The Princess In The War Chapter 9 - ChusNiAnTi

The Princess In The War Chapter 9


Versi Asli Chapter 26 - 28
By Viona Fitri

Di kamarnya, Ruqayah menutup rapat gorden pintunya. Tak seorangpun yang dapat kecuali Jalal, pesan Ruqayah pada penjaga pintu kamarnya. “Hah, ratu Jodha telah menyusun suatu rencana untuk membuatku menjadi lebih renggang dari Jalal. Apa yang sudah dilakukannya? Beraninya dia melakukan itu padaku? Awas kau ratu Jodha.... Sekarang, aku akan memulai semuanya... Semuanya!” teriak Ruqayah sembari mengobrak-abrik semua benda yang ada di sekitarnya. Ia melempar beberapa perlengkapan riasnya pada cermin di hadapannya. Suaranya menggema di setiap sudut ruangan. Seolah hatinya memang telah tercabik, Ruqayah menarik sprei ranjangnya dan menghempaskannya begitu saja. Entah sudah berapa kali ia mengais barang-barang yang telah di campakkannya, kemudian melemparkannya lagi berulang kali. Kedua penjaga yang berjaga di pintu masuk kamar Ruqayah, seperti was-was dengan sesuatu yang terjadi pada ratu mereka. Salah satu dari mereka akhirnya menemui Jalal untuk menceritakan kejadian itu.

“Adab shahensa. Maaf telah mengganggu waktu luang anda.” kata Prajurit itu dengan nafas tersenggal.

Jalal tampak geram dengan kedatangan prajurit yg mengganggu waktunya bersama Jodha. “Ada apa?” tanya Jalal dgn sedikit menggertak prajurit itu.

“Ratu Ruqayah sedang mengamuk di kamarnya, tuan. Kami sangat khawatir sekali. Terdengar banyak benda yg pecah dari dalam kamar ratu.”

“Kenapa kau tidak menghentikannya?”

“Kami dilarang masuk, tuan. Ratu ruqayah hanya memperbolehkan anda saja untuk memasuki ruangannya.”

“Aku mengerti. Sekarang pergilah, aku akan segera menemuinya.” kata Jalal tegang.

“Pranaam shahensa.” prajurit itu pun segera meninggalkan Jalal menuju tempatnya semula.

“Ratu Jodha, aku ingin menemui ratu Ruqayah dulu. Kau sebaiknya berbersih dulu. Aku akan segera kembali setelah menumui ratu Ruqayah.” kata Jalal sambil berlalu dari sana.

Jodha segera mengambil sepasang pakaiannya dan bergegas menuju hamam. “Hari ini hubungan kami sudah mulai membaik. Dewa... Jadikanlah rumah tangga kami menjadi lebih baik lagi dari saat ini.” bathin Jodha.

* * * * *

Jalal memasuki kamar Ruqayah dengan tergesa. Ruangan yg dimasukinya bukan lagi tampak seperti kamar ratu, melainkan sebuah ruangan yg lebih buruk dari kandang kuda. Semuanya berhamburan berserakan di lantai kamar. Pecahan beling ada disana sini.

“Ratu Ruqayah, apa-apaan ini? Kau kenapa melakukan ini? Lihat pecahan kaca-kaca itu. Kalau kau menginjaknya kakimu akan terluka.” bentak Jalal melampiaskan amarahnya yg telah meluap sejak tadi.

“Hentikan kata-katamu Jalal. Kau sudah mengingkari janjimu untuk tidak mencintai ratu Jodha. Sekarang apa Jalal? Kau sudah bermesraan dengannya. Aku melihatnya tadi. Tak bisakah kau menjaga perasaanku ini Jalal? Aku tau kau mempunyai banyak sekali ratu dan selir, tapi setidaknya kau tidak boleh dekat dgn ratu Jodha, karna kau beranggapan sendiri bahwa dia hanyalah seorang dasi. Repurtasiku akan turun kalau kau tetap akan memperlihatkan kasih sayangmu itu pd ratu Jodha.”

“Kau tau itu ratu Ruqayah. Aku adalah seorang raja yang mempunyai banyak istri. Untuk itu aku berusaha untuk membagi waktuku juga pada ratuku yang lain. Ratu Jodha adalah ratuku juga. Hanya karna sebuah permasalahan kecil, aku akan kehilangannya. Setelah kepergiaanya, aku baru menyadari bahwa aku mulai jatuh hati padanya. Kau hanya mementingkan reputasimu saja. Aku tidak suka kau lebih mementingkan repurtasimu dari pd suamimu.”

“Oh baiklah Jalal. Sekarang katakan padaku. Apa kau lebih memilih ratu Jodha dari pada aku? Aku adalah istri pertamamu Jalal. Suka dan duka telah membuat hubungan kita lebih harmonis lagi. Katakan, aku atau ratu Jodha yg kau pilih?” tanya Ruqayah tak sabar lagi menanti jawaban Jalal. Ia mengguncang pundak Jalal dengan linangan air matanya. Hatinya terasa sesak, melihat Jalal membela ratu Jodha sekuat itu. Ia bahkan lupa, kalau saat ini wanita yg ada di hadapannya adalah istri utama raja.

“Kau gila Ruqayah. Aku tidak bisa memilih antara kalian berdua. Aku memang mencintaimu, tapi aku juga mulai mencintai ratu Jodha. Sekarang terserah padamu, kau ingin menghancurkan kamarmu ini, terserah! Aku juga tidak akan peduli kalau kau ingin meminta perceraian dariku.” ucap Jalal sambil berlalu dari sana. Ruqayah terduduk di lantai kamarnya dgn lemas, seperti segala energinya telah terserap oleh perselisihan mereka tadi. Baru kali ini ada seorang wanita, yg membuat Jalal mampu memarahinya dan membentaknya sekeras itu.

“Awas kau ratu Jodha. Aku tidak akan membiarkanmu hidup berbahagia bersama Jalal. Kau telah membuat hidupku hancur. Benar-benar hancur....” teriak Ruqayah lantang yg menggelegar di seisi kamarnya.

* * * * *

Setelah selesai membersihkan diri, Jodha memasuki kamarnya. Begitu di lihatnya suaminya tengah terduduk di tepi ranjang sambil menangkupkan kedua tangannya menutupi wajah tampannya. Jodha duduk sambil mengelus lembut punggungnya.

“Yang mulia, apakah ada masalah?” tanya Jodha lembut. Tangannya masih mengelus punggung Jalal dgn jemari lentiknya.

“Ratu Ruqayah dia benar-benar membuatku tidak habis pikir. Dia memarahiku karna alasan yg tidak jelas. Aku bingung ratu Jodha. Apakah semua wanita seperti itu?” tanya Jalal yg ketika itu menoleh ke arah Jodha.

Senyuman indah pun tersungging di bibir indahnya. Memberikan kesan kedamaian hanya dgn seuntai senyum tulus itu. “Wanita tak terduga Yang mulia. Terkadang, dia bisa memarahi siapapun tanpa alasan yg jelas. Tapi, di balik perihal itu dia pasti mempunyai masalah dlm dirinya yg sulit untuk di ungkapkan.”

“Tapi ratu Ruqayah sangat meledak sangat dahsyat tadi. Seisi kamarnya berantakan. Barang-barang yg di ruangan itu tergeletak berserakan di lantai tak berguna lagi.” kata Jalal dgn gereget menceritakan itu pd Jodha.

“Lalu, kau memarahinya?” tanya Jodha. Melihat tak ada geming dari bibir suaminya, Jodha melanjutkan. “Maafkan dia Yang mulia. Jangan menjadi seseorang yg cepat marah seperti itu. Ratu Ruqayah pasti sangat sedih saat ini. Hiburlah dia, buatlah hatinya bersemi kembali.” bujuk Jodha seraya menggenggam tangan Jalal di pangkuannya.

“Apa aku salah berbagai waktu untuk semua istriku. Kau juga adlh ratuku, tapi Ruqayah tdk pernah bisa melihatku dgn wanita lain selain dirinya. Dia lebih mementingkan reputasinya, dari pd gelarnya menjadi seorang istri.”

“Kau harus sabar Yang mulia. Ini adlh hal besar dalam hidupmu. Mempunyai banyak ratu dan selir, membuatmu harus bisa membagi waktu mu dgn baik. Mereka semua adlh istrimu, berikan mereka kasih sayang yg sama seperti kau mengasihi ratu Ruqayah.” jelas Jodha.

Kata-katanya yg terucap lembut, membuat hati Jalal serasa mendapatkan suatu pencerahan dari kata itu. Matanya yg berbinar penuh keteguhan, membuat keyakinan akan dirinya bertambah dalam. Genggaman tangannya, terasa memberi ketenangan lewat jari-jari mungilnya. Bibirnya yg bergelumat saat mengatkan kata-kata itu, tampak bergerak tanpa kesentil sedikitpun. Pesona wajahnya memancarkan suatu dorongan pd dirinya.

“Aku akan meminta maaf pd Ruqayah. Tapi... Mlm ini bisakah kita tidur bersama. Emm, maksudku kita tidur di kamarmu. Aku khawatir kau masih trauma dgn kejadian tadi siang.” alibi Jalal yg sedikit bimbang dlm pengucapannya.

“Baiklah. Yang mulia bisa datang kapan saja ke kamarku ini. Sekarang, mandilah dulu setelah itu temui ratu Ruqayah dan meminta maaflah padanya.” saran Jodha.

Jalal semakin dibuat terpana oleh setiap saran yg bijak dari Jodha. Selain parasnya yg ayu, hatinya pun putih bak salju di kutub. Ada kemantapan dlm setiap katanya. Mata Jodha terpejam saat bibir Jalal sudah sangat dekat dengannya. Ritme nafas tak beraturan beradu dgn adrenalinnya. Dadanya naik turun, seperti berusaha menarik nafas dan membuangnya kasar.

CUP...
Sebuah kecupan hangat menyapu bibir Jodha yg sedikit terbuka. Awalnya hanya kecupan yg membuatnya terasa melambung, namun lambat laun kecupan itu bertambah panas dgn segala hasrat terpendam mereka, yg mulai mencuat ke permukaan. Bibir Jodha bergetar setiap kali Jalal mulai menerobos masuk ke dalamnya serta bernari dgn mesra dgn lidahnya. Jodha masih tampak kaku karna memang dia adlh seorang wanita yg polos tentang cinta. Belum pernah ia melakukan kissing dengan pria manapun kecuali Jalal, yg telah resmi menjadi suaminya.

“Ayolah.” ujar Jalal singkat dgn mengerling nakal pd Jodha. Di balik kata-katanya, tersimpan makna berbeda dari apa yg di katakannya itu. Matanya yg sayu, seperti meminta sesuatu pd Jodha. Tapi apa? Jodha mengkerutkan dahinya bingung. Sementara alisnya yg tampak seperti semut beriring itu terangkat naik sebelah.

“Aku tidak mengerti.” jawab Jodha polos di sela di kecupan panas Jalal.

Lekas Jalal mengakhiri ciuman panas itu sambil menatap wajah polos Jodha. 'Ku rasa dia benar-benar sangat polos dan belum pernah melakukannya. Tak sedikitpun ia merespon kecupan-kecupanku.' desah Jalal dalam hati.

Jodha segera menghirup oksigen sebanyak mungkin untuk kembali bertanya pd Jalal. “Ayolah apa Yang mulia? Aku tidak mengerti.” Jodha mengendikan bahunya sambil menggelengkan kepalanya.

“Kau harus banyak belajar untuk menjadi seorang istri yg baik. Ratu Jodha, kau belum pernah berciuman?” selidik Jalal dgn nada menggoda.

Mendapat pertanyaan seperti itu, wajah Jodha yg semula pucat karena kekurangan banyak oksigen, kini memerah seperti kepiting rebus di restoran siap saji. Perlahan Jodha menggeleng malu-malu. “Tidak pernah. Karna aku hanya akan memberikan semuanya pada suamiku.”

“Kalau begitu kau harus banyak belajar lagi. Katamu seorang raja yang mempunyai banyak istri harus bisa membagi waktu dgn baik. Aku harus memberikan kasih sayang yg sama kepada setiap ratuku. Kalau begitu, bersiaplah karna nanti malam aku akan bermalam dgn mu.” kata Jalal sembari mencium pipi Jodha dan beranjak menuju Hamam (pemandian).

Seperti yg dikatakan Jalal sore itu. Setelah mandi & berpakaian rapi, Jalal sejenak menatap dirinya pd refleksi cermin di kamarnya. Semuanya telah tampak sempurna . Tapi ada satu yg terlupakan olehnya. Senyuman. Tak bisa di pungkiri oleh siapa pun itu, senyum Jalalludin Muhammad Akbar adlh senyum paling memikat di seluruh penjuru dunia. Matanya juga sangat tajam, namun hatinya tak sekeras yg mereka perkirakan. Bibirnya yg indah itu, selalu menjadi perhatian banyak orang saat ia berbicara. Badan gempal & tangan-tangan kekarnya, selalu menjadi impian para ratu agar senantiasa berada dlm dekapannya. Ratu Harem tak sedikitpun pernah mengelak dari kenyataan fakta dlm setiap mimpi mereka. Berada dlm ruangan dgn sang raja, & menghabiskan waktu bersama. Pikiran mereka seperti telah tertutup oleh kabut, & di matanya hanya ada sang raja saja. Sayangnya, mereka hanya bisa memimpikan raja dlm setiap buaian dewa malam yg menghanyutkannya.

“Pergilah.” kata Jalal memerintah penjaga pintu kamar Jodha. Ia memberi sekantung keping emas pd para penjaga. Sebelum mereka pergi, Jalal kembali mengingatkan. “Jangan ada yg boleh masuk ke dlm kamar ratu Jodha.”

Prajurit yg tadinya berjaga, segera meninggalkan tempat itu dgn sekantung keping emas. Mereka berjalan begitu cepat. Terdengar decakan gembira prajurit itu sambil tetap melangkahkan kakinya menuju lorong yg tampak sunyi malam itu.

Jalal memasuki ruangan Jodha. Kemana gadis itu? Apakah dia sedang keluar, atau sedang merias dirinya di sebuah ruangan istana lain? Jalal mencari Jodha memutari ruangan kamar Jodha & meneliti setiap sudutnya. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki seseorang memasuki kamar. Jalal sangat yakin itu adlh istrinya, Jodha. Setelah tirai pintu itu tersingkap, seorang wanita cantik memasuki ruangan sambil menatapnya penuh rasa bersalah. Wajahnya hanya tertunduk, namun kakinya terus saja melangkah mendekati Jalal.

“Maafkan aku Yang mulia, aku datang terlambat.” katanya pelan.

“Tidak masalah, aku juga baru sampai ke kamarmu. Kau dari mana saja tadi ratu Jodha? Aku kira kau menghilang.”

“Maaf Yang mulia, tadi ammijan memanggilku untuk menemuinya. Ammijan menanyakan keadaanku. Aku bilang, aku baik-baik saja. Yang mulia telah menyelamatkan nyawaku. Aku sangat berterima kasih padanya.”

“Lalu, apa lagi yg ammijan katakan padamu? Apa kau menceritakan tentang sikap jelek ku padanya?”

“Tidak. Aku tdk menceritakan apa-apa padanya. Aku hanya menjawab setiap pertanyaan yg di ajukan ammijan.”

Jalalpun tersenyum senang. Sepertinya Jodha tdk akan pernah mencampur adukkan urusan rumah tangganya dgn orang tuanya. Jodha lain lagi dengan Ruqayah yg sangat bertolak belakang dengannya. Semua masalah Harem adalah keputusan sepihak saja. Mana menurutnya benar, maka yg lain akan di salahkan begitu saja meski alasan yg menyertainya pun benar & logis. Ruqayah yg besar kepala dan tidak ingin satu orang pun tidak mematuhi perintahnya. Jika itu sampai benar terjadi, maka tak segan baginya menghukum yang tak bersalah, sekalipun orang itu benar.

“Yang mulia...” kata Jodha terkejut begitu merasakan kakinya tidak menginjak lantai lagi. Jalal hanya tersenyum menggoda padanya. Malam ini Jodha sangat cantik dari hari sebelumnya, bahkan saat pernikahan mereka. Tapi sorot matanya menunjukkan kekhawatiran dan ketakutan yang memandang ke arah Jalal. Seolah tubuh itu hendak melepaskan diri dan berjalan sendiri tanpa perlu di gendong seperti itu. Tangan nya mengelayut di sekitar leher Jalal. Cengkraman nya yang erat, membuat Jalal mengerti dengan apa yang di pikirkan Jodha saat ini. Wajahnya sejak tadi ia sembunyikan dalam dada atletis itu. Sedikit kehangatan yang berhasil memasuki jiwanya.

“Kenapa Jodha? Apa kau takut?” tanya Jalal yang telah merebahkan Jodha di atas ranjang tempat tidur. Jodha hanya mengangguk pelan, namun lagi-lagi sinar matanya nampak ketakutan yang belum pernah di lihat sebelumnya.

“Tenanglah ratu Jodha. Aku tidak akan berbuat kasar padamu. Jangan khawatir.” ucap Jalal menenangkan Jodha. Ia mengecup pucuk kepala Jodha dan melepas segala perhiasan dan sringat yg melekat pada tubuh molek itu.

Setelah semuanya terlepas, Jalal pun segera naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya di atas Jodha. Pandangan mereka bertemu dan bercerita satu sama lain. Jodha menghela nafas sejenak dan menutup matanya rapat. Dadanya naik turun seiring pergerakan Jalal yang mulai liar di sekitar bagian-bagian sensitifnya. “Ah... Jalal sakiiit...” pekik Jodha di iringi desahannya. Semakin lincahnya bergerakan Jalal, semakin sakit dan nyeri yang di rasakannya. “Tenanglah, hanya sebentar.” bisik Jalal dengan pelan. Peluh mereka telah mengucur dengan sangat deras seperti hujan lebat. Setelah di rasanya telah berhasil menembus pertahanan Jodha, kesakitan itu berubah menjadi kenikmatan luar biasa. Keduanya terjatuh saling berpelukan melepas kelelahan yg baru saja terjadi.

~~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~~

The Princess In The War Chapter 9

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.