FF: Is It Hate or Love Chapter 34 Part 1 - ChusNiAnTi

FF: Is It Hate or Love Chapter 34 Part 1


Written by Bhavini Shah
Translate by Tyas Herawati Wardani

Jodha berdiri membeku di pintu masuk, melihat Jalal yang terluka parah. Matanya melebar dan wajahnya menampakkan ketakutan. Untuk beberapa lama, jantungnya berhenti berdetak. Untuk beberapa saat dia merasa hidupnya berakhir... Dia lupa untuk bernapas...

Setelah enam bulan, akhirnya pria itu ada di hadapannya. Dia tidak bisa mempercayai penglihatannya. Dia berbisik tertahan “Shahenshah”. Sulit baginya melihat luka-luka di tubuhnya. Pria itu berada antara hidup dan mati, darah merembes di bajunya, dan Jodha bisa melihat lengan kanannya terkoyak parah... Kurta kuning khas Rajvanshi yang dikenakannya telah berubah menjadi merah, menyebabkan tubuh mungil Jodha bergetar hebat... Tubuh Jalal yang tidak berdaya terbaring di atas dipan di depan dirinya, dia ingin menjerit, tapi suaranya tercekat di tenggorokannya... Dia tidak mampu mengeluarkan satu suara pun...  Kekhawatirannya luar biasa hingga membuat otaknya tidak mampu memerintahkan anggota tubuhnya untuk bergerak... Dia merasakan jantungnya seperti diremas-remas... gumpalan air mata menghalangi pandangannya... Dalam beberapa detik saja, dia kehabisan seluruh tenaganya, lututnya pun terasa lunglai... Dia mencoba bergerak, tapi tak punya daya lagi tersisa... Dia memejamkan matanya dan berdoa pada Krishna agar memberinya kekuatan...

Acharya mengira dia mendengar kata Shahenshah... Tapi karena tidak terlalu jelas, maka dia mengabaikannya... Melihat airmata dan kecemasan Hira, Acharya terkejut, dia selalu mengira wanita itu adalah wanita yang sangat tegar, ini adalah pertama kalinya dia terlihat lemah. Untuk menyadarkannya.... dia berkata dengan sedikit keras, “Hira.. Hira... anakku, apa yang terjadi??? Kau baik-baik saja? Sepertinya ini pertama kalinya kau melihat orang terluka parah, tapi jangan buang waktu, kendalikan emosimu dan kontrol pikiranmu, dia butuh bantuanmu... dia telah kehilangan banyak darah, coba hentikan pendarahannya sementara aku akan pergi mencari dokter, akan butuh waktu... Hidupnya ada di tanganmu. Masuklah dan mkulai merawatnya, aku pergi dulu.”

Jodha tersentak dari kebisuannya dan menyadari bahwa Jalal sedang membutuhkannya. Dia meminta Acharya untuk memeriksa nadi utamanya sedangkan dia akan membuat ramuan Ayurvedic untuknya segera...

Setelah memeriksa nadinya Acharya dengan panik berkata, “Hira, dia sekarat dan jantungnya berdetak semakin lemah.”

Mengetahui hal itu paras Hira semakin pucat karena panik dan cemas... Dia bergegas membuat ramuan dan Acharya melepaskan kurta Jalal... dengan sedikit lega dia berkata, “Untunglah luka lainnya tidak lebih parah dari luka di lengannya.”

Jodha mencoba menahan emosinya, tapi semuanya terasa lepas kendali.... airmatanya tetap saja mengalir.

Tiba-tiba Jalal seperti kesulitan bernapas dan mengeluarkan suara tercekat makin keras... dadanya naik dan turun seiring tiap tarikan napasnya... tubuhnya terangkat untuk mencoba tetap bernapas... dia makin sekarat...

Acharya menjadi panik melihat kondisinya... Dia berlari keluar memanggil dokter...

Jodha berteriak kencang dan memanggil “Jalal”. Dia bergegas menghampirinya dan menempelkan salep ramuan di lengannya dan luka-luka lainnya... Saat Jodha sedang membersihkan darah di sekitar lukanya... Jalal mengigau menyebut nama “JODHA”.

Jodha menjawab dengan agak panik, “Shahenshah., Shahenshah... lihatlah aku... aku Jodha-mu... bangunlah... apa kau mendengarku?” Dia bicara lagi denga suara lebih keras, “Tidak akan ada hal buruk terjadi padamu, aku tidak akan membiarkannya.” Dia mengusap lembut wajahnya dan dia baru menyadarinya, suhu tubuhnya semakin menurun... Berdasar pengetahuannya tentang ilmu pengobatan, dia langsung tahu kalau semua itu adalah efek dari banyaknya darah yang keluar dari tubuhnya. Hanya dalam hitungan menit, tubuhnya akan semakin lemah dan tidak berdaya, tubuhnya akan gemetar karena kehilangan banyak darah... Secepatnya Jodha menggosok-gosok kakinya...

Jalal mulai gemetar hebat, napasnya semakin berat, Jodha makin panik melihat Jalal sekarat. Dia seakan bisa merasakan Jalal mulai menjauh dari kehidupan dan kondisinya makin kritis. Bibir dan pipinya mulai membiru. Diputuskannya untuk menularkan kehangatan dari tubuhnya... dengan gerakan cepat Jodha menutup semua jendela dan pintu di pondok itu... Lalu mengambil selimut dan menutupi tubuh mereka, dipeluknya Jalal dengan kuat meski tetap menghindari untuk tidak mengenai luka-lukanya. Kulit lembutnya, sentuhannya mengalirkan kehangatan pada tubuhnya yang dingin, bahkan dalam keadaan tidak sadarkan diri Jalal bisa merasakan kehangatan pelukannya. Darahnya yang membeku kembali mencair di bawah panas tubuh Jodha, dan demamnya pun turun dalam waktu lima belas menit.... Perlahan, ramuannya mulai berpengaruh pada tubuhnya, lukanya berhenti mengeluarkan darah, tapi napasnya masih berat. Paling tidak, keadaannya mulai membaik... Perkembangan kecil itu membuat Jodha sedikit lega, dia memeluknya dengan erat dan mencium lembut pipinya... Seperti ada percikan listrik, mendadak tubuh Jalal kembali bertenaga...

Terdengar ketukan di pintu... “Hira... Hira... buka pintunya.”

Jodha bergegas keluar dari balik selimut yang hangat dan sebelum membuka pintu, dia merapikan chunni-nya. Acharya bertanya dengan bingung, “Hira, kenapa kau menutup pintunya?”

Hira menjawab dengan cepat. “Acharya, dia demam sementara angin bertiup kencang, jadi aku menutup pintu dan membungkusnya dengan selimut sehingga dia tidak kedinginan.”

Acharya berkata lembut dan tersenyum, “Oh... pikiran yang pintar, Hira.”

Dokter memeriksa denyut nadi Jalal dan luka-lukanya, lalu dia menghirup aroma salep yang dibuat Hira. Senyum kecil terukir di wajahnya dan dia berkata, “Syukurlah, kau membuat ramuan ini tepat waktu untuk menghentikan pendarahannya. Kau telah menyelamatkan nyawanya Hira, meskipun, denyut nadinya masih lemah, tapi dia akan segera membaik... Dia akan membaik dalam sehari atau dua hari, untung saja lukanya tidak terlalu dalam, kondisinya memburuk karena dia tidak segera mendapatkan pertolongan. Dia sudah lepas dari masa bahaya, tapi dia harus istirahat selam dua puluh empat jam dan balurkan salep ini minimal 3 kali...”

Jodha dengan matanya yang sembab dan tangan menyatu di dada menyetujui yang disarankan oleh dokter... Dokter menambahkan beberapa obat untuk mempercepat pemulihannya dan menjelaskan cara pengobatannya kemudian dia pergi...

Aacharya dengan nada lebih bersimpati mengungkapkan, “Hira, kau bisa pergi dan beristirahat, aku akan menjaganya malam ini. Tunjukkan saja padaku caranya.”

Oh... Tidak... Bagaimana caraku mengatakan padanya kalau aku ingin tetap disini sendirian bersama Jalal sepanjang malam dan merawatnya... Bagaimana caraku menjelaskan padanya kalau aku adalah istrinya dan dia adalah cinta dalam hidupku...? Dengan sedikit gugup Jodha memberi alasan, “Acharya, aku ingin merawatnya, karena aku juga harus membuat kadha dan salep untuknya dan itu butuh waktu lama... sementara aku meracik obatnya aku bisa sambil menjaganya, tapi bisakah kau menemani Nandu tidur malam ini di pondokku...”

Dengan tersenyum Acharya menuruti permintaannya dan menyentuh kepalanya untuk memberkatinya, “Tuhan memberkatimu anakku... Kapanpun kau butuh, segera panggil aku.”

Hira memberi salam dan tersenyum, “Pranam...” Dan acharya pun pergi...

Sambil terus menatap Jalal, dia mengucap syukur pada Kanah karena telah menyelamatkan nyawanya dan memberinya kesempatan untuk merawatnya sekali lagi, ketika dia sudah tidak punya harapan untuk melihat Jalal lagi seumur hidupnya. Jodha mengelap darah yang mengering di tubuhnya dengan air hangat dan mulai memijat kaki dan kepalanya untuk memberikan kenyamanan semampunya, mendadak saat tengah memijat kakinya, sesuatu terlintas dalam pikirannya, dia berpikir ‘apa yang akan dilakukannya ketika Jalal sudah sadar nanti... sekali saja dia melihatku maka akan sulit baginya untuk meninggalkanku sendirian disini... aku tidak mungkin menyakitinya lagi... Mungkin dia sudah mulai terbiasa hidup tanpa diriku, dalam enam bulan ini... Aku tidak sampai hati jika dia harus melalui penderitaan yang sama lagi...’ Dadanya sakit karena kesedihan membayangkan Jalal akan meninggalkannya lagi dalam dua hari ini... Jantungnya sesak karena tercekik penderitaannya... Hanya dengan memikirkan bahwa takdir mereka bukanlah untuk bersama, air mata kembali membasahi wajahnya.

Patung kecil Krishna berdiri di ujung ruangan di seberang tempatnya duduk. Dia memandang Krishna dengan tatapan marah dan berbisik meratap, “Kanah... apa yang kau lakukan dalam hidupku??? Jalan mana yang kau ingin aku tempuh??? Kenapa kau terus menambah penderitaanku??? Kau tahu Kanah, kupikir, kau senang bermain-main dengan nasibku... Kau memberiku kebahagiaan sekejap dan merampasnya kembali tanpa perasaan untuk selamanya... Ketika dulu aku membenci Jalal, kau justru berusaha keras menjadikannya milikku berlawanan dengan keinginanku... Aku bercucuran air mata, setelah menderita beberapa waktu, akhirnya takdir memberiku saat-saat yang indah, dan ketika dia menjadi hidupku dan aku sangat menyayanginya, kau memisahkan kami selamanya. Dan kini saat aku memohon untuk tetap bersamanya, aku bahkan tidak pantas berada bersamanya. Aku belum pernah setidak berdaya ini... kenapa kau sangat kejam pada pemujamu? Kenapa kau mengirimnya kemari??? Kau pikir, penderitaanku masih belum cukup??? Bagaimana dia akan menanggung kesedihan karena berpisah sekali lagi dan kau tahu benar aku rela meminum racun dan membunuh diriku sendiri saat aku berpisah darinya, sayangnya aku terikat sumpahku padanya bahwa aku tidak akan bunuh diri dalam keadaan apapun. Berapa lama lagi kau menguji kesabaranku. Saat aku sudah hampir berhasil melewati masa-masa sulitku, kau mengirimnya kesini... Aku tahu apa masalahmu Kanah, kau cemburu... Kau iri padanya, karena aku mencintainya lebih dari aku mencintaimu. Jadi dengarkan, jika sesuatu terjadi padanya, aku tidak akan memaafkanmu... Lakukan dan berikan aku rasa sakit lagi... Aku akan lihat berapa lama kau akan menyerah...”

Kepedihan dan kemarahannya pada Kanah menyakiti dirinya sendiri... Linangan air mata tak berhenti seiring hatinya yang menangis. Kesedihan itu membakar hatinya. Rasa sakit itu sudah mendekati puncaknya dan kemarahan sudah hampir meledak... Perasaan yang selama enam bulan ini ditahannya mendekati batasnya... Dia marah dan tak berdaya menghadapi takdirnya. Pertahanan dirinya juga hampir runtuh melihat kondisi Jalal. Dia mengkhawatirkan Jalal, bagaimana dia akan menghadapi perpisahan sekali lagi. Kalau itu berkaitan dengan rasa sakit yang diderita Jalal, Jodha kehilangan kesabarannya, dia bisa menahan rasa sakitnya sendiri, tapi tidak untuk Jalal. Kekuatannya serasa menguap dan hari ini pertahanan dirinyapun hancur... Keyakinannya pada Kanah goyah untuk pertama kalinya. Jodha duduk di samping Jalal dan menggenggam erat tangannya... Dia membutuhkan kehangatannya lebih dari Jalal membutuhkannya saat itu... wajahnya memelas... Dia cium tangannya... Waktu berdetak lambat dan keadaannya mulai membaik... Berulang kali dia berpikir untuk melarikan diri dari ashram sebelum Jalal sadar, tapi dia tidak berdaya di depan cintanya.... Dan juga, dia ingin memenuhi kewajibannya untuk terakhir kalinya.

Malam yang gelap berlalu... bersama ratapan.... dan kesedihan. Pagi mulai menjelang, secercah sinar dari matahari yang baru terbit jatuh mengenai wajah Jalal, bersamaan dengan itu dia siuman dan terbangun dari mimpi indahnya tentang Jodha yang sedang duduk di sampingnya sambil menggenggam tangannya...

Begitu Jodha merasakan gerakan halus di tangannya, secercah senyum hadir di wajahnya bersama dengan desahan kelegaan. Seketika dia bangkit, melepaskan tangannya dan menyembunyikan wajahnya dibalik ghoonghat panjangnya...

Perlahan Jalal membuka kelopak matanya dan pandangannya yang masih buram berusaha melihat lebih jelas, seorang wanita Hindu dengan ghoonghat panjang berdiri di dekatnya. Dia sedang berbaring di atas dipan di sebuah pondok kecil.  Dia bisa mengingat pertarungannya dengan Abul Mali dan bagaimana akhirnya dia pingsan di tengah hutan... Dia sempat merasa seseorang menolongnya.

Dia menoleh lagi ke arah wanita itu dan bertanya sopan, “Siapa yang membawaku kesini???” Mendengar kata-kata dari mulut Jalal, serasa mendengar alunan musik di telinga Jodha. Setelah enam bulan dia baru bisa mendengar suaranya lagi. Bunga-bunga bermekaran di hatinya... Hanya dengan mendengar suaranya.. Dia menarik napas dalam-dalam untuk menghirup momen ini masuk dalam hatinya...

Jodha menjawab dengan nada berat dan suaranya sengaja dirubah untuk mengelabui keberadaannya, “Dengan berkat dari Dewa Kanah, kau bisa bertahan, kau terluka parah dan terbaring tak sadarkan diri di hutan. Syukur pada dewa, Mahesh membawamu kesini kalau tidak kau bisa mati tanpa sempat diobati. Dokter telah mengobatimu dan memberimu salep, menyarankan kau untuk istirahat setidaknya dua hari.” Dia diam sejenak untuk memastikan Jalal tidak mengenali suaranya.

Jalal merasa bingung dan penasaran... Dia tidak bisa memahami perasaannya, kenapa suara yang didengarnya serasa sangat dikenalnya...

Ketika pria itu tidak menjawab, Jodha melanjutkan dengan agak gugup, “Jika kau butuh apapun, katakan padaku, pondokku ada di sebelah dan namaku Hira. Aku akan pergi untuk membuat sarapan untukmu, aku segera kembali.” Jodha terburu-buru menyelesaikan kalimatnya dan bergegas melangkah ke pintu, tapi langkahnya terhenti saat dia teringat sesuatu, dia belum menanyakan namanya, meski sebenarnya dia sudah tahu. Jodha berbalik dan pura-pura bertanya, “Siapa namamu?? Kau seperti seorang Rajvanshi, apa yang kau lakukan di hutan seorang diri...? Tidakkah kau tahu di hutan ini banyak penjahat dan binatang buas? Kenapa kau bepergian seorang diri dan dimanakah istrimu..?”

Masih berbaring, Jalal memperhatikan kegugupan wanita itu. Dia masih merasa bingung dan bertanya-tanya, Jalal tidak bisa paham tingkah lakunya dan tiba-tiba dia menanyakan banyak pertanyaan?? Dia terkejut mendengar kalimat panjang barusan... pertanyaannya dan tingkah anehnya. Dengan tenang Jalal menjawab sambil menatap ke arah patung Kanah, “Namaku Kishan.” Mendengar itu... Jodha ikut menatap ke arah Krishna dan tersenyum kecil. Dalam hati dia berkata, “Wow Kanah wow!!! Sepertinya kau takut padaku, hingga membuatmu datang ke dunia.”

Jalal melanjutkan, “Aku terluka karena diserang penjahat dan aku hanya seorang diri, tidak ada yang menemaniku.”

Jodha lupa sesaat kalau dia adalah Hira dan kehilangan kendali dirinya. Hampir saja dia berteriak dengan bicara dengan suara aslinya, “Kenapa kau masuk ke dalam hutan sendirian... bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi padamu?”

Mendengar nada suaranya yang asli, telinga Jalal langsung waspada dan jantungnya berdetak lebih kencang, ‘Ya Tuhan!!! Suaranya mirip denga Jodha.’

Jalal tidak bisa menahan dirinya saat mendengar suaranya... dia berusaha bangkit dari pembaringannya, tapi dalam ketergesaannya dia tak sengaja menekan lengannya yang terluka... dia berteriak kencang karena kesakitan. “Uhh Ouch.”

Rintihannya membuat Jodha panik... Dia langsung berbalik dan lari ke arahnya untuk menolongnya dan dia menggenggam tangannya,begitu tangan mereka bersentuhan.... Seluruh tubuh Jalal bagaikan tersentak seakan petir baru saja menyambar dirinya... Dia takkan mungkin lupa sentuhan Jodha..? Suara dan sentuhannya menghentakkan kesadarannya, dia adalah Jodha-nya, Jalal berkata dengan yakin, “SIAPA KAU??? KAU JODHA BUKAN HIRA!!!”  Tanpa berpikir, kata itu meluncur dari mulutnya.

* * * * * * * * * * * *


FF: Is It Hate or Love Chapter 34 Part 1

4 comments:

  1. Wah makin hari makin seru nih, lanjut lg donk mican

    ReplyDelete
  2. Woow....
    Makin seruu nii ceritanya 😀😀😀

    ReplyDelete
  3. Waaawww..jangan di pisahin lagi dong nanda chus..

    ReplyDelete
  4. Hubungan bathin tdk bisa di ingkari, smg pertemuan ini mengakhiri penderitaan mrk.lnjt ya

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.