FF: Is It Hate or Love Chapter 34 Part 2 - ChusNiAnTi

FF: Is It Hate or Love Chapter 34 Part 2


Written by Bhavini Shah
Translate by Tyas Herawati Wardani

Seketika Jodha menjauhkan tangannya dan bangkit dari tempat tidur dengan tergesa... jantungnya bergemuruh bersama pikirannya, dia mengetahui siapa aku tanpa perlu melihat wajahku, dia masih ingat sentuhanku... Senyum percaya diri muncul di wajahnya yang merona, tapi segera ditahan emosinya dan berkata dengan nada lemah, “Kurasa kau mulai gila, apa kepalamu juga terluka? Aku mengatakannya beberapa saat yang lalu, aku Hira... Biarkan aku pergi dan kumasakkan sarapan untukmu.”

Jalal tetap menatap dirinya yang melangkah pergi dengan penuh teka-teki... Aneh, dia memperhatikan tangannya beberapa lama. Apapun alasannya, dia merasa tenang setelah sekian lama, hatinya yang mati rasa mulai bergairah kembali, suasana di sekitar pondok juga terasa familiar sekali. Dia bertanya pada dirinya sendiri untuk menjernihkan pikirannya, kenapa suara dan sentuhannya begitu mirip dengan Jodha??? Kenapa kehadirannya  mengingatkanku pada Jodha?? ‘Ketika dia menyentuhku, aku merasakan percikan di dalam tubuhku... Kenapa saat aku tertidur, aku merasa seolah dia menggenggam tanganku, dan duduk di sebelahku? Oh, itu bukan hanya mimpi... Dia tidak mungkin orang lain... mungkin dia ingin menyembunyikan dirinya datiku... mungkin dia tidak tahu bahwa aku sudah menemukan pelaku sebenarnya, kurasa tidak seorangpun di hutan yang tahu apa yang terjadi di Kesultanan.’ Harapan kembali bersinar dalam hatinya... Dia bisa merasakan aromanya di sekitar pondok ini... Setiap tanda memberinya harapan... Wajahnya bersinar dengan keyakinan baru... Jalal ingin melihat wajahnya untuk memastikannya... Dia ingin lari padanya dan menjawab keraguannya, tapi di saat yang sama hatinya juga merasa takut... bagaimana kalau aku salah??? Bagaimana seandainya dia bukan Jodha??? Diyakinkannya hatinya demi ketenangan jiwanya... Hanya firasat bahwa wanita itu adalah Jodha, memberikannya kedamaian dan kebahagiaan... Dia putuskan akan menunggu sampai dia benar-benar yakin....

Hira terburu-buru masuk ke pondoknya, saat berjalan, dia melihat Nandu yang berumur 5 tahun yang sedang bermain di pasir. Jodha berkata dengan nada tak senang, “Nandu, kenapa kau belum mandi? Tapi kau sudah bermain, masuk dan mandilah, aku akan membuatkan Roti untukmu...”

Nandu menjawab dengan nada kecewa, “Ya Ibu.”

Sambil terus berjalan, Jodha kembali berteriak, “Nandu, jangan lupa membawa bajumu dan cepat kembali, jangan bermain-main di sungai.”

Dengan agak membandel, Nandu berkata, “Ibu, kumohon, beberapa menit lagi...”

Nandu memohon dengan manisnya... dan Jodha tidak tega menolak permintaannya, dia tersenyum dan menjawab “Ok, hanya beberapa menit lagi dan jika aku tidak ada di pondok, maka aku ada di pondok sebelah... kita ada tamu di Asrama.” Nandu tidak tertarik dengan apapun yang diceritakannya saat itu... dia lari ke dalam mengambil pakaiannya, lalu lari keluar lagi dalam beberapa detik saja... Hira berteriak, “Nandu, hati-hati, jangan lari kau bisa jatuh.” Dia lari dengan kecepatan seperti kereta api sambil berteriak...”Ya Ibu.”

Hira tersenyum dan berbisik, “Dia tidak pernah berubah.” Hira bergegas masuk kembali ke pondok dan mengambil empat wadah besar dan diisi air. Cepat-cepat dia mandi dengan air dingin dan menyelesaikan puja Kanah dan Aarti. Hatinya dipenuhi pertanyaan... Haruskah aku memberinya Aarti dan Prasad? Bagaimana jika dia mengenaliku? Dia menguatkan dirinya untuk tidak akan berbicara kecuali memang penting.

Dengan gugup Jodha masuk sambil membawa nampan Aart, dilihatnya Jalal duduk di kursi dengan mata tertutup. Jodha memanggil pelan, “Suniye.”

Dengan mata tertutup, Jalal tersenyum mendengar kata ‘Suniye’. Karena begitulah cara wanita Hindu memanggil suaminya.

Perlahan dia membuka matanya dan menjawab pelan, “Caramu memanggilku mengingatkanku pada istriku.”

Tanpa bersuara Jodha mengangsurkan tangannya memberinya Aarti dan Prasad... lalu, dengan gugup dia berjalan keluar ruangan.

Gerak-geriknya yang canggung semakin menguatkan keraguannya.

Jodha berjalan keluar dan segera memasak roti ala Ameri dan sabji untuk Jalal yang dimasak dengan bumbu Ameri yang sangat disukai Jalal... Dia juga memberitahu Acharya tentang kesehatannya, sementara itu, dia juga memanaskan air untuk Jalal mandi dan dua wadah air hangat untuk dibawa ke pondok Jalal... Karena proses pengobatannya, Jalal merasa sedikit limbung jadi dia kembali berbaring.

Diam-diam Hira masuk sambil membawa air dan menyiapkan mandinya... Jalal terbangun karena suara-suara pelan yang didengarnya dan dilihatnya Hira sedang menyiapkan mandinya.

Hira juga tahu dia sudah bangun dan bertanya dengan suaranya yang dibuat-buat, “Bagaimana keadaanmu? Merasa lebih baik?”

Jalal tersenyum kecil mendengar nada suaranya dan menjawab, “Aku merasa jauh lebih baik dari sebelumny.”

Hira memutar wajahnya ke arahnya dna berkata dengan nada datar, “Aku sudah menyiapkan air hangat di bak jadi kau bisa mandi, sementara itu, aku akan menyiapkan makananmu.”

Jalal berusaha bangkit dari tempat tidur dengan menghela badannya menggunakan lengan kanannya seperti biasa, tapi karena lukanya dia kembali berteriak kesakitan dan jatuh lagi ke tempat tidur...

Jodha panik berlari menghampirinya dan menundukkan tubuhnya untuk membantunya... dilingkarkannya tangan kesekeliling punggungnya.

Dengan posisi seperti itu, Jodha tak sadar sudah memeluk Jalal, dan kali ini Jalal dalam kesadaran penuh...

Aroma cendana dari tubuhnya, tidak mungkin Jalal melupakannya! Sentuhan lembutnya dan perhatiannya menghalau seluruh keraguannya.... Bukannya berusaha bangkit dari tempat tidurnya, dia malah melingkarkan tangannya ke sepanjang punggung Jodha dan menariknya hingga rebah ke atas tubuhnya, untuk sesaat Jodha terlena dalam pelukannya...

Dengan suara parau Jalal berbisik “JODHA”. Begitu mendengar namanya disebut, Jodha segera tersadar... Tergesa-gesa dia bangkit dan bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa, lalu mengulurkan tangannya untuk membantunya berdiri...

Beberapa kali Jalal mencoba melihat wajahnya, tapi kain Chunni-nya menutupi seluruh mukanya... Saat dia sudah berdiri tegak, tanpa berkata apa-apa Jodha seakan berlari keluar dari pondok itu. Tingkah lakunya... kecanggungannya... perhatiannya... kecemasannya... dan juga sikap diamnya sedikit demi sedikit menambah rasa bahagia dalam hati Jalal...

Jalal memperhatikan saat dia melarikan diri darinya, dia tersenyum dan menggumam, “Jodha, silakan kau terus menghindar tapi aku sudah mengenalimu. Kau sudah menyatu dalam darahku... mana mungkin kau bisa menyembunyikan wajahmu dan berharap aku tidak akan mengenalimu... Kau pemilik suara paling merdu... Silakan kau mengubah suaramu tapi aku tetap bisa mendengar suara merdumu dimanapun. Napasmu yang harum telah meresap ke dalam paru-paruku... Sampai kapan kau akan bersembunyi... Dan kulitmu yang sehalus kelopak mawar yang selalu kuingat... Jantungku langsung berdetak hanya dengan sentuhanmu... Bukan hanya aku, jantungku juga memanggilmu... Mana mungkin kau lupa kalau kita sudah menjadi satu, jiwa kita telah terhubung... Ayo kita lihat Jodha Begum, berapa lama kau akan bermain petak umpet denganku..”

Jalal merasa lebih segar setelah mandi... hanya tersisa sedikit rasa sakit di lengannya... Salep obatnya bekerja cepat ditambah ketahanan tubuhnya yang memiliki keinginan kuat untuk segera sembuh... Seperti kebiasaannya setiap hari, dia berdoa kepada Allah... Pada akhir doanya... dia menengadah ke atas dengan kedua tangannya dan memohon dalam doanya, “Ya Tuhan... Aku mohon jagalah keyakinanku... Jadikanlah dia Jodha-ku... Pertemukan aku dengannya... Mohon persatukanlah kami lagi... Mohon kabulkanlah doaku... Jangan hancurkan hatiku lagi atau... Aku akan mati.”

Jodha sadar sekarang dia tidak bisa lagi mendekat pada Jalal... Dia sudah mencurigai dirinya... Setiap kali dia ada di dekatnya, Jalal bisa merasakan kehadirannya lagi dan lagi, dia memanggilnya Jodha... Dia siapkan makanan di atas piring lalu meminta bantuan Naresh untuk mengantarkannya pada Jalal.

Tanpa perlu bertanya, Naresh bersedia dan pergi ke pondok Jalal mengantarkan makanan itu... Dengan sopan dia bertanya pada Jalal, “Bagaiamana keadaanmu sekarang?”

Jalal menjawab dengan riang, “Jauh lebih baik dari sebelumnya.”

Melihatnya membawakan piring makanan, Jalal menjadi kecewa, Sebenarnya dia sudah tidak sabar menunggu Hira mengantarkan makanan ini jadi dia bisa meyakinkan keraguannya dan membuka kedoknya.

Naresh bingung karena Jalal tiba-tiba termenung... Setelah beberapa lama Naresh memecah keheningan itu dengan bercerita saat dia menemukannya di hutan dan membawanya ke Ashram...

Dengan penuh rasa syukur Jalal menjawab, “Terima kasih banyak telah menyelamatkan hidupku.”

Naresh menghidangkan roti dan sayuran untuk Jalal. Saat melihatnya, Jalal langsung menyadari bahwa itu adalah makanan khas Ameri, senyum kembali merekah di wajahnya, begitu pula saat gigitan pertama dia mencicipinya, hatinya kembali senang, dia langsung bisa mengenali makanan kesukaannya... Sekali lagi keraguannya tertepis karena dia tahu makanan Amer lebih pedas dari ini. Hanya Jodha yang mengerti seberapa pedas makanan yang mau dimakannya.

Sambil menikmati makanannya, dia bertanya pada Naresh, “Kau tahu wanita itu, yang merawatku sepanjang malam?”

Naresh menjawab santai, “Yang kau maksud pasti Hira, dia sangat baik dan wanita terhormat, dan juga pandai dalam ilmu pengobatan, sesungguhnya dialah yang menyelamatkan nyawamu... Dia memberikan obat yang tepat untuk menghentikan pendarahanmu, kalau tidak nyawamu tidak akan tertolong. Saat aku mengantar dokter-nya pulang, dia memuji kepandaian Hira, tapi sayangnya... dia terdiam karena ragu-ragu.

Perlahan Jalal menyatukan setiap potongan cerita dan semuanya membentuk gambaran Jodha, memang hanya Jodha yang memiliki kualifikasi seperti itu...

Jalal langsung menyela, “kenapa berhenti, apa yang sayang sekali?”

Dengan sedih Naresh bercerita, “Kadang takdir sangat kejam... Di usianya yang masih muda, suaminya meninggalkannya” tangannya menunjuk ke arah seorang anak kecil “Kau lihat anak kecil berumur 5 tahun itu, Nandu, yang sedang bermain tanah, itu anaknya... Dia bekerja sangat keras untuk membesarkannya tanpa sekalipun mengeluh... Aku sungguh merasa iba melihatnya, aku tidak pernah melihatnya tersenyum dalam enam bulan ini. Seakan dia sudah menjalani hidupnya dengan sangat berat di usianya yang masih muda.”

Jalal tak percaya yang didengarnya, “Apa?? Apa yang baru saja kau katakan, seorang anak??”

Sekali lagi Naresh menunjuk ke arah Nandu yang sedang bermain di halaman.. “Lihat anak kecil yang sedang bermain itu, dia putranya Hira.”

Jalal sungguh terperangah dengan penjelasan itu, dia lupa menelan makanannya hingga tersedak keras membuat matanya pedih...

Dengan gerakan cepat Naresh mengangsurkan segelas air... Jalal meminum habis air itu tanpa berpikir, untuk sesaat otaknya lumpuh, semua harapannya hancur dengan satu kalimat dan hatinya kembali pecah berkeping-keping... Seakan seseorang mengguyur telinganya dengan air, dia tidak tahu harus berkata apa... Hatinya, bahkan pikirannya sangat yakin kalau Hira adalah Jodha... Hatinya remuk menjadi ribuan keping saat dia tahu Hira ternyata seorang Ibu dari anak berumur 5 tahun. Dia berjalan keluar dari pondok tanpa mengatakan apapun pada Naresh... Naresh melihatnya berlari ke arah sungai seperti orang gila... Dia juga terkejut atas perubahan sikapnya yang tiba-tiba...

Jalal benar-benar hancur, dia ingin membunuh dirinya sendiri karena merasa berdosa telah menyentuh seorang wanita yang bukan Jodha. Pikiran dan hatinya sama-sama mempertanyakan sikapnya yang telah berani menyentuh seorang wanita dengan gairahnya. Dia jijik... penuh rasa bersalah... marah... sedih... dan dalam keadaan yang sungguh tak berdaya...

Naresh membawa kembali piring makanan Jalal kembali ke pondok Hira dan menceritakan keadaan tamu mereka, pria yang terluka bersikap aneh... Dia juga menyarankan Hira untuk lebih berhati-hati...

Jodha terkejut mendengar ceritanya, dia menuntut cerita lengkapnya, “Apa yang terjadi... kenapa kau meragukan pria itu?”

Naresh menceritakan setiap detail percakapannya dengan Jalal... Jodha langsung mengerti bahwa sikapnya berubah karena harapannya hancur sekali lagi... Naresh lalu pergi...

Perasaan Jodha tidak berbeda dengan Jalal... Dia tahu benar apa yang dirasakannya dan inilah yang dikhawatirkannya akan terjadi sejak dia melihatnya... Air matanya kembali tumpah, tanpa sadar dia berlari ke arah sungai untuk melihat Jalal...

Siang itu cuacanya panas dan terik. Matahari membakar dengan sinarnya.... Riak di sungai bergelombang memantulkan sinar matahari... Cahaya teriknya membuat tanah terasa menusuk-nusuk kaki.... Sunyi senyap suasananya, hanya beberapa burung yang berkicau mengimbangi hempasan riak di sungai... Angin bertiup membawa udara hangat... Jalal berjalan di atas tanah yang membakar tanpa alas kaki sambil menantang matahari... karena panasnya, matanya terasa terbakar dan berair... Dia berteriak sekencang yang dia bisa “JODHAaa...” dan jatuh tersungkur... Dia menengadah ke langit dengan penuh kemarahan sekan meratap kepada Tuhan atas takdirnya yang kejam... hatinya tersayat-sayat hingga dia tak sadar melantunkan rasa sakitnya bersama air matanya...

Jodha berdiri di balik sebuah pohon sambil mengawasi Jalal, airmatanya jatuh berlinang... belum pernah dia merasa tak berdaya seperti ini...
(Catatan dari Author: Ini adalah lagu favorit dari film HUM DIL DE CHUKE SANAM...lagu ini sangat mengena di hati... Bacalah setiap syairnya...dan jika suka dengarkanlah lagu ini)

Hati yang mati ini
Hati yang mati ini, hati yang mati ini, cintamu yang menghidupkannya
Dan cintamu jua lah yang menghancurkannya
Dari serpihan perasaan yang putus asa, hatiku telah dikutuk
Aku telah dihukum karena jatuh cinta, kejahatan apa yang telah kulakukan
(Lalu, kau ambil semuanya dariku... Aku tak punya apa-apa lagi, aku kehilangan semuanya demi cinta, demi dirimu)

Mendengar ratapannya dengan penuh kepahitan.... dengan jelas melihat kerinduannya yang sangat dalam terasa sungguh menyakitkan bagi Jodha... Rasanya tak tertahankan melihatnya dalam keadaan seperti ini, bahkan setelah enam bulan berlalu. Setiap waktu dia mengutuk dan menyalahkan dirinya sendiri atas sakit hati yang disebabkannya. Dia tidak tahan lagi... Jodha mulai membenturkan kepalanya pada pohon di depannya dengan marah... melihatnya seperti ini.... lebih buruk rasanya daripada kematian...

Cinta ini sungguh aneh
Kenangan indah yang memabukkan, berubah menjadi harta karun penuh kesengsaraan
Kau kesakitan dalam kesepian
Kadang menangis, kadang bersedih, kadang mengeluh, kadang menggumam
Wajahmu muncul dimana-mana
Wajahmu muncul dimana-mana, di siang haripun kenangan akan dirimu menghantuiku
Kenanganmu juga muncul di kegelapan malam, wajahmu muncul dimana-mana
Riak-riak dari hati yang hancur berubah menjadi desahan tersiksa
Aku telah dihukum karena jatuh cinta, kejahatan apa yang telah kuperbuat
Lalu, aku kehilangan semuanya (tak tersisa), ya, kehilangan semuanya demi cintaku padamu

Jalal mengambil segenggam pasir panas di tangannya untuk menunjukkan kemarahannya pada Tuhan... Kesedihan hatinya tak terperih hingga dia tak rasakan lagi rasa sakit karena terbakar...

Jika aku bertemu Tuhan, aku kan bertanya padanya, oh Tuhan
Setelah menciptakan tubuhku dari tanah liat kenapa kau menciptakan hatiku dari kaca?
Dan di atas itu semua kau mengajariku jatuh cinta, oh betapa luar biasanya dirimu!
Betapa agungnya ciptaanmu, Ya Tuhan! Dan setelah itu kau memberikan takdir yang tidak indah, ada pertemuan, ada perpisahan
Rintihan rintihan (isakan tak bersuara), dari hati ini dalam desahan, aku telah dihukum karena jatuh cinta
Dosa apa yang kuperbuat? Lalu, aku kehilangan semuanya (tak tersisa) ya, kehilangan semuanya demi cintaku padamu
Dari kehancuran karena keputusasaan, hatiku telah dikutu
Aku telah dihukum karena jatuh cinta, kejahatan apa yang telah kulakukan?
Lalu, kau rampas semuanya dariku...Aku tak berdaya lagi, aku telah kehilangan semuanya demi cintaku padamu

Kedua hati mereka benar-benar hancur... jiwa mereka tak tenang karena luka dalam hati mereka... Jodha duduk di bawah pohon sambil menangis sesenggukan dan Jalal berbaring di atas panasnya pasir dengan sangat menyedihkan...

Beberapa saat kemudian, lukanya menimbulkan rasa sakit akibat terkena pasir yang panas, dirinya tersadar kembali dan tahu bahwa dia telah kehilangan Jodha selamanya... Dengan berat hati, dia bangkit dan memutuskan kembali ke istana dan menjauh dari Ashram ini, tempat yang mempermainkan takdirnya dengan sangat memalukan. Saat berjalan kembali ke pondoknya, dia melihat Abdul dan beberapa prajurit sedang mencari dirinya. Jalal merasa sedikit lega setelah melihat Abdul di Ashram. Saat Abdul melihat Jalal, dia melompat turun dari kudanya dan berlari menghampiri Jalal dan tanpa mengucapkan apapun langsung memeluk Jalal dengan erat dan penuh kelegaan... Jalal bisa melihat betapa cemas dan takutnya dirinya, mata Abdul sampai berkaca-kaca karena bahagianya... Pelukan Abdul terlalu kencang, hingga Jalal berteriak kesakitan “Ahhh”

Abdul langsung melepaskan pelukannya untuk memeriksa lukanya... Dia bertanya dengan penuh perhatian “Jalal, kau baik-baik saja??? Kau terluka??”

Jalal tersenyum kecut dan menjawab “Abdul, seekor singa tidak pernah terluka... dan ini hanya luka kecil dibandingkan luka dalam hatiku yang jutaan kali lebih sakit... Ini tidak ada apa-apanya Abdul.”

Abdul bergetar menyadari perasaan Jalal yang hancur seperti sebelumnya... Dia sudah menyembunyikan dengan baik semua kegundahannya selama enam bulan terakhir, lalu apa yang memicu hingga semuanya muncul lagi ke permukaan??  Kenapa dia terlihat seperti hari pertama saat Jodha begum pergi?? Dia bertelanjang dada di hari yang sangat panas ini...t angannya terbakar....

Ketika Jodha melihat Abdul, dia merasa sedikit lega...

Dia baru menyadari kalau dia sudah terlambat untuk mengajar dan murid-muridnya pasti sedang menunggunya. Dia berlari ke pondoknya untuk berganti pakaian lalu bergegas ke sekolah...

Matahari bersinar sangat terik menambah sakit pada tubuh dan hati Jalal yang terluka, melihat hal itu Abdul menyarankan padanya untuk tinggal selama beberapa jam lagi dan akan mulai perjalanan mereka ke Shahi Khema pada sore harinya... Jalal setuju dan tanpa bersuara berbaring kembali ke tempat tidurnya untuk beristirahat beberapa jam lagi dengan hati yang berat dan pikiran yang penuh mengingat setiap waktu yang dihabiskannya bersama Hira, tetap saja hatinya bingung dan tidak bisa menerima kenyataan bahwa Hira bukanlah Jodha, tapi otaknya mengakui dan meyakinkan hatinya serta memperingatkannya untuk tidak memikirkan tentang wanita itu lagi... Tangis dan harapannya sudah habis...

Setelah beberapa jam, akhirnya Jalal bisa kembali tenang, tapi sebelum meninggalkan tempat itu dia pergi menemui Acharya untuk berterima kasih padanya den berpamitan... Dia juga mengungkapkan identitas dirinya yang sebenarnya dan dengan sopan memberitahu bahwa jika suatu saat mereka butuh bantuannya untuk Ashram. Langsung kirimkan surat ke Agra...

Di suatu tempat dalam hatinya yang kecewa, masih ada setitik harapan tersisa, yang memgalahkan akal sehatnya... Dia meminta dengan hormat pada Acharya, “Sebelum pergi, aku ingin berterima kasih secara langsung dengan Hira karena telah merawatku sepanjang malam, jadi bisakah kau beritahu dimana aku bisa menemuinya?”

Acharya tersenyum dan menjawab, “Kenapa tidak? Kau bisa menemuinya. Sekarang, biasanya dia sedang mengajar.” Acharya berjalan keluar dari pondoknya dan menunjukkan arah ke sekolah.

Sedikit membungkuk hormat, Jalal berucap “Khuda Hafiz” pada Acharya dan berjalan ke arah sekolah...

* * * * * * * * * * * *


FF: Is It Hate or Love Chapter 34 Part 2

2 comments:

  1. semoga kesedihan mrk saat berakhir setelah jalal mlht Hira mengajar yg tdk bersembunyi dr cuninya, mendebarkan . lnjt ya

    ReplyDelete
  2. semoga kesedihan mrk saat berakhir setelah jalal mlht Hira mengajar yg tdk bersembunyi dr cuninya, mendebarkan . lnjt ya

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.