FF: Is It Hate or Love Chapter 35 Part 4 - ChusNiAnTi

FF: Is It Hate or Love Chapter 35 Part 4



Written by Bhavini Shah
Translate by Tyas Herawati Wardani

Jalal baru sadar dia sudah menamparnya dalam kemarahan...Cepat-cepat dia menenangkan diri dan berkata dengan nada menyesal, “Jodha, tidak perlu kuberitahukan lagi berapa banyak wanita di Haremku... Tapi bagaimana bisa kau memandangku serendah itu... Aku tidak peduli tentang Kanika... Aku hanya dan hanya mencintaimu Jodha...”

Air mata Jodha mulai membasahi wajahnya... Dia menatap Jalal dengan perasaan terluka, sedih dan berlari pergi dari sana...
Kanika melihat seluruh kejadian itu dari sudut ruangan. Dia menyeringai dan bicara pada dirinya sendiri, “Jodha, sekarang aku akan membalas dendam untuk tahun-tahun yang telah berlalu... Sekarang aku tahu kelemahanmu... Kau dulu selalu mengalahkanku.... Sekarang giliranmu... Aku akan merayu Jalal dan tidur dengannya... Aku ingin lihat kau tidak berdaya dan menangis di sudut ruangan...”
Pada malam harinya... Jalal duduk sendirian dengan sedih di Diwan, dan Jodha juga duduk sendirian di sebuah bangku di luar... Jodha juga merasa menyesal pada Jalal.... Dia merasa bersalah atas apa yang telah terjadi... Dia bisa memahami sikap Jalal...gaun itu memang tidak pantas dikenakan oleh wanita terhormat manapun... Tapi dalam kemarahannya yang membabi buta... Dia tidak bisa mengendalikan dirinya dan kata-katanya telah menyakiti perasaannya... Ketika Jalal masih kecewa akan sikapnya, dia membuat Jalal lebih kecewa lagi karena dia berkeras mengenakan gaun itu dan menyinggung perasaannya...
Lila melihat Jodha duduk merana di bangku itu... Dia tahu temannya sedang bersedih jadi dia ingin menghiburnya... Dia duduk di sebelah Jodha dan mulai mengajaknya bicara-“Sangat indah dan menyenangkan berada di luar sini....”
Jodha tersenyum padanya dan menjawab-“Kau benar, hari ini sangat indah...” Dengan nada datar Lila berkata-“Jodha, kau dan Shahenshah sering bertengkar tapi saling mencinta...” Jodha tersenyum manis pada Lila..
(Jalal yang sedang duduk di dalam Diwan di dekat jendela... Bisa mendengar obrolan mereka dengan sangat jelas.)
Lila tersenyum menggoda dan berkata-“Jodha, Shahenshah-mu adalah orang yang sangat romantis...”
Tiba-tiba Jodha lupa pada semua kesedihannya dan menjawab dengan penuh semangat-“Lila, aku tidak sabar menceritakan padamu semua tentang dirinya... Dia sangat mencintaiku hingga dia tidak bisa jauh dariku bahkan hanya untuk sedetik saja... Tidak peduli betapa kecewa dan marahnya dia padaku, namun ketika dia melihatku menangis maka semua amarahnya akan luruh saat itu juga... Seluruh Sultanat menganggapku sebagai penjahat dan semua bukti mengarah padaku dan Rukaiya Begum menghukumku di Diwan, tapi kepercayaan Jalal padaku tidak goyah... Dia bersedia mengubah peraturan atau meninggalkan kesultanan demi cinta kami... Lila, kau ingat pertemuan terakhir kita aku berkata aku iri padamu dan aku juga berkata kau adalah wanita yang paling beruntung...”
Lila tersenyum melihatnya ceria dan penuh semangat-“Tentu, Jodha, mana mungkin aku lupa... Kau sangat sedih hari itu, hatiku juga ikut sedih melihatmu... Dan sepuluh bulan terakhir, aku sangat mencemaskanmu... Kau tidak mengirimkan satu lembar suratpun untukku...”
Jodha berkata dengan menyesal-“Maaf Lila... Aku sedang melewati banyak masalah jadi aku tidak mengirimkan pesan padamu, tapi aku akan mengirimkan surat setiap bulan untukmu dan kau harus menjawabnya... Lila, kau tahu setelah kami mengakui perasaan masing-masing, aku merasa menjadi wanita paling beruntung di seluruh muka bumi... Tidak bisa disangkal bahwa suamiku memiliki banyak wanita dalam hidupnya, tapi jantungnya hanya berdetak untukku... Dia sangat mencintaiku dan aku juga sangat mencintainya... Aku tidak bisa menjelaskannya dalam kata-kata untukmu, tanpa dirinya aku merasa hampa... Ketika kami terpisah, aku bernapas, tapi jantungku berhenti berdetak tanpanya... Kau tahu setiap kali aku memandangnya, jantungku berdetak sangat cepat bahkan aku bisa mendengar detak jantungku sendiri... Saat dia memandangku penuh cinta... Rasanya hidupku penuh warna... Kau ingat kita sering membayangkan tentang cinta saat kita masih kecil... Dan biasanya kita menertawakan orang yang menjadi gila karena cinta... Itu benar... Aku tergila-gila padanya... Aku tidak bisa menjelaskannya, saat aku melihatnya dari atas balkon pagi ini... Kebahagiaanku tak terkira... Satu sentuhan kecil darinya membuatku bergetar... Kau tahu saat dia pergi untuk urusan politik selama berhari-hari... Aku hanya akan duduk di teras dan menunggunya pulang... Kau tahu, aku bisa merasakan jika dia terluka... Ketika kau jatuh cinta... Rasa sakitmu tidak aka ada apa-apanya dibandingkan rasa sakitnya... Kau hanya ingin menyerahkan dirimu untuknya... Setetes air matanya bagai sembilu dalam hatiku dan senyumnya adalah kebahagiaan untukku dan membuatku merasa sempurna... Saat kekasihmu bersedih... Tidak ada kesedihan yang mampu kau tanggung lebih dari itu...
Jodha menjadi sangat sentimental hingga dia memeluk Lila dan berkata-“Aku akan meminta maaf pada Shahenshah karena telah menyakiti perasaannya dengan kata-kataku yang buruk hari ini... Aku sebenarnya tidak bermaksud begitu, aku tidak tahu kenapa aku sangat marah pada Kanika... Kau tahu Lila... Kanika selalu menghinaku dan berusaha mempermalukan aku dan menjatuhkan diriku di depan banyak orang... Dia selalu ingin bersaing denganku... aku tidak terima jika Jalal memujinya... Bukan karena aku tidak mempercayai Jalal, tapi aku benci Kanika...Hanya karena, kami punya hubungan politik maka aku tidak bisa menghindarinya... Tapi aku yakin pada satu hal, dia tidak akan bisa merendahkanku atau mencoba untuk menyakitiku...
Jalal menguping seluruh pembicaraan itu dan membuat matanya sembab... Dia telah memaafkan Jodha... Kata-katanya membuat hatinya melambung... Dia sangat bahagia mendengar semua isi pembicaraan Lila dan Jodha... Kemarahannya mencair seketika... Dia sudah tahu kalau Jodha mencintainya sangat dalam, tapi mendengarnya langsung dari mulutnya seakan mengirim dirinya memasuki dunia JODHA... Seakan dia terbang dari dunia ini... Dia ingin memeluknya dan menciumnya selamanya... Tapi dia memilih untuk tidak mengganggu obrolan kedua wanita itu... Dan pergi masuk ke kamarnya dan tidur dengan damai...
Jodha bangun pagi-pagi sekali karena hari itu akan menjadi hari yang sangat sibuk... Dia ingin meminta maaf pada Jalal dan mengajak bicara Surya tentang Sukanya secepatnya... Dia menyelesaikan doa dan tulsi pooja-nya... Dia melihat Jalal sedang berlatih pedang... Jodha memandangnya tanpa berkedip...Otot-ototnya, peluhnya, tubuhnya mengkilap di bawah sinar matahari... Jodha membawa nampan Aarti dan berjalan mendekatinya. Jalal tersenyum lembut pada Jodha...Wanita itu terlihat segar seperti kelopak mawar yang baru mekar... Beberapa tetes air berkilauan di wajahnya... Rambutnya yang ikal dan basah membuatnya makin menggoda... Jantung Jalal mulai berdetak cepat...
Dengan kalem, Jodha memberi salam-“Pranam Shahenshah...” dan mengulurkan nampan aarti padanya...
Jalal tersenyum lebar dan menjawab salamnya dengan Adab lalu mengambil Aarti dan Prasad darinya... Lalu seperti kebiasaannya dia mengambil sejumput Sindoor dan mengisi maang-nya dan mengecup keningnya denga penuh cinta...Mereka saling berpandangan dengan penuh kasih... Jalal kembali teringat semua percakapan semalam... Dia mengambil alih nampan dari tangan Jodha dan meletakkannya di samping, lalu mengambil handuk berwarna merah dan menyeka keringatnya dan menutupi tubuh atasnya dengan handuk itu...
Masih menatap mata Jodha, dia berkata lembut-“Jodha, aku ingin mengatakan sesuatu padamu...”
Jodha juga berkata pada Shahenshah, “Aku juga ingin membicarakan sesuatu denganmu... Jika kau mengijinkan aku ingin mengatakannya lebih dulu.”
Dengan isyarat matanya, Jalal mempersilakannya...
Jodha bicara dengan nada menyesal-“Shahenshah, kumohon maafkan aku... Aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku, tapi aku sudah melakukan kesalahan yang besar..” matanya terselubungi dengan air mata...
Jalal menangkup wajahnya dan menyeka air mata itu, lalu dia memeluknya dengan hangat... Jodha menyandarkan kepalanya di dada Jalal yang terbuka-“Jodha, aku juga bersalah... Seharusnya aku tidak menamparmu... Aku membuat kesalahan besar dalam kemarahanku juga...”
Tiba-tiba Jodha melepaskan tubuhnya dari pelukan Jalal dan berkata-“Kau benar Shahenshah...Itu salahmu, dan tidak tahu kenapa aku cemas sepanjang malam... Dan menyalahkan diriku sendiri...”
Jalal menyeringai dan berkata-“Jodha Begum, sebenarnya kita berdua sama-sama bersalah.”
Jodha langsung memotong-“Aku setuju, Shahenshah, kita berdua bersalah, tapi kesalahanmu lebih besar... Tapi tenang saja aku orang yang berhati besar... Aku memaafkanmu..”
Kanika memperhatikan semua gerak-gerik pasangan kekasih itu, dengan sengaja ingin mengganggu mereka, dia mendekat ke arena latihan dan berkata dengan suara keras pada Jalal-“Adab Shahenshah..”
Jodha melihatnya dengan aneh dan berkata... “Astaga Kanika... Kau berubah-ubah seperti bunglon saja...Pranam berubah menjadi Adab... Bahkan sekarang kau malu bicara dengan bahasa aslimu...”
Kanika memandang remeh ke arah Jodha.. “Ohh tidak Jodha... Anggapanmu salah.... Aku hanya mencoba menunjukkan pada Shahenshah bahwa aku mudah menyesuaikan diriku di semua tempat, orang dan keadaan... Perubahan sangat dibutuhkan... Kurasa kau tidak akan mengerti hal itu... Bandingkan gaunmu dan milikku.... Aku bisa berubah makin baik sedangkan kau masih tetap sama seperti dulu...”
Jalal juga merasa terganggu dengan kata-kata Kanika... Dengan pandangan mencemooh dia menimpali.. “Kanika... Kau pasti tidak tahu berapa banyak perubahan yang telah dialami Jodha dalam hidupnya...Namun dia tetap mempertahankan bahasa dan budayanya... Dua hal itu adalah identitas seseorang... Dan semua orang tidak seharusnya merubah hal itu demi orang lain... Ditambah lagi Jodha-ku adalah wanita yang suci dan terhormat.... Dia tidak butuh perubahan dalam hal berbusana agar terlihat lebih cantik... Tapi memang... Kau tidak akan mengerti hal itu..”
Kanika sadar sepertinya Jalal tidak terima jika Jodha dihina... Jadi dia merubah strateginya... Dan berkata... “Shenshah kau salah, aku dan Jodha selalu berbicara seperti ini... Pemikiran kami selalu berbeda... Aku tidak bermaksud menyinggung Jodha... Aku tahu dia cantik, kalau tidak, mana mungkin kau menikahinya...”
Jodha makin tidak suka mendengarnya, namun dia sudah terlambat untuk Ganesh Sthapna Pooja... Jadi tanpa meladeni argumennya lagi dia berkata-“Tidak apa Kanika... Aku sudah terbiasa dengan gaya bicaramu... Jangan khawatir... Aku sudah terlambat untuk Ganesh Pooja... Sampai bertemu lagi...” setelah mengatakan itu, Jodha pergi...
Jalal juga sudah selesai dengan latihannya... Dan Kanika memanfaatkan kesempatan itu untuk mendekati Jalal... Dengan sedikit merayu dia berkata... “Shenshah... Aku ingin mengenalkanmu pada beberapa temanku... Maukah kau ikut denganku...”
Sebenarnya Jalal tidak ingin bersamanya tapi permintaannya tak mungkin dia tolak...Mereka berjalan berdua menuju ke dalam istana... Kanika melihat sebuah batu besar di tengah jalan... Dan dengan sengaja tersandung dan jatuh ke arah Jalal... Jalal melihatnya jatuh dan secara otomatis menahan tubuhnya... Kanika berpura-pura terluka di kakinya... dan luka itu berdarah... Dia berteriak kesakitan... Dan bersikap seolah dia kesulitan berjalan... Berlawanan dengan kata hatinya, Jalal membopong tubuh Kanika menuju kamarnya... Jalal merebahkannya di atas tempat tidur dan berkata “Aku akan memanggil Jodha”... Sebelum dia sempat pergi... Kanika menarik tubuh Jalal dengan sekali hentakan... Jalal hampir jatuh menimpanya... Dengan pandangan penuh nafsu Kanika melingkarkan tangannya ke sekeliling tubuh Jalal... Dan mulai menciuminya dengan liar..Gerakannya sangat cepat... Bahkan Jalal terlambat menyadarinya...
Salah satu pelayan mengabarkan pada Jodha bahwa Kanika terluka dan Shenshah membawanya ke kamarnya...
Jodha terlihat khawatir dan berlari menuju kamar kanika untuk memastikan kondisinya... Dan melihat  tubuh Jalal berada di atas Kanika, memeluknya, dan Kanika menciumnya...Matanya membelalak tak percaya... Setetes air mata keluar dari kelopaknya... Dia berteriak-“Jalal...”
Saat Jalal mendengar suara Jodha, dengan sekali hentakan kuat dia menjauhkan tubuhnya dari Kanika... Dengan cepat dia berbalik menghadap Jodha yang sedang melihatnya dengan tatapan terluka.... dia tersentak melihat Jodha yang menatapnya dengan nanar... Jodha hanya berdiri kaku seperti patung, air mata mengalir di wajahnya... Melihatnya membeku seperti itu Jalal mengguncang tubuhnya... Jodha menatapnya terluka.... Suaranya tercekat di tenggorokannya, Jalal sangat takut... Dia tidak sepenuhnya bersalah tapi Jodha melihatnya dalam posisi yang mencurigakan, berpelukan dan berciuman. Dia bingung harus berkata apa, bagaimana dia bisa membuktikan dirinya tidak bersalah... Jalal menangkup wajah Jodha dan memeluknya dengan erat, namun dia hanya bisa berkata-“Jodha... Kumohon percayalah padaku... Aku tidak melakukan apa-apa..”
Jodha kembali dari keterkejutannya dan berkata dengan suara keras dan tegas-“Shahenshah. Kumohon hentikan, aku tidak ingin mendengar apapun...”
Kanika senang sekali karena dia berhasil dalam rencananya... Dia tahu Jodha akan segera lari padanya...
Dengan cepat Kanika berkata-“Jodha, kumohon maafkan aku, Aku dan Shahenshah, Kami terlena karena sentuhan kecil tadi... Dan Shahenshah juga terpesona pada kecantikanku... Aku terluka dan dia menggendongku dengan tangannya yang kuat, tubuh kami menempel, kami saling mendengar detak jantung kami dan darah muda kami yang bergejolak membuat kami tidak sadar kapan kami mulai saling memeluk dan saling berciuman... Jodha aku sungguh minta maaf, tapi kami berdua tidak bisa menahan diri...”
Jalal membantahnya-“Jodha, aku tidak melakukan apa-apa...”
Sebelum Jalal meneruskan kata-katanya... Jodha malah bertepuk tangan dan berkata-“Woww Kanika... Aku sudah tahu kalau kau akan melakukan segala cara untuk menjatuhkanku tapi aku tidak mengira kau bisa melakukannya sampai serendah ini... Aku benar-benar jijik padamu hari ini Kanika... Aku marah dan menyesal pernah menganggapmu sebagai temanku... Dan kau kira cinta kami selemah itu hingga aku akan percaya pada aktingmu dan tidak mempercayai Jalal... Jalal tidak akan menyentuhmu meski kau membuka semua bajumu dan telanjang di depannya... Dia sudah punya ribuan wanita sepertimu di Harem-nya... Jadi jangan pernah berpikir kau bisa memisahkan kami dengan caramu yang kotor dan menjijikkan... Dan selama keyakinanku masih kuat maka keyakinanku pada Jalal juga tetap kuat, bahkan jika Tuhan sendiri yang datang dan mengatakan padaku bahwa Jalal telah mengkhianatiku, aku tidak akan percaya pada Tuhan, lalu siapa dirimu... Begitulah kepercayaanku pada suamiku...cintaku... Kuminta kau jangan muncul lagi di depanku...”
Kanika terkejut dengan respon Jodha... Dia tidak percaya rencananya yang sempurna telah gagal... Dia merasa tak percaya dengan kepercayaan Jodha pada Jalal...
Sambil memandang Jalal, Jodha berkata dengan tenang-“Jalal, sudah waktunya untuk Ganesh Pooja, maukah kau pergi dan membersihkan tubuhmu...”
Jalal terpaku mendengarnya... Dia membeku karena sikap Jodha... Air matanya jatuh. Bahkan dia tidak tahu, dia harus merasa bahagia atau sedih, tapi sungguh mengejutkan baginya menyadari setinggi apa kepercayaan Jodha pada dirinya... Bahkan saat tampak jelas dia memeluk dan Kanika menciumnya, kepercayaannya tidak goyah sedikitpun... Sungguh sulit untuk memahaminya, betapa tenang Jodha menghadapi semua itu...
Jalal membersihkan diri dengan cepat... Dia khawatir... Dan masih bingung dengan reaksi Jodha tadi, dia ingin bicara dengan Jodha sebelum puja dan memastikan bahwa dia tidak kecewa dan menyembunyikan kemarahannya dari dirinya. Dia ingin memastikan, apa yang dikatakannya itu memang yang sesungguhnya... Dia justru takut dengan sikap tenangnya... Dia ingin memastikan Jodha baik-baik saja...Pikirannya entah kenapa mulai berpikir negatif... bagaimana seandainya Jodha ingin bunuh diri? Dia hampir saja berlari agar cepat sampai ke tempat pooja...
Semua orang mengelilingi tempat pooja...Pandit mulai membacakan mantra untuk pooja... Jalal melihat Jodha melakukan pooja... Dia lega melihatnya, tapi sebelum pooja dia ingin bicara dengannya sendirian dan meluruskan kesalahpahaman yang terjadi.... Dia sudah tidak sabar hingga rasanya mencekik...
Jalal berkata dengan keras-“Pandit Ji, tolong hentikan dulu... Sebelum pooja aku ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan Jodha Begum, aku ingin meluruskan sesuatu yang penting lebih dulu...” Semua orang terkejut dan mulai cemas.... berspekulasi tentang apa yang sebenarnya terjadi? Semua melihat ke arah Jalal sambil bertanya-tanya... Jalal bicara lagi dengan keras “Jodha Begum, aku akan menunggumu di ruanganmu..”
Jalal berjalan cepat tanpa menoleh lagi... Jodha sudah tahu apa yang ada dalam pikiran Jalal, dia tahu Jalal bingung dengan sikapnya, sambil memohon maaf Jodha bangkit dan berjalan menuju ruangannya...
Jalal menunggu Jodha dengan tidak sabar.... Begitu Jodha masuk ke dalam ruangan itu, dia berlari dan menutup pintu...
Jodha bertanya-“Ada apa Shahenshah???”
Jalal meremas lengan Jodha dan dengan sedikit panik berkata-“Jodha, percayalah padaku, aku benar-benar tidak  bersalah... Saat aku membungkuk untuk merebahkan dia ke tempat tidur, tiba-tiba dia menarikku ke arahnya dan aku kehilangan keseimbangan... Dan belum sempat aku berdiri, dia menahan tubuhku dalam rangkulannya dan mulai menciumku tepat saat kau masuk dan melihat kami seolah berpelukan dan berciuman... Kumohon percayalah padaku, aku tidak melakukan apapun dan tidak juga terlena karena kecantikannya. Kumohon percayalah padaku Jodha...” Matanya mulai berkaca-kaca dan dia hampir memohon agar Jodha memahami semuanya...
Jodha berkata dengan cepat-“Tapi Shahenshah, kapan aku bilang aku tidak percaya padamu... Aku sudah menngatakan dengan sangat jelas saat itu bahwa kau tidak akan melakukan hal serendah itu... Dengan jelas aku mengatakan aku sungguh percaya padamu lalu kenapa kau begitu gelisah dan cemas... Kau pikir aku mengatakan semua itu hanya di depan Kanika... Tidak Shahenshah, aku percaya padamu lebih dari diriku sendiri...”
Setelah mendengar jawaban Jodha, air mata Jalal mengalir... Dia merasa lega, dan menarik Jodha dalam dekapannya dan berkata-“Jodha, maafkan aku, aku begitu kecewa padamu hingga membuatku sering menyakitimu..”
Jodha menjawab penuh cinta-“Maafkan aku juga Shahenshah... Seharusnya aku tidak meninggalkanmu dan pergi ke Amer seperti ini...”
Jalal benar-benar lega... Dan sifat jahilnya mulai muncul lagi... Berkata-“Kucing liar kecilku... Kau membuatku lari mengejarmu setiap waktu dan juga membuatku menangis... Tidakkah kau ingat aku adalah Shahenshah dan air mata tidak cocok untuk seorang Shahenshah...”
Jodha menjawab dengan lebih ceria-“Kenapa begitu??? Bukankah Shahenshah juga punya hati???Atau dia tidak merasakan sakit???Sekarang Jalal-ku yang arogan sudah memiliki hati yang besar yang terisi dengan banyak cinta... Kesedihan dan pengampunan untuk semua orang... Sekarang kau bukan lagi orang yang kejam dan tidak berperasaan.... Kau adalah milikku sekarang.... Jalal-nya Jodha...”

* * * * * * * * * * * *


FF: Is It Hate or Love Chapter 35 Part 4

1 comments:

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.