Heart’s Beat Part 8 – By Tyas Herawati Wardani - ChusNiAnTi

Heart’s Beat Part 8 – By Tyas Herawati Wardani


Jika dia menerima cinta Amar, bukankah janjinya akan bisa terpenuhi? Tapi apakah itu yang diinginkan oleh hatinya? Kenapa tidak ada debar-debar yang dirasakannya saat dia di dekat Amar? Bahkan Amar sudah menyatakan perasaannya.... Tidak mungkin perasaan cinta terasa sehambar ini.
Berbeda rasanya saat dia bersama Jalal. Tatapan mata, genggaman tangan bahkan tubuh yang berdekatan sudah bisa mennyebabkan desir-desir halus dalam hatinya.  
Jodha –“Amar, aku ingin bertanya sesuatu...”
Amar –“Soal apa?”
Jodha –“Ketika aku diam, tidak bicara...apa kau masih bisa tahu apa yang sedang kupikirkan?”
Amar –“Bagiku komunikasi, saling bercerita itu penting..agar tidak ada kesalahpahaman antara kita, jadi aku tidak bisa tahu yang kau pikirkan jika kau tidak membicarakannya denganku.”
Jodha –“Lalu saat kau tidak melihatku dimana-mana.... apa kau masih bisa merasakan kehadiranku di suatu tempat di sekitarmu?”
Amar –“Jodha, apa maksud pertanyaanmu?”
Jodha –“Jawab saja dulu..”
Amar –“Tentu saja tidak bisa, tapi aku suka melihatmu tiap hari karena itulah aku akan mencarimu kalau sehari saja aku tidak melihatmu..”
Jodha –“Perasaan apa yang paling kuat yang kau rasakan saat kau melihatku?”
Amar –“Perasaan untuk selalu bersamamu.”
Jodha –“Apa kau bisa mengontrol detak jantungmu saat merasa seperti itu?
Amar –“Aku harus bisa karena aku harus menjaga kesehatan jantung ini.”
Jodha –“Amar, aku bertanya seperti itu untuk mengetahui seberapa dekat perasaan antara kita. Apakah kita memang ditakdirkan bersama atau tidak. Apakah hal-hal khusus yang kurasakan juga kau rasakan.....”
Amar –“Lalu?”
Jodha –“Ternyata tidak bisa, aku tidak bisa membalas perasaanmu. Aku tidak bisa menjalani hubungan jika semua itu hanya kurasakan sendiri ....”
Amar –“Kenapa? Apa kau sudah memilih Jalal?!”
Jodha –“Aku tidak memilih siapapun...Karena aku tidak yakin akan apapun saat ini...”
Kepala Jodha tertunduk, helai-helai rambutnya jatuh menutupi wajahnya.Dia merasa bersalah pada Amar dan Dev. Amar yang duduk di sebelahnya juga hanya terdiam.
Saat seperti ini, ngin sekali Amar memeluk Jodha, mengambil alih semua beban dan kesedihan yang menggelayuti pikirannya. Andai saja Jodha mengijinkannya. Andai saja Jodha menerimanya sebagai sandaran, Amar akan dengan senang hati berada di posisi itu. Amar sudah berjanji dalam hatinya pada Jodha, dia akan menjadi superman untuk Jodha, seorang yang akan melakukan apapun untuk memastikan kebahagiaannya, menghapus airmata dan ketakutannya, datang secepat angin jika Jodha membutuhkannya. Amar merasa seperti itulah Dev memperlakukan Jodha di masa lalu.
Jodha –“Aku datang ke India dengan keinginan untuk menemukan pemilik jantung Dev... Aku ingin menemukannya karena jantung itu satu-satunya yang ditinggalkan Dev untukku. Yang akan menjadi penghubungku kembali pada Dev... Tapi kenapa semuanya berjalan tidak seperti seharusnya? Aku berpikir jantungku akan berdetak  memanggil jantung Dev....Tapi tidak... Aku tidak merasakan apa-apa saat bersamamu.... Aku menyayangimu, tapi berbeda.... Rasanya berbeda.... Menurutmu  aku sudah mengkhianati Dev?”
Amar –“Tidak Jodha...kau tidak mengkhianati siapapun... Dev sudah meninggal, yang bisa kau lakukan adalah menyimpan semua kenanganmu bersamanya... Tapi kau harus melanjutkan hidupmu...”
Jodha –“Aku tidak bisa melangkah lagi... Aku tidak tahu lagi harus berjalan ke arah mana..”
Amar –“Apa kau ingin berjalan pada Jalal?”
Jodha –“Tidak...aku tidak bisa!”
Amar –“Kau tidak bisa atau tidak mau?... Siapa yang ingin kau bohongi?”
Jodha –“Aku sudah menolak Jalal....”
Amar –“Dan apa perasaanmu lega setelah menolaknya?  Wajahmu tidak menunjukkan kalau kau ingin terbebas dari Jalal....”
Jodha –“Amar...tolong tinggalkan aku sendiri... Aku tidak bisa berpikir lagi...”
Sebenarnya Amar tidak ingin meninggalkan Jodha dalam keadaan seperti  itu, tapi Jodha memaksa. Dengan terpaksa, Amar menurutinya. Dia bangkit dan mulai melangkah pergi. Amar menoleh sekali lagi untuk melihat Jodha tapi gadis itu sudah kembali tenggelam dalam pikirannya. Dia bahkan tidak menyadari Amar pergi.
Satu hari lagi berlalu. Meski pikirannya terasa penuh, belum lagi ketegangan menanti keputusan pihak Rumah Sakit soal dirinya, Jodha mencoba melalui harinya seperti biasanya. Seperti malam ini, Jodha sedang duduk mempelajari laporan medis pasien, tugas yang diberikan oleh dokter pengawasnya. Kepalanya menunduk pada berkas-berkas yang bertumpuk di atas mejanya. Suasana cukup tenang pada jam 10 malam di Rumah Sakit. Hanya sedikit perawat atau pasien yang berlalu lalang. Yang terus-menerus terdengar adalah dengungan suara penyejuk ruangan. Jodha mengernyit, merasakan kehadiran seseorang di dekatnya... dan orang itu sedang memandanginya....
Jodha mengangkat wajahnya. Ternyata ada Araya sudah berdiri di pintu. Gadis itu terlihat ragu untuk masuk. Dengan wajah sedihnya, dia hanya terpaku memandang Jodha dari pintu. Jodha bangkit dari duduknya dan menghampiri Araya...
Jodha –“Araya... Masuklah... Apa kau menunggu Amar?”
Araya –“Tidak, sebenarnya...aku ingin bicara denganmu, Kak Jodha.”
Jodha –“Masuklah....dan duduklah disini..”
Jodha mempersilakan Araya duduk pada satu-satunya sofa di ruangan itu. Bantalan sofanya sudah menipis menandakan sudah tak terhitung dokter residen yang duduk atau bahkan tidur di atasnya. Sofa itu kecil, hanya muat untuk dua orang. Araya duduk di satu sisinya dan Jodha menyusul duduk di sisi lainnya.
Jodha –“Apa yang ingin kau bicarakan?”
Araya –“ Tentang Kak Amar...”
Araya menggigiti bibir bawahnya, sedikit gugup, sepertinya hal yang ingin dibicarakannya cukup penting. Lima detik berlalu.. Araya belum juga mulai bicara, sepertinya dia membutuhkan waktu cukup lama untuk menata hati dan mengumpulkan keberaniannya.
Araya –“Aku mengenal Kak Amar sejak kecil. Dia teman yang baik. Dia tidak pernah berkata dan bertindak kasar pada siapapun. Dia suka melucu agar orang-orang di sekitarnya tertawa. Dia sangat menggemaskan. Tapi sayang sejak kecil dia sudah didiagnosa jantung lemah. Dunianya menjadi terbatas. Dia tidak boleh lagi melakukan kegiatan-kegiatan yang dia sukai, dia tidak boleh lelah, dia tidak boleh terpapar polusi terlalu lama karena bisa menyebabkan kondisi tubuhnya drop...”
“Sejak itu pula aku selalu menjaganya. Aku tidak pernah jauh dari sampingnya. Orang tuaku bahkan harus menyeretku pulang karena aku tidak ingin sedetikpun meninggalkannya. Banyak orang yang melihat kedekatanku dengan Kak Amar menganggapnya sebagai jodoh yang telah ditakdirkan Tuhan. Padahal saat itu kami masih sama-sama kecil.”
“Jika ada yang bertanya sejak kapan aku mencintai Kak Amar, aku juga tidak tahu. Semuanya terjadi begitu saja seakan memang seharusnya seperti itu. Rasanya tepat, aku dengan Kak Amar.... Orang tuaku juga pernah bertanya padaku kenapa aku mencintai Kak Amar, aku pun tidak tahu. Mungkin karena kebiasaan atau kebutuhan. Ada lagi yang meragukan masa depan hubunganku dengannya. Sepanjang apa masa depan yang akan kulalui dengannya, seorang pria yang tidak memiliki harapan untuk hidup panjang...”
“Tapi aku tetap bertahan. Aku tetap memiliki harapan. Kadang aku berharap Kak Amar akan memiliki semangat hidup karena perhatian yang kuberikan padanya. Kadang aku berharap menjadi satu-satunya sandaran hidupnya dan mejadi obat untuk penyakitnya. Namun yang membuat harapanku runtuh saat aku melihatnya kesakitan. Saat aku menyaksikan bermacam-macam selang dan alat medis dipasangkan pada tubuhnya. Saat aku melihat semangatnya untuk hidup menjadi redup dikalahkan oleh rasa sakit yang menggerogoti tubuhnya...”
“Terakhir kali aku melihatnya dalam kondisi kritis, dia tidak sadarkan diri selama seminggu. Harapan hidupnya semakin tipis.... Aku tidak ingin dia sembuh total, aku hanya ingin dia membuka matanya dan melihatku...Aku tidak tahan melihatnya..Seandainya bisa, aku ingin dia memberikan semua rasa sakitnya padaku....”
“Dalam keputusasaan, aku bersumpah... jika ada orang yang mampu menyembuhkan Kak Amar, aku akan menuruti semua keinginan orang itu.. Jika ada orang yang berbaik hati memberikan jantungnya pada Kak Amar, aku rela memberikan segalanya bahkan hidupku untuknya...”
Jodha mendengarkan semuanya yang diceritakan oleh Araya. Dia tahu, belum saatnya dia berbicara. Belum waktunya dia menyela. Araya masih butuh mengeluarkan semua beban pikirannya...
Araya –“Orang tua Kak Amar memberitahuku kalau pendonor jantung Kak Amar adalah tunangan Kak Jodha. Aku tidak bisa membayangkan rasa kehilangan yang sudah kau alami. Maafkan aku mengatakan ini...tapi kematian tunangan Kakak adalah harapan hidup untuk Kak Amar.... Untuk itu, aku akan menepati sumpahku... Aku akan menuruti semua permintaanmu tanpa bertanya.. Aku akan memberikan semua yang aku punya jika kau menginginkannya.... Kemarin Kak Amar mengatakan padaku kalau dia mencintaimu... Aku merelakannya... Jika Kak Amar bahagia bersamamu, aku akan melepasnya...”
Jodha tidak tahu bagaimana mulai menjawabnya. Dia tersentuh oleh pengorbanan yang dilakukan Araya demi Amar. Itu semua justru membuktikan betapa besar cinta Araya  dan dia pantas untuk meraih kebahagiaan yang selama ini dinantinya. Akhirnya Jodha bisa melihatnya, dia tidak ragu lagi memutuskan perasaannya yang sebenarnya pada Amar. Rasa sayang Jodha pada Amar kurang dari sepersepuluh rasa cinta Araya pada Amar. Maka tidaklah bisa dikatakan jika Jodha mencintai Amar. Sebaliknya, setiap kali Jodha mendengar kata cinta, yang berkelebat dalam pikirannya adalah bayangan Jalal...
Jodha –“Aku tidak meminta apapun darimu... Dev, tunanganku ikhlas mendonorkan jantungnya. Dia saja tidak meminta balasan apapun, maka tidaklah pantas jika aku memintanya... Amar beruntung mendapatkan jantungnya, aku yakin dia akan melakukan banyak kebaikan bersamamu.... Bertahanlah sedikit lagi untuk Amar. Dia hanya belum bisa memutuskan apa yang sebenarnya dia rasakan padaku.... Aku tahu caranya membuat dia menyadari perasaannya padamu. Kau mau bekerja sama denganku?”
Kata Jodha dengan senyum misterius. Dia yakin bisa menyatukan hati Araya dan Amar, tergantung apakah Araya mau mengikuti rencananya atau tidak. Meski sedikit bimbang, tapi sepertinya Araya tertarik dengan tawaran Jodha...
Araya –“Bagaimana caranya?”
Jodha tersenyum. Dia berhasil meyakinkan Araya untuk mendukungnya. Rencana yang dia bisikkan di telinga Araya pasti akan berhasil membuat Amar kalang kabut. Sekali-kali harus ada yang menjitak kepala Amar supaya dia bisa melihat besarnya cinta Araya yang selama ini ada di hadapannya...
Tepat seminggu berlalu. Inilah hari keputusannya. Sejak pagi Jodha sudah berpakaian rapi. Atasan kemeja putih dan bawahan rok abu-abu slim fit. Kalau waktunya tidak meleset, Jodha dijadwalkan menghadap sidang dewan Rumah sakit terkait dimuatnya foto dirinya dengan Jalal Dhanjani yang di koran. Masa depan pendidikan Jodha sebagai dokter residen di Delhi Medical Internasional akan ditentukan hari ini.
Tepat pukul 10 siang, sidang dimulai. Berita acaranya adalah mendengar penjelasan Jodha terkait berita tersebut. Di hadapan lima orang dewan petinggi Rumah Sakit, Jodha menceritakan fakta-faktanya. Tidak ada yang ingin disembunyikannya. Sidang berlangsung selama 2 jam. Dua jam yang cukup menegangkan.
Akhirnya sidang ditutup setelah diperpanjang 15 menit. Jodha dianggap bersalah karena mempertontonkan hubungan pribadinya di area umum yaitu Rumah Sakit. Keputusan akhirnya adalah Jodha diskors selama 2 minggu. Selama waktu itu, Jodha tidak diperkenankan mengikuti pendidikan dan pelatihannya sebagai dokter. Dia tidak boleh berhubungan dengan semua kegiatan yang diselenggarakan pihak Rumah Sakit. Dengan kata lain, Jodha harus menghilang selama 2 minggu tersebut. Hal ini bertujuan untuk meredam semua berita yang dimuat media demi reputasi Rumah Sakit.
Jodha menerima keputusan itu. Dia bersyukur karena hanya diskors selama 2 minggu. Sebenarnya hukumannya bisa lebih dari itu....Keluar dari ruang sidang, Amar sudah menunggu di luar pintu. Wajahnya terlihat lebih cemas daripada Jodha.
Amar berdiri, diam menunggu penjelasan Jodha...
Amar –“Bagaimana?”
Jodha –“Diskors 2 minggu...”
Amar –“Apa yang akan kau lakukan?”
Jodha –“Aku akan pulang.... Aku ingin menyendiri untuk sementara...”
Amar –“Aku ikut...”
Jodha –“Amar... jangan ikut-ikut melakukan hal bodoh sepertiku. Kau harus tetap disini, jangan sia-siakan kesempatanmu...”
Amar –“Sebentar saja. Ada hal penting yang harus kulakukan...”
Jodha mengangkat alisnya, tanpa suara dia menanyakan maksud Amar yang sebenarnya. Tapi Amar tidak menjawabnya, dia malah menggandeng Jodha pergi dari tempat itu..
Sambil berjalan, Amar bertanya lagi...
Amar –“Bagaimana dengan Jalal?”
Jodha –“Aku butuh waktu dan keyakinan...”
Amar –“Kau akan meninggalkannya?”
Jodha –“Kuputuskan setelah 2 minggu.... Kau juga keliahatan sedih, kenapa?”
Amar –“Araya juga akan meninggalkanku... Dia akan belajar ke Belanda.. Dia bilang tidak akan menyia-nyiakan waktunya lagi untuk menemaniku..”
Jodha diam-diam tersenyum, rencana yang dijalankannya bersama Araya mulai berhasil. Sekarang Amar mulai kehilangan arah. Araya belum pergi saja, dia sudah mulai tak bersemangat, apalagi kalau Araya benar-benar pergi.......
Jodha –“Kau membiarkannya...?”
Amar –“Apa lagi yang bisa kulakukan?”
Jodha –“Benar, biarkan saja Araya pergi... Jadi tidak akan ada lagi yang setiap hari menelponmu hanya untuk memeriksa keadaanmu, tidak ada lagi yang membawakanmu makanan, tidak ada lagi yang menunggumu malam-malam di depan pintu, tidak ada lagi yang mengomelimu karena terlambat minum obat... Araya memang kelewatan, dia terlalu banyak melakukan hal-hal remeh untukmu... Dia sangat merepotkan, bukan begitu?”
Jodha makin bersemangat membakar hati Amar. Jodha berharap Amar sadar seberapa pentingnya Araya dalam hidupnya. Jangan sampai dia menyesal karena melepasnya pergi....
Jodha –“Araya itu benar-benar tidak mengerti perasaanmu. Untuk apa dia menemanimu selama kau terbaring sakit, tidak punya harapan hidup dan hanya bergantung pada alat-alat penunjang hidupmu. Seharusnya dia mencari pria lain saja, yang bisa menemaninya jalan-jalan, nonton bioskop, berdansa. Kalau dia bersamamu yang seorang dokter, apa yang bisa dilakukannya?. Profesi kita tidak mengenal waktu.... sangat membuang waktu hanya untuk menunggumu pulang pagi-pagi...”
Amar hanya diam saja, sepertinya dia mulai berpikir. Semoga dia cepat mengambil keputusan...
Amar –“Jodha... sepertinya aku orang yang bodoh ya?”
Jodha –“Menurutku tidak...”
Amar –“Lalu aku harus bagaimana...?”
Jodha –“Pertama, cegah Araya jangan sampai pergi...kecuali kau memilih menunggunya pulang dan ternyata dia menggandeng pria lain....”
Amar –“Aku pergi dulu! Araya harus tetap bersamaku...”
Belum sempat Jodha bicara lagi, Amar sudah berlari meninggalkannya.
Jodha –“Semoga berhasil!”
Jodha berteriak pada punggung Amar yang berlari makin menjauh. Rencananya berhasil. Tidak akan butuh waktu lama bagi Amar untuk mendapatkan Araya lagi. Dalam waktu dekat, Jodha pasti akan menerima undangan pernikahan dari mereka.
Keadaannya berbanding terbalik bagi dia dan Jalal. Sebelum Jodha bisa melangkah ke arah Jalal, dia harus bisa melepaskan bayang-bayang Dev. Jalal bukanlah Dev dan tidak akan menjadi pengganti Dev. Cara Jalal mencintainya berbeda dengan cara Dev. Takdir cinta Jodha dan Dev sudah selesai. Yang sedang menantinya adalah takdir cintanya dan Jalal. Jodha harus mencintai Jalal sebagai Jalal.
Jodha sedang berada di kamarnya, mengatur baju-bajunya ke dalam kopor. Pesawatnya akan berangkat 2 jam lagi. Amar ada di luar kamarnya, dia akan mengantar Jodha hingga ke Canada. Ternyata hal penting yang ingin dilakukan Amar adalah mengunjungi makam Dev, dia ingin memberi penghormatan bagi orang yang sudah memberinya kesempatan hidup.
Selesai merapikan kopornya, Jodha membawanya keluar dan mengunci kamar asramanya. Kunci itu dititipkannya pada Amar.
Jodha –“Jangan mengotori kamarku. Aku akan kembali 2 minggu lagi...”
Amar –“Iya, jangan khawatir....”
Jawab Amar sambil tersenyum. Mereka berjalan menuju mobil Amar yang diparkir di luar. Jodha tidak menyadari ada seseorang yang menunggunya, barulah saat jarak mereka tinggal lima langkah, Jodha melihatnya. Jalal sedang berdiri dengan punggung menempel di badan mobil Amar.
Langkah Jodha berhenti seketika, begitupun Amar. Mereka sama-sama tidak mengira akan bertemu Jalal disana. Amar sudah akan bicara, tapi Jodha dengan cepat menggamit lengannya dan memberikan tanda dengan remasan pelan untuk menghentikan apapun yang akan dikatakan Amar.
Amar menoleh pada Jodha untuk menuntut penegasan dan dibalas Jodha dengan anggukan kecil. Di lain pihak, Jalal yang melihat posisi tangan Jodha mengartikannya lain, dia terlanjur berprasangka bahwa Jodha telah memilih Amar.
Jodha –“Aku harus pergi.”
Jalal –“Hanya selama 2 minggu. Aku tahu. Semalam kau berpamitan pada Ibuku. Apa kau akan pergi dengannya?”
Jodha –“Iya.”
Jalal –“Aku ingin bicara sebelum kau pergi..”
Jodha –“Maaf, tidak bisa, pesawatku berangkat sebentar lagi....”
Jalal –“Satu pertanyaan saja... Kau bahagia bersama Amar?”
Jodha –“Ya.”
Jalal langsung terlihat lemas mendengar jawaban Jodha. Tangannya terkulai di samping tubuhnya. Sinar matanya menunjukkan kelelahan, sepertinya malam-malamnya dilalui tanpa bisa tertidur lelap.
Jawabannya singkat. Namun satu jawaban itu mampu menghancurkan hati keduanya. Hati Jalal yang mendengarnya, maupun hati Jodha yang mengatakannya. Keduanya saling bertatapan mata dalam diam, mencari celah kebohongan dari kata itu. Jika saja mereka berada dalam situasi yang berbeda, Jodha tidak akan berbohong. Tapi kebohongan ini diperlukan sampai Jodha bisa menata hatinya, sampai dia bisa berdamai dengan kenangan Dev. Saat dia sudah siap membuka hatinya untuk Jalal, maka tidak akan ada lagi bayang-bayang Dev antara dirinya dan Jalal. Untuk sekali ini Jodha bersikap egois.
Jalal mengalah, dia menyingkir dan membiarkan Jodha dan Amar masuk ke dalam mobil. Jodha hampir tidak bisa menahan tangisnya menatap wajah Jalal yang sedih, karena itu dia meminta Amar untuk segera menghidupkan mobilnya dan pergi. Dari jendela mobil, Jodha terus melihat Jalal yang menatap kepergiannya sampai mobilnya bergerak jauh dan Jalal sudah tidak nampak lagi.
Perjalanan panjang Delhi-Canada dilewatinya tanpa terasa. Untunglah ada Amar bersamanya. Kunjungan Amar ke Canada ternyata untuk berziarah ke makam Dev. Dia ingin mengucapkan terima kasih atas pemberian Dev demi hidupnya. Di depan makam Dev, dia berjanji akan menjaga dan menyayangi Jodha. 

Dua minggu berlalu dengan cepat...
Jodha sudah kembali ke Delhi dan menekuni aktifitasnya lagi sebagai dokter residen. Dia bertekad akan mengejar ketertinggalannya selama diskors. Soal hubungannya dengan Jalal, dia hanya menunggu waktu yang tepat saja.
Tapi khusus malam ini, dia mengesampingkan semua buku-buku manualnya. Jodha sedang merias dirinya secantik mungkin di depan cermin. Gaun malamnya sudah dipatutnya dengan rapi. Malam ini dia akan menghadiri sebuah acara besar dan sangat penting untuk Amar.
Jodha berharap semoga bisa bertemu dengannya. Pada hari sebelumnya, Amar meyakinkan Jodha bahwa dia sudah mengirimkan undangannya langsung pada pria itu. Tapi dia tidak bisa memastikan pria itu akan datang atau tidak. Semoga saja dia datang, pinta Jodha dalam hati.......
***************


Heart’s Beat Part 8 – By Tyas Herawati Wardani

6 comments:

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.