FF: Is It Hate or Love Chapter 35 Part 3 - ChusNiAnTi

FF: Is It Hate or Love Chapter 35 Part 3


Written by Bhavini Shah
Translate by Tyas Herawati Wardani


Dengan sedih Jodha keluar dari kamarnya dan melihat Ammi Jaan dan Salima Begum.... Dia berlari dan memeluk Ammi Jaan dengan erat sambil menangis... Hamida melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya dan mengecup keningnya- “Jodha... Anakku... Aku senang sekali bisa melihatmu.... Betapa bahagianya aku...” Lalu dia berkata dengan nada tegas, “Ayo... Jangan menangis lagi... Dengan anugerah Tuhan semuanya akan baik-baik saja..”

Jodha bertemu dengan yang lainnya... Setelah melihat semuanya wajahnya kembali bersinar karena bahagia...
Reva dan Jodha berpelukan sambil menangis... Reva menceritakan semuanya tentang bagaimana Jalal menjaga nyala lentera di kuil Kanah dan setiap malam dia tidur di kamar Jodha... Bagaimana Jalal menyibukkan dirinya bekerja hingga larut malam... dia tidak bisa tidur pada malam harinya... Senyumnya yang hilang dan bagaimana dia menjalani kehidupan dengan senyum palsunya tiap hari... Jodha menyadari bagaimana sengsaranya hidup Jalal tanpa dirinya dan dia bisa mengerti kemarahannya... kesedihannya karena perpisahan untuk yang kedua kali...
Dia memutuskan untuk membujuknya entah bagaimana caranya... Dia mencoba beberapa kali mengajaknya bicara tapi setiap kali itu pula dia membuat alasan dan menghindarinya... Setiap usahanya justru membuat Jalal makin marah...
Suatu siang... Jodha beristirahat bersama Sukanya dan Shivani... Jodha perhatikan, Sukanya beberapa kali bertanya tentang Surya selama beberapa hari kemarin dengan cara yang berbeda-beda... Kali ini dia bertanya lagi apakah Surya akan datang atau tidak di pesta pernikahannya.... Jodha menatapnya dan menggodanya, “Kenapa kau begitu penasaran tentang Surya?”
Dengan sedikit kalut Sukanya menjawab, “Tidak apa-apa hanya bertanya, Jiji..”
Shivani menimpali karena ingin menggoda Sukanya, “Jodha Jiji, kau tidak tahu alasannya?? Sukanya Jiji jatuh cinta pada Surya...”
Ketika Jodha memandang Shivani dan Sukanya dengan bingung, Shivani menambahkan, “Jiji, tunggu aku akan menunjukka sesuatu padamu,” lalu dia menarik lukisan Jodha dan Surya sedang bermain bersama dari bawah tempat tidur Sukanya....
Jodha tersenyum kecil dan menatap Suku lalu bertanya, “Sejak kapan kau menyukai Surya, Sukanya?”
Dengan tersipu Sukanya menjawab, “Jiji... Kau tahu... Aku menyukainya sejak kecil, tapi sepertinya dia mencintaimu..”
Jodha menjawab pelan, “Sukanya.... Bukan seperti itu... Aku dan Surya hanya berteman baik... tidak lebih... Dan kau tahu benar aku sangat mencintai Shahenshah. Tapi aku sulit percaya, bagaimana mungkin aku tidak menyadari kau sudah menyukai Surya selama bertahun-tahun... Dengar, Surya dan Kanika akan datang hari ini.... Begitu aku punya kesempatan aku akan cari tahu apakah Surya punya perasaan yang sama denganmu..” Sukanya merasa malu mendengar itu..
(Lagu background untuk paragraf selanjutnya)
Bilamana mataku yang tidak bisa kuatur bisa dimaklumi
Setiap kali mataku melirik padamu,
Dan lidahku tak berhenti bicara, itulah yang ingin kukatakan padamu.
Mungkin mataku yang pemalu bisa dimaklumi
Mataku selalu tertuju padamu
Yang tidak terkatakan oleh mataku saat memandangmu, mata yang tertunduk sudah menunjukkannya.
Bilamana mataku yang tidak bisa kuatur bisa dimaklumi
Aku akan mewarnai bibirmu denga setitik kohl
Aku akan menyinarimu dengan sinar dari matahari dan bulan.
Menyingkirlah ke balik bulu mataku, aku akan menyembunyikanmu disana.
Bilamana pikiran nakal ini bisa dimaklumi.
Dengan setiap tarikan napas (mataku) memikirkan dirimu, dan meski seluruh dunia tetap berputar.
Bilamana mataku yang pemalu bisa dimaklumi.
Hidup ini (milikku) akan kupercayakan padamu.
Cintaku padamu akan bersemayam terus dalam hatiku.
Meski hanya untuk bernapas, aku akan selalu membutuhkanmu
Bilamana kebodohan hatiku bisa dimaklumi.
(Matamu) mendengar kata-kataku.
(Mata ini) yang selalu gelisah karena gairah, mereka menguntai mimpi-mimpi baru.
Mataku yang pemalu bisa dimaklumi.

Semua orang menikmati prosesi pernikahan itu... Suatu hari menjelang sore, Jalal sedang duduk di Diwan bersama Raja Bharmal, mereka mendiskusikan beberapa masalah politik... Jodha duduk di belakang Raja Bharmal di sudut sofa bersama Lila... dan Jalal duduk bersebarangan dengan Raja Bharmal..
Lila menggoda Jodha, saat Jalal mengelabui dirinya, tapi mata Jodha fokus melihat ke arah Jalal... setiap detiknya, Jodha dan Jalal saling mencuri pandang.... Jalal berpura-pura marah... Jodha membalasnya dengan senyuman manis tiap kali pandangan Jalal jatuh ke arahnya, Jodha menarik kedua telinganya dan meminta maaf atas kelakuannya... Dengan isyarat mata dan ekspresi wajahnya Jalal menjawab ‘Tidak’.... dan berlagak mengacuhkannya dan berkonsentrasi kembali pada pembicaraannya dengan Raja Bharmal... Jodha memperhatikan kalau Jalal kembali mengalihkan perhatiannya pada Ayahnya... dan sekali lagi Jalal mengabaikannya... Untuk merusak konsentrasi Jalal, dia bangkit dari duduknya dan melambaikan kedua tangannya untuk menarik perhatian Jalal ke arahnya... Jalal menatapnya dengan ekspresi marah, ‘Apa lagi yang dilakukannya?’... kali ini dia menangkup kedua tangan di depan dada dan membungkuk meminta maaf... Jalal membuang pandangannya ke arah lain untuk menyembunyikan senyum di wajahnya... Sebagai manusia biasa, dia juga penasaran apa yang akan dilakukan Jodha selanjutnya, perlahan dia mengintip melalui ujung matanya... Kali ini dengan ekspresi menggemaskan Jodha menarik kedua telinganya sambil memutar bola matanya ke atas bawah dengan cepat... Jalal tidak bisa lagi menahan tawanya...
Dia menyukai aksi kecil Jodha... Jodha sudah merusak konsentrasinya sejak awal... Mustahil baginya untuk menahan diri, lalu Jalal melihat ke arah Jodha lagi... kali ini dia bertingkah seperti anak kecil berumur 5 tahun, dia mulai berlagak menangis dan memutar tangannya di dekat matanya... Jalal tersenyum sambil mencoba menahan tawa. Setelah melihatnya tersenyum... tanpa membuang waktu lagi, Jodha menempelkan jarinya pada bibirnya dan menatapnya mesra. Jalal salah tingkah melihat tingkahnya yang menggoda dan dramatis di depan seorang Raja ...
Raja Bharmal juga memperhatikan kalau Jalal beberapa kali mencuri pandang ke arah sudut matanya... Dia memutar kepalanya ke belakang dan tepat melihat saat jari Jodha menempel di bibirnya sambil menatap Jalal dengan senyum menggoda di wajahnya... Raja Bharmal sedikit gugup tak percaya melihat itu semua... Dia tersenyum kecil melihat tingkah Jodha yang jahil... Dia paham sekali kenapa Jalal merasa terganggu dan konsentrasinya pecah... Dengan lembut Raja Bharmal memanggil, “Jodha...”
Jodha terkejut dan baru ingat kalau ayahnya ada disana... Dengan gemetar dia menjawab, “Ya... Bapusa..”
Raja Bharmal berkata kalem, “Jodha, pergi ambilkan minuman dan makanan untuk Shahenshah...”
Dia bangkit dari sofa, dan menjawab dengan terpaksa, “Baik Bapusa..”
Sebelum pergi, dia sempat menatap Jalal dengan tatapan mesra dan melihat ke sekelilingnya untuk memastikan tidak ada yang memperhatikan.... Dia membalikkan punggungnya dan menyibak rambutnya ke depan dan membiarkan punggungnya terbuka dengan sengaja untuk menggodanya dan mulai melangkah perlahan sambil bersenandung dengan suara seksinya...
Jalal menatap ke arah lekuk pinggulnya yang seksi dan semua aksinya... Dia tersenyum kecil dan berdiri, lalu berpamitan sebentar dengan Raja Bharmal... Raja Saheb juga tersenyum kecil setelah Jalal pergi....
Dia berjalan cepat ke arah Jodha dan berhenti tepat di hadapannya... Dengan senyum sensualnya dia mendekati tubuh Jodha... dia berhenti tepat di dekat bibirnya.... Bersikap seolah hendak menciumnya di depan Lila... Lila salah tingkah melihatnya berdiri sedekat itu dengan Jodha... Tapi secepat itu pula dia menyibakkan rambut Jodha ke balik punggungnya dan dengan lihai dia melengos pergi... Jodha berbalik dengan wajah cemberut... Pada saat yang sama Jalal juga berbalik dan mengedipkan matanya...
Keluarga Jalal dan Jodha berkumpul di ruang makan yang besar untuk makan malam... Jodha belum makan apapun sejak Jalal datang... Jodha dan Jalal duduk bersebelahan.... Setelah hidangan disajikan Jodha berbisik dengan nada sinis di telinga Jalal, “Shahenshah... hati-hatilah... cabe dari Amer sangat pedas... Bisa-bisa kau terbakar...”
Jalal membalas dengan nada yang sama, “Belakangan ini, Cabe dari Amer kehilangan rasa pedasnya... Aku tidak merasa pedas sama sekali... Dulu rasanya enak ketika aku mencicipinya saat di Agra tapi sekarang rasanya tidak cukup pedas...” Jodha menatapnya dengan pandangan marah...
Semua orang mulai makan... Sesuai rencana, Lila berkata “Jodha, kenapa kau tidak menyuapkan manisan ini pada Shahenshah???”
Jalal langsung tahu semua itu sudah direncanakan... Dia memberengut pada Jodha.... Jodha membalasnya dengan tatapan jahil dan mengulurkan tangannya untuk menyuapkan manisan, Jalal menahan tangan itu dan memakan manisannya...
Lila juga meminta, “Shahenshah, kau juga harus menyuapkan manisan ini untuk Jodha...”
Jalal berdalih, “Ohhhh tidak, Lila.... Jodha tidak suka manisan lagi.... Dia hanya menyukai cabe Amer..”
Keduanya saling berpandangan dengan sengit.... Juga marah. Jodha berdiri tidak menyentuh makanannya dengan alasan tidak lapar dan meninggalkan ruangan itu... Jalal juga tidak lagi berselera,  tanpa berkata apa-apa dia habiskan makanannya  dengan cepat... Semua orang kemudian berkumpul di hall utama usai makan malam... Jalal terus memandang Jodha yang masih marah dan cemberut... Tapi gadis itu tidak melihat ke arahnya satu kali pun... Dia duduk bersama Lila dan mengobrol sepanjang waktu dengan sengaja mengacuhkan keberadaan Jalal di sana...
Sebuah pengumuman disampaikan dengan lantang bahwa Raya Suryavadan memasuki hall utama dimana semua orang sedang berkumpul dan mengobrol dengan santai... Jodha dan Lila sama-sama terlonjak dari tempat duduk mereka untuk menyambut Surya.... Jodha menoleh ke arah Sukanya dengan senyum kecilnya... Langsung saja wajah Sukanya bersemu merah.... Jodha memerintahkan Moti mengambilkan Aarti untuk menyambut Surya... Semua terkejut dengan perilaku Jodha, kenapa dia begitu perhatian pada kedatangan Surya... Surya memeluknya hangat dan memberikan salam dengan tulus “Selamat”... Sikap Surya yang sopan dan terhormat ditambah caranya memandang Jodha telah berubah... Jalal bisa merasakan Surya sudah tidak lagi terobsesi pada Jodha...
Jodha bertanya, “Surya, Apa yang terjadi pada Kanika, seharusnya dia datang bersamamu..”
Dengan bercanda dia menjawab, “Jodha, kau tahu bagaimana Kanika! Kami datang pada saat yang bersamaan ke istana... Tapi dia harus memperbaiki dandanannya terlebih dahulu jadi jangan khawatir dia akan bergabung dengan kita dalam waktu satu atau dua hari...” Semua orang tertawa...
Setelah beberapa menit, Kanika memasuki hall utama dan mengejutkan semua orang.... Separuh dari mata pria yang disana hampir melompat keluar dan mulut mereka ternganga lebar melihat baju seksi yang dikenakannya... Dia mengenakan chania yang menggantung sangat rendah di pinggulnya dengan belahan samping yang cukup tinggi, mempertontonkan sebagian kakinya dari samping... Dan blus yang berpotongan sangat rendah tanpa lengan...memperlihatkan sebagian dadanya lebih dari yang seharusnya dan juga dengan belahan rendah.... Dupatta-nya hanya dikenakan pada satu sisi saja... Lehernya dihiasi kalung yang berat tapi hanya menutupi lehernya saja... Dia benar-benar terlihat seksi dan cantik dengan make up dan gaya rambutnya...
Surya menggumam sambil memandangnya tak berkedip, “Ohhh..wow... Jodha, Dia sudah berdandan dan sudah berganti pakaian juga...Ohh.. Sepertinya dia terlalu terburu-buru hingga lupa mengenakan bagian pakaiannya yang lain...”
Lila dan Jodha sama-sama memandang Surya tak suka.... Surya baru sadar dia memandangi Kanika lebih lama dari yang seharusnya.... Jodha duduk di sebelah Jalal... Jodha menoleh pada Jalal, dia juga sedang menatap ke arah Kanika dengan penuh nafsu tanpa berkedip... Dengan geram Jodha mencubit lengan Jalal... Jalal meringis kesakitan “Ouch...” Jodha bangkit untuk menyambut Kanika... Surya dan Jalal mengikutinya...
Jodha sedikit menyindir, “Selamat datang Kanika... Bagaimana kabarmu?? Tapi kau terlihat sehat... Dan semakin lama kau terlihat makin dewasa tapi baju yang kau kenakan semakin pendek dan  pendek..”
Kanika membalasnya, “Jodha, sepertinya kau iri pada kecantikanku...”
Sebelum pembicaraan mereka makin panas... Jalal berkata dengan riang, “Bagaimana kabarmu Kanika... Sungguh kau terlihat seksi dan cantik dengan pakaian ini..”
Jodha menatap Jalal dengan marah... Jalal menyeringai untuk menggodanya...
Sambil melihat ke arah Jalal, Jodha berkata, “Kau tahu Kanika, Shahenshah benar, Kau memang terlihat cantik dengan gaun ini... Aku juga menyukai gaunmu, jadi besok pada saat pesta aku pasti akan mengenakan pakaian seperti ini dengan warna hijau... Kau tahu Shahenshah menyukai warna hijau...”
Jalal langsung menanggapinya dengan marah, “Apa?? Kau akan mengenakan gaun seperti ini Jodha???”
Dengan lihai Jodha menjawab dengan polosnya, “Kenapa tidak Shahenshah?? Kau baru saja memuji gaun Kanika lalu kenapa aku tidak memakainya juga??? Mulai sekarang aku akan memakai gaun seperti ini saja.” Lalu dia memanggil Moti dan berkata, “Kirim orang untuk membawa penjahit kemari segera, aku ingin memesan gaun untuk pesta besok..”
Dengan amarah yang tersulut Jalal menarik Jodha ke salah satu sudut ruangan dan berteriak, “Jodha, apa yang kau katakan??? Kau akan memakai gaun murahan seperti itu... Apa kau sudah gila??? Kau sudah lupa kalau kau adalah Malika E Hindustan??? Betapa tidak terhormatnya dirimu Jodha... Kemana harga dirimu sebagai Rajvanshi Amer??? Kau masih punya rasa malu atau tidak???”
Jodha berteriak balik padanya dengan kemarahan yang sama, “Kau tidak perlu mengajariku tentang sopan santun Shahenshah, Kemana sopan santunmu saat kau memandang Kanika dengan penuh nafsu... Aku bisa melihat dari matamu kalau kau juga membayangkannya...’Oh Kanika.. Kau terlihat cantik dalam gaun ini?’ Well, kemana rasa malumu saat memujinya di depan banyak orang??? Aku tidak menjijikkan, kau yang menjijikkan...”
Jalal tersinggung, “Cukup dengan dramamu.... Kenapa kau tidak mengakui saja kalau kau cemburu pada Kanika... Kau tidak rela kalau aku memujinya...”
Jodha benar-benar tidak bisa menahan amarahnya lagi, tanpa berpikir dua kali dia membalas semua kata-katanya dengan lebih sengit, “Kau tahu, aku tidak peduli... Aku tidak cemburu pada siapapun... Kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan.... Kenapa kau tidak pergi saja dan tidur dengan Kanika malam ini untuk memuaskan nafsumu....”
Amarah Jalal sudah sampai pada puncaknya, dia menampar Jodha dengan sekali gerakan dan berteriak, “Beraninya kau???”

* * * * * * * * * * * *


FF: Is It Hate or Love Chapter 35 Part 3

2 comments:

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.