FF – Is It Hate or Love Chapter 31 Part 1 - ChusNiAnTi

FF – Is It Hate or Love Chapter 31 Part 1


Written by Bhavini Shah
Translate by Arum Chusnianti

Deru harimau membangunkan Jalal dari tidurnya yang setengah terjaga. Saat itu masih gelap, di pagi hari yang sangat awal. Sekilas bulan masih terlihat dari jendela. Burung berkicau dengan musik mereka yang merdu. Angin bertiup, membuat suasana lebih menenangkan. Pagi itu sangat damai, indah dan menyenangkan.

Jalal tidak tidur dengan benar sepanjang malam. Apa yang terjadi hari sebelumnya tidak kurang dari mimpi yang mengerikan. Ketakutan terlihat jelas di wajahnya. Pikirannya dipenuhi dengan pikiran emosional takut pada Maham. Bagaimana dia akan bereaksi terhadap kematian Adham? Bagaimana ia akan terlihat di matanya? Bagaimana ia akan menceritakan bahwa ia telah membunuh anaknya? Jantungnya berdebar keras. Bukan karena rasa bersalah telah membunuh Adham, tapi ketakutan pada Maham dan kesedihannya.

Jodha sedang beristirahat dengan tenang dalam tidurnya di atas bahu Jalal, menyembunyikan wajahnya di dadanya dan tangannya mengelilingi punggungnya erat. Melihat wajahnya yang mulia dan polos, Jalal sedikit tersenyum. Dia semakin mengeratkan tangannya di pinggang Jodha dan menariknya sedikit lebih dekat dan dengan lembut mencium dahinya.

Dalam tidur Jodha menyadari Jalal terjaga. Dengan sedikit nada marah Jodha berkata, ”Hmmm... Shahenshah... Aku terlalu lelah... aku ingin tidur...”

Jalal tersenyum, “Hmmm... Jadi apa Jodha... Pergi tidur...”

Jodha dengan nada manja menjawab, “Hmmm... Jadi apa yang kau lakukan kemudian... Mengapa kau tidak pergi tidur juga...”

Jalal tersenyum dan bertanya bercanda, “Kau telah menghambatku begitu erat seolah-olah aku milikmu... Bagaimana aku akan tidur???”

Jodha menyadari dia terus mengencangkan atas dirinya. Dia melonggarkan cengkeramannya dan berkata, “Kau selalu menggodaku tanpa akhir...” dan dengan senyum kecil dia membuka matanya dan melihatnya. Dia benar-benar terjaga dan menatapnya. Dia bertanya dengan nada jengkel, “jadi kau tidak merasa mengantuk???”

Jalal dengan nada yang sama, “ya... Seperti kucing liarku telah dicuri dari semua tidurku...”

Jodha tersenyum, “Hmmm... Kemudian katakan padaku apa yang rencanamu sekarang...”

Jalal menyeringai dan menjawab, ”Aku ingin berbicara denganmu...”

Jodha dengan cepat duduk di tempat tidur dengan senyum lebar di wajahnya dan menjawab, ”oh wow... Jadi kau ingin mendengarkan pembicaraanku!”

Jalal hampir tertawa melihat dia bertindak cepat. Hanya satu menit yang lalu ia merasa sangat mengantuk dan sekarang dia penuh kegembiraan. Dia segera menjawab, ”Jodha, Sepertinya kau tidak mendengarkan dengan baik... Aku berkata aku ingin bicara...”

Jodha terkekeh dan menjawab,  “Yaa yaa... aku mendengarnya... Tapi itu berarti sama karena kau akan berbicara hanya satu kata sementara aku akan berbicara kalimat sepuluh... Kemudian kau akan tersenyum dan berkata huhuhu... hmmm... “

Jalal memandangnya dan menyeringai, “Oke, kau memulai pertama Malika E Hindustan...” [Jalal beristirahat di tempat tidur dan kepala di bantal sambil menatap chanchal nya Jodha... Jodha duduk menghadapnya...]

Jodha mulai dengan nada serius,  “Shahenshah, aku ingin meminta maaf untuk kesalahanku...”

Jalal dengan ekspresi mengejutkan menatapnya dengan tanda tanya di wajahnya.

Jodha dengan suara berat melanjutkan, “Aku tidak tahu bagaimana tetapi kemarin aku merasa aku melintasi batasku dan berbicara terlalu banyak tentang badi ammi... Tanpa bukti kuat, aku tidak menyalahkan dia... Aku tahu aku telah menyakitimu... Tolong Maafkan aku Shahenshah...” [Dia melipat tangannya dan menurunkan matanya. Rasa bersalah terlihat jelas di wajahnya.]

Jalal cepat bangun dari tempat tidur dan menangkupkan wajahnya dengan cinta. “Jodha, aku sama sekali tidak marah denganmu... Sebaliknya aku harus minta maaf seharusnya aku tidak perlu begitu banyak marah padamu... Aku tidak boleh berteriak padamu... kau hanya berbagi apa pun yang kau ragukan dan ingin aku supaya hati-hati... kau telah memenuhi tuhasmu sehingga kau tidak perlu merasa bersalah... Berbagilah apapun denganku kapan saja kau ingin tanpa rasa takut dan ragu-ragu... Sebenarnya itu adalah kesalahanku, aku tidak pernah mengatakan padamu bahwa badi ami sangat berarti untukku... Jodha, aku menyembah dia.. Dia lebih dari ibuku sendiri untukku... Aku sangat mencintainya... Di usiaku yang masih muda ketika ammijaan sedang sibuk dengan pekerjaan politiknya, maka badi ammi yang merawatku... berulang kali dia menyelamatkan hidupku dengan mempertaruhkan hidupnya sendiri... Dia mencintaiku melebihi anaknya sendiri... Itu sebabnya aku bereaksi telalu pahit atas keraguanmu... Jodha... Setelah Allah, badi ammi lah yang  aku sembah.. Tetapi aku Shahenshah tidak percaya pada siapapun... Jadi jangan khawatir, aku juga akan memperhatikan terhadap apapun yang telah kau katakan... Tapi aku rasa dia tidak terlibat dalam salah satu konspirasi dengan cara apapun...”

Setelah mendengar penjelasannya, matanya mendapat penuh dengan begitu banyak rasa hormat. Jalal berbaring lagi di tempat tidur beristirahat kepalanya di pangkuannya dan bertanya padanya, “Jodha begum, Apakah ada hal lain yang ingin kau katakan???”

Jodha tersenyum manis dan menjawab, “Ya Shahenshah, tapi pertama-tama kau yang bertanya lebih dulu... Meskipun aku sudah tahu apa yang ingin kau tanyakan padaku... “

Jalal menatap dia dan bertanya, “Hmmm aku tidak tahu begumku psikis... Jadi buktikan itu... ceritakan apa yang ingin aku tanyakan...”

Jodha dengan nada jengkel, “Tidak Shahenshah, aku tidak psikis... Tapi aku dapat memberitahu apa yang ada dalam pikiranmu dan sangat baik hati...”dia cemberut dan berkata, “Hmmm dan aku bisa melihat bagaimana kau mengolokku... Pergi, aku tidak akan berbicara denganmu...” Dia menghela napas dengan keras dan memberinya tatapan sengit dan memalingkan wajahnya.

Jalal dengan seringai nakal, ”Accha... Tampaknya kucing liarku marah denganku... “

Dia memutar matanya untuk menunjukkan sedikit sikap kemudian memalingkan wajahnya.

Jalal duduk tenang di lututnya membungkuk di tempat tidur dan perlahan-lahan dikelilingi salah satu tangannya pada pinggang Jodha dan cepat mulai menggelitik dia dengan tangan lain. Jodha tidak tahan dan mulai tertawa dan tertawa. Dia memohon lagi dan lagi,“Tolong biarkan aku pergi...” Tapi Jalal terus menggelitikunya. Akhirnya, ia memohon dengan nada sedikit keras, “Tolong Hentikan itu Shahenshah...”

Jalal menjawab, “Aku akan berhenti hanya dengan satu syarat... Pertama kau mengatakan bahwa kau tidak marah denganku... “

Jodha tertawa keras sampai terpingkal-pingkal. Akhirnya dia menyerah untuk menghentikan tindakan kekanak-kanakannya dia setuju, ”Yaa yaaa... aku tidak terganggu denganmu... Sekarang aku pergi.”

Dia berhenti menggelitik dia dan memeluknya penuh cinta dari belakang. Ia mengepung kedua tangannya pada pinggang, menyandarkan kepalanya pada bahunya dan memberinya sebuah ciuman lembut di  pipi dengan cepat, “Oke sekarang... Tolong katakan padaku Jodha... Apa yang aku ingin tanyakan padamu...”

Jodha dengan nada kesal menjawab, “Kau ingin bertanya padaku bagaimana aku tahu tentang  konspirasi Adham...”

Jalal dengan ekspresi terkejut, ”Jodha!!! Aku benar-benar terkesan... kau sungguh-sungguh psikis. kau benar-benar tahu apa yang terjadi dalam hati saya... Jadi katakan padaku sekarang bagaimana kau tahu tentang konspirasi ini??? “

Jodha mengatakan kepadanya segala sesuatu secara rinci.

Jalal dengan sedikit nada serius, ”Jodha Begum... Aku tahu sangat baik sangat berani... Tetapi kau tidak boleh datang di sana tanpa keamanan dan perlindungan... aku berterima kasih kepadamu karena telah menyelamatkan hidupku... Tapi aku tidak ingin kau membahayakan hidupmu untukku... Hidupmu sangat berharga bagiku... Aku tidak bisa hidup tanpamu bahkan untuk satu menit... Jika terjadi sesutu padamu maka aku tidak  akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri... Jiwaku akan mati meskipun raguku masih hidup...”

Sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya, Jodha menghentikannya menempatkan jarinya pada bibir dan menjawab, “Cukup Shahenshah... aku memperingatkanmu jika kau berani berbicara semua sampah ini lagi... Bagaimana kau bahkan dapat berpikir tentang bunuh diri... Kau adalah hidupku... kau sangat baik tahu betapa aku mencintaimu... Aku tidak bisa duduk dan menangis di ruangku ketika hidupmu berada dalam bahaya... aku seorang wanita rajvanshi dan itu adalah kewajiban moralku untuk menyelamatkan hidup suamiku dan pengorbanan diriku sendiri ketika diperlukan... Jika terjadi sesuatu seperti ini lagi maka aku akan mengulangi hal yang sama...”

Dengan keras, Jalal membalikkan tubuh Jodha menghadapnya dan berkata dengan nada marah, “Jodha... Berhenti menjadi begitu bersikeras Jodha... Tidakkah kau mengerti... Aku tidak ingin kau melakukan sesuatu seperti itu lagi... Apa kau pikir, aku tidak bisa melindungi diriku sendiri??? Kemudian dengarkan baik-baik... aku bukan orang yang lemah... aku telah menghabiskan setengah dari hidupku di medan perang berjuang antara hidup dan mati... Izinkan aku mengingatkanmuu bahwa suamimuu bukanlah orang biasa... Aku Jalaluddin Muhammad, Raja segala raja... aku mampu mengalahkan pasukan seluruh tentara dengan tangaku sendiri...”

Jalal melihat ekspresi ketakutan di wajah Jodha. Ia melunak dan menurunkan nada suaranya, “Jodha... kau kekuatanku tetapi pada saat yang sama kau juga kelemahanku... Dan seluruh Hindustan tahu bahwa aku dapat memberikan hidupku untukmu... Itu sebabnya aku tidak ingin pesaingku menggunakanmu sebagai senjata melawanku dan membahayakanmu dengan cara apapun...”

Melihat kemarahan Jalal, mata Jodha dipenuhi air mata dan dengan nada pendekatan Jodha berkata, “Tolong Maafkan aku Shahenshah... Aku sangat takut ketika aku mengetahui bahwa hidupmu dalam bahaya... aku mencoba untuk mencari Atgah Sahib dan Abdul tapi tidak bisa menemukan mereka di istana... Informasi ini juga sangat rahasia dan aku tidak menemukan setiap orang yang dapat dipercaya untuk berbagi dengan mereka... Juga itu adalah masalah keamanan dan kehidupan... Jadi aku pergi untuk bertemu denganmu untuk menyampaikan pesan ini... Aku sangat mencintaimu Shahenshah... Rasa takut kehilanganmu ketakutanku begitu banyak sehingga aku kehilangan semua kecerdikanku dan pergi dari Istana tanpa pasukan keamanan dan perlindungan... aku tidak punya maksud untuk menyakitimu...” Dia sangat terluka dengan kemarahan. Matanya mulai banjir.

Melihat matanya, kemarahan Jalal mulai melebur dan dia menyadari bahwa dia tidak perlu lagi berteriak padanya. Ia menyeka matanya dan menangkupkan wajahnya. Kemudian dalam nada yang sangat tenang dia berkata, “Mengapa kau begitu keras kepala, Jodha??? Cobalah mengerti... Kau adalah hidupku Jodha... Aku akan mati jika sesuatu terjadi padamu... aku hanya ingin membuatmu memahami bahwa aku dapat melindungi diri sendiri...”

Mendengar gairah cintanya dan merawatnya, Jodha merasa benar-benar diberkati. Matanya bersinar dengan perasaan konten mutlak. Dia tahu tindakannya telah sangat menyakiti hatinya. Dia bisa merasakan rasa takut akan kehilangan dia. Untuk memberikan bantuan hatinya yang terluka, dia mendekapnya dengan semanagt selama beberapa detik. Pelukannya yang hangat memberikan sedikit ketenangan pada hatinya yang terluka.

Kemudian Jodha memegang tangannya di tangannya, dengan nada yang sangat lembut dan penuh kasih sayang ia berkata, “Aku tahu dengan sangat baik berapa banyak kau mencintaiku dan aku juga menyadari kemampuan perangmu... Kulihat betapa beraninya kau bertempur dengan tentara musuh...” Kemudian Jodha melanjutkan ucapannya dnegan penuh semangat, “Aku senang dan terpesona melihat keterampilan pedangmu... aku telah mendengar berulang kali tentang keterampilan pedangmu tapi aku tidak tahu bahwa kau seperti seorang pejuang pemberani yang indah... Aku sangat senang melihatmu bergerak cepat, melompat, twists, dan taktik yang berbeda dan aku sangat kagum akan hal itu... Caramu berjuang seorang diri melwan begitu banyak prajurit, itu begitu menakjubkan Shahenshah... Jadi aku terkesan bahwa jika kau denganku pada saat itu kemudian aku akan langsung memelukmu erat dan... “ Tiba-tiba ia menyadari dalam kegembiraan ia berkata terlalu banyak.

Jalal juga snagat terkejut melihat dia begitu bersemangat. Ucapannya yang manis dan tanpa disadari kekaguman keberanian menciptakan lebih bersamangat dalam dirinya. Melihat cahayanya yang tidak bersalah dan wakahnya yang memerah sedikit senyum mengembang di wajahnya dan nafsu tampak jelas di matanya. Kemudian dengan nada antusias Jalal bertanya, “Dan apa Jodha begum?!” Mendengar nada bicaranya yang sensual membuat Jodha sangat malu dan tidak bisa menghadapinya. Dengan cepat dia melepaskan tangannya dan memalingkan wajahnya ke sisi lain untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah.

Jalal memindahkan wajahn Jodha mendekat dan menatapnya dengan kasih yang mendalam. Dengan lembut dia mencium pipinya dan berbisik, “Jadi apa lagi yang harus kau lakukan Jodha???” Dengan lembut ia mencium bibir pinknya yang cerah. Sentuhan lembutnya membuat dia fanatik. Tapi bagaimanapun dia berhasil mengendalikan keinginannya merespon sentuhan sensual nya. Jalal bisa merasakan upayanya untuk menolak rayuannya. Dia tahu Jodha tidak akan mampu menolaknya untuk waktu yang lama. Jadi untuk lebih merayunya dia menciumnya lagi di bibirnya tapi kali ini lebih bersemangat. Dia meluncurkan tangannya di rambutnya dan mendorongnya di tempat tidur. Tubuh mereka bertabrakan dengan semangat lagi. Tapi sebelum dia bisa pergi lebih lanjut Jodha mendorongnya ke samping dan berkata “Kau mulai lagi...”

Jalal menyeringai tanpa malu-malu dan dengan sedikit nada sensual ia berkata “Jodha... Hal ini bukan salahku... kau sangat menawan dan misterius, sehingga aku tidak dapat mengendalikan diri...”

Jodha menjawab, “Hmmm... Shahenshah kau selalu mencari alasan untuk datang dekatku... kau tidak pernah melewatkan kesempatan...” [Keduanya beristirahat di samping satu sama lain...]

Jalal menyeringai mendengar pernyataan itu...

Beberapa menit kemudian Jalal berkata “Jodha.”

Jodha menjawab, ”Hmmm...”

Jalal menjawab,  “Jodha... Ketika kau denganku, aku merasa seolah-olah aku berada di surga... Perdamaian yang aku temukan dalam pelukanmu seperti berada di tempat lain di dunia... aku berharap saat ini membeku di sini... Jodha... Jika semuanya telah berada di bawah kendaliku kemudian aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi dari pandanganku bahkan untuk kedua kalinya... Aku akan mencintaimu selama-lamanya sehingga tidak akan ada ruang yang tersisa untuk segala kesalahpahaman...”

Jodha geli mendengar pengkalimatan yang mendalam darinya. Dia dengan cepat berbalik ke arahnya dan nada menggoda (dalam bahasa urdu) ia berkata, “Apa itu masalah! Sepertinya hari ini kau berada dalam suasana hati puitis yang tenang... “

Jalal menyeringai dan keheningan timbul di antara dua burung cinta untuk beberapa waktu. Keduanya tenggelam dalam menatap satu sama lain. Jodha perlahan-lahan membelai rambutnya dengan tangannya yang lembut. Setelah beberapa waktu Jalal menyibak keheningan dan berkata “Ya, sekarang katakan padaku apa yang ingin kau katakan...”

Dia meletakkan kepalanya di dada Jalal dan berkata “Shahenshah... Aku sangat marah denganmu pada waktu itu sehingga tidak bisa memberitahumu, tetapi kau benar-benar membuatku bahagia dengan memelihara puasa karwa chauth untukku... Itu tidak akan pernah terjadi dalam sejarah yang setiap suami berpuasa untuk istrinya...”

Jalal memandangnya dengan cinta dan menjawab - “Dan aku akan selalu melakukannya...” Jodha merasa sangat gembira mendengar jawabannya yang lucu.

Jalal bertanya lagi padanya,“Apa lagi Jodha Begum???”

Jodha menjawab dengan nada rendah, ”Haan...”

Jalal menatapnya kembali dengan padangan menggoda, “Katakan apa lagi yang ingin kau katakan...”

Jodha menjawab dengan nada ceria, ”Shahenshah, aku benar-benar sangat senang dengan pengumumanmu... Keputusanmu telah membuatmu memenangkan hatiku lagi... Aku tidak pernah membayangkan, bahkan tidak dalam mimpiku bahwa kau akan berubah sedemikian rupa... Sebelumnya kau sombong, kejam, dan Shahenshah tak berperasaan... Tapi hari ini aku bangga padamu... Sebelumnya aku mengutuk takdirku karena telah membuatku menikah denganmu... Tapi hari ini aku sangat senang dapat disebut sebagai istrimu... Aku tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata betapa bahagianya aku hari ini... Tampaknya seolah-olah aku telah mencapai kebahagiaan terbesar dalam hidupku... Hari ini, kau telah menjadi ayah dari kerajaanmu, dalam arti sebenarnya...”

Jalal menyipit matanya jengkel dan sedikit kerumitan katanya, “Oh! Jadi aku adalah sombong, kejam, dan Shahenshah tak berperasaan...”

Jodha menikmati kejengkelannya. Dia cepat bangun dari tempat tidur dan duduk di dekatnya. Ia menarik pipinya yang gemuk dan terkikik, “Sekarang kau hanya tak tahu malu...”

Jalal menatapnya dengan tatapan mendalam bergairah. Kepolosannya, wajahnya yang ceria merayu padanya. Matanya murni dan ilahi yang membuat dia lebih tergila-gila padanya. Dia terlalu menikmati pembicaraan nakalnya. Ia menariknya dengan kuat dan tubuh mereka bertabrakan membuat suara kuat, “Thuddd...” Dia memeluk pinggangnya dengan erat “Junglee Billi, hari demi hari kau menjadi lebih nakal...”.

Kemudian setelah beberapa saat, Jalal kembali berkata, ”Apakah kau ingin mengatakan sesuatu yang lain???”

Dengan wajah merona, Jodha menganggukkan kepalanya.

Jalal tampak bergairah dan dengan nada yang sangat rendah berkata, ”Hmmm... Katakan...”dan dengan sedikit kesal ia berkata, ”pembicaraannya tidak akan pernah berakhir...”

Jodha berbaring di dadanya dekat hatinya dan berkata, “Aku sangat mencintaimu, Shahenshah... Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpamu sedetikpun... Tanpamu hidupku tidak ada artinya... Kehadiranmu membuatmu sempurna...”

Jalal memeluknya erat dan sensual menciumnya di dahinya.

Kemudian membuat wajah jengkel dia berkata, “Di istana, kita tidak pernah mampu berbicara damai... Satu atau orang lain akan selalu ada untuk mengganggu kita... aku ingin hanya kau dan aku untuk menjalani sisa hidup...” Sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya seseorang mengetuk pintu Pondok.

Ketukan di pintu. Jalal dan Jodha mendapat peringatan.



FF – Is It Hate or Love Chapter 31 Part 1

1 comments:

  1. kebahagiaan itu pasti akan dtg jika kita dgn singguh menghrpkannya dan kita saling percaya.

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.