The Princess In The War Chapter 14 - ChusNiAnTi

The Princess In The War Chapter 14


Versi Asli Chapter 44 - 46
By Viona Fitri

“Siapa yg akan melarang mu untuk makan? Aku akan menemani mu ke dapur.” ujar Jalal dgn sedikit terkekeh mendengar pertanyaan istrinya yg di anggapnya lucu. “Tidak ada yg lucu. Aku bisa ke dapur sendiri. Dan mulai sekarang, aku berharap kita bisa saling menjaga jarak. Aku tidak ingin melihatmu lg. Kau egois & keras kepala. Pranaam.” ucap Jodha dgn ketus tapi bernada tegas. Dalam waktu singkat Jalal telah kembali kehilangan Jodha. Dia telah lenyap dari pandangan nya. Kebahagiaan nya yg tadinya meluap, kini menyusut & semakin tipis harapan untuk bisa memperbaiki segalanya dari awal. Jodha tdk pernah ingin mendengarkan penjelasan nya. Itu sangat persis seperti sikap acuhnya saat Jodha hendak menjelaskan kebenaran nya di ruang sidang. Dua kali Jodha telah mengungkapkan permintaan perceraian nya, tapi Jalal selalu tdk pernah menggubris setiap kali Jodha membahas tentang pembebasan dirinya dari pernikahan mereka itu. Yang di ketahuinya hanya takut. Ketakutan yg mendalam di lubuk hati Jalal, membuatnya tdk akan mampu melepaskan Jodha begitu saja.

“Dia selalu saja membuatku tdk bisa berpikir terang & jernih. Sudah ku katakan padanya, untuk tdk menemuiku lg. Tapi, sepertinya telinganya memang sudah tdk berfungsi sama sekali. Dia harus segera memeriksakan kondisinya.” ucap Jodha menggerutu seorang diri. Ia mengambil makanan & duduk sambil menikmatinya. Seharian berada di dalam dapur membuatnya terkuras habis-habisan. Wajahnya kusam karena selalu berbaur dgn asap dapur. Jodha lebih memilik memasak makanan dari pd harus melayani aktivitas para ratu di Harem. Semua wanita di Harem menyebalkan. Tidak ratu & tdk pula pelayan nya sama-sama mengoloknya di sertai tatapan sinis mereka. Jodha merasa tdk nyaman terus di pandang sebagai pengkhianat kerajaan. Perlakuan mereka yg tdk pernah manis padanya, selalu membuat hari-hari nya menjadi semakin suram.

“Uhuk... Uhuk...” Jodha tersedak saat makan nya. Pikiran nya ternyata telah berhasil membuatnya terbatuk seperti itu. Jodha meletakkan piring yg ada di pangkuan nya.

Tiba-tiba sebuah cangkir perak yg berisi air telah tersodor di hadapan nya. Tanpa perlu pikir panjang, Jodha mengambil cangkir perak itu & meneguk isinya sampai habis. “Terimakasih.” ucap Jodha setelah meneguk habis isi cangkir perak yg di terimanya. Ia mengangkat wajahnya menatap ke arah sang pemberi sumber air, yg tadi sangat di butuhkan olehnya.

“Untuk apa kau datang kemari lg? Kalau aku tau kau yg memberikan minuman itu aku tdk akan meneguknya.” Jodha memegang tengkuk nya & berusaha mengeluarkan kembali air yg telah di minum nya. Usahanya gagal, air yg telah tercerna sampai pada perutnya tdk kembali naik kepermukaan. Jodha terlihat kecewa. Ia membuang pandangan nya dgn kasar.

“Ternyata kau masih sangat marah padaku, ratu Jodha. Aku datang kemari hanya karna aku ingin mengatakan sesuatu padamu.” ucap Jalal. “Besok, aku akan pergi berperang. Aku mohon berilah restu mu untuk kemenanganku. Setelah aku kembali dari perang, aku akan segera membersihkan namamu. Kau jagalah dirimu baik-baik, ketika aku tdk berada di istana. Jangan membuat dirimu sendiri kesakitan.” lanjut Jalal lemah. Ia tdk ingin meninggalkan Jodha seorang diri. Meski semua orang di istana tau, Jodha adlh seorang wanita tangguh yg sulit untuk dikalahkan. Tetapi hatinya tetap merasa was-was andai kata Jodha akan melakukan hal konyol ketika ia tak berada di sisinya.

Jalal mengambil posisi duduk di samping Jodha. Tangan nya menggenggam tangan Jodha yg berada di dekatnya. “Jangan melakukan hal konyol ketika aku tdk di istana. Jangan pernah mencoba melarikan diri dari ku. Aku akan menambah sepuluh prajurit untuk mengawasi mu di luar ruangan. Dan aku juga akan menyuruh enam orang pelayan yg akan mengawasi mu kemana pun kau pergi.” kata Jalal memberi penjelasan.

Jodha hanya terdiam. Jelas sudah semuanya. Setelah Jalal pergi berperang, maka dirinya akan menjadi burung di dalam sangkar lagi. Untuk menyuruh prajurit & pelayan begitu banyak untuk mengawasi gerak geriknya. Itu tdk perlu.

“Kau kira aku peliharaan kesayangan mu? Kau kira aku akan melakukan kejahatan di istana mu? Jangan khawatir, kau bisa pergi dgn tenang ke medan perang. Satu hal yg harus kau tau Yang Mulia, aku tdk menyukai pria yg terlalu berlebihan dalam menjagaku.” Jodha melepaskan tangan Jalal yg menggengamnya.

“Aku akan tetap melakukan itu. Jika kau sampai hilang dari istana, maka aku akan menyalahkan mereka dan memecat mereka karna kesalahan mu.”

“Mereka tidak akan pernah bisa mendikte setiap aktivitasku. Aku akan membuat mereka tidak betah & segera angkat kaki dari kamarku.”

“Kalau begitu aku akan menyuruh prajurit yg akan menjaga di dalam kamar mu.”

“Prajurit? Kau sudah gila. Mereka adlh lelaki. Jadi ternyata kau membiarkan istri mu selalu di awasi oleh lelaki. Tapi tdk apa-apa. Mungkin aku bisa merayu nya & melarikan diri dari istana yang suram & mencekam ini.”

Jalal terdiam untuk beberapa saat setelah mendengar penuturan Jodha. Ia tahu Jodha selalu berusaha memancing emosinya. Kali ini egonya tdk boleh menang kembali. Awalnya Jalal merasa geram dgn ucapan Jodha yg akan merayu prajurit yg bertugas menjaga kamarnya. Tapi akhirnya, Jalal tersenyum semanis mungkin pd istrinya. “Kalau kau berani merayu mereka, maka mereka yg akan kena akibatnya.” ujar Jalal dgn seulas senyum manis yg terpahat melengkung di bibir indahnya. Jodha terbelalak dan memutar bola matanya dgn geram. “Kau pergilah, atau aku yg akan pergi.” Jodha bersiap-siap akan bangkit dari duduknya. “Tunggu dulu ratu Jodha. Aku belum menyelesaikan kalimatku.” ucap Jalal dgn lembut. Ia kembali menarik tangan Jodha dan membuat Jodha mau tak mau harus terduduk kembali di tempatnya semula. “Cepat pergi.” ucap Jodha tanpa sabar. Ia menghempaskan tangan nya kuat-kuat. Genggaman tangan Jalal pun akhirnya terlepas dari tangan nya.

Rasanya sangat lega setelah tangan kekar suaminya tidak menyentuh tangan nya lagi. Jodha melarikan diri dari sana secepatnya. Bahkan Jalal pun tak sempat berpikir bahwa Jodha akan melarikan diri darinya lagi. “Dia tidak pernah bisa dekat denganku lagi. Aku telah berusaha untuk dekat dengan nya. Tapi dia selalu menghindar seperti melihat penjahat saat melihatku.” bathin Jalal pilu.

* * * * *

Keesokan paginya, mentari pagi telah menyingsing seluruh pelosok dunia dengan sinarnya. Banyak mata telah bangun sepagi itu. Embun masih terasa sejuk mengenai kulit mereka. Jodha telah terduduk di depan patung kahna nya dgn tangan mengatup di depan dadanya.

Sementara di halaman istana, pasukan yg akan pergi berperang telah mempersiapkan segalanya dgn lengkap. Mulai dari pedang, tombak dan juga panah telah tergenggam di tangan mereka satu persatu sesuai tugas mereka masing-masing. Jalal masih berada di teras halaman istana. Ia memohon doa untuk kemenangan mereka nanti di medan pertempuran.

Anggota keluarga dan beberapa mentrinya berderet dgn rapi membentuk sebuah barisan. Jalal telah bersiap dgn baju besinya. Matanya sibuk menelisik mencari sosok yg terasa dekat dgn hatinya. Ratu Jodha. Istrinya yang satu itu tidak tampak turut serta dalam barisan di anggota keluarganya.

“Aku berdoa untuk kemenangan mu, Jalal. Ibu yakin kau akan pulang dengan membawa kabar gembira untuk seluruh rakyak Mughal.” ucap Hamida seraya memberikan restunya.

Jalal hanya mengangguk. Gerak gerik tubuhnya, mengatakan pada orang lain bahwa ia sedang gelisah dan bimbang. Dadanya berdebar tidak menentu. Kemana perginya Jodha? Kenapa dia tidak hadir untuk memberikan doanya pada suaminya, yang sebentar lagi akan berangkat ke medan perang?

“Ibu, dimana ratu Jodha? Kenapa dia tidak hadir untuk memberikan doanya untuk ku?” tanya Jalal dengan nada kacau. Dari suaranya terdengar jelas gelisah yang begitu besar menderanya.

Hamida hanya menggelengkan kepalanya sebagai balasan. “Kau yang telah memberikan hukuman padanya. Kenapa kau masih mencarinya? Ibu tau bagaimana perasaan Jodha saat ini. Dia pasti sedih tidak bisa memberikan doanya untuk suaminya. Datanglah ke kamarnya untuk meminta doanya. Ketika seorang suami menghadapi permasalahan, maka doa seorang istrilah yg paling mujarab termakbulkan oleh Tuhan. Dengan doanya, kau akan memenangkan pertempuran.” ujar Hamida menasehati. Ia sedih melihat putranya gelisah seperti itu. Banyak ratu yg silih berganti memenuhi Harem nya. Tetapi, hanya Jodha yg bisa menarik hatinya. Semenjak Jalal menjatuhkan hukuman pada Jodha, Hamida tidak pernah lagi melihat menantunya itu. Mungkin, Jodha tengah sibuk melaksanakan hukuman nya dgn sebaik mungkin.

“Jalal, untuk apa kau menemui ratu Jodha lagi? Dia telah mengkhianati mu. Jangan biarkan harga dirimu jatuh di depan wanita Rajput itu.” timpal Rukayah memprovokasi.

“Itu tidak benar, ratu Rukayah. Aku tidak yakin ratu Jodha berkhianat dengan raja. Sejauh yang ku kenal, dia hanya wanita polos yang berbudi pekerti yang baik. Aku punya firasat, kalau ada yang ingin merusak rumah tangga kalian. Percayalah padaku, lambat laun pelaku sebenarnya akan tertangkap juga.” seru Salima yang berada di samping Rukayah.

Jalal membenarkan ucapan Salima. Tidak mungkin Jodha melakukan hal serendah itu. Dia hanyalah seorang wanita polos yang tidak mungkin merencanakan siasat besar seperti itu. Setiap kata-kata bijak yang di keluarkan Salima, selalu berhasil menyentuh logisnya. Berbicara dengan wanita bijak sepertinya, membuat Jalal merasa senang berbagi setiap permasalahan padanya.

“Kau benar ratu Salima. Aku pasti akan segera menemukan pelaku sebenarnya. Setelah aku pulang dari medan pertempuran, aku akan membersihkan nama ratu Jodha kembali. Untuk saat ini, aku akan menemuinya & meminta restunya. Aku berharap dia akan mau berbicara padaku.” ucap Jalal dgn optimis.

Setelah kepergian Jalal menuju kamar Jodha, Rukayah yg saat ini mendapat giliran gelisah.

Di depan patung Kahna nya, Jodha tengah mengatupkan kedua tangan nya. Menunduk, serta sedikit menangis. “Ya dewa... Raja akan segera berangkat berperang. Aku sedih tidak bisa mengucapkan salam perpipasahan padanya. Dia mungkin tidak akan datang untuk meminta restuku. Ku mohon... Jagalah raja dgn baik. Lindungilah dia dari segala mala petaka. Biarkan dia memenangkan peperangan itu. Aku ingin melihatnya tersenyum kembali. Akhir-akhir ini, raja kelihatan muram. Dia jarang tersenyum. Setiap hari kami hanya sibuk bertengkar. Tapi aku benar-benar ingin raja bahagia.” ucap Jodha seraya memanjatkan doanya.

Di tengah kesibukannya berdoa, seorang pria telah berada tepat di belakangnya dgn baju perangnya. “Ratu Jodha...” seru pria itu memanggil wanita yg sedang melakukan doa di depan patung dewanya.

Jodha terdiam sejenak. Tidak mungkin itu suara suaminya. Tidak mungkin Jalal datang untuk menemuinya. Mungkin ia terlalu merindukan suaminya. Jodha menambah keras volume isakkannya. Sebegitu rindunya kah ia pada suaminya?

“Ratu Jodha...”

Jodha terperangah. Suara itu memanggilnya dua kali. Akhirnya dia menoleh menuju arah suara. “Kau...” ucapnya terkejut.

“Iya. Aku datang kemari untuk meminta doa darimu. Setidaknya, berilah restumu untukku pergi berperang. Apa kau keberatan?” tanya Jalal.

Jodha berdiri berhadapan dgn suaminya. Dirinya masih setengah tak percaya dgn indra penglihatan nya sendiri. “Kau datang kemari?” tanya Jodha yg masih bingung untuk bertanya apa lagi dgn sosok itu.

“Apakah kehadiranku membuatmu merasa terganggu lagi?”

Jodha menggeleng. Ia tersadar sepenuhnya, ketika tangan lembut itu menyeka air matanya. “Tidak.” ucapnya serak. Tapi segera ia menepis rasa haru yg baru saja hinggap di hatinya. “Aku merasa terganggu dgn kehadiranmu. Bukankah sudah ku katakan kalau aku memintamu untuk menjauhiku? Jauhi kehidupanku. Jangan pernah datang lagi di hadapanku. Kalaupun kau ingin datang padaku, datanglah sebagai seorang suami. Bukan sebagai raja yg telah menghinaku.” ucapnya getir. Nadanya terasa susah dan sesak. Suaranya tak bisa membohongi hatinya, yg merasa tak mampu untuk mengucapkan katanya.

“Kau tidak memberi restu padaku?” tanya Jalal sendu. Dia menatap ke arah patung dewa Krishna yg tadi di puja oleh istrinya. “Aku yakin, dewa mu tidak suka jika ada umatnya yg tidak patuh pada suaminya. Ratu Jodha, aku tau kau belum bisa memaafkanku sepenuhnya. Tapi aku mohon padamu... Berilah restumu untukku. Suamimu.”

Jodha terenyuh mendengar penuturan yg begitu lembut itu. “Yang Mulia, pergilah ke medan perang dgn tenang. Tak seorang istripun yg berdoa buruk untuk suami mereka. Menangkan peperangan. Doaku selalu menyertaimu.” Jodha berjalan ke arah mandir tempat patung dewanya. Mengambil nampan Pooja dan melalukan ritual untuk suaminya.

Setelah ritual, Jodha melakukan tilak pada pedang suaminya. Hatinya terasa kehilangan. “Kau akan tetap menungguku pulangkan?” tanya Jalal.

“Sebaiknya kau jangan terlalu banyak bicara. Aku tidak bisa memberi janji padamu. Yang Mulia, kau adalah seorang raja. Berikanlah yg terbaik untuk rakyatmu.”

Jalal menyipitkan matanya. “Kau tidak ingin berjanji padaku?”

Jodha menggeleng. “Sudah ku katakan, aku tidak bisa memberi janji padamu. Aku takut tidak bisa menepatinya.”

Jalal menghela nafas panjang. Pandangan nya tak pernah lepas dari mata istrinya. Iris yg berwarna coklat itu nampak tenang saja. Jodha menundukkan kepalanya. “Pergilah Yang Mulia, atau kau akan terlambat.” pesan Jodha.

“Baiklah. Jaga dirimu.” Jalal membalikkan badannya menuju ke arah pintu. Langkahnya terhenti.

Jodha terisak. Ia menutup mulutnya meredam tangis yg di keluarkannya. “Hatiku merasa sunyi kalau kau akan berangkat perang, Yang Mulia. Aku sudah berusaha membencimu dgn luka yg telah kau berikan padaku, tapi itu tidak berarti. Aku tetap menyimpan rasaku padamu. Pergilah. Kau adalah seorang raja. Aku selalu berdoa untuk kemenangan mu.” bathin Jodha lemah.

Jalal menyempatkan diri untuk berbalik menatap Jodha. Pandangan mereka bertemu. Tatapan Jodha tampak nanar dgn pipinya yang basah. Jalal kembali menghampiri Jodha dan memeluknya untuk terakhir kali, sebelum dirinya akan pergi meninggalkannya. “Kalau kau menangis seperti ini, aku tidak akan bisa pergi ke medan perang dgn tenang. Janganlah menangis karnaku lagi, ratu Jodha.”

Jodha mengangguk pelan dalam dekapan suaminya itu. “Aku tidak akan menangis lagi, Yang Mulia. Maafkan aku karna terlalu cengeng sekali.” Jodha merenggangkan pelukan mereka. Jalal yang kemudian melepas pelukan itu dan mengakhirinya dengan kecupan lembut di dahi Jodha.

“Prajurit, jagalah ratu Jodha dengan baik. Penuhi segala permintaan nya. Ratu Jodha tidak boleh keluar kamar tanpa alasan yang kuat. Setelah aku kembali, aku tidak ingin ratu Jodha menyampaikan keluhannya padaku.” ujar Jalal memberi intruksi, sebelum akhirnya punggung gagahnya lenyap di balik tirai pintu.

~~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~~

The Princess In The War Chapter 14

1 comments:

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.