FF: Is It Hate or Love Chapter 33 Part 3 - ChusNiAnTi

FF: Is It Hate or Love Chapter 33 Part 3


Written by Bhavini Shah
Translate by Tyas Herawati Wardani

Perasaan Jalal benar-benar hancur, dalam beberapa hari saja semua yang ada di sekelilingnya berubah. Seluruh wajahnya  basah oleh keringat... Dia merasa seakan seseorang memukulkan palu pada kepalanya dengan sangat keras... Dengan kasar dia menyisirkan tangan pada rambutnya... Satu kalimat mampu merampas semua kekuatannya... Dia jatuh berlutut dan terduduk di kakinya lalu meratapi kesedihannya “Yaa Allah... Rukaiya... teman masa kecilku... istri pertamaku... pendukungku... bagaimana bisa dia menipuku tanpa perasaan seperti ini? Dia tahu benar aku sangat mengharapkan kehadiran seorang anak, walau begitu dia tetap tega mempermainkan perasaan dan harapanku... Dia tahu aku sangat mencintai Jodha dan karena itulah dia bersikap kasar padanya, dia menampar Jodha, dia mengusir Jodha dari istana ini... Kenapa dia tega menghancurkan perasaan dan impianku??? Impian tentang malaikat kecilku... Impian tentang pangeran kecilku. Tidak pernahkah sekali saja dia membayangkan bagaimana hancurnya hatiku saat impianku hancur... Rukaiya, aku sudah menuruti semua keinginanmu dan apa yang kau berikan sebagai balasannya untukku??? Kemanakah perasaan cintamu? Kau selalu mengatakan kalau kau mencintaiku lebih dari apapun lalu kenapa kau melakukan semua ini??”

Beberapa menit kemudian, Jalal kembali mengontrol emosinya dan baru ingat bahwa Wahida masih ada di depannya gemetar ketakutan... Jalal memanggil seorang pengawal dan memerintahkan untuk mengunci wanita itu di sebelah kamarnya dan mengingatkan agar merahasiakan semua ini... Dia lalu menunjukkan pintu penghubung yang ada di ruangannya..

Kemudian dia memanggil pengawal lain ke dalam ruangannya dan memerintahkan untuk memanggil Abdul segera ke hadapannya.

Melihat wajah Jalal yang pucat dan sembab, Abdul menjadi cemas... Dia bertanya khawatir, “Apa yang telah terjadi Shahenshah? Apa semua baik-baik saja, kau terlihat sangat tertekan?.”

Dengan berat hati Jalal menceritakan pada Abdul, semua isi pembicaraan antara dirinya dan Wahida.

Abdul juga terperanjat tak percaya setelah mendengar semua tentang kehamilan palsu Rukaiya... Seketika dia memahami penderitaan apa yang telah dilalui oleh Jalal. Disentuhnya lengan Jalal dan berkata, “Jalal, aku mengerti kesedihanmu, tapi kau harus tetap tegar, dan tetap percaya pada Allah, semuanya akan kembali seperti semula.”

Jalal menjawab dengan sinis, “Abdul, tidak ada yang akan membaik...A pa lagi yang bisa membaik??? Apa lagi yang tersisa?? Semuanya sudah selesai... Jalal sudah benar-benar hancur... orang yang sangat kupercaya adalah orang yang mengkhianatiku paling kejam... seseorang yang kuperlakukan seperti ibuku sendiri, dengan tanpa perasaan dia menusukku dari belakang... seseorang yang telah menjadi teman terdekatku sejak kecil dan istriku, dia bukan hanya mengkhianatiku, tapi dia juga membohongi perasaan Jodha Begum dan seluruh rakyatku... dia menyakitiku luar dalam... Setiap orang yang ada di dekatku mempermainkan aku... pertama Adham... lalu Abul Mali... Maham... dan sekarang Rukaiya... mereka semua yang paling dekat denganku... yang sangat kupercaya... Apa lagi yang tersisa dalam hidupku sekarang, cintaku... hatiku... hidupku Jodha Begum juga meninggalkanku sendirian.”

Dengan sedih Abdul membalas, “Jalal, kau tidak boleh menyerah seperti ini. Kau harus tetap kuat. Pertama kita harus membuktikan Ratu Jodha tidak bersalah... Kau masih punya harapan...”

Perasaan Jalal mulai membaik, “Beri aku waktu satu jam.”

Setelah satu jam Jalal menemui Abdul.

Dengan menghela napas berat Jalal berkata, “Abdul aku punya rencana..”

Rukaiya dan Maham keduanya menerima selembar surat ancaman dari Wahida (asisten Hakim) yang isinya, ‘Temui aku secepatnya dalam lima belas menit di ruangan sebelah klinik... Jika kau tidak datang sekarang juga maka aku tidak punya pilihan lain selain mengungkap kebenarannya.’

Begitu selesai membaca surat itu, paras muka Maham langsung berubah... dia mulai berkeringat meski hari itu sedang dingin... Wajahnya menyiratkan bermacam emosi. Dia panik dan marah pada waktu bersamaan.

Jalal berjalan masuk ke dalam ruangan Maham pada saat yang sama tanpa pemberitahuan untuk melihat reaksinya.... Maham kelabakan melihat Jalal di ruangannya, segera dia berusaha menggulung kembali suratnya dan hendak menyembunyikannya, tapi terlambat...

Jalal bertanya dengan nada menyelidik, “Badi Ammi, kenapa kau terlihat gugup sekali??? Kenapa kau berkeringat?”

Maham menjawab denga suara sedikit bergetar, “J...J..alal... Tidak.. Bukan apa-apa... Hanya saja angin tidak bertiup hari ini jadi rasanya sangat gerah.”

Jalal bertanya namun nadanya tetap datar, “Siapa yang menulis surat untukmu Badi Ammi? Aku yakin itu bukan surat tentang pekerjaan.”

Wajah Maham memucat dan dengan gugup dia menjawab, “Jalal, bukan hal yang penting, surat dari Resham.”

Jalal menyeringai dan kembali berkata, “Badi Ammi... katakan padaku bagaiman perasaanmu dan kuharap kau menyukai ruangan barumu ini?” Jalal ingin mengulur waktu, harusnya Maham menemui Wahida dalam beberapa menit ke depan, jadi Jalal tidak ingin memberinya kesempatan untuk berpikir lagi... sehingga dengan sengaja dia menghabiskan sepuluh menit lagi dan keluar dari ruangannya kemudian...

Jalal berjalan masuk ke dalam ruangan Rukaiya tanpa pemberitahuan lima belas menit kemudian dan diam-diam bersembunyi di pojok ruangan... Dia ingin melihat reaksinya setelah membaca surat itu... Ketika Jalal masuk, Rukaiya sedang membaca surat dari Wahida, sesuai dugaan ekspresinya langsung berubah, pertama parasnya memucat dan ketakutan lalu berubah lagi menampakkan amarah yang tersulut... dia buang surat itu ke lantai dan mulai berjalan mondar-mandir di dalam ruangannya... Tindak-tanduknya meyakinkan keraguan Jalal bahwa Rukaiya juga terlibat... Dengan menanggung kekecewaan dia berjalan keluar tanpa suara. Dari kejauhan dia menatap Rukaiya dengan rasa jijik, sebutir air mata jatuh dari matanya... dengan menarik napas berat dia usap air mata itu, dan kembali menjalankan rencana selanjutnya...

Maham dan Rukaiya, sama-sama menampakkan ekspresi gugup dan ketakutan  berjalan ke ruangan Wahida.... dimana dia menunggu keduanya.

Begitu berhadapan, Rukaiya langsung berteriak membentak Wahida, “Dasar wanita bodoh... beraninya kau menulis surat seperti ini padaku??? Apa kau sudah lupa kalau aku ini Begum E Khaas.. .Apa kau tahu akibatnya menulis surat seperti ini?”

Wahida menatap keduanya dengan perasaan takut dan berkata... “Maafkan kebodohanku, tapi aku juga tidak tahu aku sudah terlibat dalam sebuah kejahatan besar... kehamilan palsu Rukaiya Begum dan ramuan yang kuberikan pada Maham telah menempatkan Ratu Jodha sebagai pelaku kejahatan ini. Ini konspirasi yang sangat besar... Aku sangat takut, aku tidak pernah bisa tidur lagi, setiap saat aku merasa kalau aku akan tertangkap, jadi kuputuskan untuk pergi dari Agra, tapi untuk itu aku butuh lima ribu Dinar.”

Rukaiya berteriak marah, “Kau wanita tidak tahu diri... Kau pikir siapa yang kau ancam? Apa yang akan kau lakukan, jika kami tidak memberimu uang? Kau akan mengatakan pada semua orang  bahwa kehamilanku palsu dan kau pikir mereka akan percaya... Dengarkan aku, dasar bodoh, kami sudah merencanakan semuanya dengan sangat teliti dan tidak mennyisakan bukti apapun,  bahkan Badi Hakim Sahiba tidak akan bisa membuktikan kalau aku tidak pernah hamil. Lakukan apa yang ingin kau lakukan? Tapi aku yakin dengan kebodohanmu kau akan mengakhiri hidupmu di penjara karena berani melawanku dan Badi Ammi.”

Maham menambahkan dengan nada mengancam, “Kau wanita serakah, kami sudah memberimu lima ribu dinar untuk ramuan rahasia itu. Tidakkah itu cukup untukmu??? Jadi sekarang kau meminta uang lagi dengan mengancam kami. KAU mengancam kami? Dengar baik-baik, sebaiknya kau segera pergi meninggalkan Agra atau kalau tidak kondisimu akan jauh lebih buruk dari kematian.”

Jalal... Salima... Hamida... Abdul... Fufijaan.. Atgah sahib... Maulvi... Semua orang sedang bersembunyi dan mendengarkan percakapan mereka... Mata Salima Begum membelalak... Mulut Hamida terbuka lebar... isi percakapan itu mencengangkan mereka semua.

Sudah cukup bukti bahwa Rukaiya dan Maham yang merencanakan semua kejahatan itu... Jalal tidak bisa menunggu lebih lama. Dia keluar dari persembunyiannya di dalam lemari pakaian diikuti yang lainnya sambil bertepuk tangan dan berkata dengan nada tinggi, “Wah Rukaiya Wah!!!..”

Semua orang berkumpul di ruangan itu... Maham dan Rukaiya keduanya tidak berkutik... Keduanya membelalakkan mata ketakutan dan menahan napas.... Dari ekspresi semua orang, mereka sadar kalau mereka sudah tertangkap basah...

Rukaiya menatap bingung ke arah Jalal, apa yang baru saja terjadi, apa dia tidak menyadarinya??? Jalal makin tidak senang melihat ekspresi takut dan kebingungan di wajah Rukaiya... Dia berjalan cepat dan menampar Rukaiya, tiga kali dengan cepat... Jalal memukulnya denga sangat keras hingga sudut mulutnya berdarah...

Dia gemetar ketakutan melihat kemurkaan Jalal dan mulai terisak keras... Rukaiya mulai memikirkan alasan yang bisa dia buat, tapi belum sempat dia mengutarakannya, dengan pandangan tajam Jalal membentaknya lebih dulu, “Tidak satu katapun.”

Semua orang merasa ngeri melihat amarah di wajah Jalal... Darahnya mendidih serasa ingin membunuhnya... Dia mendesis dengan keras, “Kau brengsek... kau iblis... kau mempermainkan emosiku... kau sudah menyakiti semua orang di kesultananku... kau berbohong tentang kehamilanmu... orang macam apa dirimu??? Menjijikkan... Aku merasa malu pada diriku sendiri saat menyebutmu sebagai teman terdekatku??? Pengkhianatanmu akan tertulis dalam sejarah dengan tinta hitam... kau memberiku impian palsu untuk kau hancurkan kembali... Memalukan... Kau sudah menodai Kesultanan Mughal... Kau tidak pantas menjadi seorang Ibu... Rasanya aku ingin mencekikmu sampai mati.”

Perasaan Rukaiya langsung menciut, belum pernah dia melihat Jalal semarah ini... Rukaiya berlari ke arah Hamida mencari perlindungan... sambil menangis memohon dia berkata, “Ammi Jaan, selamatkan aku dari Jalal, dia akan membunuhku.”

Hamida memandangnya dengan jijik lalu menamparnya keras, “Rukaiya... bahkan kematian pun terlalu baik untukmu... Kau sudah merendahkan martabat Kesultanan Mughal... pergi dari hadapanku.” Hamida mendorongnya ke arah Jalal...

Saat Rukaiya sadar tidak ada seorangpun yang mendukungnya, dia mulai bicara keras sambil memandang semua orang, “Ya.. aku memang pura-pura hamil... sejak aku kecil, aku selalu berjalan di belakang Jalal, aku selalu mendukungnya... aku menangis saat dia sakit dan tersenyum saat dia bahagia, aku merubah diriku demi dia... aku melupakan apa yang kuinginkan... kuserahkan seluruh hidupku padanya, tapi apa yang kudapatkan... Tidak ada... Bukan hanya dia tidak bisa memberiku seorang anak, dia juga tidak mencintaiku... Dan, Rajvanshi sialan itu... Jalal memberinya segalanya... cintanya... perhatiannya... dia bahkan menjadikannya Malika E Hindustan.” Dia menatap Jalal dengan pahit dan lanjut berkata, “Jalal... aku tidak menyesali semuanya... aku puas bisa memisahkanmu dari yang kau sebut sebagai cinta... aku ingin kau merasakan rasa sakit yang juga kurasakan. Aku akan berdoa pada Allah kau tidak akan pernah menemukannya.”

Semua orang tercengang melihat sikap rendah dan memalukan dari Rukaiya...

Jalal menggerutu, “Rukaiya, kau tahu kenapa kau berjalan di belakangku??? Karena kau ingin kekuasaan, kau ingin menjadi Begum E Khaas... Kau ingin menguasai Haremku... Kau ingin kekuasaan politik... aku selalu percaya pada persahabatan kita, aku memberimu segala yang kau dambakan... aku memberimu kekuasaan yang kau idam-idamkan, tapi aku tidak pernah mencintaimu. Aku punya banyak istri, tapi aku tidak mencintai mereka semua... aku menghormati dan melindungi mereka, tapi untuk mencintai bukan tergantung pada kehendakku. Sesungguhnya kau ingin mengendalikanku.. mengontrol pikiranku... Pastinya Tuhan sudah merencanakan kenapa tidak hamil karena kau tidak pantas menjadi seorang ibu. Kau bukannya iri pada kedekatanku dan Jodha, tapi karena aku menjadikannya Malika E Hindustan. Kau lebih kejam dari musuh terbesarku. Dan, kau yang mengatakan Jodha adalah iblis dan penipu... Tidak ada seorangpun di dunia yang lebih suci darinya, tidak egois, wanita yang sangat baik... Jangan pernah memfitnah Jodha...” Dia menarik napas dan dengan nada memerintah berkat, “Prajurit, tahan wanita ini dan bawa pergi dari hadapanku.”

Jalal menatap nanar Maham... air matanya terus mengalir tak terbendung... semua orang tersentuh melihat emosi Jalal... Sulit digambarkan apakah dia lebih marah atau lebih sedih...

Maham merancang alasan di otaknya untuk menyelamatkan dirinya... Dengan tangis palsu, dia berlari memeluk Jalal dan berkata dengan suara bergetar... “Maafkan aku, Jalal... Rukaiya menjebakku dalam rencananya, mana mungkin aku melakukan kejahatan sebesar ini.”

Jalal justru semakin marah melihat kepura-puraannya... dia dorong Maham dengan keras hingga tersungkur ke belakang dan kepalanya membentur dinding... Dengan perasaan pahit berkata, “Hentikan... cukup sandiwaranya... Aku tahu benar siapa kau Maham... Aku sangat mengenalmu, kau tidak akan segan membunuh orang demi kepentinganmu. Setelah melihat semua sandiwara ini, kecurigaanku terbukti... Sejak awal kau sudah mempermainkan aku dan Jodha... Kau berusaha memisahkan kami, kau berusaha membunuh Jodha berkali-kali... Kaupikir aku tidak tahu apa-apa, aku selalu mencurigaimu, tapi karena aku tidak punya bukti maka aku hanya bisa diam. Meski aku tahu orang seperti apa dirimu, aku selalu menganggap kau menyayangiku dan tidak akan menyakitiku. Aku juga menuruti semua permintaanmu. Aku menjadikanmu Vajire Aliya.. aku menghormatimu lebih dari ibuku sendiri. Setelah yang kau lakukan padaku ini, tidak ada lagi orang yang akan menyayangi Ibu angkatnya. Kau benar-benar berhasih, kau tahu... kau ingin menghancurkan Jalal... tepuk tangan untuk kemenanganmu... Jalal benar-benar hancur hari ini” Dia mengulangi kata terakhir dengan suara dalam, Jalal sudah hancur.. tak terasa air mata kembali jatuh di pipinya, kedua tangannya menyisir rambutnya dan dia duduk berlutut... terisak keras... Semua orang ikut bersedih melihat Jalal yang sangat rapuh... Karena itu Hamida mengambil alih dan mengeluarkan perintah, “Prajurit, masukkan dia ke penjara... besok di Diwan E Khaas Rukaiya dan Maham akan dijatuhi hukuman...”

Hamida duduk di sebelah Jalal dan memeluknya dengan hangat, sambil mengusap punggungnya... Jalal terisak lama seperti anak kecil di pelukan Hamida... Selama tiga minggu ini dia simpan semua kesedihannya dan berlagak tegar, tapi hari ini dia sangat lelah dengan perasaannya...

Air mata seakan meringankan sedikit penderitaannya... dia merasa lebih baik... semua amarah terpendamnya luruh bersama tangisnya, tapi tragedi ini mengambil semua yang dimilikinya... teman baiknya... ibunya... dan belahan jiwanya... Dia hanya seorang diri... tanpa pegangan... kehampaan ini menggerogotinya dari dalam... Demi hidupnya, dia menginginkan Jodha dan kehangatannya... dia sangat mendambakan kehadiran Jodha sebagai tempatnya bersandar...

Jalal mengusap air mata dan menguatkan dirinya, lalu berkata dengan suara rendah, “Ammi Jaan, aku merasa lebih baik dari sebelumnya, tapi aku ingin menghabiskan waktuku sendirian di kamar Jodha Begum.”

Jalal bangkit dan mulai melangkah... Semua orang memperhatikan Jalal... Raja dari para Raja berjalan seperti orang paling menderita... Tubuhnya lemas dan pandangannya kosong...

Dia pergi ke kamar Jodha dan duduk di dekat kuil... Dan, menatap ke arah lentera berdoa dan memohon pada Kanah... “Hey Krishna... Tolong kembalikan Jodha padaku.”

Dia duduk disana selama satu jam sambil terus memandangi lentera. Tanpa dia sadari seluruh pikirannya dipenuhi kenangan akan Jodha, pertemuan pertama mereka dan momen indah mereka setelahnya... semua kenangan itu berkelebat di benaknya seperti sebuah film... bagaimana mereka saat pertama bertemu... bagaimana Jodha mengubahnya... ciuman pertama... saat mereka saling mengungkap cinta... malam pertama yang romantis... Seketika semua kenangan indah itu memenuhi hatinya yang hancur dan merana... wajahnya yang pucat mulai bersinar di di hadapan lentera diya... Senyum kecil muncul di sudut bibirnya... ketika dia mengingat kata terakhir di surat itu... “Milikmu dan hanya milikmu Junglee Billi.”

Saat matahari terbenam... Jalal keluar dan duduk di ayunan... Matahari sudah siap kembali ke peraduannya di balik gunung dan pepohonan... setelah sekian lama dia melihat kembali warna dalam hidupnya... senyum sekilas muncul di wajahnya saat memandang sinar keemasan di langit... Telinganya mendengar kicauan merdu burung-burung... Setelah beberapa hari dia merasakan sejuknya hembusan angin... Hatinya yang hancur mulai tertata kembali... Sebuah kepuasan... Kelegaan... Perasaan bahagia karena dia sudah berhasil membuktikan Jodha tidak bersalah... Dia merasa telah memenangkan pertempuran terberat dalam hidupnya... Menarik napas dalam dan mengeluarkannya dengan senyum lebar, meski hatinya masih sangat merindukan Jodha... kemenangannya tetap tak berarti tanpa Jodha... Kerinduan yang sangat dalam... Jalal ingin melihat tatapan matanya... dia ingin menciumnya... dia ingin memeluknya...

Senyum kebahagiaannya kembali hilang digantikan kesedihan di wajahnya...Dia ingat beberapa kata dalam surat... “Jangan menyerah.” Jalal kembali merenung... Dan, sebuah kata terucap dari mulutnya... “Kau dimana Jodha... Kau dimana???”


Di tengah hutan yang lebat... dikelilingi pegunungan... di pinggir sungai... di atas sebuah batu... sepasang mata indah memandang rembulan, air mata menggenang di kelopaknya... Sambil memeluk lututnya, wanita itu menghela napas... menggemakan suara hatinya.. “Jalal, aku di sini menunggumu..”

Jalal mendengar suara hati Jodha... awalnya dia kaget mendengar suara itu... dia menoleh ke segala arah berharap wanita itu ada... namun sekali lagi dia kecewa... berkali-kali dia mendengar suara hati Jodha tapi dia belum juga menyadari bahwa itu adalah suara Jodha yang menjawab panggilan hatinya... Kekuatan cinta mereka telah melalui semua batasan... Lagi, dia mendengarnya... “Jalal,bagaimana kabarmu???” Jalal tersenyum sinis dan berbisik, “Apa jadinya aku tanpa dirimu?” sambil menatap sinar rembulan dan bintang.

Jodha juga mendengar suara hati Jalal... dan membayangkan senyum sinisnya...

Kadangkala, pikiran yang terdalam muncul dalam hatiku, apakah, bisa hidup di antara kelembutan rambutmu,

Tinta kesedihan dan kepedihan yang menyebar di dalam hatiku, bisa luluh karena sinar matamu... pasti menyenangkan.

Tapi takkan mungkin terjadi, karena itu hanya dalam cerita, bahwa kau tak ada disini, kesedihan karena kehilanganmu, harapan menemukanmu juga tak ada.

Hidup berjalan dengan caranya, seakan tidak ada gairah yang tertinggal...

Tanpa arah, tujuan, dan tak ada sinar... Hidupku mengembara dalam kegelapan...

Di kegelapan inilah, aku tersesat, aku tahu sayang... tetaplah, seperti itu adanya, itulah yang kurasakan dalam hatiku...

Jalal menghabiskan malamnya duduk di luar sambil memandang rembulan... dan tertidur dalam ayunan...

Pagi berikutnya...

Jalal merasa seakan jiwa Jodha memberikan kehangatan sepanjang malam ke dalam hatinya... Jalal bangun dengan penuh semangat dan wajah yang bersinar... Dia merasa damai... Dia siap menghadapi hari ini... Hari yang besar untuknya...

Hari ini Diwan E Khaas dipenuhi ribuan orang... Berita tentang pengkhiantan Rukaiya dan Maham menyebar ke seantero Agra... semua merasa iba pada Jodha dan Jalal... Hamida dan salima mencemaskan Jalal... Bagaimana dia akan mengendalikan emosinya di ruang sidang... Saatnya kedatangan Jalal diumumkan...

Jalal memasuki Diwan E Khaas dengan langkah mantap, mendongakkan kepalanya dan menutupi kegundahan hatinya... Semua orang terpana melihat keteguhan di matanya, Hamida memberkati  dan mendoakannya... Jalal menoleh ke arah Hamida dan matanya seakan menjawab doanya dengan Adab.

Sebelum Atgah sempat mengumumkan... Jalal berucap lantang, “Bawa masuk tahanan Maham Anga dan Rukaiya Begum.”

Keduanya masuk dengan rasa malu... wajah mereka menunduk... dengan penuh rasa bersalah...

Jalal memulai dengan suaranya yang tegas dan tanpa takut, “Kalian berdua terbukti bersalah dan sekarang bersiaplah menerima hukuman... Seharusnya kalian dihukum mati, tapi kalian lebih bersalah pada Jodha, karena itulah aku ingin Jodha yang menghukum kalian. Sampai Jodha Begum kembali, kalian berdua akan hidup sebagai pelayan biasa di suatu tempat.... Rukaiya Begum mulai hari ini kau hanyalah istri biasa... Aku tarik semua hak-hakmu... Hukuman sama yang kau berikan pada Jodha, akan menjadi hukumanmu sekarang...”

Selanjutnya Jalal menutup persidangan dan melangkah keluar tanpa memandang siapapun...

Perlahan Jalal membiasakan hidup tanpa Jodha... Dia curahkan semua perhatiannya pada Kesultanan... Sekarang konsentrasi utama Jalal adalah rakyatnya...

Enam bulan berlalu...

Jalal bekerja siang dan malam dengan penuh semangat... Dia membuat keputusan yang merubah segalanya dalam beberapa bulan... Dalam enam bulan itu, selama lima bulannya dia berkelana untuk melakukan pembaharuan dan meningkatkan keamanan dalam negerinya... beberapa peraturan baru dibuatnya selama bulan-bulan itu... Dia meniadakan Ghulami pratha... Johar... pernikahan muda... dia buat perubahan untuk harapan yang lebih baik... Hari demi hari dia semakin dekat dengan rakyatnya... dia mempekerjakan orang-orang baru yang memiliki bakat dan kemampuan... Istananya dipenuhi beberapa artis termasuk Tansen. Dia buka hatinya untuk rakyatnya, tapi tak seorangpun bisa melihat kesedihan di dalamnya... Hanya Hamida yang tahu bagaimana perasaan Jalal yang sebenarnya... Dia sembunyikan kesedihannya dibalik senyumnya... Tidak ada lain yang dipikirkan selain kesultanannya...

Kegagalan menemukan Jodha membunuhnya dari dalam... Selama tiga bulan Abdul mencari Jodha... ratusan mata-mata juga mencari Jodha Begum... tapi dia tidak ada di Amer juga di Agra...

Jalal mengunjungi semua daerah satu persatu dengan penampilan rakyat biasa... sudah menjadi kebiasaannya untuk hidup di antara rakyatnya untuk mengetahui apa yang mereka butuhkan...

Abul Mali mengetahui kalau Jalal sedang memasuki hutan lebat hanya dengan dua orang pengawalnya...

Abul Mali menyerang Jalal dengan 20 prajuritnya, tapi Jalal berhasil melawan dan menjatuhkan semua lawannya termasuk Abul Mali... tapi dia terluka parah saat bertarung dan jatuh tak sadarkan diri di dalam hutan...

Di tengah malam, seseorang mengetuk pintu rumah.... “Hira... Hira... bangunlah...” Wanita itu terbangun karena sesuatu yang membuatnya gelisah, dan cemas, perasaan saat sesuatu yang buruk terjadi yang membuatnya sulit tidur...

Hira segera bangun dan membuka pintu... Dengan nada cemas dia bertanya, “Apa yang terjadi Panditji??? Kau kesini tengah malam seperti ini... apa semuanya baik-baik saja???”

Pandit menjawab dengan nada takut, “Hira... Naresh pergi ke dalam hutan mencari kayu bakar, dia melihat seorang pria pingsan dalam keadaan terluka... dia membawanya ke asrama untuk diobati... pergilah kesana dan lakukan sesuatu, aku akan pergi memanggil dokter.”

Hira membawa kotak obatnya dan berjalan ke pondok... Saat dia masuk ke dalam pondok... jantungnya seketika berhenti berdetak saat melihat Jalal yang terbaring terluka dan tak sadarkan diri.... Jodha terperangah melihat kondisi Jalal... Lalu dia berteriak, “Shahenshah...”

* * * * * * * * * * * *


FF: Is It Hate or Love Chapter 33 Part 3

2 comments:

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.