From YM To Your Heart Part 5 - ChusNiAnTi

From YM To Your Heart Part 5


PS: Mohon maaf yang sebesar-besarnya karena baru bisa posting lagi, setelah berminggu-minggu ngalamin 'numb'. Jangankan pada semua pembaca, pada diri saya sendiri aja malu. Mohon sabar ya, tapi pasti ceritanya aku selesaikan kok. Matur nuwun.

FROM YM TO YOUR HEART
Part 5



~~~~~~~~
Sabtu, 25/03/13
Rashed Jalal : Jodha Aadhya, apa kau lembur hari ini?
Aadhya Jodha : Iya, bagaimana kau tahu?
Rashed Jalal : Aku tadi sempat ke lantai 3, dan sepertinya ada kesibukan disana..
Aadhya Jodha : Ini semua gara-gara Chief Finance yang baru.
Aadhya Jodha : Kenapa sih dia pindah ke lantai 5, kan dia sudah punya ruangan pribadi yang lebih tenang di lantai 20
Aadhya Jodha : Gara-gara dia, kami harus menghabiskan akhir pekan dengan ‘bahagia’ di kantor. 
Aadhya Jodha : Membersihkan dan menyiapkan kantor baru untuknya..
Rashed Jalal : Maksudmu kau terpaksa datang ke kantor? Apa dia merusak acara akhir pekanmu?
Aadhya Jodha : Tentu saja, meski aku tidak punya rencana apa-apa, tapi aku juga kan ingin bersantai, mengobrol dengan keluargaku, nonton tv...
Aadhya Jodha : Kau satu lantai dengan dia kan?! Apa kau pernah bertemu dia? Chief Finance yang baru? Katanya dia masih single kan? Pasti dia pria yang kaku, kolot, dan tidak bisa menikmati hidup, karena itu pasti dia kesepian di rumahnya sendiri dan lebih suka di kantor.
Rashed Jalal : Aku pernah bertemu. Orangnya cukup menyenangkan...
Aadhya Jodha : Kalian kan sama-sama pria, pasti kau akan membelanya...
Rashed Jalal : Haha..tidak juga. Itu objektif. Sungguh.. Kalau nanti kau bertemu dengannya, kau juga pasti akan menyukainya...
Aadhya Jodha : Aku tidak percaya...hahaha..
Rashed Jalal : Kenapa kau tidak protes saja kalau tidak mau lembur?
Aadhya Jodha : Mana berani?!! Yang tidak kusukai itu Chief Finance bukan pekerjaanku...
Aadhya Jodha : Siapa nama Chief Finance itu..?
Aadhya Jodha : Apa kau tahu?
Aadhya Jodha : Jalal Rashed, kau sudah pulang?
~~~~~~~~

Jalal senyum-senyum sendiri sambil menatap layar monitor di ruang kerjanya. Pria kesepian?! Enak saja.. Kaku, kolot dan tidak bisa menikmati hidup?! Dia menggambarkan aku seperti pria tua berumur 70 tahun saja. Tunggu sampai kau tahu seperti apa diriku...
Jalal meregangkan otot-otot lengannya yang kaku gara-gara menghajar tiga preman yang coba mengganggu gadis itu semalam. Rasa kaku dan nyeri di beberapa bagian yang baru muncul tadi pagi. Untung saja hanya nyeri yang dirasakan tubuhnya, tidak ada luka serius lain mengingat preman yang dihajarnya membawa pisau. Dia bukanlah seorang hero dalam sebuah drama yang akan kebal pada semua senjata dan tidak akan merasa sakit meski mengalami luka yang berdarah-darah. Ini adalah kehidupan nyata di jalanan Mumbay.
Kemudian Jalal menyandarkan punggungnya ke belakang, mengendurkan ketegangan yang dirasakannya sejak semalam. Perintah mengumpulkan semua staf lantai 3 memang berasal dari dirinya. Ide itu muncul semalam setelah dia mengantarkan Jodha pulang, saat dia duduk termenung dalam mobilnya di luar apartemen gadis itu sambil sesekali memandang ke atas ke arah jendela kamarnya. Dia mencemaskan kondisi psikis Jodha setelah mengalami kejadian buruk tadi. Apakah dia akan bisa tidur nyenyak malam ini? Tidak akan mimpi buruk? Tidak akan gemetar ketakutan terus-menerus?...Lalu ide itu muncul.. Dengan dalih mengumpulkan staf lantai 3, pastinya termasuk Jodha, dia akan bisa mengalihkan pikiran gadis itu dari peristiwa traumatis yang dialaminya. Dia juga punya alasan untuk menjaganya dan mengawasinya dalam lingkungan yang dia kenal. Entah kenapa muncul naluri untuk melindungi setiap kali dia mengingat Jodha.
Untung saja semalam dia menemukan Jodha. Semua bermula dari saat dia keluar dari kantor hampir pukul 9 malam karena pekerjaannya baru saja selesai. Benar kata adiknya, dia butuh seseorang yang membuatnya rindu untuk segera pulang dan memberinya alasan untuk lebih menikmati waktunya di rumah.
Jalanan cukup sepi di beberapa tempat. Tempat yang masih ramai adalah gedung bioskop dan pusat perbelanjaan. Berhenti di persimpangan dekat Raghuleela Mall, dia melihat sebuah sepeda motor, merasa seperti pernah dilihatnya di suatu tempat, menyerobot jalurnya dan berhenti tepat di depan mobilnya. Dia memicingkan matanya untuk melihat lebih jelas wajah pengendara motor itu. Tepat saat orang itu menoleh ke belakang untuk berbicara dengan wanita yang diboncengnya, Jalal langsung teringat orang itu adalah pacar Jodha. Tapi wanita yang bersamanya bukan Jodha. Lalu dimana Jodha?...
Sepuluh menit kemudian, dia melewati persimpangan Ghandi Boulevard, tidak sengaja ujung matanya menangkap gerak-gerik aneh yang menarik perhatiannya di salah satu sudut. Dia gelindingkan mobilnya pelan-pelan. Betapa terkejutnya saat dia melihat Jodha, yang berdiri di sana, tubuhnya hampir tidak kelihatan karena dikelilingi oleh tiga pria bertubuh besar dengan gelagat yang mencurigakan. Ada dorongan dari dalam dirinya yang mengharuskannya melakukan sesuatu untuk gadis itu. Lalu semuanya terjadi....
Berbeda dengan Jalal yang memulai harinya sesuai dengan rencananya, Jodha tidak memiliki rencana apapun hari Sabtu itu. Jodha menggeliat malas di atas tempat tidurnya, jarum jam baru menunjukkan pukul 5 pagi. Semalaman Jodha tertidur sangat nyenyak, seperti tidak memiliki beban apapun.
Awalnya Jodha berencana menikmati pagi akhir pekan ini untuk bersantai dan menenangkan pikirannya. Kejadian menegangkan semalam tidak meninggalkan bekas apapun pada keseimbangan metalnya, padahal normalnya seorang wanita yang mengalami kejadian traumatis seperti itu akan gemetar ketakutan atau menjadi paranoid. Tapi dia tidak. Apakah itu karena sang penolong itu?
Tapi sepertinya mulai sekarang dia harus menghentikan pikiran-pikiran apapun yang berkaitan dengan pria misterius itu. Jodha teringat percakapan dengan Ibunya semalam saat dia baru masuk rumah.
“Jodha, bukankah di telepon tadi kau bilang pergi nonton bersama Varun. Lalu kenapa kau pulang dengan pria lain?” cecar Ibunya.
“Iya Bu, tadi ada sedikit masalah di jalan, jadi dia yang mengantarku pulang.”
“Siapa pria itu? Temanmu? Apa Varun juga mengenalnya?”
Jodha gelagapan, bingung harus menjelaskan seperti apa pada Ibunya. Jika dia menceritakan insiden yang dialaminya, tak ayal Ibunya pasti makin cemas, tapi hanya itu satu-satunya cara untuk menjawab pertanyaan dan kecurigaan Ibunya.
“Eh...pria itu hanya kebetulan menolongku di jalan. Aku tidak tahu banyak tentang dia, Varun juga tidak mengenalnya. Tapi...”
“Dan kau percaya begitu saja padanya?...Jodha, kau harus ingat kalau kau sudah terikat, dalam aturan moral kita, seorang wanita yang sudah terikat tidak selayaknya pergi bersama pria lain. Jangan sampai para tetangga menggunjingkanmu, apalagi jangan sampai Varun hilang kepercayaannya padamu. Kau harus menjaga kehormatanmu.”
Jodha tertunduk mendengar semua perkataan Ibunya. Memang benar semua yang dikatakannya, tidak pantas Jodha percaya begitu saja pada seorang pria yang baru dikenalnya, yang bahkan tidak dia ketahui namanya.
Lalu semua rencananya untuk menenangkan diri di rumah buyar saat dia menerima memo broadcast message dari pimpinan HRD yang menginstruksikan semua staf finance, accounting dan tax masuk kantor hari Sabtu ini karena ada briefing dadakan.
Dan disinilah dia, berbalas pesan YM dengan seseorang yang sama-sama harus meninggalkan kehangatan rumah untuk bekerja. Atas permintaan Chief Finance yang baru, dia akan memindahkan ruang kerjanya ke lantai 3 sejak hari Senin besok. Ditambah lagi ada beberapa perubahan tata letak meja staf di lantai itu. Dan yang paling aneh menurut Jodha adalah sekarang mejanya dipindah hingga persis terletak di depan ruangan Chief itu.
Ruangan yang akan dipakai oleh Chief Finance sebelumnya adalah meeting room untuk staf finance dan accounting. Kini ruangan itu disulap menjadi sebuah ruangan kerja lengkap dengan meja kerja besar dan sofa untuk menerima tamu penting perusahaan. Beberapa orang maintenance dan buruh lepas bekerja cepat karena mereka harus selesai mendesign ulang ruangan itu hari ini dan besok.
Seluruh hiruk-pikuk perombakan itu selesai menjelang sore. Dengan perasaan lelah dan sedikit kesal karena harus merelakan akhir pekannya di kantor, Jodha bersama Sneyka akhirnya pulang. Turun dari lantai 3, mereka menuju ke lobi gedung.
Sampai di lobi gedung, langkah Jodha terhenti. Ada satu pemandangan di depannya yang cukup mengusik hatinya tanpa dia tahu alasannya kenapa. Disana, dua puluh langkah tepat di seberangnya, dia melihat pria itu, pria yang dua malam berturut-turut menjadi penyelamatnya dan telah mencuri kedamaian mimpi-mimpinya, sedang berdiri berhadapan dengan seorang gadis cantik yang jauh lebih muda darinya. Dan yang paling mengusiknya adalah pria itu tersenyum, dengan sangat manisnya, karena sesuatu yang dikatakan gadis itu.
“Jodha, kau melihatnya kan?! Pria itu, kau masih ingat?! Pria yang menggodamu di dalam lift. Jadi benar, dia juga bekerja di gedung ini...” Sneyka mencengkeram lengan Jodha dan mengguncangnya seirama dengan kata-katanya yang penuh semangat saat melihat pria yang sama yang dilihat Jodha.
Hanya saja dia tidak tahu perasaan Jodha campur aduk saat melihat pria itu disana. Ditambah lagi dia tidak sedang sendiri.
Sneyka menarik lengan Jodha tanpa menyadari perubahan raut mukanya. Ditariknya tubuh Jodha hingga tiba tepat di hadapan pria itu. Tepat saat pria itu menoleh ke arah Jodha.
“Jodha, bagaimana keadaanmu? Semalam kau bisa tidur? Kau tidak trauma gara-gara kejadian semalam, kan?” tanya pria itu pada Jodha yang belum mengedipkan matanya sama sekali.
Pertanyaan itu sukses membuat Sneyka, yang berdiri di sampingnya, membelalak tak percaya dengan mulut terbuka lebar.
“Jodha, kau sudah kenal dia? Apa yang terjadi semalam?” jika Sneyka bermaksud membisikkan pertanyaan itu, percuma saja, seluruh lantai lobi bisa mendengarnya.
Guncangan Sneyka pada lengan Jodha cukup keras, berhasil mengalihkan pandangannya yang terlalu lama terpaku pada pria di depannya ini.
“Semalam tidak terjadi apa-apa, hanya saja, Tuan ini sudah menolongku. Sayangnya aku belum tahu namanya.....” Jawab Jodha untuk pertanyaan temannya itu, tapi matanya tidak beralih dari menatap pria di depannya.
“Sebentar lagi kita akan sering bekerja bersama. Dan saat itu kau akan tahu namaku...” jawab pria itu berteka-teki.
Saat mata Jodha tidak sengaja melirik ke arah samping, dia perhatikan tangan gadis muda pendamping pria itu menggamit lengan bawahnya. Dan Jodha tidak tahan berlama-lama melihatnya. Setelah mengucapkan permisi dengan sopan, ganti dia menarik lengan Sneyka pergi dari tempat itu dengan langkah-langkah lebar.
Jalal memperhatikan punggung Jodha yang makin menjauh. Perasaannya lega tanpa bisa dijelaskan melihat Jodha tidak terpengaruh apapun berkaitan dengan insiden semalam.
“Kakak, dia siapa? Kenapa dia memandangku seperti itu?” tanya Monita membuyarkan lamunannya.
“Kau akan segera mengenalnya.” Jawabnya pendek
“Apa dia alasan kau senyum-senyum tanpa alasan tiga malam kemarin?” selidik adiknya.
“Hmmm...” jawabnya tidak jelas.
“Kau ingin kakakmu ini lebih betah di rumah kan? Tidak lama lagi keinginanmu akan terwujud...”
“Benarkah?!” tanya Monita tak percaya.
“Jadi, aku harus bergerak cepat kan?! Langkah pertama aku harus mengejarnya. Kau tidak marah kan kalau harus naik taksi?” tanya Jalal tanpa menunggu jawaban. Dia memesan taksi untuk adiknya lalu melesat pergi mengejar langkah Jodha.
Beruntung mobilnya diparkir di depan gedung, membuat Jalal tidak perlu bersusah payah turun ke basement. Dia berhasil menyusul Jodha yang sedang berdiri di halte bus. Jalal turun dan mendekati Jodha.
“Ayo kuantar pulang.” Ajaknya dengan nada tegas tak mau dibantah.
Jalal membukakan pintu mobilnya untuk Jodha.
Gadis itu celingak-celinguk melihat ke bagian dalam mobil, seperti mencari sesuatu atau seseorang.
“Kau mencari siapa?”
Pertanyaannya mengejutkan gadis itu, yang langsung menoleh ke arahnya dengan gugup.
“Tidak mencari siapa-siapa...”
“Kalau gadis yang bersamaku tadi..”
“Sudah, kau tidak perlu menjelaskan apa-apa.” potong Jodha sambil menggerakkan tangannya memberi isyarat agar Jalal berhenti bicara, “Dan juga berhentilah bersikap baik padaku. Aku ini sudah bertunangan....Kau jangan dekat-dekat padaku lagi. Aku tidak ingin tunanganku salah paham. Lagipula aku tidak mengenalmu...”
“Namaku...”
“Jangan! Biarkan saja tetap seperti ini. Terima kasih karena sudah beberapa kali menolongku. Cukup sampai di sini saja. Kita hanyalah dua orang yang kebetulan bertemu di jalan.” Jodha mengatakannya dengan pelan, seakan dia sendiri merasa berat mengungkapkannya. Kalau bukan karena ingat peringatan Ibunya semalam, dia pasti masih penasaran ingin mengenal pria itu lebih dekat.
Jalal tidak berkata apa-apa. Dia juga tidak berusaha menahan gadis itu yang menghentikan sebuah bus dan langsung naik. Diperhatikannya terus bus yang membawa gadis itu pergi hingga lenyap dari pandangan.
Minggu siang yang cukup berangin di Mumbay, Jodha menemani Ibunya ke pusat perbelanjaan. Pada hari-hari biasanya, dia selalu menikmati aktivitas bersama seperti ini, tapi untuk kali ini dia tidak bersemangat sama sekali. Langkah-langkahnya dipaksakan hanya untuk mengekor di belakang Ibunya. Apa yang membuatnya tidak punya gairah pada hari Minggu ini, Jodha sendiri juga tidak tahu.
Beberapa kali Ibunya memergokinya sedang melamun. Berkali-kali itu pula Jodha harus memikirkan macam-macam alasan agar Ibunya tidak terus-menerus mencecarnya dengan pertanyaan yang sama, ‘Apakah kau baik-baik saja?’ pertanyaan itulah yang dilontarkan oleh Ibunya tiap kali dia melihat Jodha menatap kosong ke suatu tempat.
Andai dia mau jujur pada dirinya sendiri, maka Jodha sudah mememiliki jawaban dari kegamangan hatinya. Sudah berulang kali dia berusaha menghalau wajah pria itu dari pikirannya, tapi semakin keras dia berusaha, sosok itu makin jelas muncul dalam benaknya tanpa pernah dia minta. Rasanya lebih mudah memikirkannya daripada mencoba untuk tidak memikirkannya. Wajah pria yang terlarang untuk dia lamunkan di saat dia sudah terikat rencana perikahan dengan pria lainnya.
Apakah rasa penasaran yang menguasai dirinya? Disebabkan ketidak tahuannya akan siapa pria itu sebenarnya, latar belakangnya ataupun niat pria itu padanya. Ataukah pesona pria itu yang tidak mampu ditolaknya. Memang aneh, sebelumnya Jodha tidak pernah tertarik dengan tipe pria seperti dia. Pria dengan penampilan maskulin dan memiliki kepribadian menonjol yang bisa dipastikan selalu menjadi pusat perhatian di antara para wanita. Sebelum mengenalnya pun Jodha akan mundur teratur karena dia yakin tidak bisa bersaing dengan wanita-wanita cantik yang lain demi mendapatkan pria seperti itu. Namun berbeda dengan dia.
Sikap tenang yang ditunjukkannya saat mengalahkan preman-preman jalanan itu, mengirimkan rasa aman dan terlindungi pada diri Jodha. Di samping pria itu dia bisa merasa kuat dan berani menghadapi apapun, padahal saat itu dia sedang berada pada situasi yang mencekam. Sense of humour-nya bukanlah sikap yang dibuat-buat untuk merayu seorang gadis, tapi pembawaan yang sudah melekat pada dirinya. Entah kenapa dia merasa klop dengan semua itu. Padahal itulah yang hasrusnya dirasakannya bersama Varun, tapi tidak.
Varun belum pernah membuatnya tersentuh ataupun berdebar bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun. Jodha sendiri juga heran kenapa dia jadi lebih sering membanding-bandingkan Varun dengan pria itu?
Jodha menghela napas dengan berat. Entah sudah berapa lama waktu yang dilewatinya untuk melamun. Dia teringat Ibunya. Diteolehkannya kepala ke kana dan kiri mencari keberadaan Ibunya di antara rak-rak dan lemari bahan makanan di supermarket itu. Entah bagaimana secara tidak sengaja pandangannya jatuh pada sepasang pria dan wanita yang berdiri saling memeluk pinggang di depan etalase sebuah outlet perhiasan 20 m dari tempatnya berdiri. Perutnya seperti ditonjok dengan keras. Bagaimana tidak? Pria itu Varun... Dan siapa wanita di sebelahnya?...
Kaki Jodha bergerak dengan sendirinya hendak mengikuti ke mana Varun pergi, tapi panggilan Ibunya dari balik punggungnya menahannya.  Terpaksa Jodha menoleh dan menghampiri Ibunya membawa kantong-kantong belanja. Saat dia menoleh lagi, Varun sudah tidak terlihat disana. Dengan setengah berlari Jodha menuju ke tempat dimana tadi Varun terlihat, tapi meski dia sudah melihat ke segala penjuru di lantai itu, Varun tetap tidak terlihat dimanapun.
‘Apa tadi aku salah lihat?...Tidak mungkin! Aku yakin itu Varun...’ Jodha berperang dengan pikirannya sendiri. Lalu dia mencoba menghubungi Varun dengan ponselnya, tapi tidak dijawab. Dicobanya lagi beberapa kali, hasilnya sama saja.
Jodha mengerutkan keningnya, berpikir keras, menduga-duga apa yang disembunyikan Varun darinya. ‘Apa dia berselingkuh dariku?’
“Jodha, kau dari mana saja?” suara Ibunya mengejutkannya.
“Ibu...aku tadi ...melihat seseorang yang kukenal. Saat berusaha kukejar, dia sudah tidak terlihat lagi.” Jelas Jodha di antara napasnya yang berat.
“Bukan pria yang pernah mengantamu pulang itu kan?” selidik Ibunya.
“Bukan Bu...” jawab Jodha lemah, ‘Andai saja memang dia... Entah apa aku masih akan bertemu dia lagi...’
Terlihat dari wajahnya yang berkerut, Ibunya seperti masih menyimpan rasa penasaran, tapi tidak diutarakannya. Alih-alih dia mengajak Jodha pulang. Ada perasaan yakin dalam hatinya bahwa putri satu-satunya ini sedang memiliki masalah berat dalam hatinya.
 Sesampainya di rumah, setelah membersihkan diri, Jodha mengunci dirinya dalam kamar. Kembali dia mencoba menghubungi Varun. Dia juga mengirimkan lebih dari sepuluh pesan, tapi tidak satupun yang direspon. ‘Sepertinya Varun sengaja mengabaikanku...’ tuduhnya dalam hati, ‘Aku tidak bisa mendiamkannya saja. Aku tidak akan mengalah terus. Sudah cukup buruk dia menelantarkan aku di jalan setelah menonton bioskop kemarin. Besok...besok..dia harus menjelaskan semuanya padaku...’
Keesokan paginya, suasana hatinya masih buruk. Berpengaruh juga pada penampilannya.Rambutnya hanya disanggul asal-asalan di atas tengkuknya, wajahnya juga hanya disapu bedak tipis dan lipstick warna nude. Setelan kerjanya dipilih tanpa pikir panjang, blus lengan pendek warna hitam dengan rok A line juga berwarna hitam. Tampilannya lebih mirip untuk menghadiri acara pemakaman.
Baru lima detik dia menghempaskan tubuhnya di kursi kerjanya, pimpinan HRD sudah datang dan memberikan pengumuman pada seluruh staf lantai 3 untuk berdiri dan berkumpul untuk menyambut dan berkenalan dengan Chief Finance yang baru. Dengan tubuh yang teras berat, Jodha bangkit dan ikut berbaur dalam barisan penyambutan.
Berbeda dengan dirinya yang memasang wajah ditekuk malas, teman kerja di sampingnya justru sangat bersemangat.
“Aku sudah tidak sabar melihat wajah Chief yang baru. Kalau dia setampan rumornya, aku bersedia melakukan apa saja untuknya...” kata Sneyka sambil terkikik sendiri.
 “Kuharap kita tidak berdiri terlalu lama. Ini konyol. Apa kita sedang menunggu rombongan pawai lewat?” Jodha mencibirnya.
Sepertinya saat dia berbicara, dia tidak memperhatikan ada yang datang. Karena tiba-tiba saja Sneyka terpekik kegirangan, “Jodha..Jodha lihat! Ternyata dia! Aku sudah menduga dia bukan orang biasa! Oooww tampannya..”
Jodha menoleh dengan bingung. Dan... memang DIA...
“Semuanya perkenalkan. Ini Tuan Jalal Rashed. Chief Finance Golden Road.” Ucap pimpinan HRD memperkenalkan pria itu.
‘JALAL RASHED?!!!’ Oh...Tidaaak...’ Jodha mengerutkan wajahnya dengan lucu mengetahui fakta terbaru yang baru diterimanya.
Dia melihat pria itu menyalami satu per satu staf yang menyambutnya. Jodha menundukkan wajahnya dalam-dalam dan perlahan beringsut lebih ke belakang, berharap pria itu tidak melihatnya. Lalu...
BRAAKK... PYAARR...
Mustahil ada yang tidak mendengar kegaduhan itu. Spontan saja semua orang sudah mengerubunginya. Jodha jatuh terduduk setelah tersandung kabel dan tangannya menyenggol sebuah vas bunga di atas meja. Semua itu salahnya sendiri yang mengendap-endap hendak bersembunyi. Sekarang justru dia yang menjadi tontonan.
Sebuah tangan terulur untuk menolongnya. Tanpa pikir panjang dia gapai tangan itu sebagai penyangganya untuk berdiri. Di tengah-tengah usahanya, secara otomatis dia menoleh untuk melihat orang yang menolongnya, “Terima ka....” Dia terpaku. Mulutnya terbuka namun belum menyelesaikan kata-katanya.
“Kau tidak apa-apa Jodha?”
“Tidak apa-apa, Sir...”
“Panggil saja Jalal.” Jawab pria itu tersenyum tanpa canggung sedikit pun.

********

From YM To Your Heart Part 5

5 comments:

  1. Duh mican senang bisa diposting YM to my heart besok2 dipos lg y, sya suka cerita :)

    ReplyDelete
  2. Seneng banget, akhirnya diposting jg....makin seru, makin penasaran

    ReplyDelete
  3. Seneng banget, akhirnya diposting jg....makin seru, makin penasaran

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.