FF – Is It Hate or Love Chapter 31 Part 2 - ChusNiAnTi

FF – Is It Hate or Love Chapter 31 Part 2


Written by Bhavini Shah
Translate by Arum Chusnianti

Abdul berteriak dengan cemas, Shahenshah!!! Shahenshah... Apakah kau di dalam...???” Jalal merasa lega dan Jodha memegang chuninya dan pergi di sisi sudut...

Jalal membuka pintu.

Abdul berkata dengan cemas, “Terima kasih ya Allah, Tuhan memberkatimu dengan keamanan Shahenshah... Shahenshah Jodha begum?”

Jalal menjawab dengan tenang tapi serius, “Kami berdua aman Abdul... Jangan khawatir...”

Kemudian ia berbalik dan melihat Jodha... Dia telah menyembunyikan dirinya di sudut karena pakaian yang robek... ia memerintahkan Jodha untuk tinggal di dalam sementara ia keluar dan memerintahkan Abdul untuk segera membuat pengaturan untuk mengambil tubuh Adham ke istana dan membuat pengaturan untuk mereka kembali ke Istana secara rahasia... Abdul menganggukkan kepalanya kemudian pergi.

Sementara itu Jodha berpakaian dengan baik dan bersiap-siap untuk berangkat kembali ke istana. Dia keluar dari pondok dan berdiri di dekat Jalal ketika Abdul pergi untuk pengaturan. Keduanya naik kuda yang sama menuju istana...

Cukup lama Jalal tidak mengatakan apa-apa. Keheningan-nya membuatnya khawatir. Jodha memanggilnya dengan pelan, ”Shahenshah..” tapi Jalal hilang dalam pikirannya sendiri sehingga tidak mendengarnya. Jodha memanggilnya lagi, tapi sekali lagi tidak ada tAnggapan. Mendapatkan ada tAnggapan dari Jalal, dengan cepat Jodha memalingkan wajahnya dan melihat wajahnya yang gugup. Butuh waktu baginya untuk memahami bahwa Jalal khawatir bagaimana harus menghadapi badi Ami.

Jodha berusaha menghiburnya dengan nada yang menghibur, “Jangan khawatir Shahenshah... Apa pun yang kau lakukan adalah benar... Adham adalah pengkhianat dan Badi Ami akan memahami itu... Dia tidak marah padamu...”

Kata-kata Jodha yang menenangkan tidak memberinya kenyamanan... Dia benar-benar tenggelam dalam pemikiran nya... Dia tidak khawatir bahwa badi akan marah padanya tapi ia khawatir tentang rasa sakit yang akan ia rasakan... jantungnya terus berdebar, bagaimana reaksi Badi Ami saat melihat mayat anaknya... Kekhawatiran Jalal terus meningkat secara bertahap.

Jalal dan Jodha tiba di Istana melalui jalan rahasia dan masuk ke ruangan Jalal. Ia memerintahkan Jodha untuk berganti pakaian.

Jalal segera memanggil Rukaiya begum, Salima begum, Hamidah Bano, Abdul dan Atgah Sahib ke serambinya untuk menginformasikan tentang  kematian Adham.

Hamidah benar-benar khawatir karena pertemuan mendadak tersebut. Dengan cemas dia bertanya, “Apa yang terjadi Jalal??? Mengapa kau tiba-tiba memanggil kami kesini???”

Mata Jalal terjebak pada wajah Jodha tang malu. Keduanya saling bertatapan. Mata Jodha menunduk merasa terhina.

Jalal memberitahu semua orang dengan berat hati tentang bagaimana Adham mencoba untuk membunuh dia dan bagaimana Jodha datang dan menyelamatkannya. Kemudian ia memberitahu semua orang dia membunuh Adham. Dia tidak menyebutkan sepatah kata tentang bagaimana Jodha diculik dan Adham mencoba memp*rk*sanya..

Jodha merasa begitu terpana. Dia memandangnya dengan rasa syukur.

Semua orang tahu ini akan terjadi suatu hari nanti. Cara Adham berperilaku dan kekejamannya, tidak satupun dari mereka terkejut.

Hamidah dengan nada instruktif berkata, “Aku dapat mengerti apa yang kau rasakan sekarang... Tapi itu adalah tanggung jawabmu untuk memberitahukan pada Maham manga secara pribadi...”

Jalal memandang Hamidah dengan ekspresi tak berdaya dan berkata “Ya ammi jaan...” dia menarik nafas dalam-dalam.

Setiap orang berjalan menuju kamar Maham anga. Jantung Jalal berdebar dengan kencang. Kakinya serasa menyerah. Akhirnya mereka semua bersama-sama sampai di Kamar Maham. Melihat semua orang di ruangannya dengan serius dan mata berkaca-kaca dan wajah sedih, dia merasa takut. Segera ia mengerti bahwa sesuatu yang salah telah terjadi. Sesuatu yang benar-benar buruk telah terjadi. Dengan takut-takut ia bertanya, “Apa yang tiba-tiba terjadi??? Apakah semua orang baik-baik saja??? Mengapa kalian semua di sini???”

Begitu banyak orang ada di ruang nya tapi belum ada yang bersuara. Tidak ada yang memiliki keberanian untuk memberikan berita ini. Setiap orang diam. Maham mengamati wajah semua orang. Tidak ada seorang pun siap untuk bertatapan dengannya. Akhirnya dia memandang Jalal. Melihat ketakutan terlihat di wajahnya dia mundur dua langkah. Dia belum pernah melihat Jalal serentan ini. Dia bertanya dengan sabar meskipun dengan nada khawatir dan mengancam, ”Jalal... Aku takut sekarang... Tolong katakan padaku apa yang telah terjadi???”

Jalal yang awalnya menurunkan padangannya, kini mengangkat matanya yang berkaca-kaca dan mencoba berbicara, ”Badi ammi...” Setelah Maham mendengar suara sedih nya segera ia paham bahwa sesuatu telah terjadi pada Adham. Hatinya menggigil. Matanya sedikit demi sedikit mendapat penuh dengan ketakutan yang ekstrim dan secara bertahap ia kehilangan kendali terhadap dirinya. Akhirnya, dia berteriak, ”Jalal... Katakan padaku apa yang telah terjadi???”

Kata-kata Jalal terjebak di tenggorokan. Ia tidak memiliki keberanian yang tersisa untuk menceritakan pada badi ammi nya tentang kebenaran. Maham tahu bahwa sesuatu yang benar-benar buruk telah terjadi pada Adham. Dia menjerit keras dan mencengkeram kurta Jalal dengan kedua tangannya. Kemudian dengan menangis ia berkata “Adham...”

Jalal menatapnya dengan rasa sakit dan menganggukkan kepalanya. Ia menjadi hancur, menangis keras dan berkata “Haan badi ammi... Adham...”dan semua orang pindah dari pintu sehingga Maham dapat melihat mayatnya.

Maham melihat tubuh Adham tergeletak di tanah ditutupi dengan kain putih. Dia berjalan dua langkah dan membeku. Jantungnya berhenti berdetak untuk saat ini. Dia mengambil napas dalam-dalam karena takut. Ia perlahan-lahan datang dekat mayat Adham dan melepas penutup dari wajahnya. Segera setelah ia melihat kepala Adham terpisah dari tubuhnya, dia berteriak histeris, ”ADHAMMMM...” Matanya melebar. Jeritan menyakitkan mengaum kembali di Istana berkali-kali. Tanpa sadar air matanya terus mengalir. Melihat kondisinya yang begitu rentan dan mengerikan, semua orang menitikkan air mata. Maham menangis dalam duka. Dia memeluk mayat Adham dan menjerit, “Ya Allah... mengepa aku tidak mati sebelum melihat hari ini...” Rasa sakitnya begitu ekstrim. Jalal tidak memiliki kekuatan yang tersisa untuk berdiri di sana. Ia merasa benar-benar tak berdaya. Setelah sekitar satu menit, Maham memandang Jalal  dengan matanya yang merah dengan kemarahan dan bertanya, “Siapa yang melakukan hal ini kepada anakku??? Siapa yang berani melakukannya???”

Jalal tersendat. Air mata meluncur dari matanya. Melihat kondisi Jalal yang rentan Jalal, Hamida melangkah menghampiri Maham dan menceritakan dengan tenang tapi jelas, “Maham... Aku akan memberitahumu siapa yang melakukan ini... Adham telah menghianati kaisar dan kekaisaran yang menghukumnya... Ia berkelompot untuk membunuh Jalal... Tetapi dengan karunia Allah, Jalal mengalahkannya serta menghukumnya karena kesalahannya...”

Mendengar ini, Maham merasa seperti seseorang menuangkan asam pada dirinya. Dia terbakar luar dalam secara bersamaan. Api menyala di hatinya dan Iblis di maranya. Pada saat itu, dia merasa seperti berjalan dan membunuh Jalal secara brutal. Dia memandang Jalal dengan pandangan yang mengerikan. Kemudian dengan cepat dia mengendalikan dirinya dan menelan kemarahannya dalam-dalam. Jodha melihat bahaya terlihat jelas di matanya sehingga membuatnya ketakutan untuk kedua kalinya. Hati Jalal hancur berkeping-keping. Dia bisa merasakan rasa sakit Maham. Matanya akhirnya mencurahkan air mata. Ia merasa sangat bersalah. Ia tidak bisa mengangkat matanya untuk melihat mata Maham. Maham menyeka matanya dan dengan pandangan serius ia beranjak. Dia memandang Jalal. Mata Jalal masih diturunkan dalam rasa bersalah dan rasa sakit. Maham kembali meraih kurtanya dan dengan suara berat ia berkata, ”Jalal apa pun yang kau lakukan adalah benar... Aku tidak akan mencucurkan tangisku untuk pengkhianat ini...”Setelah mengatakan hal itu, Maham berlari ke dalam ruangannya. Semua orang memandang kepergiaannya.

Maham masuk ke dalam dan menangis dengan suara keras. Setiap air matanya dipenuhi dengan kemarahan ekstrim. Sedikit demi sedikit matanya berbah menjadi kebencian kepada Jalal. Dia tidak pernah membenci Jalal. Dia selalu mencintanya seperti anaknya sendiri. Tentu saja ia memiliki alasan egois dibalik itu tetapi cintanya adalah murni sebagai seorang ibu. Tapi hari ini, matanya membasuh semua cintanya terhadap Jalal. Jika ada yang tersisa sekarang, hanyalah balas dendam dan kebencian terhadapnya.

Maham berbicara kepada dirinya sendiri, “Jalal, aku tidak akan membiarkanmu... kau akan harus membayar untuk ini... Aku akan membunuhmu tapi tidak seperti ini... Aku akan membuatmu menangis setiap hari dan malam... Aku akan mengambil ketenangan, tidurmu dan segala sesuatu yang lain yang kau memiliki... Aku akan membunuhmu melalui orang-orang yang kau sayangi... kau akan mengemis untuk kematianmu... Tapi aku akan mengambil segala sesuatu darimu satu per satu...” Matanya berubah sepenuhnya merah dengan kemarahan.

Jalal merasa begitu tak berdaya dan rentan. Ia benar-benar rusak dan hancur terduduk di sofa.

Jalal memberitahu semua orang bahwa ia ingin sendirian selama sehari. Seluruh siang dan malam ia habiskan untuk berpikir tentang Maham.

Keesokan harinya, Hamidah dan Jodha berjalan ke ruangan Jalal. Rasa sakit itu terlihat jelas di wajahnya. Dia sedang beristirahat di sofa dengan mata tertutup. Mendengar suara Zulfan Jodha ia membuka matanya dan melihat keduanya yang menenangkan.

Hamidah duduk di sebelah Jalal dan membelai rambutnya. Kemudian dalam nada menghibur dia berkata “Jalal... Anakku... Aku benar-benar mengerti apa yang kau lakukan... Kami semua sangat bAngga padamu... kau telah berjuang melawan Adham dengan keberanian seperti itu... Aku mengerti rasa sakit dan kesedihan bagi Maham Angga... Aku hanya ingin mengatakan bahwa Maham adalah seorang wanita yang sangat kuat... Dia benar-benar mengerti mengapa kau melakukan ini... kau tidak perlu merasa bersalah... Berulang kali kau membuatnya sadar tentang kesalahan Adham... Tapi itu takdirnya bahwa dia tidak bisa membuat keputusan yang tepat...” Dia berhenti sejenak kemudian melanjutkan ucapannya, “Sekarang... aku ingin kau untuk mengikuti jadwal seperti yang direncanakan... kau harus mengunjungi desa-desa yang terkena banjir hari ini... Saranku adalah bahwa kau harus melanjutkan perjalananmu yang akan membuatmu tetap sibuk dalam pekerjaan dan akan membantumu untuk keluar dari kejadian mengerikan ini...”

Jalal mengerti apa yang Hamidah coba akatakan. Dia benar-benar setuju dnegan pendapatnya dan menjawab dengan nada lembut tapi tegas, “Kau benar Ammi jaan... Aku harus melakukan sesuai rencana.”

Hamidah memandang Jalal dengan kepuasan dan memerintahkan Jodha untuk membuat persiapan untuk perjalanan Jalal dan meninggalkan ruang.

Jodha tahu keadaannya yang mengerikan dan sangat khawatir baginya. Ia tidak ingin meninggalkannya sendirian. Jadi untuk mengurangi kekacauan batinnya, dia berkata ”Shahenshah... Bolehkah aku menemanimu dalam perjalanan ini??? aku tidak dapat membiarkanmu pergi sendirian di negara ini...”

Jalal menjawab,  “Jodha... Jangan khawatir, aku baik-baik saja... aku ingin kau untuk tinggal di sini dan mengurus badi ammi... Sebuah kecelakaan besar telah terjadi... Dan juga itu hanya masalah dua hari... Aku akan segera kembali...”

Dengan ekspresi sedih Jodha menyetujui keputusan tersebut, “Ji Shahenshah, aku pasti akan mengurus badi ammi... Tapi kau segeralah kembali dan rawat diri sendiri... aku akan sabar menunggumu...”

Jalal dengan senyum kecil memandang Jodha dan menjawab, “Aku akan segera kembali Jodha... Tapi kau juga rawat diri sendiri...”

Pagi berikutnya Jodha bersiap-siap, selesai melakukan doa dan Tulsi pooja, ia pergi untuk melohat Maham. Ia terkejut saat melihat Maham benar-benar normal. Dia sudah siap untuk DWK. Tidak ada yang bisa percaya bahwa anaknya meninggal dua hari yang lalu melihat kondisinya saat ini. Jodha masuk ke ruangan di mana Rukaiya duduk dan berbicara dengan Maham. Maham melihat Jodha. Hanya melihat wajahnya, darah Maham lansung mendidih. Dia berbicara dengan keras, “Selamat datang Malika-e-Hindustan... Selamat datang...”

Dengan sedikit ragu-ragu Jodha melakukan PRANAM Maham dan Rukaiya. Maham menyambut dengan ADDAB. Jodha melihat tampilan jahat yang sama di mata dan senyum palsunya. Jodha dengan nada yang sangat hormat bertanya, “Bagaimana kabarmu badi ammi???”

Maham menjawab dengan nada jahat, “Karenamu, aku merasa baik... masuk dan duduklah... Malika-e-Hindustan...” Dia menekankan Malika e hindustan. Jodha merasa cukup aneh dan gelisah dengan nada sarkastik tersebut. Dengan sedikit ragu dia berkata, ”Dhanyawad badi Ami (Terima kasih badi Ami) tapi aku akan Ambe Mata Candi... Jika aku duduk di sini sekarang maka aku pasti akan terlambat untuk sesi DWK... Dan juga Shahenshah tidak di Istana hari ini... Jadi keberadaanku menjadi benar-benar penting di sana... Aku akan meninggalkanmu sekarang... Pranam...”dan Jodha pergi dari ruangnya. Melihat mata Maham, Jodha mulai meragukan pada niatnya. Kali ini hati dan pikirannya tahu dia merancang sesuatu yang jahat...

Jodha mengambil thal pooja nya dan mengutus Reva untuk berjaga di gerbang depan untuk mengatur palkhi. Dalam beberapa menit, Jodha berjalan ke gerbang depan tetapi ia terkejut melihat Abdul di sana.

Jodha tersenyum dan dengan sedikit hormat bertanya pada Abdul, “Kau datang ke Bait kami???”

Abdul menjawab dengan muram, ”Ji Begum Sahiba... Shahenshah telah memerintahkan saya untuk menemanimu keluar istana kemanapun anda pergi...”

Jodha sedikit menyeringai berpikir tentang Jalal, ”Bagaimanapun ia peduli!”

Jodha menjawab Abdul dengan rasa syukur, “Karena itu adalah perintah Shahenshah bagaimana aku bisa menyangkal...”

Abdul sedikit tersenyum dan menemaninya dengan dua tentara lain dan semua orang yang tersisa ke Bait Suci.

Abdul sedang menunggu Jodha dan Reva di luar kuil. Mereka berdua keluar dari Bait Suci dan Abdul mengikuti mereka sambil mengawasi sekitar untuk memastikan keamanan mereka.

Jodha dan Reva berjalan sambil memegang pooja thal. Reva bertanya dengan melihat Jodha, ”Jodha... aku sudah kenal kau selama bertahun-tahun... Setiap kali kau nazar (Mannat) kau tawarkan kelapa kepada Tuhan... Tapi aku tidak melihatnya lagi... Ketika kamu sudah memiliki segalanya yang kau inginkan, yang telah kau minta!”

Jodha menyeringai misterius dan menjawab, “Hmmm... Reva, kau tahu aku begitu baik maka kau juga tahu bahwa aku tidak pernah memberitahu nazarku kepada siapa pun??? Pada saat hari itu permintaanku akan dipenuhi, aku sendiri akan memberitahumu tentang hal itu... “

Mereka hampir pada langkah terakhir. Tiba-tiba, mata Abdul menangkap beberapa orang di belakang pohon yang mencurigakan. Sebelum dia bisa melakukan apapun, ia melihat belati bergerak ke arah Jodha begum. Untuk menyelamatkan hidupnya ia dengan cepat mendorong Jodha ke sisi lain. Dan menjerit, ”Awas...” Bukan Jodha begum, belati itu mengenai bahu Abdul. Abdul segera menyerangnya dan melukai orang tersebut. Melihat kondisi Abdul, mata Jodha melebar karena terkejut dan shock. Prajurit lain berlari mengejar penyerang yang sudah dilukai Andul. Tapi sebelum mereka berhasil menangkapnya, penyerang itu mati di tempat. Sebuah belati menancap di dahi penyerang tersebut.

Abdul dengan cepat mengambil belati dari bahunya. Dia sedikit menjerit kesakitan. Jodha khawatir melihat kondisinya. Abdul dengan ekspresi yang khawatir segera memberi perintah kepada setiap orang untuk segrea kembali ke Istana melalui jalan rahasia. Mereka semua sampai di Istana dengan aman.

Semua orang di Istana sempat terkejut mendengar tentang serangan ini. Hamidah dengan rasa takut datang ke kamar Jodha dan memeluknya erat dengan berlinangan air mata dan dengan begitu banyak kasih sayang dia mencium dahinya. Dengan sedih dan berkaca-kaca dia berkata, “Jodha... Jika sesuatu terjadi kepadamu kemudian... Oh Tuhan, aku sangat berterima kasih kepadaMu karena menyelamatkan nyawa anakku... “

Hamidah dan Jodha pergi secara pribadi mengucapkan terima kasih kepada Abdul atas keberaniannya.

Maham mendapat berita rencananya benar-benar telah gagal. Dia marah. Dengan keras dia memukulkan tinjunya ke dinding. Matanya penuh dengan kemarahan dan kemarahan yang ekstrim. Akhirnya dia benar-benar kehilangan kesabarannya dan hampir berteriak keras, “Aku tidak akan melepaskamu... Karena kau, Jodha anakku Adham sudah mati... kau harus membayar atas perbuatanmu... kau akan menghadapi wajah Maham yang sesungguhnya... aku ingin melihat Jalal menangis darah... Jika sesuatu terjadi pada Jodha, Jalal benar-benar akan hancur... aku tahu dengan baik bagaimana menyakitimu... Berapa lama kau bisa menyelamatkan dirimu sendiri Jodha...” Maham tertawa dengan keras.

Hari berikutnya Maham masuk ke kamar Rukaiya untuk meracuni pikirannya. Dia mulai dengan seringai jahat, “Hari ini kau harus sangat bahagia Rukaiya Begum... Setelah Jalal kembali... Dia pasti akan menghabiskan malamnya hanya denganmu... “

Rukaiya menatap Maham dengan tatapan yang berapi-api dan berkata, “Kau tahu dengan baik bagaimana menaburkan garam pada luka bakar... Aku tidak mengharapkan semua ini darimu... Bagaimana bisa kau mengejekku seperti ini...”

Maham membentaknya kembali, “Dan aku juga tidak mengharapkan ini darimu, hanya bisa menangis pada takdirmu tanpa membuat usaha...”

Rukaiya memandang Maham dengan penghinaan dan menjawab, “Kendalikan lidahmu Maham... Kau jangan lupa bahwa aku Begum-e-Khaas Kesultanan ini dan nilaimu di Istana ini tidak lebih dari seperti pekerja biasa... Bahkan hari ini aku memiliki kontrol penuh atas Harem Mughal... Jadi kau lebih baik berbicara kepadaku dengan hormat...”

Maham merasa terbakar tapi entah bagaimana ia berhasil menelan kemarahan dan menjawab dengan nada sangat tenang, “Maafkan atas kelancanganku Begum e Khaas... aku tidak bermaksud menyakitimu... aku telah melihatmu tumbuh di depan mataku.. Aku selalu memperlakukanmu seperti putriku sendiri... Hatiku terbakar melihat Jodha membawa Jalal menjauh darimu... Aku hanya ingin membuatmu menyadari keberanaran dan membantumu dengan menghilangkan hambatan terbesar dari jalanmu... Tapi aku rasa kau salah paham.. Tetapi cara apapun... aku rasa aku tidak punya pekerjaan yang tersisa di sini sekarang... Aku akan meninggalkanmu... Tuhan memberkatimu...”

Rukaiya menyadari kebutuhan situasi. Bagaimanapun juga dia ingin mendapatkannya menyingkirkan Jalal dari cengkeraman Jodha. Dengan suara berat dia berkata, “Tunggu Maham Anga... Katakan padaku dengan jelas apa yang ingin kau katakan... Aku bisa melakukan apa sjaa untuk mendapatkan Jalalku kembali...”

Maham menyeringai. Dia tahu tanpa melibatkan Rukaiya dalam renacananya, ia tidak akan bisa berhasil. Dia menoleh padnaya dengan dengan sedikit seringai di wajahnya ia berkata, “Kemudian dengarkan...” Dia datang dekat telinganya dan membisikkan tetang seluruh rencananya.

Setelah mendengar rencananya wajah Rukaiya sangat terkejut dan takut. Dia memandang Maham dan bertanya, “Apakah kau yakin rencana ini akan berhasil???”

Maham memberinya seringai jahat dan menjawab, “Rencana ini akan berhasil hanya jika kau memiliki keyakinan penuh padaku...”

Rukaiya dan Maham keduanya tersenyum jahat.

~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~

Siang itu begitu cerah dan sejuk. Tiga hari telah berlalu dan Jodha sangat merindukan Jalal. Dia duduk di bangku taman, pikirannya melayang sementara Reva bermain dengan Rahim. Mereka sedang berjalan di taman. Mereka bermain banyak permainan tapi Rahim mulai bosan dengannya. Dia akhirnya mendekati Jodha dan dalam nada marah berkata, “Choti Ammi jaan... Aku tidak ingin bermain dengan Reva... Aku bosan bermain dengan permainan lamanya yang selalu sama...”

Jalal melihat Jodha dan Rahim berbicara dari agak jauh. Dia ingin mengejutkan Jodha. Sehingga ia bersembunyi di balik pohon dan mendengarkan mereka berbicara manis.

Jodha tersenyum melihat Rahim marah. Dia memanggilnya - “Kemarilah Rahim...” Rahim duduk di pangkuannya dan dia bertanya lebih lanjut - “Hmmm... Sekarang katakan padaku apa yang terjadi dengan Pangeran kecilku...”

Rahim dengan ekspresi sedih dan nada marah berkata -”Choti Ami jaan... aku tidak memiliki siapapun untuk diajak bermain... Dan ketika aku bertanya pada ammi jaan untuk memberiku saudara dia tidak menjawab hal itu... Hari ini, aku mengeluh kepada dadi jaan tentang hal itu... Tapi dia mengatakan bahwa kau akan memberiku saudara... Semua orang mengelak... Tidak ada yang peduli tentangku... Dan Reva ini juga memainkan permainan lama yang sama lagi dan lagi... aku tidak suka bermain dengannya lagi...”

Ketika berbicara dengan Jodha. Rahim melihat Salima yang datang ke arah mereka. Ia dengan cepat melompat dari pangkuannya Jodha dan berlari pergi memanggil Salima - “Ayo Ammi jaan... Datang dan tangkap aku... “

Ucapan Rahim yang manis dan polos membuat Jodha menitikkan air mata.

Karena saat malam pertama mereka, hati Jodha dipenuhi dengan keinginan untuk menjadi seorang ibu. Akhir-akhir ini, kerinduan ini menjadi lebih dan lebih kuat. Ia menyembunyikan keinginannya dari semua orang termasuk Jalal tetapi dia menangis selama satu jam ketika ia menstruasi terakhir kali. Sudah dua bulan sejak malam pertama mereka dan sekarang setiap kali dia melihat bayi, dia semakin mendambakan anak.

Reva melihat mata Jodha yang berkaca-kaca. Dia duduk di arah yang berlawanan dari Jodha dan bertanya padanya - “Ada masalah apa Jodha??? Mengapa kau begitu marah setelah mendengar Rahim??? Dan mengapa air mata ini di matamu??? “

Air mata Jodha semakin deras dan dia mulai menangis.

Hati Jalal terasa sakit melihat Jodha menangis. Dia terkejut melihat dia terisak-isak dan berpikir apa yang terjadi padanya tiba-tiba?

“Reva... kau tahu... Terakhir kali, ketika aku periode bulanan, aku begitu marah dan berteriak... “

Reva melihat Jalal mendengarkan percakapan mereka dan berjalan ke arah mereka. Ia memberikan sinyal kepada Reva untuk tidak mengatakan apa-apa.

Jodha terus berbicara - ”Reva... Apakah kau tahu akhir-akhir ini aku merasa seperti aku bukanlah wanita sempurna... setiap kali aku melihat bayi kecil aku sangat ingin untuk memiliki anakku sendiri... aku benar-benar ingin punya bayi kecil bermain dalam pelukanku, manis... aku ingin mendengar sedikit tawa bayi... Aku ingin bahwa seluruh Istana bahagia dengan kehadiran bayi... Aku ingin memberikan Shahenshah ahli warisnya... Inilah Nazar (mannat) ku saat pergi ke Kuil Ambe Mata... “

Reva bangkit dari sana diam-diam dan menjauh dari sana dengan tawa.

Jodha merasa terganggu melihatnya cekikikan dan melarikan diri dari dia tiba-tiba...

Jalal tersenyum melihat wajah marah setelah tiga hari. Dia masih tidak bisa melihatnya... Jalal datang dari belakang dan duduk di bangku... dan dengan hati-hati menyeka matanya. Tiba-tiba ia menyadari kehadiran Jalal. Dia mengangkat matanya yang basah dan melihat Jalal di depannya. Matanya merekah dengan kebahagiaan.

Jodha tiba-tiba menyadari bahwa Jalal mendengarkan percakapannya dengan Reva dan dia merasa sangat malu.”Shahenshah... Mengapa kau selalu mendengarkan pembicaraan rahasiaku bersama Reva???”

Jalal dengan seringai - “Maka mengapa kau selalu berbicara kepadanya tentang aku diam-diam???”

Jodha berpaling ke arahnya - ”Tapi... aku hanya mengatakan bahwa...”dia tidak menemukan kata apapun untuk menyelesaikan kalimatnya. Dia merasa sangat malu dan memerah di seluruh wajahnya.

Jalal menangkupkan wajahnya dengan cinta dan berkata - “Hmmm... Jadi Begum kecilku ingin menjadi seorang ibu...”Dia berhenti sejenak kemudian pura-pura marah - ”tapi aku sangat marah denganmu Jodha... Mengapa kau menyembunyikan perasaan luar biasa ini dariku??? Aku tidak tahu Begumku begitu putus asa untuk menjadi seorang ibu... aku berharap Tuhan memenuhi keinginkanmu ini segera...“ Ia melihat ke arah langit dan berkata “Ameen...”

Jodha menundukkan pandangannya dan dengan malu berkata - “Shahenshah... Bagaimana aku harus memberitahumu tentang ini...”

Jalal menikmati melihat nya memerah dan dengan nada menggoda berkata - ”Dan apa gunanya berbagi keinginanmu dengan orang lain... Kapan saja aku dapat memenuhi keinginanmu ini... Reva tidak melakukan apa-apa di dalamnya... Dan Kanhamu sendiri mengatakan... Hanya tetap melakukan kerja keras dan jangan khawatir tentang hasilnya...” Dia berhenti sejenak dan melanjutkan dengan nada sensual -”Melangkah ke depan, aku akan hanya memiliki satu tujuan dan itu adalah untuk memenuhi keinginanmu... Aku tidak akan mendengarkan lagi... Sehari-hari kita akan melakukannya tiga kali selama hari dan dua kali waktu malam...” Jalal mengedipkan mata padanya.

Mulut Jodha terbuka, dia terlalu malu akan hal ini.

Jalal menyeringai melihat wajahnya malu-malu dan dalam waktu singkat membawanya dalam pelukannya. Jodha terkejut dengan tindakannya yang tiba-tiba - “Apa yang kau lakukan Shahenshah???”

Jalal memandangnya nakal dan berbisik - “Aku hanya berusaha memenuhi tugas aku untuk mencapai keinginanmu Jodha Begum...”

Rukaiya dan Maham memainkan permainan besar mereka...


FF – Is It Hate or Love Chapter 31 Part 2

2 comments:

  1. segala sesuati yg jahat tdk akan bethsl dgn baik krn akan tercium lambat laun, tp sesuatu niat yg baik wlu byk rintangan akan berbuah yg baik. lnjt mbak

    ReplyDelete
  2. segala sesuati yg jahat tdk akan bethsl dgn baik krn akan tercium lambat laun, tp sesuatu niat yg baik wlu byk rintangan akan berbuah yg baik. lnjt mbak

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.