The Princess In The War Chapter 15 - ChusNiAnTi

The Princess In The War Chapter 15


Versi Asli Chapter 47 - 49
By Viona Fitri

Dada keduanya terasa sesak. Mereka kehilangan hati mereka yang lain, ketika mereka pergi meninggalkan hatinya. Jodha masih terpaku di tempatnya. Jujur, hatinya terasa kacau dan remuk. Kenapa bisa dia masih memberikan doanya untuk suaminya? Kenapa mereka bisa saling berpelukan, ketika Jodha yang mengatakan mereka harus saling berjauhan? Apakah cintanya begitu besar? Apakah penghinaan itu masih mampu mengangkat wajahnya? Tidak.

Setelah apa yang terjadi padanya. Jalal berusaha meminta pengampunannya. Ia terlalu mudah dan gampang, hanya dengan kata maaf saja.

Hari ini, apakah pembunuh bayaran Jalal akan melakukan aksi mereka? Jodha berjalan tak menentu berulang kali. Apa yang akan terjadi pada pamannya? Ini salah. Ini semua tidak bisa di biarkan lagi. Harus ada yang berani menghentikan konspirasi pembunuhan itu. Jodha melirik singkat ke arah prajurit yang berjaga di luar pintu kamarnya. "Aku harus pergi. Paman Pratap tidak boleh terluka. Aku tidak ingin Surya menjadi seperti aku. Kehilangan ayah dalam hidup tak akan mampu aku bayangkan lagi."

Jodha mengambil sesetel pakaian putih perangnya. Ia membawa pakain itu dari Amer. Setiap saat ia berlatih pedang bersama Bhaisanya, Jodha selalu memakai pakaian itu. Apalagi saat ini, pakaian itu sangat berarti untuk menyelamatkan nyawa seseorang. Jodha tau dia akan berada dalam masalah, jika Jalal sampai mengetahui penyamarannya, entah hukuman apa lagi yang akan di pikulnya. Tapi persetan dengan semua hukuman menyebalkan itu. Saat ini tidak banyak waktu lagi untuknya. Ia harus sampai di medan perang sebelum Jalal dan pasukannya tiba terlebih dahulu ke medan perang. Biasanya sebelum keberangkatan mereka, Jalal pasti akan memberi beberapa intruksi untuk para prajuritnya. Itu pasti akan sedikit mengulur waktu kepergian mereka.

Jodha mencari cara cepat untuk keluar dari kamarnya. Tidak mungkin bila ia akan keluar melewati pintu. Prajurit pasti akan menangkapnya dan membawanya masuk ke dalam kamar lagi. Tidak-tidak, itu pemikiran yang konyol.

Jodha mencari bantuan tali temali untuk menuruni kamarnya melalui jendela. Apakah di dalam kamar seorang ratu tersimpan tali panjang yang akan bisa membantunya? Ternyata tebakkannya tidak meleset. Di bawah tempat tidurnya, ia melihat gulungan tali panjang yang mungkin bisa di gunakannya. "Ini adalah pertolongan dewa." ucap Jodha sumringah.

Jodha mengikat kuat tali itu dengan penyangga kaki ranjangnya. Panjang juga. Tali itu telah berhasil menjuntai sampai ke halaman belakang istana. Tempat itu berada dekat dengan istal kuda.

Jodha menuruninya secara bertahap. Sedikit saja suara anehnya terdengar, maka prajurit akan masuk ke dalam kamarnya. Dan setelah itu, sudah dapat di pastikan rencananya akan gagal.

"Hak..." Jodha melompat dari tali yg membantunya. Tidak ada yang berlalu lalang disana. Suasana sangat sepi karena hampir sebagian prajurit ikut serta dalam peperangan.

"Tuan, tolong sediakan satu kuda untukku." ujar Jodha pada sang penjaga istal.

"Tidak Yang Mulia ratu. Raja akan sangat marah bila saya melakukan itu."

"Tidak akan marah. Percayalah padaku. Apakah tuan belum mendengar berita terbaru di istana ini?" tanya Jodha. Seberusaha keras ia mencoba meyakinkan sang penjaga istal agar mau menyerahkan seekor kuda untuknya.

Penjaga istal itu menggeleng. "Aku ini bukan seorang ratu, lagi. Yang Mulia telah mengumumkan aku menjadi seorang dasi. Untuk itu, apa pedulinya Yang Mulia padaku. Bukankah seorang dasi seperti kita ini tidak pernah dianggap ada oleh raja. Raja kitakan sangat kejam."

Penjaga istal itu membenarkan. "Benar. Raja sangat kejam. Aku berpendapat sama dengan anda. Tapi..." lelaki itu menghentikan ucapannya.

"Sudahlah. Sekarang berikan aku seekor kuda. Aku berjanji tidak akan terjadi masalah padamu. Bila raja bertanya padamu, katakan saja padanya kau tidak melihatku."

"Yang Mulia tidak mungkin mempercayaiku."

"Tolonglah aku tuan. Aku benar-benar membutuhkan kuda itu. Apa kau tidak ingin membantuku?"

"Baiklah. Tapi berjanjilah padaku agar kau tidak pulang terlalu lama. Kau harus pulang sampai di istal ini sebelum Raja kembali." Penjaga istal itu meminta janji. Jodha mengangguk setuju.

Setelah perdebatan singkat itu, Jodha akhirnya berhasil menunggangi seekor kuda putih yang lembut. Tanpa menunggu lama, Jodha menyambar tali pengendali kuda dan melajukan kudanya menuju hutan tembusan. Bhaisanya pernah mengajaknya melihat keadaan Mughal dari jalan itu. Jalan itu juga merupakan satu-satunya Jalan yang paling pintas menuju medan perang. Untungnya Jodha masih mengingat jalan itu dengan baik.

Jodha melihat medan perang yang masih kosong di hadapannya. Jalan itu telah membantunya sampai lebih cepat dari perkiraannya. Tak jauh dari sana, suara prajurit yang bersorak ramai dengan ringkikan kuda mereka telah terdengar. Itu pasti pasukan Pratap Sing. Jodha segera mengepak kudanya menjauhi medan perang.

Jodha menambatkan kudanya tak jauh dari sana. Pasukan Mughalpun terdengar sudah mulai berdatangan dari arah berlawan. Jodha merasa was-was. Ini kedua kalinya ia akan terjun ke medan perang. Nafasnya yg mengalir tak beraturan membuat Jodha sedikit ragu untuk melangkahkan kakinya menuju medan sejarah yg akan menewaskan ribuan nyawa disana. Tak terasa air matanya meleleh. Benarkah keputusan yg di buatnya ini? Melindungi keluarganya dan melawan suaminya adalah dosa. Sebagai seorang istri ia harus patuh pada seorang suami. Tapi sebagai keluarga, ia mempunyai tugas saling melindungi antar sesama. Kalaupun tindakannya tidaklah benar, biarlah dewanya yg akan memberikan hukuman apa yg pantas di terimanya.

Dari kejauhan, pasukan Pratap dan Jalal telah saling menyerang. Surya pun ikut membantu ayahnya dalam peperangan itu. Mereka berdua adalah keluarganya. Jodha harus segera melalukan apa yg akan menjadi tugasnya. Ia tidak boleh berat sebelah antara keluarga dan suaminya. Sekarang ia telah jernih. Jodha hanya akan melindungi pamannya saja. Dia tidak akan menyerang pasukan Mughal ataupun suaminya. Yang diinginkan dan visinya datang ke tempat itu adalah sebuah keselamatan untuk Pamannya. Tidak lebih untuk melindunginya sebagai seorang ayah yg pernah dekat dengannya.

Jodha menutup wajahnya dgn turban yg melingkar di kepalanya. Dadanya membuncah hebat. Apapun yang terjadi, inilah jalan yang terbaik untuknya. "Ya dewa... Bantulah aku dalam menjaga keselamatan pamanku." bathin Jodha setelah bersusah payah mengatur nafasnya.

* * * * *

Saat itu tampak Jalal yang tengah memerangi pasukan Pratap dengan kegagahannya. Sementara Pratap tengah sibuk berpikir keras untuk segera menghabisi pasukan yang memberondongnya dengan senjata mereka. Semangatnya tampak menggebu, ketika di lihatnya Jalal tak jauh dari tempatnya berada. Surya tengah berhadapan dengan Todar mal. Dia adalah seorang mentri yang paling loyal di kerajaan Mughal. Todar mal telah mengabdikan seluruh hidupnya untuk membela tanah airnya. Suasana telah semakin memanas. Tanda di sadari, Jodha masih terdiam menatap keganasan peperangan di hadapannya.

Dua orang prajurit Mughal dari kejauhan secara tertubi-tubi menyerang Pratap tanpa henti. Jodha terkejut, prajurit itu tidak sama dengan kebanyakan prajurit yang berbadan sedang dan berkekuatan tidak sebanding dengan Pratap. Dua prajurit itu berbadan besar dengan tatapan garang mereka, tampaknya Jodha mulai berpikir tentang pembunuh bayaran yang di perintahkan oleh raja.

Pratap menghadapi mereka dengan sangat kewalahan. Mereka berdua entah datang dari mana, tapi yang jelas pakaian perang mereka menyatakan prajurit Mughal. Jodha datang dengan begitu cepat di hadapan mereka.

Awalnya kedua prajurit itu terkejut dengan kehadiran sosok baru yang memakai pakaian yang tidak memihak pada kerajaan siapa dia berperang. Pratap pun sama terkejutnya. Hampir saja ia berusaha menyerang Jodha, namun segera setelah Jodha menyerang salah satu dari kedua prajurit berbadan besar itu, tahulah dia jika Jodha bermaksud membantunya.

Jalal memperhatikan pratap dan seorang prajurit berpakaian putih dengan wajah tertutup turbannya. Gerakan lihai yang di gunakan prajurit berpakain putih itu seperti pernah di lihatnya di suatu tempat. Dan... Jalal terperanjat ketika mendapatkan ada dua orang prajurit Mughal yang menyerang Pratap secara membabi buta seperti itu. Sejauh yang ia ketahui, semua prajuritnya mempunyai kekuatan standar di bawah kategori yang bisa mengalah seorang panglima dalam peperangan.

Tanpa pandang kanan kiri lagi, pedang Jalal menebas asal prajurit yang berusaha menghadangnya. Dia harus segera sampai pada Pratap dan membantunya dari kedua prajurit gila itu.

Prajurit yang bertarung dengan Jodha telah berhasil melukai lengan Jodha dengan ujung pedangnya. Baju perang putihnya terkoyak memperlihatkan tangan tirusnya yang tak kekar layaknya prajurit pada umumnya. Mereka tidak percaya jika itu adalah seorang lelaki. Dari jemari Jodha, mereka dapat memastikan bahwa Jodha adalah seorang wanita.

Luka itu ternyata cukup dalam. Semangatnya terasa mengendur ketika darah segar telah mengalir begitu banyak dari koyakan baju perangnya. Beruntung Jalal datang tepat waktu dan menyingkirkan Jodha dari sana. Dari atas kudanya, Jalal menyambar tangan Jodha dan membawanya naik ke atas pelana kuda bersamanya. Jalal menatap geram ke arah prajurit yang berpakain Mughal di depannya. Segera ia mengangkat pedangnya dan menewaskan mereka satu persatu. Pratap dan Jodha sama-sama terkejut. Jodha duduk di depan Jalal di atas kudanya. Ia tidak percaya Jalal membunuh kedua prajuritnya sendiri. "Auw..." rintih Jodha tanpa sadar. Ia memegangi luka di lengannya. Suara itu, membuat Jalal langsung menatap lekat ke arah prajurit yang duduk bersamanya di atas pelana kuda kesayangannya. "Kau..." Jalal terdengar ragu untuk mengatakan kalimat berikutnya.

Jodha terhenyak. "Kau siapa?" tanya Jalal pelan. Ia seperti kenal dengan sosok yg berada di pelukannya itu. Pinggang ramping yang di peluknya, seperti pernah berada dalam pelukannya juga sebelum itu. Jalal hendak membuka turban yang menutupi wajah Jodha, tapi dengan cepat Jodha melompat turun dari kuda itu dan berlari menjauhi medan pertempuran. "Siapa dia? Aku seperti pernah mengenalnya sebelum ini? Apakah dia...." Jalal berusaha mengobrak-abrik file ingatannya. Hanya sosok Jodha yang terbayang olehnya. "Tidak mungkin ratu Jodha ikut ke medan perang. Aku telah memerintahkan prajurit untuk mengawasinya. Lagi pula, tidak ada wanita yang boleh ikut dalam peperangan." Jalal gelisah.

Di tempat persembunyiaannya, Jodha membuka penutup wajah yang membuatnya terasa memanas dalam pertempuran. "Ya dewa, ku harap Yang Mulia tidak mengetahuiku. Huft..." Jodha menghirup nafas lega.

Kembali Pratap berusaha menyerang Jalal dengan sengit. Dia adalah orang yang anti dengan Mughal. Sudah beberapa kali ia pernah berhadapan dengan Jalal di medan perang, tapi kali ini keadaannya berbeda. Jalal telah menjadi keluarganya, berkat pernikahannya dengan keponakannya, Jodha. Lalu bagaimana ia harus bersikap dalam peperangan ini. Mengingat Jalal yang telah berusaha menyelamatkan nyawanya, Pratap merasa tidak enak hati kalau harus bertarung melawannya.

"Salam Paman Pratap..." ucap Jalal penuh hormat ketika turun dari kudanya. "Pranaam..." balas Pratap dengan bimbang. Ia merasa sulit untuk berkata setelah apa yang baru saja dilaluinya.

"Kenapa anda menyelamatkanku? Apa alasan di balik semua itu? Bukankah kau ingin sekali menguasai Rajput untuk memperluas daerah kekuasaanmu?" tanya Pratap.

"Tidak. Aku telah berjanji pada ratu Jodha untuk tidak membunuhmu. Kau adalah pamannya ratu Jodha. Aku ingin kita berdamai."

"Berdamai?" Pratap terlihat ragu dengan ucapan Jalal kala itu.

"Iya. Aku ingin kita berdamai. Kita adalah keluarga. Terimalah takdir kita saat ini."

Tiba-tiba seorang pemuda seumuran Jalal menghampiri Pratap Sing. Ia mengalungkan pedangnya di leher Jalal. Tak ada rasa cemas sedikitpun di hati Jalal. Dia tahu, pemuda itu tidak akan membunuhnya tanpa perlawanan.

"Hentikan, Surya." ujar Pratap pada pemuda itu. Surya tak percaya mendengar ucapan ayahnya yg akan menghentikan gerakannya. "Kenapa ayah? Dia adalah musuh kita. Di dalam pertempuran hanya akan ada hukum hidup atau mati. Jika kita tidak membunuhnya, maka dia yg akan membunuh kita, ayah." sahut Surya memberi penjelasan.

"Tidak. Justru Jalal lah yang telah menyelamatkan ayah tadi. Lepaskan pedangmu dari lehernya." perintah Pratap dengan tegas.

Dengan berat hati, Surya melepaskan kalungan pedangnya yg bertengger di leher Jalal. "Kau Surya?" tanya Jalal meyakinkan dirinya. Kata-kata Jodha terngiang kembali di pikirannya. Surya mengangguk. "Ya, aku Surya. Aku dan Jodha bersaudara. Dia adalah sepupuku. Apa kau menyakitinya? Aku tau dia tidak bahagia hidup bersamamu."

"Dia hidup sangat bahagia bersamaku. Tolong, jaga bicaramu. Jangan membuatku bisa melakukan hal yang tidak aku ingin."

Surya terkekeh. "Kami semua tahu, Jodha sangat menderita tinggal di istanamu. Dia sudah kau anggap sebagai pengkhianat kerajaan, ketika kau mengetahuinya keluar dari istana dan bertemu dengan seorang pria di daerah perbatasan."

"Dia adalah istriku. Aku tidak pernah memberinya izin untuk bertemu dengan pria lain padanya. Aku tidak suka, ada pria yang menggoda wanita yang sudah bersuami." Jalal geram.

"Tapi..."

"Aku tau kalian adalah sepupu. Tapi kau harus tahu kalau Jodha adalah istriku. Kalau kau ingin bertemu dengannya, kau bisa ke Agra dan menemuinya dengan cara terang-terangan tanpa perlu memintanya menemuimu di tengah hutan. Karena itu, aku dan ratu Jodha salah paham. Kau yang telah menyebabkan semuanya jadi berantakan. Karna kau, aku menghinanya di depan semua orang."

Surya terpaku mendengar penuturan Jalal yang meninggi. "Tapi bukankah kau yang tidak ingin mendengarkan penjelasan Jodha saat itu? Kau tau, Jodha pasti sangat menderita karna itu. Bangsa Rajput bahkan telah berjanji tidak akan menerimanya kembali ke kerajaannya. Kau telah mencoreng nama baiknya."

"Sudahlah, Surya. Aku tidak ingin melanjutkan peperangan ini. Aku ingin kembali dan menyelesaikan permasalahan rumah tangga kami."

"Kita akan berdamai, Jalal." ucap Pratap menyetujui. Jalal memeluk Pratap dan mengucapkan terimakasih padanya. Mereka akhirnya mengakhiri peperangan itu dengan jalan damai. Jodha merasa lega, secepat kilat ia menunggangi kudanya dan menuju arah istana.

Jalal yang saat itu pulang bersama rombongan mereka, mendengar suara tepakan kuda dari arah hutan. Itu pasti bukan prajuritnya. Tapi apa pedulinya dengan perihal suara kuda, ia harus sampai di istana dgn cepat dan menyelesaikan permasalahannya dgn Jodha. Berharap saja, agar Jodha mau menerima maafnya untuk yg kesekian kalinya.

~~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~~

The Princess In The War Chapter 15

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.