FF: Is It Hate or Love Chapter 33 Part 2 - ChusNiAnTi

FF: Is It Hate or Love Chapter 33 Part 2


Written by Bhavini Shah
Translate by Tyas Herawati Wardani

Jalal langsung bisa membaca ekspresi Maham Anga yang menyiratkan bahwa dirinyalah pelaku utama atas kejahatan ini... Hatinya yang sakit kembali terluka sekali lagi, jauh di dalam hatinya dia masih berharap bahwa Maham tidak bersalah, tapi sekarang semuanya semakin jelas... sejernih kristal. Sekarang hati dan pikirannya yakin bahwa Maham adalah pembunuh dari bayinya yang belum lahir... dia membunuh impiannya, karena Maham jugalah dia berpisah dari Jodha... Darah ksatrianya mendidih di dalam tubuhnya, tapi yang tampak diluar, dia menjaga ekspresinya tetap tenang dan datar. Dia ingin membuktikan Jodha tidak bersalah dan ingin menangkap Maham beserta bukti yang kuat, dengan tangannya sendiri... Jalal menahan emosinya saat meminta Maham membaca surat itu sekali lagi untuknya. Kali ini suara wanita itu terdengar lebih gugup dari sebelumnya, bahkan suaranya gemetar saat membaca. Terlihat jelas dari semua sikapnya bahwa dia menyembunyikan sesuatu. Sekali lagi dia melewati bagian tentang konspirasi dirinya yang ditulis oleh Jodha.

Sementara Maham sedang membaca, pikiran Jalal melayang ke masa lalu, ke masa-masa indah yang pernah dilaluinya dengan Badi Ammi-nya, saat wanita itu mengejar-ngejar dirinya untuk menyuapkan makanan, saat wanita itu menyelamatkan hidupnya... melindunginya dari sabetan pedang, saat wanita itu mengajarinya tentang politik setiap hari seperti gurunya sendiri, saat wanita itu ikut senang dalam setiap kemenangannya, sedikit demi sedikit kemarahannya lebur menjadi rasa sakit... tepat saat Maham selesai membacakan surat itu untuk yang kedua kalinya, sinar matanya dipenuhi dengan kepedihan yang sangat dalam, seakan ada jutaan duri menusuk hatinya... pengkhianatan Badi Ammi sungguh tak tertahankan bagi dirinya. Dalam hidupnya dia hanya percaya pada sedikit orang.

Akhirnya, setetes air mata jatuh tak tertahan dari sudut matanya... Matanya menatap Maham seakan meneriakkan sebuah pertanyaan ‘Kenapa Badi Ammi? Kenapa?’

Maham selesai membacakan surat dari Jodha itu dan memperhatikan Jalal... Melihatnya dalam kesedihan, hatinya menari bahagia...

Jalal bisa melihat semuanya dengan jelas, bahkan dia bisa melihat kebahagiaannya diatas penderitaan yang dirasakannya... Tanpa berkata apa-apa diambilnya kembali surat itu dari tangannya, dan berlalu pergi dari ruangannya...

Maham sama sekali tidak menyadari bahwa Jalal sudah mengetahui semuanya, dia pikir kesedihan Jalal karena surat dari Jodha.

Jalal keluar dari ruangan Maham... Dia ingin menceritakan semuanya pada Rukaiya, dia ingin menceritakan padanya bahwa Maham adalah satu-satunya orang yang telah membunuh bayinya yang belum lahir... wanita itu telah membunuh anaknya...

Jalal teringat saat di ruang sidang, saat Rukaiya mempermalukan Jodha... Tanpa perasaan, dia menghukum Jodha. Karena itulah dia memutuskan tidak akan menceritakan semua padanya sampai dia bisa mengumpulkan bukti-bukti kuat yang memberatkan Maham.

Segera saja dia memanggil Abdul dan menceritakan semua padanya... Dia juga memberitahu tentang Maham yang melewatkan bagian penting itu saat membacakan suratnya.. Bahkan Abdul tidak bisa percaya tentang semua yang didengarnya, dia sudah tahu Maham itu licik, tapi membunuh anak Jalal dan menyalahkan Ratu Jodha. Hal itu benar-benar sudah melewati batas.

Selama berjam-jam, Jalal dan Abdul berdiskusi membuat rencana hingga tercapai satu keputusan.

Pertama, mereka memutuskan akan menjauhkan semua pendukung Maham, karena itu mereka berencana menarik Resham keluar dari hidupnya dan menggantikan tempatnya dengan seorang mata-mata.

Rencana kedua adalah menemukan Hakim itu... hakim manakah yang telah membantu Maham dan memberinya ramuan itu padahal penjagaan sudah sangat ketat, Jalal sendiri yang akan berbicara dengan Hakim istana.

Bagian terakhir rencananya adalah melemahkan kekuatan Maham dengan bantuan Hakim dan mata-matanya dengan cara mencampur ramuan pada makanannya yang akan menyebabkan dirinya sakit dan melemah hari demi hari.

Abdul lalu bertanya, “Shahenshah, untuk menjalankan rencana ini dengan baik, kita akan membutuhkan waktu dua atau tiga bulan, kita juga tidak tahu apakah kita bisa menemukan bukti-bukti itu atau tidak. Apakah kau benar-benar ingin mendapatkan bukti-bukti itu, Kupikir, jika kau sudah yakin Badi Ammi yang melakukan semua ini, lalu untuk apa menunggu lagi?

Jalal menjawab tanpa berpikir lama, “Tidak, Abdul, Badi Ammi punya posisi yang tinggi dalam istana dan dia memegang kendali atas beberapa departemen. Saat ini, semua bukti mengarah pada Ratu Jodha, jadi aku tidak mau nantinya rakyatku mempertanyakan keputusanku, atas dasar apa aku menghukum Maham, padahal Ratu Jodha yang terbukti bersalah. Lagipula, aku harus lebih berhati-hati lagi saat ini karena ini berhubungan dengan perasaan cintaku. Dan, entah bagaimana aku harus memenangkan pertarungan ini.”

Abdul setuju dengan pendapat Jalal...Dia merasa gembira dan bangga melihat Jalal benar-benar menyeimbangkan logika dan perasaannya pada saat bersamaan.

Rencana dijalankan dan mulai bekerja...

Sesuai rencana mereka, sebuah pesan palsu dikirimkan kepada Resham, mengabarkan bahwa ada anggota keluarganya yang sedang sakit, keluarganya meminta Resham segera pulang ke desa. Dengan ijin dari Maham, dia keluar dari istana menuju desanya, di tengah perjalanan dia ditahan hingga semua masalah ini selesai. Dan, menyuruh seorang mata-mata menggantikan tempat Resham di sisi Maham yang akan mengawasi setiap gerakannya siang dan malam...

Seorang diri Jalal datang menemui Hakim di kliniknya mempertanyakan tentang keguguran yang dialami Rukaiya. Dia mengajukan banyak pertanyaan pada Hakim untuk menilai reaksinya atas setiap pertanyaan dan mencari tahu apakah dia yang terlibat dalam kebohongan ini, bagaimana cara Hakim itu menjelaskan setiap pertanyaan... Intuisi Jalal yang tajam dan kemampuannya dalam menilai sikap lawan memberinya kesimpulan bahwa Hakim itu tidak terlibat dalam persekongkolan tersebut.

Dengan perasaan kecewa Jalal bersiap untuk pergi, tapi secara tidak sengaja dia memperhatikan seorang asisten Hakim berjalan masuk dan dia mengenakan perhiasan yang sangat mahal serta kain sutra, dan Jalal berpikir....bagaimana bisa dia memiliki pakaian dan perhiasan mahal seperti itu...Tetap bersikap biasa, dia menjawab salam “Aadab” dan pergi keluar dari klinik itu. Tanpa membuang waktu, dia memerintahkan penyelidikan lebih lanjut pada asisten Hakim secara rahasia.

Untuk menjamin kerahasiaan rencana ini, Jalal membeli ramuan dari Hakim di luar istana demi melaksanakan rencana yang ketiga. Mata-matanya mulai mencampurkan ramuan itu pada hidangan milik Maham. Perlahan, Maham menunjukkan gejala-gejala tubuhnya lemas dan mual pada malam hari. Efek dari ramuan itu, dia tidak sanggup bangun tepat waktu dan menyelesaikan tugas-tugasnya sesuai jadwalnya tiap hari. Kemudian, atas perintah Jalal, bawahannya menambah dosis ramuan, Maham semakin terlihat lemah, mengalami sakit kepala, mual, muntah dan lainnya... Beberapa kali dia pingsan di dalam istana saat berjalan dari ruangan ke ruangan lain... Orang-orang mulai membicarakan sakitnya... Sesuai rencana mereka, beberapa kali dia kehilangan keseimbangan dan tersungkur di Diwan E Khaas dalam waktu dua minggu... Semakin hari dia semakin lemah...

Tiga minggu berlalu sejak kepergian Jodha... Semuanya masih tetap sama di dalam istana... Matahari tetap terbit dari timur dengan sinar keemasannya... Burung-burung tetap berkicau dengan merdu... Bunga bermekaran... Bulan bersinar tiap malam dengan anggunnya, namun bagi Jalal semuanya tidak berarti. Dia kehilangan semua warna dalam hidupnya, hari-harinya dilaluinya seperti robot... Tidak ada yang membuatnya senang, musik yang mendayu-dayu tidak bisa menyentuh perasaannya, sinar lembut rembulan justru membakar tubuhnya... Dengan rasa marah dia memandang matahari setiap harinya. Setiap kali dia menutup matanya untuk berdoa, wajah Jodha yang basah oleh air mata selalu muncul di depannya, bahkan dia tidak mampu berkonsentrasi dalam doanya.

Walaupun dia sudah terlatih menahan kesedihannya dan bagaimana memunculkan senyum palsu di wajahnya, namun tidak satu detikpun terlewat dengan tidak memikirkan Jodha... Begitu urusan kerajaannya selesai, pikirannya langsung tertuju pada Ratu Jodha... Hatinya terlalu sakit oleh pengkhianatan Maham, ditambah perpisahannya dengan Jodha, kedua hal itu menggerogotinya dari dalam.... Siang hari berlalu dengan cepat, tapi malam harinya selalu dijalaninya dalam kesedihan... Menjadi kebiasaannya tiap hari duduk di depan lentera kuil selama berjam-jam sebelum dia tidur... Hanya nyala lentera ini yang bisa memberinya kedamaian dan ketenangan seperti keberadaan Jodha itu sendiri. Di antara jadwalnya yang padat dan misinya terhadap Maham, hanya itulah yang membuatnya bertahan hidup... Hari demi hari rasa frustasinya semakin meningkat... Sudah hampir tiga minggu dan dia belum berhasil menemukan bukti yang memberatkan Maham... Juga tidak ada kabar atau tanda keberadaan Jodha dimanapun... Para prajurit mencarinya ke setiap kuil, desa, Ashrams, tapi tidak satupun yang membuahkan hasil...Jalal tidak punya pilihan, selain bekerja bersama Maham meski harus terus pura-pura tersenyum setiap harinya sampai dia terbukti bersalah...

Di lain pihak, Maham terkejut melihat Jalal mampu mengendalikan dirinya sendiri... cara dia mampu menyelesaikan tugas-tugasnya dan mengendalikan emosinya justru membuatnya kecewa... Rencana Maham memang berhasil, tapi tidak berpengaruh pada Jalal... Jodha telah keluar dari hidupnya, tapi Jalal justru bisa mengendalikan semuanya dan lebih fokus bekerja...

Tiga minggu setelah kepergian Jodha:

Diwan E Khaas penuh terisi oleh petugas dan pegawai kerajaan termasuk Maham, sedang berlangsung pembicaraan sengit mengenai pembelotan Abul Mali. Maham berdiri untuk mengutarakan pendapatnya tentang masalah itu, tiba-tiba dia merasa limbung. Dan, sekali lagi kehilangan keseimbangan tubuhnya di depan sidang... Sudah kelima kalinya hal itu terjadi di depan publik... Jalal berdiri dari singgasananya dan bantu memapahnya duduk kembali di kursinya. Setelah beberapa saat dia merasa lebih baik.

Dengan kepedulian dan kecemasan yang dibuat-buat Jalal berkata, “Badi Ammi, kenapa kau tidak menjaga kesehatanmu? Sepanjang hari, kau bekerja di Diwan E Khaas, tidak seharusnya kau bekerja sekeras itu di usiamu sekarang. Kau harus banyak beristirahat, di usiamu ini sudah saatnya kau meluangkan lebih banyak waktu untuk beribadah kepada Allah. Aku adalah putramu dan tanggungjawabku untuk merawatmu Badi Ammi, aku tidak bisa melihatmu dalam kondisi seperti ini lagi... Aku akan melepasmu dari jabatanmu di kementerian.”

Mendengar hal itu Maham sangat terkejut dan menjawab dengan terbata-bata, “Tidak... Jalal... Aku sungguh tidak apa-apa dan benar-benar sehat.”

Dengan sarkastik Jalal berucap, “Tidak Badi Ammi, sudah cukup hal-hal yang kau lakukan untuk kesultanan ini dan untukku... Aku tidak boleh seegois itu.”

Dengan nada sedih dan datar Jalal mengumumkan, “Badi Ammi berhenti dari posisinya sebagai Vajire Aliya, aku mengambil keputusan berat ini dengan mempertimbangkan kondisi kesehatannya. Sampai aku mengumumkan penggantinya, Atgah sahib akan mengambil alih semua tanggung jawabnya. Juga, ini adalah perintahku, mulai sekarang dan selanjutnya tidak seorangpun boleh mengganggu Badi Ammi terkait dengan urusan kesultanan. Aku sangat menghargai kerja keras dan kesetiaannya pada Kekaisaran Mughal... Dengan segala hormat, aku meminta Badi Ammi untuk beristirahat dan menikmati masa pensiunnya.”

Setelah mendengar pengumuman itu, Maham merasa seakan seseorang mencabut pijakan di bawah kakinya. Matanya membulat terperanjat... Impiannya... Posisinya... Kekuasaannya... semuanya diambil dalam satu detik... Cara Jalal mengumumkannya dengan penuh ketegasan serta tak mau dibantah... Dia tidak mampu berkata apa-apa...

Hamida, Rukaiya dan yang lainnya tidak mengerti, kenapa tiba-tiba Jalal mengambil keputusan penting itu. Jalal menyuruh salah satu pelayan untuk mengantar Badi Ammi kembali ke kamarnya dengan hati-hati, lalu menoleh pada Maham dan berkata dengan sedih, “Badi Ammi, kau harus beristirahat dan menjaga kesehatanmu. Ini adalah permintaan dari putramu.”

Semua orang di ruang sidang memahami perhatian Jalal pada maham dan mendukung keputusannya.

Sambil memandang Maham berjalan keluar dari Diwan, dengan berbisik dalam hati dia berkata, ‘ini hanyalah awalnya... Kau telah memberiku air mata dan darah... membawa pergi senyumku... anakku, Jodhaku... kebahagiaanku, dan sekarang adalah giliranmu. Hal yang paling berharga dalam hidupmu, kekuasaan dan posisimu, aku sudah merampasnya darimu.. Aku mempelajari semua taktik ini darimu seorang, kau akan memetik apa yang sudah kau tanam.’ Jalal dan Abdul saling melirik penuh arti dan tersenyum tipis.

Maham merasa benar-benar putus asa, bagi dirinya hal ini lebih menyakitkan daripada kematian Adham.

Setelah sidang, Jalal menginstruksikan Atgah sahib untuk memindahkan ruangan Maham dengan segera. Ruangan itu diperuntukkan bagi Vajir Kesultanan ini... “Segera kau atur ruangan yang lain untuk Badi Ammi.” Dia berhenti sejenak menyadari ekspresi terkejut Atgah, beberapa saat kemudian dia lanjut dengan nada tegas, “Pastikan semuanya selesai sebelum malam ini.”

Atgah terkejut dengan perubahan sikap Jalal yang tiba-tiba, namun tanpa bertanya dia menjawab. “Sesuai perintahmu Shahenshah.”

Saat itu waktu makan siang... Maham sedang berada di ruangannya, duduk bersedih sambil berpikir... ‘Adham telah mati... Resham pergi... Sekarang kekuasaanku pun telah lepas..’ Dia belum pernah merasa setidak berdaya ini dalam hidupnya...

Jalal datang ke ruangannya untuk memeriksa kesehatannya bersama seorang pelayan yang membawa hidangan untuk Maham...

Jalal bertanya, “Bagaimana keadaanmu sekarang Badi Ammi???”

“Jalal, aku tidak pernah menyangka suatu hari kau akan memberhentikanku dari posisiku dengan cara seperti ini tanpa bicara dulu denganku. Kau telah mengejutkanku.” Maham menjawab dengan nada terluka.

Jalal bersikap dengan perhatian palsu, “Badi Ammi, kau sama sekali tidak menjaga kesehatanmu, tapi itu memang kewajibanku sebagai putramu untuk merawatmu. Jadi, aku ingin kau mengerti alasanku mengambil keputusan besar itu dengan tiba-tiba. Sekarang jangan terlalu memikirkan hal itu dan nikmatilah makanan yang kubawakan ini.”

Pelayan meletakkan hidangannya di meja dan mulai menyajikannya, namun begitu Maham melihat apa isi hidangannya, dia berteriak kencang, “Kenapa kau membawakan makanan yang tidak ada rasanya ini?”

“Badi Ammi, jangan membentaknya, aku yang menyuruh membawakan masakan ini spesial untukmu. Sesuai saran dari Hakim, makanan ini bagus untuk kesehatanmu, untuk beberapa hari ke depan kau harus menikmati makanan sehat seperti ini.” Jalal menjawab dengan tenang.

“Tidak ada yang terjadi padaku, aku baik-baik saja.” Maham berusaha meyakinkannya.

Dalam hati Jalal berkata sinis, ‘Aku tahu benar kau sehat dan tidak ada yang terjadi padamu.’

Dengan tegas Jalal menjawab, “Badi Ammi, jangan membantah... kau bertingkah seperti anak kecil, kau harus makan masakan ini hingga kau benar-benar sembuh.” Lalu dia berbisik pada pelayan itu dengan sangat pelan, “Beritahu aku jika dia tidak menghabiskan makanan ini, dan jangan beri dia makanan lain.”

Jalal berjalan keluar dari ruangan Maham, dia merasa sedikit puas atas kemenangan kecilnya itu, tapi hatinya masih tetap terasa sakit, rasa sakit karena perpisahannya dengan Jodha.

Pada sore hari Atgah datang ke ruangan Maham dan memberitahukan bahwa dia harus segera mengemasi barang-barangnya dan pindah dari ruangan itu... Dia akan ditempatkan ke ruangan yang lain.

Mendengar hal itu Maham terperanjat sekali lagi... Matanya menampakkan amarah yang besar, dia berteriak kencang, “Beraninya kau?? Apa kau sudah lupa siapa aku?? Aku adalah Vajire Aliya Maham Anga... Apa kau sudah tidak waras, kau menyuruhku pindah dari ruanganku sendiri? Aku sudah tinggal di sini selama bertahun-tahun dan kau memintaku keluar dari ruangan ini. Aku pastikan Jalal akan menghukummu karena kelancanganmu.”

“Maafkan aku... Maham Anga...” Atgah menjawab dengan sedikit terbata.

Untuk pertama kalinya Maham mendengar namanya disebut tanpa gelar Vajire Aliya dari mulut Atgah... Dia lepas kendali dan lupa bahwa dia bukan lagi Vajire Aliya, sekali lagi dia berteriak, “Apa kau bilang... Beraninya kau menyebut namaku?”

Meski sulit Atgah menjawab, “Aku hanya menjalankan perintah Shahenshah, lihatlah deklarasi kerajaan ini yang disahkan oleh Shahenshah, dan sesuai dengan apa yang tertulis disana, kau harus segera memindahkan barang-barangmu dari sini. Kami sudah menyiapkan ruangan baru untukmu.”

Bola mata Maham membelalak semakin lebar... dia melihat surat deklarasi itu dengan tatapan kosong.

Atgah memanggil pelayan untuk membantunya berkemas...

Pandangan mata Maham dipenuhi dengan kemarahan dan air mata... Dia merasa seakan seseorang memukul kepalanya dengan palu... Dia ingin berteriak.... Kekuasaannya, kebanggaannya, bahkan ruangannya dirampas dari tangannya dan dia sudah tidak punya apa-apa lagi... Akhirnya, dia keluar dari ruangannya dengan penuh air mata.

Sejak  Jodha meninggalkan istana, Jalal tidak pernah lagi mengunjungi Harem untuk bersenang-senang. Rukaiya berusaha menemuinya beberapa kali, tapi Jalal selalu menolak permintaannya... Semakin hari rasa bersalah Jalal semakin besar sebanding dengan perasaan frustasinya... dia belum berhasil menemukan Jodha begitu pula pelaku sebenarnya.

Hingga pada suatu hari, senyum tipis terukir di bibir Jalal dan ada sedikit sinar harapan di matanya. Kecurigaannya terbukti bahwa wanita itu berkomplot dengan Maham... Seakan perlahan awan hitam mulai tersibak dan angin sejuk kembali berhembus membawa kebaikan dalam hidupnya.

Jalal memerintahkan untuk membawa asisten Hakim ke ruangannya... Ketika dia memasuki ruangan Jalal dia mulai gemetar ketakutan dan keringat dingin muncul di dahinya. Melihat ketakutan di wajahnya, Jalal menyeringai senang.

Dengan tatapan tajam Jalal bertanya padanya, “Siapa namamu?”

“Wahida” Dia menjawab dengan suara rendah

Jalal bertanya dengan dinginnya, “Kau ingin mati dengan cara bagaimana Wahida??” dia memberi jeda untuk melihat reaksinya...

Mata wanita itu melebar karena pernyataan itu dan wajahnya seketika memucat.

Tiba-tiba Jalal membentak dengan suara kencang, “APA KAU INGIN AKU MENCEKIKMU SAMPAI KAU MATI?” Mata Jalal semakin tajam, tampak sangat menakutkan. Dia berteriak lagi, “Katakan padaku bagaimana kau ingin mati, kau telah membunuh penerus kesultanan ini... kau telah membunuh anakku yang belum lahir... Beraninya kau, kau b*****an??? Katakan padaku semuanya, siapa lagi yang terlibat dalam konspirasi ini... Tidak seorang pun bisa menyelamatkanmu sekarang, bahkan Maham Anga tidak akan bisa melindungimu.”

Wanita itu sudah tidak bisa berkelit lagi dan dia telah kehilangan semua keberaniannya setelah mendengar nama Maham Anga disebut... Segera saja dia sadar Shahenshah sudah mengetahui semuanya... Dia jatuh bersimpuh ke lantai di depan Jalal sambil menangis, di sela tangisannya dia memohon ampun untuk hidupnya... “Shahenshah mohon ampuni aku...” berulang kali dia memohon... lalu dia lanjut berkata dengan suara gemetar, “Shahenshah mohon maafkanlah aku, aku bukan yang merencanakan semua ini, aku hanya menyiapkan ramuan itu, tapi aku tidak membunuh pewaris kesultanan ini... Rukaiya Begum yang mengatur semuanya, dia berbohong pada semua orang bahwa dia sedang mengandung, yang sebenarnya adalah dia tidak hamil sama sekali. Nuraniku tidak akan mengijinkan diriku sendiri membunuh seorang bayi. Aku lebih memilih membantu kehidupan orang bukannya mencabut hidup orang lain, percayalah padaku Shahenshah, hati nuraniku sendiri tidak akan membiarkan aku melakukan hal penuh dosa seperti itu. Benar, aku melakukan kesalahan karena ketamakanku pada harta, untuk memenuhi impianku aku terjebak dalam rencana Maham dan tidak menyadari apa yang mungkin terjadi jika ramuan ini jatuh pada orang yang salah... Aku sama sekali tidak tahu apa rencana jahat mereka sampai Jodha Begum dihukum. Memang, aku yang memberikan ramuan itu, tapi aku tidak membunuh anakmu.”

Penjelasan itu menghunjamnya seperti petir dan guntur yang saling menyambar di dalam hatinya. Tubuh Jalal terdorong ke belakang dengan tatapan kosong, seakan-akan dia kehilangan semua inderanya... telinganya tidak bisa mempercayai apa yang baru saja didengarnya. Apa??? Rukaiya... Rukaiya tidak pernah hamil??? Kata-kata itu terus terngiang dan berputar-putar dalam otaknya... Rukaiya juga terlibat dengan konspirasi bersama Maham... Rasanya seperti diguncang bom yang meledak dalam hatinya. Seluruh tubuhnya mati rasa dan untuk beberapa saat penglihatannya kabur... Lagi dan lagi dia berbisik “Rukaiya... Kenapa... Rukaiya.” Matanya  menggelap penuh amarah. Dia berbisik lagi, “Ohh Tuhan!!!! Ini kejahatan yang tak bisa terampuni, Rukaiya tidak hanya berbohong padaku, tapi dia juga membohongi perasaan rakyatku???”

* * * * * * * * * * * *


FF: Is It Hate or Love Chapter 33 Part 2

5 comments:

  1. Makin seru dan makin penasaran,ditunggu terus lanjutannya mba

    ReplyDelete
  2. Ckckckc...makin penasaran, jangan lama2 posting lanjutannya ya nanda chus...

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.