FF – Is It Hate or Love Chapter 30 Part 3 - ChusNiAnTi

FF – Is It Hate or Love Chapter 30 Part 3


Written by Bhavini Shah
Translate by Tyas Herawati Wardani

Selama perjalanan Jodha berjuang untuk membebaskan dirinya tapi sama sekali tidak berhasil...

Pada akhirnya dia sampai di pondoknya... Kemarahannya memuncak... Kekalahannya membuat dirinya semakin marah tak terkendali... Diam-diam Jodha gemetar... dalam ketakutan Jodha berusaha mundur... Adham menunduk ke arah Jodha dan menjambak rambutnya dengan kasar... Jodha terpaksa bangun... dari matanya terlihat dia sangat ketakutan... tubuhnya gemetar... air mata ketakutan tak tertahan mengalir di wajahnya... dia berkata sambil memohon “Tolong lepaskan aku...”

Adham tak mau mendengar permohonannya... Kemarahan dan kebenciannya memunculkan monster dalam dirinya... Dia ingin membalaskan semua dendam yang dirasakannyasejak Jodha hadir dalam hidup Jalal... Dia mempererat tarikannya pada rambut Jodha...dan menamparnya dengan keras... Jodha berteriak kesakitan “Ahhh...” Seluruh hutan seakan menggemakan teriakannya... darah keluar dari ujung bibirnya... Jodha merasa limbung selama sesaat...

Adham mendorong tubuh Jodha ke pohon dan berteriak marah “Kau wanita sialan...” Kebenciannya jauh lebih dalam dari kata-katanya yang terucap... dia bergerak ke dekatnya untuk menamparnya lagi... Jodha menangis histeris... dia terlihat sangat tak berdaya dibandingkan tubuh besar Adham... Jodha berusaha melarikan diri... tapi sebelum dia bisa lari... Adham telah berhasil mencengkeram blusnya dan menariknya hingga lengannya terlepas... Jodha ketakutan melihat tatapan tajam Adham padanya... terlihat nafsu di matanya... karena ketakutan Jodha mengumpulkan energi lagi dalam dirinya untuk menyelamatkan dirinya dari Adham... dia mengumpulkan sisa-sia tenaganya... dan lari secepat dia bisa... chaniya-nya yang panjang dan berat justru menghalangi usahanya untuk lari... dia menyesali tindakannya kenapa tidak mengganti dulu bajunya sebelum pergi tadi... mata Adham dipenuhi amarah dan kebencian... Jodha berdoa pada Kanha... saat berlari tiba-tiba chunni-nya tersangkut di ranting pohon... sebelum dia sempat lari lagi... Adham telah berhasil menangkap chunni-nya dan menariknya... dalam sedetik Adham berhasil melepas chunni dari channiya-nya... memandang tubuhnya yang elok... kulitnya yang lembut dan basah karena keringat... bagian belakang gaunnya yang berpotongan rendah menampakkan punggungnya yang indah... mata Adham menatap turun ke dadanya... kemarahannya beralih menjadi nafsu dan hasrat seksual... Jodha melihat nafsu iblis itu di matanya... dia berteriak sekencang mungkin... ”Jalal... Jalal...” dengan berurai air mata ketakutan... saat itu sudah gelap... berhadapan dengan tubuh raksasa Adham kekuatannya tak akan berpengaruh... Adham membawanya kembali ke pondok... Jodha menggigit tangan Adham sekuat-kuatnya hingga kulitnya terkelupas menyebabkan pegangan Adham mengendur dan dia bisa lari... hal itu semakin membuat Adham murka... dia mengejar Jodha seperti banteng raksasa... Sesaat Jodha teringat kalau dia masih memiliki belati... Adham berhasil menangkapnya dan memerangkap tubuhnya di pohon... kedua tangannya ditekan kuat-kuat oleh Adham... dia menatap Jodha dengan penuh nafsu dan berpikir darimana akan memulainya... dia mulai mengendus leher Jodha... dalam usaha menyelamatkan dirinya... Jodha menendang selangkangannya dengan lutut  sekuat tenaga... seketika Adham melepaskan cengkeramannya pada Jodha... dan berteriak kesakitan “Ahhh...” Jodha menarik belati dari pinggangnya dan berusaha membunuhnya, tapi Adham  berhasil menahan belati itu di antara kedua tangannya... tangannya mulai berdarah... sekali bergerak Adham bisa menarik dan melemparkan belati itu dari tangan Jodha... Dalam kemarahan, dia bisa sangat buas... Adham menamparnya sekali lagi, dengan keras... kali ini Jodha kehilangan kesadarannya selama beberapa detik dan tubuhnya jatuh ke tangannya... Adham memanggulnya dan menghempaskannya ke atas tanah...

Jodha ketakutan setengah mati... dan sudah kehabisan tenaga untuk melawan monster di hadapannya... dengan tangan terlipat dia memohon sambil menangis padanya... “Tolong lepaskan aku...aku mohon padamu... jangan lakukan dosa ini...” Kata-katanya sudah tidak mampu menghentikan Adham, matanya menatap nanar ke arah dada Jodha... nafsu iblisnya jelas terlihat... dia bersimpuh dan menarik pinggang Jodha ke tubuhnya... dia mulai menyentuh dadanya dengan penuh nafsu... akhirnya dia membungkukkan tubuhnya memerangkap Jodha... tubuhnya yang besar ada di atas tubuh Jodha... Jodha berusaha melawan tapi tidak tersisa sedikitpun celah baginya bahkan untuk menggerakkan tubuhnya... Adham mencengkeram tangan Jodha kuat-kuat sambil menggigiti lehernya... Jodha tahu tidak ada pilihan lain yang tersisa baginya selain bunuh diri... dia memutuskan meminum racun demi membuktikan kesetiaannya... Jodha mengumpulkan lagi sisa tenaganya dan mengigitnya dengan kasar... Adham melepas sebelah tangannya untuk menampar Jodha... Dia sedang berpikir untuk minum racun ketika Adham menamparnya lagi... Untuk terakhir kalinya Jodha berteriak sekencang-kencangnya “JALAL.. JALAL...” dan teriakan itu dibalas dengan “Adham....”

Teriakan Jalal membahana dan penuh amarah.... “Adhammm....” Dia berlari seperti harimau dan melompat ke arah Adham.... menjambak rambutnya... menamparnya berkali-kali... dan menendang perutnya sekuat tenaga... Mata Jalal memerah dalam kemarahan... seakan monster dalam dirinya yang mengambil alih pikirannya... Jalal mengambil pedang dan melemparkannya untuk Adham, dia sendiri juga menghunus pedangnya... Sebelum menyerang, dia menatap Jodha... pandangan Jodha kabur tertutup air mata dan ketakutan yang amat sangat... Jodha menangis keras dengan suara berat... “Jalal, bunuh dia...bunuh dia sekarang...”  

Menyadari keadaan Jodha... amarah Jalal meningkat... darahnya mendidih untuk membunuh Adham...  dia melompat ke arah Adham... membuat Adham kehilangan keseimbangan dan pedangnya... Jalal berteriak marah “Adham...” dan dia melompat lebih tinggi dan sekali serang... memenggal kepalanya... rasa sakit hatinya benar-benar memuncak... bahkan setelah memenggal kepalanya... dia tetap menyerang bagian tubuhnya... bagian tubuh Adham berserakan di tanah... Jalal benar-benar dibutakan amarah... matanya melebar... terguncang... dan menakutkan...

Perlahan dia mengalihkan pandangannya pada Jodha... melihat kondisinya yang tak berdaya... air matanya mengalir... hatinya hancur berkeping-keping... Jodha tetap berdiri  di pojok masih gemetar dan terguncang... Pandangan matanya masih ketakutan... tubuhnya membeku... rambutnya terurai dan acak-acakan... pipinya merah dan membengkak... ada darah yang terlihat di ujung bibirnya... blusnya terkoyak...  bekas cakaran terlihat di tangannya... hanya melihatnya Jalal bisa menduga Adham telah menganiayanya... Jalal melihat chunni-nya tersangkut di pohon... matanya sembab dan sayu karena terlalu lama menangis...

Jalal mengambil chunni itu dan berlari padanya... Dia memakaikan chunni ke pundaknya.... lalu menangkup pipinya dengan kedua tangannya... Jalal memanggil nama Jodha dengan lembut... “Jodha...” perlahan Jodha mengangkat matanya... mereka berdua sama-sama sangat terluka dan bersedih... dengan lembut Jalal mengusap air mata Jodha... seketika itu juga tangis Jodha pecah dan memeluknya dengan erat... Jalal mendekapnya... Berdua mereka saling memeluk dan menenangkan... keduanya tidak berani bicara sepatah katapun... Jodha menangis dan terus menangis  hingga tenaganya terkuras habis... membuatnya tubuhnya terasa lemas... tiba-tiba semua yang terlihat di sekelilingnya berputar... pandangannya kabur dan dia kehilangan kesadarannya di dalam pelukan Jalal...

Jalal berteriak panik “Jodha...” dia segera membopong Jodha... dan membawanya masuk ke pondok... setelah membaringkan tubuhnya di tempat tidur dengan hati-hati dia mencoba menyalakan api... dan melihat sekendi air... melihat kondisinya, hatinya benar-benar murka tapi... dia mengontrol dirinya... Jalal tahu Jodha merasa hancur dan takut... Jodha sedang membutuhkan perhatian, cinta dan dukungannya untuk melewati mimpi buruk ini... Dia mengusap air matanya sendiri dan memercikkan air ke wajah Jodha... Jodha kembali sadar... dan perlahan membuka matanya hingga melihat Jalal berada tepat disampingnya.... dia teringat semua kejadian yang mengerikan itu, dia berusaha untuk duduk... dan mulai menangis lagi sambil menutupi wajahnya...

Pelan-pelan Jalal membuka tangannya dan menjauhkannya dari wajahnya... kemudian mengangkat wajahnya... dengan nada bicara yang sangat lembut dia berkata “Jodha lihat aku...” dengan mata yang basah Jodha memandangnya... Jalal mengusap air matanya dan dengan ujung lengan bajunya dia menyeka darah di dekat bibirnya dengan hati-hati... Jodha masih menangis dan air mata masih bercucuran di wajahnya...

Jalal menyadari dia ingin membicarakan semuanya... Jodha sedang mengalami trauma yang mendalam... Dia bertanya pada Jodha dengan suara yang cukup halus “Jodha... kumohon lihat aku.” Pikiran Jodha masih penuh dengan peristiwa yang baru dialaminya... Kata-kata Jalal belum ada yang menyentuh otaknya... dia bahkan tidak dalam kondisi untuk bisa bercerita...

Jalal menangkup wajahnya lagi dan dengan nada yang sedikit lebih kencang dan tegas dia berkata “Jodha lihatlah aku...” kali ini Jodha bisa mendengarnya... setelah beberapa detik dia mengangkat matanya... Jalal masih memegang wajahnya dengan kuat... Lalu dia berkata dengan nada yang menenangkan “Jodha, tidak ada yang terjadi dan kau sekarang sudah aman... Jangan kuatir... Aku bersamamu... kau sangat berani, kau telah menyelamatkan nyawaku... aku sangat bangga padamu... kau tidak perlu menangis ataupun takut lagi... Sekarang aku ada bersamamu...”

Mendengar perkataan Jalal akhirnya masih sambil terisak dia terpatah-patah berkata “Jalal... Adham...” dia mencoba berbicara tapi kata-katanya seakan tersangkut di tenggorokan... Ketakutan telah menguasai pikirannya... dia tidak mampu melanjutkan kata-katanya... dia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya dan malah menangis lebih keras... Jalal mendekapnya dan mengusap punggungnya untuk sementara membiarkannya menangis... Jalal tahu dia berusaha menceritakan  peristiwa tadi... namun sebelum itu dia harus menumpahkan semua ketakutannya...   dia menangis dan menangis untu waktu yang cukup lama dalam dekapan Jalal... perhatiannya telah mampu menenangkannya... Beberapa menit kemudian, Jalal melepas pelukannya dan bertanya dengan penuh perhatian “Jodha, apakah dia menyakitimu... apa dia menamparmu?”

Sambil terisak Jodha menjawab “Ya... dia sangat menyakitiku... dia menamparku... mendorongku... menendangku... dengan kasar dia menghempaskanku ke tanah... dan... dan.. dia.. dia.. lalu.. dia menyentuhku dengan paksa.. aku sudah akan meminum racun dari cincinku ketika aku mendengar teriakanmu..”

Setelah mendengar semua hal yang telah dilaluinya... hati Jalal terasa hancur berkeping-keping... matanya berair... dengan suara berat dia berkata “Jodha ... jika sesuatu yang buruk sampai terjadi padamu maka aku akan mati saat itu juga... ketika aku mencarimu rasanya berkali-kali aku mati karena ketakutan... untuk pertama kalinya dalam hidupku aku mengenal rasanya takut... Jodha aku sangat takut dan khawatir padamu.”

Jalal masih terus membelai rambut dan punggung Jodha... dengan sentuhan hangatnya... kedekatan dan kelembutan yang penuh cinta... Jodha merasa lebih baik... setelah beberapa saat... Jodha berbaring di tempat tidur... dan Jalal duduk tepat di sebelahnya di atas tempat tidur... Satu per satu Jalal menanggalkan perhiasan Jodha... dia juga menanggalkan kurta dan perhiasannya sendiri... memandang wajah lugunya yang membengkak dan terdapat bekas tamparan di pipinya membuatnya kembali menitikkan air mata...  Jalal membelai rambut dan wajahnya... saat Jodha mulai menutup kelopak matanya... bayangan Adham yang menakutkan seakan muncul lagi di depannya... seketika membuatnya terhenyak bangun.... dan merengkuh Jalal dengan erat dan menyurukkan tubuhnya di dada Jalal untuk melepaskan ketakutannya... Jalal langsung mengerti kalau Jodha masih menyimpan sedikit rasa takut... dengan lembut Jalal berbisik “Jodha...jangan kuatir... dia sudah mati... dan sekarang aku sudah bersamamu..” air matanya masih mengalir turun memikirkan apa yang mungkin terjadi seandainya Jalal tidak datang tepat waktu.... Jalal merasakan air mata yang hangat di dadanya... tangisannya mendatangkan rasa sakit yang tak tertahankan untuknya... kondisinya membuat perasaanya hancur... Jalal melepaskan pelukannya dan mengusap air mata Jodha dengan lembut... dan berkata dengan nada yang lebih meyakinkan “Jodha... aku akan selalu melindungimu... yang terburuk sudah kita lalui... aku bersamamu... jangan takut... yakinlah padaku....”

Jodha berkata sambil terisak “Jalal... aku yakin kau pasti datang untuk menyelamatkanku dan aku percaya sepenuhnya padamu... dan aku bukannya takut hanya saja bayangannya masih muncul di benakku... Jalal peluklah aku... peluk erat aku... dekaplah aku” Jalal mencium kening Jodha dan menariknya ke dalam pelukannya... dia tahu Jodha ingin merasa dilindungi... karena dia masih belum benar-benar merasa aman...

Jalal berbisik “Jodha... aku mencintaimu lebih dari hidupku sendiri... kau akan selalu aman dalam lindunganku seperti ini... tutuplah matamu dan bayangkan momen-momen indah kita berdua... ingatlah saat kita pertama bertemu... bagaimana kita mulai jatuh cinta... saat ciuman pertama kita.”

Jodha menutup kelopak matanya dan kata-kata Jalal terasa seperti magis... ketakutannya tersapu bersih dan dia mulai mengingat semua kenangan indah mereka bersama  hingga akhirnya Jodha jatuh tertidur dengan damai di dalam pelukannya...

Jodha tertidur dengan damainya namun rasa sakitnya membuat Jalal tetap terjaga...  Dia masih terus membelai wajahnya untuk menenangkannya... dia duduk di samping Jodha selama tiga jam sambil terus memandanginya... melihat keadaannya dan merasakan sakitnya, apa yang terjadi telah benar-benar menggerogoti perasaannya dari dalam... dia merasa terluka... dia ingin berteriak dan menangis sekeras-kerasnya... dia merasa bersalah karena tidak berhasil menemukannya lebih cepat dari yang seharusnya... dia bangkit dan berdiri di samping jendela... memandang bulan yang bersinar tenang dan indah, kata-katanya terus terngiang di telinganya... ”aku akan mati jika seandainya kau terlambat datang sedetik saja...” seluruh badannya gemetar membayangkan hal itu... dia sangat terguncang... pikirannya terus mengulang-ulang kata–kata yang sama terus-menerus... seandainya dia terlambat... tanpa Jodha hidupnya tak berarti... dia berbicara pada dirinya sendiri.. ’aku tidak bisa hidup tanpanya... aku tak berarti tanpa dirinya...’ dia bahkan tanpa sadar mulai menyenandungkan sebuah lagu dengan melodi yang sangat indah dengan suaranya yang dalam...

TUM HI HO...Aashiqui 2

Hum tere bin ab reh nahi sakte
Tere bina kya wajood mera
Tujhse juda gar ho jaayenge
Toh khud se hi ho jaayenge judaa

Kyunki tum hi ho, Ab tum hi ho
Zindagi ab tum hi ho
Chain bhi, mera dard bhi
Maeri aashiqui ab tum hi ho

Air matanya mengalir selama dia bersenandung... hatinya terasa sangat pahit... penuh dengan rasa sakit yang teramat dalam... sekarang dia merasa lebih baik... menyanyi memberinya ketenangan...

Tera mera rishta hai kaisa
Ik pal door gawara nahi
Tere liye har roz hai jeete
Tujhko diya mera waqt sabhi
Koi lamha mera na ho tere bina
Har saans pe naam tera

Kyunki tum hi ho
Ab tum hi ho
Zindagi ab tum hi ho
Chain bhi, mera dard bhi
Meri aashiqui ab tum hi ho

Jodha terjaga dari tidurnya dan mendengar melodi yang disenandungkannya dengan penuh kesedihan... dia baru menyadari bagaimana dalamnya rasa sakit di hati Jalal karena keadaannya... dia tidak pernah berpikir sampai sejauh itu sebelumnya...

Tum hi ho...tum hi ho...
Tere liye hai jiya main
Khud ko jo yun de diya hai
Teri wafa ne mujhko sambhala
Saare ghamon ko dil se nikala
Tere saath mera hai naseeb juda
Tujhe paake adhoora naa raha hmm...

Untuk menenangkannya... Jodha mendekati Jalal... dia memeluknya dari balik punggungnya... Jalal membalikkan tubuhnya hingga mereka berhadapan, terlihat jelas matanya sembab...  lalu dia menyelesaikan bait terakhir lagunya sambil menatapnya dengan sedih...

Kyun ki tum hi ho
Ab tum hi ho
Zindagi ab tum hi ho...
Chain bhi, mera dard bhi
Meri aashiquiab tum hi ho

Pada akhirnya air matanya mengalir tak terbendung lagi...

Jodha menyeka air mata Jalal... dan menangkup wajahnya... lalu dia berkata dengan lembut “Shahenshah... aku sudah tidak apa-apa sekarang.” Lalu dia berjinjit untuk mencium kening Jalal.. Jodha mencium kening Jalal lalu turun mengecup matanya... Setelah mendengar suaranya, Jalal lupa pada semua kesedihannya... Jalal membuka matanya dan tersenyum tipis... Sambil menatap Jalal, Jodha mengecup kedua pipinya... dia tersenyum manis pada Jalal... Jodha merasa jengah ditatap sangat intens seperti itu oleh Jalal... Jodha menempelkan tangannya menutup kedua mata Jalal lalu dia mengecup bibir bawah Jalal dengan sangat ringan... Jodha sedikit berjinjit, melingkarkan kedua tangannya di leher Jalal... dan melanjutkan mengecup bibirnya yang terasa manis... dan akhirnya perasaan Jalal berubah dan dia terpancing akan sentuhan bibir Jodha... Keduanya merasa saling membutuhkan... Kedua hati mereka terluka sangat dalam... dalam sekejap... gairah memercik dalam tubuh mereka... Keduanya saling ingin memberikan arti satu sama lain... Jalal menghentikan ciuman itu... dia menatap ke dalam mata Jodha... melihat gairah yang kuat dari bola matanya, Jodha benar-benar merasa tersipu... Jalal menyentuh rambut Jodha dengan ringan, membersihkannya dari wajahnya dan membungkuk ke arah Jodha... dan balik mencium bibirnya dengan lembut...

Akhirnya... Jalal mendekapnya dan membopongnya.... memandangnya dengan penuh gairah... Lalu dia membaringkan tubuh Jodha di tempat tidur...

Mereka berdua terhanyut dalam gairah obsesif yang liar satu sama lain dan menjadi satu lagi setelah berbulan-bulan... Mereka melupakan semua rasa sakit dan luka atas apa yang terjadi di beberapa minggu terakhir... Akhirnya Jodha benar-benar memaafkan Jalal... Keduanya terus bercinta selama berjam-jam hingga tidak ada lagi energi yang tersisa... Dan akhirnya mereka jatuh kelelahan dalam pelukan masing-masing dengan penuh kepuasan di wajah mereka... Tidak ada tempat untuk tangisan, benci dan sakit hati... cinta bersemi di antara mereka... Hari demi hari cinta mereka semakin dalam dan dalam... lebih banyak masalah yang mereka hadapi... mereka akan semakin dekat satu sama lain...

~~To Be Continued~~


FF – Is It Hate or Love Chapter 30 Part 3

2 comments:

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.