Tidak perlu memanggilku ratu lagi. Sekarang ini, aku adalah seorang dasi juga. Kita sama-sama dasi. Panggil saja aku Jodha. Sampaikan pada Yang Mulia, aku akan mengantarkan makanan nya nanti.” jawab Jodha.

Pelayan itu pun mengangguk. Lekas ia pergi ke kamar Jalal dan menyampaikan pesan dari Jodha.

Begitu makan siang untuk raja telah selesai. Jodha menyusun nya rapi di atas sebuah nampan. Ia ragu untuk melangkah memasuki kamar Jalal. Langkahnya tersendat. Jodha berhenti sejenak di depan pintu masuk kamar Jalal.

Dari dalam kamarnya, Jalal menatap ke arah Jodha yang masih enggan untuk memasuki kamarnya. Jodha melihat kedua prajurit yang berjaga di kamar Jalal. Jodha menyerahkan nampan itu, dan menyuruh mereka mengantarnya pada raja. Salah satu prajurit itu menolak dan malah mencerca Jodha. “Sekarang kau bukan ratu lagi disini. Kau hanya seorang pelayan. Kau tidak berhak menyuruh kami untuk melakukan tugasmu. Sekarang, cepatlah berikan makanan itu pada raja.” ucap salah seorang prajurit.

Jodha terhenyak. Sementara Jalal yg mendengarpun ikut mengeras karna ucapan prajurit itu. Semua sudah jelas, mereka tertawa di atas penderitaan Jodha.

~~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~~

The Princess In The War Chapter 12

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.