From YM To Your Heart Part 2 - ChusNiAnTi

From YM To Your Heart Part 2


FROM YM TO YOUR HEART
Part 2
By Tyas





Part 2
~~~~~~~
Rabu, 21/03/13
Aadhya Jodha : Selamat pagi Tuan Rashed, laporannya sudah saya email ulang. Mohon untuk segera dievaluasi. Terima kasih.
Rashed Jalal : Maaf Aadhya Jodha, saya sudah membaca pesan anda.Saya juga sudah menerima email berisi laporan yang anda sebutkan . Tapi apakah benar laporan itu ditujukan pada saya? karena itu bukan bagian tugas saya. Mungkinkah alamat email yang anda tuju salah?
Aadhya Jodha : Saya yakin benar. Saya kirim ke RashedJamal@yahoo.co.id
Rashed Jalal : Anda mengirim ke email address saya RashedJalal@yahoo.co.id
Aadhya Jodha : Astaga, anda benar.
Aadhya Jodha : Maaf atas kesalahan ini. Selama ini yang saya tahu hanya ada satu email address berawalan Rashed di akun ini, jadi saya tidak memeriksanya lagi saat mengirim
Rashed Jalal : Tidak apa.
Aadhya Jodha : Apa anda pegawai baru di sini?  
Rashed Jalal : Saya baru seminggu bekerja di sini. Pastinya nama saya baru masuk list.
Aadhya Jodha : Pantas saja. Sebelumnya nama Tuan Rashed hanya satu-satunya di sini, yaitu manager domestic finance saja. Apa anda kebetulan bersaudara dengannya?
Rashed Jalal : Tidak, hanya nama keluarga kami yang sama.
Aadhya Jodha : Bekerja di divisi apa?
Rashed Jalal : Bagian yang tidak terlalu penting, hanya membantu di sana-sini
Aadhya Jodha : Lantai berapa? Maaf, kalau saya banyak bertanya.
Rashed Jalal : 18
Aadhya Jodha : Wow, lantainya big boss. Tapi di lantai 18 juga tempat maintenance IT, anda operator disana?
Rashed Jalal : Begitulah. Kau di lantai berapa?
Aadhya Jodha : 3. Saya staf domestic finance.
Aadhya Jodha : Tolong jangan beritahu siapapun tentang email saya yang salah alamat. Aku tidak mau atasan menganggapku kurang kompeten karena kecerobohan ini.
Rashed Jalal : Tentu, jangan khawatir.
Aadhya Jodha : Baiklah......Well, Selamat datang di perusahaan ini.
Rashed Jalal : Salam kenal juga untuk anda
~~~~~~
Konyol. Benar-benar konyol. Berulang kali Jodha merutuki dirinya sendiri sambil mengetuk-ketukkan jari telunjuk kanannya ke dahinya. Untung saja dia hanya berhadapan dengan layar monitor, kalau tidak... mau disembunyikan kemana wajahnya ini?!
Jodha benar-benar merasa malu. Selama ini dia selalu membanggakan kecerdasan otak dan ketelitiannya, tapi kali ini urusan mengirim laporan saja dia bisa salah alamat. Pantas saja dia tidak menerima balasan apapun sejak kemarin, karena memang Tuan Rashed belum menerima laporannya, maksudnya Tuan Jamal Rashed.
Semoga saja kekeliruan ini tetap menjadi rahasia antara dirinya dan Tuan Jalal Rashed. Andai saja, dia lebih cepat menyadari kekeliruannya atau Tuan Jalal Rashed langsung membalas pesannya, tapi tidak etis juga kalau dia menyalahkan Tuan Jalal Rashed karena tidak segera membalas pesannya dan memberitahu tentang kesalahannya. Karena Jodha pikir, dia akan bersikap sama seperti itu jika menerima pesan tidak jelas dari orang yang tidak dikenalnya. Akan diabaikannya begitu saja pesan-pesan seperti itu dan masuk kotak spam. Untunglah, meski salah alamat, tapi email-nya jatuh ke tangan orang yang baik, kalau diperhatikan dari chatting mereka tadi, sepertinya Tuan Rashed orang yang cukup pengertian.
Jodha mencoba kembali memusatkan perhatiannya pada pekerjaannya. Cukup satu kesalahan, dia tidak akan mengulanginya lagi. Kali ini, laporannya akan dia serahkan langsung pada managernya, Tuan Jamal Rashed, ke ruangannya di lantai 8. Setelah mencetak laporan dan merapikannya dalam map, Jodha bergegas menuju ke atas. Saat itulah, ponsel yang dikantongi di saku celananya berdering. Jodha sudah bisa menebak siapa yang menelponnya. Varun. Benar saja, Varun-lah yang menelponnya. “Iya, Varun....aku masih sibuk...Sampai ketemu saat makan siang nanti...Bye...” Jodha bicara cukup singkat karena dia merasa segan membicarakan hal pribadi saat jam kerja. Untunglah Varun bisa mengerti.
Sebenarnya sejak semalam Varun berulang kali mencoba menghubunginya. Tapi karena Jodha merasa sangat lelah, ditambah lagi dia masih marah, diabaikannya semua panggilan dari Varun di ponselnya. Sesampainya di rumah, Jodha langsung tidur setelah makan malam. Pagi tadi, Varun kembali menghubunginya. Pria itu berulang kali mengucapkan permintaan maaf soal sikapnya yang memaksa Jodha pada malam itu. Dan Jodha sudah memaafkannya, apalagi yang bisa dilakukannya? Tidak menyenangkan rasanya lama-lama mempertahankan sikap diam. Dan Varun menelponnya tadi untuk memastikan rencana mereka makan siang bersama. Disimpannya kembali ponselnya ke saku celananya, dan Jodha kembali melanjutkan langkahnya ke lantai 8.
Sayang sekali, manager-nya ternyata tidak ada di ruangannya. Asistennya yang mengkonfirmasi hal itu. Tidak mau usahanya sia-sia, diletakkannya map laporan yang dibawanya ke atas meja Tuan Jamal Rashed disertai ‘post it’ yang bertuliskan ‘Mohon segera dievaluasi’.
Elevator berhenti di lantai 8, pintunya membuka dan Jodha masuk ke dalamnya. Ditekannya tombol lantai 3, dan elevator pun bergerak turun. Interior elevator itu dikelilingi kaca tinggi pada keempat sisinya yang memantulkan setiap sudut kotak mesin pengangkut manusia itu. Jodha berdiri di satu sudut menghadap pintu, dari pantulan kaca di depannya, dia melihat seorang pria, yang luput dari perhatiannya saat masuk tadi, berdiri di sudut lain di seberangnya.
“Jodha Aadhya.” Seketika Jodha menoleh karena namanya diucapkan oleh pria itu.
 Jodha memandangi pria itu dari atas ke bawah dengan kedua alis diangkat penuh tanda tanya. Pria itu penampilannya cukup dandy, menurutnya, dengan setelan kemeja putih tanpa dasi dan jas warna hitam senada dengan celananya. Tapi dibalik penampilannya yang rapi tersirat kesan garang dan otoriter dari ekspresi wajahnya. Kesan itu diperkuat dengan alis yang tebal, tulang rahang yang kokoh dan garis-garis wajah di sekitar mulut dan matanya yang menambah aura maskulin pada  dirinya. Kumis tipis di atas bibirnya melengkapi keseluruhan penampilannya.
Pria itu berdiri dengan kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Bahasa tubuhnya terkesan santai dengan bahu sedikit bersandar di dinding elevator. Tapi caranya memandang Jodha, seakan ingin melahap habis dirinya saat itu juga. Tiba-tiba saja Jodha merasa elevator itu menjadi sempit meski hanya ada mereka di dalamnya.
“Ya? Apa aku mengenalmu?” tanya Jodha dengan wajah penuh tanda tanya setelah cukup lama hanya diam memandangi pria itu berharap otaknya mengeluarkan hasil pengenalan dari scanning wajah yang dilakukannya secara manual dalam waktu kurang dari 5 detik.
“Tidak. Aku hanya membaca namamu.” Jawab pria itu santai sambil menunjuk nama Jodha yang tertera di name tag terjepit rapi di kerah kemejanya.
Otomatis Jodha menunduk  mengikuti arah yang ditunjuk oleh pria itu. Ini kedua kalinya Jodha merasa dirinya bodoh sekali. Seorang Presiden pun akan mengenali namanya hanya dengan membaca name tag miliknya. ‘Rupanya dia hanya pria yang suka menggoda gadis siapapun yang dia lihat. Dia pikir dia sangat tampan? Huh..’ pikir Jodha kecut.
Diacuhkannya pria itu, pandangan Jodha kembali ke arah pintu, bersamaan dengan denting elevator saat berhenti di lantai 3. Pintu terbuka dan Jodha melangkah keluar. Pandangannya lurus ke depan, tidak sekalipun menoleh hanya untuk sekilas pandang saja pada pria itu.
Pintu elevator kembali menutup. Pria itu tersenyum simpul karena secara tidak sengaja telah berhasil menemukan pemilik nama Jodha Aadhya. Yang tak pernah diduganya, gadis itu adalah gadis yang sama yang bertabrakan dengannya dan mengatai dirinya cabul. Rupanya Jodha tidak mengenali dirinya. Membuatnya berpikir,.. ‘Dia benar-benar tidak mengenaliku atau hanya berpura-pura untuk membuatku penasaran padanya?... Aneh, aku sudah memikirkan gadis itu lebih dari sekali dalam 3 hari, sedangkan dia sepertinya tidak ingat padaku sama sekali..’.
Dalam hati dia terus bertanya apa yang menarik dari gadis itu, mungkinkah karena rambutnya? Rambutnya memang sangat indah, dipilin rapi di punggungnya. Pencahayaan di dalam elevator cukup terang membuat sliuet wajahnya terlihat lebih jelas daripada malam itu Parasnya lembut dari paduan mata yang bulat, pipi putih mulus dan bibir yang penuh. Tapi dibalik itu semua, tersirat  kepribadian seorang wanita mandiri. Bahkan dia bisa membayangkan gadis itu dengan berani mempertahankan prinsipnya atau bahkan menyurutkan nyali seorang pria yang ingin mendekatinya.
Setelan yang dikenakannya juga cukup rapi. Atasan kemeja coklat bergaris putih dipadu dengan celana pipa berwarna hitam. Potongan bajunya cukup longgar, tapi tetap tidak bisa mengaburkan lekuk tubuh feminin dibaliknya.
Satu gestur menarik yang tak luput dari perhatiannya adalah cara gadis itu mengerucutkan bibirnya dengan sangat menggemaskan. Sepertinya kebiasaan itu tak sadar dilakukannya saat dia merasa kesal atau sedang berpikir, buktinya dia mengerucutkan bibirnya karena kesal saat dipermainkan tadi. Menggemaskan sekali.
Terlalu sibuk membayangkan gadis itu, tak sadar elevator sudah berhenti di Basement. Pagi ini jadwalnya adalah meninjau lokasi renovasi Wankhede Stadium. Golden Road memenangkan tender sebagai perusahaan yang akan bertanggung jawab dalam renovasi stadion hingga memenuhi standar international sebagai persiapan India menjadi tuan rumah Olimpiade. Stadion akan dilengkapi arena untuk beberapa cabang atletik dan media center. Di samping stadion juga akan dibangun hotel   khusus atlet dan awak media, dengan konsep green ecology sebagai program pemerintah untuk memperbaiki reputasi kota Mumbay sebagai kota yang terpolusi. Kunjungannya kesana adalah untuk mengawasi progress pembangunannya dan memutuskan nilai pembiayaan yang akan dikeluarkan oleh perusahaan.
Setelah dua jam di lokasi proyek, dia kembali ke kantornya. Dengan langkah cepat dia berjalan menuju ruang kerjanya. Di lantai ini hanya berisi beberapa ruangan besar yang ditempati oleh jajaran tinggi perusahaan, termasuk tiga orang anggota Dewan Direksi, CEO dan tiga orang pendukung kerjanya yaitu Chief Marketing, Chief Legal dan dirinya sebagai Chief Finance.
Sesampainya di depan ruang kerjanya, sekretarisnya, seorang wanita dewasa berusia 40 tahunan dengan penampilan rapi berkacamata bernama Nyonya Rhaina Baghnath, memberi salam padanya, “Selamat siang, Tuan Rashed.”
Jalal berhenti dan berkata, “Carikan aku data staf atas nama Jodha Aadhya. Langsung letakkan di mejaku.”
Sekretarisnya mengangguk dan Jalal masuk ke ruangannya. Lima belas menit kemudian, sekretarisnya, Nyonya Bhagnath, menyerahkan data yang tadi dimintanya. Diperiksanya biodata Jodha Aadhya, disana tertulis dia hampir berusia 30 tahun, tinggal bersama Ibu dan neneknya, ayahnya sudah meninggal, belum menikah, dan sudah bekerja di kantor ini selama 6 tahun. Nilai akademisnya bagus, prestasi kerjanya juga cukup mengesankan. Benar dugaannya, Jodha seorang gadis mandiri,  tulang punggung bagi Ibu dan neneknya.
Lima menit sebelum jam satu siang, Nyonya Baghnath mengingatkan jadwalnya, “Tuan Rashed, anda ditunggu Dewan Direksi makan siang di Four Seasons Restaurant.”
“Iya, jika ada laporan masuk, langsung letakkan disini.” Katanya sembari menunjuk bagian tengah mejanya. Dikenakannya jas yang sebelumnya tersampir di punggung kursinya, kemudian dia bergegas keluar dari ruangannya.
Range Rover itu pun menggelinding pelan keluar dari Basement gedung. Saat melewati depan lobi lantai 1, laju mobilnya terhenti karena terhalang  sebuah motor di depannya yang sedang berhenti. Jalal membunyikan klakson dan pria pemilik motor itu menoleh ke arahnya. Di samping pria itu, matanya tidak sengaja menangkap sekilas keberadaan seseorang yang dikenalnya.
Gadis itu lagi, Jodha Aadhya, dia sedang berdiri di teras lobi sedang bersiap memakai helm. Gadis itu tidak bisa melihatnya karena dia terlindung kaca depan mobil yang gelap. Gerak-gerik mereka seperti sepasang kekasih. Sebenarnya bukanlah kebiasaannya memperhatikan tingkah laku orang-orang di sekitarnya, tapi entah kenapa, tanpa alasan yang jelas dia kesal melihat mereka.
Saat motor di depannya itu melaju pergi, dia pun segera tancap gas menuju tempat pertemuannya. Selama menyetir, pikirannya sering kembali memikirkan Jodha dan pria-nya...’Apa mereka akan kencan makan siang?..Apa-apaan kelakuan seperti itu? Apa tidak punya waktu lain untuk bermesraan?...’ kata Jalal kesal pada dirinya sendiri.
Jalal kembali ke kantor setelah makan siang bersama Dewan Direksi. Elevator yang membawanya dari basement, berhenti di lantai satu.... Sungguh suatu kebetulan... lagi-lagi Jodha,tapi kali ini dia bersama temannya. Awalnya gadis itu kaget melihatnya di dalam lift, tapi dia dengan sengaja memasang wajah acuh.
“Bagaimana makan siangmu dengan Varun? Cukup berkesan untuk mencerahkan pikiranmu?” tanya teman Jodha dengan ceria.
‘Jadi, nama pria itu Varun.’kata  Jalal dalam hati.
Jodha menjawab dengan senyum lebar, “Kau tahu, berkencan setelah bertengkar itu justru rasanya.... lebih dari biasanya. Dia jadi lebih mesra.”
“Lain kali saat berkencan, tolong perhatikan jalan, jangan sampai menghalangi mobil di belakangmu. Ini bukan bolly movie.” Dengan santainya Jalal menyela obrolan Jodha dan temannya.
Merasa tersindir, Jodha langsung menoleh ke arahnya dengan wajah sengit, “Hey! Aku tidak menghalangi jalan siapapun.. ..Jangan bersikap sok berkuasa disini!....Kau tidak berhak mengomentari urusanku! Berhenti menggangguku atau....”
“Atau apa?” tantang Jalal
“Atau aku akan berteriak memanggil pihak keamanan untuk mengusirmu keluar!”
“Atas dasar apa?”
“Kau...kau melecehkan karyawan disini!”
“Apa buktinya? Apa aku menyentuhmu?!”
“Kau...kau melecehkanku dengan kata-katamu!”
“Yang mana?”
“Aaaarrgghh...!” Jodha kesal sekali sampai dia menghentakkan kakiknya ke lantai lift.
Teman wanitanya yang berdiri di sebelahnya ikut bingung melihat sikap Jodha yang tidak seperti biasanya.Perdebatan mereka terhenti karena lift berhenti di lantai 3, Jodha bergegas keluar dari dalam lift, makin lama dia di dalam sana tubuhnya seakan terserang gatal-gatal karena pria itu.
Sneyka berusaha menjajari langkah Jodha yang seperti berlari menjauhi lift. Dia terheran-heran melihat Jodha berdebat dengan seorang pria, karena itulah mulutnya kelu tidak bersuara di dalam lif tadi.
“Eh, Jodha... siapa pria itu tadi?” tanya Sneyka saat sudah berhasil menyusul langkahnya.
“Tidak tahu. Aku tidak kenal.” jawab Jodha ketus
“Lalu bagaimana bisa kalian bertengkar kalau tidak saling mengenal?”
“Kau lihat sendiri dia tadi menggangguku!”
“Bagiku dia tidak mengganggumu... dia hanya berusaha....mengobrol denganmu.”
“Kau membelanya?!” kata Jodha melotot
“Aku hanya penasaran, apa dia juga karyawan disini?! Tapi aku tidak melihat name tag di bajunya.... Dia tampan dan manly, biasanya pria tampan di kantor ini dari divisi marketing, apalagi dia tadi menuju ke lantai atas...Divisi Marketing di lantai 10... Apa kau tidak ingin mencari tahu tentang dirinya?” tanya Sneyka dengan sikap genitnya
“Tidak perlu, membuang-buang waktuku saja.”
“Kau jangan kecewa kalau aku mendapatkannya...” kata Sneyka memancing reaksi Jodha
“Tidak akan. Kau bisa mengambilnya sesukamu.” Jawab Jodha dengan acuh sambil duduk kembali di depan meja kerjanya siap melanjutkan pekerjaannya hari itu.
Semoga layar monitor di depannya bisa menghapus wajah pria pengganggu tadi dari benaknya.

*********





From YM To Your Heart Part 2

4 comments:

  1. seru nih..belum kenal udah berantem...makin penasaran..

    ReplyDelete
  2. katanya klu seseorg di benci ujung2nya nnt itu jd cinta ya, lnjt ya mbak.

    ReplyDelete
  3. katanya klu seseorg di benci ujung2nya nnt itu jd cinta ya, lnjt ya mbak.

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.