Heart’s Beat Part 9 – By Tyas - ChusNiAnTi

Heart’s Beat Part 9 – By Tyas


By Tyas Herawati Wardani

Musik-musik bertemakan cinta dikumandangkan silih berganti selama pesta berlangsung. Barisan menu masakan India dan Barat terhidang rapi dan berjajar di atas meja, memanjakan selera setiap undangan pesta. Gaun-gaun pesta berkilauan beraneka warna hilir mudik memenuhi semua ujung ruangan. Hiasan-hiasan bunga berwarna-warni bak pelangi memperindah pemandangan ruangan yang memang sudah sangat indah dengan aura cinta dan kebahagiaan bertebaran diman-mana.  Dengungan suara tawa orang-orang saling bersahutan melengkapi meriahnya pesta. Tak hentinya mereka membicarakan keserasian dan kebahagiaan pasangan pengantin yang telah ditakdirkan untuk menyatu.
Benar-benar kemeriahan pesta khas India. Tidak ada tempat untuk kesedihan ataupun bermuram durja. Tidak ada tempat untuk sakit hati ataupun penyesalan. Semua tertutupi oleh keceriaan dan kemeriahan suasana pesta. Jikapun ada tangis, itu adalah tangis kebahagiaan.
Amar Ramshaad berdiri di tengah-tengah ruangan, diapit oleh orang tua dan keluarga besarnya. Dengan setelan baju tiga lapis berwarna putih dan celana yang senada berhasil menjadi pusat perhatian. Senyum lebar, senyum manis dan senyum syukur tak pernah lepas dari wajahnya. Meski harus berdiri hampir setengah hari untuk meladeni para undangan yang ingin mengucapkan selamat atas pernikahannya, sedikitpun dia tidak mengeluh. Energi kebahagiaan memenuhi seluruh tubuhnya membuatnya yakin bisa melakukan apapun. Rasa lelah tidak ada dalam daftar perasaannya hari ini. Karena ini adalah hari yang telah ditunggunya.
Saat dia menerima donor jantung, itu adalah kehidupan kedua yang diberikan oleh Tuhan untuknya. Kesempatan untuk menjalani hidupnya dengan lebih sehat dan lebih kuat. Kesempatan untuk bisa berguna bagi orang lain dan menyebarkan kebahagiaan pada orang-orang di sekitarnya.
Hari pernikahannya ini adalah kehidupan ketiga yang dianugerahkan Tuhan kepadanya. Kehidupan yang akan dijalaninya seumur hidup bersama orang yang sangat mencintainya, dan juga sangat dicintainya. Perjuangan untuk sampai pada hari ini tidaklah mudah. Dia harus merasakan sakit hati, kehilangan, kerinduan yang akhirnya bisa membuka matanya siapa orang yang benar-benar berarti baginya. Seorang wanita yang setia menemaninya dalam setiap perjalanan hidupnya. Sejak dia tidak memiliki harapan hidup sampai dia bisa menggenggam kehidupannya sendiri, wanita itu tidak pernah menyerah mendampinginya. Meski dia pernah mengabaikannya, menolak perhatiannya bahkan sampai menduakan hatinya, dia tetap bertahan. Amar Ramshaad sangat bersyukur bisa mengenal wanita yang telah menjadi istrinya itu.
Para tamu berkali-kali menanyakan keberadaan sang pendampingnya, dan Amar dengan sabar menjelaskan bahwa dia sedang berhias di kamarnya. Sepertinya para tamu sama tidak sabarnya dengan dirinya sendiri menanti kemunculan sang ratu pesta ini.
“Amar....”
Amar langsung berbalik saat mendengar suara yang sangat dikenalnya memanggilnya dari balik punggungnya...
“Jodha...”
Akan sangat tidak sopan jika mereka berpelukan di tengah-tengah pesta diantara ratusan pasang mata yang memperhatikan, jadi mereka hanya saling tersenyum, Amar langsung meraih dan menggenggam kedua tangan Jodha...
Amar –“Aku sudah menunggumu.... Kenapa baru datang?”
Jodha –“Aku harus berhias... Aku ingin tampil yang paling cantik disini...”
Amar –“Kau memang cantik...”
Jodha tersenyum dipuji seperti itu oleh Amar. Jodha bersyukur sikap Amar tidak berubah padanya. Amar tetaplah Amar yang akan menggodanya setiap ada kesempatan.
Jodha –“Kau juga terlihat lumayan...”
Amar –“Hanya lumayan? Berarti masih ada yang lebih tampan dariku...?!”
Jodha –“Banyak... Aku tidak pernah menganggap kau yang paling tampan..”
Jodha balik menggoda Amar. Sekarang mereka merasa lebih bebas saling melemparkan gurauan seperti ini.
Jodha –“Apa kau bahagia?”
Amar –“Aku saaaaaangat bahagia.....Kau juga harus bahagia..”
Jodha –“Aku berusaha... Apa sekarang jantungmu berdetak dengan cepat?”
Amar –“Ya...dan tidak terkendali. Rasanya jantungku seperti ingin melompat ikut menari di tengah-tengah ruangan. Aneh ya....setiap hari kita mempelajari semua hal yang berhubungan dengan jantung, tapi kita justru tidak bisa mempelajari jantung kita sendiri. Bagaimana bisa dia berdetak cepat suatu waktu dan tidak berdetak di waktu yang lain bila kita ada di dekat seseorang. Bukan sembarang orang, tapi seseorang yang menentukan kebahagiaan kita.”
Jodha –“Akhirnya kau mengerti... Itulah yang ingin kujelaskan padamu selama ini. Kita tidak bisa memilih mempercepat detak jantung kita ataupun melambatkannya. Detak jantung kita akan memilih sendiri kapan saatnya dia berdebar, kapan saatnya dia akan meremas hingga kita sesak napas....”
Amar –“Terima kasih telah membuatku menyadari siapa sebenarnya orang yang kucintai. Ternyata cinta ini paling kurasakan saat aku hampir kehilangan. Bagaimana denganmu? Apa kau juga merasakannya sekarang? Cintamu padanya? Kau kehilangan dirinya karena aku...”
Jodha –“Iya..aku juga merasakannya...”
Amar –“Apa yang akan kau lakukan? Aku bisa menemuinya dan menceritakan semuanya padanya...”
Jodha –“Tidak perlu, jika sudah saatnya dia tahu..dia akan tahu..”
Amar –“Tapi itu akan butuh waktu.... Aku hanya ingin kau bahagia seperti aku..”
Jodha –“Aku akan menunggunya.... Aku juga yakin dia juga menunggu saat yang tepat untuk datang padaku..”
Amar –“Baiklah, demi kau, aku akan menuruti semua permintaanmu. Aku berjanji akan selalu menjagamu. Aku akan memastikan kebahagiaanmu dengan cara seperti yang kau inginkan...Aku akan selalu menjadi super  Amar untukmu..”
Jodha –“Janji yang sama yang pernah diucapkan Dev untukku... Jagalah jantung itu untukku..”
Jodha terharu mendengar janji Amar padanya. Bagi Jodha, Dev akan selalu hidup untuknya selama jantung Dev terus berdetak di dalam tubuh Amar. Dev sudah menepati janjinya akan selalu menjaganya, dan janji itu diucapkan juga oleh Amar.
Tiba-tiba seluruh ruangan serempak menarik napas. Arah pandang mereka juga serempak memandang ke arah yang sama. Ke puncak tangga lantai dua. Seorang gadis dengan balutan gaun pengantin ala barat muncul dan mulai menuruni tangga satu per satu ke lantai dasar. Amar dan Jodha juga mengalihkan pandangan mereka ke arah gadis itu. Senyum semakin mengembang di wajah Amar.
Semua tamu undangan memuji kecantikannya. Gadis itu memang cantik, kebahagiaannya sebagai pengantin semakin menambah aura kecantikannya. Matanya tersipu malu saat pandangannya saling bertemu dengan belahan hatinya.
Jodha menepuk bahu Amar, menyadarkannya dari keterpanaannya.
Jodha –“Cepat hampiri pengantinmu...Jangan biarkan Araya menunggu lagi...”
Amar tersadar dan menoleh sekilas pada Jodha untuk mengucapkan terima kasih. Setelah itu dengan perlahan nan mantap, Amar menghampiri Araya, pengantin wanitanya yang sangat dipujanya.
Jodha turut bahagia dengan pernikahan Amar. Keputusan yang tepat setelah harus melalui jalan berliku. Ada airmata, kemarahan, cemburu, keikhlasan dan prasangka. Setidaknya ada dari mereka yang kisah cintanya berakhir bahagia, meski itu bukan kisah cintanya. Ada setitik rasa iri dalam hatinya, tapi langsung ditepisnya. Dia tidak ingin menodai hari bahagia ini.
Jodha melangkah meninggalkan keriuhan pesta. Tidak ada gunanya lagi dia terlalu lama disana. Pasangan pengantin sedang menari berdua dengan mesra diiringi tepuk tangan seluruh tamu undangan. Jodha pun turut tersenyum melihat kebahagiaan mereka. Menoleh untuk terakhir kalinya pada Amar dan Araya, Jodha melangkah keluar melalui pintu di sudut ruangan.
Dari arah berlawanan, seorang pria sedang bertarung dengan perasaannya sendiri. Dia bimbang apakah akan melangkah masuk atau hanya bertahan di luar pintu. Dia menimbang apakah dia akan mampu berhadapan dengan pasangan pengantin yang sedang berpesta di dalam. Dia tidak yakin akan bisa menahan perasaannya saat dia harus mengucapakan selamat berbahagia pada sang pengantin.  
Akhirnya dia memutuskan untuk berani menghadapinya. Dia pria dewasa, dia paham benar bahwa tidak semua hal akan berjalan sesuai keinginannya. Jika memang wanita yang dicintainya bahagia di pelukan pria lain, maka dia harus bisa menerimanya meski sangat berat.
Jalal melangkah memasuki ruangan pesta. Matanya menyapu seluruh sudutnya, mencari pasangan pengantin sang penghelat pesta ini. Dia harus berjalan zig-zag melewati tamu-tamu undangan yang menjejali setiap tempat, tujuannya hanya untuk menemukan keberadaan sang pengantin. Sorakan tamu undangan sepertinya menuntunnya ke arah mereka.
Jalal melihat mereka, di tengah lantai dansa, menari berdua dan saling berpelukan mesra. Hatinya terasa diremas-remas. Tentu saja, masih ada bagian dirinya yang belum bisa menerima kenyataan ini. Tapi Jalal terus memperhatikan mereka. Dia memperhatikan wajah Amar yang tersenyum, tapi dia tidak bisa memperhatikan wajah pasangannya, karena punggungnya tepat menghadap ke arah dirinya. Perlahan pasangan itu bergerak memutar, dan akhirnya Jalal bisa melihatnya.....
Bukan Jodha..... Bukan Jodha yang menikah dengan Amar, tapi Araya... Tanpa bisa menahannya lagi, Jalal tersenyum, lalu tertawa sendiri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya seakan baru menyaksikan sebuah drama komedi yang sangat lucu. Beberapa tamu yang kebetulan berada tepat di sebelahnya merasa heran dengan tingkah lakunya yang aneh. Sia-sia saja dia berkutat dengan perasaannya yang campur aduk sejak dia menerima kabar pernikahan Amar. Percuma saja dia frustasi dan berulang kali mengutuk takdirnya karena kehilangan harapan mencintai Jodha. Ternyata Jodha masih ada untuknya. Masih menunggunya.
Tidak sengaja mata Amar menangkap kehadiran Jalal diantara para tamu undangan. Kebetulan Jalal juga menoleh ke arahnya. Keduanya saling melempar senyum. Amar menggandeng Araya menghampiri Jalal.
Jalal –“Selamat atas pernikahanmu.”
Amar –“Terima kasih.”
Jalal –“Kau berhasil mengecohku....”
Amar –“Aku tahu... sekali-kali harus ada yang memberimu sedikit pelajaran, agar kau tidak terlalu sombong...”
Jalal –“Apa tadi Jodha kesini?”
Amar –“Iya...tapi sepertinya dia sudah pergi... Kau masih harus berusaha, jangan sia-siakan kesempatan ini. Aku tetap akan menjadi penjaga Jodha.... Jangan membuatnya menangis lagi..”
Jalal –“Tidak akan. Itu janjiku!”
Amar dan Jalal berbicara dengan bahasa tubuh sebagai pria. Seakan saling mengerti, mereka hanya saling mengangguk. Lalu keduanya melangkah ke arah berlawanan. Amar kembali ke tengah-tengah pesta, sedangkan Jalal melangkah keluar dari pintu yang sama dengan arah Jodha keluar tadi.
Pagi yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Rutinitas yang sama di tempat yang sama. Jodha memulai tugasya sejak pukul 6 pagi. Dia mengobservasi keadaan beberapa pasien, menulis laporan dan berdiskusi dengan dokter pengawasnya. Tanggungjawabnya sebagai residen naik satu level. Dia sudah diijinkan ikut masuk ke ruang operasi jantung meski hanya sebatas pengamat. Dia juga sudah diperbolehkan mengambil tindakan pertolongan pertama untuk pasien kasus jantung lemah.
Tapi ada yang belum berubah, yaitu kehampaan dalam hidupnya. Jika ada yang bertanya apa yang diinginkannya saat ini, dia akan menjawab dia menginginkan Jalal. Dia sudah sangat merindukan Jalal. Dia membutuhkan kehadiran Jalal di sisinya sebagai tempat untuk merebahkan kepalanya.
Jodha sedang menikmati makan siangnya di kantin Rumah Sakit di lantai dasar saat beberapa perawat yang dikenalnya tiba-tiba menghampiri mejanya. Dengan penuh misteri, mereka menyampaikan pesan bahwa ada seseorang yang sedang menunggu Jodha di luar gedung. Jodha tidak sempat bertanya apa-apa karena mereka langsung menggamit lengannya. Sambil tertawa-tawa kecil mereka terus mearik tangannya untuk mengikuti mereka, tidak menghiraukan protes dari Jodha. Sesampainya di luar gedung, barulah mereka melepaskan Jodha.
Jodha celingukan mencari siapa orang yang ingin bertemu dengannya. Bertanya pada teman-temannya yang menyeretnya kesini tadi juga percuma, mereka sepertinya malah menikmati kebingungan Jodha. Lalu datang dua orang ke depan Jodha, pria dan wanita, sang pria membawa gitar. Mereka duduk di atas kursi yang sepertinya memang sengaja disiapkan. Jodha semakin bingung dibuatnya karena dia merasa tidak mengenal kedua orang itu.
Gitar mulai dipetik, dan wanita itu pun mulai bernyanyi.
Lagu Moon River pun mengalun merdu....
Jodha terpana. Dia ikut terhanyut dalam setiap alunan syair lagunya. Membuatnya sejenak lupa pada tujuannya menemui orang yang mencarinya. Tak terasa lagu itupun selesai dinyanyikan, dan semua orang yang menontonnya bertepuk tangan. Jodha tidak menyadari ternyata kehadiran dua orang itu telah menarik perhatian banyak pengunjung Rumah Sakit. Mungkinkan tadi dia terlalu menikmati lagunya karena ini adalah lagu favoritnya. Hanya satu orang yang tahu kenangan dibalik lagu ini. Dan orang itu adalah.....
Deg deg deg.....deg deg deg....deg deg deg.....deg deg deg............
Jodha merasakannya lagi. Detak jantung yang sama. Sudah lama Jodha tidak mengalaminya. Dia memegangi dadanya untuk meyakinkan bahwa jantungnya memang berdetak lebih cepat.
Jika jantungnya berdetak seperti ini...itu artinya orang yang dipanggil oleh jantungnya ada disini...saat ini.... Jodha menoleh ke kanan kiri, berharap orang itu segera muncul ke hadapannya...
“Jodha....”
Akhirnya.....
“Jalal...”
Sebelum menoleh pun, Jodha tahu siapa yang memanggilnya. Perlahan Jodha berbalik. Jalal sudah datang. Jalal sudah muncul di depannya. Dengan sedikit ragu, Jodha tersenyum. Dan Jalal pun tersenyum..
Jodha –“Kau lama sekali... kenapa baru datang?”
Jalal –“Aku masih harus mengumpulkan keberanianku dulu...”
Jodha –“Apa yang kautakutkan?”
Jalal –“Aku takut tidak bisa membuatmu bahagia...”
Jodha –“Padahal aku sudah lama menunggumu..”
Jalal –“Sekarang kau tidak perlu menunggu lagi...”
Tidak terasa airmata Jodha menetes membasahi pipinya. Airmata kelegaan. Airmata dan juga senyuman. Akhirnya pria yang dinantikannya selama ini sudah datang. Dia sudah datang untuk memberinya kebahagiaan.
Jalal menarik Jodha masuk ke dalam dekapannya. Semua orang yang melihat mereka berseru kegirangan seakan ikut merasakan kebahagiaan penyatuan dua hati mereka. Jodha semakin menyurukkan kepalanya ke dada Jalal, menyembunyikan wajahnya, merasa malu karena banyak orang memperhatikan tingkah mereka.

********************


Heart’s Beat Part 9 – By Tyas

5 comments:

  1. hahahahaha
    pandai bgt dah mbak ne bikin saya deg degan
    bacanya ampe nahan nafas gara2 awal crtanya dah disuguhi dengan acara pernikahan
    kirain pernikahan amar n jodha
    hahahaha
    ternyata bukan dink
    salut dech buat mbaknya..
    ditggu lanjutannya ya mbak
    GPL
    hahahah

    ReplyDelete
  2. Seru abis.... sip.... ditunggu selanjut nya....

    ReplyDelete
  3. bener tuh...kirain Jodha nikah sama Amar...syukurlah ternyata tidak...

    ReplyDelete
  4. Lama lanjutan nya?????........

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.