FF - Is It Hate or Love Chapter 32 Part 2 - ChusNiAnTi

FF - Is It Hate or Love Chapter 32 Part 2


Written by Bhavini Shah
Translate by Arum Chusnianti

Jodha dengan tenang menjawab “Apa yang aku lakukan adalah untuk keselamatanmu Rukaiya begum dan jika Kau tidak setuju maka aku harus berbicara dengan Shahenshah.”

Rukaiya menjawab putus asa “Aku sangat lapar sekarang, biarkan aku makan terlebih dahulu baru kita akan membicarakan hal ini... Khuda Hafiz Jodha begum.” Ia pahit menatap dia.

Jodha meninggalkan kamar Ruks dengan perasaan kesal, tetapi setidaknya dia senang karena telah menggagalkan rencana Maham.

Hari telah malam, Jodha selesai melakukan Aarti dan menyalakan lilin di kamar. Reva masuk ke dalam kamar Jodha dengan terengah-engah. Melihat hal itu Jodha khawatir... Dengan panik dia bertanya, “Apa yang terjadi Reva? Mengapa kau seperti ini?”

Dengan sedih Reva berkata, “Jodha... Rukaiya begum...” dan Reca berhenti...

Mata Jodha melebar, dia berteriak, “Reva apa yang terjadi pada Rukaiya begum?”

Reva menjawab dalam nada ragu-ragu, “mungkin... bayinya...”

Jodha langsung berlari menuju kamar Ruks, jantung serasa berhenti berdetak melihat banyaknya orang yang ada di kamar Ruks. Jodha mendorong mereka untuk bisa masuk ke dalam ruangannya, dimana ada tabib yang sedang berdiri di samping Ruks... Rukaiya menangis dengan keras, air matanya tak henti-hentinya mengalir... Melihat kondisi Ruks yang rentan, Jalal pun ikut menangis... seluruh tempat tidur penuh dengan darah... tidak membutuhkan waktu lama untuk memahami bahwa Rukaiya telah kehilangan bayi... Air mata Jodha mengalir dengan deras melihat kondisi setiap orang... Tabib telah selesai memeriksa Ruks... Terlihat jelas dari wajahnya bahwa Ruks benar-benar kehilangan bayinya... Jalal duduk di samping Ruks dan memeluknya dengan erat untuk memberikan dukungan kepada Ruks...

Maham dengan hati-hati bertanya “Hakim sahiba... Apa yang terjadi??? Kau memeriksa Rukaiya begum pagi ini, dia benar-benar baik, lalu apa yang terjadi??? Apa yang salah...???”

Hakim Sahiba dengan nada serius meminta untuk berbicara dengan Jalal berdua... Semua orang terkejut... namun Jalal tetap meminta semua orang untuk keluar dari  ruangan...

Hakim mulai bercerita, “Shahenshah, menurut penyelidikanku... Rukaiya begum diberi obat bernama dhatura yang berbahaya bagi bayi... Aku bisa mencium bau itu di mulutnya dan sisa makanan juga.”

Jalal marah, “Hakim Sahiba... Apakah Kau yakin tentang apa yang Kau katakan... Jika semua ini adalah rekayasamu maka  aku akan membakarmu hidup-hidup.”

Tabib dengan nada takut menjawab, “Aku hanya mengatakan apa yang ku lihat, apa yang kudapatkan dengan merencakan ini.”

Jalal dengan marah memandang Maham dan bertanya, “Kau yang bertugas menyediakan makanan untuk Rukaiya, kan?”

Maham memandang Jalal dengan air mata buayanya dan berkata, “Ya Shahenshah, tapi makanan hari ini dibuat oleh Jodha begum bukan aku. Pagi ini dia datang ke dapur istana dan di depan semua orang dia menghinaku dan membuang makanan yang telah aku siapkan dan memintaku untuk pergi dari sana... tapi aku tidak tahu bahwa di balik semua itu dia merencanakan ini semua.”

Setiap orang dalam kamar terkejut... Jalal terpaku... Mata Hameeda melebar... Jodha tidak tahu apa yang terjadi... semuanya terjadi begitu cepat... Otaknya berhenti bekerja untuk sementara waktu... dia tidak memiliki jawaban untuk hal ini... Tidak ada yang tahu bagaimana harus bereaksi terhadap situasi ini... Maham menunjuk Jodha begum...

Rukaiya bangun dari tidurnya... Ruks berlari menghampiri Jodha dengan berteriak... Dia langsung menampar Jodha beberapa kali... Jalal terperangah, kemudian dia berteriak, “Berhenti Rukaiya...” Jodha hanya berdiri disana seperti patung...

Rukaiya menangis dan dengan marah langsung menghampiri Jalal, “Shahenshah aku ingin keadilan... Aku ingin keputusan tentang hal ini sekarang... Shahenshah aku ingin keadilan...”

Jalal memandang Jodha dan Rukaiya...

Lima belas menit kemudian... semua orang yang berkumpul di DWK... Semuanya terjadi begitu cepat... Tidak ada yang punya waktu untuk mengendalikan emosi mereka... seluruh lapangan dipenuhi dengan orang-orang... Sebagian besar orang meneteskan air mata mereka... Seluruh lapangan menangis karena kematian varis mereka...

Jodha begitu terpana bahwa dia tidak tahu apa yang harus dikatakan... Dia tahu dia benar-benar terjebak dengan tuduhan Maham... Ia tidak ada argumen yang tersisa untuk mengatakan apa-apa...

Lapangan mulai resmi... Jalal diperintahkan untuk memanggil Jodha begum... Jodha berjalan perlahan-lahan dan datang untuk berdiri di sana dengan menurunkan pandangannya... Mereka kemudian memanggil Rukaiya datang di depan...

Maham mulai kasus... Jodha begitu tak berdaya karena seluruh bukti melawan dia... Di antara salah satu dasi datang dan mengatakan pada maham sesuatu di telinganya...

Maham dengan suara nyaring dan marah... “Shahenshah, setelah menemukan bukti ini kita tidak perlu bukti-bukti lain... Aku telah mengirim beberapa prajurit untuk memeriksa kamar Jodha begum dan dari sana mereka menemukan kotak ini yang mengandung racun sehingga Rukaiya begum kehilangan anaknya.”

Setiap orang terkejut mendengarnya, seluruh lapangan diisi dengan gumaman... Jodha melihat dibbi (kotak) dan terkejut, segera ia mengerti Maham sedang bermain dengan dia dari awal tapi itu terlalu terlambat untuk membantah apa pun...

Jalal dengan lembut berkata “Begum Jodha, lihat aku.”

Jodha memandang Jalal dengan mata berkaca-kaca, kemudian Jalal bertanya “Apakah Kau melakukan kejahatan yang mengerikan ini... Jawabanmu hanya Ya atau Tidak...”

Jodha dengan memohon berkata, “Tidak Shahenshah aku tidak melakukan kejahatan yang mengerikan ini.”

Kemudian Jalal bertanya dengan sedikit suara keras dan tegas “Apakah Kau membuang makanan yang dibuat oleh Badi Ammi... jawabanmu hanya Ya atau Tidak...”

Jodha dengan suara bergetar menjawab, “Haan” (Ya)

Jalal bertanya pertanyaan lain nya... “Apakah Kau menyiapkan makanan hari ini untuk Rukaiya???”

Jodha dengan nada peringatan “Ji Shahenshah” (ya Shahenshah)

Jalal bertanya lagi... “Apakah orang lain memberikan makanan ini untuk Rukaiya begum??”

Jodha dengan menundukkan mata dan menangis... “Tidak Shahenshah hanya aku yang memberikannya.”

Jalal putus asa, “Dan Kau masih mengatakan Kau tidak bersalah!!”

Jodha mengangguk,“Ya...” Hatinya gagal mendengar ini dari mulut Jalal, dia tidak pernah berpikir bahwa Jalal meragukannya dan mengajukan pertanyaan seperti ini... Dia melihat mata Jalal ada kesedihan namun raut wajahnya penuh dengan kemarahan.

Jalal kehilangan semua energinya untuk mengatakan apa-apa lagi... Dia bisa melihat tidak bersalah dalam mata Jodha namun ia tak berdaya, semua bukti melawan Jodha, dia tidak tahu bagaimana untuk menyelamatkan Jodha tetapi bahkan setelah semua bukti, ia percaya sepenuhnya pada Jodha... Dia tahu bahwa Jodha tidak bisa melakukan hal seperti itu, tetapi ia adalah Shahenshah... Jalal dilema...

Seluruh lapangan sedang menunggu Jalal mengatakan sesuatu... Tapi suasana masih hening...

Akhirnya Rukaiya berteriak, “Shahenshah, mungkin Kau sulit mengambil keputusan hari ini... tapi aku harus mengambil keputusan ini... Menurut aturan Mughal ini adalah hakku... Jodha begum adalah pelakunya, dia telah menyambar kebahagiaanku... dia telah membunuh anakku... sehingga aku akan menghukum dia...

Tapi sebelum Rukaiya bisa memberikan hukuman pada Jodha, Jalal menghentikan Rukaiya... “Tunggu Rukaiya... Aku tahu Kau memiliki hak penuh untuk mengambil keputusan ini... tapi aku hanya ingin memberitahumu bahwa bahkan jika Allah sendiri datang dan berkata bahwa Jodha begum adalah pelakunya aku masih tidak akan percaya... Aku memiliki keyakinan penuh bahwa Jodha begum tidak bersalah... seseorang telah menjebaknya... Rukaiya berpikirlah sebelum Kau mengambil keputusan... Sekarang Kau sangat marah... Kau dapat mengambil keputusan ini besok...

Rukaiya dengan nada marah, “Tidak Shahenshah, aku tidak bisa membebaskan pembunuh anakku... Aku akan menghukum Jodha begum sekarang... Hukuman mati untuk Jodha begum...”Dia berhenti sejenak dan kemudian menyelesaikan kalimatnya... “Tidak cukup... Hukuman mati untuk Jodha begum tidak cukup, aku akan memberikan hukuman yang lebih besar... dari besok dengan sinar pertama matahari... semua hubungan antara Jodha begum dan Shahenshah akan berakhir... mulai besok dia bukan ratu dari Shahenshah... Aku akan merindukan anak seumur hidup... dengan cara yang sama dia akan merindukan suaminya sepanjang hidupnya... Jika dia ingin dia bisa tinggal di Istana tetapi seperti pembantu... dia tidak akan pernah datang di depan Shahenshah...”

Jalal memejamkan mata... Ia tidak berani untuk melihat Jodha.

Jodha menangis dengan keras.

Hamidah, Adgha sahib, Abdul, Salima mata semua orang mendapat penuh dengan air mata...

Melihat Jodha, Rukaiya diam-diam tersenyum jahat pada kemenangan terbesar dalam hidupnya.

Maham akhirnya memiliki damai di wajahnya... Dia mengambil balas dendam dari Jodha dan Jalal pada waktu yang sama... ‘membunuh dua burung dengan satu batu...’

Jalal bisa membaca dengan jelas di wajah Rukaiya... Ia tidak dapat menyembunyikan seringai jahat nya dari Jalal... Jalal menatap Rukaiya dengan kemarahan... Akhirnya dia berhentikan pengadilan dengan nada serak dan tebal, dan dengan cepat berjalan keluar dari sana...

Rukaiya berlari di belakang Jalal... “Rukiye Jalal...” (Berhenti Jalal)

Jalal mendengarnya tetapi terus berjalan mengabaikan dia, Rukaiya berlari lebih cepat dan terjebak dengan dia dan bertanya “Jalal mengapa Kau begitu marah dan marah dengan aku dan kau mau kemana?”

Jalal berhenti dan menatap Ruks dengan kebencian yang besar, “Rukaiya... sampai hari ini aku menganggap Kau teman terdekatku... Aku tidak percaya Kau menghancurkan hidupku hari ini... Pergi Rukaiya dan rayakan kemenanganmu... Jodha begum akan hilang dari hidupku dan Kau... dan dengarkan... Ya aku tahu Kau dengan baik, aku yakin bahwa Kau juga tahu di suatu tempat di hati nuranimu bahwa Jodha begum tidak bersalah... dia tidak pernah melakukan suatu kejahatan mengerikan tetapi Kau oportunis, dan aku sepenuhnya sadar tentang hal itu dan untuk keuntunganmu sendiri Kau bahkan tidak akan berpikir dua kali sebelum menghukum tak berdosa... Dia dengan kasar mendorongnya darinya dan berjalan pergi menuju kamar Jodha.

Jodha telah menutup pintu kamar nya... dia sedang berdiri di dekat jharokha... Matanya banjir air mata... Ia merasa bersalah pada Jalal... Melihat kondisi Jalal hatinya terasa dibakar... karena dia, ia menderita... Dia ingin menghukum dirinya sendiri karena kebodohan nya...

Jalal mengetuk pintu beberapa kali, tetapi ketika ia tidak membuka, dia berteriak, “Jodha begum, buka pintunya.”

Dia masih tidak menjawab, jadi Jalal menangis keras, “Jodha begum... Demi Tuhan buka pintunya...”

Ketika dia masih tidak merespon, Jalal menggigil dengan rasa takut dan berteriak, “Jodha, semua orang melihatku, buka pintunya atau aku akan bunuh diri di sini sekarang.”

FF - Is It Hate or Love Chapter 32 Part 2
Written by Bhavini Shah
Translate by Arum Chusnianti

Akhirnya Jodha membuka pintu, rasa sakit tampak jelas di wajahnya tapi dia menahan emosinya dan menerima takdirnya, ia memalingkan wajahnya ke arah jendela... Setelah satu menit ia berkata dengan sedih, “Shahenshah, tolong maafkan aku.. karena aku kau juga menderita. Aku mohon padamu, tolong tinggalkan aku sendiri, sesuai dengan hukum, kau tidak bisa bertemu denganku. Tolong jangan melanggar hukum.”

Dengan menahan rasa sakitnya Jalal menjawab, “Jodha begum, kau mulai menjalani hukumanmu besok dan kau sekarang sudah membuangku dari kehidupanmu.”

Jodha sadar bahwa hukumannya belum dimulai... Dengan sedih ia menoleh ke arah Jalal. Ketika dia melihat air mata di mata Jalal, hatinya terasa hancur, air matanya mulai luruh. Jalal membuka kedua tangannya lebar-lebar. Jodha yang melihat hal itu langsung berlari ke arah Jalal dan memeluknya erat-erat, begitupun dengan Jalal. Air mata mereka menetes dengan deras, mereka takut jika mereka harus dipisahkan.

Jalal melepaskan pelukannya dan menangkupkan wajah Jodha, “Jangan khawatir Jodha, aku akan mengubah segalanya, aku tidak akan menerima keputusan tidak adil ini dan hukuman yang mengerikan ini, kau tidak bersalah. Dan aku raja sultant ini, aku adalah salah satu orang yang membuat undang-undang untuk saltanat ini.” Ia mencoba untuk menegarkan Jodha... “Aku akan mengubah segalanya, tidak ada yang memiliki hak untuk memisahkan kita ketika kita tidak bersalah... Kau tidak melakukan sesuatu yang salah...”

Melihat Jalal yang rentan dan tidak berdaya, hati Jodha semakin hancur. Dia berlari kembali ke Jharokha dan berkata dalam nada menyakitkan “Shahenshah, Kau adalah Raja segala raja... Kau seharusnya menjadi teladan untuk semua orang, sebenarnya tidak benar untuk mengganti peraturan sesuai dengan kepentingan pribadimu... Jika Kau sendiri tidak mengikuti aturan maka tidak ada yang akan menghormatimu... Kau harus berjanji padaku bahwa Kau akan tetap menjadi Shahenshah yang kuat, aku tidak bisa melihatmu selemah ini, kelemahanm Kau adalah kekalahanku, aku ingin menjadi kekuatanmu bukan kelemahan. Berjanjilah padaku bahwa Kau tidak akan mencurahkan air mata di pemisahan kita... Kita harus menerima Takdir kita, mungkin ini adalah takdir kita, air mata dan pemisahan ditulis dalam takdir kita.” Kalimatnya terakhirnya sendiri membuat dirinya roboh... dia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dan mulai menangis.

Jalal menyadari bahwa Jodha telah menerima kekalahan, dia tidak memiliki harapan lagi... Jalal ingin memberikan dia kekuatan dan harapan... Dia ingin memberikannya jaminan bahwa hal itu tidak akan terjadi... semuanya akan beres... tetapi dia menangis dan itu membuat Jalal semakin hancur.

Jalal berjalan mendekat ke jendela, ia menyingkirkan tangan Jodha dari wajahnya. Ia menarik tangan Jodha dan membawanya ke balkon... Kemudian dengan nada yang sangat lembut Jalal berkata, “Jodha.. tatap aku.”

Perlahan-lahan Jodha mengangkat wajahnya dengan mata berkaca-kaca/

Kemudian Jalal bertanya, “Jodha, apakah kau mempercayaiku?”

Jodha menjawab dengan menganggukkan kepalanya.

“Lalu dengarnya... Kau tidak boleh kemanapun, aku akan menemukan pelakunya segera... ini adalah masalah hidup dan matiku.. dan jika aku harus melanggar hukum, aku akan melakukannya. Tidak ada yang bisa menghentikanku. Ketika sesuatu berhubungan denganmu, aku akan melakukan apapaun demi kau. Aku mengambil keputusan sesuai dengan hati dan pikiranku... dan keduanya menolak bahwa kau bersalah (Jodha tidak bersalah). Seseorang telah menjebakmu.” Jalal berhenti sejenak dan melanjutkan ucapannya, “Mengapa kau yang mengutuk takdir kita? Tidak ada air mata pada takdir kita... hanya ada cinta dalam takdir kita. Bagaimana mungkin kau mengatakan bahwa aku harus melupakanmu. Kau tahu pasti bahwa aku tidak bisa melupakanmu sampai akhir nafasku. Tidak hanya itu, aku tidak bisa melupakanmu selama-lamanya... Jodha... kau adalah hidupku, setiap hembusan nafas dan detak jantungku selalu ada namamu. Tanpamu, aku tidak akan bisa hidup, tanpamu hanya akan ada tubuh Jalal yang tanpa jiwa.” Jalal mengangkat tangannya dan menunjuk pada bulan penuh, “Lihatlah bulan itu, Jodha... Kau akan tinggal dalam hatiku sama seperti bulan yang tetap di langit... Sampai bintang-bintang bersinar setiap malam dan matahari terbit setiap pagi. Aku mencintaimu selama-lamanya.” Jalal mengucapkan hal itu dengan nada yang sangat keras dan jelas.

Mendengar penuturan Jalal justru membuat Jodha semakin rentan. Jodha sadar bahwa Jalal akan melanggar hukumnya sendiri hanya untuk dirinya. Jalal terlalu percaya diri bahkan saat dihadapannya tidak ada cara apapun yang bisa dilakukannya untuk menyelamatkan Jodha.

Jodha menjawab dnegan nada yang sangat rendah, “Shahenshah, kembalilah pada kenyataan. Kau harus menerima kebenaran bahwa aku tidak bisa menjadi bagian dari kehidupanmu lagi, kau tidak punya pilihan, kau harus pergi dan melupakan aku.”

Ketika Jalal tidak mengerti apa lagi yang bisa ia lakukan untuk menghiburnya... Dia mulai menyanyikan lagu yang merdu untuk menenangkannya...

dil se dil ka rishta juda
pal do pal mein mit ta nahi
bandhan dilon ka tut ta nahi
bandhan dilon ka tut ta nahi

Jalal membawa Jodha dalam pelukannya dan menatapnya dengan berlinang air mata, kemudian ia membawa Jodha duduk di ayunan... kemudian menangkupkan wajanya dengan lembut...

tere dil ka mere dil se rishta purana hain
in aankhon se har aansoo mujhko churana hai
mujhko churana hai, mujhko churana hai
tere dil ka mere dil se rishta purana hain
in aankhon se har aansoo mujhko churana hai
mujhko churana hai, mujhko churana hai
tere dil ka mere dil se rishta purana hain

Perlahan-lahan ia menyeka matanya sambil menatap dia dengan kasih yang mendalam... Kemduian ia membawa kepala Jodha untuk bersandar di dadanya... dia membelai kepalanya untuk memberikan kedamaian dan jaminan bahwa aku bersamamu...

teri bechaini ka, teri tanhai ka
ehsaas hain mujhko sun
main jo saath tere hoon phir tujhe hai kaisa gham
dard baat lenge ham sun
in palko me khushiyo ka sapna saja na hain
tere dil ka mere dil se rishta purana hain

Mendengarkan pengkalimatan lagu... Jodha merasa beberapa kekuatan...

kaise main batau yeh tera iss tarah rona
dekha nahi jata hai sun
shaam jab chalti hain, subah muskurati hai
khushbuye lutati hain sun
udaasi ke lamhon mein hame muskurana hain
tere dil ka mere dil se rishta purana hain
In aankhon se har aansoo mujhko churana hai

Matanya merekah lagi dengan air mata... Jalal menangkupkan kedua wajahnya dengan kedua tangan-Nya... Jalal menciumnya lembut di matanya tertutup kemudian menciumnya di pipinya yang basah... digosok wajahnya di pipi kemudian membawanya dalam pelukannya... dan bisik... “Jodha aku mencintaimu, sangat... Aku tidak bisa membayangkan tinggal terpisah darimu meski untuk satu detik... Aku akan mati tanpamu...”

Jodha menjawab dengan serak... “Jalal, aku juga mencintaimu...”

Bulan mencucurkan air mata dengan cahaya damainya... Angin sejuk bertiup tenang untuk memberikan istirahat pada pasangan ini... Jodha akhirnya tidur di pangkuan Jalal... Jalal membelai rambut dan wajah Jodha lama untuk memberikan kenyamanan... Sepanjang malam mereka habiskan di ayunan dengan kehangatan kedekatan mereka... Jalal menatap wajah Jodha yang ketakuan dan tidak bersalah untuk waktu yang lama. Sampai-sampai Jalal tidak menyadari ketika tidur mengambil alih dirinya... Keduanya memiliki pertanyaan yang sama dalam pikiran mereka... 'apa yang akan terjadi dengan sinar matahari pertama...?'

* * * * * * * * * * * *

Precap: Pagi... Jalal terbangun... Dia duduk sendirian di ayunan... Jantungnya serasa berhenti berdetak... Jalal tersentak... Dia berteriak dengan keras... JODHAAAA...


FF - Is It Hate or Love Chapter 32 Part 2

4 comments:

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.