FF - Is It Hate or Love Chapter 28 Part 1 - ChusNiAnTi

FF - Is It Hate or Love Chapter 28 Part 1


Written by Bhavini Shah
Translate by Annisa Karmila

**Di dalam kamar Ruqaiya**
Ruqaiya sedang marah marah dengan sengitnya, kata kata Jalal terus terusan terngiang ditelinganya. Dengan sengaja menentang keputusannya, Jalal  secara sadar dan sengaja telah mengijnjak injak egonya adalah hal yang tak tertahankan olehnya. dia merasa seperti ingin membunuh semua orang disekitarnya. Dia mengambil barang barang disekitarnya dan mulai melemparkannya dilantai dengan kasar. Matanya merah berapi api dan basah dengan air mata yang menggenang. Kebenciannya pada Jodha bertambah setiap detiknya. Dalam kemarahannya ia berkata “Penyihir kecil dan licik itu telah sekali lagi membuat Jalal terperangkap dalam mantranya.

Maham memasuki kamar ruqaiya ketika dia masih membabi buta melemparkan barang barang disekelilingnya. Prang…prang… maham bisa merasakan badai kemarahan yang semakin meningkat dalam diri ruq.

Masih dalam kemarahannya tanpa sadar ruq melemparkan vas bunga yang dengan mulus mengenai kepala maham. Maham pun terluka parah. Dia berteriak kesakitan  dengan keras aahh… oohh… Apakah anda sudah kehilangan akal sehat anda begum e khass? apa kau sudah gila? Apa yang kamu lakukan?

Ketika ruq melihat darah yang mengalir deras keluar dari dahi maham, iapun terkejut… kemarahannya tiba tiba berubah menjadi ketakutan. Segera dia tenang dan menangis terisak keras, dan dengan mata yang frustasi ia pun lalu berteriak dengan keras ia .. bilang saja saya gila, bilang saja saya bodoh,… karna saya memang telah gila… saya tidak menyangka bahwa penyihir licik itu… sekali lagi sudah memperdaya dan memerangkap Jalal dalam mantra pesonanya… dia telah merebut Jalal dari saya dan terlah merubahnya sepenuhnya… aku akan membunuh perempuan jalang itu.”

Maham dengan senyum liciknya berkata… apa yang kau katakan membunuh penyihir itu !! itu benar benar bagus sekali… lalu apalagi yang kau tunggu… manfaatkan kesempatan yang ada… Setelah kita mendapatkan kesempatan, lalu kita akan membunuhnya…

Mendengar kata kata maham itu ruq benar benar terkejut..lalu ia berkata sambil separuh bergumam…. Tidak badi ammi…. saya tidak benar benar serius dengan apa yang saya katakan… saya tidak bisa melakukan dosa itu… ya memang benar saya sangat membencinya, tapi saya tidak bisa membunuhnya… saya tidak sekejam itu…

Maham dengan tatapan licik dan jahatnya mengatakan “Yaa begum ruqaiya… anda benar, bagaimana anda bisa membunuh rajvansi begum itu .. anda tidak dapat melakukan apa apa selain menangisi takdir diri anda sendiri… saya selalu menganggap bahwa anda adalah termasuk wanita yang mempunyai kekuatan di sultanat ini, yang berani membuat takdirnya sendiri… tapi sayangnya anda telah membuktikan kalau saya telah salah… anda hanya bisa menangis untuk nasib buruk anda ..sy bertanya Tanya bagaimana bisa begum e khass ruqaiya sultan bertekuk lutut ddepan rajvansi begum biasa… aku benar benar merasa kasian kepada anda tapi kenyatannya rajvansi begum itu telah benar benar berhasil  mengalahkan anda…

Ruq tidak bisa berbuat apa apa kecuali menerima kata kata maham angga, kata kata itu telah terasa seperti cuka yang diteteskan dilukanya. Dalam kemarahannya ia pun berteriak “Cukup maham angga janganlah anda lupa, bahwa anda berbicara dengan begum e khaas dalam sultanat ini… anda tidak lebih dari sekedar pembantu belaka… saya bukanlah orang yang menangisi  takdir saya…. saya adalah seseorang yang membuat orang lain menangis.”Kemudian ia mengapus air matanya lalu menjawab lebih lanjut dengan nada kedengkian… aku akan menulis takdirku sendiri…

Di ruangan Jalal.
Dikamarnya Jalal sedang bersiap siap untuk memulai harinya. Seorang pelayan datang kedalam untuk memberitahunya kalau sarapannya telah siap dan telah disajikan diatas meja. Jalal menatap meja makanan dan semua sajian makanan yang telah siap dalam piring-piring  makanan. Dia merasa sangat  kelaparan. Ia terbiasa makan setiap 2 jam sekali, dan berkali kali dalam sehari. Ia berjalan mendekati makanan, dia mencium sedap aroma makanan di depannya yang membuatnya merasa lapar, bahkan lebih lapar lagi. Semua hidanngan favoritnya dsajikan tepat di depannya. Tapi ia tetap tidak makan apa apa. Ia berkata kepada dirinya sendiri “kalau Jodha bisa hanya makan khichdi sehari hari hanya karna pada saat itu aku hanya boleh memakan  itu, maka aku harus bisa ikut berpuasa juga…. Aku  juga tidak akan makan sampai ia makan,” lalu kemudian ia memerintahkan pelayan untuk membawa makanan itu kembali  makanan itu dan jangan membawakan makanan lagi untuknya hari sampai ia memerintahkannya.

Tiba tiba petugas jaga didepan pintu mengumumkan kedatangan  malika e Hindustan… Jalal pun memrintahkan pelayan untuk segera bergegas untuk merapihkan makanannya sebelum kedatangan Malika e Hindustan, dan memerintahkan agar jangan sampai ada yang tahu tentang hal ini terutama Malika e Hindustan.

Tapi sebelum pelayan itu berhasil membereskan semua makanan itu, Jodha sudah masuk ke dalam ruangan dan memberikan salam kepada Jalal. Dia melihat pelayan yang sedang membereskan makanan… dan ia pun lalu bertanya kepada pelayan itu?  kenapa kau membereskan semua makanannya?

pelayan itu pun terlihat gugup. Lalu Jalal memotong dan berkata “Jodha aku tidak diijinkan untuk memakan makanan ini… aku tidak bisa makan ini seperti yang di katakan oleh tabib dan malika e Hindustan.” sambil ia menatap Jodha dengan seringai yang menggoda.

Jodha tersenyum dengan manis dan menjawab “shahensyah, sekarang kau dapat memakan  apapun yang kau inginkan… luka mu telah sepenuhnya sembuh sekarang, jadi aku telah memerintahkan kepada pelayan untuk membawakan sarapan kesukaanmu.

Pelayan pun menganggukkan kepalanya sebagai tanda mengerti, Jodha lalu memerintahkan pelayan  untuk menyiapkan kembali makanan untuk Jalal...

Jalal tahu Jodha sedang berpuasa, jadi dia tidak akan makan apa-apa… lalu dengan licik dia berkata, “sajikan makan untukku dan ratu Jodha.”

shahensyah aku sedang tidak lapar saat ini… aku akan makan kemudian,” Jodha berkata dengan gugup sambil mencoba mencuri melirik padanya.

Hhmm… jd kau sekarang sudah mulai mencoba untuk berbohong padaku  Jodha begum, tapi kau tahu sesuatu… kau harus benar benar berlatih untuk itu,” pikirnya sambil menyeringai melihat gemetar dan  kegelisahaan yang sangat tampak jelas terlihat diwajah Jodha. Kemudian  ia berkata “Jodha begum entah kenapa aku juga belum merasa lapar. Aku akan makan nanti setelah aku berlatih pedang dan olah raga, dia mengatakannya dengan  nada  yang tenang, namun percaya diri.

Jodha menatapnya heran, ”apa yang terjadi padanya tiba tiba hari ini? ia tidak bisa tetap lapar bahkan hanya dalam waktu bbrp menit. Lalu mengapa ia melakukan semua ini? pikirnya “sangat membingungkan. Ooh tuhan sebenarnya saya ingin ia makan dulu, baru kemudian mengatakan kalau aku tidak akan tinggal bersamanya lagi, gumamnya pada dirinya sendiri.

Jalal bisa merasakan kalau Jodha melamun jauh,.. lalu ia memanggil… Jodha? tapi  Jodha tidak bereaksi… dia memanggilnya lagi dengan sedikit lebih keras.

Kali ini Jodha kembali kekesadarannya lalu dengan gugup menjawab, iya, shahensyah?

Jalal bertanya dengan sopan “kenapa kau melamun ratu Jodha? apa yang kau fikirkan dengan begitu dalam?

Jodha sangat gugup, ia berada dalam dilema… bagaimana cara mengatakan kpd Jalal kalau ia ingin berpisah…. Karna ia sekarang telah benar benar pulih, apakah benar  untuk mengatakan kepadanya tentang hal itu?” pikirnya….. Entah bgaimana Jodha berhasil mengumpulkan semua kekuatannya dan  dengan sangat tenang ia mengatakan “shahensyah .. aku ingin mengatakan  sesuaatu.

Jalal bisa membaca kebingungan dimatanya. Suara yang gemetar memberinya petunjuk tentang apa yang ingin dia katakana… hatinya mencelos  dan wajahnya menjadi berubah pucat. Ia menatap Jodha dengan perasaan galau , dan ia ijinkan Jodha untuk bicara dengan memberikan ekspresi dari matanya. 

Jodha tidak bisa melihatnya langsung di matanya, dengan mata dan wajah yang menunduk lalu ia berkata dalam nada suara yang lirih…”Shahensyah… sebenarnya… aku … “ ia kembali berhenti. Dia berjuang untuk bisa mengatur  kata kata yang keluar dari mulutnya.  “Aku ingin ijinmu… ammijaan ingin aku mengurusmu sampai  kau benar2x sembuh…dan sekarang karena kau sudah sepenuhnya pulih, aku ingin untuk kembali mengabdikan diri ku hanya untuk beribadah kepada kanha…. pengabdian adalah satu satu nya cara agar aku bisa mendapatkan ketenangan.

Kata kata Jodha itu seperti petir di telinga Jalal… dia menatapnya dalam ,.. lama ada keheningan diantara keduanya, Jalal tau dia telah sangat menyakitinya. Berkali kali dia telah menghina Jodha di depan banyak administrator kerajaan, begums dan petugas lainnya. Tapi kali ini ia telah melewati semua batasannya, meskipun ia tahu kekejamannya terhadap Jodha, tetapi ia berharap di dalam hatinya bahwa Jodha akan memaafkannya seperti sebelumnya… Jalal selalu berfikir bahwa Jodha memiliki hati yang besar dan tidak bisa melihat nya dalam kepedihan yang lama…

Jalal merasa seperti seluruh dunianya hancur hanya dalam beberapa menit. Jodha tau bahwa kata 2xnya telah teramat dalam menyakiti Jalal, buat Jodha bahkan lebih sulit lg untuk melihatnya dalam keadaan seperti ini. Tapi ia berlomba antara hati dan pikirannya, meskipun hatinya telah memaafkannya, tapi pikirannya tidak membiarkan ia untuk percaya padanya lagi…. Ketika selama beberapa waktu dia tidak mendapatkan jawaban apa2x dr Jalal. Maka dengan suara yang sangat sedih dan lirih dia berkata “shahensyah… saatnya untuk berdoa kanha… perkenankanlah aku untuk pergi.”

Jalal tidak memiliki sisa kekuatan lagi di tubuhnya, bahkan hanya untuk berkata kata,… dengan berat hati ia menganggukkan kepalanya pelan. Jodha menatapnya seolah itu adalah akhir kebersamaan mereka, seperti ucapan selamat tinggal. Jodha pun keluar meninggalkan kamarnya. Tanpa argument Jalal setuju dengan keputusannya, ini bahkan lebih menyakitkan baginya. Tanpa sadar Jodha ingin Jalal menghentikannya.

Begitu Jodha keluar dari kamar, Jalal langsung merasakan kesepian yang teramat sangat. Setelah menghabiskan begitu banyak waktu dan hari dengannya, itu sangat sulit baginya untuk menjauh darinya bahkan hanya untuk sebentar saja. Hanya beberapa hari yang lalu,  ia menyadari kesalahnnya yang dikarenakan kebodohannya, dengan sikapnya yang dingin, kejam dan keras kepala, ia telah menghukum begitu banyak orang tidak bersalah. Tapi ketika ia ingin memperbaiki kesalahannya, ia telah meninggalkannya sendirian. Dia tiba tiba merasa sangat kesepian  tanpanya.  Berfikir kalau dia tidak akan bersamanya lagi bahkan telah membuatnya merasa lebih kesepian lagi. Sekali lagi pikiran dan matanya penuh dengan kesedihan. Hatinya perih sekali ketika ia mengingat mata yang penuh dengan kesedihan tetapi juga penuh dengan cinta yang sangat besar baginya. Mereka telah berusaha untuk besikap normal selama 6 hari terakhir ini, tapi keduanya tau  tetap ada hal hal yang tidak normal diantara mereka. Mereka berdua saling menikmati kedekatan satu sama lain, tetapi mereka berdua merasa seperti mereka berdua memiliki ganjalan besar di hati mereka.
Dia tau dia telah menyakiti hatinya dengan sangat dalam, namun ia berharap kalau ia akan memaafkannya. Jalal tau kalau Jodha tersakiti, tetapi ia tidak tahu sebesar apa rasa sakit yang Jodha rasakan.

Selama ini Jalal menyembunyikan rasa sakitnya sendiri, sehingga Jodha tidak melihat dan ikut merasakan kepedihannya. Jalal mencoba membuat Jodha merasa nyaman dengan bersikap normal meng goda dan membuat gurauan dan bersikap seolah seperti tidak ada apa2x, tapi itu tidak dapat menyembunyikan kepedihan hati  yang terpancar di mata mereka masing2x, tanpa harus di ucapkan dengan kata2x. Jalal sangat rindu dengan percikan api dimata sedih Jodha. Kesepian terlihat jelas dimatanya. Jalal tau Jodha sangat sedih, tapi ia tidak tahu sebesar apa rasa sakit hati yang Jodha rasakan. Jalal fikir Jodha akan memaafkannya dan ia akan mendapatkan kembali kepercayaan dirinya. Tapi sewaktu Jalal melihat Jodha pergi keluar meninggalkan ruangannya, ia menyadari bahwa Jodha tidak akan memaafkan dirinya. Jalal tidak pernah merasa serapuh dan setidak berdaya ini. Matanya berkaca kaca dan berkata kepada dirinya sendiri “mengapa engkau tidak bisa memaafkan aku sekali lagi… aku tau aku tidak pantas untuk mendapatkan belas kasihanmu Jodha… aku tidak pantas untuk dirimu… aku hanya berharap aku bisa membawa lagi senyuman dan kebahagiaan  di wajahmu. Tidak teras air mata keluar membasahi matanya. Menyadari bahwa ada air mata keluar dari matanya, ia menatap cermin dan suara batinnya berkata dalam kepedihan yang amat dalamakhir akhir ini  air mata banjir keluar tanpa memberi peringatan, seperti ketika patah hati yang tidak memiliki suara Hari ini hidupku telah pergi meninggalkanku selamanya. Kesepianku mentertawakan dan mengejek diriku. aku berharap dewa juga bisa merasakan sakit hati ini. Mungkin dengan bgitu ia tidak akan mempunyai kebiasaan menghukum umatnya dengan sekejam ini.”

Setelah beberapa waktu Jalal kembali ke akal sehatnya. Mengenyampingkan semua kesedihan dan rasa sakitnya, kemudian dengan muram ia mengumpulkan tenaga nya dan memutuskan untuk meneruskan rutinitas sehari harinya.  Ia sudah sangat terlambat untuk berlatih pedang.

Di kamar Jodha
Jodha sedang berada di dalam kamar ketika Reva dengan semangat berlari memasuki ruangan, ketika Jodha baru saja selesai melakukan puja kanha. Melihat Reva bgitu ceria dan bahagia, Jodha dengan penasaran bertanya “apa yang terjadi Reva, kau tampak sangat senang dan bersemangat sekali hari ini?

Reva dengan suara yang sangat penuh sukacita menjawab “Jodha kau tidak akan percaya padaku…. Sesuatu yang sangat menakjubkan telah terjadi di istana hari ini, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.”

Setelah berlatih pedang, Jalal ingin bertemu dengan ammijaan nya, Marium Makhani. Hari itu Jalal benar benar terluka seluruh tubuhnya berdarah. Darah mengalir dari atas sampai bawah tubuhnya, untuk pertama kalinya Jalal menyadari cinta tanpa syarat dan kasih sayang serta keperdulian dari ibunya. Dia ingin berbicara pada ibunya dan mendapatkan cinta dan perhatian ke ibuannya.

Saat Jalal sedang berjalan akan menuju kamar ibunya, Jalal mendengar Jodha dan Reva berbicara satu sama lain di dalam ruangan Jodha tentang dirinya. Jalal berhenti, lalu mendekat ke jendela untuk mendengarkan.

Jodha bertanya dengan tidak sabar “apa yang telah terjadi tiba tiba Reva?

Reva menjawab dengan semangat  “ hari ini bibi Savitri dan gangga didi pergi menemui ratu ruqaiya untuk meminta cuti libur untuk merayakan hari Karva chauth…. Tapi seperti biasa ratu ruqaiya menolak dengan kasar permintaan mereka, dan ia lalu berteriak kepada semua pelayan hindu… untungnya pada saat itu ia sedang berada di ruangan shahensyah… shahensyah yang melihat perilaku kejam dan kasar nya lalu meminta semua pelayan untuk menunggu di luar…. Setelah beberapa saat ia lalu keluar dengan  ratu Ruqaiya dan lalu dirinya mengumumkan bahwa hari ini semua permintaan cuti libur diberikan untuk semua pelayan hindu yang ingin  merayakan hari Karva Chauth… mendengar itu gangga didi sangat bahagia sampai mengeluarkan air mata kebahagiaan... ini adalah pertama kalinya dalam sejarah bahwa shahensyah sendiri lah yang mengambil keputusan untuk harem dan menentang keinginan ratu ruqaiya …. Wajah ratu ruq jelas menunjukan kemarahan dan kekecewaan terhadap keputusan Jalal.”

Jodha yang mendengar hal ini, kagum sekaligus terkejut dengan perubahan pada diri Jalal, dia tidak pernah terlibat dalam masalah harem sebelumnya.   Tapi hari ini ia  menentang keputusan ratu ruq, denngan mengizinkan para pelayan hindu untuk merayakan karva chauth… hal ini juga mengejutkan buat Jodha…. Sebuah senyum yang lebar merekah di wajah Jodha… ia berkata pada dirinya sendiri…shahensyah kau telah memulai perjalananmu untuk memenangkan hatiku, dan matanya melukiskan kebahagiaan dsana.

Melihat wajahnya yang penuh kebahagiaan dan senyumnya yang lebar, Jalal merasa sangat bahagia. Ia tetap berdiri dsana untuk mendengarkan percakapan mereka selanjutnya.

Lalu Reva dengan gembira bertanya “ohh Jodha… hari ini adalah puasa karva chauth pertamamu juga.”

Jodha lalu mengambil napas dalam dalam dan lalu mengeluarkannya dan menjawab dengan sedih, “Hmm .. Yepp… saya juga berpuasa… tapi bahkan orang yang aku berpuasa untuknya bahkan tidak tahu apa arti karva chauth dan bahkan aku juga tidak ingin untuk  menceritakan tentang puasa yang aku  telah lakukan untuk nya… Kau tau Reva… sejak kecil aku sudah memimpikan datangnya hari ini… aku telah melihat babhisa dan masa ku berpusa untuk baisha dan bapusa. Sepanjang hari babhusa dan baisa secara diam diam datang untuk melihat semua ritual yang masa dan babhisa lakukan… hari itu terasa seperti hari perayaan besar… setiap wanita yang sudah menikah berpakaian seperti pengantin baru .. mereka menghabiskan waktu berjam jam untuk menghias diri mereka… tapi takdir setiap orang tidak lah sama… aku tidak menyalahkan shahensyah untuk itu, karna dia bahkan tidak tau betapa pentingnya hari ini untuk wanita hindu yang sudah menikah… ini takdir ku Reva dan aku ingin berhenti berharap kepada semua hal tersebut dan menyerahkan diriku pada kanha.” Tiba tiba setelah mengatakan itu wajah Jodha berubah menjadi sangat pucat dan sedih.

Jalal yang  mendengar kata kata Jodha, tiba tiba merasa kepedihan yang sangat dalam dihatinya…

Reva dengan hati hati bertanya “Jodha, jika kau tidak keberatan aku ingin bertanya… apakah kau masih marah dengan shahensyah? “

Jodha dengan sedih dan suara yang lirih menjawab “ Reva sebenarnya aku juga tidak yakin dengan apa yang aku rasakan… mungkin hatiku telah memaafkannya… tapi fikiranku masih tidak mengizinkan ku untuk percaya kepadanya lagi… Aku bahkan bisa meresa gemetar dan ketakutan yang amat sangat bahkan hanya dengan memikirkan bila dia melakukan hal itu lagi… kau tau Reva, setiap kali aku melihat kedalam matanya, aku melihat cinta yang sangat besar untukku dan penyesalan yang dalam ,, melihat itu semua sakit hati dan kebencianku padanya menghilang… aku tau betul betapa ia mencintaiku….hati nya berdetak hanya untuk ku… dia mencintaiku lebih dari hidupnya… tapi kali ini hatiku benar benar terluka dengan  sangat parah … aku bahkan tidak tahu apakah hatiku akan bisa pulih lagi seperti sedia kala… berdekatan dengannya memberikan kedamaian mutlak bagiku tapi pada saat yang bersamaan aku merasa terluka parah.  Cintaku kepadanya telah memerangkap diriku dan membuat aku menjadi lemah didalam… hatiku sakit ketika melihat dia merasa sakit.  Reva, sekarang dia baik baik saja sehingga aku mengatakan kepadanya bahwa aku tidak akan menemui  dia lagi… aku akan tinggal jauh darinya.”

“Berada jauh dariku… bagaimana kau bisa mengartakan hal itu padaku Jodha? Kehadiran mu lah yang membuat aku tetap hidup… senyummu adalah alasan kebahagiaan ku… bagaimana kau bisa ingin meninggalkanku seperti ini?  Jalal bergumam pada dirinya sendiri… “aku tidak akan membiarkan kau pergi dariku… aku akan membuat kau segera kembali lagi padaku… ia berkata pada dirinya sendiri dengan percaya diri…

Reva lalu melanjutkan bicara “Jodha saya rasa anda harus memaafkannya…. Dia telah menyadari kesalahannya dan merasa bersalah tentang hal itu juga…

Jodha dengan wajah sedih berkata “Tidak Reva, kali ini aku tidak bisa memaafkannya kali ini… ketika dia marah, dia lupa segalanya… kemarannya telah mengambil alih akalnya… dan kali ini saya bahkan tidak tahu apa kesalahan saya … tanpa alas an apapun dia telah memberikan hukuman berat dan menyakitkan seperti itu… dia adalah hidup saya dan saya sangat mencintai nya… tapi kali ini dia telah benar benar melukai harga diri saya yang saya tidak bisa lagi mentolelirnya … dia telah menghina saya di depan seluruh pengadilan… saya tidak bisa dengan mudah memaafkannya… tak terasa air mata bergulir dipipi Jodha saat ia menyuarakan sakit isi hatinya itu. Dengan terisak ia menambahkan “mengapa saya bgitu tidak berdaya di depan hatiku? mengapa kehadirannya membuat saya lupa segalanya? mungkin karna saya mencintainya lebih dari saya menghargai diri saya sendiri… hati saya telah memaafkannya…. Saya menginginkan dia tapi saya tidak akan pernah bisa mempercayai dia lagi… saya memiliki rasa takut dalam hati saya bahwa segera ia akan melupakan segalanya dan kemudian memperlakukan saya  sama kembali. .. ketakutan saya akan penghianatan nya seolah membuat sya tidak akan pernah membiarkan dia untuk datang dan mendekati saya lagi… saya tidak dapat berfikir bahwa saya akan bisa percaya  kepdanya lagi… tapi ketika saya melihat rasa bersalah matanya yang seperti berbicara untuk memohon maaf… perasaan ini seperti membunuh saya…. Saya tidak ingin melihat dia lagi… saya tidak ingin lagi melihat matanya yang penuh kesedihan.  krishna bawalah aku dalam pelukan anda lagi ..saya tidak bisa menahan rasa sakit ini lagi, katanya dalam………….

Reva juga merasa lemah dan sedih melihat rasa sakit dan cinta Jodha pada Jalal. Di matanya juga tergenang air mata dan terlihat kesedihan disana. Reva lalu memeluknya dan berkata “Jodha itu adalah hal yang mustahil bagi saya untuk memahami cinta anda, dan selanjutnya ia menambahkan “ Ohh tuhan berkatilah Jodha saya dengan kedamaian “ dan lalu ia meninggalkan kamarnya.

Jalal mendengar seluruh percakapan mereka, dia tau perilaku dan tindakan kejamnya telah menyakiti Jodha bgitu banyak, tapi dia tidak tau kalau kata katanya telah berdampak menyakitinya bgitu dalam. Setelah mendengar perkataan Jodha, hati Jalal mulai menangis mendalam, dia tidak punya sisa kekuatan lagi untuk bisa menghadapi Jodha. Hatinya bergemuruh di dalam sementara pikirannya terus mengutuk dirinya untuk perilaku nya yang tidak berperasaan itu.

Jodha sekarang sendirian di kamarnya, ia berdiri di dekat jendela, angin dingin bertiup dan menghembuskan rambutnya. Perlahan lahan dengan rasa sakit yang dalam dihati dan air mata yang mengalir di pipi dia mulai menyanyikan sebuah lagu dengan suara merdunya “hmmm….mmm…
dil ke armaan aansuon mein beh gaye
(Hati saya ingin bisa mengeluarkan kepedihan ini lewat air mata)
hum wafa karke bhi tanha reh gaye
(Bahkan setelah saya menjadi setia kepadamu  kekasih hati  dan memberikan hati saya kepadamu, saya masih ditinggal sendirian)
dil ke armaan aansuon mein beh gaye
(Hati saya ingin bisa mengeluarkan kepedihan ini lewat air mata)

Mendengar suara merdu Jodha tiba tiba jantung Jalal berdetak dengan kencang, seluruh tub uhnya menjadi gemetar. Dia tau Jodha tidak memaafkannya, tapi dia belum baenar benar melihat betapa kacau perasaan batinnya. Setiap kata kata dari syair lagunya sedikit demi sedikit mulai menuangkan cuka di pedih luka hatinya, suara merdunya yang indah itu telah memberikan rasa sakit yang begitu besar hari ini.

zindagi ek pyaas ban kar reh gai
(Hidup menjadi haus tak terpadamkan)
pyaar ke kisse adhoore rah gaye
(Bahkan kisah cinta kita ditinggalkan dengan  tidak lengkap)
hum wafa karke bhi tanha reh gaye
(Bahkan setellah saya menjadi setia kepadamu  kekasih hati  dan memberikan hati saya kepadamu, saya masih ditinggal sendirian)
dil ke armaan aansuon mein beh gaye
(Hati saya ingin bisa mengeluarkan kepedihan ini lewat air mata)

Matanya mulai basah dengan air mata, setiap kata yang keluar dr mulut Jodha telah memberikan Jalal perasaan tercekik. Sekarang air mata dan suaranya sama sama  seperti terjebak di tenggorokannya

shaayad unka aakhri ho yeh sitam
(Mungkin ini akan menjadi kekejaman terakhirnya)
har sitam, yeh soch kar hum seh gaye
(Ini adalah hal yang saya fikir waktunya untuk saling menahan)
hum wafa karke bhi tanha reh gaye
(Bahkan setellah saya menjadi setia kepadamu  kekasih hati  dan memberikan hati saya kepadamu, saya masih ditinggal sendirian)
dil ke armaan aansuon mein beh gaye
(Hati saya ingin bisa mengeluarkan kepedihan ini lewat air mata)

Begitu mendengar kata kata nya begitu menusuk hatinya, seluruh tubuhnya terasa kebas. Ia tidak sanggup lagi untuk mendengarkan lebih banyak lagi, tapi Jalal juga seperti tidak mempunyai kekuatan lagi untuk bisa melangkah lebih lanjut. Jalal merasa seperti ada beberapa kekuatan yang tidak terlihat seperti mengikat tubuhnya disana sehingga membuatnya tidak bisa bergerak.

khud ko bhi hum ne mita daala magar
(Saya  bahkan telah mengenyampingkan diriku sendiri)
faasle jo darmiyaan the rah gaye
(Tapi meskipun demikian jarak diantara kami masih tetap sama)
hum wafa karke bhi tanha reh gaye
(Bahkan setellah saya menjadi setia kepadamu  kekasih hati  dan memberikan hati saya kepadamu, saya masih ditinggal sendirian)
dil ke armaan aansuon mein beh gaye
(Hati saya ingin bisa mengeluarkan kepedihan ini lewat air mata)

Jalal akhirnya kehilangan semua energinya. Dia bertekuk lutut  jatuh kebawah dan terduduk di lantai sambil melihat ke langit dengan air mata di matanya. Dia bisa merasakan rasa sakit Jodha di hatinya sendiri dengan setiap kata dari syair yang Jodha nyanyikan. Dia mengangkat mata dan tangannya mengarah kelangit, dan berdoa  “Yaa khuda… tolong beri Jodhaku kedamaian… jangan menghukumnya seperti ini… beri aku semua kesedihannya dan mandikanlah semua kebahagiaan kepadanya.. buat hatinya merekah indah dengan harmoni … jangan hukum dia karna dosa dosa saya… ambillah hidup saya tapi sebagai gantinya hindarkan lah dia dari kemarahan Mu ...

Jalal menyadari kehadirannya akan membuat Jodha merasa lebih sakit hati lagi… dia tidak bisa lagi memberikannya kehangatan setelah membuat penghianatan yang kejam dan menghilangkan kepercayaannya…

Jodha terisak keras sambil bergumam “huhmmm  hmmm hmmm….” Ia lalu berteriak keras. Setelah selama beberapa hari ia diam, sekarang ia secara terbuka membicarakan masalah perasaannya kepada Reva… hatinya kembali kewaktu dimana ia suka berbicara tentang Jalal lagi… tapi Jodha tidak menyadari bahwa membicarakan Jalal akan membuka lagi luka hatinya. Dan menyembunyikan luikanya hanya akan membawa air mata baginya.

Perlahan Jalal mengumpulkan kembali semua kekuatannya dan mulai berjalan kembali kekamarnya. Dia merasa sangat tertekan dan pada saat yang sama dia juga merasa bingung dan sangat kehilangan… dia tidak tau bagaimana cara menghibur Jodha, dan bagaimana cara untuk mengeluarkannya dari rasa sakit nya. Ketika ia melihat betapa dalam luka hatinya… rasa bersalah telah sepenuhnya mengambil nyawanya, hatinya mulai merasa tercabik cabik tidak berdaya, sehingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi ketepi danau untuk mendapatkan ketenangan hati dan kejernihan fikiran.

Patah hatinya tersembunyi dan kesengsaraan benar benar telah menghancurkannya dengan penyesalan yang sangat. Murung ia duduk sendirian ditepi danau dan mulai melemparkan batu ke dalamnya. Semua pemandangan damai dan suara yang menenangkan hanya berdampak buruk  baginya … perasaan lapar sedikit demi sedikit mulai mempengaruhi tubuhnya… ia tidak pernah berpuasa sebelumnya selama hidupnya. Apalagi ia mempunyai kebiasaan makan setiap 2 jam sekali, ini membuatnya lebih merasa kelaparan lagi. Ia menyadari bahwa sangat sulit baginya untuk berpuasa, tapi tekadnya kuat dan juga ada kesadaran dalam dirinya bahwa ia ingin menghukum dirinya atas perbuatannya pada Jodha.

Di tengah kesepian jiwanya… disuasana tenang dan damai nya danau telah membawanya kembali kemasa lalu… ia teringat ketika Jodha berpuasa setelah pernikahan mereka untuk menghukum kanha selama 3 hari tanpa air dan makanan hanya untuk menghukum dewanya dengan cara menghukum dirinya sendiri. Wajah ilahi yang lugu pun terbayang di depan matanya… perlahan masa lalunya mulai mendatangi fikirannya … ia ingat kekejamannya, pada hari ketiga puasa, ia membuatnya masak untuk seratus orang. Lalu ia Mengingat kejadian  mengerikan ini, saat Ia sendiri telah merasa seperti monster  ketika ia mencoba untuk memaksa dirinya pada diri Jodha karna ia telah terbutakan oleh nafsu yang disebabkan karna kecantikan Jodha.

Berfikir tentang tindakan mengerikan dan kejam yang sudah ia lakukan membuatnya merasa menggigil di sumsum tulang belakangnya. Di paksanya otaknya untuk menghapus  semua peristiwa  mengerikan itu… tapi semua kenangan pahit dan perbuatan jahat yang mengerikan itu tetap saja datang kedalam bayangannya… bgaimana cara jahatnya untuk menikahinya, bagaimana ia telah menghinanya berkali kali di depan orang banyak untuk menyembunyikan emosi dan perasaannya sendiri untuknya. Akhirnya kata katanya sendiri bergema keras memekakkan telinganya dan membuat jantungnya berdebar P***c*r ,,… kata ini telah benar benar membuat tenggorokannya tercekat

Dalam penyesalan dan rasa malu tubuhnya bergetar dan berkeringat. Tenggorokannya serasa tercekik dan tersedak dengan rasa bersalah.  Ia lalu berteriak dengan sangat keras  “Jodhaaa… sehingga membuat seluruh danau bergetar dengan gaung gema suara teriakkannya. Dia merasa seperti ia ingin menghilangkan perasaan yang mengerikan ini…. Jalal berlari dan terus berlari sampai ia benar benar kehabisan energy dan seluruh nafasnya. Ia lalu menangis dan menangis dengan keras, matanya akhirnya bisa mengeluarkan air mata yang mengalirkan semua kesedihan yang mencekik tenggorokannya. Seluruh hutan pun ikut menangis menyaksikan kondisinya yang sangat rentan. Hati dan fikirannya Jalal di tawan oleh rasa sakitnya. Dia merasa sangat lemah baik secara fisik maupun mental  karena rasa bersalah dan rasa laparnya.



FF - Is It Hate or Love Chapter 28  Part 1

3 comments:

  1. Jodha trauma berat nih. Jalal harus berusaha meyakinkan jodha,, gooooo Jalallll, jangan sampai dia pergi.. Lanjut minnnn..!!!!!

    ReplyDelete
  2. Sediiiih amat, berjuanglah Jalal dan berubahlah smg Jodha bisa menerimahmu lg, semangat mbak

    ReplyDelete
  3. Sediiiih amat, berjuanglah Jalal dan berubahlah smg Jodha bisa menerimahmu lg, semangat mbak

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.