FF: Is It Hate or Love Chapter 34 Part 3 - ChusNiAnTi

FF: Is It Hate or Love Chapter 34 Part 3


Written by Bhavini Shah
Translate by Tyas Herawati Wardani

Jalal berkuda pelan menuju tempat latihan... tempatnya kecil... Di tempat itu hanya ada satu ruangan kelas, dari kejauhan dia perhatikan beberapa anak berlatih pedang... Mengedarkan pandangan ke seputar tempat itu, dia melihat sang pengajarnya... Figur yang mungil, berpakaian perang warna putih dan wajahnya tertutup, tidak butuh waktu lama baginya untuk mengenalinya sebagai Jodha...

Tanpa sadar, dia bergumam dengan keras “Oh Tuhan...” Jantungnya berdegup kencang karena senang... Sulit baginya untuk langsung percaya pada apa yang dilihatnya... Dipandanginya wanita itu selama beberapa detik untuk mengenali tatapan itu dari kejauhan... Itu adalah pakaian yang sama yang dilihatnya saat pertama kali bertemu, baju yang sama yang dikenakannya saat pertandingan pedang.... Dia tidak butuh bukti lain untuk menghilangkan keraguannya, kebahagiaannya sungguh tak terkira... Ditariknya tali kekang kudanya dan berderap cepat menghampiri hidupnya... Abdul bingung dan terkejut saat Jalal tiba-tiba memacu kudanya dengan kencang... Dia tidak mengerti apa yang tiba-tiba terjadi pada Jalal...

Jodha sedang berdiri di tengah arena berlatih diantara empat orang anak kecil, berusia sekitar 10 tahunan, mengelilingi dan menyerangnya... Dia mengajari mereka teknik bertarung dengan pedang... Cara dia menangkis serangan...

Kuda Jalal melompati pembatas dan masuk ke arena latihan... Caranya masuk ke dalam arena membuat anak-anak itu melompat mundur dari posisi mereka... Jodha tetap berdiri di tengah-tengah... Dia sudah melihat Jalal sebelum dia sampai di dekatnya, karena itu dia memutar tubuhnya ke arah lain... Jalal tetap duduk di atas kudanya dan perlahan memutari Jodha...

Jodha tahu Jalal sudah mengenalinya...  Jodha menunduk melihat ke bawah... Jalal berputar dua kali lagi mengelilingi dirinya... Perlahan Jodha mengangkat bulu matanya, sinar matanya dipenuhi dengan kepedihan... Jejak air mata terlihat jelas di balik kelopaknya. Jodha menatapnya dengan mata yang sembab.... Mereka berdua saling memandang tanpa berkedip... Wajah Jalal terlihat sedih dibalik ronanya dan matanya syahdu penuh kerinduan... rasa sakit... kebahagiaan... dan emosi-emosi lainnya. Jalal tidak tahu harus bagaimana... haruskah tersenyum atau menangis atau berteriak atau memeluknya... Dia sangat bahagia hingga rasanya dia ingin membekukan momen ini selamanya.... Karena akhirnya, pencariannya berhasil.... Jodha-nya sedang berdiri di depannya... Akhirnya dia berhasil menemukannya... menemukan dirinya sendiri... menemukan jiwanya... menemukan detak jantungnya... Tampak kepuasan dan kedamaian di wajahnya... dia berucap pelan...

Aku telah lama menunggu saat ini
Kau hadir di setiap mimpiku
Dalam kegilaanku, aku tergila-gila padamu
Aku sampai putus asa menunggu saat dimana aku bisa melihatmu meski hanya sekali

Jalal menutup matanya untuk meresapi kedamaian dalam hatinya... Beberapa saat kemudian jantungnya berdetak lebih tenang

Dia membuka matanya bersamaan dengan senyuman lebar di wajahnya... Matanya menyapu ke semua anak-anak disana, yang sedang menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu... Dengan nada menggoda dia berkata, “Kalian tahu anak-anak, aku bisa mengalahkan pelatihmu dalam satu kedipan.” Mata Jodha melebar karena marah dan terkejut.

Jalal melompat turun dari kudanya dan mendekati Jodha, lalu berbisik di telinganya, “Hiraaaa... apa yang kau katakan?”

Semua anak terkejut... siapa pria ini??? Namun mereka langsung berusaha membela pelatih mereka... “Pelatih kami jago dalam bertarung...”

Satu anak berkata dengan keras dan bangga, “Tidak ada yang bisa mengalahkannya dalam kelas kami. Jangan meremehkannya meski dia seorang wanita. Dia akan langsung menendangmu.”

Jalal meliriknya dari samping sambil menyeringai dan berkata, “Aku setuju bila pelatihmu itu hebat, tapi dia tidak bisa menang melawan Jalal.”

Jantung Jodha berdegup kencang dan otaknya berhenti berputar saat melihat tatapannya yang mesra pada dirinya... Dia tidak bisa mempertahankan wajah dinginnya lagi, senyum kecil muncul di wajahnya dan menceriakan sinar matanya.

Melihatnya merona, Jalal berteriak penuh semangat. “Ayo bertarung... kita lihat siapa yang akan menang!!” Semua anak kecil itu bersorak gembira dan mereka serentak bergeser keluar dari arena dan berkumpul di pinggir...

Saat melihat anak-anak kecil itu, Jodha melihat Abdul, yang ikut berdiri di samping anak-anak dan melihat Jodha dan Jalal dengan terharu dan bahagia tak terkira, perlahan dia membungkuk hormat pada mereka.

Air mata bergulir dari mata Jodha melihat kebahagiaan tulus dari Abdul, dia membalas dengan sedikit membungkuk hormat juga.

Jalal menoleh kembali ke arah Jodha dan menarik pedangnya keluar dan menunggunya menyerang lebih dulu, tapi mana mungkin dia menyerang cintanya..? Mana mungkin dia mengalahkannya..?

Jodha berbisik marah, “Kebiasaanmu membesar-besarkan masalah tidak berubah, dan sekarang kau melibatkan anak-anak ke dalam permainanmu juga.”

Jalal tersenyum sinis dan balik menggodanya, “Tapi kau harus membuktikan bahwa kaulah yang terbaik dan tak terkalahkan dalam pertarungan ini. Dalam permainanmu kau menjadi Ibu dari seorang anak berusia lima tahun, Nandu.”

Jawabannya menyinggung dirinya, dia merespon dengan menyerang menggunakan pedangnya... Jalal menahan serangannya dengan teknik bertahan dan dengan senyum lebar dia berkata, “Subhanallah, seranganmu masih punya kekuatan hebat seperti sebelumnya.”

Jodha menjawab dengan frustasi, “Demi Tuhan, kumohon pergilah, jangan menguji kesabaranku... Kau pernah bayangkan rasa sakit seperti apa yang kurasakan? Jangan mempersulit diriku, aku tidak akan bisa menahan lagi rasa sakit karena perpisahan.”

Seketika Jalal paham, kenapa Jodha bersikap menarik diri dan tidak terlihat gembira atas pertemuan mereka setelah berpisah lama... Jalal tersenyum penuh misteri dan berucap, “Baiklah, Jodha Begum!! Seperti keinginanmu, aku akan meninggalkan tempat ini bahkan tanpa perlu berpamitan padamu, hanya dengan satu syarat, kau harus mengalahkanku dalam pertandingan pedang dan bila kau menang, aku akan langsung pergi tanpa membantah lagi.”

Bagaimana bisa dia begitu tak berperasaan?? Dia ingin bertarung dan bermain-main dengan hatiku yang hancur berkeping-keping, apa dia sudah tidak waras?? Jodha memandangnya kecewa dan menjawab dengan sengit, “Maka bersiaplah untuk kalah.”

Jalal suka melihatnya jengkel, dia tahu betul apa yang ada dalam pikiran Jodha... ingin makin menggodanya, tanpa rasa bersalah dia berkata dengan sinis, “Jodha Begum, kau pikir kau bisa mengalahkan cintamu?”

Jodha merasa seakan seseorang menohok jantungnya, kata-katanya yang kasar dan sinis telah menyinggungnya dan memicu amarah dalam dirinya, dia menjawab tak kalah sengit, ”Ya... demi kehormatanmu sendiri... kebanggaan dan harga dirimu, bukan hanya aku akan bertarung, tapi aku akan bertarung sampai mati.” Lalu Jodha menyerangnya dengan marah..., “Dan tidak semua wanita yang ditakdirkan mati di tangan suaminya sendiri.”

Jalal tidak suka melihatnya keras kepala seperti itu.

Jodha lanjut berkata kali ini dengan sedikit memohon, “Tolonglah Jalal jangan keras kepala... Takdir kita bukanlah untuk bersama... Apakah kau yang pergi atau aku yang bertarung sampai mati, dan kau pastinya lebih tahu, ketika itu menyangkut kebanggaan dan harga dirimu, tidak ada yang lebih penting... bahkan tidak perintahmu sendiri.”

Jalal menatapnya dengan angkuh dan berucap, “Lalu apa lagi yang kau tunggu, serang... Kita lihat siapa yang menang... Cintaku atau kekeraskepalaanmu...”

Saat Jodha sadar bahwa Jalal tidak mau menyerah, dia menyerangnya sekali lagi.

Jalal juga tahu Jodha akan bertarung habis-habisan.

Jalal akan tetap di posisi bertahan, tapi melihat caranya menyerang seperti singa yang terluka, itu mengejutkan bagi dirinya.

Mereka mulai bertarung dengan sungguh-sungguh.

Pikiran Jodha terpaku pada keyakinannya bahwa apa yang dilakukannya demi kehormatan dan kebanggaan Jalal... dan di lain pihak Jalal tidak sadar bahwa perkataannya turut membuktikan itu semua...

Sekarang dia tidak punya pilihan lain selain mengalahkannya... kemampuan Jodha dalam bertarung memang hebat....

Kelincahannya ditunjang latihan rutin setiap hari makin mengasah kemampuannya... Jalal lebih cenderung hanya bertahan saja... Dia hanya menangkis semua serangan Jodha...

Dia tidak tega menyerang Jodha meski apapun yang terjadi... Mereka bertarung sekitar sepuluh menit... Selama menangkis serangan, Jalal memberikan tekanan yang berlebihan pada lengannya yang terluka membuatnya berteriak “Ahhh...” kesakitan...

Konsentrasi Jodha terganggu dan Jalal memanfaatkan kesempatan itu dan sekali hentakan kuat dia berhasil merobohkannya, Jodha kehilangan keseimbangan dan jatuh terjerembab di tanah beserta pedangnya...

Cadarnya tersingkap dan rambutnya yang panjang dan lembut menari di udara... Jalal terkenang pertemuan pertama mereka. Sejarah terulang kembali... Seperti kala itu dia ingin melihat sekilas wajahnya... Sudah lebih dari enam bulan dia tidak melihat Jodha...

Jodha bangkit dengan cepat dan berlari kencang ke arah sungai. Dengan isyarat matanya Jalal menyuruh Abdul menjaga anak-anak yang menonton mereka bertarung, lalu dia sendiri mengejar Jodha...

Jodha hampir mencapai sungai, belum sempat dia sembunyi ataupun melarikan diri, Jalal berhasil menangkap tubuhnya. Jalal bertanya di antara napasnya yang tersengal, “Seberapa cepat atau jauh kau akan lari dariku Jodha??? Tidakkah kau lelah???”

Air mata Jodha tumpah mengalir seperti tsunami... Dia menunduk dengan sedih, dengan lembut Jalal menangkup wajahnya dan berbisik dengan suaranya yang parau, “Jodha.”

Perlahan Jodha menaikkan pandangan ke arahnya... mata mereka bertatapan penuh cinta... Gairah  asing terpicu dari balik dadanya yang hangat dan menjalar ke otaknya. Mustahil bagi Jodha untuk menjauh dari Jalal... Rasa yang sama mendorong Jalal menarik tubuh Jodha ke dalam pelukannya yang kuat dan terlindungi untuk menenangkannya dari rasa sakit akibat perpisahan... Seperti ditarik oleh kekuatan magnet, mereka saling memeluk dengan sangat erat hingga tidak ada ruang tersisa bahkan untuk udara sekalipun, mereka berpelukan seakan tidak ada hari esok... Jalal memeluknya makin erat dalam lengannya seakan itupun masih terasa kurang... Sambil terus mendekapnya, dia berbisik, “Ohh Jodha... Akhirnya aku menemukanmu..”

Bisikannya membangunkan kesadaran Jodha dan membawanya kembali pada kenyataan bahwa kebahagiaan ini takkan lama... Dia bergumam keras dan berkata tanpa semangat, “Ohhh Jalal!! Kenapa kau datang kesini??? Kumohon tinggalkan aku...” dia menangis dan terisak di dalam dekapan Jalal, belum sempat Jalal membuka pikiran Jodha bahwa dia sudah berhasil mengungkap dalangnya. Tiba-tiba Jodha melepaskan diri dari pelukannya dan bersimpuh di lututnya, lalu meraih kakinya dan mulai memohon, nada bicaranya makin tak terkendali, dengan nada tinggi dia berkata, “Jalal, kumohon... bebaskan aku dari rasa sakit ini... bebaskan aku dari sumpahmu... Aku tidak bisa lagi menahan rasa sakit ini... Aku adalah wanita paling tidak beruntung di dunia, aku tidak ingin hidup... Ijinkanlah aku membunuh diriku sendiri... bebaskan aku dari sumpahmu agar aku bisa tenang... Aku tidak mau lagi hidup tanpamu... Kumohon bebaskan Jodhamu dari semua perasaan yang menyiksa... aku tidak tahan lagi...Jala...” belum sempat menyelesaikan kalimatnya... Jodha tersungkur dalam tangisnya... Jantungnya seakan meledak, dia tidak bisa berkata-kata lagi... Hati Jalal ikut menangis melihatnya tak berdaya... Emosi yang dilepaskan Jodha membakar hatinya hingga dia lupa semua kesedihan yang pernah dilaluinya, dia baru mengerti bahwa Jodha lebih menderita daripada dirinya.

Waktu menjelang sore, bukannya sinar keemasan yang muncul di langit, melainkan awan hitam yang menggulung... Sekali lagi badai akan menerjang... Angin dingin mulai berhembus kencang, awan terisi dengan kelembaban dari hati mereka yang tersayat kesedihan dan siap menghujani mereka dengan deras... Alam seakan ingin ikut ambil bagian dalam momen penyatuan kedua pecinta itu... belahan jiwa yang kembali bersatu...

Jalal menunduk dan merengkuh kedua lengannya... Jodha bangkit dan merebahkan kepalanya di dada Jalal sembari terisak sedih... Jalal tidak mau lagi menunda sedetikpun untuk mengabarkan padanya bahwa dia sudah berhasil menangkap penjahat yang sebenarnya... Dia menjauhkan tubuhnya sejenak, dengan penuh emosi berkata, “Jodha, tataplah mataku.” Perlahan bulu mata yang tebal itu dan mata hitamnya yang sembab menatap langsung dirinya.... Jodha menatap dalam ke arah matanya yang berkilau dan penuh dengan emosi.

Jalal bertanya padanya dengan nada lembut, “Kau percaya padaku??? Dia merespon dengan gumaman pelan

Jalal bertanya lagi, “Kau mencintaiku???”

Dia menjawab dengan singkat, “Ya.”

“Maka dengarkanlah, aku telah berhasil mengungkap dalang kejahatan itu dan membuktikan bahwa kau tidak bersalah.” Otak Jodha sepertinya  tidak mampu menangkap penjelasan itu, dia hanya berkata, “Ya.” Wajahnya tidak menampakkan ekspresi apapun... Dia masih berjuang memahami apa yang baru saja didengarnya... Tanpa sadar pikirannya menutup semua informasi yang berusaha masuk...

Jalal tahu dia tidak mendengar apa yang baru saja dikatakannya... Dia mengguncang kedua lengannya dan berkata lebih keras, “Kau dengar apa yang kukatakan??? Aku telah menangkap penjahat yang sebenarnya dan membuktikan kau tidak bersalah.” Sekali lagi dia berteriak, “Aku telah menangkap penjahat yang sebenarnya, Jodha.”

Telinganya bisa bekerja kali ini... matanya yang kosong mulai bersinar, dia menatap langsung mata Jalal dengan eskpresi tak percaya... Dia terkejut beberapa saat dan lupa bernapas... Dia tidak bisa mempercayai apa yang baru saja didengarnya... Untuk beberapa saat, dia tidak tahu harus bersikap bagaimana... Bermacam emosi terlintas di wajahnya... Dia bingung harus menangis atau tertawa... Dia kembali menatap Jalal dengan mata yang lebar... Butuh waktu lama baginya untuk mengendalikan dirinya... Airmatanya mulai mengalir... Jalal bingung melihat sikapnya yang aneh, dia tidak tahu apakah Jodha bahagia atau sedih. Otaknya lambat berputar... Kata-kata Jalal kembali berputar di otaknya... ‘Aku berhasil menangkap penjahat yang sebenarnya’. Dia berbisik... “Oh, dia berhasil menangkap penjahat yang sebenarnya..” Begitu dia berhasil memahami kata-kata itu, dia berteriak sekencangnya, “Jalal... Apa yang kau katakan? Katakan lagi!!”

Dengan senyum yang tak bisa dijelaskan, Jalal menangkup wajah Jodha dengan lembut dan meyakinkannya sekali lagi, “Sayangku... Junglee Billi... Ya, kau mendengarnya dengan baik,” lalu berteriak, “Aku berhasil membuktikan kau tidak bersalah.”

Mendengarnya lagi, Jodha lepas kendali... dia langsung melompat ke arah Jalal dan memeluknya... Jalal menggendongnya di bagian pinggul... kebahagiaan mereka tak terkira, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Dia berteriak keras, “Aku tidak percaya dengan apa yang kudengar... Hentikan aku Jalal, rasanya aku hampir gila.” Dia berteriak lagi, “Jalal...”

Setelah beberapa waktu dia kembali tenang, dia menangkup wajah Jalal sedangkan Jalal masih menggendong pinggulnya... Dia bertanya sambil mengelus rambut Jalal, “Jalal, bagaimana kau melakukannya?”

Jalal tersenyum karena Jodha penasaran dan berkata, “Junglee Billi, lenganku sakit... turunlah...”

Jodha tersadar dia telah menyakiti lengan Jalal yang terluka saking senangnya... Dengan lebih tenang dia berkata dengan manis, “Jalal, tolong turunkan aku...”

Jalal menurunkannya, keduanya kembali saling menatap di antara napas yang mulai memburu... dengan senyum bahagia.... Akhirnya mereka menyadari bahwa perpisahan ini telah berakhir, mereka terharu, keduanya benar-benar bahagia.... Dengan lembut Jalal merengkuh Jodha kembali dalam dekapannya. Air mata makin deras mengalir, keduanya saling meratapi penderitaan mereka. Pelan-pelan mereka mulai mengendalikan luapan emosi yang mereka rasakan... air mata berubah menjadi senyum kedamaian di wajah mereka... Pelukan lembut meningkat menjadi pelukan yang penuh damba...

Jodha berkata dalam pelukan Jalal, “Shahenshah,”

Dengan mata terkatup Jalal cukup menjawab, “hmmm Jodha begum.”

“Shahenshah, sentuhanmu menghidupkan kembali tubuhku yang mati, pelukanmu meyakinkanku bahwa aku masih hidup, aku merasa sempurna sekali lagi. Kapanpun mataku terpejam kau selalu hadir memberiku kekuatan menghadapi semuanya... Setelah kita berpisah, aku sadar bahwa napasku selalu membisikkan namamu... Ketika aku tidak punya harapan tersisa, aku tetap bertahan hanya karena cintamu. Aku merasa kau selalu ada di dekatku, meski aku jauh, tapi aku merasa kau menggenggam tanganku dan membelaiku. Enam bulan ini kulalui seperti mimpi, jadi aku masih merasa terbuai dalam mimpi yang indah... aku tidak percaya semua ini nyata. Aku sangat takut, jika aku membuka mataku dan ternyata ini semua memang hanya mimpi.... Aku tidak akan mampu menahan rasa sakit itu lagi... Aku akan mati, aku tidak bisa lagi melawan takdir.” Dia terisak dalam pelukan Jalal dan lanjut berkata, “Jalal, tidak bisa kugambarkan hari-hariku tanpamu... Tanpa Jalal, tidak ada Jodha.”

Langit bergetar mengeluarkan suara gemuruh dan kilatan petir yang memekakkan telinga. Mendung sudah tidak sabar menyirami mereka untuk melepaskan percikan sensual dari tubuh keduanya... Bersama gemuruh guntur hujan deras pun jatuh...
Jalal membelai punggungnya dengan lembut untuk menenangkan perasaannya... “Jalal, aku sangat mencintaimu, aku ingin selamanya berdiam dalam dekapan hangatmu...”

Jalal melepaskan Jodha dari dekapannya, sambil menatapnya dia berkata, “Jodha... aku hampir putus asa karena tidak bisa menemukanmu... sedikitpun aku tidak bisa tenang setelah kau pergi... dan kau tidak hidup dalam napasku... kau menjadi napas jiwaku... aku yakin, kau hidup di suatu tempat karena jantungku masih tetap berdetak... Tanpa Jodha, Jalal tidaklah sempurna.”

Derasnya hujan meluruhkan semua penderitaan yang mereka rasakan... Dengan lembut Jalal mengusap air mata Jodha dan menatapnya tak berkedip... Sejumput rambut Jodha lepas dari kepangannya membuat wajahnya makin terlihat suci... Dengan mesra Jalal menghela rambut itu ke belakang telinganya tanpa melepas pandangannya....

Jodha bisa merasakan kerinduan Jalal untuk menyentuhnya dengan sensual... Jalal menunduk dan mengecup dahinya... Jodha menarik napas dalam dan mengatupkan matanya untuk meresapi saat itu sepenuhnya... Tanpa sadar Jodha makin mendekatkan tubuhnya... Jalal menangkup wajahnya dan menariknya lebih dekat lalu mengecup kedua kelopak matanya... saat itulah gairahnya mulai meningkat...

* * * * * * * * * * * *


FF: Is It Hate or Love Chapter 34 Part 3

1 comments:

  1. Ah.....aKhirNya ke salah pahaMaN.... Sudah Berakhirrr...

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.