FF – Is It Hate or Love Chapter 29 Part 2 - ChusNiAnTi

FF – Is It Hate or Love Chapter 29 Part 2


Written by Bhavini Shah
Translate by Arum Chusnianti

Jalal benar-benar marah dan terkejut pada apa yang dikatakan Rukaiya... untuk pertama kalinya dia berdiri melawan keputusan Jalal di pengadilan... Jodha memperhatikan Jalal kehilangan kesabaran-nya dan kontrol... Dia menggenggam tangannya untuk menenangkan dia... dan membuat dia menyadari bahwa dia ada di pengadilan...

Jalal kembali menatap Jodha sedih... Melalui ekspresi matanya, Jodha meminta Jalal supaya tenang.

Jalal menghembuskan napas dan mengendalikan amarahnya dan menanggapi dengan nada keras, “Rukaiya Begum, izinkan aku menanyakan sesuatu... Bayangkan bahwa kau dan Jodha begum keluar untuk berbelanja dan kau berdua menyukai perhiasan yang sama dan pemilik toko meminta uang ganda untuk perhiasan yang sama dari Kau daripada Jodha begum hanya karena Kau Mughal. Katakan padaku bagaimana Kau akan merasa dan apa yang akan Kau lakukan?”

Rukaiya dengan kesal menjawab, “Shahenshah... Mereka ada logika dalam contoh ini. Sehingga aku akan marah dan merasa marah. Langsung aku akan memesan untuk memotong tangan pemilik toko itu.”

Jalal tersenyum dan menatap Atghah Shahib, “Di saltanant ini, kita meminta orang-orang hindu membayar pajak?”

Agdha tahu maksud Jalal. Dengan tersenyum ia menjawab, “Ya Yang Mulia...  Orang-orang Hindu harus membayar pajak ganda daripada orang-orang Mughal.”

Jalal memandang Ruks dan tersenyum, “Jadi Rukaiya begum... ceritakan bahkan setelah membayar pajak ganda anak-anak mu tidak dapat bermain di Taman dan tidak dapat menghadiri sekolah, bagaimana perasaanmu? Kau akan dapat menghormati raja sultanat?? Kau akan mampu menerima dia dengan sepenuh hati? Berpikirlah jika kau adalah orang hindu, bagaimana perasaanmu dengan ketidakadilan ini?” Jalal  diam sejenak dan melihat orang-orang disekelilingnya dan berbicara dengan lebih keras.

“Aku ingin semua orang ingat... Aku raja saltanat ini dan bagiku setiap manusia yang di saltanat ini sama dan ya aku akui, aku telah membuat banyak kesalahan di masa lalu... tetapi aku telah belajar dari kesalahan-kesalahanku... Aku tidak akan menangis untuk apa yang aku lakukan di masa lalu tetapi perlahan-lahan dan mantap, aku akan memperbaiki kesalahanku... Aku ingin cinta dari semua umat Hindu dan semua Mogul... setiap orang yang tinggal di sultanatku... Aku ingin untuk bersikap adil terhadap semua dari mereka...” Suara keras nya menggema lagi.

Rukaiya terkejut dengan perubahan Jalal... Dia tidak  bisa lagi mendebat Jalal...

Jalal akhirnya melihat semua orang dan bertanya “Siapa yang memiliki masalah dengan pengumumanku...”

Dengan sinis Adham menjawab, “Aku Yang Mulia. Kau adalah raja kesultanan ini dan ketupusanmu adalah keputusan akhir, tapi aku ingin tahu apa yang membuatmu tiba-tiba berubah pikiran? Apakah Hindu atau Mughal?”

Mata Maham langsung melotot setelah mendengar ucapan bodoh putranya terhadap Jalal.

Jalal memandangnya dengan marah tetapi dengan nada nya pasif dia bertanya “apa pendapatmu Adham...? Apa yang ada di balik itu... dan siapa yang di balik itu? “

Maham berdoa dalam hati... berharap Adham tidak menanggapi pertanyaan ini...

Tetapi Adham dengan bodohnya menjawab, “Shahenshah, semua orang disini tahu, kau telah terpesona oleh kecantikannya... tingkah lakunya telah menunjukkan siapa dia sesungguhnya... Akhirnya dia membuktikan bahwa dia adalah manusia rendahan... Sejak hari dimana dia menginjakkan kakinya di Agra...” kemudian Adham menunjuk pada Jodha.

Sebelum dia bisa berkata lebih banyak...Jalal bangun dari takhta dan berteriak marah, “Adham...” Darahnya mendidih... Pedangnya haus akan darah Adham... Matanya memerah karena marah... Jalal langsung mengeluarkan pedangnya dan berteriak di persidangan, “Beraninya kau... kau bajingan... Aku tidak akan membiarkanmu...” Jalal berlari ke arah Adham seperti Singa yang siap menerkam mangsanya... tapi sebelum dia bisa menyerang, Maham datang di antara mereka... ia tahu, Jalal akan membunuh Adham... karena Adham telah melewati batas...

Suasa di pengadilan berubah menjadi mencekam... banyak dari mereka menggigil ketakutan... Mereka sumua bangkit dari kursi mereka... Tidak ada yang berani untuk menghentikan Jalal... Kemarahannya benar-benar sudah memuncak... Tanpa sadar ia sudah mendorong Maham ke sisi lain... Jalal mengangkat pedangnya untuk membunuh Adham, tapi sebelum dia membunuhnya... Maham meraih kaki Jalal dan menangis dengan keras... dan dia memohon supaya Jalal membiarkan Adham hidup... Dan itulah kelemahan  Jalal... Melihat air mata badi amminya, Jalal kembali tersadar dan mengendalikan kemarahannya...

Ia menatap Adham dan berkata, “Ini adalah terakhir kalinya aku memaafkanmu dan menyelamatkan hidupmu... Ingat, kau masih hidup hari ini hanya karena Badi Ammi... Jika tidak, maka tidak akan ada yang bisa menyelamatkanmu dariku...”

Lalu ia memandang Atgah sahib dan memerintahkan “Ambil semua kekuasaan dari Adham... Aku tidak ingin melihatnya dalam DWK sekali lagi... Dia tidak pantas untuk melayani di pengadilanku...”

Adham memandang Maham dan Jalal dengan kemarahan kemudian dan berjalan keluar dari pengadilan...

Jalal kembali ke kursinya dan dalam kemarahan ia ditujukan ke semua orang ia berkata, “Aku pemimpin saltanat ini dan itu adalah tanggung jawabku untuk melihat apakah orang-orang bahagia dan merasa adil di bawah administrasi... Apa yang aku lihat, kalian tidak melihat saat ini... Dan aku tidak peduli apa yang orang lain pikirkan... Ya aku mengakui bahwa aku sangat ambisius... Aku ingin memperoleh seluruh Hindustan tetapi jika riyayaku membenciku, maka aku tidak melihat bagaimana aku dapat memenuhi impianku... Aku ingin memenuhi impian aku tetapi tidak dengan cara yang tidak adil... “ Dia berhenti sejenak dan melanjutkan dengan nada tegas dan keras “maju setiap administrator dari posisi yang lebih tinggi akan ditempati oleh aku hanya... Aku ingin melihat aku darbaar(court) yang sama dipenuhi berbakat Hindu dan Muslim... Aku sepenuhnya menyadari bahwa keputusan aku akan menciptakan antagonisme oleh Mogul... Aku siap untuk menghadapi konsekuensi... tapi aku ingin memiliki aturan & peraturan adil bagi semua orang... Aku ingin untuk mempekerjakan orang-orang yang paling berbakat untuk menjalankan negara ini...” Akhirnya dengan keras ia berkata “Aku sedang meminta kepada semua orang, yang tidak setuju dengan istilahku, dapat mengundurkan diri dan meninggalkan lapangan ini sekarang... Tidak ada tindakan akan diambil terhadap mereka... Tetapi jika Kau bekerja untukku, daripada aku ingin semua orang untuk mengikuti pesananku dengan hati mereka... Aku menghormati setiap satu saran dan pendapat selama adil dan untuk kemajuan riyaya... INI ADALAH KEPUTUSAN AKHIRKU... AKU TIDAK AKAN MENGUBAH PENGUMUMANKU... AKU INGIN SEMUA ORANG UNTUK MENGIKUTI KEPUTUSANKU SEGERA...” Kemudian dia ditangguhkan pengadilan dan berjalan keluar dari sana dengan rahmat tetapi marah, yang diikuti oleh kesedihan yang mendalam...

Jalal berdiri di ruang Jharokha (kaca), ia memikirkan semua pendapat saat di Diwan E Khaas... Hampir semua orang di pengadilan melawan keputusannya, termasuk Ruks... Ia ingat wajah Badi Amminya yang tak berdaya, terkejut dan stres... Padahal sebelumnya ia sangat bersemangat sebelum DWK.. dan sekarang semua kebahagiannya menghilang.. tapi semua orang tampak melawan Jalal... Jalal saar bahwa seluruh istananya hanya dipenuhi Mogul... dan mereka semua memiliki satu suara, rasisme. Apalagi Adham dan Ruks yang semakin menyalakan api ke dalamnya... sehingga Jalal merasa marah dan kecewa dalam waktu bersamaan.

Seorang penjaga istana masih saat Jalal masih hanyut dalam pikirannya. Penjaga itu berrkata, “Shahenshah, begum...” sebelum dia bisa menyelesaikan ucapannya, Jalal menyela, “Aku tidak ingin bertemu orang lain saat ini...”

Penjaga itu pun keluar dan menyampaikan pesan Jalal kepada Jodha.

Perlahan dan dengan hati-hati Jodha masuk ke kamar Jalal... Jalal yang masih berdiri di depan Jendela, ia menarik nafasnya dalam-dalam saat mendengar suara Zulfan... tanpa menoleh pun tahu bahwa yang masuk adalah Jodha... Jalal berubah menjadi sedikit tenang saat mendengar suara Zulfan Jodha...

Tanpa memandangnya, Jalal berkata, “Mengapa kau masuk bahkan setelah aku berkata tidak.” Kemudian Jalal berbalik dan melihatnya...

Jodha mendengar suara Jalal yang begitu serius dan tidak menjengkelkan. Jodha segera tersadar bahwa Jalal benar-benar membutuhkan dukungannya. Semua orang di pengadilan melawannya. Untuk menghibur suada hatinya, Jodha menatapnya secara intens dan mendekatinya kemudian melingkarkan tangannya ke leher Jalal, “Aku tidak membutuhkan izin untuk memasuki kamar suamiku.”

Jalal balas menggoda Jodha, “Sebenarnya aku tidak masalah.... Ratu tercintaku bisa datang kapan saja dia ingin, tetapi kau mungkin tidak ingin melihat aku sedang memeluk begum lain seperti ini.”

Mendengar ucapannya, Jodha langsung mundur dua langkah. Ia menjadi marah karena cemburu, “Aku pikir kau benar-benar membutuhkan privasi saat ini... Aku pergi...” Kemudian Jodha berjalan ke arah pintu dengan cemberut dan marah, tapi sebelum ia sampai ke pintu, Jalal menariknya dengan cepat... Tubuh Jodha terbentur dada Jalal, seketika itu juga Jalal melingkarkan tangannya di sekitar pinggang Jodha.

Jodha menatap Jalal dengan jengah, “Shahenshah, biarkan aku pergi... Kau bisa bersenang-senang dengan begum khususmu.”

Jalal tertawa melihat reaksinya, “Hmmm... jadi aku Junglee billi cemburu... Sebenarnya semua ratuku iri padamu... dan kau cemburu pada mereka.”

Jodha semakin kesal melihat Jalal tertawa, “Biarkan aku pergi... Dan apapun yang kau ucapakan, tidak memberikan perbedaan apapun bagimu dengan apa yang telah kau lakukan bersama ratumu yang lain.”

Jalal senang melihat Jodha yang marah dan cemburu. Ini sangat memuaskan perasaannya, yang menandakan bahwa Jodha sangat mencintainya bahkan tidak bisa mendengar nama begumnya yang lain. Jalal terus menggoda Jodha, “Oh jadi... Kau mengatakan bahwa itu  tidak membuat perbedaan untukmu... hmmm lalu mengapa hidungmu merah dan bengkak?” Dan Jalal menarik hidung Jodha dengan gemas.

Jodha benar-benar kesal, “Oh... sebelumnya kau memuji kecantikanku dan sekarang kau memiliki masalah dengan hidungku juga..” Jodha mendorong Jalal dan mencoba untuk melepaskan diri dari cengkeraman Jalal.

Jalal sangat menikmati Jodha yang saat ini cemburu. Dia tersenyum dan menjawab dalam nada menggoda, “Mengapa aku harus membiarkanmu pergi... Kau mengatakan bahwa aku suamimu jadi aku juga punya hak padamu juga...” Kemudian Jalal berbisik, “Aku bisa dekat denganmu kapan saja...”

Kemarahan Jodha masih belum reda dan godaan Jalal semakin membuatnya kesal, “Ya, sebagai seorang suami, kau memang benar, tapi jangan lupa bahwa kau kehilangan hal itu. Kau memiliki banyak ratu, lalu mengapa kau tidak pergi kepada mereka...”

Ucapan Jodha telah membuat ego Jalal terluka. Dengan nada yang tak kalah kesal ia menimpali, “Jodha, pikirkan dua kali  sebelum kau berbicara... Setelah aku meninggalkanmu maka kau tidak akan memiliki apa-apa lagi selain penyesalan.”

Tanpa berpikir Jodha langsung menjawab, “Oh... sekarang kau mengancamku... tapi aku tidak takut pada siapapun... Tentu saja, mari kita lihat siapa yang akan menyesal.” Ucap Jodha menantang.

Dengan sedih Jalal melepaskan genggamannya dari pinggang Jodha... Kemudian dia meraih tangan Jodha dengan lembut dan dengan sedih ia berkata, “Baiklah Jodha begum, seperti yang kau inginkan... Aku melepaskanmu dari diriku sendiri... Mungkin keberadaanku tidak berarti untukmu lagi tapi kau lebih penting daripada kehidupanku sendiri.”



FF – Is It Hate or Love Chapter 29 Part 2

2 comments:

  1. seharusnya memerintah dgn adil jalal smg baik2 hub.nya dgn Jodha

    ReplyDelete
  2. seharusnya memerintah dgn adil jalal smg baik2 hub.nya dgn Jodha

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.