FF: Is It Hate or Love Chapter 35 Part 1 - ChusNiAnTi

FF: Is It Hate or Love Chapter 35 Part 1


Written by Bhavini Shah
Translate by Tyas Herawati Wardani

Recap:
Jodha memeluknya dan berkata, “Shenshah, setelah hari pernikahan kita, kita mengalam berbagai macam masalah dalam hidup kita... Mungkin itu karena aku menikah denganmu dengan terpaksa, dengan berat hati  dan aku mengutuk takdirku.. Aku mengutuk orang tuaku... Aku mengutuk Krishna... aku mengabaikan semua ritual...dan Tuhan, dan itulah kenapa kita menghadapi begitu banyak masalah.”

Jalal menjawab sedih, “Jodha begum, jangan berpikir seperti itu. Semuanya akan baik-baik saja dan tidak ada hal buruk yang akan terjadi dalam hidup kita mulai sekarang.”

Abdul mengetuk pintu... “Shenshah..”

Jodha dan Jalal keduanya menghapus air mata mereka dan Jalal tersenyum, “Junglee Billi...Hadiahku harus ditunda...” dan dia berjalan untuk membuka pintu...


Chapter 35 Part 1

Keesokan paginya...

Wajahnya tersenyum dengan sangat bahagia. Setelah berbulan-bulan, Raja dari para Raja, Yang Mulia Jalaluddin Mohammad AKBAR bersinar layaknya Raja yang Agung. Wajahnya berkilau karena kepuasan, kedamaian dan ketenangan. Seakan seumur-umur baru kali ini JALAL bisa tidur dengan nyenyak. Dia terlelap seperti anak kecil yang kelelahan. Saat itu sudah jam delapan pagi, tapi dia belum beranjak sejengkal pun dari nyamannya pembaringan.

Abdul terburu-buru melangkah masuk ke dalam pondok dan berdiri heran melihat Jalal masih terlelap. Jarang sekali Jalal tidur tiga hingga lima jam sehari tapi hari ini dia masih terlelap bahkan setelah tidur hampir dua belas jam lamanya. Usai makan malam, Jalal dan Abdul mengobrol dan Jalal tidak menyadari kapan tepatnya dia jatuh tertidur. Abdul dengan suara pelan memanggilnya “Shahenshah... Tolong bangunlah..” Selalu siaga, alam bawah sadarnya membangunkan Jalal dalam sekejap. Jalal menatapnya penuh tanda tanya dan melihat gurat kecemasan di dahi sahabatnya. Segera saja dia bangkit dari tempat tidurnya yang tidak nyaman dan juga yang paling nyaman dan meletakkan tangannya di lengan Abdul, dia bertanya “Abdul... Apa yang terjadi??? Kenapa kau terlihat cemas sekali???? Semuanya baik-baik saja???”

Abdul bingung harus menjelaskan bagaimana pada temannya. Mengumpulkan semua keberaniannya dengan takut-takut dia berkata, “Shahenshah, Jodha begum dan Nandu tidak ada di pondoknya... Pondok itu kosong... Aku telah mencari ke semua tempat... Mereka tidak terlihat dimanapun.... Bahkan, aku juga tidak menemukan prajurit kita... Aku tidak tahu apa yang terjadi... Aku khawatir seseorang telah menculik mereka????”

Jalal terhenyak. Namun belum sempat dia berkata apa-apa, Acharya melangkah masuk ke dalam pondok dan dengan penuh hormat dia memberi salam pranam pada Jalal dan berkata, “Shahenshah, tidak perlu mencemaskan Hira dan Nandu...” Dia berhenti untuk meralat ucapannya, “Maksudku Jodha begum dan Nand Kishore... Ini ada surat, Jodha begum yang menitipkannya padaku untukmu... Dia pergi pagi-pagi sekali menuju Amer dengan semua prajuritmu demi keamanannya... Dan dia juga mengirimkan satu prajurit ke Agra untuk memanggil beberapa prajurit untuk mengawalmu... Mereka akan sampai pada siang hari..”

Jalal dan Abdul saling berpandangan bingung. Acharya meninggalkan surat itu pada Jalal dan pergi. Jalal memberikan surat itu pada Abdul. Abdul bisa melihat kekecewaan dan sedikit kegusaran pada wajah Jalal...

Abdul mulai membaca suratnya—

Kekasihku yang sedang ngambek, Jalal...

(Abdul menahan tawanya dan menoleh pada Jalal)

“Sekarang kau pasti sudah tahu kalau aku pergi ke Amer... Jadi berhentilah marah-marah... Aku tahu sekarang wajahmu pasti memerah karena marah dan telingamu mengeluarkan asap seperti kebakaran... Dan juga jauhkan tanganmu dari pedangmu karena kau tidak bisa menggunakannya untuk menyerang Jodha mu yang manis dan tak bersalah... Selain itu kau juga tahu tidak ada yang bisa mengalahkanmu selain aku dalam pertarungan pedang, jadi tidak ada gunanya kau mengangkat pedangmu...”

Abdul berhenti sejenak dan menoleh pada Jalal dengan tatapan dan seringai jahil di wajahnya. Jalal cemberut melihat cengiran di wajah Abdul.

Abdul mulai membaca lagi – dengan kata perintah Jodha menulis di suratnya,

“Abdul, tolong berikan segelas air dingin untuk diminumnya, setelah itu baru kau membaca lagi..”

Secara ototmatis Abdul mengambil segelas air dingin, membuat Jalal terkejut dan dia menuntut penjelasan, “Ada apa Abdul??? Kenapa kau berhenti membaca??”

Abdul mengangsurkan segelas air itu padanya dan berkata, “Jodha begum menuliskan dalam suratnya bahwa aku harus memberimu segelas air dingin sebelum aku melanjutkan membaca.”

Jalal mengambil gelas itu dan menunggu Abdul melanjutkan bacaannya. Abdul bisa merasakan, Jalal benar-benar tidak sabar kali ini. Sebelum Abdul sempat berpikir, Jalal membentak keras, “Baca Abdul..”

Teriakannya yang tiba-tiba mengejutkan Abdul, dia gugup karena bentakan itu tapi lalu dia melanjutkan dengan sedikit berat hati, “Shahenshah, bisakah kau minum air itu dulu?? Jodha begum menuliskannya, aku boleh meneruskan membaca setelah kau minum air itu...”

“Shahenshah... Aku tahu kau sangat marah padaku sekarang, tapi aku mohon padamu dengan sangat untuk tenang dan mengendalikan emosimu , dengarkan penjelasanku dan pahamilah dari sudut pandangku...

Shahenshah...saat kau memaksaku menikahimu, aku marah pada Kanah-ku dan Devi Mayya... aku mengutuk semua orang termasuk orang tuaku... aku sama sekali tidak bahagia dengan pernikahanku sendiri..

Sebelum hari pernikahan kita, ribuan kali aku mengharapkan kematianmu... Sejak kecil, aku punya banyak impian tentang sebuah pernikahan, tapi saat aku menikah denganmu, semuanya terjadi tanpa persetujuanku... Ketika aku mengitari api suci bersamamu, di depan api suci itu aku sangat membencimu... Dan mungkin juga saat itu niatmu hanya untuk membalas dendam... Ketika kau mengikatkan kalung suci di leherku, saat itu aku ingin mati ribuan kali... Ketika kau mengisi maang dengan sindoor, saat itu aku tidak mendoakan umur panjangmu... Aku bahkan tidak menuliskan namamu di tanganku dengan henna... Ketika tiba saatnya untuk bidaai (perpisahan) dari Amer, karena kemarahanku aku bahkan tidak menangis saat memeluk Ibu dan keluargaku untuk merasakan kasih sayang dan cinta mereka untuk terakhir kalinya... Karena aku marah pada semua orang... Aku selalu merasa ada sesuatu yang kurang dan hilang dalam pernikahan kita... Aku selalu merasa aku tidak menganggap janji suci pernikahan kita dengan sungguh-sungguh.....

Sekarang aku percaya setiap ritual memiliki arti dan itulah yang menyebabkan segala masalah dalam hidup kita... Sejak awal pernikahan kita masalah selalu muncul dalam setiap langkah kita... Langkah pertama kita dalam hidup berumah tangga diawali dengan saling membenci... Perlahan, ketika aku mulai menyukaimu dan berpikir kau adalah milikku... Kau menuduhku tidak setia dan mengirimku pulang ke Amer.... Lalu ketika kita sudah bisa mengatasinya kau memintaku memilih antara Amer atau dirimu.... Aku berada dalam dilema hingga membuatku ingin bunuh diri.... Tapi cintamu menarikku kembali dari kematian... Saat kita mulai menyadari tak bisa hidup tanpa satu sama lain, kita akhirnya menyatu, namun kesalahpahaman lain terjadi dan membuatku berakhir dengan menantimu sepanjang malam... Setelah semua masalah saat kita menyatu, egomu memisahkan kita sekali lagi.... Lalu hati kita berdua hancur... Setelah itu kita bersatu lagi, lalu muncul masalah dengan Rukaiya Begum... Adham... Badi Ammi... semua orang berusaha memisahkan kita lagi.... Dan sekarang, bertemu lagi denganmu setelah terpisah selama enam bulan, aku ingin menikahimu lagi dengan sepenuh hati dan menjalani semua ritual dengan benar.... Aku ingin bersyukur pada kedua Tuhan kita... Aku ingin mewujudkan impian masa kecilku lagi... Aku ingin menikah denganmu di hadapan Ammi Jaan dan mendapat restunya... Aku ingin pernikahan kita dihadiri oleh semua keluargamu, kerabatmu dan teman-temanmu... Mataku menatap pintu dengan tak sabar menanti kedatanganmu... Kumohon cepatlah datang sebelum habis kesabaranku... Aku tidak bisa menahan perpisahan ini lebih lama lagi...

Dan ya, hal terakhir yang harus kukatakan adalah... Aku tahu dengan baik, tak peduli betapa kau berusaha, kau tidak akan bisa lama-lama marah pada Jodha....

Milikmu dan hanya milikmu...Junglee Billi...”

Jalal mulai tenang setelah dia memahami masalah itu dari sudut pandangnya, tapi tetap saja hatinya ingin bersamanya. Dia tersinggung dan marah karena Jodha meninggalkannya tanpa berbicara dulu dengannya. Setelah perpisahan mereka yang lama, dia tidak rela Jodha lepas dari pandangannya satu detikpun. Dia tidak suka karena sekarang dia harus menunggu beberapa minggu lagi untuk bisa bertemu dengannya. Dia frustasi, bagaimana bisa Jodha bepikir untuk menjauh lagi, bahkan untuk sedetik, darinya setelah berpisah lama.

Tanpa menunggu lagi, Jalal kembali ke Agra. Dia merasa bahagia dan gusar pada saat bersamaan. Jalal merencanakan semua di otaknya dalam perjalanannya kembali ke Agra.

Dia ingin sampai di Agra secepat mungkin dan memutuskan untuk menyampaikan kabar bahagia ini pada setiap orang yang dikenalnya. Dia ingin melihat wajah bahagia mereka. Dia masuk ke ruangan Hamida dengan suka cita. Melihat Jalal, Hamida bangun dari tempat tidurnya dan menyambutnya dengan senyum mengembang. Awalnya Jalal terpana melihat rona bahagia yang memancar dari mata Ibunya yang telah lama redup sejak Jodha meninggalkan istana. Tapi dia lebih tidak sabar lagi membagi kebahagiaannya dengan Ibunya tercinta, satu-satunya orang yang mengerti semua rasa sakit dan luka hati yang dirasakannya selama enam bulan terakhir karena perpisahannya dengan istri tercintanya.

Namun belum sempat Jalal mengutarakan maksud kedatangannya, dia sudah mendahuluinya, “Selamat Jalal, akhirnya, kau berhasil menemukan Jodhamu...”

Jalal menatapnya dengan bingung  dan takjub. Darimana Ammi Jaan tahu padahal dia belum memberitahunya. Dia masih menatapnya. Hamida tersenyum tipis dan berkata, “Kau tidak perlu memikirkannya terlalu dalam Jalal... Itu semua mudah ditebak... Sinar wajahmu adalah bukti yang menunjukkan bahwa kau akhirnya bisa menemukan kekasihmu dan putri kesayanganku Jodha setelah waktu yang lama.”

Jalal bergegas mendekat ke arah Hamida dan memeluknya hangat. Airmata haru tampak di wajah mereka . Dengan penuh bahagia dia berkata, “Ammi Jaan, tidak bisa kukatakan betapa bahagianya diriku... Rasanya jantungku tiba-tiba mulai berdetak lagi... Mataku mulai bisa melihat aneka warna lagi... Aku berhasrat untuk hidup lagi... Hidup bersama dengan Jodha-ku... Aku merasa hidup sekali lagi..”

Dengan menarik napas lega dan kegembiraan yang sama, Hamida berujar, “Jalal... putraku, kau telah memberiku kebahagiaan terbesar... Yaah Allah, lindungi putraku dan kebahagiaannya dari semua hal yang jahat... Akhirnya setelah sekian lama, kehidupan baru melangkah ke dalam rumah kita... Umumkan perayaan yang paling meriah yang pernah diselenggarakan oleh istana ini... Hiasi setiap dan semua dinding istana seperti pengantin baru... Lepaskan semua tahanan dari penjara... Sumbangkan harta, makanan dan pakaian untuk rakyat miskin... Aku sendiri yang akan menyambut putriku di istana...”

Dia terdiam dan bertanya dengan nada tidak sabar diantara airmata yang bergulir di wajahnya... “Jalal.... dimana Jodhaku??? Aku ingin segera melihatnya... Mataku ini telah lama menanti saat ini..”

Mendadak wajah Jalal memucat, dia menjawab dengan ketus, “Menantu kesayanganmu kembali ke Amer.” Lalu dia ceritakan semua yang ditulis Jodha di suratnya.

Hamida mengerti kegusaran Jalal. Dia tersenyum kecil sambil membelai lembut wajah Jalal, lalu berkata, “Wow Jalal... ini hal yang bagus... Dan sejujurnya, aku juga memikirkan hal yang sama... Sejak kalian berdua menikah, belum pernah kalian merasakan kedamaian... Selalu saja kesusahan menghalangi jalan kalian... dan aku juga menyesal karena tidak menghadiri pesta pernikahanmu dengan Jodha.... Jadi sekarang Jodha mewujudkan harapanku juga...”

Jalal menatap Hamida dengan perasaan lega dan puas. Dia merasa tenang setelah mendengar bahwa impian Hamida juga akan terwujud. Kemarahannya mencair sejak saat itu.

Usai pertemuannya dengan Hamida, Jalal melangkah cepat menuju ruangan Jodha dan secara pribadi menyampaikan berita itu pada Reva. Selama enam bulan itu Jalal memperhatikan Reva juga dalam kondisi yang sama seperti dirinya. Ketika Reva mendengar bahwa Shahenshah akhirnya menemukan Jodha... Mulanya dia shock... Suaranya tercekat di tenggorokannya.. Dia tak bisa berkata-kata. Dia tercekat karena kebahagiaan yang tiada tara, lalu air mata mulai membanjiri wajahnya. Dia menangkupkan tangan sebagai ungkapan syukurnya... Pertama kali Jalal menyadari kekhawatirannya... Pelan-pelan Jalal meletakkan tangannya di kepala Reva dan berkata, “Reva mulailah berkemas, kita harus segera pergi untuk membawa kembali pengantinku sekaligus sahabatmu kembali ke istana...”

Lalu Jalal berjalan menuju kuil Kanha dan menatap ke arah diya selama beberapa menit seakan dia sedang berkomunikasi dengan Tuhan... Perlahan airmata bergulir dari matanya... Dia menangkupkan tangannya dan membungkuk hormat untuk bersyukur pada Dewa Krishna. Hatinya yang terluka merasakan kebahagiaan kembali... Setelah bertahun-tahun akhirnya perasaannya merasa tenang dan damai.

Dalam waktu yang singkat seluruh istana bergema dengan suka cita, tawa dan gembira. Semua pelayan, prajurit, pejabat dan bahkan para Begum sibuk menyebarkan berita bahagia ini pada semua orang. Mendadak istana yang sunyi, sepi dan suram terisi kembali dengan irama kegembiraan. Setelah bersyukur pada Tuhan, Jalal bergegas menuju ruangan Salima Begum, tapi sebelum Jalal menyampaikan berita itu, mata Salima sudah dipenuhi dengan airmata haru dan bahagia. Kebahagiaan terlihat jelas di wajahnya... Jalal mendekat dan mengecup keningnya. Dengan bahagia Salima mengucapkan selamat pada Jalal.

Mirza... Maan Singh... Bhaksi Bano... Atgah Sahib.. Raja Todarmal, setiap orang bahagia dengan kabar tersebut. Rahim melompat dan memeluk Jalal mendegar Choti Ammi-nya akan segera kembali bersamanya. Wajah Jalal bersinar bak bintang. Perasaannya terungkap dari sinar matanya... langkahnya... kata-katanya... dan suaranya yang keras. Dia peluk setiap orang yang berpapasan dengannya untuk mengungkapkan kebahagiaannya. Di atas Istana, genderang ditabuh dengan riang dan kencang hari ini. Dalam waktu satu jam, ribuan orang berkumpul di luar istana. Jalal dengan suara kerasnya mengumumkan berita bahagia itu pada rakyatnya. Suaranya penuh dengan emosi suka cita dan matanya lembab karena air mata. Rakyat memperhatikan wajah Raja mereka yang bersinar dan bersyukur pada Allah dan Ishwar atas karunianya. Semua rakyat Agra bahagia.

Jalal mengadakan rapat darurat di Diwan E-Khaas dan mengumumkan dengan bangga bahwa dia sudah menemukan Malika E-Hindustan Jodha Begum dan mereka akan menikah ulang di Amer lengkap dengan semua adat dan ritualnya. Lalu dia juga mengundang semua orang menghadiri pesta pernikahannya.

Semua orang di istana gembira kecuali dua orang, Maham dan Rukaiya. Mereka terbakar amarah balas dendam. Mereka tetap berdiam di pondok mereka dengan pintu tertutup.

Hindu Pandit mengambil Panchang untuk menentukan hari baik untuk meninggalkan istana. Kali ini Jalal juga ingin mematuhi setiap ritual dengan benar. Jalal memutuskan segera pergi tanpa menunggu undangan resmi dari Raja Bharmal, namun dia mengirimkan surat pada Raja Bharmal mengabarkan bahwa mereka sedang dalam perjalanan menuju Amer untuk pernikahan. Pandit menentukan esok pagi-pagi sekali adalah waktu terbaik untuk pergi.

Di Amer, tidak berbeda dengan apa yang dirasakan di istana Agra. Istana Amer juga diliputi dengan kebahagiaan dan keharuan. Raja Bharmal dan Mainavati, mereka berdua memeluk Jodha sambil menangis bahagia. Mereka berdua memarahi Jodha karena tidak pulang ke Amer saat dia kesulitan, malah lebih memilih bersembunyi di hutan.

Jodha meminta maaf dan memberikan pengertian dari sudut pandang dirinya. Dadisa adalah orang yang paling bahagia melihat Jodha ceria dan penuh kebahagiaan. Semua merasa lega melihat Jodha selamat, sehat dan bahagia.

Jodha menceritakan pada keluarganya bagaimana Jalal bisa menemukannya dan menceritakan bahwa kepergiannya ke Amer tanpa pemebritahuan pada Jalal dan hanya meninggalkan sepucuk surat. Dia juga menyampaikan keinginannya pada semua orang untuk pernikahan ulang antara dirinya dan Jalal dan menjelaskan alasan kenapa dia ingin memulai kehidupannya sekali lagi.

Mendengar cerita Jodha yang menggebu-gebu, Mainavati memarahinya, “Jodha, bagaimana bisa kau meninggalkan suamimu seperti itu dan membuat keputusan sendiri??? Bagaimana jika Shahenshah kecewa padamu...”

“Ohhh Masa... Kau tidak berubah sama sekali.... Kenapa kau selalu cemas sepanjang waktu???? Aku yakin Shahenshah tidak akan kecewa padaku...” Jodha menjawab dengan enteng.

Semua orang penasaran mendengar penjelasannya. Semua saudara laki-lakinya bersemangat soal itu. Segera saja mereka merancang acara pernikahannya. Sukanya dan Shivani melompat gembira bertemu lagi dengan Jodha. Raja Bharmal mengumumkan dengan bangga pernikahan ulang antara Jalal dan Jodha.

Persiapan upacara pernikahan yang megah telah mulai di Amer. Setelah setahun hubungan Raja Bharmal dengan semua wilayah Rajvanshi mulai membaik. Pada hari itu juga undangan pernikahan disebar. Perjalanan dari Agra ke Amer membutuhkan waktu 5-6 hari. Jadi, mereka punya cukup waktu untuk merencanakan dan mempersiapkan semuanya sesuai keinginan mereka.

Jalal sedang duduk di ayunan sambil memandang bulan, dia bicara pada dirinya sendiri, “Jodha, aku tidak bisa lagi jauh darimu.... Mataku tidak sabar melihat senyum indahmu lagi dan telingaku tidak sabar mendengar tawa renyahmu, tak diragukan kau telah mempesonaku dengan mantramu, tapi kali ini aku tidak akan mudah memaafkanmu... Caramu membuatku mendambakanmu, aku akan membuatmu lebih mendambakan aku hingga kau memohon untuk bicara padaku... Kau akan dihukum karena menguji cintaku...”

Beberapa detik kemudian, Jalal tersenyum mesra sambil berpikir... “Tapi mana mungkin aku bisa berlama-lama marah padamu... Mana mungkin aku bisa tahan tidak bicara dan mengacuhkanmu.... Kurasa aku tidak akan berhasil mengacuhkanmu dalam waktu lama. Junglee Billi... Aku tidak akan melepaskanmu kali ini..”

Jodha juga memandang bulan dan bicara pada dirinya sendiri pada waktu yang sama, “Aku mengenalmu dengan baik Shahenshah, apa yang kau rencanakan dan kau pikirkan dalam otakmu yang penuh perhitungan itu. Kita lihat berapa lama kau akan tahan dari mantra cintaku...” Jodha tersipu berat saat membayangkan hal itu.

* * * * * * * * * * * *


FF: Is It Hate or Love Chapter 35 Part 1

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.