FF – Is It Hate or Love Chapter 30 Part 1 - ChusNiAnTi

FF – Is It Hate or Love Chapter 30 Part 1


Written by Bhavini Shah
Translate by Tyas Herawati Wardani

Jalan pikiran Jalal
Kenapa perasaanku terluka karena Jodha? Bukankah kadang aku juga meragukan Badi Ammi (Ibu angkat)?

Lalu, kenapa aku kecewa, ketika Jodha mempertanyakannya... Dia punya alasan kuat meragukan Ibu angkat, dia benar atas kedua hal itu... Aku juga dulu pernah mencurigai Ibu angkat, bukan hanya sekali tapi juga sering namun aku tidak pernah memiliki cukup bukti untuk menentangnya... dan Ya, aku punya keyakinan kuat atas kecurigaanku pada Ibu angkat pada saat-saat itu... aku sudah berusaha menyelidiki siapa yang bersekongkol melawan Jodha... Siapa yang menulis surat itu untuk Sujamal...?? Untuk hal itu aku langsung mencurigai Ibu angkat... Dialah satu-satunya orang pertama yang menerima semua surat tapi surat yang ditulis tangan bukanlah kebiasaannya... Orang lain yang menulis surat itu... Secara bersamaan, semua penjaga gerbang menghilang dan tewas sebelum tertangkap.... Siapapun yang berkonspirasi, melenyapkan semua bukti dengan akurat... Saat tengah malam Ibu angkat yang memberitahuku perihal Jodha yang keluar istana... dan caranya meracuni pikiranku untuk tidak mempercayai Jodha lagi... Aku tidak akan melupakan hal itu Ratu Jodha... tapi aku tidak bisa menghukumnya begitu saja tanpa ada bukti yang cukup kuat.
Aku juga penasaran pada malam saat aku tidak sadarkan diri, aku tidak ingin kau mengkhawatirkanku jadi aku menyimpannya sendiri... Yang pertama kucurigai adalah Ratu Ruqaiya karena dialah yang selalu bertentangan denganmu, tapi beberapa hari kemudian saat aku bertanya padanya tentang malam itu... aku menyadari kalau dia juga sama terkejutnya saat tiba-tiba aku tak sadarkan diri... Dia mencium nafasku dan menurutnya aku telah diberi minuman herbal yang menyebabkan pingsan... Tabib juga menyebutkan jenis ramuan herbal yang sama yang digunakan bila seseorang mengalami luka berat dan Ibu angkat pernah meminta ramuan tersebut. Aku langsung menemui Ibu angkat dan menanyainya, kenapa dia membutuhkan ramuan itu... Dia mengajakku ke penjara dan menunjukkan bukti kalau dia memberikan ramuan itu pada tahanan yang terluka karena telah disiksa Adham. Sekali lagi dia membuktikan dirinya tak bersalah dan membuktikan juga bahwa kecurigaanku salah tapi tetap saja sulit untuk percaya karena dia bukanlah orang berhati baik apalagi pada para tahanan.. Dia cukup kejam pada para kriminal dan tahanan.

Pikiranku sudah meragukan niatnya yang sebenarnya berkali-kali... dikarenakan ambisinya yang kuat akan kekuasaan dan jabatan, aku mengetahui dia pernah melakukan kejahatan yang tak terampuni, aku punya kecurigaan yang kuat padanya ketika Khan Baba terbunuh... Awalnya dia mempermainkan pikiranku dalam hal politik dan memunculkan perselisihan antara aku dan Behram Khan Baba.... aku melukai perasaan dan kepercayaannya padaku dengan menghunuskan pedangku padanya. Seketika itu juga dia berbalik dan meninggalkan diriku bahkan meski aku memohon padanya untuk tidak pergi. Perlahan-lahan Ibu angkat meracuni pikiranku dengan menghasut bahwa Khan Baba adalah satu-satunya orang yang mengatur seluruh Sultanat dan gejolak jiwa mudaku menuntut untuk membebaskan diriku dari pengaruhnya. Bagaimana aku dipermainkan dan dimanipulasi, aku tidak memahaminya saat itu tapi sekarang aku bisa melihatnya dengan jelas apa yang terjadi pada masa lalu. Bahkan sekarang aku mulai mencium adanya konspirasi dibalik kematiannya... tapi lagi-lagi tidak ada bukti... dan aku sangat dikuasai oleh kasih sayangnya... Untuk menyembunyikan kesalahan Adham dia mengatur banyak permainan dan kebohongan... aku tidak mempedulikan itu semua... Pikiranku selalu memperingatkanku pada kebaikan dan juga kadang niat jahatnya... Bahkan hari ini di Diwan E Khaas... aku melihat raut wajahnya, dia kecewa dan marah atas pengumuman itu... dan begitu aku menemuinya hari ini, tingkah lakunya sangat berbeda.... dia bisa menjadi orang yang baik dan kejam pada saat bersamaan... aku tahu sekali, dia membenci Hindu dan terutama Jodha...

Ratu Jodha, aku tahu kau tidak keliru tapi hatiku tidak terima jika ada orang lain yang menuduh Ibu angkat... Di dalam hatiku aku percaya dia tidak akan mengkhianati kepercayaanku... dan dia tidak akan menyakitiku. Dia bisa memanipulasiku untuk mendapatkan kekuasaan tapi aku yakin, hatinya menyayangiku... Dia menyayangiku lebih dari putranya sendiri. Pengorbanannya untukku lebih tak ternilai daripada kecurigaan ini. Dia akan selalu mendukungku kapanpun aku membutuhkannya.

Seperti biasa, dia meyakinkan perasaannya sendiri bahwa Ibu angkat menyayanginya dan tidak akan pernah mengkhianatinya.

Kegalauan hati Jodha
Jodha terkejut dengan tingkah laku Jalal... Dia tidak pernah menduga Jalal membandingkan Ratu Hamida dan Maham... dan dia lebih menyayangi Maham... Tanpa dia sadari, dia telah melukai perasaan Jalal dengan sangat dalam... Dia menuduh orang yang paling dihormatinya... apakah pendapatku tentang Maham salah? benarkah salah? Kenapa aku selalu merasa dia punya niat jahat... Apakah karena dia tidak menyukaiku... Benarkah aku sudah punya pikiran buruk terhadapnya... Mungkin Shahenshah benar... seharusnya aku tidak menuduhnya tanpa bukti yang kuat...

Perubahan perlakuan Jalal pada Ratu Hamida dan pertentangan batinnya

Ketika berjalan menuju Diwan E Khaas,  Jalal melihat Hamida banu sedang duduk di bangku terlihat damai sambil menutup mata... Wajahnya memancarkan kelembutan... Sinar matahari membuat wajahnya bersinar... secara otomatis langkahnya terhenti melihatnya, dia terpana... Jalal belum pernah melihat Ibunya bersantai seperti ini... Dia selalu melihatnya berjalan kesana kemari menyelesaikan tugas-tugasnya... daftar tugas Ibunya kadang lebih banyak dari daftar tugasnya sendiri... Dia bukan hanya terlibat dalam bidang politik namun juga membantu Ruqaiya di harem. Prioritas utamanya adalah pekerjaan sosial, setelah Jalal mengambil alih... Dialah orang pertama yang menemukan tentang bagaimana gadis yang masih muda dibawah usia 14 tahun dipaksa menikah dengan orang yang lebih tua meski berlawanan dengan keinginan mereka... Dia tetap berkeras di Diwan E Khaas agar dibuat peraturan untuk menentang tindakan brutal itu terhadap gadis muda. Dia tidak pernah menyebutkan kalau dirinya sendiri juga menikah pada usia yang sangat muda yaitu 12 tahun dengan pria berusia 32 tahun (Humayun).... Dia tidak pernah menunjukkan kesepiannya dan sakitnya pada siapapun.

Jalal tidak pernah menghargai secara langsung semua kerja kerasnya tapi dia selalu yakin Ibunya mengabdikan hidupnya demi Sultanat... Dia tahu, Ibunya sering bekerja hingga larut malam dan bangun pagi-pagi sekali keesokan harinya... Dia tidak pernah melihatnya melakukan sesuatu untuk kesenangannya sendiri...  Saat Jalal melihatnya menikmati sinar matahari pada hari ini, senyum kecil tiba-tiba tersungging di bibirnya... Dia berdiri di sana dan memandang kedamaian di wajah Ibunya, untuk yang pertama kalinya dia mengaguminya...

Selama memandangnya, dia tenggelam dalam pikirannya. Dia menyadari bagaimana sedikit demi sedikit segalanya berubah sejak Jodha hadir dalam hidupnya... Mendadak pandangan hidupnya berubah dan sekarang dia bisa melihat semuanya dengan lebih jelas... Kepercayaan penuh Hamida pada Jodha adalah salah satu alasan Jalal yang membuatnya merasa lebih dekat dengannya daripada sebelumnya. Sedikit demi sedikit dia mulai tidak bergantung pada Maham, dan mulai lebih dekat dengan Ibunya. Kesadaran datang bersamaan dengan perasaan yang terpendam... Dia pikir... Aku selalu menjaga jarak dengan Ibuku namun kenapa hari ini... sesuatu menariknya ke arahnya, aku sering berpikir Ibuku tidak mencintaiku dan dia mengabaikan aku... tapi aku tidak tahu kenapa dan kapan, aku mulai membandingkannya dengan Ibu angkat... Perlahan-lahan aku mengobati kepahitan hatiku terhadap Ibu...  Hal itu selalu melukai hatiku, dia mendahulukan tugas-tugasnya daripada putranya sendiri... tapi ternyata semua yang dilakukannya benar... Dulu aku selalu merasa kalau dia sangat egois namun pendapatku telah berubah.... sekarang aku bisa memahami pengorbanannya... cintanya... Cara pandangku pada semua hal telah berbeda dan sangat jelas... Aku bisa merasa, dia bukan orang yang memikirkan dirinya sendiri... yang telah mengorbankan perasaan keibuannya... menerima kebencian putranya demi kebaikan mereka... aku masih ingat tatapannya yang putus asa... ketika dia harus meninggalkan istana dan kami selama berminggu-minggu. Dia selalu harus memilih antara anak-anaknya dan kewajibannya pada Sultanat... aku tidak pernah memberinya penghargaan yang pantas diterimanya...

Jalal mengingat dengan jelas kekhawatiran dan perhatiannya saat dia terluka... kemudian dia ingat wajah gembiranya yan penuh air mata di Diwan E Khaas tadi pagi... Bagaimana dia terlihat sangat bersyukur atas peraturan yang baru diputuskannya.... Dia belum pernah melihat ekspresinya yang penuh perasaan sebelumnya... Caranya menikmati waktunya seakan dia menarik diri dari semua tugasnya... Tiba-tiba dia rindu pelukan dan ingin untuk merasakan kasih sayang ibunya... Secara tak terduga dia mendambakan kehangatan kasih dari seorang ibu...

Murni... seakan mengandung magnet.... hatinya bergerak ke arah ibunya... Dia berjalan sangat pelan mendekati bangku ... Dia tersenyum penuh perasaan memandang ibunya yang begitu terhanyut dalam mimpinya... Tanpa suara dia duduk di depan ibunya dengan lutut tertekuk bersimpuh di lantai... Tidak mungkin baginya mengungkapkan perasaannya tiba-tiba. Perlahan dengan lembut dia merebahkan kepalanya di pangkuan ibunya seperti anak kecil dan meletakkan tangan memeluk kakinya...

Karena terkejut Hamida membuka matanya... dan dengan pandangan sekilas, dia melihat kepala putranya di pangkuannya... Melihat hal yang tak pernah diduganya, momen yang sangat indah, jantungnya berdetak lebih cepat... Pada saat bersamaan dia menahan napas mencoba untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi... Ini benar-benar kejutan luar biasa baginya, air mata haru turun mengaliri pipinya... Dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa... apa yang akan dilakukannya... dia merasa sangat tersanjung atas kehangatan sikap Jalal...

Perlahan, dia meletakkan tangan di kepalanya dan mulai mengusap lembut rambutnya... dia sangat menantikan saat-saat seperti ini selama bertahun-tahun... perasaannya sebagai seorang ibu yang merindukan perhatian putranya mulai tumbuh lagi... Dia tidak pernah mengharapkan kasih sayang dari putranya... Dia tidak pernah berharap, bahkan dalam mimpinya sekalipun bahwa putranya akan mendatanginya dengan cara seperti ini... Dia sudah merasa jika putranya mulai menghormatinya namun dia tidak bermimpi untuk mendapatkan kasih sayangnya... Pelan-pelan dia mengangkat wajah Jalal untuk memandang kedalaman matanya... Keduanya saling menatap dengan penuh kasih... dia melihat putra kecilnya yang telah lama hilang di dalam mata itu... yang sangat merindukan kehadiran ibunya selama bertahun-tahun... tatapannya menggetarkan hatinya. Kesepiannya seketika hilang berganti dengan saat-saat penuh kegembiraan.... Sebenarnya dia jauh lebih kesepian dari Jalal... Dia kehilangan suaminya bertahun-tahun lalu dan tanggungjawabnya menjauhkan dirinya dari putra tersayangnya... Namun dia menerima semuanya sebagai takdirnya...

Akhirnya Jalal memecah kesunyian diantara mereka dan dengan suara berat penuh emosi dia bertanya “Ibu, kau baik-baik saja?”

Hamida menanggapinya juga dengan nada sentimental “Aku tidak tahu... aku sangat gembira... Merasa seakan aku akan segera bangun dari mimpi indah ini dan aku akan ditinggal sendirian lagi... Sungguh sulit dipercaya putraku bersimpuh di pangkuanku.... Tuhan memberkatiku dengan luar biasa... aku tidak bisa mempercayainya...

Jalal menjawabnya dengan nada emosional “Ibu, kumohon maafkan aku, aku berharap seandainya aku bisa melihat dan mengerti apa yang kusadari hari ini lima belas tahun lalu... Sekarang semuanya jelas untukku dan aku baru menyadari pengorbananmu yang sangat besar untukku... aku tidak ingat... bagaimana... kapan... dan mengapa... aku sangat tidak berperasaan padamu... Perlahan aku menjauhkan diri darimu..”  Dua butir air mata jatuh dari kelopak mata Jalal.

Air mata Hamida mengalir tak terbendung... Dia mengusap air mata Jalal dengan lembut dan berkata... ”Jalal... Berjanjilah padaku kau takkan membenciku lagi... kau mungkin tidak menyadarinya tapi aku tidak ingin melihatnya di matamu... kebencianmu tidak pernah kau tunjukkan tapi aku benar-benar sendirian... Aku mengharap kasih sayangmu putraku... Berjanjilah kau takkan pernah meninggalkanku sendirian lagi”  Hamida memegang bahunya dan menariknya untuk duduk di sampingnya di atas bangku... Hamida mencium keningnya... penuh kehangatan Jalal  memeluk Ibunya dan berkata “Ibu, tanpa cintamu aku tidaklah sempurna dan selalu merasa kosong... aku membutuhkan lebih dari apapun di dunia ini...” Keduanya duduk berdampingan di bawah hangatnya sinar matahari dengan penuh kedamaian untuk waktu yang cukup lama... Perasaan mereka berdua terasa sangat dekat saat ini.

Beberapa menit kemudian, Jalal bertanya ingin tahu “Ibu, aku belum pernah melihatmu sangat tenang seperti ini... Pertama kalinya dalam hidupku aku melihatmu bersantai di sini seakan kau telah melepaskan semua bebanmu... Kau terlihat sangat tenang saat duduk di sini.”

Dengan senang hati Hamida menjawab “Kau benar putraku... Aku merasa tujuanku telah tercapai... Kau mungkin tidak menyadarinya... Apa yang kau lakukan hari ini di Diwan E Khaas... memberiku kebahagiaan tak terkira... Aku selalu melihat ada tujuan tersembunyi dari semua keputusanmu... tapi hari ini untuk pertama kalinya aku merasa senang memanggilmu Shahenshah E Hindustan... Kau telah membuatku bangga... Aku bahkan tidak pernah sekalipun berharap bahwa suatu hari kau akan berubah sedrastis ini... Apa yang kau umumkan hari ini jelas menunjukkan rasa perikemanusiaanmu terhadap rakyatmu... untuk pertama kalinya kau bersikap layaknya seorang ayah... dan betapa teguhnya pendirianmu memperingatkan orang-orang yang akan menentang keputusanmu... sekarang tidak akan ada lagi yang bisa memanipulasi pikiranmu... aku sangat bangga padamu putraku...” Mendapat dukungan penuh dari Ibunya, Jalal sangat gembira dan merasa sedikit malu... dengan tersipu Jalal menatap Ibunya dan berkata “Ibu, sudah waktunya untuk Diwan E Khaas... aku harus pergi... Salam...” Jalal berjalan menuju Diwan E Khaas... Hamida memandangnya dengan penuh perasaan...

Kemarahan Adham
Dengan penuh amarah Adham masuk ke kamar Maham... Darahnya seakan menididh... Matanya merah penuh amarah... Melihat kemarahannya yang membabi buta, Maham memerintahkan Resham dan pelayan lain untuk keluar dari kamarnya.

Maham bertanya khawatir “Adham... apa semua baik-baik saja?”

Tanpa bisa ditahan lagi, Adham langsung meluapkan kemarahannya dan berteriak dengan kencang pada Maham “Bagaimana bisa aku baik-baik saja??? Kau masih menanyakan keadaanku, bahkan setelah Jalal menghinaku di depan seluruh dewan? Bagaimana bisa aku baik-baik saja..? Lihat apa yang telah dilakukan putra kesayanganmu pada kita... apa yang sudah kau dapatkan setelah bekerja siang dan malam mengorbankan hidupmu untuknya??? Yang kudapatkan hanyalah rasa malu...dan Apa yang kauberikan padaku, Tidak Ada... Kau selalu lebih mencintainya daripada aku... Jalal selalu jadi prioritas utamamu... Aku tidak akan melepaskan Jalal dan Ratu Rajputnya... aku akan membunuh mereka dengan cara yang sangat kejam... dan menguasai Saltanat ini... mulai sekarang dia akan tahu siapa Adham...”



FF – Is It Hate or Love Chapter 30 Part 1

3 comments:

  1. Ngga sabar nunggu sampe akhirnya Ja bener2 melaksanakan kata2nya kemaham kalo si Adama masih berani macam2....heehee moga ngga lama ya nanda chus

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.