The Princess In The War Chapter 13 - ChusNiAnTi

The Princess In The War Chapter 13


Versi Asli Chapter 40 - 43
By Viona Fitri

“Maafkan aku.” ucap Jodha lemah. Jalal seperti terbawa angin & langsung berlari ke arah prajurit yg mengatakan kata-kata kasar itu pada Jodha. Tangan nya langsung mendarat begitu saja, memberi tamparan panas yg membekas di pipinya. “Kurang ajar! Beraninya kau bicara tidak sopan seperti tadi pada ratu Jodha. Cepat pergi!” sentak Jalal. Kedua prajurit itu segera pergi dari sana.

Jodha masih tetap diam dengan pemikiran nya. Semua orang seperti merasa terbang di langit, begitu dirinya jatuh ke bumi. Tanpa berkata apa pun, Jodha segera memasuki kamar Jalal dan meletakkan nampan yang di bawanya pada sebuah meja kecil yang di kelilingi oleh kursi-kursi santai di ruangan itu.

Jodha akan beranjak pergi, ketika tangan Jalal mencekal pergelangan tangan nya. “Jangan pergi dulu ratu Jodha.” pinta Jalal. Ia berusaha membawa Jodha untuk duduk di samping nya, tapi Jodha selalu berusaha menghindar sebisanya.

“Aku harus pergi ke dapur, tuan. Anda bisa makan siang dengan tenang.” ucap Jodha dengan tenang.

“Jangan berkata seperti itu lagi ratu Jodha. Aku...”

Jodha menginterupsi. “Saya hanya seorang pelayan, bukanlah seorang ratu. Saya mempunyai banyak tugas di dapur.”

“Ratu Jodha... Tak bisakah kau tinggal disini untuk sesaat saja. Aku ingin kau menemaniku makan siang.”

“Sudah saya katakan bahwa saya bukanlah seorang ratu. Saya mempunyai banyak pekerjaan.” geram Jodha. Ia melepaskan tangan Jalal dari pergelangan tangan nya.

“Kau jangan jual mahal seperti itu ratu Jodha.” bentak Jalal. Entah kenapa mendadak emosinya menyulut ke permukaan. Saat ini Jalal sangat sensitif. Tidak jarang ia marah-marah pada pelayan karena alasan yang tidak jelas. Dan sekarang, ia menyalurkan amarahnya pada Jodha.

Jodha mengangkat wajahnya. Ia menatap Jalal dengan mata yang berkaca-kaca. “Kau senangkan? Sekarang aku hanya menjadi seorang pelayan. Kau senangkan aku di hina seperti tadi? Kau akan tertawakan di atas penderitaanku? Aku ini pengkhianat. Aku ini wanita murahan. Itukan katamu?” ucap Jodha dengan nafas tersenggal. Ia segera berlalu dari sana tanpa menghiraukan tatapan tajam suaminya yg tampak ingin sekali memangsanya.

“Ratu Jodha, jangan berani kau keluar dari kamar ini, atau kau akan tau akibatnya pada kedua Bhaisa mu.” ancam Jalal. Jodha terhenti. Ia berbalik menghadap suaminya dengan air mata yang telah tumpah.

“Apa seorang raja hanya kuat karena ancaman nya?” tanya Jodha.

Jalal terlihat salah tingkah menatap air mata Jodha. Ia telah mengangkat tangan nya bersiap menyusut air mata itu. Tapi segera Jodha menyingkirkan nya dengan kasar. “Jangan pernah menyentuh aku lagi, Yang Mulia. Aku tidak akan biarkan diriku terjatuh dalam pelukan lelaki yang tidak pernah bisa mempercayai seseorang yang pernah memberi janji untuknya.”

“Aku tidak bermaksud membentak mu. Aku hanya ingin kau duduk manis dan menemani ku makan siang, sebentar saja.”

“Tapi jangan pernah melakukan apa pun pada kedua Bhaisa ku. Kalau kau berani menyentuh mereka dengan pedangmu, aku tidak bisa menjamin kau selamat dari amarahku.”

Jalal hanya tersenyum. Ia menarik tangan Jodha & mendudukkan nya di kursi yang berada di sampingnya. “Kau ingin makan?” tanya Jalal dengan lembut. Mendadak saja emosinya hilang. Air mata Jodha telah menghipnotisnya menjadi melunak kembali.

“Aku sudah kenyang.” jawab Jodha dengan nada dingin. Ia menatap kesekeliling ruangan tanpa memperhatikan Jalal yang terus menatapnya sambil menyantap makan siang nya. “Masakan mu enak.” ucap Jalal mencairkan suasana. “Terimakasih.” balas Jodha singkat.

“Kau jangan menyembunyikan wajahmu dengan terus menghindar seperti itu.”

Jodha menyeka air matanya tanpa sepengetahuan Jalal. Ia menatap ke arah suaminya. Matanya hanya menampakkan ketenangan yang mengalir dalam kehidupan nya. “Jangan marah padaku.” pinta Jalal penuh harap.

Jodha menggeleng. “Aku tidak marah padamu. Tapi aku merasa sakit karna ulah mu. Apa kau sudah selesai? Aku akan lekas ke dapur.” kata Jodha. Bersih keras ia berusaha menghindar untuk berbicara lebih banyak dengan Jalal. Yang ia inginkan hanya segera pergi dari ruangan yang menyesakkan dadanya itu. Pria yang ada di sampingnya tidak akan pernah bisa memahami kondisi hatinya. Dia tidak punya hati. Mustahil ia akan berusaha mendapatkan maaf darinya.

Jalal memegang kedua pundak Jodha, ia mendekatkan wajahnya dengan wajah istrinya. Tau apa yg akan terjadi selanjutnya, Jodha dengan sengaja menampar pipi Jalal dengan keras, ia segera lari dari kamar itu dengan ketakutan. Setelah Jalal berhasil melakukan aksinya, ia tidak bisa menjamin dirinya akan tetap bertahan dari setiap rayuan suaminya.

“Ratu Jodha, aku tidak bermaksud seperti yang kau fikirkan. Aku hanya menggoda mu saja.” ucap Jalal dengan sedikit berteriak. Jodha acuh saja. Ia terus berlari meski ia mendengar teriakan Jalal tadi. Jodha takut, hasratnya akan menang begitu Jalal memperdaya nya. Jalal melengos kecewa.

“Apakah yg telah aku lakukan pada ratu Jodha? Aku telah membuatnya takut padaku. Aku telah membuatnya menghindar dari ku. Apakah dia begitu membenciku? Apa yg harus aku lakukan, Tuhan?” tanya Jalal pada dirinya sendiri.
Ia mengacak rambutnya karena frustasi. Karena sebuah surat yg entah benar kenyataan nya atau tidak, membuat hidupnya menjadi berantakan seperti ini. Jodhanya kini telah takut padanya. Dia selalu berusaha menghindar darinya, ketika ia berusaha mendekat ke arahnya. Cintanya telah membuatnya merasa kesakitan. Debaran jantungnya terasa nyeri melihat genangan air mata yg mengalir di pipinya. Jalal ingin untuk menyesat air mata itu agar surut. Namun, ia pun tak dapat berbuat banyak karena kata-katanya yg telah terlanjur di katakan nya. Pandangan nya tidak suka melihat pakaian dasi yg melekat pada istrinya. Semuanya harus kembali seperti sebelumnya. Ia menyadari satu hal. Kini hatinya telah berfungsi, dan hanya Jodha lah alasan mengapa hatinya merasakan debaran aneh itu.

Di selesar istana, hampir dari semua pelayan yg sedang berkumpul ataupun berjalan bersama, menceritakan tentang ratu Jodha. Ternyata betapa angin buruk cepat menyebar ke seluruh sudut istana. Jalal mendengarkan apa yg mereka katakan tentang Jodha. Ada sebagian dari pelayan yg beranggapan Jodha adalah ratu yg bermuka dua. Wajar saja setelah mengetahui watak yang sesungguhnya, Raja menjadikan nya dasi di istana. Sebagian pelayan lain pun ikut menyampaikan komentar mereka tentang ratu Jodha. Jelas sudah, tak ada lagi yang mempercayai Jodha di istana ini. Semua orang menggunjing Jodha. Semua orang membencinya. Itu adalah kesalahan terbodohnya. Telinga Jalal terasa panas mendengar cemoohan para pelayan nya tentang ratu Jodha. Ia tidak ingin mendengarnya lebih lama lagi. Jalal mempercepat langkahnya menuju dapur. Sepanjang perjalanan, rahangnya terus mengeras menyusuri koridor-koridor menuju dapur.

“Keluarlah! Aku ingin berbicara dgn ratu Jodha.” intruksi Jalal pada para pelayan yg berada di dapur. Mereka lekas berlalu dan mengucapkan salam sebelum meninggalkan dapur. Jodha tetap acuh dgn kehadiran Jalal. Ia tetap asik dgn pekerjaan barunya. Jalal yg harus mengalah dan mendekat ke arahnya.

“Aku ingin berbicara padamu. Apa kau bisa meluangkan waktumu sebentar saja untuk berbincang denganku?” tanya Jalal yg telah berdiri di samping Jodha. Ia berusaha menyentuh pundak Jodha untuk mengajaknya berbicara. Tapi setiap tangan nya hendak menyentuh pundaknya, Jodha langsung berdiri dan berjalan ke tempat lain. Ia seperti selalu saja menghindar darinya.

“Sebentar saja ratu Jodha. Aku hanya ingin menjelaskan sesuatu padamu. Ayolah, jangan bersikap dingin terus padaku. Apakah kau sudah sangat tidak ingin berbicara pada suami mu lagi, hem?” tanya nya lagi.

“Sebaiknya anda keluar saja Yang Mulia. Saya merasa terganggu dgn kehadiran anda.” jawab Jodha dgn enteng. Ia tidak ingin berbasa basi lagi padanya. Untuk saat ini, ia tidak ingin melihat wajah orang yg telah melempar kotoran ke wajahnya. Penghinaan itu sangat besar baginya. Seseorang mungkin sangatlah mudah mengungkapkan permintaan maafnya, tapi memaafkan, tidak semua orang mampu melakukan itu. Itulah sifat manusiawi yg sebenarnya. Tidak mudah memaafkan, dan dendam pasti yg terus menggunung di hatinya.

“Kenapa kau harus merasa terganggu dgn kehadiranku? Aku hanya ingin menjelaskan sesuatu yg sangat penting saja. Berilah waktumu sebentar saja.” pinta Jalal penuh harap. Ia terus saja mengikuti kemanapun Jodha pergi dengan menguntitnya dari belakang.

Jodha menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan menatap geram ke arah Jalal. “Sudah saya katakan bahwa saya merasa terganggu dengan kehadiran anda, Yang Mulia. Jangan membuat darah saya menjadi naik kembali. Kenapa sekarang anda ingin memberi penjelasan pada saya? Apa anda saja yang di perbolehkan menjelaskan kesalahan anda? Kenapa ketika saya ingin menjelaskan hal yang sebenarnya pada anda, Yang Mulia tidak pernah memberikan saya kesempatan untuk melakukan itu? Sekarang saya juga tidak ingin mendengar penjelasan dari anda.” terang Jodha panjang lebar. Ia kembali melakukan aktivitasnya lagi.

Hatinya terenyuh dan kalut kembali. Penghinaan itu muncul lagi di memori ingatan nya. Sudah beberapa kali Jodha menghapus kepahitan hidupnya, tapi tetap saja kenangan yang pahit memang sangatlah sulit untuk di hapuskan. Jodha mengedarkan pandangan nya kesekeliling. Ketika Jalal berusaha menghadap ke arahnya, ia selalu berusaha untuk membelakanginya. Jodha sudah muak melihat wajah itu.

Air matanya kembali menetes. Dengan cepat Jodha menyekanya. Berulang kali tangan nya harus di angkat untuk menyeka air matanya. Dan itu adalah hal terburuk yang pernah di lihat oleh Jalal. Wanita yang mencintainya terluka, karena ulahnya. Dia menangis hanya karena nya. Jalal tak mampu untuk menatapnya lagi. Kepalanya tertunduk menekuri lantai-lantai dapur istana.

“Sebaiknya kau pergi Yang Mulia. Aku tidak ingin kau menambahkan luka baru di hatiku. Hiks... Hiks... Hiks. Kalau kau akan tetap disini, berarti kau sangat ingin membuatku semakin menderita.” isak Jodha dalam sesegukan nya. Ia membalikkan badan menghadap suaminya. Air matanya tak bisa di rem untuk tidak mengucur deras. Terus saja air matanya menetes tanpa henti. Di tatapnya suaminya dengan rinaian air mata. Jalal menatapnya sekilas. Ada ketenangan dan kekosongan yg berjerat di matanya. Jalal kembali tertunduk. Ia tahu saat ini Jodha membutuhkan waktu untuk melupakan kenangan buruknya. Tak semudah membalikkan tangan, maka kenangan itu telah tergantikan dengan sisi tangan yang lainnya. Butuh waktu untuk semuanya kembali seperti awal mereka mencoba untuk saling mencintai. Jalah akhirnya memberanikan diri untuk menatap manik mata istrinya yang telah memerah. Hatinya semakin sakit dan terus di rejam kepedihan saat pandangan mereka bertemu dan saling beradu.

“Yang Mulia, jika kau hanya ingin memberikan luka padaku saja, maka bebaskan saja aku dari pernikahan ini.” ujar Jodha. Ia menatap Jalal penuh harapan. Sekarang kebahagiaan tak mungkin lagi ada di antara pernikahan mereka. Lalu, untuk apa seseorang berpura-pura menjadi kuat dan tegar, ketika semua orang mengetahui kerapuhan nya. Titikan air matanya memang jarang ia keluarkan. Tapi entah mengapa setiap berhadapan dengan Jalal, rasanya emosi itu kembali membuncah ke permukaan nya. Ia sulit menyalurkan setiap unek-unek di hatinya. Suaminya adalah seorang raja. Jodha menyadari itu. Karena itulah ia mencoba mengontrol setiap kata-kata yang akan di keluarkan nya. Banyak sekali umpatan untuk Jalal di labirin hatinya. Mungkin dulu labirin itu di penuhi dengan bunga-bunga indah yang senantiasa mekar, tapi saat ini semua bunga itu telah mati dan layu karena kekeringan. Hatinya memanas ketika Jalal dengan tanpa pikir dulu menjatuhkan hukuman padanya. Di tambah dengan kata wanita murahan di belakannya. Itu sudah sangat cukup untuk sekedar menyakiti hati seorang wanita.

“Apa yang kau katakan ratu Jodha? Aku tidak akan pernah menceraikan mu sampai kapan pun itu. Kau jangan berbicara yang tidak-tidak lagi.” balas Jalal dengan nada kacau. Ia takut Jodha akan benar-benar meminta perceraian darinya. Sudah cukup sekali saja ia kehilangan Jodha. Dan itu pun hidupnya bagai terombang ambing tertiup badai. Kali ini, tak akan di biarkan Jodhanya akan pergi meninggalkan nya lagi.

“Kau sudah mendapatkan Amer. Kau juga sudah memiliki aku seutuhnya. Dan di tambah lagi, kau telah menghina ku sampai aku merasa tak mampu untuk mengangkat wajahku lagi. Hiks... Apa lagi yg kau inginkan dariku? Semuanya telah aku serahkan padamu.”

“Tapi aku tetap tidak akan menceraikan mu. Kau boleh marah padaku dan tidak mengatakan apapun padaku. Asalkan kau tetap tinggal disini bersamaku.”

Menurut semua wanita, tentunya ini adalah sebuah rayuan yg indah untuk di dengar. Mungkin sebagian dari banyak wanita akan langsung tersipu, atau bahkan salah tingkah hanya karna ucapan itu saja. Tapi tidak dengan Jodha. Ia telah kebal dengan rayuan suaminya yang hanya dusta belaka.

“Bagus sekali kata-kata mu itu Yang Mulia. Kau simpan saja untuk ratumu yang lain. Aku telah kebal dengan kata-kata seperti itu.” ucap Jodha. Sejenak ia berusaha menahan pusing yg menderanya. Mendadak kepalanya sangat pusing dan seperti ingin meledak. Jodha terus saja memegang kepalanya sambil memberikan pijatan-pijatan lembut pada kepalanya.

Jalal terlihat khawatir dengan keadaan Jodha. “Kau tidak apa-apa ratu Jodha? Apa kau sakit?”

Jodha tetap terdiam. Dengan keras ia menangis karena denyutan hebat di kepalanya. “Hiks... Hiks... Hiks... Kau egois. Aku ingin kita bercerai.” ucap Jodha dengan keadaan limbung.

Jalal berusaha menarik Jodha dalam pelukan nya. Tapi Jodha selalu menghindar dan melempari Jalal dengan buah-buahan segar yang tersusun di sebuah baki perak. “Aku membencimu. Kau egois. Aku tidak akan mau melihat wajahmu lagi.”

Tiba-tiba saja tubuh Jodha tergeletak tak sadarkan diri di atas lantai dapur. Jalal dengan sigap berlari ke arah Jodha dan membopongnya menuju kamarnya.

Moti dan Reva yang berpapasan dengan Jalal, merasa cemas dengan keadaan Jodha yang sedang dalam bopongan suaminya. Mereka ingin mengikuti kemana Jalal akan membawanya, tapi Jalal melarangnya & menyuruh mereka kembali ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaan Jodha. Dengan lemah mereka hanya bisa mengangguk menaati perintah sang raja.

Jalal membaringkan Jodha di kamarnya. Wajah Jodha sudah tampak sangat pucat. Ia menggosokkan telapak tangan nya dgn talapak tangan Jodha. “Ratu Jodha, bangunlah! Jangan membuatku merasa tidak tenang seperti ini.” lirih Jalal. Saat Jalal hendak bangkit dari duduknya tiba-tiba saja tangan Jodha menggenggamnya erat. Mata Jodha perlahan membuka dari katupan nya. Pandangan nya masih buram & belum sepenuhnya normal.

“Kenapa aku ada disini?” tanya Jodha yg telah sadarkan diri sepenuhnya. Ia menatap ke arah tangan nya yg menggenggam tangan Jalal dgn erat. Segera Jodha melepaskan tangan itu dan kembali tatapan sengit itu muncul dari sorot matanya. “Kenapa kau menyentuhku? Apa yg kau lakukan padaku?” Jodha melihat setiap inci pakaian yg di kenakan nya. Untung saja pakaian nya masih utuh seperti semula. Berarti Jalal tidak melakukan yg macam-macam padanya. “Aku ingin pergi. Seharusnya kau tidak membawaku ke kamarmu. Kau keterlaluan sekali.” Jodha turun dari ranjangnya dgn sedikit sempoyongan. Langkahnya terbata sedikit tersenggal.

“Ratu Jodha, biarkan aku mengantarmu sampai ke kamar.” Jalal mulai menuntun Jodha dan memapahnya menuju kamar Jodha.

“Kau tidak perlu menuntunku lagi. Kamarku sudah dekat.” Jodha melepaskan tangan Jalal yg bertengger di pundaknya. Ia segera berlalu menuju kamarnya. Sementara Jalal hanya mampu menatapnya dari kejauhan. Biarkan Jodha melupakan semua masalahnya. Dia akan menjadi seseorang yg lebih tangguh ketika dia berhasil melewati tantangan yg di utarakan padanya.

“Ratu Jodha, aku tau kau sedang marah padaku. Maafkan aku karena telah membuatmu terluka. Waktu akan mengobati setiap luka yg tercipta.” bathin Jalal menatap sendu ke arah Jodha.

* * * * *

Jodha membaringkan tubuh nya di atas tempat tidur sederhana nya. Dari awal ia berada di Agra. Banyak ketidak adilan yg terjadi padanya. Mulai dari mendapat perlakuan yg kurang menyenangkan saat penyambutan, Perlakuan kasar awal Jalal saat dirinya berada di Agra. Dan di tambah kenistaan hidup yg akhir-akhir ini membendung kebebasan nya.

“Kepalaku pusing sekali. Apa yg telah aku makan? Semenjak tadi aku belum makan. Mungkin aku hanya kelaparan saja.” ucap Jodha tenang. Ia beranjak dari kamarnya dgn tertatih.

“Ya Dewa, kenapa kau keluar dari kamar Jodha?” tanya Moti yg sengaja menghampiri Jodha, saat melihatnya keluar dari kamarnya.

“Jangan khawatir padaku Moti. Aku ingin ke dapur lagi.” jawab Jodha singkat.

“Pekerjaan mu telah selesai. Aku dan Moti telah menyelesaikan nya. Sekarang lebih baik kau beristirahat saja, Jodha. Ayolah, kami akan membantu mu kembali ke kamar.” Bujuk Reva. Ia ingin menuntun Jodha untuk kembali ke kamarnya. Tapi Jodha malah terlihat marah yg sengaja di buatnya sedemikian rupa. “Jangan berani kalian memerintahkan tuan putri dari Amer. Atau kalian ingin mendapatkan hukuman dariku?” ucap Jodha dgn nada tegas yg di buat-buatnya.

Reva dan Moti malah mentertawakan Jodha yg tengah cemberut menatap ke arah mereka. “Ya baiklah tuan Putri. Aku sangat takut dgn hukuman mu itu.” sahut Reva dan Moti bersamaan. Mereka saling tertawa lepas, serasa tak ada lagi beban yg menggantung di pundak mereka.

Beberapa pelayan yg kebetulan melewati selasar yg sama dgn Mereka, hanya menatap sinis ke arah Jodha yg sedang tertawa lepas dgn kedua pelayan nya. Jalal melihat Jodha dari balik tirai jendela kamarnya. Tawanya mampu menenangkan hatinya yg sempat kaku karna ketakutan. Kini semuanya terasa indah saat kembali melihat tawa lepasnya. Jalal melihat banyak pelayan yang melalui Jodha dan memberikan tatapan tidak suka pada Jodha. Tatapan tidak suka mereka membuat Jodha dan kedua orang pelayan nya menghentikan tawa mereka.

“Kau tidak perlu mengambil hati atas sikap mereka, ratu Jodha. Biarkan saja apa yg mereka pikirkan tentang mu. Yang jelas, aku dan Moti akan terus ada bersama mu dan membela mu setiap waktu.” ujar Reva menghibur.

Moti menatap sendu ke arah Jodha. Ia sedih melihat Jodha yg mendapatkan perlakuan yg tidak semestinya ia dapatkan. “Kami tidak bisa membersihkan namamu, Jodha. Aku berharap masalah mu segera terselesaikan. Dan hubungan mu dgn Yang Mulia pun akan segera membaik.” tambah Moti dengan senyuman nya. Di balik senyum itu, Moti menyimpan ribuan harapan untuk hubungan Jalal dan Jodha akan secepatnya membaik. Jodha telah mendapat ribuan luka dalam kehidupan nya. Sejak kecil, Jodha telah di tinggal ibunya meninggal. Dia tumbuh besar dgn kasih sayang Ayah dan kedua Bhaisanya. Jodha menyayangi ayah & kedua Bhaisanya. Mereka hidup saling melengkapi kekurangan kasih sayang dalam keluarga mereka.

Melihat Jodha yg melanjutkan langkahnya menuju dapur, Jalal khawatir Jodha akan bekerja & membuat dirinya dalam keadaan sakit lagi. Secepat kilat Jalal menghampiri Jodha & kedua pelayan nya. “Ratu Jodha, kau ingin pergi kemana? Pelayan yg lain telah menyelesaikan tugasmu. Kembalilah ke kamar mu.” perintah Jalal dgn tegas. Reva & Moti saling bertukar pandang, mereka mengerti keadaan. Dengan segera mereka meninggalkan Jodha yg tampak sangat kaku menghadapi Jalal seorang diri.

Setelah kedua pelayan nya pergi Jodha mulai memberanikan diri menjawab pertanyaan Jalal sesingkat mungkin. “Aku ingin ke dapur. Aku lapar. Jadi apa sekarang aku tidak boleh makan juga?” tanya Jodha dgn tenang tanpa menatap ke arah suami nya.

~~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~~

The Princess In The War Chapter 13

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.