Heart’s Beat Part 10 – By Tyas - ChusNiAnTi

Heart’s Beat Part 10 – By Tyas


By Tyas Herawati Wardani

Jodha menunggu dengan gelisah di lobi Rumah Sakit. Berulang kali dia melirik arloji di tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Sudah meleset dua jam dari janji Jalal tadi siang, bahwa dia akan menjemput dirinya pukul enam petang. Pikirannya terbagi antara khawatir dan juga jengkel. Masih haruskah dia mengirim pesan lagi setelah sepuluh pesan sebelumnya juga tidak dibalas oleh Jalal? Apakah telah terjadi sesuatu pada Jalal hingga menahannya untuk tidak segera datang padanya? Tidak, semoga saja tidak. Semoga semuanya baik-baik saja. Harusnya malam ini adalah kencan resmi pertama mereka. Apa mungkin Jalal melupakan janji untuk menjemputnya? Tidak, Jalal bukan orang yang akan mengingkari janjinya apalagi pada dirinya.

Jodha kembali mencoba untuk bersabar menunggu. Menunggu sambil mengingat tentang semua yang terjadi tadi siang, dan ternyata cara itu cukup mampu memunculkan kembali senyum di wajahnya. Senyum malu-malu seorang gadis yang baru saja menerima pernyataan cinta dari kekasihnya. Sungguh sangat manis cara Jalal mengungkapkan perasaannya. Meski cukup mengejutkan  bahwa seorang pria kaku seperti dia bisa memiliki ide menampilkan sebuah pertunjukan musik dengan lagu kenangan mereka berdua demi mendapat perhatian dari wanita seperti dirinya.
Terlalu hanyut dalam lamunan indahnya, sampai-sampai Jodha tidak mendengar ada seorang pria yang sudah berdiri di hadapannya, memanggil-manggil namanya.....
“Nona Jodha Varamjeed...... Dr.Jodha Varamjeed..... Maaf, Dr.Jodha Varamjeed....”
Jodha –“Eh...iya... maaf aku tidak mendengar anda.... Ada yang bisa kubantu?”
“Saya asisten Tuan Jalal Dhanjani. Beliau meminta saya menjemput anda dan mengantar anda ke tempat Tuan Jalal Dhanjani menunggu...”
Jodha –“Sekarang dia dimana?”
“Di suatu tempat... Jangan takut, Nona. Silakan anda ikut saya. Saya akan mengantar anda ke tempat itu...”
Jodha agak skeptis sambil memandang pria di depannya itu.... Kenapa Jalal tidak memberitahu apa-apa soal mengirim asistennya untuk menjemputnya? Benarkah pria ini asisten Jalal? Jika dilihat dari penampilannya, sepertinya pria di depannya ini cukup sopan, setelannya rapi dan tutur bahasanya cukup terpelajar. Usianya mungkin sebaya dengannya, tapi kacamata yang dikenakannya membuat wajahnya terlihat lebih dewasa dari umurnya.
Jodha –“Baiklah...aku akan ikut anda.”
Pria itu berjalan di depan Jodha. Sesampainya di pintu keluar Rumah Sakit, pria itu menghampiri sebuah mobil minivan mewah dan membuka pintu penumpangnya. Dengan gestur tubuhnya, pria itu mempersilahkan Jodha masuk.
Jodha mencoba duduk dengan tenang di dalam mobil. Dia tidak menghiraukan interior ataupun kenyamanan mobil mewah itu. Yang ada dalam pikirannya hanyalah kemana pria ini akan membawanya bertemu dengan Jalal. 
Lebih kurang selama 15 menit Jodha duduk dalam keheningan. Dia tidak bertanya ataupun berbasa-basi dengan asisten Jalal yang duduk di kursi depan, samping sopir. Bahkan pria itu juga tidak bercakap-cakap sama sekali dengan sang sopir. Dan penantiannya akan terjawab karena mobil itu menepi pada sebuah jalan. Suasana di luar cukup gelap ditambah dengan kaca jendela mobil yang tidak kalah gelapnya, sehingga Jodha tidak bisa menebak dia sedang berada dimana sekarang.
Pintu mobil dibuka dari luar, dan pria itu mempersilakan Jodha turun. Saat kakinya menjejak tanah, Jodha semakin bingung. Sekeliling tempat itu tidak terlalu terang tapi cukup sepi. Dan dimana Jalal? Seharusnya dia menyambutnya kan?
“Nona, silakan anda mengikuti jalan ini. Tuan Jalal Dhanjani menunggu anda disana.”
Jodha memandang ragu pada pria aisiten Jalal ini. Wajahnya mengungkapkan banyak pertanyaan meski tak diutarakan. Menyadari keraguan Jodha, pria itu tersenyum dan meyakinkannya...
“Percayalah Nona, ini semua permintaan Tuan Jalal. Saya tidak akan berani mempermainkan perintah beliau. Demi keamanan anda, kami akan tetap menunggu disini.”
Akhirnya Jodha memutuskan untuk melangkah ke tempat yang ditunjuk oleh pria itu. Dia akan mengikuti permainan apapun yang sedang mereka atau Jalal rencanakan. Tapi..tunggu dulu...Jodha merasa tidak asing dengan tempat ini. Dia berhenti di tengah langkahnya untuk kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat itu. Benar, dia merasa seperti pernah ke tempat ini. Tapi kapan dan untuk apa? Jodha belum bisa mengingatnya..
Diberanikannya satu persatu langkah kakinya. Dia memasuki sebuah gang dengan penerangan yang agak redup, namun cukup bila hanya untuk menerangi jalannya.
Lalu tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang cukup berkilauan tergeletak di tanah. Karena penasaran, Jodha melangkah untuk melihat lebih dekat benda mencurigakan itu....Sepasang sepatu wanita berwarna putih gading dengan taburan berlian swarovski yang sangat cantik.... Saat Jodha sedang bertanya-tanya siapa wanita yang meninggalkan sepatunya disana, matanya melihat ada tulisan pada selembar kertas yang tergantung pada sebuah bambu yang sepertinya sengaja ditancapkan disana..’Apakah ini sepatumu yang hilang?’..bunyi tulisan itu.
Awalnya Jodha tidak mengerti sama sekali. Sepatu? Kapan sepatuku hilang? Dan ini bukan sepatu milikku! ..Lalu kenangan awal kebersamaannya dengan Jalal, muncul satu persatu dalam benaknya. Dan Jodha mulai bisa meraba teka-teki permainan ini.
Dilanjutkan kembali langkahnya. Dan Jodha kembali menemukan sepasang sepatu di tanah, kali ini berwarna gelap dengan heels yang sangat tinggi. Sama seperti sebelumnya, ada tulisan di dekat sepatu itu..’Ataukah yang ini sepatumu?’... Dan Jodha tersenyum menikmati permainan ini.
Jodha meneruskan langkahnya, dia menemukan lagi sepatu yang ketiga, keempat dan kelima. Dan sama seperti kedua pasang sepatu sebelumnya, ada tulisan yang meyertai ketiga pasang yang lain. Tapi Jodha tidak menyentuh semua sepatu itu, karena memang bukan miliknya. Hingga akhirnya dia tidak melihat ada sepatu lain lagi. Yang ada di hadapannya sekarang adalah Jalal.
Seakan memang sudah disesuaikan timingnya, ratusan lampu-lampu kecil di sekeliling tempat itu menyala bersamaan. Membuat Jodha bisa lebih jelas melihat keseluruhan tempat itu.
Jodha –“Ini tempat kunang-kunang itu...Kenapa disini?”
Jalal –“Bagiku tempat inilah yang paling berkesan saat aku bersamamu.”
Jodha tersenyum atas jawaban Jalal.
Jodha –“Kau bersusah payah membersihkan tempat ini hanya untuk acara malam ini? Kulihat rumputnya sudah terpangkas rapi.”
Jalal –“Aku sudah memastikan tempat ini hanya milik kita.”
Jodha –“Kau membelinya?!”
Jalal tidak menjawab. Namun Jodha sudah tahu jawabannya.
Jalal –“Bagaimana? Apa kau sudah menemukan sepatumu yang hilang?”
Jodha –“Sudah... aku sudah menemukannya.”
Dengan tersenyum penuh misteri, Jodha melepas alas kakinya dan meletakkan telapak kakinya di atas kaki Jalal. Untuk menjaga keseimbangan tubuhnya, Jodha melingkarkan kedua tangannya di tengkuk Jalal. Dan kedua tangan Jalal menahan punggung Jodha.
Entah sejak kapan, lamat-lamat terdengar lagu Moon River mengalun di tempat itu. Mengiringi tubuh pasangan itu bergerak dengan sangat lembut, selembut hembusan angin di kulit mereka.
Jalal –“Ceritakan padaku, apa saja yang kau lakukan selama dua minggu jauh dariku.”
Jodha –“Berpikir...menangis....menyesal....dan merindukanmu.”
Jalal –“Kau tidak seharusnya menangis. Kau hanya perlu memanggilku dan aku akan langsung terbang ke Canada.”
Jodha –“Aku butuh waktu untuk meyakinkan diriku sendiri. Bahwa yang kurasakan padamu bukanlah sebuah pengkhianatan atas janji cintaku pada Dev. Bahwa aku merindukan kehadiranmu sebagai Jalal, bukan pengganti Dev.”
Jalal –“Lalu apa yang membuatmu yakin?”
Jodha –“Jantungku tidak berdetak saat aku jauh darimu.”
Jalal –“Sama seperti yang kurasakan saat kau meninggalkanku. Ditambah lagi saat aku mengira kau yang akan menikah dengan Amar. Rasanya jiwaku terlepas dari tubuhku, aku tidak mampu bergerak dan berpikir saat itu.”
Perlahan tangan Jodha berpindah ke depan tubuh Jalal. Dirabanya dada keras Jalal dan dia bisa mendengar detak jantungnya.
Jodha –“Apa kau ingat saat pertemuan pertama kita?”
Jalal –“Tentu saja.”
Jodha –“Saat itu aku menabrak dada keras ini dan terjatuh. Dan aku menjulukimu pria gunung.”
Jodha terkikik pelan mengingat kejengkelannya saat itu.
Jalal –“Aku dengan senang hati menjadi gunung bagimu. Gunung yang hanya kau yang boleh mendakinya. Gunung yang akan menghadang setiap masalah hingga tidak ada satupun yang akan mengusikmu.”
Jodha –“Aku percaya.”
Musik masih mengalun, dan mereka semakin menikmati momen kedekatan itu. Merasakan kehangatan tubuh masing-masing yang menempel erat. Mendengarkan detak jantung mereka yang berirama. Pandangan mereka saling terkunci, dan terjadilah....Ciuman pertama mereka... Ungkapan kerinduan yang sudah tak tertahankan lagi... Momen yang menjadi pengunci ikatan jiwa mereka.
Rasanya seperti diguyur ratusan galon air yang menyejukkan saat musim kemarau. Sejuknya menyelimuti seluruh tubuh dan getarannya serasa mengguncang pengendalian diri mereka. Saat kedua bibir saling berpagutan, perasaan terdalam mereka terpancar keluar. Rasanya seperti semua kembali pada tempatnya. Seakan bibr Jodha memang tercipta hanya untuk bibir Jalal. Dan tubuh Jodha berpadu sempurna dalam lekukan dekapan hangat Jalal.
Kecupan, lumatan, sesapan dan gigitan kecil silih berganti mereka lakukan. Rasanya mereka tidak ingin berhenti. Seakan mereka ingin selamanya seperti itu. Tangan Jalal sekarang menangkup wajah Jodha. Rasanya ingin ditelannya bulat-bulat wajah gadis impiannya itu. Satu-satunya gadis yang mampu membuatnya bersikap lembut. Satu-satunya gadis yang mampu membuatnya melakukan hal-hal yang tidak pernah terpikir akan dengan sukarela dilakukannya, bahkan tanpa gadis itu merayunya. Mengejar pencopet hanya untuk melepasnya pergi, mengkhawatirkan roknya yang sobek dan kakinya yang tanpa alas, memimpikannya, bahagia walau hanya menggenggam tangannya, merasakan kesedihannya, dan memunculkan sisi romantis yang bahkan belum pernah dimilikinya.
Entah sudah berapa lama mereka saling berciuman, terpaan angin malam yang dingin pada kulit mereka mengingatkan bahwa mereka harus menyudahi kemesraan itu. Jalal menyusurkan ibu jarinya memutar ke sekeliling bibir Jodha yang terlihat merah dan sedikit bengkak karena ciuman barusan.
Jalal –“Jodha, aku harus mengantarmu pulang malam ini. Tapi tiga hari lagi, kita akan menikah disini.”
Jodha –“Menikah?! Aku belum bilang iya!”
Jalal –“Aku tidak akan memberimu kesempatan untuk menolakku. Aku sudah menunggu momen ini seumur hidupku. Aku masih mampu bertahan tiga hari lagi, tapi tidak lebih dari itu..”
Sikap sok berkuasanya mulai muncul. Tapi jika tidak bersikap seperti itu, dia bukanlah Jalal yang sudah membuat Jodha jatuh cinta.
Jodha –“Aku belum mempersiapkan apa-apa!”
Jalal –“Aku sudah menyiapkan semuanya. Aku sudah melamarmu pada orang tuamu dan aku sudah siap menyambut kedatangan mereka. Aku sudah meminta ijin pada Direktur Rumah Sakit. Aku sudah menyiapkan semua keperluan pesta. Kau hanya perlu datang saat hari pernikahan kita.”
Jodha menyipitkan matanya, memandang Jalal dengan sengit. Tapi itu tidak bertahan lama. Untuk apa marah jika memang ini adalah impiannya juga.
Jodha –“Aku tidak mau pesta besar-besaran.”
Jalal –“Aku tahu. Undangan hanya untuk teman-teman dekat, keluarga dan kolega terpercaya. Untuk media, aku sudah mengatasi mereka. Aku bisa jamin tidak akan ada pemberitaan buruk tentangmu lagi atau aku akan menghancurkan mereka. Yang pasti aku akan selalu mejaga senyum mempelai cantikku ini akan selalu bersinar.”
Jodha tersenyum lebar. Rasanya menyenangkan bisa bersama seseorang yang sangat mengenal dirimu bahkan tanpa perlu banyak kata-kata penjelasan. Biarkan detak jantung mereka yang bicara. Demi masa lalu yang pernah mereka jalani, membuat mereka tidak memiliki keinginan yang terlalu muluk bagi masa depan mereka. Cukup bagi mereka untuk selalu bersama dan mencintai.
Tanpa mengumbar kata-kata cinta tanpa makna, cinta itu sudah ada dalam setiap senyum, genggaman tangan dan setiap sentuhan. Cinta itu juga sudah terasa di udara yang mereka hirup. Semua orang bisa melihat kuatnya ikatan cinta Jalan dan Jodha tanpa mereka harus memproklamirkan pada seluruh dunia. Namun masih tersisa satu hal yang belum dilakukan Jalal, meminta restu pada  Dev.
Satu hari di bulan Agustus yang hangat, Jodha dan Jalal berdiri di depan sebuah makam. Hari pernikahan mereka sudah lewat beberapa bulan yang lalu, tapi kunjungan ini baru bisa mereka lakukan, menyesuaikan dengan jadwal praktek Jodha di Rumah Sakit.
Jalal yang pertama kali bicara...
Jalal—“Dev, aku Jalal... Ibuku bilang kita sudah pernah bertemu saat kita sama-sama sedang berada di ambang kematian. Aku percaya takdir yang mempertemukan kita...Kita tidak pernah saling berkenalan, tapi kita mencintai wanita yang sama. Dari dialah aku bisa mengenalmu... Terima kasih kau sudah menjaga Jodha selama ini, mulai sekarang aku yang akan menjaganya. Aku yang akan memastikan kebahagiaannya. Aku mohon restuilah kami...”
Jodha yang berdiri di sampingnya hanya bisa meneteskan air mata keharuan. Setelah bertahun-tahun, akhirnya dia bisa menempatkan Dev di tempat yang semestinya, di salah satu sudut hatinya. Dan di sudut hati yang lain, sudah ada Jalal yang mengklaim kepemilikannya.
Sebelah tangan Jalal menggandeng tangan Jodha, memberinya dukungan tanpa kata.
Jodha—“Dev, dulu aku berpikir takdir telah berlaku sangat kejam pada kita. Baru saja kita saling mencinta, maut telah mengambilmu. Dulu aku sering bertanya, dosa apa yang telah kuperbuat hingga Tuhan memisahkan aku dari kekasihku. Kita bukan orang jahat, tapi kenapa takdir cinta kita tidak bisa berakhir bahagia.”
“Aku dulu sering menyesali keputusanmu pergi ke Delhi.... Andai saja kau tetap disini, mungkin kau tidak akan meninggal... Tapi takdir memang berbicara dengan caranya sendiri...”
“Kau meninggal di Delhi dan mendonorkan jantungmu disana. Kupikir itu adalah isyarat bagiku untuk menemukanmu kembali, di tubuh orang lain.... Ternyata itu adalah cara Tuhan membawaku bertemu dengan cintaku yang lain. Terima kasih sudah membawaku bertemu dengan kebahagiaanku.... Aku tidak akan melupakanmu, bukan berarti aku akan menghidupkanmu dalam diri Jalal. Aku akan selalu mengingatmu dalam kenangan-kenangan indah kita...Restuilah kami...”
Jodha meraba liontin di dadanya. Itu adalah cincin pertunangan Dev yang dititipkannya pada Ny. Dhanjani, bergabung dengan cincin pertunangannya sendiri. Kedua cincin itu akan selalu bersamanya. Dekat dengan hatinya.
Jodha merasa sangat lega setelah mengungkapkan semua itu. Sudah tidak ada yang mengganjal hatinya untuk bisa meraih kebahagiaan bersama Jalal. Berdua mereka pergi meninggalkan makam Dev dengan hati lapang. Kebahagiaan yang ingin mereka rasakan di masa depan, hanya mereka yang bisa mewujudkannya. Takdir telah memberi mereka kesempatan kedua. Untuk bahagia dalam cinta.

*********E N D***********


Heart’s Beat Part 10 – By Tyas

3 comments:

  1. Akhirnya muncul jg terakhir.makasih ya mbak.. ditunggu cerita lainnya....

    ReplyDelete
  2. Ah....akhir yg bahagia... DaN MeNgharukaN...

    ReplyDelete
  3. akhirannya begitu manis dan sangat mengharukan....terima kasih mba Tyas

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.