FF: Is It Hate or Love Chapter 34 Part 4 - ChusNiAnTi

FF: Is It Hate or Love Chapter 34 Part 4


Written by Bhavini Shah
Translate by Tyas Herawati Wardani

WARNING!!!
BAGIAN INI MENGANDUNG UNSUR 20++, BAGI YANG MASIH DIBAWAH UMUR, HARAP MUNDUR TERATUR.

Tiba-tiba saja Jalal menghujani pipi dan lehernya dengan kecupan... ciuman.. dan gigitan kecil... Gairahnya membuat Jodha makin tersipu malu.... Jantungnya berdentum makin keras saat Jalal membeku menatap bibirnya dengan penuh damba... Jodha mundur selangkah sambil menatapnya dengan gugup... Jalal menutup jarak itu dan dengan gerak cepat meraihnya pinggulnya dan menundukkan tubuhnya... Keduanya sudah basah kuyup di bawah hujan dan merasa kesulitan bernapas, sebelum menguasai bibirnya, Jalal berhenti sesaat...

Mendadak, tanpa diduga, Jodha yang bergerak secepat kilat, mengecup singkat bibir Jalal lalu berlari menjauh darinya ke bawah guyuran hujan deras... Dia ingin yakin bahwa ini semua bukan mimpi... Pelan-pelan, tingkah lakunya berubah dari wanita dewasa menjadi Jodha gadis nakal berusia lima belas tahun... Dia tertawa keras melihat tatapan frustasi Jalal... cara dia mengelabuinya di detik terakhir, memunculkan senyum jahil di wajahnya. Jalal tersenyum balik karena kejahilannya... dia tetap berdiri dan memandangi Jodha yang tak peduli meski tubuhnya basah kuyup... Dia tertawa sekeras-kerasnya... Dia tidak peduli apapun... Dibukanya telapak tangannya untuk merasakan dinginnya air hujan lalu tubuhnya berputar-putar... Setelah enam bulan, jiwanya yang telah mati kembali hidup hanya dalam sehari... Jalal turut bahagia melihat keceriaan dan kegembiraannya... wajahnya berseri-seri, begitu murni... Jalal tetap berdiri di tempatnya sambil mengawasi Jodha melepaskan semua kebahagiaannya. Pakaiannya yang kuyup menempel erat di tubuhnya... Jodha tidak menyadari pakaiannya yang tipis berwarna putih dengan jelas mempertontonkan lekuk tubuhnya yang indah, Jalal menikmati pemandangan itu sambil memperhatikan semua tingkah Jodha... bermain... tertawa... terbahak... berlari dengan riang...

Jodha berlari berputar-putar sambil menutup matanya, Jalal perlahan mendekatinya... dengan mantap dia menarik punggung Jodha ke dalam lekukan lengannya dan mulai menghujani pipinya dengan ciuman yang penuh gairah dan nafsu... Jodha berbisik “Jalal, kumohon lepaskan aku... seseorang akan melihat kita.”

Jalal merespon dengan sensual, “Aku tidak peduli Jodha... Biar saja mereka melihat... Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Hatiku mendambakan kehangatanmu, aku tidak sabar menjadikanmu milikku lagi.”

Jodha tersipu malu menyadari Jalal begitu mendambakan dirinya, “Jalal, jangan bertingkah seperti remaja yang tak tahu malu.” Dia berkata dengan suara tertahan.

Mendengar pernyataannya, Jalal menghentikan ciumannya untuk menjawab sambil tersenyum menggoda, “Jodha, kondisiku lebih buruk daripada anak remaja, aku tidak menyentuh satu wanitapun selama enam bulan terakhir dan merindukanmu setiap detiknya, jadi jangan harapkan aku untuk bersabar lagi. Hatiku juga butuh diyakinkan bahwa aku akhirnya telah menemukanmu setelah sekian lama.”

“Kupikir kau sudah menikahi lima puluh begum lagi.” Kata Jodha jahil sambil memutar tubuhnya...  Tangannya naik turun membelai lehernya dan wajahnya ditengadahkan lalu mencium pipinya.

“Aku terlalu sibuk mencarimu, tapi tidak ada kata terlambat, sekarang aku sudah menemukanmu, jadi aku punya banyak waktu untuk menikahi lima puluh begum baru.” Jalal balik menggoda.

“Aku akan membunuh setiap wanita yang berani menyentuhmu.” Kata Jodha dengan posesif.

“Ohhh... Junglee Billi.” Jalal berbisik sambil mengigit mesra telinganya.

Hujan mulai reda, tapi angin dingin masih berhembus makin membakar gairah dalam diri Jalal... Aroma hujan di awal musim makin membuatnya gila.

Setelah perpisahan yang lama, Jalal bisa melihat kecantikan murni Jodha dibalik tetesan air hujan di tubuhnya, melecut api gairah dalam tubuhnya... Dengan kasar dia kembali menarik tubuh Jodha ke dalam rengkuhannya... Dikaitkannya kedua tangannya di antara rambutnya yang basah dan menarik kepangannya hingga dia bisa menguasai mulutnya tanpa perlawanan, tidak berlama-lama lagi, bibir Jalal dengan tak sabar menguasai bibir Jodha... ciumannya tidaklah lembut... ciumannya bukanlah sekedar kecupan... ciuman yang liar... kasar... membabi buta... dan penuh emosi. Ditariknya tubuh Jodha makin menempel dan dikulumnya bibir itu penuh nafsu. Jodha kesakitan, Jalal merasakan tubuhnya bergetar, tapi dia sudah lepas kendali... hasrat terpendam dalam dirinya membuatnya makin gila.

Inilah cara Jalal menunjukkan seberapa dalam kerinduannya pada Jodha... betapa dia mencintainya... betapa dia menyayanginya...

Setelah beberapa saat Jalal mampu mengendalikan hasrat liarnya, dia perlambat ciumannya, masih dengan bibir saling menempel dia berbisik, “Kau tidak apa-apa?”

Jodha tersenyum menenangkan, matanya masih terpejam dan tersesat dalam liarnya gairah... Jalal diam untuk melihat bibir bawah Jodha sedikit membengkak, dikulumnya bibir itu lalu lidahnya bergerak membelainya untuk memberikan sedikit kenyamanan.

Dikecupnya lama... dia tidak sanggup melepaskannya sedetikpun... diciumnya bibir Jodha untuk kesekian kali dan berusaha sedikit menjauh sambil memandangnya dengan penuh damba... dia ingin Jodha membalas ciumannya dengan gairah yang sama...

Jodha tahu kenapa Jalal berhenti dan tahu apa yang diinginkannya, dia membalas tatapan Jalal dengan sama bergairahnya, kakinya berjinjit, tangannya melingkari leher Jalal... dan mulai mencium bibir lembab Jalal dengan ringan... Keduanya saling berpagutan... sentuhan lembutnya, memacu gairahnya... tangannya meremas tubuh Jodha... lidah mereka saling mengait... Begitu lidah mereka bertemu, seakan jutaan percikan keluar dari dalam tubuh mereka...

Keduanya merasakan terjangan gelombang gairah... dengan cepat bibir Jalal bergerak dari bibirnya, mengecup telinganya... Dia menghisap daun telinga Jodha dengan penuh hasrat, lalu berpindah mencium leher bawahnya, membuat Jodha mengerang... Jalal akhirnya bisa menemukan titik gairah pada tubuh Jodha dan menghujaninya dengan ciuman. Ciuman dan gigitan pada kulit lembutnya membuat Jodha makin liar... Tangannya ikut bergerak membelai seluruh bagian tubuhnya... Jodha mendesis keras saat Jalal menyentuh dadanya... Keduanya basah kuyup di bawah hujan... Sambil terus mencium, Jalal mulai menjelajahi bagian atas tubuhnya mencari jalan masuk ingin menyentuh kulit lembutnya... Saat sentuhan Jalal makin berani, Jodha segera tersadar dari mantra ajaibnya dan bisa menduga ke arah mana belaian ini akan berlanjut....

Dengan berat hati Jodha menjauhkan dirinya dari Jalal untuk menghentikan sentuhannya dan menggumam jengkel, “Jalal kau benar-benar tak tahu malu.”

Jalal menyeringai menggoda, menatapnya dalam lalu menarik tangan Jodha... Jodha terhempas ke dadanya... Jalal berbisik, “Tubuhmu yang basah membangkitkan api gairah dalam diriku... Aku tidak bisa jauh darimu... Aku ingin melupakan semua penderitaan yang telah kita lalui dan hanya ingin berdua denganmu.”

Jodha mencium pipi Jalal dengan penuh cinta dan berkata... “Shahenshah, sadarlah... kau tidak sedang berada di istanamu... ada banyak orang di sekitar sini.”

Jalal merespon pelan, “Jodha begum, untuk mencintai begum tersayangku, aku tidak peduli tempat dan waktu.”

Jodha menjawab lemah, “Jalal... kumohon... bajumu basah kuyup, ayo kembali ke pondok, kalau tidak kau bisa sakit.”

Jalal tersenyum penuh arti sambil menatapnya... Detik itu juga ada sebuah ide muncul di otaknya, jadi dia menjawab dengan polos, “Kau benar Jodha begum, aku harus segera mengganti bajuku dan kau juga belum mengobati lukaku.”

Jodha tersadar hari hampir berakhir, sebaiknya dia memberinya kadha (ramuan obat yang pahit) dan mengoleskan salep di lukanya... Jodha berkata dengan cemas, “Shahenshah, cepat kembali ke pondokmu, aku akan segera mengganti bajuku dan kembali ke pondokmu dengan salep dan kadha.”

Jalal mengganti pakaiannya, tapi tidak mengenakan atasan.... Beberapa menit kemudian, Jodha yang sudah berganti pakaian dan sudah menyiapkan kadha dan salep, bergegas lari ke pondoknya. Saat dia masuk, dia melihat Jalal, tubuhnya gemetar dibalik selimut tebal di atas tempat tidurnya... Jodha merasa heran dan khawatir melihatnya, dia pikir karena berbasah-basahan di bawah hujan, Jalal sakit lagi... Segera saja Jodha menutup semua pintu dan jendela... Sudah mulai gelap jadi dia menyalakan lilin... Jalal terpesona ketika dia melihat wajah Jodha bersinar memantulkan cahaya lilin yang temaram, rambutnya yang ikal dan panjang membuat Jodha terlihat makin menggairahkan. Jodha bergerak mendekat, untuk memeriksa apakah dia demam... Dirabanya dahinya untuk memeriksa suhu tubuhnya, tapi ternyata baik-baik saja, Jodha makin bingung, “Shahenshah, kau tidak demam, tapi kenapa tubuhmu gemetar...”

Jalal menjawab, “Jodha begum, ini jenis demam yang berbeda.... Munculnya dari dalam... Kau tidak bisa merasakannya... dan demam seperti ini hanya bisa disembuhkan dengan panas tubuh saja...” Dia bertingkah seolah makin gemetar sambil menatap Jodha dengan polosnya.

Melihat ekspresinya, Jodha langsung paham bahwa ini hanyalah taktiknya... Dia menjawab dengan datar, “Tentu Shahenshah, jangan khawatir aku pasti segera menyembuhkanmu.”

Jalal menyeringai membayangkan Jodha dalam dekapannya...

Jodha menatapnya tajam dan mengangsurkan semangkuk kadha yang pahit ke tangannya... dan berkata, “Cepat diminum, obat ini akan menyembuhkan demam palsumu.”

Jalal berdiri dan meletakkan kadha ke meja samping dan menariknya mendekat sambil tersenyum menggoda, “Jika begum tersayangku disini untuk menyembuhkan demamku, untuk apa lagi aku minum kadha yang pahit?”

Belum sempat menolak, Jalal sudah membopong tubuhnya terlebih dulu dan membaringkannya di tempat tidur.... Jodha mulai salah tingkah, semua terjadi dengan cepat, setelah enam bulan lamanya, Jalal tiba-tiba sudah sangat dekat dengan dirinya, tapi di sisi lain Jodha luluh di dekapan dada bidangnya menatap hasrat di matanya... Perlahan Jalal menunduk, ragu-ragu Jodha menarik tubuhnya sendiri ke belakang... Jalal tersenyum melihatnya salah tingkah... Jalal makin mendekat, napas mereka yang tersengal terdengar cukup keras di telinga masing-masing... Napasnya menghembuskan angin sejuk di wajah Jodha... Jodha tersipu, merasa sangat malu hingga menurunkan kelopak matanya... pipi Jalal menggesek pipi Jodha... Dia berbisik di telinganya, “Junglee billi, Apa kau takut?”

Dengan gerakan lambat Jodha menaikkan matanya yang indah dan jernih dan menjawab dengan malu-malu, “Ya.”

Jalal tersenyum dan bertanya dengan suaranya yang dalam, pertanyaan yang pertama, “Kau percaya padaku?”

Jodha tidak menjawab...

Dia bertanya lagi, “Kau mencintaiku??”

Jodha menjawab lembut di telinganya... “Apa aku masih harus mengatakannya padamu?”

Jalal mengangguk pelan dan menatap ke dalam matanya dengan penuh cinta..

Jodha tersipu dan menggumam, “Shahenshah, jangan menatapku seperti itu,”

Sambil terus menatapnya, Jalal mengambil sejumput rambutnya dan meletakkannya di belakang telinganya lalu menyusurkan jarinya perlahan di pipinya dan berkata, “Jodha, tidak ada wanita yang lebih cantik dari dirimu... kau telah mempesonaku.” Dia menurunkan jarinya ke bibir Jodha dan menatap bibir itu... seluruh tubuh Jodha bergetar saat bibirnya disentuh... Jalal mendekat hendak mencium bibirnya, tapi belum sempat melakukannya... Jodha mengalihkan wajahnya ke arah lain dan dengan menggoda meraba otot-otot di dada Jalal yang telanjang.... Dengan posisi yang sama Jalal mendesak tubuh Jodha ke bantal dan memerangkapnya dengan tubuhnya tepat di atasnya... Dengan lembut Jalal mulai menciumnya... Dengan gerakan sensual dia mengulum daun telinganya sedangkan tangannya meraba dada Jodha... Dia berbisik, “Aku merindukanmu... Aku tidak bisa hidup tanpa dirimu, Jodha,”

Sentuhannya membuat tubuhnya menggelinjang... Jodha menjawab di antara desahannya, “Ohhh... Jaalaaal... aku sangat mencintaimu.” Jalal suka melihat Jodha tersesat dalam hasratnya... Jalal bergerak turun dan menciumi lehernya dengan banyak kecupan dan jilatan di tulang lehernya...

Jodha mendesis di sela giginya yang terkatup, “Jalal, hentikan...”

Jalal menjawab dengan putus asa, “Jodha, jangan menolakku hari ini...” Dia melanjutkan rayuannya dengan menarik turun pakaian Jodha dan dengan liar menggigit mesra tulang belikatnya.

Jodha berbisik, “Jalal... kumohon... tataplah mataku.” Jalal menatap Jodha penuh kerinduan... Jodha meminta dengan suara pelan, “Shahenshah, bisakah kau tahan keinginanmu beberapa hari lagi demi aku?”

Jalal menatapnya bingung, Jodha lanjut berkata dengan pelan, “Shahenshah, aku ingin menikmati saat-saat aku berada dalam pelukanmu... Ada banyak hal yang ingin kuceritakan dan yang paling kuimpikan adalah kita bercinta di kamarmu di Agra... Kita bahkan belum sempat melakukannya saat pertama kali.”

Jalal menjawab kecewa, “Jodha, kau tahu bahwa keinginanmu berarti segalanya untukku... tapi sekarang kau ada di depanku, sulit sekali bagiku untuk menahan diri. Tapi baiklah aku akan menantikan saat indah itu saat kita menyatu lagi.” Dia diam sejenak sambil menarik napas panjang, tiba-tiba dengan buru-buru dia berkata, “Jodha cepat bersiaplah, kita kembali ke Agra sekarang juga.”

Jodha terkikik geli melihat tingkah Jalal yang selalu tidak sabaran... “Tidak Jalal, aku ingin menghabiskan malam ini di dalam pelukanmu sambil mengobrol... banyak hal yang ingin kutanyakan, ceritakan tentang Ammi Jaan, Salima begum, Rukaiya begum dan Rahim... bagaimana keadaan mereka semua? Apakah Rahim masih ingat padaku atau malah sudah lupa? Aku juga ingin tahu caramu membuktikan aku tidak bersalah.”

Mendengar nama Rukaiya disebut, paras Jalal memucat... dia menatap Jodha dengan sedih, dengan mata berkaca-kaca dia berucap, “Jodha begum... Tolong jangan tanya soal itu, orang-orang kepercayaankulah yang mengkhianatiku. Andai saja kau ada disana untuk mendampingiku melewati saat terberat hidupku.”

Memandang wajah Jalal yang sedih, Jodha merengkuhnya dengan erat, lalu dia tangkup wajahnya dan berkata, “Jalal, aku bisa melihat semua kesedihan di matamu, hanya dengan mengingat penderitaan yang kau alami, aku tidak ingin kau merasakannya lagi, aku tidak mau mendengar apapun...”

“Tidak Jodha... Mungkin saja aku akan merasa lega setelah menceritakan semuanya yang telah terjadi,” lalu Jalal menceritakan semuanya tentang Maham dan Rukaiya... Mata Jalal sembab karena airmata... Jodha menghapus airmata di wajahnya dan memeluknya hangat... Keduanya larut dalam kedamaian pelukan hangat mereka...

Jodha benar-benar sedih mengetahui semua yang harus dilalui oleh Jalal... Dengan pelan dia berkata, “Jalal, tolong maafkan aku, karena diriku orang-orang terdekatmu menjauh darimu... Badi Ammi... Adham dan teman terdekatmu... Semuanya terjadi karena kehadiranku...” Mata Jodha memerah karena airmata...

Jodha hendak berkata lagi, tapi jari Jalal lebih dulu ditempelkan pada bibirnya, “Tidak Jodha, sepertinya aku tidak mengenali wajah dan niat asli mereka, mereka sudah menyebabkan kesengsaraan dalam hidupku. Mereka bukanlah teman-temanku. Aku tidak menyesal mereka tidak dekat lagi padaku, tapi cara mereka mengkhianati dan menghancurkan hatiku, itulah yang tak terbayangkan. Rukaiya, dia bukan hanya bersalah padaku, tapi dia juga membohongi seluruh Kesultanan. Tindakannya sungguh tak termaafkan... Keduanya memberiku rasa sakit yang teramat sangat, aku tidak akan pernah memaafkan mereka... aku ingin kau menghukum mereka lebih buruk dari hukuman mati...mereka telah mengkhianati seluruh rakyatku.”

Jodha menatapnya dan berkata... “Aku setuju Shahenshah, mereka memang pengkhianat, mereka bukan hanya menyerangmu, tapi juga menyerang seluruh rakyat dan kesultanan. Mana mungkin aku memaafkan mereka, mereka juga membuatmu sengsara. Aku takkan memaafkan mereka, hatiku tidak selemah itu, ada darah Rajvanshi dalam nadiku, dan jika aku bisa mengorbankan hidupku untuk negeriku maka aku bisa mengambil hidup orang lain jika memang dibutuhkan.”

Untuk mengubah topik pembicaraan, Jodha berkata manis, “Shahenshah, aku sangat bangga padamu, aku pernah kehilangan semua harapanku, tapi dengan kecerdasanmu kau menang, dan untuk itu kau layak mendapat hadiah.”

Jalal melepaskan diri dari pelukannya dan sedikit jahil berkata, “Aku sudah mencarimu selama enam bulan terakhir untuk mendapatkan hadiah darimu. Berikan hadiahnya padaku Jodha.”

Dengan wajah memerah Jodha berucap, “Shahenshah, jangan menatapku seperti itu... aku malu sekali.”

“Jika kau malu, bagaimana aku bisa mendapatkan hadiahku?” tanya Jalal.

Jodha menutup mata Jalal dengan tangannya dan dengan lembut mengecup pipi Jalal, lalu mengecup bibirnya, tapi Jalal tidak merespon, Jalal ingin merasakan sentuhannya... Jodha menciumnya lagi dengan lebih mesra, tapi tetap tidak ada respon... Jodha merasa kecewa dan sedikit terluka, tapi dia tidak menyerah, dia kembali mencium bibirnya lebih lama... Jalal tahu Jodha sedikit terganggu, untuk menggodanya dia sengaja tidak merespon ciumannya, akhirnya, Jodha kecewa dan menggigitnya keras untuk memberinya pelajaran... Jalal mengaduh kesakitan dan Jodha berkata ketus sambil tersenyum, “Senang???? Kau sudah dapatkan hadiahmu.”

Jalal melihat senyum nakal di wajahnya, karena itu, dia berkata, “Junglee billi, siapa yang akan menyelamatkanmu sekarang..” sebelum Jalal berhasil menangkapnya, Jodha lebih dulu bangkit dan berlari ke arah pintu, tapi Jalal berhasil menangkapnya dan memaku tubuhnya ke dinding dan berkata, “Hmmm...kau mempermainkanku...”

Mendengar itu Jodha tertawa tertahan lalu meminta, “Jalal lepaskan aku, aku harus memasak... aku tidak punya pelayan untuk melakukan pekerjaanku dan Nandu mungkin sedang mencariku.”

Jalal berkata dengan jengkel, “Jadi bagaimana bisa Nandu hadir di antara kita?”

Lalu Jodha menceritakan semuanya tentang Nandu, saat dia menemukannya di kuil, sendirian dan menangis, sejak saat itu Nandu bersamanya... Kasih sayang Nandu memberinya semangat untuk hidup...

Jalal bertanya bingung, “Jodha, aku mengumumkan pencarianmu ke semua tempat, desa, kemanapun, bahwa kami berhasil mengungkap semuanya dan kau tidak bersalah... memohonmu untuk kembali... Kami mencarimu ke segala tempat.. Tidak adakah orang yang memberitahumu soal itu??”

Jodha berkata angkuh, “Kau kira apa, mudah untuk menemukanku, kau bahkan tidak bisa menemukanku di dalam istana, jadi bagaimana kau bisa menemukanku di seluruh dunia.” Lalu dengan lebih serius dia melanjutkan... “Shahenshah, aku tahu kau akan mencariku di semua desa dan wilayahmu... tapi kau tidak akan terpikir tentang hutan lebat ini, itulah kenapa aku kesini dan kami disini tidak tahu-menahu apa saja yang terjadi di Kesultanan, Ashram ini didirikan sebagai tempat latihan bagi orang-orang yang datang kesini.”

Jalal berkata sedih, “Jodha begum, kau harus bekerja keras disini, Bahkan sejak pagi kau sudah harus membawa dua wadah besar untuk tempat air dan memasak untukku, lalu sepanjang hari kau melatih anak-anak di cuaca yang panas. Bagaimana bisa kau melakukan semua itu?” Jalal meraih tangannya dan memandangnya sedih... “Jodha, aku berjanji padamu, aku tidak akan membiarkan airmata muncul lagi di matamu.”

Jodha memeluknya dan menjawab, “Shahenshah, setelah pernikahan kita, kita telah menghadapi berbagai masalah dan rintangan dalam hidup kita.. .mungkin itu semua karena keterpaksaanku saat menikahimu dan aku mengutuk takdirku... aku mengutuk orang tuaku... aku mengutuk Krishna-ku... aku mengabaikan semua kewajibanku sebagai istri dan pada Tuhan, dan itulah alasan kita harus menghadapi berbagai macam cobaan.”

Jalal menjawab, “Jodha begum, jangan berpikir seperti itu. Semuanya akan membaik dan tidak ada lagi hal buruk yang akan terjadi dalam hidup kita sekarang.”

Abdul mengetuk pintu.... “Shahenshah..”

Jodha dan Jalal menghapus air mata mereka dan Jalal tersenyum... “Junglee Billi... hadiahku tertunda...” dan dia pergi membuka pintu....

* * * * * * * * * * * *
Next:  Keesokan pagi-pagi sekali, Jodha dan Nandu tidak ditemukan dimanapun... Acharya memberikan sepucuk surat pada Jalal....


FF: Is It Hate or Love Chapter 34 Part 4

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.