From YM To Your Heart Part 1 - ChusNiAnTi

From YM To Your Heart Part 1




FROM YM* TO YOUR HEART
Part 1
By - Tyas
  






*YM : Yahoo Messenger
PS ~~ Sambil menunggu FF favorit kalian di posting oleh penulisnya, saya numpang lewat dengan FF baru ya...

Part 1


~~~~~~


Selasa, 20/03/13


Aadhya Jodha : Selamat pagi Tuan Rashed, saya memberitahukan bahwa laporan pelunasan sewa para tenant sudah saya email beserta grafik minat pengusaha yang ingin menyewa tempat usaha di lima gedung milik Golden Road, Pvt. Mohon dievaluasi. Terima kasih.


7 jam yang lalu.


Aadhya Jodha :  Selamat siang Tuan Rashed, saya menunggu evaluasi dari anda.


3 jam yang lalu


Aadhya Jodha : Selamat sore Tuan Rashed, saya masih menunggu evaluasi dari anda, apakah laporannya sudah anda tandatangani? Saya butuh persetujuan dari anda sebagai poin atas audit saya.


1 jam yang lalu

Aadhya Jodha : Selamat sore Tuan Rashed, apakah anda sudah memeriksanya?
5 menit yang lalu

~~~~~

Jodha mengetuk-ngetukkan jemari tangan kanannya di atas meja kerjanya dengan tidak sabar, menimbulkan suara yang sedikit mengganggu bahkan di telinganya sendiri. Sedangkan tangan kirinya ditopangkan di bawah dagunya sambil matanya menatap layar monitor di hadapannya. Wajahnya ditekuk kesal karena pesan yang sudah dikirimkannya sejak pagi pada manager divisinya belum juga mendapat balasan. Entah kenapa dalam pikiran konyolnya dia berharap monitor itu menuruti keinginannya, berkedip dan menampilkan pesan balasan yang ditunggunya.

Dia memang hanya seorang staf yang tidak seharusnya dia menekan atasannya untuk bisa segera mengevaluasi laporan audit yang baru diserahkannya tadi pagi. Tapi Jodha terpaksa. Dia sangat membutuhkan point evaluasi dari pekerjaannya karena hal itu mempengaruhi besar kecilnya insentif yang akan diterimanya selain gaji tetap bulanannya. Dan dua hari lagi adalah payment day. ~Ya Tuhan, hanya kau yang tahu, aku sangat membutuhkan gaji lebih bulan ini~.. gemas Jodha dalam hati.

Sebagai staf finance pada sebuah perusahaan korporasi raksasa di kota Mumbay, sebenarnya gaji yang diterimanya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Hanya saja pada seminggu terakhir, kondisi kesehatan neneknya sedikit menurun, dan biaya berobatnya cukup menguras tabungan pribadinya yang jumlahnya juga tidak seberapa. Itulah kenapa Jodha membutuhkan pendapatan tambahan.

Ditambah lagi, Varun Chauhan, kekasihnya yang sudah bersamanya selama 2 tahun ini, beberapa hari yang lalu memberitahu bahwa keluarganya menuntut mahar yang cukup besar darinya. Dan Jodha harus memenuhinya demi menjaga martabat keluarganya.

Hidup tanpa seorang ayah, dan menjadi tulang punggung bagi ibu dan neneknya menjadikan Jodha Aadhya seorang wanita yang kuat. Tidak mudah menyerah apalagi menangis dalam masalah apapun yang dihadapinya. Jikapun harus frustasi karena pekerjaan atau masalah pribadinya, sebisa mungkin akan dihadapinya sendiri. Jangan sampai ibu dan neneknya tahu.

Seperti masalah mahar yang dituntut oleh keluarga Chauhan ini, Jodha tidak menceritakan masalah itu pada ibunya karena khawatir ibunya akan sedih. Sebelum ini Jodha bukanlah gadis yang terlalu ngotot ingin segera menikah meski usianya sudah hampir 30 tahun. Namun akhir-akhir ini Ibunya sering memintanya untuk segera memutuskan menikah, alasannya karena Ibunya menginginkan ada seorang pria yang nantinya bisa diandalkan sebagai pelindung Jodha dan keluarganya. Ibunya khawatir beban Jodha akan semakin berat mengingat usia nenek dan Ibunya yang pasti terus menua.

Dan masalah mahar itu bisa menjadi penghalang terwujudnya keinginan Ibu yang sangat Jodha hormati. Selama 2 tahun bersama, Jodha merasa sudah cukup baik mengenal Varun. Meski pria itu bukan pengusaha sukses atau kaya raya, ataupun seorang model tampan, cukuplah baginya bahwa Varun bisa menerima keadaan keluarganya. Setidaknya itulah yang disimpulkan Jodha karena Varun juga tidak pernah mengutarakan keberatan apapun sehubungan dengan masalah itu... selama ini. Di sisi lain, di usianya yang sudah melewati puncak kepantasan seorang wanita untuk menikah, membuatnya tidak punya banyak pilihan. Menikah dengan Varun adalah kebutuhan. Bukan lagi saatnya berkhayal mengalami asmara berbunga-bunga dan hati berdebar-debar.

Dua masalah itu bertumpuk di otaknya dan membuatnya frustasi dalam sebulan terakhir. Seakan masih belum cukup memusingkan, masalah lain datang lagi dalam hubungan cintanya. Semalam dia bertengkar cukup serius dengan Varun. Inti permasalahannya adalah perbedaan prinsip. Entah setan mana yang mempengaruhi pikiran Varun, semalam pria itu sedikit memaksa Jodha untuk bersentuhan lebih dari sekedar ciuman. Padahal Varun tidak pernah menuntut hal itu selam mereka berpacaran. Memang mereka akan menikah, tapi Jodha tidak bersedia jika harus melakukannya sebelum mereka menikah. Meski Jodha seorang wanita modern yang punya karir, seorang feminist, tapi tetap saja dia gadis beragama dan memiliki aturan moral yang cukup ketat.

Suara ketukan di mejanya mengejutkan Jodha, “Ya!” ucapnya tersentak. Dia mendongak dari topangan tangan di dagunya dan melihat Sneyka Bose, sahabat wanitanya di kantor sedang berdiri di sebelah kiri mejanya, menyengir senang karena berhasil memergokinya sedang melamun.

“Kau sedang memikirkan apa?” tanya Sneyka,

“Tidak ada..” jawab Jodha pendek.

Rupanya Sneyka tidak percaya pada jawaban Jodha, tanpa permisi dia langsung melihat layar monitor di depan Jodha, seperti yang dilakukan Jodha satu jam terakhir ini. Merasa terusik, Jodha berusaha mendorong Sneyka menjauh dari layar dan dari meja kerjanya.

“Kupikir kau sedang mempelajari Kamasutra, untuk kau praktekkan dengan Varun setelah menikah. Ternyata kau hanya sedang menunggu balasan pesan...” goda Sneyka.

“Apa menurutmu aku wanita cabul yang memanfaatkan fasilitas kantor untuk urusan pribadi?!...Tolong jangan ganggu aku..Kembalilah ke tempatmu dan bersiap pulang...” pinta Jodha dengan sedikit menekan.

Tapi rupanya Sneyka masih belum puas menggoda sahabatnya itu. Ditatapnya Jodha untuk mencari jawaban disana dan, “Matamu merah?..Kau menangis?..Apa kau ada masalah dengan Varun? Kalian bertengkar?..Jodha, kau bisa menceritakannya padaku.” Kali ini Sneyka tidak lagi bercanda, dia mulai khawatir pada Jodha. Ditariknya sebuah kursi dan dia duduk di dekat meja Jodha. Kedua tangannya menggenggam tangan kiri Jodha.

~Menangis?...Aku menangis?!~ tanya Jodha dalam hati, dia bahkan tidak sadar dirinya sendiri menangis, tapi dia merasakan ada air mata di ujung kelopaknya saat jarinya menyentuh matanya. ~Bagaimana bisa aku menangis?... Mana mungkin hal remeh ini membuatku menangis?. Ini masalah kecil, seharusnya aku lebih kuat dan tidak menyerah pada airmata.. Tapi semakin kutahan, air mata ini malah keluar. Ya Tuhan..~  Jodha kewalahan mengusap airmata yang terus keluar. Dia ingat masih berada di kantor, dan sebagai karyawan yang profesional, tidak selayaknya dia mencampurkan urusan pekerjaan dan pribadinya. Lalu Jodha merasakan pelukan di pundaknya. Sneyka tidak bicara, tapi rangkulan tangannya sudah cukup mewakili dukungannya. Dibiarkannya sahabatnya itu menangis agar hatinya lebih lega, baru setelah itu mereka bicara.

Setelah isaknya reda, Jodha mulai bercerita “Aku memang bertengkar dengan Varun, tapi itu masalah sepele. Yang lebih membuatku sedih adalah nenekku sedang sakitdan aku butuh biaya tambahan. Aku mengandalkan insentif perusahaan, tapi point evaluasiku belum dikeluarkan oleh Tuan Rashed...Bagaimana ini?! Aku sudah mengirim pesan sejak pagi, tapi tidak ada balasan satupun. Asistennya bilang Tuan Rashed masih berada di lokasi proyek baru...”.

Jodha sengaja tidak menceritakan semuanya, terutama penyebab pertengkarannya dengan Varun. Karena baginya itu benar-benar masalah pribadi, bahkan terlalu pribadi untuk diceritakannya pada sahabatnya sendiri.

Sneyka menepuk-nepuk punggung Jodha, bermaksud menenangkan perasaan sahabatnya itu. “Mungkin Tuan Rashed belum sempat membaca pesanmu. Kita tidak bisa apa-apa karena sekarang sudah jam pulang kantor. Besok pagi, coba kau langsung ke ruangannya...ya?!” Jodha mengangguk setuju atas saran Sneyka. Memang benar yang dikatakan sahabatnya, sekarang sudah saatnya pulang, dia tidak bisa memaksa orang lain bekerja di luar jam kantor hanya demi kepentingannya. Besok, dia akan mengirimkan pesan lagi, atau bahkan langsung menyerahkannya ke ruangannya.

Pesan yang dikirimkan oleh Jodha, sebenarnya sudah terbaca oleh yang dituju. Pesan yang dikirm via  Yahoo Messenger itu muncul di akun grup perusahaan  yang beranggotakan para staf yang bekerja di Golden Tower. “Jodha Aadhya” pria itu membaca nama yang tertera sebagai pengirim. Hanya saja si penerima pesan itu merasa bingung karena merasa tidak mengenal si pengirim pesan apalagi memahami isinya. Karena itu pesan tersebut diabaikannya dan dia melanjutkan pekerjaannya sendiri.

Dia baru bekerja di Golden Road, Pvt sejak seminggu yang lalu. Tawaran posisi sebagai Chief Finance Officer cukup menantang baginya, diikuti dengan gaji yang cukup fantastis. Perpaduan itu yang akhirnya mempengaruhi keputusannya untuk memilih bekerja di perusahaan yang berkantor pusat di Golden Tower, gedung 20 lantai milik Golden Road itu sendiri. Sebelumnya dia bekerja sebagai Senior Finance Consultant di perusahaan pertambangan di Afrika Selatan.

Keputusannya itu juga atas permintaan Bibi dan adiknya, dua anggota keluarganya yang masih tersisa. Mereka ingin kembali ke negara kelahirannya, setelah 15 tahun ada di luar negeri.

“Tuan Rashed, apa anda masih butuh laporan yang lain?” tanya seorang wanita dari ambang pintu ruangannya.

“Tidak ada. Kau boleh pulang.” Jawab pria yang ditanya.

“Selamat malam, Tuan.” Wanita itu menutup kembali pintu ruangan di depannya.

Pria yang dipanggil Tuan Rashed tadi, kembali berkonsentrasi menganalisa laporan-laporan di depannya. Sesekali dia mencatat sesuatu di buku jurnalnya. Banyak hal yang harus dipelajarinya tentang perusahaan ini sebelum dia bisa memutuskan kebijakan-kebijakan finansial yang dibutuhkan demi kemajuan perusahaan. Keinginan Dewan Direksi untuk mengekspansi usaha hingga keluar benua, membutuhkan pemikiran dan persiapan yang matang, bukan hanya sekedar modal yang besar. Dan itulah kelebihan yang dimiliki dirinya.

Bukan perasaan tinggi hati ataupun kelebihan percaya diri, tapi pengalaman dan kemampuannya sudah terbukti dimanfaatkan oleh perusahaan besar yang sebelumnya mempekerjakan dirinya dan mempercayakan seluruh keputusan financial penting di tangannya. Dan hasilnya semua keputusannya mendatangkan keuntungan yang jauh lebih besar dari yang dibayangkan.

Langit sudah gelap, jam kantor sudah lama berakhir, tapi dia belum merasa lelah. Pikiran dan tenaganya masih sesegar tadi pagi. Hanya saja cambang yang baru tumbuh di wajahnya membuatnya merasa sedikit gatal,sesekali tangannya menggaruk dan mengusap dagunya. Namun matanya tak pernah lepas dari layar monitor. Konsentrasi penuh. Begitulah dirinya.

Dua jam berlalu hingga akhirmya dia selesai memeriksa semua laporan yang ada, barulah dia bisa sedikit merasa santai. Disandarkan punggungnya ke sandaran tinggi kursi yang didudukinya, kedua tangannya diangkat dan diletakkan di belakang kepalanya. Saat itulah, tanpa diminta pikirannya melayang pada sebuah kejadian unik. Kejadian tak terduga yang membuat dahinya berkerut dan bibirnya mengerucut kesal.

Peristiwa itu bermula saat kemarin malam dia bermaksud mengunjungi seorang kenalannya yang tinggal di sebuah gedung apartemen di daerah pinggiran Mumbay. Saat itu dia baru saja pulang dari kantor dan masih mengenakan kemeja kerjanya. Apartemennya ada di lantai lima, karena itulah dia menuju elevator yang akan membawanya ke atas.

Tidak berapa lama, pintu elevator terbuka dan di dalamnya dia melihat ada seorang gadis.  Awalnya dia tidak dapat melihat jelas wajah gadis itu karena saat dia melangkah keluar, wajahnya setengah menunduk. Mungkin karena rambut yang jatuh menutupi wajahnya atau mungkin karena tergesa-gesa, gadis itu berjalan tepat ke arahnya dan menabrak tubuhnya. Otomatis dia berusaha menahan tubuh gadis itu yang limbung dan hampir terjatuh. Saat itulah tanpa sengaja sebelah tangannya menyentuh bagian dada gadis itu. Gadis itu menjerit. Wajahnya terangkat memandang dirinya dan dia mengacungkan jari telunjuk tepat ke depan wajahnya sambil meneriakinya. “Dasar Cabul!”

Dia membeku. Bukan karena kecantikan gadis itu, tapi karena kata-kata kasar yang ditujukan pada dirinya. Belum pernah ada satupun wanita yang menyebut dirinya cabul meski dia sudah berulang kali berkencan dengan puluhan wanita berbeda. Sebutan itu membuatnya marah, tapi sebelum dia sempat membalasnya, gadis itu sudah lebih dulu pergi meninggalkannya. Seperti angin kencang, langsung datang menerjang dan pergi tanpa berbekas. Menyisakan keharuman rambutnya yang masih melekat di jasnya saat mereka bertabrakan.

Memang, hal yang paling berkesan dari gadis itu adalah rambutnya yang berwarna hitam legam dan keharumannya yang sesegar hutan Alpen. Sayang sekali, dia tidak sempat berkenalan dengan gadis itu karena ada sedikit kesalah pahaman yang terjadi antara mereka.

Sambil mematikan komputernya, pria itu masih tersenyum. Semoga saja dia beruntung bisa bertemu lagi dengan gadis berambut hitam itu. Lain kali mereka bertemu, akan dia pastikan gadis itu menarik kembali kata-kata kasarnya dan meminta maaf padanya.

Pria itu keluar dari ruangannya dan menutup pintu di belakangnya. Sebagai salah satu petinggi perusahaan, ruangan kerjanya berada di lantai delapan belas. Pada jam selarut itu, seluruh ruangan di lantai itu telah gelap, hanya menyisakan lampu penerangan sepanjang lorong ke pintu elevator. Ditekannya tombol B1 yang langsung mengarah ke Basement gedung, tempat mobilnya diparkir.

Seperti dugaannya, di basement pun hanya mobilnya yang masih terparkir disana. Membuktikan bahwa dia orang terakhir yang masih bekerja di gedung ini. Meski dia pulang larut, tapi dia tetap masuk kerja tepat waktu keesokan paginya. Hidupnya adalah untuk bekerja. Dia hanya mengijinkan dirinya sendiri bersenang-senang saat akhir pekan, itupun kalau dia ingin.

Pihak perusahaan sebenarnya sudah menyediakan mobil sedan mewah lengkap dengan sopir pribadi sebagai fasilitas untuk dirinya, namun ditolaknya. Dia lebih memilih mengendarai sendiri Range Rover hitam miliknya pribadi. Bagi dirinya, mobil adalah cerminan kepribadiannya. Ada rasa puas dan intim saat dia duduk dan mengendarai mobilnya sendirian seperti malam ini. Baginya saat-saat seperti ini terasa lebih menenangkan dan menyenangkan dibandingkan menghadiri pesta. Bukan berarti dia tidak punya teman kencan, tapi ada saat dalam hidupnya dia menikmati kesendiriannya. Ada saatnya dia malas untuk menjalin hubungan ataupun bermanis-manis mulut demi seorang wanita.

Lama tinggal di Johannesburg, dia sempat merasa bingung saat berkeliling di jalan-jalan kota Mumbay. Baginya kota ini sudah banyak berubah dibanding 15 tahun yang lalu, yang paling tampak perubahahannya adalah jalanan kota ini yang semakin parah kemacetannya. Karena itulah, dia memilih tinggal di sebuah apartemen di pinggiran kota Mumbay yang lingkungannya jauh lebih tenang. Agar dia, adik dan Bibinya juga merasa lebih nyaman tinggal di kota ini.

Sesampainya di apartemen, beberapa lampu utama sudah dipadamkan. Biasanya pada jam segitu, adik dan Bibinya sudah tidur. Setelah melepaskan sepatu dan menyimpan tas kerja di dalam kamarnya, dia berjalan ke arah meja makan. Pada saat sedang mencuci tangan di wastafel dapur, dia mendengar suara pintu dibuka.

“Kakak...baru pulang?” Monita, adiknya berjalan keluar dari kamarnya.

“Kenapa belum tidur?” tanya pria itu.

“Aku menunggu kakak. Apa pekerjaanmu di kantor seberat itu, sampai harus pulang larut setiap hari?” sindir adiknya. Disiapkannya hidangan di meja untuk makan malam kakaknya.

“Tidak juga, tapi aku suka bekerja. Apa lagi yang bisa kupikirkan selain bekerja?,” dia menjawab sambil menyendok seporsi nasi lemak dan kuah kari ke atas piringnya

“Kau harus segera mencari istri supaya ada yang kau rindukan setiap hari untuk bisa membuatmu pulang lebih cepat dari kantor. Itu karena kau tidak pernah sekalipun mendengarku, padahal aku satu-satunya adikmu..”goda adiknya.
"Mana ada wanita yang akan kurindukan selain adik dan Bibiku?"
"Kalau kau memang merindukanku, kenapa kau jarang meluangkan waktu bersama kami?" jawab adiknya cemberut.
"Karena sebentar saja aku meluangkan waktu bersamamu, kau pasti akan langsung mengoceh tentang keinginanmu memiliki kakak ipar. Tidak akan ada wanita yang akan menyukaiku sebagai diriku." katanya dengan suara lebih pelan.
Monita yang tidak suka pada jawaban kakaknya menyanggah “Tapi pasti ada seorang wanita di luar sana yang akan membuatmu menyerah dan jatuh cinta. Saat itu terjadi, aku yang akan bersorak paling keras.” Jawabnya sambil meninggalkan kakaknya yang masih menikmati makan malamnya, masuk kembali ke dalam kamarnya.



*************


 

From YM To Your Heart Part 1

8 comments:

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.