FF – Is It Hate or Love Chapter 30 Part 2 - ChusNiAnTi

FF – Is It Hate or Love Chapter 30 Part 2


Written by Bhavini Shah
Translate by Tyas Herawati Wardani

Mata Maham penuh air mata setelah mendengar kata-kata Adham yang penuh kepahitan... dia menjawab dengan nada sedih “Adham, kau sungguh berpikir aku tidak menyayangimu... Menurutmu kenapa aku selalu mendukung Jalal? Demi kau... agar kau mendapatkan rasa hormat dan jabatan yang tinggi... Menurutmu kenapa aku lebih mementingkan Jalal daripada dirimu... hanya karena dia tunduk padaku... Adham  kau adalah putraku dan aku menyayangimu melebihi hidupku sendiri...”

Kemarahan Adham semakin menjadi apalagi setelah melihat tangis di mata Maham... dia berteriak dengan kasar “Hentikan kepura-puraanmu di depanku... Kau bisa memainkan permainan manipulatif ini dengan putra tersayangmu Jalal... Aku tahu benar dirimu... kau orang paling egois dan wanita yang menjijikkan yang pernah kukenal... aku membencimu lebih dari kebencianku pada Jalal.”

Maham berbalik marah mendengar kata-kata Adham yang tidak hormat padanya “Kau menyebutku egois... dan penuh kebohongan... dan kau kira air mataku palsu... jadi dengarlah, air mataku... yang kau sebut hanya pura-pura, telah menyelamatkanmu hari ini... aku sudah bekerja sangat keras untuk mencapai posisi ini... aku juga sudah mencoba menjelaskannya padamu berulang-ulang kali... suatu hari kemarahanmu akan menghancurkan semuanya... kau bukan raja dan sayangnya kau juga tidak berotak, kau tidak tahu kapan saatnya kau bicara dan kapan saatnya kau menunjukkan amarahmu... karena kebodohanmu hari ini kau tidak menghasilkan apa-apa... keberadaanmu di Saltanat ini tidak dianggap penting lagi jadi jangan berteriak padaku... Aku tetaplah Vajir E Aliya... Saat kau tahu Jalal tergila-gila pada wanita Rajvanshi itu, kau tetap mengucapkan kata-kata kotor padanya di depan seluruh dewan... Bodohnya kau... Kau lebih buruk dari Javeda...”

Dengan kemarahan Adham berteriak bahkan lebih keras “Cukup omong kosongmu... Tutup mulut berbisamu itu... aku lelah dengan semua alasanmu setiap hari... akan kutunjukkan padamu siapa diriku! Kau akan menyesal... Sudah waktunya bertindak...” Adham mendorong Maham dengan kasar dan melangkah keluar dari kamar itu membawa seluruh kemarahannya.

Maham gemetar melihat kemarahan yang begitu besar... dia melihat kepergian Adham dari kamarnya dengan penuh tangisan.... dan berbisik memanggil Adham... Aku menyayangimu melebihi hidupku...

Konspirasi Adham
Setelah menutup pertemuan di Diwan E khaas, Jalal melangkah keluar... dengan perasaan tertekan... hatinya hancur melihat semua administrator Mughal bertentangan dengannya... Dia bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang besar yang akan terjadi dan dia berpikir bahwa konspirasi besar-besaran untuk melawannya adalah hasil akhirnya... Dia merencanakan strategi menyusupkan seseorang dan dia sedang memilih nama-nama dalam pikirannya... Jalal terhanyut dalam pikirannya sendiri ketika berjalan menuju ruang senjata... untuk menemui pengawal pribadinya... saat itulah Abdul datang berlari ke arahnya... Menangkap kekhawatiran di wajahnya Jalal bertanya “Abdul, ada apa.... kenapa kau kelihatan tertekan?”

Dengan ekspresi yang sangat serius dia menjawab “Shahenshah... Ada masalah yang sangat serius dan berbahaya... Mata-mata kita punya informasi kalau Adham berkonspirasi untuk membunuhmu... dan menurut informasi itu juga dia berencana akan menyerangmu malam ini. Tapi yang mengejutkan dia bahkan tahu rencana rahasiamu, bahwa kau akan mengunjungi warga desa dengan menyamar... dan saat kau akan menyeberangi sungai, saat itulah dia berencana menyerangmu dengan beberapa pengawalnya... Sebaiknya kau membatalkan rencanamu malam ini...”

Mata Jalal melebar penuh amarah... Dia menarik napas dalam-dalam dan dengan marah berkata “Aku tidak percaya jika Adham bisa bertindak serendah indah... Aku selalu memperlakukannya seperti saudaraku sendiri tapi dia tidak layak untuk dihormati... Cukup... Aku tidak akan membiarkannya begitu saja kali ini...” Dia menggertakkan giginya menahan amarah... Beberapa saat kemudian dia bertanya pada Abdul “Berapa banyak orang yang tahu tentang rencana pribadiku??”
Abdul menjawab “Sangat sedikit, Shahenshah... Ibu angkat... Atgha Shahib... Shariffudin... dan aku... Apa kau memberitahu orang lain lagi tentang rencanamu malam ini??”

“Tidak, aku bahkan belum memberitahu Ratu Jodha... Ini rencana yang tiba-tiba dan aku baru memikirkannya beberapa saat yang lalu... jadi bagaimana dia sudah tahu informasi ini...”

“Shahenshah... apakah mungkin Ibu angkat???” Abdul dengan ragu berkata.

“Aku tidak punya dugaan apa-apa sekarang tapi mari kita fokus pada rencana untuk menangkap  basah dirinya... Pertama aku tidak bisa mempercayai siapapun disini sekarang... mungkin saja salah satu pengawal atau menteri juga terlibat hal ini... Jadi pertama kita harus tahu berapa banyak prajurit yang benar-benar bisa dipercaya... kita butuh sedikitnya empat puluh prajurit terpercaya...”

Abdul menjawab “Shahenshah, aku bisa mengatur itu dengan mudah...”

Jalal memerintahkan Abdul “Dengar baik-baik Abdul... awalnya aku akan pergi sendirian lalu beberapa menit kemudian siapkan dua puluh prajurit di belakangku bersembunyi di semak-semak... Pastikan kau mengirim mereka diam-diam... kalau tidak Adham akan mengubah rencananya... Mereka tidak akan menyerangku hingga aku sudah naik perahu... Jadi kirimkan seseorang dengan menyamar memakai jubahku.... dan aku akan bersembunyi di sana dan menunggu mereka menyerang... tapi pastikan prajurit yang naik perahu adalah perenang yang handal dan memakai semua pelindung badannya... Ketika mereka menyerang perahu kita akan menyerang mereka dari belakang dan akan kutangkap Adham dengan mudah.”

Dengan penuh konsentrasi, Abdul menjawab...”Shahenshah... kurasa kau mengambil resiiko yang sangat besar.. .seharusnya kau tidak pergi dan biarkan orang lain yang menjalankan rencana ini.”

Dengan suara tertahan Jalal menjawab...”Abdul, sangat penting bagiku untuk menangkap basah Adham... Jika masalah ini juga melibatkan orang lain bukan Adham maka aku akan mendengarkan saranmu...”

Jalal melompat ke atas kudanya dan berderap keluar istana menuju ke arah sungai... Abdul pergi untuk menyiapkan prajurit-prajurit yang akan dikirim untuk melindungi Jalal secara diam-diam.

Saat itu menunjukkan pukul 5 sore... Jodha ingin menemui Jalal, jadi dia berjalan ke arah Diwan E Khaas dan tanpa sengaja dia mendengar beberapa orang sedang berbicara dari dalam ruang senjata... Dia mendengar... Jalal akan segera mati hari ini bagaimanapun caranya... Terhenyak dan dengan wajah ketakutan dia berhenti untuk mendengar lebih jelas... Adham berbicara pada salah satu anak buahnya tentang rencananya membunuh Raja... Jodha mendengar semuanya dan saat mengintip ke dalam dia melihat Adham... Dia tak percaya Adham lah yang berkonspirasi melawan Jalal... Dia sangat ketakutan bahkan tidak mampu menggerakkan tubuhnya selama beberapa detik... Setelah beberapa saat dia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberaniannya dan mengendalikan dirinya. Kemudian Jodha berjalan dan berlalu dari tempat itu tanpa menimbulkan suara sama sekali....

Dia ingin segera memberitahu Jalal semuanya tentang konspirasi Adham untuk membunuhnya... dia berlari menuju ke Diwan E Khaas tapi tidak ada seorangpun disana... Dia bertanya pada salah satu Menteri dimana Shahenshah... Menteri itu memberitahu jika Shahenshah pergi keluar istana dan tidak akan kembali sampai besok. Jantungnya serasa berhenti berdetak... dia berlari ke arah pintu gerbang untuk menyusulnya... Jodha mencari Atgha Shahib... dan Abdul... keduanya juga pergi keluar istana... (Abdul baru saja pergi beberapa saat sebelumnya) Dia tidak tahu harus mempercayai siapa lagi untuk masalah ini. Informasi ini sangat rahasia dan dia tidak tahu siapa lagi yang terlibat di dalamnya... Dia juga baru diberitahu kalau Jalal baru saja pergi lima menit yang lalu. 

Prajurit Jalal sudah siap menjalankan misinya... Tiruan Jalal pun sudah meninggalkan istana segera setelah Jalal sendiri pergi...

Jodha berlari kembali ke kamarnya dan menceritakan semuanya pada Moti sambil berjalan, dia mengambil pedangnya, belati dan busur panahnya seraya berkata “Aku tidak bisa hanya duduk di sini khawatir dan menangis ketika nyawanya justru dalam bahaya, aku harus pergi dan memperingatkannya sendiri...” Tanpa membuang waktu lagi dia melangkah keluar kamar dan beberapa detik kemudian dia sudah melompat ke atas kudanya dan berderap keluar istana... Tujuannya adalah menyusul Jalal sebelum didahului Adham... Saat itu hampir senja... Matanya memancarkan kekuatan layaknya seorang prajurit yang gagah berani... Dia mengendari kudanya secepat mungkin... Darah Rajvanshi dalam tubuhnya mendidih... Untunglah dia tahu arah menuju sungai... Jodha berhasil mendahului prajurit Jalal...

Setelah melalui banyak persiapan mata-mata Adham melaporkan padanya tentang seluruh rencana Jalal... Adham mengirim 40 pengawalnya untuk menggagalkan rencana Jalal... Dia berencana menyerang prajurit Jalal sebelum mereka berhasil menyusulnya...

Jalal sudah tiba di pinggir sungai... dan menyuruh tiruan dirinya naik ke perahu... dia sendiri bersembunyi di balik pohon dan menunggu prajuritnya tiba...

Adham membawa dua puluh pengawal bersamanya untuk menyerang Jalal dengan melewati jalan pintas menuju sungai...

Jodha berada satu menit jauhnya dari sungai ketika dia mendengar suara derap kaki kuda datang dan bergerak menuju sungai... segera saja dia melompat turun dari kudanya dan menyembunyikan kuda serta dirinya sendiri di balik pohon... dan melihat Adham serta anak buahnya bergerak ke arah sungai... anak buah Adham berpakaian sama persis seperti pengawal Jalal hingga Jalal salah mengira yang datang adalah prajurit kepercayaannya.... Jalal menampakkan diri dan anak buah Adham menghunus pedang mereka mengepungnya.... Saat itulah Jalal baru menyadarinya... dia telah tekepung dan bersiap melawan mereka... Untuk mengendalikan situasi dia berkata “Aku memberi kalian satu kesempatan terakhir untuk pergi dari sini dan menyelamatkan nyawa kalian...”

Dari atas kudanya, Adham mendekati Jalal dan dengan nada marah berkata “Pikirkan nyawamu sendiri Jalal... aku akan membunuhmu hari ini...”

Jalal sudah terdesak... dia dikepung musuh-musuhnya... Melihat hal itu mata Jodha terbelalak ketakutan... Adham meneriakkan “Serang...”

Jalal bertarung melawan dua puluh prajurit seorang diri... dalam sekali serang dia berhasil membunuh empat diantaranya... Caranya melompat.. menendang... dan bergerak sangat mengagumkan... Pada masa itu tidak seorangpun yang bisa bertarung pedang sehebat Jalal... setengah dari hidupnya dihabiskan di medan perang... Dia menjadi ahli dalam pertarung pedang... Matanya diselimuti hasrat membunuh semua musuhnya... matanya menggelap dalam kemarahan.... pedangnya haus akan darah musuh-musuhnya... Kecepatan bergeraknya mampu menangkis semua serangan yang ditujukan ke arahnya... Seakan-akan dia terbang bersama pedangnya, bahkan sebelum musuhnya bisa menyerangnya dia sudah selangkah di depan menangkis serangan itu... caranya menyerang dan mempertahankan dirinya dengan pedangnya, membuat Jodha terpana... Dia belum pernah menyaksikan pertarungan pedang seperti ini... wajah Jalal menampakkan aura kejam yang sangat menakutkan... setiap kali dia membunuh dia mengaum seperti singa... ahhh... bahkan di saat genting seperti ini Jodha merasa bangga atas keberanian suaminya hingga senyum tipis terukir di wajahnya...

Adham yang pengecut memerintahkan anak buahnya untuk menyerang Jalal dari belakang... Jalal memutar tubuh dan mengayun pedangnya hingga berhasil melukai enam orang dalam waktu singkat... Geraman dan teriakannya saat menyerang membuat ciut nyali musuhnya... Tiba-tiba sekelompok orang menyerangnya bersamaan... Jalal dengan satu pedangnya berhasil menangkis namun posisinya semakin terdesak... Dia kehabisan tenaga... pedang musuhnya sangat dekat dengan lehernya... Hanya sekilas dia merasa akan segera mati...

Jodha sadar Jalal membutuhkannya... dengan cepat dia bergerak mendekati arena pertarungan, dia menyelinap di antara semak-semak dan mengarahkan busur panahnya pada mereka lalu menembakkan 5 anak panah sekaligus untuk menyelamatkan Jalal... Sekali serang dia berhasil membunuh lima prajurit... Di saat yang sama Jalal berhasil melukai tiga orang dan membebaskan dirinya... Adham dan Jalal keduanya menyadari ada seseorang di balik semak-semak... Adham menghentak kudanya untuk melihat siapa orang itu... Jodha sedang bersiap untuk serangan keduanya... Hanya tersisa lima prajurit... Jalal bertarung melawan mereka... Jodha menembakan anak panahnya lagi... Semua prajurit terkapar di tanah... Jodha tersenyum bangga. Hanya satu orang tersisa dan orang itu adalah Adham... Sekarang Jodha dan Jalal sama-sama melacak keberadaan Adham dari sudut mereka...

Sebelum mereka sempat berpikir lagi, Adham menarik keluar Jodha dari balik semak dan menyeretnya ke arena pertarungan... Jodha berteriak kesakitan... Adham menjambak rambutnya dengan kasar... mendengar suara Jodha... Jalal ketakutan... Sedetik kemudian dia sadar... Jodha lah yang telah menolongnya dari balik semak... Adham menahan Jodha dari belakang dengan menghunuskan belati di lehernya... Melihat Jodha ada di tangan Adham, jantung Jalal langsung berhenti berdetak... Matanya nampak ketakutan melihat kekasihnya di tangan Adham... Tubuh Adham yang besar dibandingkan tubuh kecil Jodha... Jodha berusaha melepaskan diri dari sekapannya namun usahanya sia-sia...

Jalal menggertakkan giginya dan berteriak kencang dalam kemarahan “Adham... Lepaskan Jodha... atau aku tidak akan melepaskanmu...”

Adham dengan licik berkata “Jangan coba-coba bergerak... atau aku tidak akan menunggu lama untuk membunuhnya...”

Jalal berdiri mematung... Melihat ketakutan Jalal dia tertawa keras seperti monster dan berkata mengejek “Ohhh... aku lupa kalau Jodha adalah hidupmu.... dan selama aku memilikinya tidak ada yang berani menyentuhku...”

Darah Rajvanshi Jodha mendidih, dia berkata dengan berani “Shahenshah... jangan pedulikan aku... penuhi kewajibanmu... kau ada di medan perang... angkat pedangmu dan bunuh pengkhianat ini...”

Mereka mendengar derap kaki kuda dalam jumlah banyak datang menuju ke arah mereka dengan cepat...

Adham tertawa lagi dan berkata “Lihatlah Jalal... Kematianmu sudah dekat...”

Jalal melihat Abdul dan merasa lega... Adham baru sadar ternyata semua anak buahnya sudah terbunuh... Seketika itu juga Adham panik berusaha menyelamatkan dirinya... Adham yang berbadan besar memanggul Jodha dan dengan mudahnya meletakkan tubuhnya ke atas kuda....

Dia naik ke kuda yang sama dan menahan tubuh Jodha kuat-kuat lalu menghentak kudanya dan berderap ke arah hutan...

Jalal menunggu Abdul selama tiga puluh detik karena kudanya sendiri dia letakkan agak jauh dari sungai... segera setelah Abdul sampai, Jalal mengambil alih kudanya dan berkata dengan terburu-buru serta khawatir “Aku akan menyelamatkan Jodha dari tangan Adham...”

Semua orang terkejut membayangkan bagaimana Adham bisa menahan Ratu Jodha... Jalal tidak punya waktu untuk menjelaskannya... Dia melesat dari tempat itu secepat kilat... lalu tepat di belakangnya Abdul dan para pengawalnya turut masuk ke dalam hutan mencari Ratu Jodha... Adham sangat mengenal hutan ini dan saat itu semakin gelap... Dalam hati Jalal sangat ketakutan... dia berdoa... Yah Allah selamatkan Jodha... dia mengikuti jejak yang sama yang ditinggalkan Adham... namun dalam beberapa menit Adham semakin jauh masuk ke dalam hutan yang lebat... dia telah membangun pondok rahasia di hutan ini yang tidak seorangpun tahu...

~~To Be Continued~~


FF – Is It Hate or Love Chapter 30 Part 2

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.