FF: Is It Hate or Love Chapter 33 Part 1 - ChusNiAnTi

FF: Is It Hate or Love Chapter 33 Part 1


Written by Bhavini Shah
Translate by Tyas Herawati Wardani

Pagi baru menjelang, awan hitam bergelayut  di langit, tanda-tanda badai mulai terbentuk perlahan dan akan menerjang pada saat yang tepat. Matahari bersembunyi di balik awan hitam yang tebal itu, seakan mataharipun enggan membangunkannya dari sisa-sisa mimpi indahnya. Burung-burung bertengger di sarang mereka dan menunggu hingga badai lewat, untuk membuatnya terjaga mereka mulai berkicau pelan, untuk meredakan rasa sakitnya mereka mulai melantunkan irama merdu, angin kencang menggerakkan rambut di wajahnya. Mendung sedikit tersibak, matahari mulai tampak menjatuhkan sinar hangat dan silaunya menerpa wajahnya. Dalam mimpinya sebelum akhirnya dia terjaga, dia melihat sinar terang yang sangat jauh, mendengar kata-kata terakhir Jodha, ‘Aku mencintaimu Jalal’ yang membuatnya tersenyum dalam damai. Pada akhirnya, alam bawah sadarnya membawa dia kembali pada kenyataan. Perlahan dia mencoba membuka matanya, namun dikarenakan kurangnya istirahat dan tekanan batin yang sangat berat, kelopak matanya terasa berat namun dia teringat, betapa pentingnya pagi ini bagi dirinya dan Jodha. Seketika seluruh tubuhnya gemetar ketakutan, kelopak matanya terbuka untuk mencari keberadaan Jodha, ayunannya bergerak pelan menyesuaikan dengan bobotnya, hanya dia sendiri di atas ayunan yang bergoyang. Jantungnya berdetak semakin kencang... Pikirannya was-was saat saat dia menyadari kekhawatirannya benar-benar terjadi.... Dia berteriak sekencang-kencangnya “JODHA”

Angin kencang membawa teriakannya sampai jauh, menakuti burung-burung kecil, tapi ketika  tidak ada yang menjawab, dia semakin panik dan berlari masuk ke dalam kamarnya. Sekali lagi, dia berteriak sekencang yang dia bisa dibalik ketakutannya “JODHAAA”, seluruh istana bergema dan bergetar... Empat pengawal berlari masuk ke dalam kamar mendengar kepanikannya.
Jalal bergerak kesana-kemari mencari Jodha ke segala arah, di Hamam...ruang ganti...ruang seni, tapi dia tidak ada dimanapun... Terakhir, sudut matanya sekilas melihat ke arah Kuil Dewa Khrisna di ruang utama... Diya nya masih menyala, tapi patung Dewa Khrisna telah lenyap...
Hatinya seketika hancur menjadi serpihan-serpihan kecil dalam waktu kurang dari satu detik... Matanya membelalak dan berderik seperti kembang api karena kesedihannya... Tiba-tiba dia merasa seseorang menyangga tubuhnya dan dia tidak mampu bergerak sedikitpun, wajahnya menampakkan kesedihan yang amat dalam. Kekhawatirannya bahwa Jodha pergi sungguh-sungguh terbukti, meski hatinya masih belum bisa menerima kenyataan itu... Pandangannya tak berkedip terus tertuju pada kuil yang kosong, emosi telah menguras seluruh tenaganya. Dia hanya berdiri mematung, seakan hidupnya telah tercabut dan berakhir saat itu juga, seribu macam pikiran hadir di otaknya dalam waktu sekejap.... Dia menyadari bahwa Jodha meninggalkannya demi kehormatannya, tapi dia tidak mengira akan terjadi secepat ini... Sepanjang malam dia takut hal ini akan terjadi, tapi kenyataannya jauh lebih buruk dari kekhawatirannya.
Badai terjadi di dalam dan luar istana... Awan hitam berarak di langit... Tiba-tiba angin kencang bertiup dan menghempaskan seluruh jendela dan pintu... Tira-tirai bergoyang ... Api diya yang sebelumnya tenang, juga ikut bergoyang tertiup angin... Melihat api yang bergerak-gerak membuat perasaannya takut... Secepat kilat dia bergerak mendekati kuil untuk menyelamatkan cahaya dari harapan terakhirnya. Dia lingkarkan tangannya ke sekeliling api untuk melindunginya nyalanya. Dia berteriak menggelegar dan memerintahkan pengawal untuk menutup seluruh pintu dan jendela secepat mungkin. Ketika nyala apinya mulai tenang kembali, setetes air matanya jatuh bercampur dengan kelegaan dan kesedihan.... Suara petir menggelegar berpadu dengan gemuruh badai menutupi tangisan yang tertahan... Dalam beberapa menit saja hidupnya jungkir balik, dia masih duduk di dekat kuil, tangannya masih melingkar di sekeliling api diya, otaknya belum mampu untuk berpikir lagi... Jiwanya telah lepas dari tubuhnya. Dia benar-benar hancur, seakan jiwa dan tubuhnya ada di ujung yang berbeda dalam ruangan itu, mencari keberadaannya sendiri...
Moti dan Abdul berlari masuk ke dalam kamar Jodha.... Mereka ikut menangis melihat keputusasaan dan ketidakberdayaan Jalal. Pengawal yang lain gemetar tak percaya melihat Shahenshah mereka dalam kondisi seperti itu... Moti berdiri dan terisak di ujung ruangan sambil menggenggam gulungan surat berwarna hijau, Abdul memerintahkan semua pengawal meninggalkan ruangan, lalu tanpa minta ijin dia mendekati Jalal dan bersimpuh di sampingnya... Dengan suara pelan dia memanggil “Shahenshah”, tapi Jalal tidak menjawab, semua inderanya membeku... panggilan Abdul tidak bisa sampai ke telinganya...
Abdul memanggil lebih keras “Shahenshah” .... Tetap tidak menjawab. Matanya membulat, lekat memandang nyala diya... Abdul menyentuh lengannya, Jalal tetap tidak berkutik. Sekali lagi Abdul memanggil dengan perasaan makin takut “Jalal” ketika tidak ada tanggapan sama sekali, dia menggoyang lengannya... Tubuh Jalal rebah tak sadarkan diri di lengan Abdul... Abdul sangat terkejut  melihat mata Jalal yang terbuka lebar namun dengan tubuh tak bergerak, dia berteriak senyaring yang dia bisa “Shahenshah”, teriakannya bahkan menggema berulang kali di seantero istana... Moti berlari keluar memanggil Hakim Sahiba...Dengan bantuan beberapa pengawal, Abdul menggotong tubuh lemas Jalal ke atas tempat tidur, segera saja kamar itu penuh dengan orang-orang. Melihat kondisi Jalal, Hamida tidak mampu menahan tangisnya.
Rukaiya datang bergegas menghampiri Jalal, namun sebelum berhasil mendekatinya, Hamida berteriak marah “Rukaiya, berhenti di tempatmu!” Dia memandang dengan tatapan tajam dan penuh amarah lalu berkata dengan sedikit kasar “Rukaiya Begum, Begum E Khaas, kau telah melakukan apapun yang kau inginkan... tidak perlu lagi bersikap seakan-akan kau peduli pada Jalal, tidak seorangpun yang tertarik melihat air mata buayamu... Sebaiknya kau pergi dari sini dan kembali ke kamarmu”. Menghadapi amarah besar dan penghinaan itu, Rukaiya berlari keluar dari kamar itu... Hati Maham sangat senang melihat kondisi Jalal, bibirnya menyunggingkan senyum liciknya, untuk merayakan kemenangannya dia kembali ke kamarnya sendiri.
Hakim Sahib datang untuk memeriksa kondisi Jalal, denyut nadinya berdetak lebih lamban dari detak normal. Setelah memeriksa kondisinya, segera dia membuat ramuan dan diletakkannya di dahi Jalal.
Dengan penuh kecemasan Hamida bertanya, “Hakim Sahiba, bagaimana keadaan Jalal-ku?”
Hakim menjawab dengan tenang “Jangan khawatir Mariam Makani, kesehatan Shahenshah sangat bagus, dia tak sadarkan diri karena mengalami peristiwa yang cukup mengguncang perasaannya, dia akan segera pulih kembali.”
Hamida merasa sangat lega... Dia menghela napas panjang penuh kelegaan...
Beberapa menit kemudian, Jalal mulai siuman... Begitu dia membuka matanya, dia melihat Hamida sedang mengusap kepalanya dengan penuh cinta, matanya terlihat sangat lembut. Seketika dia bangun dari tempat tidurnya, Kata pertama yang diucapkannya penuh perasaan, “Jodha” Dan, selanjutnya matanya basah oleh air mata.
Hamida memeluknya dengan hangat. Jalal menangis tak tertahankan dalam dekapannya untuk waktu yang lama... Sentuhannya yang lembut dan penuh cinta memberinya kekuatan.
Kasih sayang seorang Ibu memberinya energi dan kekuatan bagi pikiran dan hatinya... Mengetuk kesadarannya untuk segera mencari keberadaan Jodha... Dia melepaskan diri dari pelukan Ibunya dan beralih pada Abdul serta bicara dengan sedikit panik, “Carilah Jodha Begum, dia telah meninggalkan istana, jadi kirimlah prajurit untuk mencarinya di segala penjuru.”
Abdul menjawab dengan penuh hormat, “Baik Shahenshah” sebelum dia pergi... Sudut mata Jalal melihat Moti, yang berdiri di sudut lain ruangan, wajahnya mengkilap basah karena air mata kesedihan yang tak berhenti mengalir... Dengan kelebihannya dalam menilai seseorang, seketika dia tahu, Moti tahu ketika Jodha pergi... Dia menghentikan Abdul dan berbicara masih sambil menatap Moti “Tunggu Abdul, mungkin saja, Moti tahu tentang Jodha, kapan dan ke arah mana dia pergi.”
Sebelum Jalal meminta Moti untuk mendekat, Moti menjawab dengan sedikit terpaksa, “Shahenshah, kumohon maafkan aku, tapi aku sudah bersumpah pada Jodha, jadi aku tidak bisa mengatakan apa-apa padamu. Lagipula, dia tidak memberitahuku, kemana dia pergi. Aku hanya menyiapkan kudanya, aku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi dan melanggar sumpahku...Aku tidak berdaya.” Dengan suara sedikit bergetar dia menambahkan, “Jodha begum menitipkan surat ini padaku dan dia meminta kau sendiri yang membukanya dan hanya Abdul yang boleh membacakannya untukmu.” Dia tidak berani menatap mata Jalal...dengan wajah tertunduk dia serahkan surat itu pada Jalal.
Semua orang, termasuk Hamida, meninggalkan ruangan tanpa berkata apa-apa... Jalal menyerahkan surat itu pada Abdul dan melangkah mendekati jendela....hujan deras turun dan gemuruh petir  menyambar seperti hatinya yang bergejolak.
Abdul mulai membaca isi suratnya...
“Jalal-ku yang terkasih” Begitu mendengar namanya disebut...Jalal...berbagai kenangan indah hadir dalam benaknya... bagaimana dia memohon padanya untuk memanggilnya Jalal.”
Setetes air mata jatuh di pipinya.
“Pranam! Pertama-tama , aku ingin meminta maaf atas rasa sakit yang kusebabkan padamu, bahkan aku tidak berani membayangkan bagaimana perasaanmu saat kau membaca surat ini. Ini semua terjadi semata-mata karena kebodohanku. Meskipun aku tidak sengaja, tetap saja akulah yang bersalah, karena diriku kau harus mengalami rasa sakit yang tak tertahankan. Andai saja takdir bisa menentukan hanya aku saja yang menderita, maka aku akan menahan rasa sakit ini dengan senyuman dan tidak akan pernah mengeluh, tapi aku tidak tahan melihat penderitaan di matamu, melihatmu tak berdaya, sungguh aku tak mampu. Aku tidak punya cukup keberanian dan kekuatan untuk tetap tinggal di istana dan di hadapanmu. Setelah berpikir sepanjang malam, akhirnya aku memutuskan bahwa hidup kita berpisah disini...seperti dua sisi bibir sungai, yang selalu bersandingan, tapi tidak akan pernah menyatu.”
“Kau pernah bertanya padaku ‘dimanakah tempatku, di dalam hatimu atau di depan matamu’ aku berkata ketika saatnya tiba aku akan menjawab pertanyaanmu, jadi dengarkanlah...”
“Kau ada di dalam hatiku, ketika aku menutup mataku aku hanya melihatmu..bahkan ketika aku berdoa di depan Kanha...aku melihatmu Jalal...aku mengagungkanmu...aku bisa merasakan dan mencium aromamu meski kita terpisah...Hidupku dimulai denganmu dan berakhir padamu... Kau selalu ada di benakku...Jantungku berdetak menyebut namamu... Kau adalah jiwaku...Jodha telah menyatu bersama Jalal...Tidak ada lagi Jodha...Hanya ada Jodha-nya Jalal. Kau bersamaku setiap waktu, kemanapun aku pergi, hanya saja bukan takdir kita untuk bersama selamanya.”
“Mungkin permintaan terakhirku akan terasa seperti hukuman bagimu, tapi berjanjilah padaku...atas nama cintaku, jangan berkecil hati dan bersedih.”
“Janganlah menangis.”
“Jangan biarkan orang lain tahu pergolakan hatimu.”
“Musuhmu selalu siap menaburkan garam di atas lukamu.”
“Sembunyikan lukamu dari semua orang.”
“Kumohon penuhilah permintaan terakhirku...Jangan biarkan orang lain melihat airmatamu..orang yang telah memisahkan kita ingin kau bersedih, jangan biarkan mereka bersorak di atas kehancuran hidupmu, aku tidak akan bisa menahan diri melihat kejatuhanmu.”
Jalal mengerjapkan mata menahan air matanya dan berkata,
“Setelah membawa pergi hidupku, hatiku, ketenanganku, napasku...kau meninggalkan seorang diri.”
“Lalu membisikkan keinginan terakhirmu, Jangan bersedih..”
“Wow Jodha Begum wow...cintamu tanpa batas...saat pergipun kau membawa serta air mataku.”
Abdul melanjutkan membaca suratnya...
“Shahenshah, aku ingin menceritakan sesuatu yang penting padamu...Aku tahu setelah mendengar ceritaku kau akan sangat sedih... aku ingin menceritakannya padamu semalam, tapi aku tidak tega merusak kenangan indah kita yang terakhir. Shahenshah, tolong kendalikan emosimu...demi cinta kita janganlah bersedih...”
Jodha menulis semua hal yang terjadi antara Maham, Rukaiya dan dirinya...Bagaimana dia dijebak, dia melihat Maham berbicara dengan Hakim di hutan, dan botol ramuan. Tidak lupa, dia menyebutkan, sepanjang malam saat dia menunggu di luar...Alasan dirinya memasak untuk Rukaiya...alasan dia menghidangkan masakan untuknya, semuanya diceritakannya dalam surat itu.
“Aku tahu kau akan terkejut dan tak menyangka mengenai semua ini, aku tidak mau menceritakan semuanya padamu tanpa ada bukti, tapi aku juga membuat kesalahan dengan tidak segera menceritakan semuanya. Kesimpulanku bahwa semua ini sudah direncanakan oleh Maham Anga, Ibu Angkatmu yang menjebakku dalam konspirasi ini. Aku kira dia berniat membalas dendam atas kematian Adham karena dia tahu benar bahwa kau akan sangat sedih atas perpisahan kita... Dia ingin melihat kejatuhanmu... Dia ingin melihatmu dalam keputusasaan...Kesedihanmu setimpal dengan kesedihannya atas kematian Adham.
Abdul terus membaca...
Terakhir dia tulis lagi, “Kumohon jika itu mungkin, maafkan Jodha-mu...Cara Badi Ammi menjebakku dalam perangkapnya, dengan semua bukti menyudutkanku...Kupikir aku tidak akan bisa melihatmu lagi. Mungkin inilah terakhir kalinya aku tahu setelah mendengar semua hal tentang Badi Ammi, hatimu tidak akan bisa mempercayainya...Aku benar-benar menyesal tidak memberitahu secepatnya tentang rencananya....kau harus membayar atas kebodohanku...akulah yang bersalah...kumohon maafkan Jodha-mu jika kau bisa.”
Abdul berhenti membaca untuk melihat eaksi Jalal...
Jalal yang sangat terkejut menoleh ke arah Abdul, untuk sesaat dia lupa pada kesedihannya... Matanya dibutakan oleh amarah dan kemurkaan...Dia sangat mengenal Badi Ammi-nya... segera saja dia mulai memahami bagaimana dia mempermainkan Jodha. Dalam sedetik semua emosi dirasakannya.. Di satu sisi hatinya tidak siap menerima kenyataan bahwa Badi Ammi-nya tega melakukan semua ini, tapi logikanya menang dan dia percaya... Kecurigaan Jalal pada Badi Ammi-nya mulai meningkat sedikit demi sedikit, tapi hari ini dia benar-benar yakin seluruh trik ini dimainkan oleh Maham... Hatinya menangis pilu meratapi luka yang sangat dalam di jiwanya. Dengan nada rendah, dia berucap sedih, “Badi Ammi”
Abdul lanjut membaca suratnya...
“Percayalah, aku mencintaimu lebih dari hidupku...Hingga aku mati, jantungku hanya akan berdetak untukmu. Tidak peduli betapa jauh kita terpisah, kau akan selalu ada dalam hatiku.”
“Semua yang kau lakukan kuanggap sebagai ungkapan cintamu padaku.”
“Sedetik berpisah darimu terasa bagaikan selamanya.”
“Aku dulu tidak menyadarinya tapi sekarang aku merasakannya.”
“Aku membutuhkanmu dalam setiap momen hidupku.”
“Salam terakhirku, Milikmu dan hanya milikmu selamanya...Junglee billi..”
******

Air mata jatuh disela senyum sedih di wajahnya mendengar kata Junglee Billi...
Abdul ikut menangis melihat kesedihan Jalal...Dengan suara berat dia bertanya, “Jalal, apa kau ingin aku membacakan lagi surat ini?
Jalal menoleh dengan wajah masih diliputi kesedihan, lalu dia letakkan tangan di dadanya dan berkata “Setiap kata dalam surat itu sudah terpatri dalam hatiku...Itu semua adalah kata-kata Ratu Jodhaku.” Dia ambil surat itu dari tangan Abdul, diciumnya dan didekapnya surat itu di dadanya...Linangan air mata terus bergulir jatuh tanpa suara di wajahnya.
Dengan berat hati dia memerintahkan Abdul, “Abdul, aku ingin sendirian untuk sementara..Juga, pindahkan semua barangku ke kamar Ratu Jodha... Aku akan tinggal disini bersamanya... Kirim prajurit ke semua tempat untuk mencari Ratu Jodha.”
Jalal seorang diri di dalam kamar, namun dia bisa merasakan kehadirannya di setiap benda yang ada di ruangan itu, yang malah membuatnya makin terpuruk sedih, dia rebahkan tubuhnya di atas ranjang di sebelah tempat Ratu Jodha biasa tidur, dipeluknya sebuah bantal yang masih beraroma dirinya dan menumpahkan semua tangisnya. Hatinya terluka sangat dalam, dan mendorongnya untuk berteriak sekuat tenaga...”Jodha kembalilah, aku tidak bisa hidup tanpa dirimu.” Dia terus  menangis selama berjam-jam, selama itu pula kata-kata Ratu Jodha terus terngiang di kepalanya... Jangan kehilangan harapan dan kekuatan, tetaplah kuat dan tersenyum...Jangan biarkan orang lain melihat tangis dan rasa sakitmu...akhirnya, kata-kata itu berpengaruh pada dirinya, dia bisa menerima kenyataan bahwa Ratu Jodha pergi meninggalkannya dan sekarang dia harus berjuang dalam pertempuran itu sendirian demi Ratu Jodha.
Senyum licik tersungging di bibirnya, dia ambil surat dari Jalal dan mulai membacanya. Jalal berpura-pura bersikap tanpa emosi dalam semua ucapan, dia berhenti di sela-sela membaca untuk mencuri pandang ke arah Jalal, ekspresi wajahnya berubah saat Jodha mengungkap semua rencananya, wajahnya memucat dan dia mulai terlihat gugup... Dengan cerdik, dia melewati semua bagian yang mengungkap semua konspirasinya dan mengakhiri bacaannya pada bagian yang menyebut Junglee billi.

* * * * * * * * * * * *


FF: Is It Hate or Love Chapter 33 Part 1

4 comments:

  1. Mksh mba chus,tetap setia menunggu kelanjutannya

    ReplyDelete
  2. Nggak sabar nunggu lanjutannya nanda chus, jangan lama2 ya.....

    ReplyDelete
  3. kekuatan cinta membuat kita hrs berkorban, mbak lnjt.ya

    ReplyDelete
  4. Lanjut.....
    Mudah-mudahan MAHAM ANGA bisa segera ketahuan

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.