Heart’s Beat Part 7 – By Tyas Herawati Wardani - ChusNiAnTi

Heart’s Beat Part 7 – By Tyas Herawati Wardani


Amar –“Pernah kukatakan padamu, menjauhlah dari Jalal! Dia akan menyeretmu dalam masalah. Dia itu seperti kutukan! Karirmu bisa hancur kalau diberitakan seperti ini....!”
Jodha –“Tapi hubungaanku dengannya belum sejauh itu. Semalam kami hanya saling menghibur dan mengbrol...”
Amar –“Kau akan menjelaskannya pada siapa? Pada wartawan?! Mereka akan membuat beritanya semakin panas dan banyak cerita tambahan yang akan mereka buat...!?”
Jodha –“Lalu apa yang harus kulakukan?”
Amar –“Percayalah padaku kali ini.. Jangan temui Jalal sama sekali!... Tetaplah bersamaku, aku yang akan melindungimu dari media!”
Jalal –“Itu bukan solusi terbaik!”
Jodha dan Amar menoleh bersamaan ke arah suara yang tiba-tiba menimpali pembicaraan mereka berdua. Jalal sudah ada disana. Jodha tidak mendengar langkah kakinya, seakan Jalal muncul begitu saja dari balik asap dan langsung berdiri di hadapannya. Lebih tepatnya Jodha tidak memperhatikan apapun di sekelilingnya. Dia juga tidak menyadari penghuni asrama yang lain mulai kasak-kusuk memperhatikan dirinya....
Amar –“Kau masih berani datang kesini?!”
Jalal –“Aku bertanggung jawab sepenuhnya.”
Amar –“Kau memang harus bertanggung jawab, kau yang sudah melibatkan Jodha dalam skandal-skandalmu yang memalukan!”
Jalal sama sekali tidak terpancing emosinya meski Amar secara terus terang menghinanya. Wajahnya tetap datar dan tenang, mungkin karena ini bukan pertama kalinya bagi Jalal menghadapi masalah seperti ini.
Jalal –“Hubunganku dan Jodha bukanlah skandal. Kami saling menghormati.”
Amar –“Itu karena kau memanfaatkan Jodha untuk menaikkan reputasimu!.. Jangan-jangan kau sendiri yang menyuruh wartawan itu untuk mengambil gambarmu saat bersama Jodha, dan membuatnya seakan-akan kau juga korban yang tidak tahu apa-apa!”
Wajah Jalal memucat dan tangannya mengepal, menahan amarah, mendengar kata-kata Amar yang menyudutkan dirinya. Sementara Jodha semakin bingung melihat perdebatan Amar dan Jalal.
Jalal –“Apa ada alasan pribadi yang membuatmu tidak menyukai hubunganku dengan Jodha?  Jangan-jangan kau sendiri yang punya niat kotor dalam otakmu untuk memiliki Jodha?!”
Jodha –“Hentikan!!”
BUGH.... Sudah terjadi.. Adu mulut sudah beralih menjadi adu fisik. Amar memukul wajah Jalal dengan kepalan tangannya. Jalal sempat limbung sedikit tapi dia langsung berdiri tegak lagi. Dia mengusap sedikit darah yang menetes dari hidungnya. Sikapnya tetap dingin. Dia juga tidak membalas pukulan itu.
Jodha –“Amar, hentikan!!”
Jodha memegangi lengan Amar untuk menahannya agar tidak meluapkan emosinya lagi. Apalagi mereka sudah mejadi tontonan seluruh penghuni asrama.
Jodha –“Amar, tolong tinggalkan kami. Aku ingin bicara sebentar dengan Jalal...”
Amar –“Tapi...”
Jodha –“Sebentar!”
Jodha meyakinkan Amar karena dia mengerti kekhawatiran Amar untuknya. Dengan berat hati, Amar meninggalkan Jodha dan Jalal berdua. Untuk menghindari mata orang-orang yang ingin tahu, Jodha mengajak Jalal ke tempat yang lebih sepi di ujung selatan gedung asrama.
Jodha –“Kenapa sampai ada yang memotret kita?”
Jalal –“Dia hanyalah paparazzi yang kebetulan ada di sekitar Rumah Sakit ini dan mendapatkan momen tepat saat melihatku bersamamu. Yang menjadi target adalah aku, sedang kau hanya terseret di dalamnya. Aku minta maaf karena sudah melibatkanmu.”
Jodha –“Lalu apa yang akan kau lakukan?”
Jalal –“Soal media, biar aku yang akan menangani mereka. Aku juga akan menghadap Dewan Rumah Sakit untuk menjelaskan semuanya. Yang kukhawatirkan  adalah hubunganmu dengan tunanganmu. Aku tidak ingin dia salah paham dan menyalahkanmu soal ini. Jadi aku minta...tolong sambungkan aku padanya, aku sendiri yang akan menjelaskan semua ini padanya...”
Jodha –“Itu tidak mungkin.”
Jalal –“Kenapa? Apa dia sudah tahu dan marah..?”
Jodha –“Bukan...sebenarnya tunanganku...sudah meninggal delapan tahun yang lalu...”
Jalal terkejut dan salah tingkah, bingung harus berkata apa. Meninggal delapan tahun yang lalu? Pastinya dia ikut merasa sedih, kematian selalu berarti kesedihan bagi orang yang ditinggalkan. Tapi sudah delapan tahun yang lalu?... Anehnya, sisi lain dirinya malah merasa senang, karena berarti sekarang tidak ada lagi yang menghalanginya untuk mendapatkan hati Jodha.
Jalal –“Kenapa selama ini kau selalu menyiratkan kalau tunanganmu masih hidup? Apa kau sengaja melakukannya padaku?”
Jodha –“Ya.”
Jalal –“Kenapa?”
Jodha –“Karena aku tidak berhasrat memulai hubungan dekat dengan pria manapun.”
Jalal –“Tapi kau harus mengakui kalau kita sangat cocok. Kita berdua nyaman bersama.”
Jodha –“Bukan berarti aku harus lebih dekat denganmu.”
Jalal –“Kenapa? Apa karena aku seorang pembunuh? Apa karena aku bukan pria baik? Apa karena aku tidak sama dengan tunanganmu? Apa kau masih mencintai tunanganmu? Masih hidup dalam kenangan-kenangannya? Apa kau mencari pria yang mirip dengannya? Apa kau jauh-jauh ke Delhi untuk mencari pria seperti itu?”
Jodha –“Saat meninggal, tunanganku mendonorkan jantungnya, aku datang ke Delhi untuk mencari orang itu. Dan aku akan mencintai pemilik baru jantung Dev seperti aku mencintai Dev, karena jantung itu ditinggalkan Dev untuk menjagaku.”
Jalal –“Itu konyol! Apa kau yakin orang itu juga akan mencintaimu?!... Jodha, kau harus menghadapi kenyataan! Tunanganmu sudah meninggal!”
PLAK... Jodha menampar Jalal... Matanya menyiratkan emosi karena kata-kata yang diucapkan Jalal.
Jalal –“Aku tidak peduli meski kau membunuhku! Kenyataannya tidak akan bisa kau sangkal lagi. Kita berdua saling membutuhkan. Aku bisa menjagamu.... Aku menyukaimu... Aku akan mencintaimu lebih dari tunanganmu...!”
Jalal mulai terdengar putus asa karena tidak bisa meyakinkan Jodha tentang perasaan mereka. Jika Jodha tidak mau mengakui perasaannya, maka sebentar lagi dia akan kehilangan wanita yang dicintainya itu.
Jodha –“Kau tidak bisa! Dan kita tidak bisa bersama. Aku ingin kau menjauh dariku selama berita tentang kita masih ada di koran. Tolong jangan menemuiku lagi..!”
Jodha berbalik dan melangkah meninggalkan Jalal yang masih tercenung di tempatnya. Dengan jelas, Jodha menolak perhatian dan cinta Jalal. Tapi kenapa Jodha merasa hatinya sangat sakit dan lebih sedih daripada sebelumnya, saat dia mengetahui Jalal bukanlah penerima donor jantung Dev. Membayangkan dia tidak akan bertemu Jalal lagi membuat hidupnya tiba-tiba terasa gelap dan kosong.
Berita tentang hubungannya dengan Jalal mulai tersebar di antara staf Rumah Sakit. Jodha mulai jengah karena orang-orang mulai memperhatikannya dan kasak-kusuk membicarakannya di balik punggungnya. Jodha berusaha mengacuhkan semuanya. Dia tidak ingin terpengaruh hanya karena hal itu. Pikirannya mulai dia alihkan dengan membayangkan orang yang akan ditemuinya nanti malam, meski sesekali wajah Jalal muncul dalam benaknya.
Masalah muncul lagi saat Jodha akan mengakhiri jadwal kerjanya. Direktur Rumah Sakit memanggilnya. Meski Jodha sudah menyiapkan diri sejak pagi, tak ayal pemanggilan ini tetap membuatnya gugup. Direktur meminta penjelasannya tentang berita yang dimuat di koran. Dan Jodha menjelaskan apa adanya. Rupanya penjelasan Jodha sesuai dengan penjelasan Tuan Jalal Dhanjani, begitulah yang dikatakan sang Direktur. Jalal benar-benar melakukan yang diucapkannya tadi pagi. Dia sudah lebih dahulu menemui Direktur Rumah Sakit. Setelah menjawab beberapa pertanyaan lagi, Direktur mempersilakan Jodha pulang dan akan memanggilnya lagi dalam sidang Dewan Rumah Sakit kira-kira dalam waktu seminggu. Masalah masih juga belum selesai bagi Jodha.
Malam harinya, inilah saat-saat yang ditunggu Jodha selama delapan tahun ini. Bertemu dengan orang yang bernapas dengan jantung Dev. Hatinya berdebar menerka-nerka akan seperti apakah orang itu? Apakah orangnya menyenangkan sama seperti Dev? Ataukah sifatnya justru bertolak belakang? Sambil membayangkan pertemuan nanti, Jodha berkutat menyapukan bedak dan lipstik di wajahnya. Setelah siap, Jodha bergegas naik taksi menuju Four Seasons Hotel.
Orang tua Dev menunggu Jodha di dalam kamar hotelnya. Pertemuan dirinya dengan orang tua Dev selalu diwarnai keharuan, mungkin karena mereka sama-sama masih membawa kenangan Dev. Ketiganya hanya berbincang singkat, karena waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, waktu yang disepakati untuk pertemuan itu.
Ketiganya turun ke lantai dasar, letak restoran hotel berada. Pada penerima tamu, Tuan Ghavand meminta nomor meja atas nama dirinya yang telah direservasi sebelumnya. Tuan dan Nyonya Ghavand berjalan di depan Jodha, pelayan restoran memandu langkah mereka menuju sebuah meja di ujung ruangan yang sedikit tersembunyi di balik sebuah pot tanaman besar. Di meja pesanan mereka, sudah ada empat orang yang duduk menunggu...
Dari balik bahu Tuan Ghavand, Jodha mengernyitkan alisnya. Pertanyaan besar dalam pikirannya adalah untuk apa Amar ikut dalam pertemuan ini?
Jodha –“Amar?”
Tuan dan Nyonya Ghavand menoleh ke belakang pada Jodha.
Amar –“Jodha?!”
Keempat orang yang duduk segera berdiri, saling memberikan salam, termasuk Amar. Mereka saling berpandangan mendengar Jodha dan Amar saling memanggil.
Firasat Jodha benar-benar tidak enak. Jangan-jangan Amar yang....
Tuan Ghavand –“Gadis ini adalah Jodha. Dulu dia adalah tunangan putra kami, Dev...”
Tuan Ghavand memperkenalkan Jodha pada tamu yang lain. Terdengar tarikan nafas yang bersamaan dari keempat orang di depan Jodha. Lalu Amar berjalan perlahan menghampiri Jodha.
Jodha –“Jangan katakan kalau kau yang....”
Jodha melangkah mundur seperti ingin menghindari apa yang akan dihadapinya sebentar lagi...
Amar –“Jodha, aku..... yang menerima jantung Dev....”
Air mata Jodha langsung tumpah, kesedihan dan kelegaan bercampur jadi satu. Akhirnya dia menemukan jantung Dev... Ditutupnya wajah dengan kedua tangannya untuk menyembunyikan tangisnya. Amar memeluknya, merasakan keharuan yang sama....
Masih dengan mata yang sembab, Jodha melonggarkan tubuhnya dari pelukan Amar...
Jodha –“Amar... boleh aku menyentuhnya?”
Amar –“Silakan.”
Dengan tangan gemetar, Jodha menyentuhkan ujung jarinya ke titik pada tubuh Amar dimana jantung Dev berada... Berdetak....Jodha meresapi detaknya.. Deg..deg...deg..deg...deg... Namun tiba-tiba Jodha tertegun... Dia baru sadar, jantungnya sendiri tetap berdetak normal, tidak berubah menjadi cepat... seperti saat dia berada di dekat Jalal... Apa arti semua ini? Apakah detak jantungnya sudah tidak memanggil jantung Dev lagi? Kenapa? Apakah karena jantung itu sudah berpindah tubuh? Apakah detak jantung yang sebelumnya dirasakannya hanya merespon keberadaan Jalal di dekatnya? Kenapa bisa begini?....
Perubahan sikap Jodha juga disadari oleh Amar..
Amar –“Jodha, kenapa?”
Jodha –“Tidak... tidak ada apa-apa...”
Tuan Ghavand –“Jodha, duduklah dulu, kita bisa lebih santai membicarakan semuanya.”
Mereka bertujuh duduk mengelilingi meja. Hidangan pun disajikan. Pembicaraan terus berlanjut di antara mereka. Jodha baru tahu, selain perwakilan dari Bank Organ, ternyata dua orang lain yang mendampingi Amar adalah orang tuanya. Isi pembicaraan sepanjang pertemuan itu adalah ucapan terima kasih dari Amar dan orang tuanya pada orang tua Dev atas pengorbanan yang dilakukan oleh putranya. Jantung Dev telah memberikan kehidupan baru bagi Amar hingga dia berhasil menjadi dokter.
Sesekali Jodha melirik Amar, begitupun sebaliknya. Sungguh tidak diduga, ternyata orang yang selama ini dicarinya sudah ada di depan matanya. Selalu bertemu setiap harinya. Yang jadi pikiran Jodha sekarang adalah bagaimana sikapnya pada Amar selanjutnya? Apakah dia akan menepati janjinya?  Bisakah dia mencintai Amar, padahal selama ini dia menganggap Amar hanya sebagai partner dan temannya?
Usai pertemuan itu, Jodha menemani orang tua Dev tidur di kamar hotelnya. Besok adalah jatah liburnya dan Jodha akan memanfaatkan hari itu untuk memandu Tuan Ghavand dan istrinya berjalan-jalan di Delhi. Dia punya waktu satu hari untuk memikirkan hubungannya dengan Amar...dan juga Jalal. Sepanjang pagi dan siang, mereka berkeliling kota Delhi, mengunjungi pusat perbelanjaan dan juga beberapa tempat lainnya. Sore harinya, Jodha mengantar mereka berdua ke bandara untuk penerbangan kembali ke Canada.
Tubuhnya terasa sangat lelah saat dia akhirnya sampai di gedung asramanya. Betapa terkejutnya Jodha saat dilihatnya Nyonya Dhanjani berdiri di depan pintu kamarnya, menunggunya.
Sebenarnya Jodha tidak ingin bertemu siapapun dan Nyonya Dhanjani adalah orang terakhir yang ingin ditemuinya. Bukan karena dia tidak suka, tapi disaat Jodha belum menetapkan hatinya, dia akan sulit menjawab jika ditanya soal hubungannya dengan Jalal.
Jodha –“Silakan masuk, Nyonya D...”
Nyonya Dhanjani –“Terima kasih Jodha... kudengar kau libur hari ini. Apa kau baru dari jalan-jalan?”
Jodha –“Iya, menemani paman dan bibiku”
Nyonya Dhanjani –“Kau memang butuh sedikit liburan. Andai saja tidak ada berita di koran itu, aku akan mengajakmu berlibur. Tapi kalau sampai media memergokimu berjalan bersamaku, Ibunya Jalal, entah berita seperti apa lagi yang akan muncul. Karena itulah...”
Jodha hanya tersenyum lemah...
Nyonya Dhanjani –“Soal berita di media itu, aku percaya putraku pasti bisa membereskannya. Tapi setelah semuanya beres, apakah kau masih akan menjauhinya...? Aku tidak berharap terlalu muluk pada hubungan kalian, aku hanya berharap kau tetap mau berteman dengannya.”
Jodha –“Aku belum bisa menjawabnya sekarang.”
Nyonya Dhanjani –“Jalal tidak mengatakan apa-apa padaku soal perasaannya padamu. Tapi sebagai Ibunya, aku pasti bisa merasakannya. Bertahun-tahun dia hidup dalam kepahitan, barulah saat kau datang, ada setitik cahaya di wajahnya. Dan sepertinya cahaya itu akan padam lagi... Apa sungguh tidak ada yang tersisa lagi untuk kalian?”
Jodha –“Bukan seperti itu... masalahnya adalah aku belum menata perasaanku sendiri. Aku belum yakin harus memilih yang mana..”
Nyonya Dhanjani –“Putraku memang bukanlah malaikat, tapi dia adalah penyelamat hidupku. Seharusnya orang tua yang berkorban untuk anaknya, tapi dialah yang mengorbankan hidupnya untukku. Apa dia sudah cerita soal ayahnya?”
Jodha –“Sudah, dia dituduh membunuh ayahnya...”
Lalu Nyonya Dhanjani bercerita dengan suara lirih, mendatangkan kembali masa lalu di hadapannya.
Nyonya Dhanjani –“Yang sebenarnya adalah ayahnya yang ingin membunuh kami berdua. Hari itu tak akan pernah kulupakan, hari yang sangat berdarah dalam kehidupan kami... Aku tidak berdaya melindungi putraku saat dia ditikam ayahnya... Aku hanya bisa berteriak. Tapi dengan sisa kekuatannya dia mendorong ayahnya ke belakang hingga kepala ayahnya membentur tembok dengan keras. Dan suamiku tersungkur...  Saat itu aku lebih memilih menyelamatkan putraku daripada suamiku...”
Jodha –“Hari Sabtu minggu kedua bulan Agustus 2006... hari itu aku juga kehilangan tunanganku..”
Nyonya Dhanjani –“Tunangan? Meninggal?”
Jodha –“Iya, di kota ini, di Rumah Sakit ini.... Saat meninggal, dia melepaskan jantungnya pada orang lain. Anda pernah bertanya kenapa saya jauh-jauh datang ke kota ini, alasannya adalah karena aku ingin mencari orang yang menerima jantung tunanganku...”
Nyonya Dhanjani –“Kau sudah menemukannya?”
Jodha –“Sudah... Selama ini ternyata dia ada di dekatku... Dan sekarang aku terikat untuk memenuhi janjiku... janji untuk mencintai pemilik jantung Dev, siapapun itu...”
Nyonya Dhanjani –“Siapa nama tunanganmu?”
Jodha –“Dev...”
Nyonya Dhanjani –“Dev... Ghavand?”
Jodha –“Bagaimana anda tahu?”
Jodha semakin bingung dan penasaran karena nyonya Dhanjani tidak segera menjawab, dia malah merogoh ke dalam tasnya. Dikeluarkannya sebuah buntelan kain kecil dan dibukanya di depan Jodha...
Di dalam buntelan itu, ada sebuah cincin....
Jodha langsung lemas dan limbung, untunglah nyonya Dhanjani segera memegangnya dan memapahnya duduk di pinggir tempat tidur... Diangsurkannya cincin itu pada Jodha... Dengan tangan gemetar, Jodha memegang cincin itu... diputar-putarnya.. lalu dia melihat ada nama Jodha terukir di lingkaran dalam cincin itu.... Tidak salah lagi... ini adalah cincin pertunangan yang pernah tersemat di jari Dev.... Didekapnya cincin itu di dadanya....
Nyonya Dhanjani –“Aku sedang menemani Jalal di Emergency Room di Rumah Sakit ini. Dia dalam kondisi kritis karena luka tikaman itu.. Dokter sedang menyiapkan ruang operasinya... Lalu datang pria muda itu, tubuhnya terbaring penuh darah, sama seperti Jalal... Tiba-tiba dia seperti memanggil seseorang..saat itu aku tidak bisa jelas mendengarnya, jadi aku menghampirinya, ...  cincin ini ada dalam genggamannya... sepertinya dia ingin aku menyerahkan cincin itu pada seseorang dan dia mengucapkan namanya lagi...lebih jelas... Jodha....
Nyonya Dhanjani –“Ternyata Jodha yang dimaksud adalah dirimu... Aku menanyakan nama pria muda itu pada dokter yang menanganinya....  Aku bermaksud menyerahkan cincin itu pada keluarganya, tapi karena keadaan yang tidak memungkinkan, dan di saat bersamaan aku sangat mengkhawatirkan Jalal... aku melupakan soal cincin itu... maafkan aku, Nak...”
Jodha –“Tidak apa-apa...”
Nyonya Dhanjani memeluk  Jodha dan mengusap-usap punggungnya, mencoba bersikap layaknya seorang Ibu yang menenangkan putrinya, tapi hatinya juga ikut sedih merasakan pilunya hati Jodha dipisahkan dari tunangannya oleh kematian.
Masih teringat jelas dalam benak Nyonya Dhanjani, seakan semuanya baru terjadi kemarin, kepanikan dan keputusasaannya di Ruang Emergency melihat putra tercintanya berjuang melawan maut. Dan ada satu titik puncak dalam kepanikan itu saat mesin penunjuk alat vital yang dihubungkan pada tubuh Jalal dan Dev sama-sama menunjukkan angka nol. Para dokter serempak menggunakan alat defribilator untuk mengembalikan denyut jantung keduanya. Dibutuhkan tiga kali usaha hingga jantung Jalal mulai merespon. Tapi tidak pada Dev. Setelah itu yang bisa diingat oleh Nyonya Dhanjani adalah dokter membawa tubuh Dev ke sebuah ruangan lain. Itulah terakhir kalinya dia melihat Dev. Tapi dia tidak akan menceritakan sedetail itu pada Jodha.
Sungguh misteri sebuah kehidupan, di satu titik pada tempat dan waktu yang sama, takdir dua manusia saling berseberangan, yang satu mendapatkan hidupnya kembali, sedang yang lain melepaskan hidupnya untuk selamanya. Dan tidak akan ada orang yang menduga, sejak itu takdir mereka juga saling terkait dan terhubung kembali delapan tahun kemudian.
Jodha –“Nyonya D, terima kasih sudah menyimpan cincin ini selama bertahun-tahun...”
Nyonya Dhanjani –“ Sebagai manusia, aku tidak tahu bagaimana takdir berbicara, tapi kadang aku merasa bersalah bila memikirkan bahwa  putraku hidup saat Dev meninggal.... Jodha, kematian Dev mungkin adalah akhir kebahagiaanmu bersamanya. Tapi aku yakin Dev ingin kau mendapatkan kebahagiaan yang lain meski tidak bersamanya. Mulailah mencintai, seperti itulah caramu mengenangnya....”
Setelah Jodha lebih tenang, Nyonya Dhanjani pulang meninggalkannya, dengan pesan bahwa kemanapun jalan yang akan diambil Jodha, dia harus mendengarkan kata hatinya.
Hingga tengah malam, Jodha masih setia termenung di atas tempat tidurnya, cincin Dev juga masih lekat di genggamannya. Mendengarkan kata hati? Jodha sudah tahu siapa yang diteriakkan oleh hatinya. Tapi bagaimana dengan janjinya? Bisakah dia melupakan janjinya begitu saja?......
Pagi hari yang cukup tenang di koridor lantai 5. Aktifitas pagi mulai berjalan. Jodha berjalan tenang menuju ruang kerjanya. Hal yang tidak bisa dihindari dengan Amar adalah berpapasan dengannya karena tempat kerja yang sama. Pagi ini seperti itu, keduanya berpapasan di koridor, sama-sama berhenti melangkah, berdiri saling berhadapan, semuanya bergerak seperti dalam gerakan lambat. Jodha menyunggingkan seulas senyumnya dan dibalas dengan senyum juga. Sikap keduanya kikuk, tidak tahu harus memulai obrolan seperti apa, akhirnya Jodha memutuskan untuk meneruskan langkahnya...
Amar –“Tunggu, Jodha....”
Jodha berbalik dan menatap Amar.
Amar –“Nanti malam, aku ingin bicara...”
Jodha hanya mengangguk dan meneruskan langkahnya....
Jika kita tidak menunggu waktu, tiap saatnya terasa lebih cepat. Malam ini bagi Jodha juga terasa cepat sekali datangnya. Dia dan Amar berjanji bertemu disini, di sebelah selatan gedung asramanya, tempat yang sama saat dia berbicara dengan Jalal pada pagi saat wajahnya muncul di koran. Jodha duduk menunggu, tidak berapa lama Amar menyusul duduk di sampingnya...
Amar –“Bagaimana perasaanmu?”
Jodha –“Seperti itulah...”
Amar –“Jodha, kau pasti sudah menduga apa yang ingin kubicarakan.... Sejak awal kita bertemu, kau sudah menarik perhatianku dan.... aku tidak ingin membuang-buang waktu lagi... aku menyukaimu... aku mencintaimu.... aku ingin menjagamu, menggantikan Dev.... Jantung Dev ada dalam tubuhku dan aku ingin bertanggung jawab atas dirimu dalam segala hal... aku ingin menjadi bagian hidupmu sama seperti jantung ini menjadi bagian tubuhku...”
Seharusnya inilah saat yang ditunggu Jodha. Dia akan bersatu lagi dengan jantung Dev, meski ada dalam tubuh pria lain. Tapi kenapa dia tidak merasa bahagia? Apa lagi yang masih kurang?

*********************


Heart’s Beat Part 7 – By Tyas Herawati Wardani

7 comments:

  1. Si Amar bohong tuuuuh,,, merekayasa cerita

    ReplyDelete
  2. penasaran mb....lanjut ya...jgn lama2

    ReplyDelete
  3. Next mba ... Iya mba jangan lama-lama ya mba..
    Penasaran maksimal..

    ReplyDelete
  4. Mbak jgn smpi donor jantungx slh bisa jd ketukar ya mbak, penasaran nih, ljnt ya ya ya

    ReplyDelete
  5. mba lanjutanya mna,,???
    penasaran ama kelanjtannya,,,,
    jgn lma" donk mba,,,
    :) (y)

    ReplyDelete
  6. mbak, kpn lanjutannya nich
    dah penasaran bingit nich

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.