FF: Is It Hate or Love Chapter 35 Part 2 - ChusNiAnTi

FF: Is It Hate or Love Chapter 35 Part 2



Written by Bhavini Shah
Translate by Tyas Herawati Wardani

Lima hari berikutnya di Amer, Jodha dan keluarganya sibuk dan telah lupa pada semua penderitaan yang telah dilalui putrinya selama satu tahun kemarin, Jodha terlihat seperti belum menikah... tanpa beban... nakal... lugu... Jodha yang jahil...

Dia berlari kesana kemari di dalam istana bak seekor kupu-kupu... dia mengganggu kakaknya dan Bhabhi seperti anak kecil... bertengkar dengan adik-adiknya... Beberapa kali dia kabur dari istana dan pergi menunggang kuda. Dia kalahkan semua kakaknya dalam pertarungan pedang... Layaknya seorang gadis remaja saat dia punya kesempatan untuk berdansa, menyanyi... Dia habiskan waktu berjam-jam berbelanja baju pernikahannya... Kegembiraannya terlihat jelas dalam semua tingkah lakunya.. Setiap hari dia lantunkan Bhajan Krishna ke seantero istana... Saat ini, bahkan saat sedang memuja Krishna, dalam pikirannya, dia mengkhayalkan Jalal memainkan Raas (tarian) bersamanya... Dalam khayalannya, gambaran Krishna makin terlihat jelas...

Tiga hari telah berlalu dan rakyat mulai berdatangan ke istana menghadiri perikahan kerajaan... Kerinduannya makin meningkat hari demi hari... Jodha menjadi lebih sering tersipu daripada sebelumnya...

Mendadak dia mulai memperhatikan penampilannya... Dia memilih sendiri semua perhiasan yang dikenakannya... Hampir semua perancang terbaik yang mendesain baju dan perhiasan untuk pernikahannya... Sepanjang malam dia hanya membicarakan tentang Jalal... Dia tidak bisa mengontrolnya... Dia lupa masa lalunya yang pahit... hanya kenangan indah yang teringat dalam pikirannya... Sebuah pesan tiba mengabarkan bahwa Jalal telah memasuki perbatasan Amer.... Pesan itu bagaikan musik di telinga Jodha... Dia sedang mengenakan baju berwarna hijau dan merah...

Jalal memasuki Amer bersama rombongannya... Lebih dari lima ribu prajurit... dan lima ribu kerabat, teman, pejabat dan beberapa Raja... rakyat menari menyambutnya... Genderang, musik dan nyanyian dilantunkan dengan keras membuatnya lebih meriah....

Seluruh jalan masuk ke istana dihiasi dengan bunga... orang-orang Amer berdiri menyambut tamu dari Mughal... Rombongan Jalal menikmati tarian dan nyanyian terlalu lama hingga mereka tertahan di tempat lebih dari satu jam, kesabaran Jalal mulai habis...

Dia ingin segera tiba di istana secepat mungkin, jadi dia bisa segera melihat Jodha, tapi orang-orang sepertinya enggan berhenti menari... Mirza dan Maan Singh keduanya tertawa melihat wajah Jalal yang frustasi dan gusar.

Mirza berkata menggoda, “Bhaijaan, kenapa kau tidak sabar ingin bertemu Bhabhi Jaan, kami semua ingin menari dua atau tiga jam lagi. Agar semua rakyat Amer tahu bahwa orang Mughals juga bisa berpesta dan Shenshah telah datang untuk menjemput pengantinnya..”

Wajah Jalal langsung shock mendengar kata menari tiga jam lagi... Dengan tak peduli dia berteriak pada semua orang, “Cepat jalan... Cukup menarinya, kau bisa menari selama yang kau mau setelah kita memasuki istana...”

Man Singh... dan Mirza, keduanya terbahak-bahak melihat Jalal yang sedang frustasi... Segera saja Jalal menyadari bahwa mereka berdua menggodanya soal menari selama dua jam... Dia mengernyitkan alisnya dan menatap mereka dengan marah...

Keduanya menatap Jalal dengan wajah serius dan memasang tampang bersalah. Begitu Jalal menoleh ke arah lain mereka mulai tertawa lagi seperti anak kecil.

Tanpa melihat mereka Jalal tahu mereka menertawakannya.

Akhirnya mereka tiba di pintu gerbang... wajah Jalal tertutup sehra dan dia berdiri di tengah-tengah, di satu sisi berdiri Raja Bharmal, Mainavati dan kerabat Jodha yang lain... dan sisi yang lain.. Hamida.. Mirza.. Bhaksi bano... Salima Begum... Rahim dan para tamu. Lila (sahabat Jodha, lihat chapter 14) berlari menuju ruangan Jodha untuk mengabarkan bahwa calon mempelai sudah tiba di pintu gerbang... Jodha dengan mengenakan ghoongat di kepalanya berlari ke teras untuk melihat Jalal... Dengan cepat dia melihat Jalal berdiri disana, namun wajahnya ditutupi cadar dari rangkaian bunga (sehra)... Mendadak jantungnya berdegup kencang...

Dia berkata tak sabar, “Lila, aku tidak bisa melihat wajahnya, wajahnya tertutup.”

Lila tersenyum jahil karena kata-kata itu dan berkata menggoda, “Jadi... Kau sudah siap, Jodha?” Keduanya tersenyum misterius, lalu Jodha mengambil sebuah batu kecil dari pot bunga di ujung dan melemparkannya pada Jalal... Batu pertama mengenai dada Jalal... Jalal merasakannya, tapi tidak menggubrisnya... Karena dia sedang terganggu sekali dengan cadar di wajahnya, bahkan dia merasa sulit melihat melalui cadar itu.

Dia berbisik dalam hati, “Oohh Tuhan... bagaimana aku mencari Jodha-ku diantara banyak orang seperti ini??”

Dia memanggil Mirza mendekat dan berbisik, “Mirza... Katakan padaku jika kau menemukan bhabhi jaan mu di mana.”

Ingin menggoda Jalal, Mirza dengan sengaja mengeraskan suaranya, “Ammi Jaan... Kalau kau tahu dimana bhabhi jaan, tolong beritahu bhai jaan, dia sudah tidak sabar untuk bisa memandang Bhabhi Jaan.” Jalal menendang keras kaki Mirza.

Mirza mengaduh kesakitan, “Ahhh”

Semua orang tertawa keras... Jalal merasa sedikit malu. Pandit mulai membaca mantra untuk ritual... Sekarang giliran Lila melempar batu, Lila mengukur sasaran dengan tepat dan lempar, tapi sayangnya, batu itu mengenai kepala botak Pandit... Panditji memandang bingung ke sekelilingnya dan kembali konsentrasi membaca mantra.... Jodha dan Lila terkikik melihat wajah bingung Pandit... Jodha mengambil batu lain dan ingin melempar tepat di wajahnya dan ternyata tepat mengenai hidungnya, tapi kali ini Jalal memperhatikan arah datangnya batu itu... Dengan cepat, dia menyibakkan cadar di wajahnya ke atas kepala... Melihat ke atas... dia melihat di teras, ada Lila, yang tertawa senang, dan melihat wanita di sebelahnya yang tertutup ghoongat seluruh wajahnya.... Dia menyeringai pada Lila. Jodha bisa melihat melalui penutup kepalanya, meski kurang jelas... Tidak butuh waktu lama bagi Jalal untuk mengenali Jodha... Jodha mengangkat ghoongat-nya hingga matanya bisa melihat Jalal... Akhirnya saat yang mereka nantikan tiba, penantian mereka berakhir. Akhirnya, mata mereka beradu.... Keduanya saling memandang tanpa berkedip... wajah Jalal merona setelah dia bisa melihat Jodha... Jodha tersenyum, air mata turun di pipinya... Dia berlari masuk ke ruangannya... Dia merasa sangat bahagia... seluruh tubuhnya bergetar, jantungnya berdetak cepat.

Lila mengejar Jodha dan bertanya, “Jodha, kenapa kau masuk ke kamarmu? Sekarang saatnya menyambut Shenshah.”

Jodha bertanya, “Lila... Kau melihatnya kan, bagaimana wajah Jalal saat dia tersipu??” Jodha membetulkan ghoongat-nya... turun ke hall utama dimana para wanita sedang berkumpul..

Jalal masuk melewati pintu utama Divan... Mainavati melakukan arti dan dengan lembut menarik hidung Jalal sebagai bagian dari adat... Jalal tersipu, lalu membungkuk untuk meminta restu... Maina ingat saat Jalal pertama kali datang kesana... sikapnya dulu dan sikap Jalal kini yang telah berubah... Airmata keluar dari matanya...

Dia bertanya bercanda, “Apa ada tradisi dimana mempelai pria menarik telinga mempelai wanita??”

Mainavati membalas candaannya, “Ya Jamaisa, kami punya tradisi seperti  itu, tapi mempelai wanitanya yang menarik telinga mempelai pria, jadi suami akan selalu mendengarkan istrinya setiap waktu...” Semua orang tertawa...

Hamida dan Mainavati saling berpelukan dan menyapa satu sama lain dengan penuh hormat.... Mata semua orang mencari Jodha... Jalal kembali melangkah, tapi pelayan sudah lebih dulu melempari Jalal dengan bunga... Seketika semua wanita berhenti menyanyikan lagu pernikahan dan ruangan utama itu mendadak senyap selama beberapa detik... Dan Jodha mulai melantunkan lagu dengan suaranya yang  merdu...

Hm hm hm, mm mm
Musim semi, diguyur oleh bunga, kekasihku telah datang
Kekasihku telah datang
Angin melantunkan nada-nada, kekasihku telah datang
Kekasihku ada disini

Pandangan Jalal mencarinya... Suaranya yang berat membuat semua orang tersenyum dan wajah Jalal merona...

Memiliki merahnya bunga ada di henna di tanganku
Turunlah awan dan letakkan kohl di matanya yang indah
Bintang-bintang, isilah belahan rambutku, kekasihku telah datang
Kekasihku telah datang
Musim semi, diguyur oleh bunga, kekasihku telah datang
Kekasihku telah datang
Penglihatan, dimana-mana sekarang makin bercahaya
Hatiku penuh sayangku, dia mungkin akan menjauh karena malu
Tenangkan hatiku sedikit, kekasihku telah datang
Kekasihku telah datang

Wajah Jalal mulai merona karena Jodha menyembunyikan dirinya diantara banyak wanita... Wajahnya memerah... dia merasa canggung dan malu... Melihat cara Jodha menyanyikan lagu mesra untuknya...

Kelopak bunga menghiasi ranjang dengan kehangatan
Dia tahu suatu saat hembusan dingin cinta akan datang dengan cara seperti ini.
Di sekelilingnya penuh dengan warna, kekasihku telah tiba
Kekasihku ada disini
Angin menghembuskan nada-nada, kekasihku telah tiba
Kekasih hatiku telah tiba
Musim semi, guyuran bunga, cintaku telah tiba
Cintaku telah tiba

Habis sudah kesabaran Jalal...Dia berjalan menyeruak di antara para wanita yang sedang bermain musik, dia tarik Jodha keluar dari kerumunan.. Dia masih mengenakan ghoongat, dengan tersenyum dia berkata, “Yaa Jodha Begum... Sekarang nyanyikan lagu itu di depan semua orang..” Genggamannya tidak terlalu kencang... Mudah saja Jodha melepaskan dirinya dan kabur dari tempat itu...

Mirza berteriak kencang, “Tunggu Bhabhi Jaan.. setidaknya biarkan Bhai Jaan ku melihatmu sebentar..” semua orang mulai tertawa... Jalal cemberut menatap Mirza.

Dadisa menggodanya, “Jangan khawatir Mirza...Ritual selanjutnya adalah Muh dikhai..” Jalal berjalan mendekati Dadisa dan membungkuk untuk meminta restu... Dadisa mencium kening Jalal dan mendoakan umur panjang dan kebahagiaan hidupnya.

Dadisa memanggil Sukanya dan memerintahkan padanya mengantar Jamaisa ke ruangan Jodha sepuluh menit lagi untuk Muh dikhai...

Di ruangan Jodha:

Dadisa masuk ke ruangan Jodha membawa kotak manisan dan meminta Jodha, sesuai tradisi, mereka berdua harus saling menyuapkan manisan itu setelah muh dikhai, dia memberikan restunya... dan meninggalkan ruangan..

Lila dengan wajah ketakutan berkata, “Jodha aku takut... Bagaimana seandainya dia memelukku tanpa membuka cadarku??”

Jodha tersenyum menenangkan, “Ohh Lila... jangan takut... Itu tidak akan terjadi, lagi pula, dia sedang marah padaku hingga dia takkan coba menyentuh, lupakan soal memeluk dan mencintai... Kau hanya perlu, menutup wajahmu dengan cadar dan duduk tenang dan aku disana di balkon kamarku mengawasimu sepanjang waktu...”

Lila duduk di ranjang dengan gugup, mengenakan ghoongat panjang dan Jodha ada di luar bersembunyi di balkon menunggu Jalal.

Sukanya dan Jalal, keduanya mengobrol santai sambil berjalan menuju ruangan Jodha. Sukanya bercanda, “Kakak iparku tersayang.. sekarang penantianmu telah berakhir, kau bisa masuk dan melihat sekilas pengantinmu..” dia tersenyum tipis dan pergi...

Menarik napas panjang Jalal masuk ke ruangan Jodha... dia melihat Jodha sedang duduk di atas tempat tidur tertutup ghoongat panjangnya, tapi dia langsung bisa mengenali gadis itu bukan Jodha... Dia berkata pada dirinya sendiri, “Sepertinya Jodha telah mengganti busananya, tapi mana mungkin??? Dia tidak mungkin berganti pakaian secepat itu... Lagipula, seingatku, Lila mengenakan pakaian yang sama... Ditambah lagi tubuh gadis di balik cadar itu berbeda dengan Jodha, postur tubuhnya terlihat seperti Lila... itu memang Lila..”

Jalal mencibir dalam hati, “Oh begumku tersayang, kau mempermainkan suamimu, Shenshah E Hindustan... hmmm... Bersiaplah untuk menerima balasannya..” Dia menyeringai sinis sambil berpikir, “Kasihan Lila... Apa yang akan terjadi padanya sekarang!!!?”

Pandangan Jalal menyapu ke seluruh ruangan itu mencari Jodha... Segera saja ujung matanya melihat sekelebatan chunni yang berkibar tertiup angin kencang di balkon. Keraguannya terjawab bahwa gadis yang duduk di atas tempat tidur itu adalah Lila.. Jalal duduk di seberang Lila dan berkata lembut, “Kau tahu Jodha, betapa rindunya aku berduaan denganmu seperti ini? Pastinya aku masih kecewa padamu, tapi ketika aku melihatmu duduk sendiri dia atas ranjangmu ini, mana mungkin aku menyia-nyiakan kesempatan sempurna ini...”

Lila membeku mendengar kata-kata itu... Perlahan Jalal menggenggam tangan Lila, dia menyeringai melihat tangannya yang gemetar... Dengan lihai Jalal melanjutkan ucapannya dengan lebih keras agar Jodha juga bisa mendengarnya, “Kau tahu hal terbaik yang terjadi dari perpisahan kita...? Berat badanmu turun dalam enam bulan kemarin, sebelumnya kau agak gemuk, tapi sekarang kau terlihat langsing... Aku tidak pernah mengatakannya padamu, tapi dulu lenganku sampai sakit saat aku harus menggendongmu tapi sekarang kau terlihat lebih ringan cintaku...”

Mulut Jodha membulat membentuk huruf O sempurna, Awwww!!! Apa??? Jodha memicingkan matanya dan, dengan amarah yang tertahan dia menggumam, “Aku gemuk... Kakiku... Akan kutunjukkan padamu segemuk apa diriku..”

Jalal menahan tawanya dan melanjutkan gurauannya, “Kuberitahu sesuatu Jodha, dalam enam bulan itu aku berpikir kenapa aku sangat menyukaimu, sikapmu bahkan seringkali keras kepala, kekanakan, jorok, sedikit konyol, kadang-kadang bodoh, tidak sensitif, gila, dan benar-benar tidak waras... lalu aku sadar... Kau tahu sebuah ungkapan... Cinta itu buta... bahkan keledai terlihat cantik seperti peri... jangan salah paham dulu, aku tidak bilang kau seperti keledai, kau memang sangat cantik tapi agak bodoh seperti keledai...” sejenak dia berhenti... untuk mengontrol tawanya yang hampir lepas... dia tahu Jodha pasti tersinggung...

Dia melanjutkan setelah beberapa saat... “Aku telah memikirkan beberapa nama panggilan dalam enam bulan itu... Aku tidak akan lagi memanggilmu Junglee Billi, tapi mulai sekarang aku akan memanggilmu kadal... Karena kau selalu menempel padaku seperti kadal... Aku baru menyadarinya setelah kau pergi... jadi kadal tersayangku... Kenapa kau tidak bicara sama sekali???”

Lila ingin tertawa keras, tapi dia berusaha keras menahan dirinya.... Jodha benar-benar tersinggung dan marah, dia menggumam... Kadal.. benar... Aku akan membunuhmu karena ini Jalal... Marahnya hampir meledak...

Jalal memancing lagi, “Kadal tersayangku, aku telah lama menunggu saat ini...” dengan lembut dia mengecup tangan Lila... secara otomatis Lila menarik tangannya dari genggaman Jalal...

Jalal bertanya lembut, “Jodha, katakanlah sesuatu... Aku tidak tahan lagi berpisah... sesuai tradisi Mughal kita diperbolehkan  berciuman di bibir untuk Mooh dikhai pertama kita.”

Jodha shock membayangkan Jalal akan mencium Lila... sementara Lila juga mulai gemetar ketakutan... Jalal tahu Lila gemetar hebat... Dia tersenyum dan mendekati Lila lalu berbisik, “Lila... Jodha menganggapmu seperti saudara jadi aku juga akan menganggapmu sebagai setengah istriku... jelas aku punya hak untuk menciummu... bukan begitu Lila..”

Secepat kilat Lila membuka ghoongatnya.... Jalal terbahak-bahak... dia bangkit dan tanpa menoleh pada Jalal, dia lari keluar dari kamar itu... Jalal berteriak... “Tunggu Lila... Kita bicarakan malam pertama kita...”

Jalal berjalan ke arah balkon dimana Jodha sedang berdiri tertutup ghoongatnya... dengan cepat dia menarik lepas ghoongatnya, lalu menatap wajahnya dengan marah, “Sesuai tradisi aku harus melihatmu Jodha Begum... ritualnya sudah selesai, aku pergi...”

Sebelum dia melangkah, Jodha menahan pergelangan tangan Jalal dan berkata menyesal, “Jalal, tolong maafkan Jodha-mu???”

Tanpa melihat Jodha dia menjawab dingin, “Jodha, lepaska tanganku... biarkan aku pergi..”

Ketika Jodha menyadari sikapnya, mengabaikan airmata yang dengan mendesak keluar dari matanya, dia berkata pelan, “Jalal, sikap acuhmu akan menghentikan hidupku... Aku tidak tahan jika kau membenciku..” Isakannya melembutkan hati Jalal, dia berbalik dan melihat matanya yang sembab. Mereka berdua saling menatap dengan kedalaman dan kesungguhan cinta..

Dengan lembut Jalal berkata, “Jodha, aku butuh waktu, aku benar-benar kecewa padamu..”

Genggaman tangan Jodha tidaklah kuat jadi dengan mudah Jalal membebaskan tangannya dan mulai melangkah keluar dari kamar itu... Jodha berlari dan menghalangi langkahnya, lalu dengan yakin dia mendorong tubuhnya ke dinding dan mendekatkan tubuhnya sendiri sambil menarik baju Jalal di bagian dadanya, dan melihat lurus ke dalam kehangatan matanya.... Cara Jodha memandangnya membuat Jalal bergairah... dia ingin menarik Jodha dalam dekapannya dan memeluknya erat, tapi di sisi lain dia tidak ingin memaafkan Jodha semudah itu..

Melihat sikap kerasa kepala Jalal, dengan senyum tersungging dia menggesekkan pipinya pada pipi jalal dan mulai merayunya.... Jalal menutup matanya untuk mengendalikan nafsunya... Aroma tubuhnya yang manis merasuk ke dalam pikirannya... Jodha melingkarkan lengannya ke sekeliling lehernya, lalu dia mendekati telinganya dan berbisik dengan penuh rayu, “Shahenshahhh... Hukumlah aku... Kau boleh menghukumku karena kesalahanku sesuka hatimu..”

Mendengar bisikannya yang menggoda, Jalal membuka matanya... Dia menatap mata Jodha, yang sedang dipenuhi gairah dan nafsu... Perlahan Jodha memutar-mutar ujung jarinya di pipi Jalal, lalu berhenti saat mencapai bibirnya, bahkan dia tidak mengalihkan pandangannya sama sekali... Perlahan, sihirnya mulai bekerja pada Jalal... Dia terjebak dalam tatapan penuh gairah itu... Begitu jarinya menyentuh bibirnya, dengan cepat Jalal menarik jari itu masuk ke dalam mulutnya dan menggigitnya lembut... Jodha mendesah, “Ahhh...” Jalal melingkarkan tangannya di sepanjang pinggulnya dan menariknya mendekat menempel pada tubuhnya... Jalal juga tahu Jodha sedang merayunya... dia masih bisa menahan dirinya...

Dengan lembut Jodha mencium pipinya yang lain dan berbisik, “Jalal... bersiaplah untuk menerima hadiahmu..” Suaranya yang sensual dan ciuman itu memunculkan gelombang gairah dalam diri Jalal..

Mereka berdua saling menatap dengan penuh damba... Jalal menatap bibir Jodha yang bergetar... Dia ingin meraup bibir yang memerah itu, setiap inchinya... Kesedihannya terlupakan untuk sementara... dan jantungnya mulai berdetak dengan kecepatan luar biasa..

Bibir Jalal mulai bergetar karena sentuhannya.... Awalnya Jodha mencium bibir itu dengan lembut... Jalal menikmati teksturnya yang licin dan lembab... dia pindahkan tangannya dari pinggul ke punggungnya yang terbuka... dan menariknya lebih mendekat dengan sekali hentakan... Jodha kembali menyesap bibir Jalal... dia tahan bibir bawah Jalal diantara giginya dan mengulumnya diselingi gigitan kecil... Jalal tidak bisa menahan dirinya lebih lama lagi... dia mulia membalas ciuman Jodha dengan penuh nafsu... Kedua tangannya meremas rambut Jodha dan menarik wajahnya mendekat dengan liar dan mencium bibirnya dengan sama panasnya... Diputarnya tubuh Jodha hingga merapat ke dinding dan mengunci kedua tangannya di samping tubuhnya... dan memperdalam ciumannya... lidahnya menyelusup masuk ke dalam mulut Jodha untuk mencecap gairah dalam tubuhnya... Mereka sama-sama terbuai... nafsunya meningkat seirama dengan gairahnya... dengan penuh nafsu dia menggigit dan mengulum bibirnya... Jodha mendesis menahan sakit tapi terlambat bagi Jalal menghentikan semuanya.... Himpitan tubuhnya yang kuat bahkan tidak memberikan ruang bagi Jodha untuk bergerak sedikitpun... Jalal kehabisan napas, tapi gairahnya masih baru dimulai... Dia menyusurkan tangannya ke leher Jodha dan melepas kalungnya yang besar serta cincin hidungnya.... Dia tengadahkan wajah Jodha dan menghujani lehernya dengan ciuman bertubi-tubi... sentuhan Jodha telah menghancurkan kendali dirinya... dia meninggalkan jejak ciuman di lehernya dengan gigitan liar.... Jodha mengerang menyebut namanya, “Jalaaaalllll....” Napas Jodha makin berat.... Saat Jalal melihat Jodha menutup kelopak matanya makin tenggelam dalam buaian gairah, dengan sekali hentakan dia melepas anting-antingnya... dan menggigit cuping telinganya.... saat tubuhnya makin terdesak ke dinding... Jodha menjerit kesakitan, “Ouchh.”... Mendengar rintihannya, akal sehat Jalal kembali dan menyadari dia terlalu jauh bertindak... dia ingat kembali kemarahannya dan kekesalannya pada Jodha... Dia menertawakan dirinya sendiri, lalu mengecup lembut bibir Jodha dan berkata dengan nada ketus, “Jodha begum, aku belum memaafkanmu, aku hanya mengambil hadiahku...” Dia mendorong tubuh Jodha menjauh dan melangkah pergi....

Jodha dengan nada memohon berujar, “Jalal... Kumohon tunggu...” Dengan cepat  dia ambil sebuah manisan dan berdiri di depan Jalal... dia julurkan tangannya untuk menyuapkan manisan itu pada Jalal... Mereka berdua ingat kenangan saat Jalal menyakitinya dulu, tanpa kata ataupun penolakan Jalal memakan manisan itu dari tangan Jodha, lalu Jodha mengangsurkan kotak manisannya pada Jalal dan berkata, “Maukah kau menyuapiku Jalal??”

Jalal menjawab pendek, “Makanlah sendiri...” Dan melangkah menuju pintu....

Jodha berteriak, “Jalal, sampai kau menyuapi aku manisan ini aku tidak akan makan...”

Jalal berhenti dan menoleh ke belakang dengan tatapan sengit... dia berbalik dan melangkah ke arahnya dan tanpa diduga mengeluarkan semua amarahnya yang sudah ditahannya dari tadi, “Jodha, aku bosan dengan semua sikap keras kepalamu... Aku tidak peduli kau makan atau tidak.... Pergilah ke neraka... Setiap kali aku tidak menuruti keinginanmu... Cukup ya cukup...” dia berhenti sejenak dan melanjutkan kata-katanya dengan lebih pelan, “Tolong, jangan memanfaatkan perasaan cintaku... Kau tahu kalau airmata dan keinginanmu adalah kelemahanku... Kau meninggalkan hanya dengan sepucuk surat dan tanpa kata-kata, tanpa persetujuanku... Kau berpikir tentang impianmu dan harapanmu bisa menikah ulang... tapi kau tidak memikirkan aku sekali saja, bagaimana terlukanya hatiku...??? Kita bertemu lagi setelah enam bulan, teganya kau meninggalkan aku lagi hanya dengan sepucuk surat... Aku bisa mengerti semua yang kau tulis dalam surat itu dan aku tidak mempermasalahkannya, tapi sikapmu yang pergi saat aku masih tertidur... Kau benar-benar menyakiti perasaanku... Aku tidak akan semudah itu memaafkanmu dan jangan ngancam tentang tidak akan makan di depanku... Aku peringatkan, jangan uji kesabaranku, aku sedang sangat kecewa...” Dengan mata sembab Jalal bergegas keluar dari tempat itu... Jodha terhenyak melihat kekecewaan di wajahnya, dia baru menyadari bahwa tindakannya selama ini salah...

Jalal tertekan mengingat kembali kemarahan dan kekecewaan yang ditumpahkannya pada Jodha... Dia tidak ingin menyakitinya dengan kata-kata itu tapi dia memang berharap terlalu banyak pada Jodha daripada begumnya yang lain... Sikapnya selalu berbeda pada Jodha... Dia satu-satunya yang selalu menjadi penenang dalam kemarahannya... Airmatanya dan suara yang merdu melembutkan perasaan Jalal....

* * * * * * * * * * * *


FF: Is It Hate or Love Chapter 35 Part 2

2 comments:

  1. ckckckckck....katanya kangen koq berantem lagi hiks hiks hiks....

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.